cover
Contact Name
Eko Nur Hermansyah
Contact Email
ekonurhermansyah@unw.ac.id
Phone
+6287747996725
Journal Mail Official
ijm.bidanunw@gmail.com
Editorial Address
Jl. Diponegoro no 186 Gedanganak - Ungaran Timur, Kab. Semarang Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Midwifery (IJM)
ISSN : 26561506     EISSN : 26155095     DOI : 10.35473/ijm
Core Subject : Health,
This journal received midwifery research articles and literature reviews on the results of previous midwifery research.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025" : 13 Documents clear
Prevalensi dan Faktor-Faktor Terkait Depresi Postpartum di Kabupaten Buleleng: Prevalence and Associated Factors of Postpartum Depression in Buleleng Regency Pratiwi, Putu Irma; Sekarini, Ni Nyoman Ayu Desy; Erlian, Ida Ayu
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4468

Abstract

Postpartum depression (PPD) comprises a cluster of depressive symptoms experienced by women within the first year after childbirth and represents a significant public mental health issue. The objective to determine the prevalence of, and factors associated with, PPD in Buleleng Regency in 2024. A cross-sectional study was conducted among postpartum women within 12 months of delivery between January and August 2024. A total of 317 participants were recruited using purposive sampling based on predefined inclusion and exclusion criteria. The Indonesian version of the Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) was used to assess depressive symptoms. Data were analyzed in SPSS. Univariate analyses summarized respondent characteristics and PPD prevalence, while bivariate associations were examined using Chi-square tests and expressed as crude odds ratios (cOR) with 95% confidence intervals (CI). The Results are The highest prevalence of depressive symptoms occurred among women aged >35 years (39.1%), followed by those aged <20 years (22.2%), and was lowest in the 20–35-year group (5.3%). Preterm delivery was strongly associated with PPD compared with term delivery (cOR 61.87; 95% CI 21.25–180.11; p<0.001). Lack of partner support was also associated with higher odds of PPD (cOR 5.49; 95% CI 1.78–16.90; p<0.01). The findings highlight the need for routine EPDS screening, strengthening partner support, and closer monitoring of mothers with obstetric risk factors.   Abstrak Depresi Postpartum (DPP) mengikutsertakan beberapa gejala depresi umum yang terjadi pada perempuan ditahun pertama setelah melahirkan dan menjadi masalah kesehatan mental yang signifikan di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor terkait Depresi Postpartum di Kabupaten Buleleng Tahun 2024. Penelitian ini merupakan jenis penelitian cross sectional dengan populasi ibu nifas dalam 12 bulan terakhir di Kabupaten Buleleng, dilakukan pada Januari sampai Agustus 2024. Jumlah sampel 317 dengan teknik purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen yang digunakan adalah Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) versi Indonesia. Analisa data dilakukan menggunakan program analisis statistik SPSS. Analisis univariat menghitung statistik deskriptif seperti frekuensi dan persentase untuk karakteristik responden dan menentukan prevalensi gejala DPP. Uji bivariat dengan Chisquare dengan hasil prevalensi depresi tertinggi terdapat pada kelompok usia >35 tahun (39,1%), diikuti kelompok usia <20 tahun (22,2%), dan terendah pada kelompok usia 20-35 tahun (5,3%). Ibu dengan preterm memiliki peluang depresi yang jauh lebih tinggi dibanding aterm (cOR 61,87 dengan 95%CI 21-25-180.11; p<0,001). Ketiadaan dukungan pasangan juga berhubungan dengan peluang depresi yang lebih tinggi (cOR 5,49 dengan 95%CI 1,78–16,90; p<0,01). Temuan pada penelitian ini menunjukkan pentingnya skrining rutin (EPDS), penguatan dukungan pasangan, dan pemantauan lebih ketat pada ibu dengan risiko obstetrik.
Pengaruh Edukasi Teknik Menyusui terhadap Efektivitas Menyusui pada Ibu Nifas: The Effect of Breastfeeding Technique Education on Breastfeeding Effectiveness in Postpartum Mothers Yunita, Nurul Siska; K, Diah Andriani; Ika Tristanti
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4329

