Articles
82 Documents
Pengaruh Aerobic Exercise Untuk Meningkatkan Upper Body Strength Pada Calon Jamaah Umrah
Agus Tiyawan;
Dzakyah Amelya
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 3 No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Fisioterapi (JIF)
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (381.627 KB)
|
DOI: 10.36341/jif.v3i2.1314
ABSTRAK Latar Belakang: Jamaah umrah Indonesia mayoritas dilakukan oleh usia dewasa dan lanjut usia. Bertambahnya usia seseorang akan menyebabkan penurunan fungsi sel-sel tubuh yang dapat mengakibatkan penurunan kebugaran fisik salah satunya kekuatan otot. Kekuatan otot tubuh bagian atas dapat berpengaruh terhadap aktivitas fungsional. Untuk mencapai kekuatan otot yang baik maka diperlukan latihan berupa aerobic exercise. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aerobic exercise untuk meningkatkan upper body strength pada calon jamaah umrah. Metode penelitian ini menggunakan metode randomized one grup pre-post test yaitu untuk mencari perbedaan antara sebelum dan sesudah diberikan latihan aerobik selama 3 minggu dan pengukuran upper body strength menggunakan curl up test. Pengambilan sampel didapatkan sebanyak 20 orang dari calon jamaah umrah KBIH Al-Ikhlas yang diambil secara acak sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Data diolah dan dianalisa dengan aplikasi software SPSS 24. Hasil: Analisa uji Wilcoxon dengan hasil p=0,000 yang menunjukkan p<0,05 dapat dinyatakan adanya pengaruh aerobic exercise terhadap upper body strength pada calon jamaah umrah. Kata Kunci: Aerobic Exercise, Upper Body Strength, Calon Jamaah Umrah Lansia
Closed Kinetic Chain Exercise efektif Dalam Meningkatkan Kemampuan Fungsional Pada Osteoartritis Lutut
Faizah Abdullah Djawas;
Wafa Rahmalillah Isna
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 3 No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Fisioterapi (JIF)
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (622.39 KB)
|
DOI: 10.36341/jif.v3i2.1379
Latar Belakang : Osteoartritis (OA) lutut merupakan suatu penyakit sendi menahun yang ditandai oleh adanya kelainan pada tulang rawan ( kartilago ) yang akan berakibat tulang bergesekan satu sama lain, adanya abrasi tulang rawan sendi dan pembentukan osteofit pada permukaan sendi yang menimbulkan gejala berupa kekakuan, nyeri, dan pembatasan gerakan pada sendi lutut. Terapi latihan closed kinetic chain exercise (CKCE) umumnya memberikan manfaat dalam mengurangi keluhan yang diperkirakan mampu meningkatkan kemampuan fungsional pasien dalam melakukan aktivitas secara optimal. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui efektivitas metode latihan closed kinetic chain exercise (CKCE) pada kasus osteoartritis lutut. Metode : Studi kasus tunggal, dengan memberikan intervensi fisioterapi pada seorang wanita 72 tahun dengan diagnosis OA lutut. CKCE berupa gerakan mini squatt, QSE, dan step up and step down diberikan selama 2 minggu dengan 4 kali evaluasi. Penilaian intensitas nyeri menggunakan VAS, penilaian lingkup gerak sendi (LGS) menggunakan goniometer, penilaian kekuatan otot menggunakan MMT, serta untuk menilai perkembangan fungsional pasien dilakukan pengukuran menggunakan parameter WOMAC. Hasil : Terdapat penurunan nilai VAS nyeri gerak diakhir sesi terapi dari VAS 3 menjadi VAS 1, penurunan nilai VAS nyeri tekan dari VAS 2 menjadi VAS 1, terdapat peningkatan LGS lutut gerak fleksi 1200menjadi 1250, terdapat peningkatan MMT dari 4 menjadi 5 yang dikaitkan dengan skor WOMAC dari nilai 37 menjadi 26, yang menunjukkan bahwa terdapat peningkatan terhadap kemampuan fungsional pasien sebanyak 20% Kesimpulan : Studi ini menunjukan bahwa metode terapi latihan closed kinetic chain exercise (CKCE) dapat meningkatkan kemampuan fungsional pada osteoartritis lutut yang diukur menggunakan parameter WOMAC.
