cover
Contact Name
Prima Daniyati Kusuma
Contact Email
jkn@stikes-notokusumo.ac.id
Phone
+6285701512299
Journal Mail Official
jkn@stikes-notokusumo.ac.id
Editorial Address
Jl. Bener No. 26 Tegalrejo, Yogyakarta 55243
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Notokusumo
ISSN : 23384514     EISSN : 28081781     DOI : 10.53423
Jurnal Keperawatan diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Notokusumo. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun yaitu periode Juni - Desember. Jurnal ini memuat hasil-hasil penelitian dan kajian dalam bidang ilmu keperawatan.
Articles 112 Documents
PENERAPAN SENAM KAKI UNTUK MENGATASI PENURUNAN PERFUSI PERIFER PADA PASIEN DIABETES MELLITUS: STUDI KASUS : THE APPLICATION OF FOOT EXERCISES TO OVERCOME DECREASED PERIPHERAL PERFUSION OF DIABETES MELLITUS PATIENTS: A CASE STUDY Henny Pramidyastuti, Chatarina; Theresia, Siwi Ikaristi Maria
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 12 No. 1 (2024): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencegahan komplikasi pada penderita diabetes militus dapat dilakukan dengan mengubah perilaku kesehatan melalui penanganan farmakologi dan non farmakologi. Latihan senam kaki merupakan upaya awal dalam mencegah, mengontrol, dan mengatasi diabetes karena senam kaki dapat meningkatkan aliran darah dan memperlancar sirkulasi darah. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan) senam kaki terhadap peningkatan sirkulasi perifer pada pasien Diabetes Melitus tipe II di Ruang Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta. Subyek yang digunakan adalah dua orang pasien yang dilakukan intervensi senam kaki dengan frekuensi 1 kali sehari dengan durasi 10 - 15 menit selama 3 hari berturut-turut untuk setiap pasien. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat peningkatan sirkulasi darahh memalui pemeriksaan CRT dari 3 detik menjadi 2 detik dan SpO2 yang stabil. Selain itu terdapat peningkatan sensitivitas tajam tumpul dari score 5 menjadi 8 pada kedua kaki serta sensitivitas panas dingin yang konsisten tidak mengalami penurunan. Oleh karena itu perawat hendaknya melakukan edukasi dan memberikan intervensi senam kaki pada pasien yang opname untuk mengatasi masalah keperawatan perfusi perifer tidak efektif yang dapat mengakibatkan komplikasi neuropati perifer yang dapat berdampak terjadinya ulkus diabetikus.   Prevention of complications in patients with diabetes militus can be done by changing health behavior through pharmacological and non-pharmacological treatments. Foot exercises are an early effort in preventing, controlling, and overcoming diabetes because foot exercises can increase blood flow and improve blood circulation. This case study aims to determine the effect of the application of foot exercises on improving peripheral circulation in type II Diabetes Mellitus patients in the Inpatient Room of Panti Rini Hospital Yogyakarta. The subjects used were two patients who were intervened with foot exercises with a frequency of 1 time a day with a duration of 10 - 15 minutes for 3 consecutive days for each patient. The results of the study showed that there was an improvement in blood circulation through CRT examination from 3 seconds to 2 seconds and stable SpO2. In addition, there was an increase in blunt sharp sensitivity from a score of 5 to 8 on both feet and a consistent cold heat sensitivity that did not decrease. Therefore, nurses should educate and provide foot exercise interventions for patients who are hospitalized to overcome nursing problems of ineffective peripheral perfusion which can lead to complications of peripheral neuropathy which can have an impact on diabetic ulcers.
