cover
Contact Name
Prima Daniyati Kusuma
Contact Email
jkn@stikes-notokusumo.ac.id
Phone
+6285701512299
Journal Mail Official
jkn@stikes-notokusumo.ac.id
Editorial Address
Jl. Bener No. 26 Tegalrejo, Yogyakarta 55243
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Notokusumo
ISSN : 23384514     EISSN : 28081781     DOI : 10.53423
Jurnal Keperawatan diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Notokusumo. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun yaitu periode Juni - Desember. Jurnal ini memuat hasil-hasil penelitian dan kajian dalam bidang ilmu keperawatan.
Articles 114 Documents
STUDI KASUS INTERVENSI PENERAPAN LATIHAN KOMUNIKASI ASERTIF UNTUK MENGONTROL MARAH PADA PASIEN RISIKO PERILAKU KEKERASAN: CASE STUDIES OF INTERVENTION APPLICATION OF ASSERTIVE COMMUNICATION EXERCISE TO CONTROL ANGER IN PATIENTS RISK VIOLENT BEHAVIOR Nur Afifatun Ainy; Ririn Isma Sundari; Sri Imaniyati
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 11 No. 1 (2023): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perilaku kekerasan adalah penyakit jiwa psikotik yang ditandai dengan kemarahan atau emosi dan diekspresikan melalui tindakan fisik yang mengancam dan berbahaya. Individu dengan perilaku kekerasan akan mengalami perubahan dari respon kognitif menjadi respon afektif yang dimunculkan dengan emosional berupa rasa marah, sedih, gembira, bahkan tindakan motorik berbahaya. Strategi pelaksanaan yang dibutuhkan pada pasien perilaku kekerasan adalah pendekatan yang berfokus pada hubungan sosial yaitu melalui latihan verbal komunikasi asertif. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui hasil dari penerapan latihan komunikasi asertif guna mengontrol marah pada pasien risiko perilaku kekerasan. Desain penelitian yang digunakan berupa penelitian kualitatif studi kasus pada satu subjek yaitu Nn S dengan risiko perilaku kekerasan. Intervensi dilakukan selama 4 hari menggunakan proses asuhan keperawatan. Hasil studi kasus setelah dilakukan strategi pelaksanaan 1-4 risiko perilaku kekerasan didapatkan hasil cara yang paling efektif dalam mengontrol marah pada Nn S yaitu dengan latihan komunikasi asertif. Respon subjektif menunjukkan Nn S merasa lega bisa mengungkapkan rasa marah dan respon objektif diperoleh Nn S mampu mengungkapkan keinginan dan sesuatu yang tidak disukai dengan cara yang baik, pasien dapat mengontrol marah serta perilaku agresif berkurang. Latihan komunikasi asertif ini sangat efektif diterapkan pada pasien perilaku kekerasan untuk mengontrol marah serta disarankan untuk pasien dalam masa pengobatan ataupun pemulihan.  
