cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 950 Documents
REGISTER PEMANDUAN WISATA Pratomo Widodo
Humaniora Vol 12, No 3 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (914.572 KB) | DOI: 10.22146/jh.702

Abstract

Dalam kaitannya dengan bahasa sebagai sistem tanda, Buhler, seperti dikutip oleh Pelz (1984), menggambarkan proses komunikasi sebagai segi tiga semiotik, segi yang pertama melambangkan pembicara sebagai penyampai pesan, segi yang kedua melambangkan pendengar sebagai penerima pesan, dan segi yang ketiga adalah lambang dari Gegenstand yang merupakan referensi dari realitas objek yang dibicarakan . Agar proses komunikasi tersebut berhasil, harus ada kegayutan clan ketiga elemennya . Apabila tidak ada kegayutan dari salah satu elemennya, niscaya proses komunikasi akan gagal . Berhasil atau tidaknya proses komunikasi, salah satunya ditentukan oleh pemahaman antara pembicara dan pendengar mengenai objek yang dibicarakan . Oleh sebab itu, referensi mengenai tuturan dalam suatu peristiwa komunikasi harus dipahami oleh kedua belah pihak, yaitu pembicara dan pendengar.
DISINTEGRASI SOSIAL : SEBUAH TINJAUAN BUDAYA Sjafri Sairin
Humaniora Vol 12, No 3 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.148 KB) | DOI: 10.22146/jh.703

Abstract

Akhir-akhir ini terlihat semacam isyarat yang mengarah kepada kemungkinan akan terjadinya disintegrasi dalam kehidupan bangsa . Isyarat ini semakin kuat denyutnya dalam detak jantung kehidupan politik bangsa Indonesia akhir-akhir ini . Sejumlah orang Aceh dan Papua secara transparan telah menunjukkan keinginannya untuk melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, menjadikan negara mandiri yang merdeka, padahal dulu mereka sendiri turut mendukung berdirinya negara kesatuan Indonesia itu . Pada awal kemerdekaan dengan mengerahkan segala potensi yang ada padanya, masyarakat Aceh telah menunjukkan dukungan mutlak terhadap kemerdekaan yang diproklamasikan Bung Karno dan Bung Hatta, dengan mengumpulkan harta benda rakyat, membeli dan menyerahkan sebuah pesawat terbang yang diberi nama Seulawah menjadi milik negara yang baru merdeka itu . Ini adalah pesawat terbang pertama yang dimiliki negara ini . Begitu pula masyarakat Papua yang memilih menjadi bagian dari Republik Indonesia pada awal 1960 an . Namun, sekarang mereka seolah-olah merasa kecewa, dan ingin berdiri sebagai negara mandiri, lepas dari induknya, Republik Indonesia .
AKSES TERHADAP SPMBER DAYA DAN KEMISKINAN DI PEDESAAN JAWA : KASUS DESA SRIHAOJO, YOGYAKARTA Pande Made Kutanegara
Humaniora Vol 12, No 3 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.176 KB) | DOI: 10.22146/jh.704

Abstract

Pada awal Repelita I, diperkirakan 70juta penduduk atau 60 persen dad totalpenduduk Indonesia termasuk dalam kategorimiskin (World Bank, 1990) . Angka tersebutmenurun menjadi 40 persen atau54,2 juta pada tahun 1976 dan menurunlagi secara drastis menjadi 14 persen atau25,9 juta pada tahun 1993 (BPS, 1994) .Pada tahun 1996, angka kemiskinan diperkirakantelah turun menjadi 22,6 juta atau12 persen (Tjiptoherijanto, 1997). Angkakemiskinan yang turun sedemikian cepatdan cukup tajam, tiba-tiba mengalami peningkatanpada saat krisis . Banyak perdebatanmuncul berkaitan dengan jumlah pendudukmiskin pada saat krisis . Proyeksiyang dibuat oleh ILO-UNDP pada akhirtahun 1998 menunjukkan bahwa pada tahun1998, sebanyak 48 persen (sekitar 90juta orang) penduduk Indonesia berada dibawah garis kemiskinan .
BUDAYA ARIF LINGKUNGAN DAN SOLIDARITAS SOSIAL : KONTEKS KONSERVASI SUMBER DAYA NONHAYATI . Soehardi
Humaniora Vol 12, No 3 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.682 KB) | DOI: 10.22146/jh.705