Abstract

Breastfeeding is a natural process that is important in providing optimal nutrition to babies. However, many postpartum mothers still experience obstacles in breastfeeding due to a lack of knowledge about correct breastfeeding techniques. This study aims to determine the effect of education on correct breastfeeding techniques on breastfeeding effectiveness in postpartum mothers at Ki Ageng Getas Pendowo Gubug Regional Hospital, Grobogan Regency. This study used a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. Sampling was taken using a purposive sampling technique, the calculation of the sample size formula used the Slovin formula so that a sample size of 48 postpartum mothers was obtained. The instrument used was a breastfeeding effectiveness observation sheet compiled based on the Standard Operating Procedure (SOP) for Correct Breastfeeding Techniques. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed Ranks Test. The results showed that before education, all respondents (100%) were in the ineffective category. After education, all (100%) changed to the effective category. The Wilcoxon test showed a p value = 0.000 (p <0.05), which means there was a significant difference between breastfeeding effectiveness before and after education. Therefore, this intervention can be made into a routine educational program in health facilities.   Abstrak Menyusui merupakan proses alami yang penting dalam memberikan nutrisi optimal pada bayi. Namun, masih banyak ibu nifas yang mengalami kendala dalam menyusui karena kurangnya pengetahuan mengenai teknik menyusui yang benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi teknik menyusui yang benar terhadap efektivitas menyusui pada ibu nifas di RSUD Ki Ageng Getas Pendowo Gubug Kabupaten Grobogan. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan one group pretest-posttest. Pengambilan sampel dengan tehnik purposive sampling, perhitungan rumus besar sampel menggunakan rumus slovin sehingga didapatkan jumlah sampel 48 ibu nifas. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi efektivitas menyusui yang disusun berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) Teknik Menyusui yang Benar. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum edukasi, seluruh responden (100%) berada pada kategori tidak efektif. Setelah edukasi, seluruhnya (100%) berubah menjadi kategori efektif. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara efektivitas menyusui sebelum dan sesudah edukasi . Oleh karena itu, intervensi ini dapat dijadikan salah satu program edukasi rutin di fasilitas kesehatan.
Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas Berdasarkan Metode Persalinan dan Pemberian Dukungan Bidan: Early Mobilization of Post Partum Mothers Based on Delivery Method and Midwife Support Wahyuningsih, Putri; K, Diah Andriani; Ika Tristanti
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4330

Abstract

Early mobilization is a treatment provided within hours of giving birth. A common problem in postpartum patients who have delivered by cesarean section (CS) or spontaneously is pain, leading to a fear of movement and a preference for bed rest. Lack of exercise can lead to muscle stiffness, which can lead to suboptimal uterine contractions, which is feared to lead to bleeding. At Ki Ageng Getas Pendowo Regional Hospital, 10% of postpartum mothers experienced bleeding and infection annually. The purpose of this study was to determine the relationship between early mobilization in postpartum women based on delivery method and midwife support. The study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. A sample of 48 postpartum women was selected using purposive sampling. The instruments used were Standard Operating Procedure (SOP) sheets and observation sheets. Data analysis used the Chi-Square test. The results showed that the majority of postpartum women at Ki Ageng Getas Pendowo Gubug Regional Hospital who delivered spontaneously performed early mobilization well (p-value > α (0.551 > 0.05). The majority of postpartum women received supportive midwife support, which enabled them to perform early mobilization well (p-value < α (0.036 < 0.05). Conclusion: There is a significant relationship between early mobilization in postpartum women based on midwife support and early mobilization based on delivery method.   Abstrak Abstrak Mobilisasi dini adalah salah satu perawatan yang diberikan setelah beberapa jam melahirkan. Masalah yang sering terjadi pada pasien nifas  metode persalinan sectio caesarea (SC)/ spontan yaitu rasa sakit/ nyeri sehingga takut melakukan gerakan dan memilih untuk istirahat di tempat tidur. Apabila  daya gerak tidak dilatih dapat mengakibatkan otot-otot menjadi kaku sehingga kontraksi uterus tidak maksimal hal tersebut dikhawatirkan menyebabkan terjadi perdarahan. Di RSUD Ki Ageng Getas Pendowo periode setahun terdapat kejadian perdarahan dan infeksi pada ibu nifas (10%). Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan mobilisasi dini pada ibu nifas berdasarkan metode persalinan dan pemberian dukungan bidan. Penelitian menggunakan desain analitik observasional pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 48 ibu nifas dipilih secara purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa lembar Standar Operasional Prosedur (SOP) dan lembar observasi. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  mayoritas ibu nifas di RSUD Ki Ageng Getas Pendowo Gubug dengan metode persalinan spontan mampu melakukan mobilisasi dini dengan baik, diperoleh nilai p value > α (0,551 > 0,05) dan mayoritas ibu nifas diberikan dukungan bidan  yang mendukung sehingga mampu melakukan mobilisasi dini baik diperoleh nilai p value < α (0,036 <  0,05). Kesimpulan ada hubungan yang signifikan antara mobilisasi dini ibu nifas berdasarkan pemberian dukungan bidan dan ada hubungan yang signifikan antara mobilisasi dini berdasarkan metode persalinan.
Pengaruh Endorphin Massage terhadap Produksi ASI pada Ibu Post Partum: The Effect of Endorphin Massage on Breast Milk Production in Post-Partum Mothers Ariani, Nur Cahya; Azizah, Noor; Indah Puspitasari
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4339