GUIDED IMAGERY UNTUK MENGATASI NYERI KRONIS: GUIDED IMAGERY FOR CHRONIC PAIN Ika Mustika Dewi; isti warsini; Sugeng Juwono Mardihusodo
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 11 No. 1 (2023): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Nyeri merupakan masalah keperawatan yang seringkali merupakan alasan utama seseorang melakukan perawatan, salah satunya dialami oleh hampir seluruh pasien dengan massa paru. Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi nyeri tersebut, terutama nyeri kronis yang sifatnya cenderung lebih lama. Salah satu Upaya intervensi yang dilakukan adalah dengan terapi guided imagery. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah perbedaan kualitas nyeri pada pasien massa paru sebelum dan sesudah pemberian terapi guided imagery. Metode: Penelitian ini menggunakan desain Quasy Experiment dengan menggunakan rancangan one group pretest-posttest. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Purposive sampling, dengan jumah 29 responden pasien suspek massa paru di Rumah Sakit Paru Respira. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi tingkat nyeri dengan menggunakan skala Numeric Rating Scale (NRS). Data dianalisis dengan menggunakan uji Wilcoxon matched-paired signed test. Hasil: Mayoritas tingkat nyeri sebelum diberikan terapi guided imagery adalah “nyeri sedang” sebanyak sebanyak 17 orang (53,3%). Sedangkan mayoritas tingkat nyeri sesudah diberikan terapi guided imagery adalah “nyeri ringan” sebanyak sebanyak 25 orang (78,2%). Kesimpulan: Ada pengaruh terapi guided imagery terhadap tingat nyeri pasien kronis di RS Respira Yogyakarta dengan nilai p value = 0,000
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN KOMUNIKASI VERBAL DENGAN STROKE NON HEMORAGIK DI RUANG ARRAHMAN RUMAH SAKIT ISLAM PURWOKERTO: NURSING CARE OF VERBAL COMMUNICATION DISORDERS WITH NON-HEMORRHAGIC STROKE IN THE ARRAHMAN ROOM PURWOKERTO ISLAMIC HOSPITAL Haryanti, Dianita; Sukmaningtyas, Willis; Sebayang, Septian Mixrova; Susanto, Amin
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 11 No. 2 (2023): Desember
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi penyakit stroke di Indonesia berdasarkan hasil riskesdas 2018 meningkat dibandingkan tahun 2013. Prevalensi stroke meningkat dari 7% menjadi 10,9%. Secara nasional, prevalensi stroke di indonesia tahun 2018 berdasarkan diagnosis dokter pada umur ?15 tahun sebesar 10,9% atau diperkirakan sebanyak 2.120.362 orang. Karya tulis ilmiah ini menggunakan rancangan studi kasus deskriptif yang menggambarkan asuhan keperawatan gangguan komunikasi verbal pada Tn. S dengan stroke non hemoragik di ruang arrahman Rumah Sakit Islam Purwokerto. Hasil penelitian adalah prioritas masalah keperawatan diagnosa keperawatan pada Tn.S yaitu diagnosis keperawatan yang muncul adalah gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan neuromuskuler. Setelah merencanakan tindakan keperawatan, penulis melaksanakan tindakan keperawatan selama 3 hari sesuai dengan rencana keperawatan yang telah dibuat. Setelah melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana tindakan kemudian penulis melaksanakan evaluasi tindakan keperawatan. Evaluasi tersebut berfungsi untuk menilai tingkat keberhasilan dan intervensi yang telah dilakukan. Hasil evaluasi dapat menyatakan bahwa masalah yang muncul teratasi sebagian. Diharapkan ilmu dan pengalaman dalam memberikan asuhan keperawatan dapat dijadikan sebagai acuan oleh penulis agar kedepannya lebih baik terutama pada pasien gangguan komunikasi verbal.