Abstract

Dalam era kemajuan kini, sering kita menghadapi dilema terjadinya benturan antara pembangunan dengan keseimbangan lingkungan, balk Iingkungan fisik maupun sosial budaya . Tujuan pembangunan adalah jelas, yaitu untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan manusia secara lahir dan batin dengan cara mengolah lingkungannya . Aktivitas pembangunan ini menyebabkan terjadinya perubahan- perubahan lingkungan manusia . Perubahan itu memberikan fasilitas-fasilitas kemudahan kepada hidup manusia itu . "Pembangunan menuntut adanya dinamika kemajuan dan tidak mengenal berhenti, sedang Iingkungan bersifat berkembang, tidak statis (Soemantri, 1974) . Akan tetapi, seiring dengan proses pembangunan itu, sering tanpa disadari, timbul akibat-akibat samping yang mengganggu keseimbangan Iingkungan itu. Banyak contoh kasus kerusakan di Indonesia yang dapat disebut, seperti Iimbah industri, pencemaran udara dari emisi pabrik, kendaraan bermotor dan kebakaran hutan, kerusakan hutan dari penebangan berlebihan, kerusakan karang laut dan hutan bakau, dan pecahnya ikatan-ikatan solidaritas dalam komunitas desa
Analisis Metalurgi: Peranannya dalam Eksplanasi Arkeologi Timbul Haryono
Humaniora Vol 13, No 1 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.62 KB) | DOI: 10.22146/jh.706

Abstract

Ada tiga jenis bahan utama yang pada umumnya dipakai oleh manusia untuk pembuatan alat yaitu: tanah, batu, dan logam. Ketiga jenis bahan inilah yang seringkali mash bertahan menghadapi 'gigi waktu' sehingga dapat ditemukan oleh para penelki. Ketiga jenis bahan tersebut mempunyai proses teknologi yang berbeda. Jenis bahan logam memiliki proses yang lebih rumit dibandingkan dengan yang lain, yang kemudian melahirkan pengetahuan 'metalurgi'. Karena kerumitan itulah maka tidak mengherankan apabila pengetahuan metalurgi kernudian menjadi tolok ukur bagi munculnya peradaban (Childe, 1950). Pengetahuan metalurgi ituiah yang juga melahirkan craft specialization. Menurut V.G. Childe perubahan teknologi dan spesialisasi dalam kerajinan berhubungan erat dengan institusi sosial dan politik.
Makna Simbolik Nilai-nilai Kultural Edukatif Bangunan Kraton Yogyakarta: Suatu Analisis Numerologis & Etimologis A. Daliman
Humaniora Vol 13, No 1 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2339.118 KB) | DOI: 10.22146/jh.707

Abstract

Sejarah perjuangan kraton dan masyarakat Yogyakarta yang senantiasa berpihak pada perjuangan rakyat dan bangsa sebagaimana tampak dalam menyelamatkan Republik Indonesia di masa revolusi kemerdekaan (1945—1949) serta perjuangan reformasi untuk memperbaharui dan meluruskan kembali kehidupan berbangsa dan bernegara (20 Mei 1998 — hingga kini), haruslah dipahami sebagai identifikasi dan aktualisasi kesetiaan terhadap tradisi dan ajaran-ajaran para pendahulu atau leluhur, sebagaimana divisualisasikan dalam simbol bentuk dan fungsi kraton
Hikayat Amir Hamzah: Jejak dan Pengaruhnya dalam Kesusastraan Nusantara Kun Zachrun Istanti
Humaniora Vol 13, No 1 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.572 KB) | DOI: 10.22146/jh.708

