cover
Contact Name
Respati Retno Utami
Contact Email
respatiutami@unesa.ac.id
Phone
+6285736709270
Journal Mail Official
jurnalbaradha@unesa.ac.id
Editorial Address
Jl Lidah Wetan, Lidah wetan, Kecamatan Lakarsantri, Kota Surabaya, Jawa Timur 60213
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Online Baradha
ISSN : -     EISSN : 22525777     DOI : https://doi.org/10.26740/job.v17n1
JOB (Jurnal Online Baradha) is an open access journal published by the Javanese language and Literature Education Study Program, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya. First published issue of Volume 1 No 1 in 2009 with 1 article in it. JOB: Jurnal Online Baradha is published twice a year, namely in June and November. JOB (Jurnal Online Baradha) has an International Standard Serial Number (ISSN) in both print and electronic versions, e-ISSN 2252-5777 (electronic version). Focus and Scope JOB (Jurnal Online Baradha) is a scholarly journal that presents literature, culture and local wisdom, linguistics, and Javanese philology or manuscripts and javanese language teaching, including: Javanese language education Javanese tradition Javanese folklore Javanese art Javanese literary criticism Javanese morphology Javanese semantics Javanese philology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 383 Documents
Maksim Cara Lan Relevansi Sajrone Ludruk Jaka Sambang Dening Karya Budaya (Tintingan Pragmatik) NOURMA ALFINDA DINNI; Surana Surana
JOB (Jurnal Online Baradha) Vol 17 No 4 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.322 KB) | DOI: 10.26740/job.v17n4.p1417-1434

Abstract

Abstrak Manusia sebagai makhluk sosial sudah pasti tidak akan lepas dari kegiatan bersosial seperti percakapan dan berkomunikasi antara satu dengan lainnya. Hal tersebut sudah menjadi sebuah kodrat atas berjalannya kehidupan, karena jika tidak ada komunikasi, maka bisa dipastikan kehidupan tidak akan berjalan dengan baik. Ludruk sebagai salah satu pagelaran seni drama tradisional menjadi salah satu penerapan gambaran komunikasi dalam masyarakat Jawa sudah pasti mengandung unsur-unsur komunikasi seperti prinsip komunikasi kerjasama. Salah satu lakon yang sering dipentaskan yaitu lakon Jaka Sambang oleh salah satu grup seni Karya Budaya mengandung beberapa maksim dalam prinsip kerjasama seperti maksim cara dan relevansi menarik peneliti untuk diteliti. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif yang bersifat sinkronis. Sumber data dalam penelitian ini yaitu video pagelaran Ludruk Jaka Sambang oleh Karya Budaya Mojokerto yang dipentaskan pada tanggal 25 Juli 2006. Data penelitian sendiri yaitu kumpulan tuturan yang mengandung unsur maksim cara dan relevansi oleh para pemain Ludruk tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya wujud tuturan maksim sejumlah 93 wujud tuturan, dengan rincian lima puluh delapan (58) tuturan maksim cara dan maksim relevansi sejumlah tiga puluh lima (35) data. Kata kunci: Pragmatik, Prinsip Kerjasama, Ludruk.
Temperamennya Tokoh-Tokoh Dalam Novel Langit Mendhung Sajroning Pangangen Karya Tulus Setiyadi (Kajian Psikologi Kepribadian Ludwig Klages) Catur Retno Purwiyanti; Surana surana
JOB (Jurnal Online Baradha) Vol 17 No 4 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.749 KB) | DOI: 10.26740/job.v17n4.p1396-1416

Abstract

Abstrak Temperamennya tokoh-tokoh dalam novel Langit Mendhung Sajroning Pangangen karya Tulus Setyadi merupakan karya sastra jawa modern yaitu novel. Novel Langit Mendhung Sajroning Pangangen karya Tulus Setyadi itu tumbuh kekuwatan didalam bagian temperamen tokoh. Masalah demi masalah yang terjadi itu bisa tumbuh adanya temperamen tokoh. Temperamen tokoh merupakan bagian yang paling menonjol. Didalam novel Langit Mendhung sajroning Pangangen karya Tulus Setiyadi ini terpilih dengan judul temperamen karena adanya setiap tokoh itu mempunyai sifat juga karakter yang berbeda-beda yang menjadikan daya tarik terhadap peneliti. Temperamen yaitu sifat batin yang mempunyai pengaruh terhadap sifat, perasaan, dan pemikiran. Kepribadian seseorang itu bermacam-macam. Ludwig Klages membangun tiga model dalam sistem kepribadian manusia. Pertama yaitu temperamen, kedua yaitu perasaan, ketiga yaitu ekspresi. Didalam ketiga yang dijabarkan oleh Ludwig Klages yang lebih cocok dengan objek penelitian ini yaitu temperamen. Temperamen tokoh tersebut bisa melalui sifat tokoh dan sikap tokoh dalam novel Langit Mendhung Sajroning Pangangen. Pusat penelitian ini yaitu: 1) Bagaimana perbuatan tokoh dalam Novel LMSP?, 2) Bagaimana wujud temperamennya tokoh dalam Novel LMSP?, 3) Bagaimana sifat tokoh dalam novel LMSP?. Berdasarkan pusat penelitian tersebut, tujuan penelitian yaitu: 1) Menjabarkan perbuatan tokoh, 2) Menjabarkan wujud temperamennya 3) Menjabarkan sifat tokoh dalam novel LMSP. Manfaat di penelitian ini yaitu memberikan sumbangsih kepada 1) penulis 2) pembaca 3) pengajar sastra. Penelitian ini menggunakan tintingan psikologi sastra khususnya psikologi kepribadian Ludwig Klages. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif. Data didalam penelitian ini yaitu berupa kalimat-kalimat mengenai temperamene tokoh. Sumber data penelitian ini yaitu novel Langit Mendhung Sajroning Pangangen karya Tulus Setiyadi. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu dengan teknik studi kapustakan, membaca, memahami, menentukan kejadian-kejadian yang ada hubungannya dengan objek tersebut, dan dheskripsi. Studi kapustakan disini yaitu mengumpulkan data dengan cara menyiapkan data, dheskripsi, dan meringkas atau menyimpulkan. Hasil dari penelitian ini terbagi menjadi tiga yaitu pertama, perbuatan tokoh. Perbuatan tokoh yaitu Depresi dan balas dendam. Kedua yaitu mengenai wujud temperamen tokoh dibagi menjadi dua yaitu temperamen sanguinis dan temperamen Phlegmatis. Ketiga mengenai sifat tokoh terbagi menjadi lima yaitu menghargai, ambisius, pasrah, mudah mengeluh, setia. Kata Kunci: Kepribaden, Temperamen, Sifat
Proses Afiksasi Bahasa Jawa Pada Novel Wedhus Gembel Gunung Merapi Karya Suci Hadi Suwita (Kajian Morfologi) Auliyah Firdama Yanti; Surana Surana
JOB (Jurnal Online Baradha) Vol 17 No 4 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.753 KB) | DOI: 10.26740/job.v17n4.p1478-1501

Abstract

Proses afiksasi merupakan bagian dari proses morfologi yang disebut juga sebagai proses pengimbuhan. Dalam proses afiksasi ini ada empat jenis bagian yaitu prefiks, infiks, sufiks, dan konfiks. Proses afiksasi ini akan dianalisis menggunakan teori morfologi. Rumusan masalah yang akan dianalisis dalam artikel ini ada dua, yaitu (1) bagaimana penggunaan afiksasi di dalam novel wedhus gembel gunung merapi karya Suci Hadi Suwita?, dan (2) bagaimana wujud makna penggunaan afiksasi di dalam novel wedhus gembel gunung merapi karya Suci Hadi Suwita?. Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) untuk mengetahui bagaimana penggunaan afiksasi di dalam novel wedhus gembel gunung merapi karya Suci Hadi Suwita, dan (2) untuk mengetahui bagaimana wujud makna afiksasi di dalam novel wedhus gembel gunung merapi karya Suci Hadi Suwita. Manfaat penelitian yaitu supaya dapat memberi pengetahuan kepada masyarakat pembaca mengenai proses afiksasi dan menjadi sarana informasi bagi para peneliti selanjutnya. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif. Sumber data berupa novel berjudul wedhus gembel gunung merapi karya suci hadi suwita. Data berupa kata-kata di dalam novel wedhus gembel gunung merapi karya Suci Hadi Suwita yang telah dikumpulkan menggunakan teknik catat. Hasil penelitian ditemukan bagian afiks berupa prefiks, infiks, sufiks, dan konfiks. Penggunaan afiks pada novel wedhus gembel gunung merapi karya Suci Hadi Suwita menyebabkan kata-kata yang ditambah afiks berubah arti dari kata dasarnya. Begitu juga wujud makna kata ketika mendapat afiks berubah dari makna dasarnya. Namun ditemukan pula beberapa kata yang tidak berubah dari makna dan arti dari kata dasar. Kata Kunci : afiksasi, prefiks, infiks, sufiks, konfiks
Kesenian Reog Raja Setan Sukmo Ngemboro Ing Desa Sukobendu Kecamatan Mantup Kabupaten Lamongan Ega Trisnawati; Sukarman sukarman
JOB (Jurnal Online Baradha) Vol 17 No 4 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.427 KB) | DOI: 10.26740/job.v17n4.p1457-1477

Abstract

Abstrak Kesenian Reog Raja Setan Sukmo Ngemboro (KRRSSN) merupakan salah satu kesenian yang ada di Desa Sukobendu, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan. Kesenian ini merupakan hasil turun-temurunnya leluhur di Desa Sukobendu yang masih dilestarikan. Pertunjukkan KRRSSN biasanya diadakan pada acara pernikahan dan khitanan. Selain itu, pertunjukkan KRRSSN juga dijadikan sebagai pertunjukkan tahunan seperti acara Grebeg Sura. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah (1) bagaimana sejarah KRRSSN, (2) bagaimana bentuk pertunjukkan KRRSSN, (3) bagaimana fungsi KRRSSN, (4) bagaimana perubahan yang terjadi pada KRRSSN, dan (5) bagaimana cara melestarikan KRRSSN. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan sejarah KRRSSN, (2) mendeskripsikan bentuk pertunjukkan KRRSSN, (3) mendeskripsikan fungsi KRRSSN, (4) mendeskripsikan perubahan pada KRRSSN, dan (5) mendeskripsikan cara melestarikan KRRSSN. Analisis teori yang digunakan untuk menjelaskan temuan pada penelitian ini adalah (1) konsep folklor, (2) konsep fungsi, (3) konsep perubahan, dan (4) konsep pelestarian. Metode penelitian adalah deskriptif kualitatif. Instrumen penelitian terdiri dari peneliti, daftar pertanyaan wawancara, dan lembar observasi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Fungsi KRRSSN yaitu sebagai sistem proyeksi, sarana pengesahan budaya, sarana pendidikan, sarana pengendalian sosial, sarana ekonomi, dan sarana melestarikan budaya Jawa. Kata kunci : Pertunjukkan, Kesenian, Reog Raja Setan Sukmo Ngemboro, Folklor.
Alih Kode Campur Kode dalam Dialog Film Sultan Agung Afrizal Hairul Mahardika; Udjang Pairin
JOB (Jurnal Online Baradha) Vol 17 No 4 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.487 KB) | DOI: 10.26740/job.v17n4.p1521-1537

Abstract

Abstrak Penelitian ini mempunyai tujuan untuk menjelaskan bentuk serta faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya alih kode dan campur kode di dalam dialog Film Sultan Agung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif. Teknik untuk mengumpulkan data di dalam film ini ada dua cara yaitu teknik menyimak dan teknik mencatat. Teknik menyimak yaitu melihat film dengan media laptop atau HP. Sedangkan teknik mencatat yaitu menulis data (alih kode dan campur kode) hasil dari menyimak atau melihat Film Sultan Agung lalu data tersebut diklasifikasikan menjadi data alih kode dan data campur kode. Setelah pengumpulan data, peneliti mengolah data. Ada dua data untuk mengolah data yang terperinci dan jelas, yaitu transkip data dan klasifikasi data. Hasil penelitian yang ditemukan yaitu alih kode dan campur kode. Alih kode yang terjadi yaitu alih kode dari bahasa ngoko ke dalam bahasa krama, alih kode dari bahasa krama ke dalam bahasa ngoko, alih kode dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jawa, dan alih kode dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Faktor yang memengaruhi terjadinya alih kode tersebut yaitu (1) mitra tutur, (2) pokok pembicaraan, (3) maksud dan tujuan bicara. Peristiwa campur kode juga ditemukan pada film ini. Bentuk campur kode yang terjadi berupa frasa, klausa, dan sisipan kata. Faktor yang memengaruhi terjadinya campur kode yaitu (1) terbatasnya penggunaan kode, (2) kebiasaan, dan (3) maksud dan tujuan bicara. Kata kunci: alih kode, campur kode, film.
Haul Mbah Abu Dzarrin di Desa Kedawungkulon, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan Syafrida Marsha Nuris Shania; yohan susilo
JOB (Jurnal Online Baradha) Vol 16 No 7 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.544 KB) | DOI: 10.26740/job.v16n7.p%p

Abstract

Haul Mbah Abu Dzarrin atau bisa disingkat HMAD yaitu salah satu tradisi tahunan yang diselenggarakan di Dusun Tugu, Desa Kedawungkulon, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan setiap tanggal 16 Syawal. Haul Mbah Abu Dzarrin dipilih untuk menjadi objek penelitian karena kurangnya informasi mengenai tradisi tersebut untuk masyarakat umum. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi dan pengetahuan mengenai tradisi haul yang sudah mulai dikenal oleh banyak orang ini. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan kajian folklor dan mengandalkan sumber data dari beberapa narasumber yang ahli di bidangnya. Selain itu, observasi lapangan juga dilakukan untuk memperkuat argumentasi dalam hasil penelitian. Metode ini digunakan agar objek penelitian dapat terbedah dengan baik bagaimana wujud, makna, dan fungsi dari tradisi tersebut. Penelitian ini mencakup enam rumusan masalah, yaitu (1) bagaimana asal mula tradisi HMAD?, (2) bagaimana langkah tradisi HMAD?, (3) bagaimana wujud dan makna ubarampe tradisi HMAD?, dan (4) bagaimana fungsi tradisi HMAD? Kata Kunci : folklor, tradisi haul, pengaruh tradisi
SENI JARANAN THÉK ING DESA SAMBIT KABUPATEN PONOROGO (TINTINGAN FOLKLOR) Erika Nindy Damayanti; Surana Surana
JOB (Jurnal Online Baradha) Vol 16 No 7 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.802 KB) | DOI: 10.26740/job.v16n7.p%p

Abstract

Folklor iku kalebu ana ing perangane kabudayan.Folklor yaiku salah sawijine perangan saka kabudayan koletif kang sumebar, ngrembaka lan diwarisake kanthi cara tradisional yaiku kanthi gethuk tular (turun-temurun).Folklor iku kaperang dadi telu jinis yaiku folklor lisan, folklor setengah lisan, lan folklor ora lisan. Panliten iki kalebu ana ing jinis folklor ora lisan amarga dijlentrehake kanthi nggunakake cara tuladha (praktek) lan dijangkepi gerak isyarat (tari). Panliten kanthi irah-irahan Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo bakal didhudhah kanthi nggunakake tintingan folklor. Underan panliten kang bakal di dudhah yaiku (1) Kepriye mula bukane Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo? (2) Kepriye pangribawane Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo tumrap pelestarian cagar budaya lan kahanan ekonomi masyarakat? (3) Kepriye mitos kang ana ing sajrone Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo? (4) Kepriye fungsi Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo?. Tujuwan panliten, yaiku (1) Ngandharake mula bukane Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo. (2) Ngandharake pangribawane Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo tumrap pelestarian cagar budaya lan kahanan ekonomi masyarakat. (3) Ngandharake mitos kang ana ing sajrone Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo. (4) Ngandharake fungsi Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo. Metode kang digunakake kanggo panliten yaiku metode deskriptif kanthi nggunakake pendekatan kualitatif. Sumber data kang digunakake anggone panliten iki yaiku asile wawancara, rekaman swara, foto lan video. Kata Kunci: Folklor, Kabudayan, Seni Jaranan Thék Ponorogo Folklor iku kalebu ana ing perangane kabudayan.Folklor yaiku salah sawijine perangan saka kabudayan koletif kang sumebar, ngrembaka lan diwarisake kanthi cara tradisional yaiku kanthi gethuk tular (turun-temurun).Folklor iku kaperang dadi telu jinis yaiku folklor lisan, folklor setengah lisan, lan folklor ora lisan. Panliten iki kalebu ana ing jinis folklor ora lisan amarga dijlentrehake kanthi nggunakake cara tuladha (praktek) lan dijangkepi gerak isyarat (tari). Panliten kanthi irah-irahan Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo bakal didhudhah kanthi nggunakake tintingan folklor. Underan panliten kang bakal di dudhah yaiku (1) Kepriye mula bukane Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo? (2) Kepriye pangribawane Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo tumrap pelestarian cagar budaya lan kahanan ekonomi masyarakat? (3) Kepriye mitos kang ana ing sajrone Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo? (4) Kepriye fungsi Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo?. Tujuwan panliten, yaiku (1) Ngandharake mula bukane Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo. (2) Ngandharake pangribawane Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo tumrap pelestarian cagar budaya lan kahanan ekonomi masyarakat. (3) Ngandharake mitos kang ana ing sajrone Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo. (4) Ngandharake fungsi Seni Jaranan Thék ing Desa Sambit Kabupaten Ponorogo. Metode kang digunakake kanggo panliten yaiku metode deskriptif kanthi nggunakake pendekatan kualitatif. Sumber data kang digunakake anggone panliten iki yaiku asile wawancara, rekaman swara, foto lan video. Kata Kunci: Folklor, Kabudayan, Seni Jaranan Thék Ponorogo
Komunikasi Ritual Tradisi Tingkeban di Desa Kradinan Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun (Kajian Etnografi Komunikasi) Yoga Pratama Estiyardi; Octo Dendy Andriyanto
JOB (Jurnal Online Baradha) Vol 17 No 4 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.343 KB) | DOI: 10.26740/job.v17n4.p1560-1583

Abstract

Tradisi tingkeban di Desa Kradinan, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun masih dilestarikan dalam siklus kehidupan manusia. Adanya tindakan ritual oleh masyarakat berupa pemandian yang disertai dengan doa-doa khusus, tradisi tingkeban ini akan dikaji dari segi komunikasi ritualnya. Artikel ini merumuskan situasi komunikatif, peristiwa komunikatif, dan perilaku komunikatif selama tradisi tingkeban di desa Kradinan, kecamatan Dolopo, kabupaten Madiun. Dengan rumusan tersebut, dapat ditemukan perilaku komunikatif tradisi tingkeban melalui berbagai praktik dalam situasi komunikatif, peristiwa komunikatif, dan tindak komunikatif yang dilakukan warga Desa Kradinan, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi komunikasi Hymes, sesuai dengan tujuan etnografi komunikasi untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan menginterpretasikan pola perilaku komunikasi kelompok sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situasi komunikatif dari tradisi tingkeban adalah ritual yang dilakukan secara tradisional di rumah yang dihuni serta dihadiri oleh keluarga dan tamu undangan. Peristiwa komunikatif tradisi tingkeban didasarkan pada tipe komunikatif, topik, tujuan dan fungsi, setting, partisipan, bentuk pesan, isi pesan, urutan tindakan, kaidah interaksi, dan norma. Sedangkan tindak komunikatif tradisi tingkeban yaitu seseorang yang terampil dan paham semua pelaksanaan acara. Kata Kunci: Komunikasi Ritual, Tradisi, Tingkeban, Etnografi Komunikasi
Tradisi Jagoan di Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun Yoeshak Bramastio Iswara; Yohan Susilo
JOB (Jurnal Online Baradha) Vol 17 No 4 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.754 KB) | DOI: 10.26740/job.v17n4.p1538-1559