EFEKTIVITAS KOMBINASI PIJAT ENDHORPHIN DAN TERAPI MUROTTAL TERHADAP NYERI DISMENOREA PADA REMAJA : EFFECTIVENESS OF COMBINED ENDORPHIN MASSAGE AND MUROTTAL THERAPY ON DYSMENORRHEA PAIN IN ADOLESCENTS Nurhayati, Pipin; Pipit Tridayanti Matdoan; Yeni Isnaeni
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 12 No. 2 (2024): Desember
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dismenorea merupakan masalah yang sering dirasakan oleh wanita terutama remaja saat menstruasi yaitu sekitar 73,83%. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) jumlah remaja yang mengalami dismenore pada usia produktif berjumlah 52%. Dampak yang diakibatkan oleh nyeri dismenorhea salah satunya yaitu menimbulkan penurunan dalam beraktivitas bahkan ada yang tidak bisa mengikuti kegiatan dalam pembelajaran. Terapi dilakukan untuk mengatasi nyeri dismenorhea yaitu dengan terapi farmakologi dan non farmakologi, salah satu terapi non farmakologi yaitu kombinasi pijat endhorphin dan terapi murottal. Rancangan penelitian yang digunakan adalah pre eksperimen dengan one group pretest and posttest design dan tidak memiliki kelompok pembanding (kontrol). Penelitian dilaksanakan di Universitas PGRI Yogyakarta. Populasi penelitian ini adalah mahasiswi informatika semester 7 di Universitas PGRI Yogyakarta(Angkatan 2019-2023) dengan jumlah populasi sebanyak 110 mahasiswa. Jumlah sampel berjumlah 20 responden dengan teknik sampling insidental / Accidental Sampling. Instrumen penelitian menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Metode analisa data menggunakan uji wilcoxon. Hasil uji Wilcoxon menunjukan bahwa terdapat penurunan yang signifikan pada nyeri dismenorea sebelum dan setelah diberikan intervensi kombinasi pijat endorphin da terapi murottal, dengan nilai P-Value sebesar 0,000 berarti kombinasi pijat endorphin dan terapi murottal efektif sebagai intervensi keperawatan terhadap nyeri dismenorea.
EFEKTIFITAS TERAPI MENDONGENG TERHADAP KECEMASAN PADA ANAK USIA PRASEKOLAH YANG MENJALANI HOSPITALISASI: EFFECTIVENESS OF STORYTELLING THERAPY ON ANXIETY IN PRESCHOOL AGE CHILDREN UNDERGOING HOSPITALIZATION Eka Oktavianto; Finky Yunita Pratiwi; Endar Timiyatun
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 12 No. 2 (2024): Desember
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kecemasan banyak dialami oleh anak usia prasekolah yang menjalani hospitalisasi. Kecemasan yang terjadi pada anak usia prasekolah yang menjalani hospitalisasi membuat anak menjadi tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan serta menimbulkan gangguan psikologis. Perlu dilakukan tindakan untuk mengatasi dan mengurangi kecemasan pada anak salah satunya secara non-farmakologis dengan menggunakan terapi mendongeng. Tujuan: Mengetahui efektifitas terapi mendongeng terhadap kecemasan pada anak usia prasekolah yang menjalani hospitalisasi di RS Nur Hidayah Yogyakarta. Metode: Jenis penelitian ini adalah praeksperimental dengan menggunakan rancangan one-group pre-posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak usia prasekolah 3-6 tahun yang menjalani hospitalisasi di ruang perawatan anak. Peneliti menggunakan accidental sampling. Jumlah sampel yang digunakan adalah 16 sampel. Intervensi yang diberikan adalah terapi mendongeng dengan menunjukan video youtube kisah Nussa dan Rara episode “Rara sakit”. Terapi ini diberikan sebanyak satu kali dengan durasi video selama 4 menit 40 detik pada saat anak tidak rewel atau tidak kesakitan. Sebelum dan sesudah pemberian intervensi dilakukan pre dan postest. Instrumen yag digunakan adalah kuesioner kecemasan yakni Deppression Anxiety Stress Scale (DASS 42). Hasil: Rata-rata skor kecemasan pada anak usia prasekolah yang menjalani hospitalisasi sebelum diberikan terapi mendongeng adalah 16,37. Setelah diberikan terapi mendongeng berubah menjadi 12,31. Terjadi penurunan skor kecemasan sebesar 4.06. Hasil uji Wilcoxon didapatkan nilai p = 0,001 (nilai p<0,05). Kesimpulan: Terapi mendongeng efektif menurunkan kecemasan pada anak usia prasekolah yang menjalani hospitalisasi di RS Nur Hidayah Yogyakarta.