HUBUNGAN EMOTIONAL MATURITY DENGAN KEJADIAN SELF-HARM PADA REMAJA PUTRI DI SMP YOGYAKARTA: THE CORRELATION OF EMOTIONAL MATURITY AND SELF-HARM IN FEMALE ADOLESCENT AT SMP YOGYAKARTA Hidayati, Rizqi Wahyu; Nadia Indah Putri , Agustina
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 11 No. 2 (2023): Desember
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Emotional maturity ialah keadaan individu yang tidak meledak emosinya, dampak emotional maturity yang labil adalah koping negatif seperti self-harm hingga bunuh diri. Temuan kasus di Indonesia mengungkapkan terdapat 50% remaja dari 215 pernah melukai diri sendiri dengan prevalensi perempuan sebanyak 80%. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan emotional maturity dengan kejadian self-harm pada remaja putri di SMP Yogyakarta. Metode yang digunakan kuantitatif dengan desain analtik korelasi melalui pendekatan cross sectional. Sampel jenuh sebesar 61 reponden dengan kriteria inklusi yaitu memiliki masalah dalam hubungan sosial dan trauma masalalu. Ekslusi yaitu remaja dengan gangguan mental. Hasil penelitian menunjukkan 50,8% berusia 13 tahun, 83,6% tinggal dengan orang tua, 36.1% korban bullying, 80.3% tingkat emotional maturity, dan 41% cenderung self-harm. Selain itu, hasil uji chi square p = 0.081. oleh karena itu, tidak terdapat hubungan antara emotional maturity dengan kejadian self-harm pada remaja putri di SMP Yogyakarta. Peneliti menyarankan untuk menambah jumlah sampel pada penelitian berikutnya.   Emotional maturity is the state of individuals who do not explode their emotions, the impact of unstable emotional maturity is negative coping such as self-harm to suicide. Case findings in Indonesia reveal that 50% of adolescents out of 215 have self-harmed with a female prevalence of 80%. This study aims to determine the correlation between emotional maturity and the incidence of self-harm in female adolescent in Yogyakarta. The method used was quantitative with a correlation analytic design through a cross sectional approach. Saturated sample of 61 respondents with inclusion criteria, namely having problems in social relationships and past trauma. Exclusion was female-adolescents with mental disorders. The results showed 50.8% was 13 years old, 83.6% lived with parents, 36.1% was victims of bullying, 80.3% had a high level of emotional maturity, and 41% tended to self-harm. In addition, the results of the chi square test p = 0.081. Therefore, there was no relationship between emotional maturity and the incidence of self-harm in female-adolescent in Yogyakarta. The researcher suggested to increase the number of samples in the next study.
DETERMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS KARANG ANYAR, LAMPUNG SELATAN: DETERMINANTS RELATED TO THE INCIDENT OF PULMONARY TUBERCULOSIS, KARANG ANYAR HEALTH CENTER, SOUTH LAMPUNG Bambang Murwanto; Muslim, Zaenal; Usman, Sarip; Br. Karo, Dameria
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 11 No. 2 (2023): Desember
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit tuberkolusis khususnya Tuberkulosis Paru masih menjadi masalah di Indonesia pada umumnya khususnya di wilayah kerja Puskesmas Karang Anyar, Lampung Selatan. Saat ini Indonesia menempati urutan kedua di dunia setelah India, dengan prevalensi 354/100.000 penduduk.  Beberapa faktor risiko terjadinya kedian Tuberkulosis Paru yang terbesar yaitu faktor lingkungan dan perilaku. Faktor lingkungan terutama lingkungan rumah dan perilaku adalah sikap dan perilaku terhadap penyakit Tuberkulosis Paru Tujuan penelitian ini untuk mengertahui determinan faktor-faktor yang beresiko terhadap kejadian Tuberkulosis Paru, di wilayah kerja Puskesmas Karang Anyar, Lampung Selatan, yaitu faktor-faktor lingkungan rumah dan perilaku adalah sikap dan perilaku. Metode penelitian ini adalah analitik, dengan rancangan kasus-kontrol (case control)  Penelitian ini untuk mengetahui hubungan Faktor-faktor Lingkungan dan Faktor-faktor Perilaku. Faktor-faktor Lingkungan terdiri dari variable-variabel Suhu, Pencahayaan, Kelembaban, Ventilasi, Kepadatan Hunian, Jenis Lantai, Sosial Ekonomi dan Faktor-faktor Perilaku terdiri dari variable-variabel, Pengatahuan tentang  Tuberkulosis Paru, Sikap terhadap Tuberkulosis Paru, Perilaku terhadap Penyakit Tuberkulosis Paru. Sedangkan sebagai variabel terikat adalah penderita dan bukan penderita Tuberkulosis Paru. Hasil penelitian ini adalah faktor-faktor risiko tersebut adalah lingkungan rumah meliputi pendapatan, pencahayaan, kelembaban, ventilasi, kepadatan hunian, lantai, dan sikap, perilaku terhadap penyakit Tuberkulosis Paru. Risiko faktor kelembaban adalah faktor yang paling dominan (kuat).   Tuberculosis, especially pulmonary tuberculosis, is still a problem in Indonesia in generaly, especially in the working area of ??the Karang Anyar Community Health Center, South Lampung. Currently Indonesia ranks second in the world after India, with a prevalence of 354/100,000 population. Some of the biggest risk factors for developing pulmonary tuberculosis are environmental and behavioral factors. Environmental factors, especially the home environment and behavior, are attitudes and behavior towards Pulmonary Tuberculosis. The aim of this research is to understand the determinants of risk factors for the incidence of Pulmonary Tuberculosis, in the working area of ??the Karang Anyar Community Health Center, South Lampung, namely home environmental and behavioral factors are attitudes and behavior. This research method is analytical, with a case-control design. This research is to determine the relationship between environmental factors and behavioral factors. Environmental factors consist of the variables Temperature, Lighting, Humidity, Ventilation, Occupancy Density, Floor Type, Socioeconomic and Behavioral Factors consist of the variables, Knowledge about Pulmonary Tuberculosis, Attitudes towards Pulmonary Tuberculosis, Behavior towards Tuberculosis Lungs. Meanwhile, the dependent variable is pulmonary tuberculosis sufferers and non-sufferers. The results of this research are that the risk factors are the home environment including income, lighting, humidity, ventilation, residential density, flooring, and attitudes and behavior towards pulmonary tuberculosis. The risk factor of humidity is the most dominant (strong) factor.
PENGARUH TERAPI MUROTTAL TERHADAP PENURUNAN KECEMASAN PADA PRIMIPARA: THE EFFECT OF MUROTTAL THERAPY ON REDUCING ANXIETY IN PRIMIPARA Endar Timiyatun; Eka Oktavianto; Sunny, Suniarti
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 11 No. 2 (2023): Desember
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanda-tanda kecemasan primipara sering diabaikan karena kurangnya kesadaran akan dampak di masa depan bagi ibu, suami, dan anggota keluarga lainnya yang akan menjadi beban psikologis bagi primipara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi murottal Al Quran terhadap penuruan kecemasan pada primipara. Penelitian ini merupakan penelitian pre eksperimental dengan pendekatan dalam suatu kelompok (one group pre-post test design without control).Analisis data yang digunakan adalah uji paired t test. Teknik pengambilan sampel menggunakan acidental sampling, dengan jumlah 16 responden. Pengukuran intensitas nyeri menggunakan kuisioner HARS. Sebelum pemberian terapi dilakukan pre-test lalu diberikan terapi murottal Al Quran selama 20menit, kemudian dilakukan post test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan kecemasan sebelum dan sesudah diberikan terapi murottal Al Quran. Nilai rata-rata sebelum pemberian terapi murottal Al Quran. Nilai rat-rata sebelum pemberian terapi murottal AL Quran 27,37  setelah pemberian terapi murottal Al Quran nilai rata-rata menjadi 8,87. Nilai p = 0,000 (nilai p<0,05) sehingga ada pengaruh pemberian terapi murottal Al Quran terhadap penuruna kecemasan pada ibu primipara. Kesimpulannya adalah ada pengaruh pemberian terapi murottal Al Quran terhadap kecemasan pada ibu primipara (nilai p<0,05) Signs of anxiety in primiparas are often ignored because awareness will have an impact on the future for mothers, husbands and other family members which will be a psychological burden for primiparas. This study aims to determine the effect of Al-Quran murottal therapy in reducing anxiety in primiparous mothers. This research is pre-experimental research with a group approach (one group pre-post test design without control). The data analysis used was the paired t test. The sampling technique used incidental sampling, with a total of 16 respondents. Pain intensity was measured using the HARS questionnaire. Before administering the therapy, a pre-test was carried out, then Al-Quran murottal therapy was given for 20 minutes, then a post-test was carried out. The results of the study showed that there was a decrease in anxiety before and after being given murottal Al-Quran therapy. Average value before giving Al Quran murottal therapy. The average value before being given Al Quran murottal therapy was 27.37. After being given Al Quran murottal therapy the average value was 8.87. The p value = 0.000 (p value <0.05) so there is an effect of providing Al-Quran murottal therapy on reducing anxiety in primiparous mothers. The conclusion is that there is an effect of providing Al-Quran murottal therapy on anxiety in primiparous mothers (p value<0.05)
EFEKTIFITAS TERAPI MUROTTAL SURAT AR-RAHMAN TERHADAP PENURUNAN NYERI DISMENOREA: EFFECTIVENESS OF SURAT AR-RAHMAN'S MUROTTAL THERAPY TO REDUCE DYSMENORHORE PAIN Eka Oktavianto; Timiyatun, Endar; Sunny, Suniarty; Zuyyina Lutfah, Fitria
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 11 No. 2 (2023): Desember
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Nyeri haid (dismenorea) banyak dialami oleh remja putri. Nyeri yang dirasakan sering menganggu aktivitas sehari-hari pada remaja tersebut. Perlu dilakukan tindakan untuk mengatasi dan mengurangi nyeri dismenorea salah satunya secara non-farmakologis dengan menggunakan terapi murottal. Tujuan: Mengetahui efektifitas pemberian terapi murottal surat Ar-Rahman terhadap penurunan skor nyeri dismenorea. Metode: Jenis penelitian ini adalah praeksperimental dengan menggunakan rancangan one-group pre-posttest design. Responden pada penelitian ini yaitu siswi yang usia 13-15 tahun di SMP BIAS Yogyakarta. Populasi dalam penelitian ini adalah siswi SMP BIAS Yogyakarta yang mengalami dismenorea. Jumlah populasi tidak diketahui.  Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 20 siswi yang sedang mengalami dismenorea hari pertama, kedua, atau ketiga dengan skor nyeri pada rentang 1-7. Nyeri berat dengan skor 8-10 tidak dijadikan sebagai responden. Teknik sampling yang digunakan yaitu accidental sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Agustus tahun 2023. Intervensi yang dilakukan adalah terapi murotal surat Ar-Rahman selama 15 menit. Sebelum dan sesudah pemberian intervensi dilakukan pre dan postest. Instrumen yag digunakan adalah Numeric Rating Scale. Hasil: Rata-rata skor nyeri dismenorea pada siswi SMP BIAS Yogyakarta sebelum diberikan terapi murottal adalah 4,35. Rata-rata skor nyeri dismenorea setelah diberikan terapi menurun menjadi sebesar 1.65. Terjadi penurunan skor nyeri sebesar 2.70 setelah diberikan terapi murottal. Hasil uji wicoxon didapatkan nilai p = 0.000 (nilai p < 0,005). Kesimpulan: Terapi murottal Surat Ar-Rahman efektif menurunkan skor nyeri dismenorea pada siswi SMP BIAS Yogyakarta.    
TINGKAT PENGETAHUAN MENGENAI KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA: LITERATURE REVIEW: LEVEL OF KNOWLEDGE REGARDING REPRODUCTIVE HEALTH ADOLESCENTS: LITERATURE REVIEW Sabarofek, Willem M.; Yesnath, Amandus R.; Gurning, Maylar; Manoppo, Inggerid A.