Abstract

Banyak tradisi di Jawa yang masih terlaksana sampai dikala ini, salah satunya merupakan Tradisi Jagoan yang terletak di wilayah Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. Tradisi Jagoan ini ada cerminan jago serta dibawa oleh seseorang keyakinan dari pengantin laki- laki buat melamar calon pengantin perempuan. Apabila lamaran tersebut ditolak pemegang cerminan jagoan haruslah menyelesaikannya dengan metode apapun, sebab yang memegang cerminan jago tidaklah orang biasa, wajib betul- betul jago dalam seluruh perihal. Tujuan riset ini(1) mengenali apa yang diartikan Tradisi Jagoan,(2) mengenali prosesi Tradisi Jagoan,(3) mengenali arti filosofis yang tercantum dalam Tradisi Jagoan, serta( 4) mengenali guna Tradisi Jagoan. Periset memakai kajian foklor, rancangan peleitian menggukan deskriftif kualitatif dengan instrument catatan persoalan dan perlengkapan bantu. Postingan ini memakai metode pengumpulan informasi memakai observasi, wawancara serta dokumentasi. Buat menganalisis peneliti melaksanakan 7 tahapan, ialah: transkip informasi, penerjemahan, mengenali, mengklasifikasi, mendeskripsikan, pemaknaan serta trigulasi. Hasil peneltian pada prosesi Tradisi Jagoan merupakan pemilihan pemegang jago, mempersiapkan ubarampe, tidur sampai larut malam, arak- arakan, uluk salam, uncal gantal, jagongan, berjoget, rebutan jago serta panggih manten. Ada arti prosesi pada ubarampe yang jadi contoh sikap dan guna ada guna dalam Tradisi Jagoan. Kata Kunci: Tradisi, Jagoan, Foklor.
Kebutuhan Neurotik Tokoh Dalam Novel Tembang Rara Ing Tepis Ratri Penulis Sunaryata Soemardjo (Pikoaanalisis Karen Horney) Eka Ajeng Rofika; Darni darni
JOB (Jurnal Online Baradha) Vol 17 No 4 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.757 KB) | DOI: 10.26740/job.v17n4.p1680-1698

Abstract

KEBUTUHAN NEUROTIK TOKOH DALAM NOVEL TEMBANG RARAS ING TEPIS RATRI PENULI SUNARYATA SOEMARDJO (Psikoanalisis Karen Horney) ABSTRAK Penelitian ini menjelaskan tentang wujud kebutuhan neurotik tokoh-tokoh dalam novel untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada dikehidupan para tokoh. Dalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut para tokoh menggunakan cara-cara tertentu. Cara-cara tertentu yang dilakukan tokoh merupakan wujud dari kebutuhan neurotik semua tokoh. Dengan menggunakan kajian psikoanalisis sosial Karen Horney, cara untuk menyelesaikan perasaan yang tidak sesuai dengan para kebutuhan tokoh ini bisa dilakukan dengan tiga cara yang paling menonjol yang digunakan sebagai rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu (1)wujud kebutuhan neurotik tokoh dengan cara melawan orang lain, (2) wujud kebutuhan neurotik tokoh dengan cara menjauhi orang lain, dan (3) wujud kebutuhan neurotik tokh dengan cara mendekati orang lain. Kajian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kajian psikologi sastra. Penilitan ini termasuk kedalam penelitain deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pustaka. Sumber data dibagi menjadi dua yaitu, data primer dan data sekunder. Sumber data primer merupakan sumber data utama (Siswantoro, 2004:140).Sumber data primer yang digunakan penelitian ini yaitu novel Tembang Raras Ing Tepis Ratri. Novel ini dibagi menjadi 30inti cerita dan terdiri dari 196 halaman. Sumber data sekunder yaitu sumber data kedua (Siswantoro, 2004:140). Sumber data sekunder dalam penelitian ini yaitu data-data yang berasal dari buku acuan, yang dimaksud buku acuan yaitu teori yang berhubungan dengan masalah penelitian. Analisis data dalam penelitian ini mwnggunakan teknik deskriptif analitik dengan menjelaskan fakta-fakta yang ada lalu masuk dalam tahap analisis. Hasil dari penelitian ini yaitu (1) kecenderungan neurotik dengan cara melawan orang lain yang dilakukan tokoh untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, (2) kecenderungan neurotik dengan cara menjauhi orang lain yang dilakukan oleh tokoh untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, dan (3) kecenderungan neurotik dengan cara mendekati orang lain yang dilakukan tokoh untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Kalimat penting: Neurotik, Psikoanalisis Sosial, dan Kebutuhan neurotic (kecenderungan neurotik)