cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Buletin Peternakan
ISSN : 01264400     EISSN : 2407876X     DOI : https://doi.org/10.21059/buletinpeternak
Core Subject : Health, Education,
Bulletin of Animal Science is published every four months. The Annual subscription rate is Rp. 150.000,-/year. Bulletin receives original papers in animal science and technology which are not published at any other journals.
Arjuna Subject : -
Articles 1,046 Documents
PENGARUH SUPLEMENTASI FETAL CALF SERUM TERHADAP KEMAMPUAN MATURASI IN VITRO OOSIT SAPI Denvy Meidian Daoed; Nono Ngadiyono; Diah Tri Widayati
Buletin Peternakan Vol 37, No 3 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (3) OKTOBER 2013
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v37i3.3077

Abstract

Penelitian ini memanfaatkan hasil samping rumah potong hewan (RPH) sebagai sumber oosit untuk in vitro fertilization (IVF). Untuk meningkatkan keberhasilan IVF dilakukan suplementasi fetal calf serum (FCS) pada medium maturasi in vitro. Ovarium sapi dari RPH dibawa ke laboratorium dalam medium NaCl 0,9% pada suhu 31-34ºC. Selanjutnya oosit diaspirasi menggunakan syringe 3 ml dan jarum 23 G yang berisi Dulbeco’s-Phosphate Buffer Saline (DPBS), kemudian dimaturasikan pada inkubator CO2 modifikasi dalam medium Tissue Culture Medium-199 (TCM-199) (CO2 5%, kelembaban 99% dan suhu 37-39ºC). Oosit dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok kontrol (TCM-199) dan kelompok perlakuan (TCM-199 + 10% FCS). Angka maturasi dianalisa dengan Chi-Square, sedangkan kualitas oosit dianalisis secara deskriptif. Maturasi oosit sapi pada kelompok perlakuan berbeda nyata (P≤0,05) dibandingkan kelompok kontrol (55,22% vs 40,09%). Penggunaan 10% FCS pada medium maturasi dapat menghasilkan kualitas oosit matur yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan 10% FCS suplementasi dapat meningkatkan kemampuan maturasi oosit sapi in vitro.(Kata kunci: Fetal calf serum, Kultur oosit, Maturasi in vitro, Oosit sapi)
KAJI BANDING KUALITAS SPERMATOZOA SAPI SIMMENTAL, LIMOUSIN, DAN FRIESIAN HOLSTEIN TERHADAP PROSES PEMBEKUAN Komariah (Komariah); Lis Arifiantini; Fachri Widya Nugraha
Buletin Peternakan Vol 37, No 3 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (3) OKTOBER 2013
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v37i3.3078

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan membandingkan kualitas spermatozoa beku sapi Simmental, Limousin, dan Friesian Holstein (FH) di Balai Inseminasi Buatan Lembang (BIB), Bandung, Jawa Barat. Jumlah sapi yang digunakan pada penelitian ini adalah 24 ekor sapi jantan yang terdiri atas 8 Simmental, 8 Limousin, dan 8 FH berumur 4 tahun dengan kisaran bobot badan 800-900 kg. Penelitian menggunakan data sekunder dan primer BIB Lembang bulan November sampai Desember 2010. Data sekunder yang diambil adalah data motilitas spermatozoa segar meliputi, before freezing (BF), post thawing motility (PTM), longivitas dan data primer yaitu nilai recovery rate. Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah motilitas spermatozoa segar dan before freezing sapi Simmental lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan sapi Limousin dan FH, sedangkan hasil PTM, longivitas, dan recovery rate tidak berbeda nyata pada ketiga bangsa tersebut.(Kata kunci: Freezability, Spermatozoa, Simmental, Limousin, Friesian Holstein)
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN CONTROLLED INTERNAL DRUG RELEASE TERHADAP RESPON ESTRUS DAN KONSENTRASI HORMON ESTROGEN PADA KAMBING KACANG DAN KAMBING BLIGON Popalayah (Popalayah); Ismaya (Ismaya); Nono Ngadiyono
Buletin Peternakan Vol 37, No 3 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (3) OKTOBER 2013
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v37i3.3079

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respon estrus, awal estrus, dan lama estrus serta profil hormon estrogen pada kambing Kacang dan kambing Bligon setelah implan controlled internal drug release (CIDR) selama 13 hari. Penelitian ini menggunakan 7 ekor kambing Kacang, 7 ekor kambing Bligon, serta 1 ekor pejantan. Pengambilan sampel darah dilakukan sebanyak empat kali yaitu sehari sebelum pemasangan CIDR (H0), sehari sebelum pelepasan CIDR (H12), saat pengamatan estrus (H17), dan satu siklus estrus (H37). Pemisahan plasma darah segera dilakukan setelah pengambilan darah lalu disimpan dalam freezer dengan suhu -20oC sampai uji hormon estrogen dilakukan. Respon estrus dianalisis dengan menggunakan Chi square, awal dan lama estrus menggunakan t-test dan untuk melihat konsentrasi hormon estrogen dengan menggunakan metode Enzyme Linked Immunosorbant Assay (ELISA). Pengamatan gejala estrus dengan melihat tanda-tanda visual yang muncul dan menggunakan pejantan sebagai pengusik. Berdasarkan hasil yang diperoleh bahwa sinkronisasi estrus setelah implan CIDR pada kambing Kacang dan kambing Bligon menunjukkan perbedaan yang nyata (P≤0,01), persentase estrus pada kambing Kacang sebanyak 85,7% dan kambing Bligon sebanyak 71,4%. Awal munculnya estrus setelah pelepasan CIDR pada kambing Bligon 40,2±19,3 jam sedang pada kambing Kacang 52,6±18,4 jam. Lama estrus pada kelompok kambing Kacang dan Bligon masing-masing 24,0±8,6 jam dan 34,6±15,4 jam. Profil hormon pada saat estrus menunjukkan bahwa kambing Kacang memiliki konsentrasi hormon estrogen yang lebih tinggi 183,74±149,16 pg/ml, sedang pada kambing Bligon 108,129±59,02 pg/ml. Munculnya gejala estrus pada masing-masing ternak diikuti dengan tingginya konsentrasi hormon estrogen. Ternak estrus mempunyai konsentrasi hormon estrogen sekitar 94,127 pg/mL - 418,368 pg/mL, sedang pada ternak yang tidak mengalami estrus sekitar 20,17 pg/mL - 60,163 pg/mL. Disimpulkan bahwa penggunaan CIDR secara tunggal memberikan respon estrus dan konsentrasi hormon estrogen yang berbeda pada ternak perlakuan, respon estrus, dan konsentrasi hormon estrogen lebih tinggi pada kambing Kacang.(Kata kunci: Kambing Kacang, Kambing Bligon, CIDR, Estrogen)
OPTIMALISASI INTEGRASI SAPI, JAGUNG, DAN RUMPUT LAUT (PIJAR) PADA TEKNOLOGI PENGOLAHAN PAKAN TERNAK BERBASIS LIMBAH PERTANIAN JAGUNG – RUMPUT LAUT GUNA MENDUKUNG PROGRAM BUMI SEJUTA SAPI (BSS) DI NUSA TENGGARA BARAT Erin Ryantin Gunawan; Dedi Suhendra; Dhony Hermanto
Buletin Peternakan Vol 37, No 3 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (3) OKTOBER 2013
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v37i3.3086