Abstract

Dalam kesusastraan Melayu klasik, terdapat sejumlah cerita yang dapat dikategorikan sebagai cerita pahlawan Islam, misalnya Hikayat Iskandar Zulkarnain, Hikayat Amir Hamzah (selanjutnya disingkat HAH) dan Hikayat Muhammad Hanafiyyah (Winstedt, 1940: 63-68, Iskandar, 1995:127-148). Ketiga hikayat itu mempunyai struktur asasi sebuah hikayat Melayu sebagai berikut (Brakel, 1975: 76-77): tergolong sebagai karya sastra yang ditulis dalam huruf Jawi (huruf Arab, bahasa Melayu); pengarang tidak diketahui (anonim); menceritakan kisah-kisah yang menakjubkan; disalin dari satu naskah ke naskah lain; sewaktu menyalin si penyalin bebas mengubah, menambah, dan mengurangi hal-hal yang dianggapnya perlu. Ketiga hikayat itu dikategorikan sebagai hikayat pahlawan Islam karena berisi perjuangan tokoh utama yang mencurahkan hidupnya untuk menegakkan Islam (artinya ia turut serta dalam menyebarkan, menjaga, mempertahankan, dan membela agama Islam) (Dipodjojo, 1981: 122).
Historisme Baru dan Kesadaran Dekonstruktif: Kajian Kritis terhadap Historiografi Indonesiasentris Bambang Purwanto
Humaniora Vol 13, No 1 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3452.177 KB) | DOI: 10.22146/jh.709

Abstract

Ketika sastra dan sejarah dibicarakan secara bersama-sama, segera muncul pertanyaan, apakah ada fiksi di dalam sejarah dan apakah ada fakta di dalam sastra? Bagi sebagian orang, pertanyaan itu mungkin kedengaran agak aneh dan seolah-olah hanya dibuat-buat karena secara umum sastra selalu dikaitkan dengan fiksi, sedangkan sejarah tidak dapat dipisahkan dari fakta masa lalu. Hal itu berarti bahwa pernyataan di atas tidak memerlukan jawaban. Akan tetapi, persoalan menjadi lain ketika perbincangan tentang sastra dan sejarah memasuki dunia wacana dekonstruktif di samping rekonstruktif. Sebagai sebuah realitas, sejarah dan sastra sering dianggap berada dalam tataran yang sama. Fiksi dan sejarah tidak dapat begitu saja secara kaku diasosiasikan hanya dengan salah satu di antara keduanya, yaitu hanya berkaitan dengan sastra atau hanya dengan sejarah.
Nama Diri Etnik Jawa Ridha Mashudi Wibowo
Humaniora Vol 13, No 1 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.202 KB) | DOI: 10.22146/jh.710

Abstract

Dewasa ini bahan bacaan tentang daftar nama diri cukup banyak tersedia . Namun demikian masih sedikit dilakukan upaya ke arah deskripsi nama diri sebagai bagian dari struktur gramatikal bahasa. Beberapa masalah linguistik umum tertentu, seperti sifat semantis nama diri dan kedudukan nama diri terhadap nomina biasa, telah banyak menarik perhatian para ahli linguistik dan juga filsafat (Uhlenbeck, 1982:370). Akan tetapi, dasar empiris bagi pembahasan teoretis tentang masalah ini masih agak sempit dan kurang mantap. Bagi kebanyakan linguis kajian nama diri merupakan bidang penelitian yang tipis dan kurang memberikan harapan sehingga dengan perasaan lega diserahkan kepada ilmu onomastika
Puisi Pujangga Baru: Konsep Estetik, Orientasi dan Strukturnya Rahmat Djoko Pradopo
Humaniora Vol 13, No 1 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1839.004 KB) | DOI: 10.22146/jh.711

Abstract

Puisi merupakan struktur yang kompleks. Oleh karena itu, dalam penelitian puisi Pujangga Baru digunakan teori dan metode struktural semiotik. Kesusastraan merupakan struktur ketandaan yang bermakna dan kompleks, antarunsurnya terjadi hubungan yang erat (koheren). Tiap unsur karya sastra mempunyai makna dalam hubungannya dengan unsur lain dalam struktur itu dan keseluruhannya (Hawkes, 1978: 17—18). Akan tetapi, strukturalisme murni yang hanya terbatas pada struktur dalam (inner structure) karya sastra itu mengasingkan relevansi kesejarahannya dan sosial budayanya (Teeuw, 1983: 61). Oleh karena itu, untuk dapat memahami puisi dengan baik serta untuk mendapatkan makna yang lebih penuh, dalam menganalisis sajak dipergunakan strukturalisme dinamik (Teeuw, 1983: 62), yaitu analisis struktural dalam kerangka semiotik. Karya sastra sebagai tanda terikat kepada konvensi masyarakatnya. Oleh karena itu, karya sastra tidak terlepas dari jalinan sejarah dan latar sosial budaya masyarakat yang menghasilkannya, seperti telah terurai di atas.

Page 8 of 95 | Total Record : 950


Filter by Year

1989 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue