cover
Contact Name
Evangelista Lus Windyana Palupi
Contact Email
evangelistapalupi@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
mathedunesa@unesa.ac.id
Editorial Address
Gedung C8 lantai 1FMIPA UNESA Ketintang 60231 Surabaya Jawa Timur
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
MATHEdunesa
ISSN : 23019085     EISSN : 26857855     DOI : https://doi.org/10.26740/mathedunesa.v12n1
Core Subject : Education,
MATHEdunesa is a scientific journal of mathematics education published by the Mathematics Department of Faculty of Mathematics and Natural Sciences of Universitas Negeri Surabaya. MATHEdunesa accepts and publishes research articles and book review in the field of Education, which includes: ✅ Development of learning model ✅ Problem solving, creative thinking, and Mathematics Competencies ✅Realistic mathematics education and contextual learning, ✅Innovation of instructional design ✅Learning media development ✅ Assesment and evaluation in Mathematics education ✅ Desain research in Mathematics Education
Articles 325 Documents
EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA BUDAYA MASYARAKAT SIDOARJO mokhammad aby hasan; Mega Teguh Budiarto
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.914 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p562-573

Abstract

Banyak peserta didik yang sulit memahami konsep matematika karena mereka menganggap bahwa konsep matematika itu abstrak. Oleh karena itu pembelajaran matematika harus dikaitkan dengan budaya yang terdapat dalam kehidupan sehari-harinya. Salah satu solusi untuk menjembatani matematika dan budaya adalah etnomatematika. Objek pada penelitian ini adalah tari Banjar kemuning, pot bunga semen Desa Kemangseng dan industri rumahan panci Desa Kesambi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bentuk etnomatematika dari tari Banjar kemuning, pengrajin pot bunga Desa Kemangseng dan pengrajin panci Desa Kesambi. Penelitian yang digunakan oleh peneliti berjenis penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Subjek pada penelitian ini adala pencipta tari Banjar kemuning, pengrajin pot bunga di Desa Kemangseng, dan pengrajin panci di Desa Kesambi. Peneliti berperan sebagai instrumen utama sedangkan panduan wawancara, observasi, dan dokumentasi sebagai instrumen pendukung. Triangulasi metode digunakan peneliti untuk menjamin validitas data yang diperoleh. Sedangkan untuk teknik analisis data yang digunakan adalah analisis domain, analisis taksonomi, dan tema kultural. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya konsep matematika pada budaya tersebut diantaranya persegi panjang, lingkaran, sudut, kongruen, kubus, balok, tabung, translasi, rotasi dan refleksi. Dengan demikian budaya-budaya tersebut dapat dijadikan objek etnomatematika untuk mempermudah peserta didik dalam memahami konsep matematika. Kata Kunci: Eksplorasi, Etnomatematika, Budaya Sidoarjo.
DIFFICULTIES OF ELEMENTARY SCHOOL GRADE VI SOLVING NARRATIVE TEST IN NUMBER MATERIAL Ragil Tri Lestari; Siti Khabibah
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.015 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p474-480

Abstract

Mathematics is one of the sciences closely related to human life in helping to solve a problem. Narrative tests are a type of question that is suitable for use in presenting a mathematical problem. When solving narrative testss, difficulties are often found. This study aims to describe the difficulties experienced by students in solving narrative tests. The type of this research is qualitative research, with the research subjects being 12 sixth grade students who have the various mathematical abilities in one of the elementary schools in Gresik. Data collection through written tests, interviews, and documentation. The results showed that students experienced difficulties in three aspects, namely: 1) language aspects. Broadly speaking, students' difficulties in language aspects were caused by a lack of understanding of narrative testss, 2) schematic knowledge aspects, this difficulty was triggered because students were unable to remember and use mathematical concepts well, and 3) the algorithm aspect, this difficulty is caused by students doing the calculation process in a hurry. Narrative tests with simple context and language regularly can be done as an alternative to minimize the level of difficulty of students and help students build a more structured way of thinking. Keywords: qualitative research, difficulties, narrative tests.
KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA ASIMILASI (ASSIMILATING) DAN KONVERGEN (CONVERGING) DALAM MEMECAHKAN MASALAH NUMERASI Chusnul Fadlilah; Tatag Yuli Eko Siswono
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.919 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p548-561

Abstract

Abstract The creative thinking ability is an individual’s capacity in combining logistical and divergent thinking in finding solutions to a problem to produce innovative new products. This study aims to analyze the level of creative thinking ability (LCT) of students with assimilating and converging learning styles in solving numeracy problems. The subjects of this qualitative research consisted of two grade VIII junior high school students who were selected using a purposive sampling technique, namely subjects who had assimilating and convergent learning styles. The research instrument consisted of a learning style questionnaire, a numeracy creative thinking ability test, and task-based interviews. The indicators used to assess creative products include fluency, flexibility, and novelty. Data analysis uses Pierce's triadic analysis or Peirce's semiotics which is the relationship between sign/representamen (which represents something else), object (which describes it), and interpretant (possible meaning or meaning made from it). The results showed that subjects with assimilating learning styles had creative thinking ability with LCT 3 (creative) because they met the indicators of fluency, flexibility and novelty. Meanwhile, students with convergent learning styles have the ability to think creatively with TKBK 2 (creative enough) because they meet the indicators of fluency and flexibility. Even though they did not meet the indicators of the results’s novelty, the students had reached the novelty of ideas. Therefore, teachers are expected to be stimulating students with members of questions related to the truth of the answers of students realizing the calculation they do so students can be more careful when solving the problem. Keywords: creative thinking ability, numeracy, assimilating and converging.
PROFIL BERPIKIR KRITIS SISWA SMP MENYELESAIKAN SOAL NUMERASI BERDASARKAN TINGKAT KEMAMPUAN NUMERASI Endri Puji Lestari; Tatag Yuli Eko Siswono
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.372 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p538-547

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan berpikir kritis siswa SMP dengan kemampuan numerasi tinggi dan rendah dalam menyelesaikan soal numerasi. Jenis penelitian yaitu penelitian deskriptif kualitatif. Instrumen utamanya yaitu peneliti dan instrumen pendukung terdiri dari tes kemampuan matematika, tes berpikir kritis, dan wawancara tak terstruktur. Penelitian melibatkan 2 siswa kemampuan numerasi tinggi dan 2 siswa kemampuan numerasi rendah jenjang SMP kelas VIII A. Teknik analisis menggunakan konsep tanda Pierce. Berdasarkan hasil penelitian yaitu (1) siswa kemampuan numerasi tinggi memenuhi keseluruhan indikator berpikir kritis FRISCO. Pada aspek focus yaitu siswa mengidentifikasi informasi pada soal dan memberikan penjelasan sederhana, aspek reason yaitu siswa menuliskan langkah-langkah pengerjaan, menyelesaikannya, dan memberikan alasan yang relevan dalam setiap proses pengerjaan soal, aspek inference yaitu siswa menjelaskan dan menuliskan kesimpulan detail dan benar, aspek situation yaitu siswa memilah informasi yang penting atau tidak penting untuk dicantumkan dalam langkah-langkah penyelesaian, aspek clarifity yaitu siswa menjelaskan mengenai istilah atau simbol pada proses pengerjaan soal, aspek overview yaitu siswa memastikan kembali jawaban yang sudah ditulis dan (2) siswa kemampuan numerasi rendah tidak memenuhi keseluruhan indikator berpikir kritis FRISCO, siswa hanya memenuhi aspek focus. Pada aspek focus, siswa memahami masalah dari membaca soal, menulis apa yang diketahui dan ditanyakan pada soal. Kata Kunci: Berpikir kritis, soal numerasi, kemampuan numerasi Abstract This study aims to describe the critical thinking of junior high school students with high and low numeracy skills in solving numeracy problems. The type of research is descriptive qualitative research. The main instrument is the researcher and the supporting instruments consist of a mathematical ability test, a critical thinking test, and an unstructured interview. The study involved 2 students with high numeracy skills and 2 students with low numeracy abilities at the SMP class VIII A. The analysis technique used the concept of Pierce's sign. Based on the results of the study, namely (1) students with high numeracy abilities met all of the FRISCO critical thinking indicators. In the focus aspect, namely students identify information on questions and provide simple explanations, the reason aspect is that students write down the steps of work, complete them, and give relevant reasons in each process of working on the problem, the inference aspect, namely students explain and write detailed and correct conclusions, aspects situation, namely students sorting out important or unimportant information to be included in the completion steps, clarification aspect, namely students explaining terms or symbols in the process of working on questions, overview aspect, namely students confirming the answers that have been written, and (2) students with low numeracy skills. did not meet all of the FRISCO critical thinking indicators, students only met the focus aspect. In the focus aspect, students understand the problem from reading the question, writing what is known and asked in the question. Keywords: Critical thinking, numeracy, numeracy skills.
REPRESENTASI MATEMATIS SISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI SELF-EFFICACY SISWA Hayu Widya; janet Trineke Manoy
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.212 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p574-583