Hold Relax dan Passive Stretching Efektif Dalam Meningkatkan Kemampuan Fungsional Pada Pasien Post-Gips Fracture Tibial Plateau Dextra
Nizatul Mumtazah;
Faizah Abdullah Djawas
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 3 No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Fisioterapi (JIF)
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (502.061 KB)
|
DOI: 10.36341/jif.v3i2.1397
Background: Tibial plateau fracture is one type of fracture that usually occur in legs. Tibial Plateau fracture usually occur because of high energy trauma that produced by the force of varus and valgus and also because of axial loading or because of the pedestrian that crashed by the car with high energy which can also called as fracture bumber. The purpose of this case study is to examine the effectiveness of hold relax and passive stretching in tibial plateau fracture. Method: A single case study, providing physiotherapy interventions for a 44 year old woman with a diagnosis of a tibial plateau post-cast fracture. Hold-relax stretching is a technique in which shortened antagonistic muscle groups are isometrically contracted against the optimal resistance given by the physiotherapist. Passive stretching is a method for extending the contractile or non-contractile components of the musculotendinoeus unit where force is exerted externally and given manually. Hold relax and passive stretching are given for 2 weeks with 5 evaluations. ROM assessment was measured by a goniometer and spasm by palpation. Result: There is an increase in LGS knee flexion 90ᴼ to 110ᴼ and decrease in spasm which associated with an improvement LEFS score from 17 to 44, indicates that there is an increase in the functional ability of lower extremity. Conclusion: This study shows that the method of therapeutic exercise with hold relax and passive stretching can improve functional ability in tibial plateau fracture which is measured using LEFS parameters.
Pengaruh Aerobic Exercise Untuk Meningkatkan Fleksibilitas Hamstring Pada Calon Jamaah Umrah Kbih Al-Ikhlas Jakarta
Agus Tiyawan;
Nala Tsaniyah Hendrawan
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 3 No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Fisioterapi (JIF)
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (504.35 KB)
|
DOI: 10.36341/jif.v3i2.1398
ABSTRACT Background: Umrah worship is usually performed by most Muslims aged 50 years or older. As you age you will experience a decrease in flexibility that can interfere with activities during the Umrah. Objective: This study aims to determine the effect of aerobic exercise to increase hamstring flexibility in prospective Umrah KBIH Al-Ikhlas Jakarta pilgrims. Method: In this study using a randomized one group pre and post test experimental method. This research was conducted at KBIH Al-Ikhlas Jakarta with a total sample of 20 people taken at random according to inclusion and exclusion criteria. The training provided in the form of aerobic exercise with brisk walking and measurement of hamstring flexibility is measured by sit and reach test. Data were processed and analyzed with SPSS 16 software applications. Results: Obtained with SPSS 16 software data that is normally distributed and homogeneous. Hypothesis test results obtained with p = 0,000 means p <0.05 then there is the effect of aerobic exercise to increase the flexibility of hamstring on the pilgrims ummah pilgrims KBIH Al-Ikhlas Jakarta. Conclusion: What can be obtained from this study is that there is an effect of aerobic exercise to increase hamstring flexibility in prospective pilgrims from KBIH Al-Ikhlas Jakarta. Keywords: Aerobic Exercise, Hamstring Flexibility, Elderly Umrah Candidates
Pengaruh Plyometric Exercise Terhadap Respiratory Rate Pada Pemain Bola Voli Universitas Mercu Buana
Condrowati Condrowati;
Heri Wibisono
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 4 No 01 (2021): Februari
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (0.004 KB)
|
DOI: 10.36341/jif.v4i01.1420
Pendahuluan: Plyometric exercise merupakan latihan dasar yang mempunyai karakteristik peregangan otot dan tendon kemudian segera diikuti oleh pemendekan. Latihan ini meningkatkan elastisitas muscle fiber dan jaringan penghubung sehingga dicapai tujuan untuk meningkatkan kecepatan, stabilitas, kekuatan, ketahanan kardiorespirasi, dan kelincahan. Plyometric exercise dapat juga mempengaruhi fungsi vital dalam tubuh, seperti respiratory rate. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh plyometric exercise terhadap respiratory rate pada pemain bola voli Universitas Mercu Buana. Metode: Penelitian ini menggunakan metode one group pre-test-post-test design. Penelitian ini dilakukan pada kelompok pemain bola voli yang memenuhi kriteria insklusi. Sampel penelitian sebanyak 16 pemain bola voli yang diberikan perlakukan plyometric exercise sebanyak sebanyak 3 kali/minggu selama 12 minggu dengan latihan selama 30 menit/pertemuan dengan teknik aerobik. Pengukuran respiratory rate dengan menghitung frekuensi nafas sampel dalam 1 menit. Hasil: Berdasarkan hasil uji Wilcoxon, ada pengaruh plyometric exercise terhadap respiratory rate p=0.000 (p<0.05). Kesimpulan: Ada pengaruh plyometric exercise terhadap respiratory rate pada pemain bola voli Universitas Mercu Buana. Kata Kunci : Plyometric Exercise, Respiratory Rate, Bola Voli
Perbedaan Pengaruh Stretching Dengan Terapi Manipulasi Terhadap Peningkatan Aktivitas Fungsional Bahu Pada Penderita Frozen Shoulder
Futhri Rifa Zaimsyah
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 3 No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Fisioterapi (JIF)
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (472.909 KB)
|
DOI: 10.36341/jif.v3i2.1433
Frozen shoulder atau capsulitis adhesiva merupakan diagnosis untuk segala keluhan nyeri dalam keterbatasan gerak sendi bahu. Keluhan pada sendi bahu biasanya didahului oleh suatu trauma atau immobilisasi yang bisa mengakibatkan kekakuan sendi. Pada kasus frozen shoulder dapat mengganggu aktivitas fungsional bahu yang diukur dengan kuesioner SPADI. Stretching dan terapi manipulasi merupakan salah satu modalitas yang dapat digunakan oleh fisioterapis dalam mengatasi gangguan aktivitas fungsional bahu pada penderita frozen shoulder. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui pengaruh pemberian stretching dan terapi manipulasi, serta mengetahui mana yang lebih baik antara stretching dengan terapi manipulasi terhadap aktivitas fungsional bahu pada penderita frozen shoulder. Metode Penelitian: Case study dengan menggunakan two groups pre test – post test design dengan pembagian dua kelompok, kelompok I mendapat perlakuan stretching sedangkan kelompok II diberi perlakuan terapi manipulasi subjek penelitian berjumlah 16 pasien frozen shoulder yang dirujuk ke Poliklinik Fisioterapi RSUD Kota Semarang. Hasil : Pada kelompok I (stretching) hasil uji beda nilai SPADI pada pre-post test diperoleh hasil p = 0,012 (p < 0,05), sedangkan pada kelompok II (terapi manipulasi) hasil uji beda nilai SPADI pada pre-post test diperoleh hasil p = 0,012 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan bermakna pada stretching dan terapi manipulasi terhadap peningkatan aktivitas fungsional bahu pada penderita frozen shoulder. Pada uji Mann Whitney diperoleh hasil p = 0,001 (p < 0,05) yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna antar kedua kelompok perlakuan. Kesimpulan : Stretching dan terapi manipulasi keduanya sama-sama meningkatkan aktifitas fungsional bahu pada penderita frozen shoulder, namun terapi manipulasi lebih baik dibandingkan stretching dalam meningkatkan aktivitas fungsional bahu pada penderita frozen shoulder.
Incentive Spirometry dan Chest Therapy Efektif Dalam Mengurangi Kekambuhan Pada Kondisi Asma Bronkial
Diki Ananda;
Nova Relida Samosir
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 3 No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Fisioterapi (JIF)
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (619.889 KB)
|
DOI: 10.36341/jif.v3i2.1441
Latar Belakang: Asma bronchial merupakan penyakit respiratorik yang ditandai inflamasi kroniks aluran napas yang melibatkan bermacam sel inflamasi dan mediator yang saling berinteraksi sehingga menghasilkan perubahan fisiologis dan struktur jalan napas. Prevalensi kasus asmadi Indonesia berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS) tahun 2013 menunjukkan bahwa umur 25-34 tahun mempunyai prevalensi asma tertinggi sebesar 5,7% dan umur <1 tahun memiliki prevalensi asma terendah sebesar 1,5%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas pemberian Incentive Spirometry dan Chest Therapy untuk mengurangi gejala kekambuhan yang diukur dengan Asthma Control Test dan Incentive Spirometry. Metode penelitian adalah studi kasus yang disajikan dalam bentuk narasi deskriptif. Subjek penelitian ini terdiri dari satu sampel Asma bronchial dengan derajat persisten sedang yang memenuhi kriteria sampel/ penelitian ini dilakukan 16 kali terapi dimulai pada tanggal 04 februari 2020 s/d 02april 2020 di Laboratorium Manual Terapi I DIII Fisioterapi Universitas Abdurrab. Hasil: Evaluasi dengan menggunakan Asthma Control Test didapatkan hasil adanya penurunan gejal akekambuhan dan peningkatan kontrol asma dari skor 16 (asmatidakterkontrol) menjadi skor 22 (asma terkontrol sebagian). Kesimpulan studi kasus penggunaan modalitas Incentive spirometry dan Chest therapy didapatkan hasil bahwasanya terjadi penurunan gejala kekambuhan dan peningkatan nilai force vital capacity (FVC) dan force expired volume in one second (FEV¹) pada fungsi paru-paru. Kata kunci :Asma bronchial persisten sedang, Incentive Spirometry, Chest therapy, Postural Drainage, Tapotement, Asthma Control test (ACT)
Dampak Kebijakkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Dan Media Komunikasi Daring Saat Pendemi Covid-19 Terhadap Aktivitas Otot Ekstremitas Atas
Agus Tiyawan;
Sri Yani;
Dias Rima Sutiono
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 4 No 01 (2021): Februari
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (377.1 KB)