HUBUNGAN PERILAKU BULLY DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA REMAJA DI SMP MUHAMMADIYAH 2 GAMPING KABUPATEN SLEMAN: THE RELATIONSHIP BETWEEN BULLYING BEHAVIOR AND DEPRESSION LEVEL IN TEENAGERS AT JUNIOR HIGH SCHOOL MUHAMMADIYAH 2 GAMPING, SLEMAN Natasya B. Saud; Deasti Nurmaguphita; Sutejo
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 12 No. 2 (2024): Desember
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Perilaku bully adalah tindakan menyakiti, membuat trauma dan melemahkan individu atau kelompok orang yang dianggap lemah fisik atau mental dalam mempertahankan kekuasaannya. Depresi merupakan hal yang biasa terjadi pada remaja namun sering kali diabaikan. Hal ini dikarenakan remaja dianggap memiliki sensitivitas perasaan yang berlebihan, mood yang berubah-ubah dan timbulnya gejala depresi bersifat fluktuatif. Tujuan:Mengetahui gambaran hubungan antara perilaku bully dengan tingkat depresi pada remaja di SMP Muhammadiyah 2 Gamping Kabupaten Sleman. Metode:Penelitian ini menggunakan desain pendekatan Cross Sectional terhadap 74 siswa-siswi di SMP Muhammadiyah 2 Gamping Kabupaten Sleman dari kelas VII, VIII dan IX menggunakan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data yang digunakan terdiri dari analisis univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan diantara dua variabel yang diteliti dengan menggunakan Spearman Rank. Hasil: Kategori terbanyak yakni kategori ringan dengan jumlah 65 responden (87.8%), selanjutnya kategori sedang yaitu sebanyak 9 responden (12.2%), kemudian kategori paling rendah adalah kategori berat dan kategori sangat berat dengan jumlah 0% atau 0 responden. Nilai p-value 0.011 (>0,05), Keeratan hubungan adalah cukup (? = 0,294) dengan arah hubungan positif atau searah. Simpulan dan Saran: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku bully dengan tingkat depresi pada remaja di SMP Muhammadiyah 2 Gamping Kabupaten Sleman, dijadikan bahan referensi bagi mahasiswa dan juga dosen keperawatan.
PENERAPAN TERAPI “AIUEO” TERHADAP KEMAMPUAN BERBICARA PASIEN AFASIA STROKE NON HEMORAGIK : STUDI KASUS : THE APPLICATION OF “AIUEO” THERAPY TO THE SPEAKING ABILITY OF NON-HEMORRHAGIC STROKE APHASIA PATIENTS: A CASE STUDY Oktavia Fista Aditya; Siwi Ikaristi Maria Theresia
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 12 No. 2 (2024): Desember
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stroke adalah kondisi di mana aliran darah ke otak terganggu karena pembuluh darah tersumbat atau pecah, yang mengakibatkan kerusakan pada sel-sel di area tertentu otak. Jika stroke mengenai bagian kiri otak dan merusak pusat bicara, itu dapat mengakibatkan gangguan berbicara atau afasia pada pasien. Terapi AIUEO dapat membantu pasien mengatasi kesulitan komunikasi verbal. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan terapi AIUEO kemampuan berbicara pada pasien Stroke Non Hemoragi  yang mengalami afasia selama fase rehabilitasi di RS Panti Waluya Malang. Subyek yang digunakan adalah dua orang pasien yang diberi terpai AIUEO selama 4 hari berturut-turut pada pagi dan sore hari selama 15 menit. Hasilnya menunjukkan bahwa terapi AIUEO efektif dalam meningkatkan kemampuan mengucapkan vokal AIUEO secara lebih jelas dan meningkatnya jumlah skor FAST. Oleh karena itu perawat hendaknya memberikan edukasi dan melatih pasien secara konsisten ketika pasien pulang dari rumah sakit bersama keluarga.
PENERAPAN TERAPI MUROTAL AL-QUR’AN UNTUK MENURUNKAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN DIABETES MELLITUS: APPLICATION OF MUROTAL AL-QUR'AN THERAPY TO REDUCE ANXIETY LEVELS IN PATIENTS DIABETES MELLITUS Ilham Setyo Pangestu; Ida Nur Imamah
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 12 No. 2 (2024): Desember
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit yang ditandai oleh meningkatnya kadar gula darah yang lebih tinggi dari batas normal yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, sehingga memerlukan penanganan yang tepat dan serius. Penyakit DM membutuhkan intervensi terapi seumur hidup dan juga bisa menimbulkan komplikasi hingga kematian. Kondisi ini seringkali membuat para penderita mengalami kecemasan. Berdasarkan laporan yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Surakarta jumlah prevalensi DM di Kota Surakarta tahun 2023 berjumlah 17.191. Tujuan : Mengetahui hasil perbedaan dari penerapan terapi murotal al-qur’an pada tingkat kecemasan pasien Diabetes Mellitus. Metode : Penerapan ini dengan studi kasus pada 2 responden yang mengalami kecemasan akibat menderita Diabetes Mellitus. Penerapan ini menggunakan desain deskriptif dilakukan 1 kali sehari selama 3 hari berturut-turut dalam waktu 15 menit. Alat ukur yang digunakan adalah kuisioner HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale) Hasil : Adanya penurunan tingkat kecemasan setelah pemberian terapi murotal al- qur’an pada Ny. S dari tingkat kecemasan berat menjadi tingkat kecemasan sedang dan pada Tn.S dari tingkat kecemasan sedang menjadi tingkat kecemasan ringan. Kesimpulan : Penerapan ini menunjukkan bahwa setelah diberikan terapi murotal al-qur’an terjadi penurunan tingkat kecemasan pada kedua responden.  
DUKUNGAN KELUARGA BERHUBUNGAN DENGAN HARGA DIRI REMAJA TUNA DAKSA DI SLB NEGERI 1 BANTUL YOGYAKARTA: FAMILY SUPPORT IS RELATED TO SELF-ESTEEM OF ADOLESCENTS WITH IMPAIRMENT IN SLB NEGERI 1 BANTUL YOGYAKARTA Putri Rifai, Nadila; Hutasoit, Masta
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Remaja dengan tuna daksa, memiliki keterbatasan saat melakukan berbagai aktivitas sehari hari. Keterbatasan ini dapat menyebabkan remaja tuna daksa merasa dirinya ada yang kurang, atau merasa dirinya berbeda dengan remaja lainnya yang normal, sehingga mereka bisa mengalami stres ataupun putus asa. Peran dan dukungan keluarga sangat penting dalam membentuk kepribadian, kebiasaan bahkan identitas dari seorang remaja tuna daksa. Tujuan: untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap harga diri remaja tuna daksa di SLB Negeri 1 Bantul Yogyakarta. Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Popuasi pada penelitian ini adalah remaja dengan tunadaksa berjumlah 37 responden yang bersekolah di SLB Negeri 1 Bantul Yogyakarta berusia 12-22 tahun. Sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner dukungan keluarga dan kuesioner harga diri dengan menggunakan Rosenberg Self-Esteem Scale. Analisis data dengan menggunakan contingency coefficient. Hasil: Remaja tuna daksa yang mendapatkan dukungan keluarga cukup mendapatkan nilai harga diri yang cukup sebesar 48,6%. Remaja tuna daksa yang memiliki dukungan keluarga rendah mendapatkan nilai harga diri yang rendah sebanyak 40,5%. Remaja tuna daksa yang memiliki harga diri tinggi juga mendapat dukungan dari keluarga yang tinggi sebesar 10,8%. Hasil dari uji contingency coefficient diperoleh p-value=<0,0001 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan harga diri remaja tuna daksa dan diperoleh nilai r=0,818 yang menunjukkan koefisien korelasi antara kedua variabel memiliki pola hubungan yang kuat dengan arah hubungan yang positif. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara dukungan keluarga terhadap harga diri remaja tuna daksa di SLB Negeri 1 Yogyakarta.