Abstract

Keterampilan representasi diperlukan untuk menguraikan penyelesaian matematika yang berkaitan dengan keyakinan siswa atau dinamakan self-efficacy. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menganalisis keterampilan representasi matematis siswa kelas 11 dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari self-efficacy. Tiga siswa dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kategori self-efficacy tinggi, sedang dan rendah. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu angket self-efficacy dan tes representasi matematis berupa soal pemecahan masalah. Penelitian diawali dengan pemilihan subjek melalui pengambilan data angket self-efficacy, kemudian subjek yang telah terpilih sesuai kategori self-efficacy diberikan tes representasi dan diwawancara. Data yang didapat dianalisis melalui tahapan penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi matematis siswa dengan self-efficacy tinggi dapat memecahkan masalah dengan tiga indikator kemampuan representasi visual, simbolik, dan verbal. Sedangkan representasi matematis siswa dengan self-efficacy sedang dapat memecahkan masalah dengan dua indikator kemampuan representasi visual dan verbal. Lalu, representasi matematis siswa dengan self-efficacy rendah dapat memecahkan masalah dengan satu indikator kemampuan representasi simbolik. Siswa perlu melatih diri dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah agar mencapai kemampuan representasi yang baik dan mampu meningkatkan kepercayaan diri siswa atau self-efficacy.
ANALISIS KESALAHAN SISWA SMP PADA MATERI STATISTIKA DITINJAU DARI GAYA BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN INSTRUMEN CRI Aina Saidah; Pradnyo Wijayanti
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.172 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p620-629

Abstract

Siswa seringkali mengalami beberapa kesalahan selama proses pembelajaran, seperti kesalahan siswa dalam membaca serta mencerna soal. Siswa yang kurang memiliki kemampuan untuk memahami informasi lebih besar kemungkinannya untuk melakukan kesalahan dalam menyelesaikan masalah. Karakteristik siswa dalam memahami suatu materi mempengaruhi beberapa kesalahan dalam menyelesaikan masalah, salah satunya adalah gaya belajar yang dimiliki siswa. Gaya belajar adalah cara yang sering dipakai siswa untuk menyerap dan memproses suatu informasi dari lingkungan sekitar. Terdapat tiga jenis gaya belajar, di antaranya gaya belajar visual, gaya belajar auditori, dan gaya belajar kinestetik. Dari ketiga gaya belajar tersebut, terdapat perbedaan gaya belajar yang dimiliki dari masing-masing siswa. Penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengkategorikan kesalahan siswa pada materi statistika ditinjau dari gaya belajar dengan menggunakan instrumen CRI. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 31 siswa yang sudah mempelajari materi statistika. Pada penelitian ini siswa dibagikan angket gaya belajar sehingga dapat dikelompokkan sesuai jenisnya masing-masing, kemudian untuk tes analisis kesalahan menggunakan instrumen CRI yang dilanjutkan dengan wawancara diagnosis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang memiliki gaya belajar visual memiliki kesalahan transformasi dan kesalahan memahami soal. Siswa dengan gaya belajar auditori memiliki kesalahan transformasi dan kesalahan memahami serta mengingat konsep dasar statistika. Siswa dengan gaya belajar kinestetik memiliki kesalahan mengingat konsep dasar statistika dan kesalahan transformasi.
Penalaran Proporsional Siswa Bergaya Kognitif Sistematis dan Intuitif dalam Menyelesaikan Masalah Numerasi Dovina Meilisa Nur Fadilla; Tatag Yuli Eko Siswono
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.154 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p630-643

Abstract

Penalaran proporsional ialah segala sesuatu terkait dengan konsep rasio dan proporsi yang dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah. Menyelesaikan masalah numerasi adalah aktivitas mencari penyelesaian soal dalam kehidupan sehari-hari yang melibatkan keterampilan mengaplikasikan konsep matematika. Gaya kognitif memicu proses berpikir siswa sehingga berpengaruh terhadap cara siswa dalam menyelesaikan masalah. Penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan penalaran proporsional siswa bergaya kognitif sistematis dan intutitif dalam menyelesaikan masalah numerasi. Subjek penelitian berjumlah dua orang yaitu siswa yang memenuhi gaya kognitif sistematis dan intuitif. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan tes gaya kognititf (CSI), tes penalaran proporsional, dan wawancara. Analisis data yang dilakukan menggunakan trikotomi tanda Peirce yang mengaitkan tiga komponen utama yaitu tanda, objek, dan interpretasi sehingga menghasilkan sebuah makna. Hasil peneitian menunjukkan dalam memahami kovariasi siswa bergaya kognitif sistematis mengidentifikasi segala informasi sehingga dapat menentukan kuantitas dan jenis perbandingan sedangkan siswa bergaya kognitif intuitif mengidentifikasi sebagian informasi sehingga melewatkan informasi penting yang membuatnya salah dalam menentukan kuantitas dan jenis perbandingan. Keduanya mengenali situasi proporsional dengan menggunakan hubungan multiplikatif bukan aditif serta menggunakan strategi multiplikatif kali silang dalam menyelesaikan masalah. Siswa bergaya kognitif sistematis memiliki strategi multiplikatif lain yaitu faktor perubahan sedangkan siswa bergaya kognitif intuitif tidak. Oleh sebab itu, guru diharapkan dapat membiasakan siswa menggunakan berbagai strategi multiplikatif dalam menyelesaikan masalah numerasi yang megandung situasi proporsional.
Miskonsepsi Peserta Didik SMP Pada Materi Bentuk Akar Dengan Menggunakan Instrumen Four-Tier Test Toni Phibeta; Pradnyo Wijayanti
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.313 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p606-619

Abstract

Pemahaman konsep merupakan kunci keberhasilan untuk belajar matematika. Jika peserta didik dapat memahami konsep dengan baik, maka peserta didik akan lebih mudah untuk mempelajari atau memahami konsep selanjutnya yang berkaitan. Kesalahpahaman terhadap suatu konsep yang telah disepakati oleh para ahli sehingga menimbulkan kekeliruan terhadap konsep itu sendiri disebut miskonsepsi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan miskonsepsi peserta didik SMP pada materi bentuk akar menggunakan instrumen Four-Tier Test. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan instrumen Four-Tier Test. Sumber data pada penelitian ini yaitu 31 peserta didik SMP kelas IX yang sudah mempelajari materi bentuk akar dan pemilihan subjek pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Data penelitian ini diperoleh dengan cara memberikan tes kepada peserta didik lalu dianalisis berdasarkan kriteria pengelompokan miskonsepsi pada Four-Tier Test dan dilanjutkan dengan wawancara. Pada penelitian ini ditemukan peserta didik SMP yang mengalami miskonsepsi pada materi bentuk akar dengan persentase sebesar 60% dari 31 peserta didik. Miskonsepsi yang ditemukan pada penelitian ini terdapat pada konsep sifat bentuk akar, merasionalkan bentuk akar, dan definisi bentuk akar. Faktor penyebab peserta didik mengalami miskonsepsi tersebut karena jarang mengerjakan soal latihan untuk mengasah pemahaman peserta didik terhadap sifat bentuk akar. Maka dari itu sangat penting bagi guru untuk mengetahui miskonsepsi peserta didik agar guru dapat mengerti konsep yang tidak dipahami oleh peserta didik. Selain itu guru seharusnya memberikan latihan soal dan pemahaman ulang kepada peserta didik agar dapat memahami materi bentuk akar dengan baik.
Profil Metakognisi Siswa SMA dalam Memecahkan Masalah Matematika Materi Fungsi Komposisi dan Fungsi Invers Ditinjau dari Kemampuan Siswa Prasetyo Kurniawan; Pradnyo Wijayanti
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.8 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p644-656