Abstract

Breast milk is the most essential need for infants and serves as a natural source of nutrition that plays a crucial role in infant growth, development, and intelligence. One of the problems in breastfeeding on the first day after birth is related to maternal factors, particularly the lack of oxytocin hormone stimulation, which affects the lactation process. Non-pharmacological management to increase breast milk production includes performing endorphin massage to stimulate milk production. Endorphin massage provides relaxation and comfort during the lactation period, thereby enhancing the posterior pituitary response to produce oxytocin, which increases breast milk production. The purpose of this study was to determine the effect of endorphin massage on breast milk production in postpartum mothers. This study employed a quasi-experimental design with a pretest–posttest approach, in which breast milk production was measured using a measuring cup before and after endorphin massage. The study population consisted of 94 postpartum mothers, and 48 were selected as samples using purposive sampling techniques. Data were collected through observation sheets before and after the intervention, and breast milk production was measured using a measuring cup. Data were analyzed using the paired sample t-test. The results showed that breast milk production in postpartum mothers had a significant difference between pretest and posttest, with a p-value of 0.001 (<0.05). It can be concluded that endorphin massage has a significant effect on increasing breast milk production in postpartum mothers at Ki Ageng Getas Pendowo Gubug Hospital.   Abstrak ASI merupakan kebutuhan utama yang terpenting bagi bayi dan merupakan nutrisi alami yang mengandung nutrisi yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi termasuk kecerdasannya. Masalah pemberian ASI pada hari pertama setelah bayi lahir disebabkan salah satunya oleh faktor ibu yaitu kurangnya stimulasi hormon oksitosin yang mempengaruhi proses laktasi. Penanganan non farmakologis untuk memperbanyak ASI salah satunya adalah dengan Keywords: Kata Kunci: melakukan endorphin massage untuk meningkatkan produksi ASI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh endorphin massage terhadap produksi ASI pada ibu post partum. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian semu (Quasi eksperimental design) dengan rancangan penelitian pre test-post test dengan menggunakan gelas ukur yang dilakukan sebelum dan sedudah diberikan endorphin massage. Populasi dari penelitian ini adalah 94 ibu post partum. Sampel pada penelitian ini sebanyak 48 ibu post partum karena menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi sebelum dan sesudah dilakukan endorphin massage, produksi ASI di ukur dengan menggunakan gelas ukur, serta dianalisis menggunakan uji paired sample t-test. Hasil dari penelitian yang dilakukan data produksi ASI pada ibu post partum nilai pretest dan post test diperoleh p-value = 0,001 (<0,05) sehingga disimpulkan ada pengaruh yang signifikan sebelum dan sesudah diberikan endorphin massage pada ibu post partum di RSUD Ki Ageng Getas Pendowo Gubug.
Insting Bunda (Instant Nesting Bed) untuk Meningkatkan Kualitas Tidur Bayi: Insting Bunda (Instant Nesting Bed) to Improve Baby's Sleep Quality Eldin Yafi Fahmika; Happy Dwi Aprilina
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4423