|
DOI: 10.36341/jif.v4i01.1647
Pemerintah memberlakukan kebijakkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sebagai salah satu upaya mengatasi pandemi COVID-19 akibat penyebaran virus Sars-Cov-2 yang berasal dari Wuhan, China Desember tahun 2019 sesuai dengan peraturan WHO. Hal ini dikarenakan hingga saat ini belum ditemukan vaksin untuk mencegah penularannya. Akibat dari kebijakkan tersebut, media komunikasi darling menjadi sangat penting untuk bersosialisasi dengan kerabat maupun teman, menyebabkan penurunan aktifitas fisik. Berdasarkan data darling survei yang dilakukan pada 40 orang mahasiswa Jurusan Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan, UPN Veteran Jakarta, 40 % responden menyatakan waktu berkomunikasi bertambah dari sebelum masa pandemi, 35 % responden menyatakan tidak berubah dan sisanya 25% menyatakan kurang. Sedangkan durasi komunikasi yang paling banyak dihabiskan oleh responden untuk bersosialisasi dengan media komunikasi darling dengan menggunakan aplikasi ZOOM dan Video Call adalah selama 1-30 menit sebanyak 52.5% responden, 31-1 jam sebanyak 27.5% responden, lebih dari 1 jam sebanyak 17.5% dan 0 menit sebanyak 2.5% responden. Kondisi ini menyebabkan gerakan ekstremitas atas berulang yang diperlukan oleh penggunaan perangkat media komunikasi darling sehingga kontraksi otot secara terus menerus di leher dan bahu, yang dapat menimbulkan kerentanan terhadap gangguan muskuloskeletal akibat kerusakan mikroskopis pada otot, saraf, dan pembuluh darah selama menjalankan perannya.
Pengaruh Latihan Fisik Terhadap Peningkatan Kadar PGC 1 Alpha Pada Otak Mencit Jantan
Renni Hidayati Zein
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 4 No 01 (2021): Februari
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (771.577 KB)
|
DOI: 10.36341/jif.v4i01.1710
ABSTRACTBacground: The brain is an organ that is susceptible to degenerative processes. When the brain begins to age, there will be a decrease in brain function which is at risk of decreased cognitive function. Aerobic physical exercise can cause oxidative stress by increasing the formation of ROS from aerobic metabolism of muscle cells during physical exercise and cellular stress caused by ROS can trigger cell repair reactions. ROS is a very reactive oxygen-derived free radical, an important generator in the production of ROS is mitochondria, one of which is PGC-1α. Purpose: This study aims to measure levels of PGC-1α protein in male mice given exercise. Research Method male mice were divided into 2 groups consisting of 6 mice in the control group, 6 mice in the Exercise group with a total of 12 male mice, each 6 weeks old. This research was conducted for 8 weeks using ELISA laboratory techniques to analyze the PGC-1α protein. Result: : This study showed that there was an increase in the levels of PGC-1α in the brains of male mice after laboratory examination and then continued with statistical tests, the highest value of PGC-1α levels in the brains of male mice in the aerobic exercise group was obtained. Conclusion: The administration of aerobic exercise to male mice for 8 weeks had an effect on PGC-1α levels in the brains of male mice.
Efektivitas Friction Massage Terhadap Mengurangi Nyeri Pada Kasus Myofascial Trigger Point Syndrome Otot Upper Trapezius
Aditya Denny Pratama
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 4 No 01 (2021): Februari
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (547.915 KB)
|
DOI: 10.36341/jif.v4i01.1732
Background: Myofascial trigger point syndrome is a musculoskeletal disorder characterized by the presence of a trigger point in a sensitive area within the skeletal muscle band linkages, if pressure is applied to the area it will cause specific pain at a point that is pressed (tenderness). Myofascial trigger point syndrome is influenced both by mechanism and by positioning factors. Myofascial trigger point syndrome upper trapezius muscle radiates along the upper back and neck, behind the ears and at the temples. Methods: The research method used is in the form of a case study with 1 patient who was given physiotherapy intervention and evaluation 4 times. To overcome the problem of muscle pain in bilateral trapezius m.upper in this study, using manual physiotherapy intervention therapy in the form of friction massage. Result: The results obtained, there was a decrease in tenderness in the upper trapezius muscle VAS 5 during the first evaluation to VAS 2 at the fourth evaluation with an average VAS value pre and post after one month for four interventions, namely 1.72. The MDC value (95) is 0.196 and the MCID range is 0.88-1.7, and 1.46-2.28. Conclusion: Based on these results, it can be concluded that physiotherapy intervention with the manual method of therapy, friction massage is considered effective in reducing pain in patients with myofascial trigger point syndrome, upper trapezius muscle with visual analogues scale (VAS) parameters. Keyword : Myofascial Trigger Point Syndrome, Manual Therapy, Friction Massage