Abstract

Metakognisi adalah kesadaran tentang proses berpikirnya sendiri, dari merencanakan (planning), memantau (monitoring), sampai memeriksa kembali (evaluating) hasil pikirannya sendiri. Dalam proses pembelajaran, kemampuan metakognisi dapat dibangun saat siswa memecahkan masalah. Saat siswa menemui masalah yang membutuhkan proses cukup panjang, di sinilah kemampuan metakognisinya dibutuhkan. Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa kemampuan metakognisi berperan penting dalam pemecahan masalah. Kemampuan matematika berperan penting dalam aktivitas pemecahan masalah dan juga dimungkinkan dengan adanya perbedaan kemampuan matematika maka berbeda pula penggunaan metakognisinya dalam memecahkan masalah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan profil metakognisi siswa SMA dalam memecahkan masalah matematika materi fungsi komposisi dan fungsi invers ditinjau dari kemampuan siswa yang dilaksanakan di kelas X MIA 2 di salah satu MAN di kota Kediri dengan satu siswa untuk tiap tingkatan kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa Tes Pemecahan Masalah (TPM) dan wawancara. Teknik analisis yang digunakan adalah reduksi dan penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan profil metakognisi siswa berkemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah dalam memecahkan masalah matematika materi fungsi komposisi dan fungsi invers menunjukkan bahwa semuanya memiliki kemiripan dalam kemampuan metakognisinya karena mampu memahami permasalahan, sadar dengan langkah yang diambil, dan melakukan peninjauan ulang. Namun pada siswa berkemampuan rendah perbedaannya adalah tidak melakukan peninjauan ulang. Dari hasil penelitian ini, terdapat beberapa implikasi diantaranya adalah penanaman konsep yang matang kepada siswa sangat berpengaruh pada pemahaman siswa dan kemampuan metakognisinya.
ANALISIS KEMAMPUAN SISWA SMP DALAM MEMERIKSA KEMBALI PADA PEMECAHAN MASALAH KONTEKSTUAL Achirul Abadin; Abdul Haris Rosyidi
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.959 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p584-596

Abstract

Memeriksa kembali merupakan kegiatan penting pada tahapan pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan memeriksa kembali siswa dalam pemecahan masalah kontekstual topik perbandingan. Subjek penelitian ini adalah 4 siswa kelas VIII SMP Negeri di Surabaya tahun pelajaran 2021/2022. Instrumen penelitian ini berupa tes pemecahan masalah, dan pedoman wawancara. Teknik analisis data dilakukan dengan melihat hasil tes dan wawancara pada subjek yang mengacu pada 4 indikator memeriksa kembali, yaitu 1) memeriksa kebenaran jawaban yang diperoleh, 2) mencari cara penyelesaian lain, 3) menggunakan metode untuk menyelesaikan masalah lain, 4) menggeneralisasi berbagai cara penyelesaian yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan, pada memeriksa jawaban, semua siswa mampu memeriksa jawaban dengan baik dan benar. Pada indikator mencari jawaban menggunakan cara lain, terdapat 2 siswa yang belum mampu mencari jawaban menggunakan cara lain. Lalu, pada penggunakan metode untuk menyelesaikan masalah lain, semua siswa mampu menerapkan ke dalam permasalahan kontekstual lain. Sedangkan untuk menggeneralisasi atau menarik kesimpulan jawaban yang diperoleh dari berbagai cara, semua siswa mampu membuat kesimpulan mengenai berbagai penyelesaian yang digunakan dalam memecahkan masalah. Masih ditemukannya siswa yang belum mampu menemukan cara lain untuk menyelesaikan masalah, maka pada pembelajaran pemecahan masalah perlu dibiasakan menuntut siswa mengembangkan cara lain dalam menyelesaikan masalah.