Abstract

The quality of a baby's sleep is a very important factor in supporting their development and growth. When sleeping, a baby's body produces three times more growth hormones than when they are awake. Babies need around 15-17 hours of sleep per day, divided into 8 hours of daytime sleep and 9 hours of nighttime sleep. If this amount of sleep is not fulfilled, it will have a negative impact on the baby's physiological and psychological balance. One way to improve a baby's sleep quality is by using a nesting bed. However, problems often arise when using nesting beds for babies. Innovation is needed to maximize the function of nesting beds. The purpose of this study is to test an innovative nesting bed to improve sleep quality in babies, named “Insting Bunda : Instant Nesting Bed to Improve Baby Sleep Quality.” The research method used was quantitative with a pre-experimental research design and a pretest-posttest one-group design conducted at the Sokaraja 1 Community Health Center, Sokaraja District, Banyumas Regency. The subjects of this study were 10 infants aged 1-12 months. The results of this study showed that after the provision of the Instant Nesting Bed Insting Bunda innovation tool, 9 out of 10 infants experienced an improvement in sleep quality in the good category with an average of 97.5%. Before the provision of the tool, the sleep quality of all respondents was in the poor category with an average of 32.5%. Based on the Wilcoxon analysis test, the results showed a ρ value of 0.004 < 0.05, indicating that the Instant Nesting Bed Insting Bunda innovation tool has a significant effect on improving infant sleep quality. The Instant Nesting Bed Insting Bunda innovation tool is highly recommended for use with infants to help improve their sleep quality.     Abstrak Kualitas tidur bayi merupakan faktor yang sangat penting untuk menunjang perkembangan dan pertumbuhannya. Saat tidur, tubuh bayi memproduksi hormon pertumbuhan tiga kali lebih banyak dibandingkan ketika bayi terbangun. Bayi membutuhkan durasi tidur sekitar 15-17 jam perharinya dengan pembagian waktu 8 jam untuk tidur siang dan 9 jam untuk tidur malam. Apabila durasi tidur tidak terpenuhi, maka akan berakibat buruk pada keseimbangan fisiologi dan psikologis bayi. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas tidur bayi adalah dengan menggunakan nesting. Seringkali terjadi permasalahan dalam penggunaan nesting pada bayi. Diperlukan inovasi untuk memaksimalkan fungsi nesting. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji alat inovasi nesting untuk meningkatkan kualitas tidur pada bayi yang diberi nama ‘’Insting Bunda (Instant Nesting Bed) Untuk Meningkatkan Kualitas Tidur Bayi’’. Metode penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan desain penelitian pre-eksperimental dan rancangan Pretest – Postest One Group Desain yang dilakukan di Puskesmas Sokaraja 1, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Subjek penelitian ini adalah bayi berusia 1-12 bulan dengan jumlah 10 bayi. Hasil penelitian ini adalah setelah pemberian Insting Bunda (Instant Nesting Bed), 9 dari 10 bayi mengalami peningkatan kualitas tidur pada kategori baik dengan rata-rata 97,5 %. Sebelum pemberian alat, kualitas tidur seluruh responden berada dalam kategori kurang dengan rata-rata 32,5 %. Berdasarkan uji analisis Wilcoxon menunjukkan hasil ρ value 0,004 < 0,05 artinya menunjukkan bahwa Insting Bunda (Instant Nesting Bed) memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas tidur bayi. Alat inovasi Instant Nesting Bed Insting Bunda sangat layak digunakan pada bayi guna membantu meningkatkan kualitas tidur bayi.
Jus Jambu Merah sebagai Alternatif untuk Peningkatan Kadar Hemoglobin pada Remaja Putri yang Mengalami Anemia di Pondok Pesantren An Nur: Red Guava Juice As an Alternative to Increase Hemoglobin Levels in Teenage Girls With Anemia at An Nur Islamic Boarding School Sari, Kartika; Rini Susanti; Jatmiko Susilo; Isfaizah
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4450

Abstract

Anemia causes a reduction in the number of red blood cells or the amount of hemoglobin in red blood cells, so the blood cannot carry the amount of oxygen the body needs. Anemia is generally characterized by low hemoglobin levels below normal, reducing the body's physiological needs. Despite the program's implementation, adolescent girls still suffer from anemia. They rarely consume iron tablets because the smell of iron often causes nausea and vomiting. Red guava is a healthy and safe alternative for increasing hemoglobin levels in adolescents with anemia. Consuming red guava is a healthy and safe alternative for preventing and treating anemia through non-pharmacological means. This research used a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest design. The sample in this study were 15 adolescent girls with anemia at the An Nur Islamic boarding school. All respondents who participated in the study experienced an increase in Hb levels (14 of them) (100%). The results showed that the average Hb before treatment was 10.8 g/dL and the average Hb after treatment was 14.7 g/dL, resulting in an average increase in Hb of 3.9 g/dL. Further data analysis using a paired t-test (p-value = 0.000) revealed a significant difference in hemoglobin levels before and after consuming red guava juice. This demonstrates that consuming red guava juice increases hemoglobin levels. It is hoped that the use of red guava juice can be further promoted to reduce anemia among adolescents.   Abstrak Anemia menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel darah merah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah sesuai yang diperlukan tubuh. Anemia umumnya ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin dibawah nilai normal sehingga pemenuhan kebutuhan fisiologis tubuh menjadi berkurang.  Meskipun program sudah dilaksanakan, akan tetapi masih saja ditemukan remaja putri yang mengalami anemia. Mereka jarang mengkonsumsi tablet Fe tersebut karena sering menimbulkan mual dan muntah karena bau besi. Jambu merah untuk peningkatan kadar hemoglobin pada remaja yang mengalami anemia dan merupakan terobosan sehat dan aman sebagai salah satu upaya lain untuk alternatif mencegah serta mengatasi anemia secara non farmakologis yaitu dengan mengkonsumsi jambu merah. Metode penelitian ini adalah Pre- eksperimental dengan rancangan one grup pretest post test. Sampel dalam penelitian ini adalah 15 remaja putri yang mengalami anemia di pondol pesantren An Nur. Seluruh responden yang mengikuti proses penelitian mengalami peningkatan kadar HB 14 orang (100%). Dan didapatkan hasil bahwa rerata Hb sebelum perlakuan 10,8 g/dL dan rerata Hb sesudah perlakuan 14,7 g/dL sehingga rerata peningkatan Hb adalah 3,9 g/dL. Data  selanjutnya  dianilisa  dengan  Paired  T  Test (p-value = 0,000)  menunjukkan  terdapat  perbedaan  signifikan  kadar hemoglobin sebelum dan sesudah konsumsi jus jambu biji merah. Hal ini membuktikan bahwa konsumsi jus jambu merah memiliki pengaruh terhadap peningkatan kadar hemoglobin. Diharapkan penggunaan jus jambu merah bisa lebih di galakkan lagi sehingga penderita anemia pada remaja dapat berkurang.
Skrining Penyakit Menular dan Tidak Menular pada Ibu Hamil di Wilayah Kuta Selatan, Bali: Screening for Communicable and Non-Communicable Diseases among Pregnant Women in South Kuta, Bali Armini, Luh Nik; Made Adiantini; Prayudi, Made Aristia; Suputra, Putu Adi
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4458

Abstract

The World Health Organization (WHO) recommends that every pregnant woman have a positive and fulfilling experience throughout pregnancy, childbirth, and the postpartum period. Comprehensive screening as part of integrated antenatal care (ANC) is an essential effort for early detection and prevention of complications during these stages. This study aimed to determine the proportion of integrated ANC screening results, including communicable diseases (HIV, syphilis, and hepatitis B) and non-communicable conditions (anemia, chronic energy deficiency [CED], preeclampsia, and gestational diabetes) among pregnant women in the catchment area of South Kuta Health Center, Bali. This study employed a cross-sectional design using secondary data collected between June and September 2024. A total sampling technique was applied to all records that met the inclusion criteria, resulting in 684 cases for analysis. Data were analyzed descriptively using frequency and percentage distributions. The highest proportion was anemia (36.4%), followed by CED (10.2%), underweight (8.8%), obesity (5.6%), gestational diabetes (0.4%), preeclampsia (0.9%), hepatitis B (1.3%), syphilis (0.7%), and HIV (0.4%). Most maternal health problems were related to nutritional factors, particularly anemia and CED. Although the proportions of preeclampsia, gestational diabetes, and communicable diseases were relatively low, early detection through regular and timely ANC screening remains crucial for preventing maternal and perinatal complications. Strengthening maternal nutrition programs through improved adherence to iron–folate supplementation, close monitoring of dietary intake, and continuous nutrition education is recommended to minimize the risk of anemia and CED among pregnant women.   Abstrak WHO merekomendasikan setiap ibu hamil memiliki pengalaman yang menyenangkan selama proses kehamilan, persalinan, dan nifas. Pelaksanaan skrining secara komprehensif dalam ANC terpadu merupakan upaya deteksi dini yang penting dalam mencegah komplikasi selama masa kehamilan, persalinan, dan nifas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui proporsi hasil skrining ANC terpadu meliputi penyakit menular (HIV, sifilis, dan hepatitis B) dan tidak menular (anemia, KEK, preeklamsia, diabetes gestasional) pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kuta Selatan, Bali. Desain penelitian menggunakan studi pontong lintang (cross-sectional) menggunakan data sekunder. Data sekunder yang diambil selama periode penelitian Juni-September 2024. Teknik sampling menggunakan total sampling yang memenuhi kriteria inklusi yaitu memiliki data yang lengkap (n=684). Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Proporsi hasil skrining tertinggi adalah anemia (36,4%), diikuti KEK (10,2%), underweight (8,8%), obesitas (5,6%), diabetes gestasional (0,4%), preeklamsia (0,9%,     hepatitis B (1,3%), sifilis (0,7%), dan HIV (0,4%). Sebagian besar masalah kesehatan ibu hamil yang ditemukan di Puskesmas Kuta Selatan karena masalah gizi (anemia dan KEK). Walaupun proporsi preeklampsia, diabetes gestasional, dan penyakit menular relatif lebih rendah, deteksi dini melalui skrining rutin dan tepat waktu saat melakukan ANC tetap diperlukan untuk mencegah komplikasi maternal dan perinatal. Penguatan program gizi perlu dilakukan melalui peningkatan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah, pemantauan asupan nutrisi, serta edukasi gizi yang berkelanjutan agar risiko anemia dan KEK dapat diminimalkan.
Kebutuhan Psikososial Ibu Hamil dalam Mencegah Hipertensi Kehamilan: Studi Eksploratif : Psychosocial Needs of Pregnant Women for the Prevention of Hypertensive Disorders of Pregnancy (HDP): An Exploratory Study Sekarini, Ni Nyoman Ayu Desy; Putu Irma Pratiwi; Hendra Setiawan
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4489