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 12 No. 1 (2024): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remaja merupakan masa dimulainya perkembangan organ-organ reproduksi, kurangnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dapat menimbulkan masalah dalam kesehata reprodusi, masalah yang akan timbul jika remaja tidak mengetahui pengetahuan yang cukup tentang kesehatan reproduksi yaitu penyakit menular seksual. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi. Metode pencarian database menggunakan NIH public Access, Google Scholar yang dibatasi dari tahun Januari 2019 sampai Januari 2024 selama 5 tahun dengan mereview 10 jurnal. Hasil yang ditemukan dalam literatur review ini diapatkan masih banyak sekali sekali pengetahuan remaja yang kurang tentang kesehatan reproduksi pada remaja laki laki dan remaja perempuan. Remaja memiliki pengetahuan yang cukup dan kurang tentang kesehatan reproduksi pada remaja.   Adolescence is the period when the development of reproductive organs begins. Lack of knowledge about reproductive health in adolescents can cause problems in reproductive health, problems that will arise if adolescents do not have sufficient knowledge about reproductive health, namely sexually transmitted diseases. The aim of the research is to determine the level of knowledge of adolescents about reproductive health. The database search method used NIH public Access, Google Scholar which was limited from January 2019 to January 2024 for 5 years by reviewing 10 journals. The results found in this literature review show that there is still a lot of adolescent knowledge that is lacking regarding reproductive health in male and female adolescents. Adolescents have insufficient and insufficient knowledge about reproductive health in adolescents.
STATUS ASI EKSKLUSIF DAN KEJADIAN BALITA STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS UMBULHARJO I: STUDI KORELASIONAL: EXCLUSIVE BREASTFEEDING STATUS AND THE INCIDENT OF STUNTING TODDLERS IN THE WORKING AREA OF UMBULHARJO I HEALTH CENTER: CORRELATIONAL STUDY Eka Oktavianto; Izzati, Shifani Nazah; Timiyatun, Endar; Sunny, Suniarti
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 12 No. 1 (2024): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Pada masa balita, masalah stunting dapat menjadi masalah fatal jika tidak diatasi dengan baik. Stunting adalah masalah kurang gizi yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan tinggi badan anak lebih pendek dari standar usianya. Tidak hanya sekedar permasalahan tinggi badan yang terhambat, stunting juga berdampak pada kecerdasan anak. Status ASI yang tidak eksklusif diduga menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kejadian stunting. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status ASI eksklusif dengan kejadian balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Umbulharjo I. Penelitian ini berjenis observasional, menggunakan rancangan case control. Penelitian ini dilakukan di ruang rekam medis Puskesmas Umbulharjo I. Pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu total sampling dengan jumlah 116 balita stunting sebagai kelompok kasus dan 116 balita tidak stunting sebagai kelompok kontrol. Instrumen penelitian ini menggunakan daftar tilik. Data balita didapatkan dari rekam medis. Uji statistik menggukan uji chi square. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan dari 116 balita stunting 39 balita (33,6%) mendapatkan ASI eksklusif dan 77 balita (66,4%) tidak mendapatkan ASI eksklusif. Dari 116 balita tidak stunting 106 balita (91,4%) mendapatkan ASI eksklusif dan 10 balita (8,6%) tidak mendapatkan ASI eksklusif. Balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif cenderung mengalami stunting yakni sejumlah 77 balita (66,4%) dan yang mendapatkan ASI eksklusif yakni sejumlah 106 balita (91,4%). Hasil uji chi square didapatkan nilai p= 0,000 (nilai <0,05). Kesimpulanya: ada hubungan antara status ASI eksklusif dengan kejadian balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Umbulharjo I.   Background: During toddlerhood, stunting can become a fatal problem if it is not addressed properly. Stunting is caused by a lack of nutritional intake for a long time, resulting in a child's height being shorter than the age standard. It's not just a problem of stunted height, stunting also has an impact on children's intelligence. Non-exclusive breastfeeding status is thought to be one of the factors that can influence the incidence of stunting. Objective: This study aims to determine the relationship between exclusive breastfeeding status and the incidence of stunting in toddlers. Method: Observational research with a case control design was used in this research. This research was conducted in the medical records room. The sampling in this study was total sampling with 116 stunted toddlers as the case group and 116 non-stunted toddlers as the control group. This research instrument used a checklist created by researchers to record stunting and breast milk status. Data on toddlers was obtained from medical records. Statistical tests used the chi square test. Results: The results of this study show that toddlers who do not receive exclusive breastfeeding tend to experience stunting, namely 77 toddlers (66.4%) and those who receive exclusive breastfeeding tend not to be stunted, namely 106 toddlers (91.4%). The results of the chi square test obtained a p value = 0.000 (value <0.05). Conclusion: there is a relationship between exclusive breastfeeding status and the incidence of stunting in toddlers. Health workers are expected to be more active in promoting exclusive breastfeeding to prevent stunting.