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KONTROL GLIKEMIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI KLINIK ENDOKRIN RUMAH SAKIT PANTI RAPIH YOGYAKARTA: THE RELATIONSHIP BETWEEN PHYSICAL ACTIVITY AND GLYCEMIC CONTROL AMONG DIABETES MELLITUS PATIENTS AT THE ENDOCRINE CLINIC OF PANTI RAPIH HOSPITAL, YOGYAKARTA Indah Lestari, Hanny; Ikaristi Maria Theresia, Siwi; Eka Noviati, Bernadetta
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes adalah penyakit yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa dalam tubuh (hiperglikemia) yang disebabkan oleh terganggunya sistem sekresi insulin dan aktivitas fisik yang kurang. Aktivitas fisik yang menjadi salah satu manajemen yang disarankan pada pasien Diabetes Melitus. Aktivitas fisik yang mengacu pada semua gerakan yang teratur terbukti dapat membantu mencegah dan menangani penyakit tidak menular seperti Diabetes Melitus. Tujuan dari pelayanan Diabetes Melitus di Rumah Sakit tidak hanya pengobatan, namun juga pemeriksaan HbA1c yang merupakan pemeriksaan tunggal terbaik untuk menilai resiko terhadap kerusakan jaringan yang disebabkan oleh tingginya kadar gula darah. Tujuan Penelitian: Menganalisis hubungan aktivitas fisik dengan kadar HbA1c pasien diabetes melitus di Klinik endokrin Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Metode penelitian: desain penelitian ini adalah kuantitatif non eksperimental, menggunakan pendekatan crosssectional. Sampel penelitian ini adalah  113 responden yang menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan adalah  International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) dan studi dokumentasi kadar HbA1c  yang diambil melalui rekam medik pasien. Berdasarkan Hasil penelitian hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dan kadar HbA1c pada pasien diabetes melitus dengan  nilai p 0.082 (>0.05). Perawat seharusnya secara rutin memberikan edukasi tentang aktivitas fisik untuk menjaga kadar gula darah tetap di batas yang normal dan tetap skala berkala melakukan pengecekan kadar HbA1c untuk menilai terkait dengan pola makan pada pasien dengan diabetes melitus.   Background: Diabetes is a disease characterized by elevated blood glucose levels (hyperglycemia) caused by impaired insulin secretion and lack of physical activity. Physical activity is one of the recommended management strategies for patients with Diabetes Mellitus. Regular physical activity, which involves any consistent movement, has been proven to help prevent and manage non-communicable diseases such as Diabetes Mellitus. The goal of Diabetes Mellitus care in hospitals is not only treatment but also the monitoring of HbA1c levels, which is considered the best single test to assess the risk of tissue damage caused by high blood glucose levels. Objective: To analyze the relationship between physical activity and HbA1c levels in Diabetes Mellitus patients at the endocrine clinic of Panti Rapih Hospital, Yogyakarta. Method: This study used a quantitative, non-experimental design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 113 respondents selected through accidental sampling. The instruments used were the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) and documentation study of HbA1c levels obtained from patients’ medical records. Based on the results, the study showed no significant relationship between physical activity and HbA1c levels in patients with Diabetes Mellitus, with a p-value of 0.082 (>0.05). Suggestion:  Nurses should provide education on physical activity to help maintain blood glucose levels within the normal range and regularly monitor HbA1c levels to assess dietary patterns in patients with Diabetes Mellitus.
LITERATUR REVIEW : HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA KLIEN DI IGD: LITERATUR REVIEW : THE RELATIONSHIP BETWEEN THERAPEUTIC COMMUNICATION AND ANXIETY LEVELS IN CLIENTS IN THE EMERGENCY Indah Prawesti; Amelia Rezki Handayani; Dwi Afrita Sari; I Komang Agung Tri Ardana; Monica Maria Puimano Ikili; Prichilia Ayu Damayanti
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Kecemasan adalah respons alami terhadap situasi yang menegangkan, seperti saat anggota keluarga atau pasien dirawat di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Komunikasi terapeutik perawat memiliki peran penting dalam mengurangi tingkat kecemasan ini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan komunikasi terapeutik dan respons time perawat terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien di IGD. Metode: Penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross-sectional, yang mencakup keluarga pasien yang mengalami kecelakaan, serta pasien pra-operatif di beberapa rumah sakit. Instrumen yang digunakan mencakup observasi terhadap respons time, kuesioner komunikasi terapeutik, dan skala kecemasan Zung-Self Rating Anxiety Scale (SAS). Hasil: Hasil menunjukkan data sebanyak 76,7% perawat melaksanakan komunikasi terapeutik dengan baik. Sebagian besar keluarga pasien (60%) mengalami kecemasan dalam kategori sedang. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara respons time, komunikasi terapeutik, dan tingkat kecemasan keluarga (p < 0,05). Kesimpulan: Komunikasi terapeutik yang baik serta respons time yang cepat oleh perawat memiliki pengaruh besar dalam mengurangi kecemasan keluarga pasien. Oleh karena itu, penting untuk mengimplementasikan praktik komunikasi terapeutik yang efektif dalam menangani kecemasan keluarga dalam situasi kritis. Background: Anxiety is a natural response to stressful situations, such as when family members or patients are treated in the Emergency Room (ER). Nurses' therapeutic communication plays a crucial role in alleviating this anxiety. Objective: This study aims to analyze the relationship between therapeutic communication and nurses' response time with the anxiety levels of patients' families in the ER. Methods: The research employed a correlational design with a cross-sectional approach, including families of accident victims and preoperative patients across several hospitals. Data collection instruments included observation sheets for response time, therapeutic communication questionnaires, and the Zung-Self Rating Anxiety Scale (SAS). Results: The findings indicated that 76.7% of nurses exhibited good therapeutic communication. Most families (60%) experienced moderate levels of anxiety. Statistical tests revealed a significant relationship between response time, therapeutic communication, and family anxiety levels (p < 0.05). Conclusion: Effective therapeutic communication and rapid response times by nurses significantly reduce the anxiety levels of patients' families. Hence, implementing effective therapeutic communication practices is essential for managing family anxiety in critical situations.