Abstract

Hypertension in pregnancy is a major contributor to maternal and neonatal morbidity and mortality. Beyond clinical risk factors, psychosocial conditions—such as stress, anxiety, and social support—are increasingly recognized as influencing pregnancy health and potentially elevating the risk of hypertension. This study explored the psychosocial needs of pregnant women served by the Sukasada I Community Health Center (Puskesmas Sukasada I) in relation to preventing hypertension during pregnancy. A qualitative exploratory design was employed. Using purposive sampling, seven pregnant women aged 20–34 years who attended antenatal care at Puskesmas Sukasada I were recruited. Data were collected through semi-structured, in-depth interviews conducted by the principal investigator and/or trained team members using an interview guide, complemented by field observations in the waiting area and antenatal examination rooms to capture interactions with health workers and the service environment. Data were analyzed using thematic analysis: verbatim transcription, data reduction, coding, clustering, theme identification, and interpretation. Trustworthiness was enhanced through source triangulation (interviews–observations) and member checking. Twenty subthemes emerged and were organized into four overarching themes: (1) emotional and psychological needs (stress and anxiety management, emotion regulation, and planned pregnancy); (2) support needs (husband, family, and coworkers); (3) service-facility–related needs (access, room comfort, privacy, and service delivery); and (4) health-information needs (clear, consistent, and contextual materials on risks and prevention of hypertension). A key finding highlights that support—particularly from husbands and family—is the most decisive psychosocial need in preventing hypertension in pregnancy. Meeting psychosocial needs is an essential component of antenatal care. Health centers should integrate routine psychosocial screening, brief counseling, strengthened partner/family engagement, peer support groups, improved comfort and privacy of services, and user-friendly educational materials with clear referral pathways for psychological care. Future studies should test family- or partner-based interventions with larger samples to strengthen and generalize these findings.   Abstrak Hipertensi dalam kehamilan merupakan masalah kesehatan serius yang berkontribusi pada tingginya angka kesakitan dan kematian ibu serta bayi. Selain faktor klinis, kondisi psikososial—seperti stres, kecemasan, dan dukungan sosial—kian diakui berpengaruh terhadap kesehatan kehamilan dan berpotensi meningkatkan risiko hipertensi. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi kebutuhan psikososial ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Sukasada I dalam kaitannya dengan upaya pencegahan hipertensi pada kehamilan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi eksploratif. Partisipan dipilih secara purposive, terdiri dari 7 ibu hamil berusia 20–34 tahun yang melakukan pemeriksaan antenatal di Puskesmas Sukasada I. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur yang dilakukan peneliti utama/anggota tim terlatih berdasarkan panduan, serta observasi lapangan di ruang tunggu dan ruang pemeriksaan untuk menangkap interaksi ibu hamil dengan petugas dan lingkungan layanan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik: transkripsi verbatim, reduksi data, pengodean, pengelompokan, penentuan tema, dan interpretasi. Keabsahan data ditingkatkan melalui triangulasi sumber (wawancara–observasi) dan member checking. Hasil menunjukkan terbentuknya 20 subtema yang terhimpun dalam empat tema utama: (1) kebutuhan emosional dan psikologis (pengelolaan stres, kecemasan, regulasi emosi, kehamilan yang direncanakan); (2) kebutuhan dukungan (suami, keluarga, dan teman kerja); (3) kebutuhan terkait fasilitas layanan (akses, kenyamanan ruang, privasi, pelayanan); dan (4) kebutuhan informasi kesehatan (materi yang jelas, konsisten, dan kontekstual terkait risiko dan pencegahan hipertensi). Temuan kunci menggaris bawahi bahwa dukungan khususnya dari suami  dan keluarga merupakan kebutuhan psikososial yang paling menentukan dalam mencegah hipertensi pada kehamilan. Pemenuhan kebutuhan psikososial merupakan komponen esensial perawatan antenatal. Puskesmas disarankan mengintegrasikan skrining psikososial rutin, konseling singkat, penguatan peran pasangan/keluarga, kelompok dukungan sebaya, peningkatan kenyamanan dan privasi layanan, serta penyediaan materi edukasi yang mudah dipahami beserta alur rujukan psikologis. Penelitian lanjutan perlu menguji intervensi berbasis dukungan keluarga/pasangan dan melibatkan sampel lebih besar untuk menguatkan temuan ini.
Efektivitas PeanutBall dan Teknik Relaksasi Nafas dalam Terhadap Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif: Effectiveness of Peanut Ball and Deep Breathing Techniques on Labor Pain in the Active Phase of Stage I Purnama, Edy Ayu Dewi; Nasriyah; Azizah, Noor
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4342