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui optimalisasi integrasi sapi, jagung, dan rumput laut (pijar) dengan pengolahan teknologi pakan ternak berbasis limbah pertanian jagung–rumput laut yang telah dilakukan guna mendukung Program Bumi Sejuta Sapi (BSS) di Nusa Tenggara Barat. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara – NTB pada bulan Juli hingga Desember 2012. Peningkatan kualitas pakan meliputi nilai nutrisi dan daya simpannya diperoleh melalui fermentasi jerami jagung yang diikuti dengan suplementasi pakan menggunakan bahan tambahan pakan rumput laut. Perubahan kualitas pakan diketahui dengan membandingkan kadar karbohidrat (gula pereduksi), protein kasar, lemak, serat kasar, mineral (Ca, Fe, dan P), lignin, selulosa, dan hemiselulosa antara pakan ternak komplit, jerami jagung terfermentasi-rumput laut, dan jerami jagung non fermentasi. Fermentasi jerami jagung dilakukan dengan melakukan variasi perbandingan kadar jerami jagung, probiotik (starbio dan EM4), urea dan molases, meliputi PG1, PG2, PG3, PG4, dan PG5. Data masing-masing parameter diuji dengan uji ANOVA satu jalur untuk mengetahui signifikansi efek dari beberapa perlakuan pakan. Uji organoleptik yang dilakukan meliputi warna dan bau. Suhu dan keasaman pakan pada masing masing perlakuan juga diukur. Variabel pada ternak sapi yang diukur adalah perubahan lingkar dada serta panjang badan sapi akibat pemberian pakan dengan jumlah yang ditentukan dalam kurun waktu 5 minggu. Sapi yang digunakan adalah 5 ekor sapi Bali jantan umur 18-24 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jerami jagung fermentasi berkualitas baik memiliki bentuk seperti dalam keadaan segar yaitu memiliki warna coklat kekuning-kuningan, aroma bau yang khas, dan berdaya simpan lama (hingga bulan ke-2 penyimpanan). Hasil uji ANOVA satu jalur pada masing-masing parameter gizi menunjukkan bahwa perbedaan perlakuan fermentasi menghasilkan kadar gizi yang signifikan berbeda. Proses fermentasi jerami jagung meningkatkan protein kasar, gula pereduksi, dan menurunkan serat kasar, lemak, mineral (Ca, Fe dan P), lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Peningkatan kadar karbohidrat tertinggi diperoleh pada perlakuan PG5 yaitu 15,50%, sedangkan peningkatan kadar protein tertinggi diperoleh pada PG3, yaitu 11,60%. Pemberian jerami jagung yang disuplementasi rumput laut 10% selama 5 minggu dapat menghasilkan perubahan lingkar dada dan panjang badan sapi tertinggi pada perlakuan PG5+R.(Kata kunci: Limbah pertanian, Jerami jagung, Rumput laut, Pakan)
ESTIMASI OUTPUT BABI DI KABUPATEN TABANAN PROVINSI BALI Bayu Dewantoro Putro Soewandi; Sumadi (Sumadi); Tety Hartatik
Buletin Peternakan Vol 37, No 3 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (3) OKTOBER 2013
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v37i3.3088

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat estimasi output pada babi Bali dan babi Landrace di Kabupaten Tabanan. Penelitian ini dilakukan di lima kecamatan di Kabupaten Tabanan dengan mengambil 150 peternak. Data yang diambil adalah identitas peternak, komposisi, dan reproduksi ternak babi Bali dan babi Landrace. Estimasi output dihitung dengan cara pendekatan teori pemuliaan. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa nilai natural increase babi Bali dan babi Landrace sebesar 60,93 dan 116,38%. Nilai net replacement rate jantan dan betina babi Bali dan jantan dan betina babi Landrace sebesar 7.664,29 dan 1.844,05% serta 15.033,33 dan 1.386,47%. Nilai output pada babi Bali jantan dan betina sebesar 30,78 dan 23,58% atau 360 dan 114 ekor serta jantan dan betina pada babi Landrace sebesar 45,57 dan 70,49% atau 6.722 dan 10.009 ekor. Kesimpulan dari penelitian ini adalah estimasi output pada babi Bali jantan (30,78%) lebih besar daripada babi Bali betina (23,58%), sedangkan pada estimasi output babi Landrace jantan (45,57%) lebih kecil daripada babi Landrace betina (70,49%).(Kata kunci: Estimasi output, Babi Bali, Babi Landrace)
PENGARUH LEVEL ONGGOK SEBAGAI ADITIF TERHADAP KUALITAS SILASE ISI RUMEN SAPI Ristanto Utomo; Subur Priyono Sasmito Budhi; Irma Fitri Astuti
Buletin Peternakan Vol 37, No 3 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (3) OKTOBER 2013
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v37i3.3089

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh level pemberian onggok sebagai aditif terhadap kualitas silase yang dibuat dari isi rumen sapi. Terdapat tiga level perlakuan penambahan onggok, yaitu 0 (kontrol), 15, dan 30% dari berat bahan kering isi rumen sapi, dan tiga lama peram yaitu 14, 21, dan 28 hari. Setiap perlakuan dibuat lima kali sebagai ulangan. Silase dibuat menggunakan stoples plastik yang berfungsi sebagai silo. Setiap akhir pemeraman dilakukan uji kualitas meliputi warna, bau, tekstur, ada tidaknya jamur, kandungan bahan kering (BK), dan bahan organik (BO), serta pH. Data BK, BO, dan pH dianalisis variansi menggunakan Randomized Completed Block Design (RCBD). Perbedaan yang nyata sebagai efek lama peram dilanjutkan uji Duncan's new Multiple Range Test (DMRT). Khusus dari hasil silase pemeraman 21 hari dilakukan analisis komposisi kimia meliputi serat kasar (SK), ekstrak eter (EE), dan protein kasar (PK). Data yang diperoleh dianalisis variansi menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap pola searah. Perbedaan yang nyata sebagai efek perlakuan dilanjutkan uji DMRT. Uji kualitas fisik menunjukkan warna coklat kehijauan, bau asam, tekstur kasar, dan tidak ada pertumbuhan jamur. Penambahan onggok pada level yang berbeda meningkatkan (P<0,01) nilai komposisi kimia silase isi rumen sapi, yaitu BK dan BO, sedangkan SK, EE, dan PK mengalami penurunan (P<0,01). Penambahan onggok sebagai aditif pada pembuatan silase dari isi rumen sapi cukup pada level 15% karena pada hari ke 14, pH telah turun menjadi 3,87±0,07, tetap stabil sampai hari ke 28 (3,93±0,11), didukung oleh skor Fleig yang mencapai 98,58±3,39 (sangat baik).(Kata kunci : Isi rumen sapi, Onggok, Lama peram, Silase)
PENGARUH SUPLEMENTASI VITAMIN E DALAM RANSUM YANG MENGANDUNG CAPSULATED CRUDE PALM OIL TERHADAP KANDUNGAN POLYUNSATURATED FATTY ACID DAGING DAN PERFORMAN KAMBING BLIGON Firman Nasiu; Lies Mira Yusiati; Supadmo (Supadmo)
Buletin Peternakan Vol 37, No 3 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (3) OKTOBER 2013
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v37i3.3090

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi vitamin E dalam ransum yang mengandung minyak sawit mentah terkapsulasi (Capsulated Crude Palm Oil-CCPO) terhadap performan ternak dan kandungan polyunsaturated fatty acid (PUFA) daging kambing Bligon. Rumput raja sebanyak 65%, bekatul 20%, dan bungkil kacang kedelai 15% dengan penambahan 3% capsulated crude palm oil (CCPO) digunakan sebagai ransum kontrol. Ternak yang digunakan adalah kambing Bligon jantan sebanyak 9 ekor yang dibagi dalam 3 kelompok perlakuan yang terdiri atas kelompok pertama hanya mendapat ransum kontrol tanpa suplementasi vitamin E, kelompok kedua mendapat ransum kontrol dengan suplementasi vitamin E 200 mg per kg bahan kering pakan, kelompok ketiga mendapat ransum kontrol dengan suplementasi vitamin E 400 mg per kg bahan kering pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi vitamin E sampai level 400 mg/kg bahan kering tidak berpengaruh terhadap performan ternak, kandungan PUFA, dan komposisi kimia, namun cenderung menurunkan kadar malondialdehyde (MDA) daging (P<0,06) sebesar 67,52%, meningkatkan kandungan vitamin E sebesar 74,80% namun diikuti oleh peningkatan kandungan kolesterol daging.(Kata kunci: Vitamin E, Performan ternak, PUFA daging)
PENGARUH KOMBINASI PENGKABUTAN DAN KIPAS ANGIN TERHADAP KONDISI FISIOLOGIS SAPI PERAH PERANAKAN FRIESIAN HOLLAND John Arnold Palulungan
Buletin Peternakan Vol 37, No 3 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (3) OKTOBER 2013
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v37i3.3091

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pengkabutan yang dikombinasi dengan penggunaan kipas angin terhadap kondisi mikroklimat kandang, kondisi fisiologis, dan konsumsi pakan. Delapan ekor sapi perah yaitu 4 ekor laktasi ke I dan 4 ekor laktasi ke III, dengan rata-rata berat badan 409,13±19,02 kg dikelompokkan dalam dua kelompok. Metode yang digunakan metode eksperimen yang dirancang dengan rancangan balanced simple crossover dengan dua perlakuan yaitu pengkabutan dan kipas angin (P) dan tidak dilakukan pengkabutan dan kipas angin (TP) sebagai kontrol. Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap. Sebelum dilakukan periode perlakuan terlebih dahulu dilakukan penelitian tahap awal untuk mengamati titik-titik kritis kapan waktu yang tepat dilakukan pengkabutan. Pada penelitian awal diperoleh titik-titik kritis pada jam 10.00, 12.00, 13.00, 14.00, dan 16.00. Pada awal perlakuan pengkabutan terlebih dahulu dilakukan masa adaptasi pada sapi perah selama 1 minggu. Parameter yang diamati meliputi mikroklimat kandang, kondisi fisiologis, dan konsumsi bahan kering pakan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varian. Hasil penelitian diperoleh kondisi mikroklimat kandang yaitu; temperatur kandang sangat berbeda nyata (P≤0,01) pada kelompok perlakuan P dan TP berturut-turut 27,91±1,58 dan 29,41±2,34ºC, kelembaban kandang berbeda nyata (P≤0,05) berturut-turut 73,64±8,73 dan 71,40±10,35%, dan Temperature-Humidity Index sangat berbeda (P≤0,01) yaitu 76,42±1,23 dan 78,03±1,99. Kondisi fisiologi yaitu temperatur rektal berbeda nyata (P≤0,05) pada kelompok perlakuan P dan TP berturut-turut 38,58±0,35 dan 38,82±0,41ºC, laju pulsus berbeda nyata (P≤0,05) yaitu 64,12±5,96 dan 68,44±5,85 denyutan/menit, laju respirasi sangat berbeda (P≤0,01) yaitu 23,56±3,36 dan 33,56±8,02 dengusan/menit. Perlakuan pengkabutan dan kipas angin selama 10 menit dapat menurunkan temperatur lingkungan dalam kandang, efektif menurunkan Temperature-Humidity Index, serta temperatur rektal, laju pulsus, dan laju respirasi ternak, namun menaikkan kelembaban dalam kandang. Stres panas yang dialami ternak belum mempengaruhi konsumsi pakan.(Kata kunci: Sapi Friesian Holland, Heat stress, Pengkabutan dan kipas, Kondisi fisiologis ternak, Mikroklimatkandang)
PENGGUNAAN PROTEASE ASPERGILLUS sp. DAN RHIZOPUS sp. DENGAN KONSENTRASI YANG BERBEDA DALAM TAHAPAN UNHAIRING TERHADAP KUALITAS FISIK DAN LIMBAH CAIR PADA PENYAMAKAN KULIT DOMBA Yunus Syafie; Suharjo Triatmojo; Ambar Pratiwiningrum
Buletin Peternakan Vol 37, No 3 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (3) OKTOBER 2013
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v37i3.3092

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas proteolitik yang dihasilkan jamur Aspergillus sp. dan Rhizopus sp. dalam tahapan unhairing (buang rambut) pada proses penyamakan kulit domba serta pengaruh penggunaan dengan konsentrasi berbeda, terhadap kuat tarik, kemuluran, suhu kerut, dan kualitas limbah (pH, BOD, dan COD). Materi yang digunakan yaitu 15 lembar kulit domba awetan garam dibagi 2 bagian sepanjang garis lurus punggung sehingga diperoleh 30 lembar kulit, kulit dibagi secara acak menjadi 10 kelompok. Perlakuan terdiri dari dua belas kombinasi yaitu protease dari Aspergillus sp., Rhizopus sp. serta gabungan antara Aspergillus sp. dan Rhizopus sp. dengan konsentrasi protease 2% (P1), 2,5% (P2), 3% (P3), dan sebagai kontrol P0. Proses unhairing secara konvensional menggunakan bahan kimia Na2S (3%) dan kapur Ca(OH)2 6% dengan 3 ulangan. Sampel air limbah setelah proses unhairing diambil dan dibawa ke laboratorium untuk uji kualitas. Kulit diproses lebih lanjut menjadi kulit samak glazed. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 3 x 4, apabila berbeda nyata dilakukan uji banding dengan uji Duncan’s new Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji aktivitas proteolitik paling tinggi adalah gabungan antara protease dari Aspergillus sp. dan Rhizopus sp. yaitu sebesar 1.079,17 μM/ml/menit, sedangkan protease Aspergillus sp. dan Rhizopus sp. masing-masing memiliki aktivitas proteolitik sebesar 542,96 μM/ml/menit dan 392,89 μM/ml/menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan protease dengan konsentrasi yang berbeda dapat memberikan efek yang positif terhadap kualitas fisik dan limbah cair proses unhairing kulit domba. Konsentrasi protease 2,5% dan 3% dapat meningkatkan nilai kuat tarik dan suhu kerut kulit domba serta menghasilkan kulit yang bersih tanpa ada rambut yang menempel dan struktur serabut kolagen terbuka. Perlakuan protease sangat potensial karena dapat menekan angka BOD dan COD limbah sebesar 69%. Tidak terjadi interaksi antara konsentrasi protease dan sumber protease dalam penelitian ini.(Kata kunci: Protease Aspergillus sp. dan Rhizopus sp., Unhairing, Konsentrasi, Kualitas fisik kulit, dan Limbah cair)
The Effect of Betel Nut Extract (Areca catethu L) on Spermatozoa Quality (Macroscopic and Microscopic) in Male Goats Yuni Oktaviani; Gianty Hartani Lugiana; Sadjatun Nisa; Kamelia Ningrum; Dwi Wijayanti
Buletin Peternakan Vol 46, No 2 (2022): BULETIN PETERNAKAN VOL. 46 (2) MAY 2022
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v46i2.47489

Abstract

The purpose of this study is to determine the effect of betel nut extract on the macroscopically and microscopically quality of spermatozoa. Materials and methods were used for 16 male Ettawa goats at the age of 2 years. The preparation of betel nut extract and macroscopic observations of spermatozoa via the use of odors, colors, and volumes, as well as microscopic observations of spermatozoa through the use of mass motion, mass motility, and individual motility. The betel nut extract was administered orally for 15 days. The treatments in this study were T0 (without the provision of betel nut extract), T1 (provision of betel nut extract (90 mg/goat/day)), T2 (provision of betel nut extract (180 mg/goat/day)), T3 (provision of betel nut extract (270 mg/goat/day)). The results showed that the addition of betel nut extract was significantly different than without extracts (P<0.05). The goats without betel nut extract had the lowest quality of spermatozoa, whereas the goats treated with a betel nut extract (270 mg/goat/day) had the highest quality of spermatozoa of all the treatments. There was an increase in spermatozoa in the 10th data collection, including smell, colour, volume, mass motility, and individual motility. Furthermore, male goats were given betel nut extract at a dose of 270 mg/goat/day, which improved spermatozoa quality both macroscopically and microscopically. Subsequently, we assumed that betel nut extract could improve reproductive quality in male goats.

Page 91 of 105 | Total Record : 1046


Filter by Year

1987 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 49, No 4 (2025): BULETIN PETERNAKAN VOL. 49 (4) November 2025 Vol 49, No 3 (2025): BULETIN PETERNAKAN VOL. 49 (3) August 2025 Vol 49, No 2 (2025): BULETIN PETERNAKAN VOL. 49 (2) MAY 2025 Vol 49, No 1 (2025): BULETIN PETERNAKAN VOL. 49 (1) FEBRUARY 2025 Vol 48, No 4 (2024): BULETIN PETERNAKAN VOL. 48 (4) NOVEMBER 2024 Vol 48, No 3 (2024): BULETIN PETERNAKAN VOL. 48 (3) AUGUST 2024 Vol 48, No 2 (2024): BULETIN PETERNAKAN VOL. 48 (2) MAY 2024 Vol 48, No 1 (2024): BULETIN PETERNAKAN VOL. 48 (1) FEBRUARY 2024 Vol 47, No 4 (2023): BULETIN PETERNAKAN VOL. 47 (4) NOVEMBER 2023 Vol 47, No 3 (2023): BULETIN PETERNAKAN VOL. 47 (3) AUGUST 2023 Vol 47, No 2 (2023): BULETIN PETERNAKAN VOL. 47 (2) MAY 2023 Vol 47, No 1 (2023): BULETIN PETERNAKAN VOL. 47 (1) FEBRUARY 2023 Vol 46, No 4 (2022): BULETIN PETERNAKAN VOL. 46 (4) NOVEMBER 2022 Vol 46, No 3 (2022): BULETIN PETERNAKAN VOL. 46 (3) AUGUST 2022 Vol 46, No 2 (2022): BULETIN PETERNAKAN VOL. 46 (2) MAY 2022 Vol 46, No 1 (2022): BULETIN PETERNAKAN VOL. 46 (1) FEBRUARY 2022 Vol 45, No 4 (2021): BULETIN PETERNAKAN VOL. 45 (4) NOVEMBER 2021 Vol 45, No 3 (2021): BULETIN PETERNAKAN VOL. 45 (3) AUGUST 2021 Vol 45, No 2 (2021): BULETIN PETERNAKAN VOL. 45 (2) MAY 2021 Vol 45, No 1 (2021): BULETIN PETERNAKAN VOL. 45 (1) FEBRUARY 2021 Vol 44, No 4 (2020): BULETIN PETERNAKAN VOL. 44 (4) NOVEMBER 2020 Vol 44, No 3 (2020): BULETIN PETERNAKAN VOL. 44 (3) AUGUST 2020 Vol 44, No 2 (2020): BULETIN PETERNAKAN VOL. 44 (2) MAY 2020 Vol 44, No 1 (2020): BULETIN PETERNAKAN VOL. 44 (1) FEBRUARY 2020 Vol 43, No 4 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (4) NOVEMBER 2019 Vol 43, No 3 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (3) AUGUST 2019 Vol 43, No 2 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (2) MAY 2019 Vol 43, No 1 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (1) FEBRUARY 2019 Vol 42, No 4 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (4) NOVEMBER 2018 Vol 42, No 3 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (3) AUGUST 2018 Vol 42, No 2 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (2) MAY 2018 Vol 42, No 1 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (1) FEBRUARY 2018 Vol 41, No 4 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (4) NOVEMBER 2017 Vol 41, No 3 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (3) AGUSTUS 2017 Vol 41, No 2 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (2) MEI 2017 Vol 41, No 1 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (1) FEBRUARI 2017 Vol 40, No 3 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (3) OKTOBER 2016 Vol 40, No 2 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (2) JUNI 2016 Vol 40, No 1 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (1) FEBRUARI 2016 Vol 39, No 3 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (3) OKTOBER 2015 Vol 39, No 2 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (2) JUNI 2015 Vol 39, No 1 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (1) FEBRUARI 2015 Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014 Vol 38, No 2 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (2) JUNI 2014 Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014 Vol 37, No 3 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (3) OKTOBER 2013 Vol 37, No 2 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (2) JUNI 2013 Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013 Vol 36, No 3 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (3) Oktober 2012 Vol 36, No 2 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (2) Juni 2012 Vol 36, No 1 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (1) Februari 2012 Vol 35, No 3 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (3) Oktober 2011 Vol 35, No 2 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (2) Juni 2011 Vol 35, No 1 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (1) Februari 2011 Vol 34, No 3 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (3) Oktober 2010 Vol 34, No 2 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (2) Juni 2010 Vol 34, No 1 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (1) Februari 2010 Vol 33, No 3 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (3) Oktober 2009 Vol 33, No 2 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (2) Juni 2009 Vol 33, No 1 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (1) Februari 2009 Vol 32, No 3 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (3) Oktober 2008 Vol 32, No 2 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (2) Juni 2008 Vol 32, No 1 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (1) Februari 2008 Vol 31, No 4 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (4) November 2007 Vol 31, No 3 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (3) Agustus 2007 Vol 31, No 2 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (2) Mei 2007 Vol 31, No 1 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (1) Februari 2007 Vol 30, No 4 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (4) November 2006 Vol 30, No 3 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (3) Agustus 2006 Vol 30, No 2 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (2) Mei 2006 Vol 30, No 1 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (1) Februari 2006 Vol 29, No 4 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (4) November 2005 Vol 29, No 3 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (3) Agustus 2005 Vol 29, No 2 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (2) Mei 2005 Vol 29, No 1 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (1) Februari 2005 Vol 28, No 4 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (4) November 2004 Vol 28, No 3 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (3) Agustus 2004 Vol 28, No 2 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (2) Mei 2004 Vol 28, No 1 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (1) Februari 2004 Vol 27, No 4 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (4) November 2003 Vol 27, No 3 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (3) Agustus 2003 Vol 27, No 2 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (2) Mei 2003 Vol 27, No 1 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (1) Februari 2003 Vol 26, No 4 (2002): Buletin Peternakan Vol. 26 (4) November 2002 Vol 26, No 1 (2002): Buletin Peternakan Vol. 26 (1) Februari 2002 Vol 25, No 4 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (4) November 2001 Vol 25, No 3 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (3) Agustus 2001 Vol 25, No 2 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (2) Mei 2001 Vol 25, No 1 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (1) Februari 2001 Vol 24, No 4 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (4) November 2000 Vol 24, No 3 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (3) Agustus 2000 Vol 24, No 2 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (2) Mei 2000 Vol 24, No 1 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (1) Februari 2000 Vol 23, No 4 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (4) November 1999 Vol 23, No 3 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (3) Agustus 1999 Vol 23, No 2 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (2) Mei 1999 Vol 23, No 1 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (1) Februari 1999 Vol 22, No 4 (1998): Buletin Peternakan Vol. 22 (4) November 1998 Vol 21, No 3 (1997): Buletin Peternakan Vol. 21 (3) November 1997 Vol 21, No 1 (1997): Buletin Peternakan Vol. 21 (1) April 1997 Vol 20, No 2 (1996): Buletin Peternakan Vol. 20 (2) Desember 1996 Vol 20, No 1 (1996): Buletin Peternakan Vol. 20 (1) Juni 1996 Vol 19, No 2 (1995): Buletin Peternakan Vol. 19 (2) Desember 1995 Vol 19, No 1 (1995): Buletin Peternakan Vol. 19 (1) Juni 1995 1995: BULETIN PETERNAKAN SPECIAL EDITION 1995 Vol 18, No 4 (1994): Buletin Peternakan Vol. 18 (4) Desember 1994 Vol 17, No 1 (1993): Buletin Peternakan Vol. 17 (1) Juni 1993 Vol 16, No 1 (1992): Buletin Peternakan Vol. 16 (1) Desember 1992 Vol 15, No 2 (1991): Buletin Peternakan Vol. 15 (2) Desember 1991 Vol 15, No 1 (1991): Buletin Peternakan Vol. 15 (1) Juni 1991 Vol 14, No 2 (1990): Buletin Peternakan Vol. 14 (2) Desember 1990 Vol 14, No 1 (1990): Buletin Peternakan Vol. 14 (1) Juni 1990 Vol 13, No 1 (1989): Buletin Peternakan Vol. 13 (1) September 1989 Vol 11, No 2 (1987): Buletin Peternakan Vol. 11 (2) September 1987 Vol 11, No 1 (1987): Buletin Peternakan Vol. 11 (1) Maret 1987 More Issue