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN TENTANG BAHAYA SEKS BEBAS PADA REMAJA JALANAN DI YAYASAN RUMAH IMPIAN YOGYAKARTA: THE INFLUENCE OF HEALTH EDUCATION ON KNOWLEDGE ABOUT THE DANGER OF FREE SEX IN STREET TEENAGERS AT RUMAH IMPIAN FOUNDATION YOGYAKARTA Endar Timiyatun; Rahmiati, Mira; Oktavianto, Eka; Nurhayati, Pipin
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 12 No. 1 (2024): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remaja jalanan rentan berisiko terhadap berbagai permasalahan karena keterbatasan yang dimiliki. Salah satu permasalahannya ialah kesehatan reproduksi, rata-rata remaja jalanan sudah aktif secara seksual sejak dini, memiliki pasangan seksual lebih dari satu, menganggap kekerasan seksual dan seks komersial adalah hal yang biasa. Selain itu, rasa ingin tahu dan mencoba hal-hal baru terutama dikalangan remaja laki-laki yang diimbangi dengan rasa senang, membuktikan cinta dan kasih sayang kepada pasangannya tetapi dengan pengaruh media massa mereka melakukan hal yang mengarah kepada pornografi. Untuk mencegah dampak negatif dan memberikan dasar yang kuat bagi remaja dalam mengambil keputusan, maka perlu diberikan pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan tentang bahaya seks bebas kepada remaja sejak usia dini dengan media video animasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan tentang bahaya seks bebas pada remaja jalanan di Yayasan Rumah Impian Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan desain pre experimental (one group pre-posttest design) pada desain ini terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian. Teknik Analisa data menggunakan uji Wilcoxon. kriteria inklusi untuk responden yaitu: remaja yang berusia 14-16 tahun, remaja yang tinggal di jalanan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah kuesioner pengetahuan mengenai bahaya seks bebas. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai p= 0,000 (nilai p<0,05) yang artinya terdapat pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap pengetahuan tentang bahaya seks bebas. Kesimpulannya adalah ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan tentang bahaya seks bebas pada remaja jalanan di Yayasan Rumah Impian Yogyakarta.   Street teenagers are vulnerable to various problems because of their limitations. One of the problems is reproductive health. On average, street teenagers are sexually active from an early age, have more than one sexual partner, and consider sexual violence and commercial sex to be normal. Apart from that, curiosity and trying new things, especially among teenage boys, is balanced with a sense of pleasure, proving love and affection for their partners, but with the influence of mass media, they do things that lead to pornography. To prevent negative impacts and provide a strong basis for teenagers in making decisions, it is necessary to provide health education regarding knowledge about the dangers of free sex to teenagers from an early age using animated video media. This research aims to determine the influence of health education on knowledge about the dangers of free sex among street teenagers at the Rumah Impian Yogyakarta Foundation. This research uses a pre-experimental design (one group pre-posttest design). In this design, there is one group used for research. Data analysis techniques used the Wilcoxon test. Inclusion criteria for respondents were: teenagers aged 14-16 years, teenagers living on the streets. The instrument used in the research was a knowledge questionnaire regarding the dangers of casual sex. The results of this study show a p value = 0.000 (p value <0.05), which means that there is an influence of health education on knowledge about the dangers of free sex. The conclusion is that there is an influence of health education on knowledge about the dangers of free sex among street teenagers at the Rumah Impian Yogyakarta Foundation.

Page 10 of 12 | Total Record : 114