Abstract

Labor pain is a physiological process due to uterine contractions which is often considered the most uncomfortable and frightening experience for mothers in labor. Suboptimal pain management can increase the risk of complications during labor. Non-pharmacological approaches, such as deep breathing relaxation techniques and the use of peanut balls, can be an alternative to reduce pain. This study aims to determine the effectiveness of peanut balls and deep breathing relaxation techniques on reducing labor pain in the active phase of the first stage. This study used a quasi-experimental design with a two-group pretest-posttest design, and was conducted at the Ki Ageng Getas PendowoGubug Hospital in May–June 2025. A total of 50 respondents were divided into two groups purposively: the peanut ball intervention group (n=25) and the deep breathing relaxation technique group (n=25). The level of pain was measured using the Numeric Rating Scale (NRS) before and after the intervention. The Shapiro-Wilk normality test showed that the data were not normally distributed (pretest p=0.000; posttest p=0.000), so the analysis between groups was carried out using the Mann-Whitney Test. The results showed a significant difference between the two groups (p=0.006), with the peanut ball group showing a higher average ranking. These results indicate that the peanut ball intervention is more effective in reducing labor pain than deep breathing relaxation techniques.   Abstrak Nyeri persalinan merupakan proses fisiologis akibat kontraksi uterus yang kerap dianggap sebagai pengalaman paling tidak nyaman dan menakutkan bagi ibu bersalin. Pengelolaan nyeri yang tidak optimal dapat meningkatkan risiko komplikasi selama proses persalinan. Pendekatan nonfarmakologis, seperti teknik relaksasi napas dalam dan penggunaan peanut ball, dapat menjadi alternatif untuk mengurangi nyeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas peanut ball dan teknik relaksasi napas dalam terhadap penurunan nyeri persalinan kala I fase aktif. Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment dengan rancangan two group pretest-posttest design, dan dilaksanakan di RSUD Ki Ageng Getas Pendowo Gubug pada Mei–Juni 2025. Sebanyak 50 responden dibagi menjadi dua kelompok secara purposive: kelompok intervensi peanut ball (n=25) dan kelompok teknik relaksasi napas dalam (n=25). Tingkat nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah intervensi. Uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan data tidak berdistribusi normal (pretest p=0,000; posttest p=0,000), sehingga analisis antar kelompok dilakukan dengan Uji Mann-Whitney. Hasil menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok (p=0,006), dengan kelompok peanut ball menunjukkan rata-rata ranking lebih tinggi. Hasil ini mengindikasikan bahwa intervensi peanut ball lebih efektif dalam menurunkan nyeri persalinan dibandingkan teknik relaksasi napas dalam. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar tenaga kesehatan, khususnya bidan, dapat mengimplementasikan penggunaan peanut ball sebagai salah satu metode nonfarmakologis dalam manajemen nyeri persalinan.
Profil Obat Faktor Resiko Penyakit Kardiovaskular pada Wanita Menopause Peserta Prolanis di Puskesmas Kabupaten Semarang : Drug Profile of Cardiovascular Disease Risk Factors in Menopausal Women Participants of Prolanis at Semarang Regency Community Health Centers Susilo, Jatmiko; Haswan, Dedi; Kurniawati, Indah
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4212

Abstract

Aging, elderly, and menopausal populations are susceptible to CVD, this condition is exacerbated by obesity, diabetes, hypertension, and dyslipidemia. to examine drugs to prevent and treat cardiovascular risk factors. This descriptive study recruited 145 menopausal women and met the inclusion and exclusion criteria as respondents from 208 Prolanis participants at Bringin, Jimbaran, Lerep, and Leyangan Community Health Centers from patient medication records using purposive sampling techniques and analyzed using SPSS 27 software. Drug data are presented in the form of frequency distribution graphs. Results: Drugs to prevent and treat CVD risk are heart and blood vessel drugs such as diuretics, calcium channel blockers (CCBs), beta receptor blockers (β-blockers), angiotensin converting enzyme inhibitors (ACE inhibitors), angiotensin receptor blockers (ARBs), and antianginals, oral antidiabetic drugs (OADs) such as metformin, glimepiride, and acarbose, as well as lipid-lowering drugs such as statins and fibrates. Conclusion: drugs to prevent and treat PKV risk factors are cardiovascular drugs, ADO, and lipid-lowering drugs.   Abstrak Populasi yang menua, lanjut usia, dan menopause rentan terhadap PKV, kondisi ini diperburuk oleh obesitas, diabetes, hipertensi dan dislipidemia. Untuk menelaah obat untuk mencegah dan mengobati faktor resiko kardiovaskuler. Metoda: penelitian deskriptif ini merekrut 145 wanita menopause dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebagai responden dari 208 peserta Prolanis di Puskesmas Bringin, Jimbaran, Lerep dan Leyangan dari pencatatan pengobatan pasien dengan teknik purposive sampling dan dianalisis menggunakan software SPSS 27. Data obat disajikan dalam bentuk grafik distribusi frekuensi.  Obat mencegah dan mengobati resiko PKV adalah obat jantung dan pembuluh darah seperti diuretik, pemblok saluran kalsium (CCB), pemblok reseptor beta (β-blocker), penghambat enzim pengkonversi angiotensin (ACE inhibitor), pemblok reseptor angiotensi (ARB), dan antiangina,  obat antidiabetik oral (OAD) seperti metformin, glimepirid dan akarbose, serta penurun lipid seperti statin dan fibrat. Kesimpulan: obat mencegah dan mengobati faktor resiko PKV adalah obat kardiovaskuler, ADO, dan penurun lipid.

Page 1 of 2 | Total Record : 13