PENGARUH TERAPI BERMAIN PUZZLE TERHADAP KECEMASAN HOSPITALISASI PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH DI RSUD SLEMAN : THE EFFECT OF PUZZLE PLAY THERAPY ON HOSPITALISATION ANXIETY IN PRESCHOOL CHILDREN AT RSUD SLEMAN Agnes Erida Wijayanti; Yongki Umbu Sebu Kuala; Murgi Handari; Retna Ambarwati
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Anak usia pra sekolah adalah anak yang berusia 3-6 tahun, usia ini memandang hospitalisasi atau melihat Rumah Sakit merupakan suatu tempat yang menakutkan, sehingga anak mengalami kecemasan jika berada di Rumah Sakit. Apabila anak mengalami kecemasan tinggi saat dirawat di Rumah Sakit, maka besar sekali kemungkinan anak akan mengalami disfungsi perkembangan. Terapi bermain adalah suatu metode psikoterapi untuk membantu anak usia 3-12 tahun mengekspresikan pikiran, perasaan atau emosi mereka dengan lebih baik lewat beragam permainan. Tujuan penelitian : Mengetahui pengaruh terapi bermain Puzzle terhadap kecemasan Hospitalisasi anak pra sekolah di RSUD Sleman. Metode Penelitian : Menggunakan metode pra-eksperimental dengan rancangan one-group pra-post test design. Pengambilan data menggunakan teknik purposive sampling Hasil penelitian: Hasil dari Wilcoxon test dari 30 responden terdapat pengaruh terapi bermain Puzzle Terhadap Kecemasan Hospitalisasi Pada Anak Usia Pra Sekolah sebelum dan sesudah diberikan Intervensi Permainan Puzzle dengan p value = 0,000<0,05 disimpulkan adanya pengaruh yang cukup signifikan pada pemberian terapi permainan puzzle terhadap kecemasan anak akibat hospitalisasi pada anak usia prasekolah di Rumah Sakit Umum Daerah Sleman. Kesimpulan: Terdapat pengaruh terapi bermain puzzle terhadap kecemasan hospitalisasi pada anak usia prasekolah.   Background: Pre-school-age children are children aged 3-6 years, this age perceives hospitalization or sees the hospital as a scary place, so children experience anxiety if they are in the hospital. If children experience high anxiety when hospitalized, they will likely experience developmental dysfunction. Play therapy is a psychotherapeutic method to help children aged 3-12 years express their thoughts, feelings, or emotions better through various games. Objective: To determine the effect of Puzzle play therapy on hospitalization anxiety of preschool children at Sleman Hospital. Research Methods: Using a pre-experimental method with a one-group pre-post test design. Data collection using a purposive sampling technique. Research results: The results of the Wilcoxon test of 30 respondents showed the effect of Puzzle play therapy on Hospitalisation Anxiety in preschool Age Children before and after being given Puzzle Game Intervention with P Value = 0.000 <0.05, it was concluded that there was a significant effect on the provision of puzzle game therapy on children's anxiety due to hospitalization in preschool age children at Sleman Regional General Hospital. Conclusion: There is an effect of puzzle play therapy on hospitalization anxiety in preschool children.

Page 11 of 12 | Total Record : 112