cover
Contact Name
Evangelista Lus Windyana Palupi
Contact Email
evangelistapalupi@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
mathedunesa@unesa.ac.id
Editorial Address
Gedung C8 lantai 1FMIPA UNESA Ketintang 60231 Surabaya Jawa Timur
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
MATHEdunesa
ISSN : 23019085     EISSN : 26857855     DOI : https://doi.org/10.26740/mathedunesa.v12n1
Core Subject : Education,
MATHEdunesa is a scientific journal of mathematics education published by the Mathematics Department of Faculty of Mathematics and Natural Sciences of Universitas Negeri Surabaya. MATHEdunesa accepts and publishes research articles and book review in the field of Education, which includes: ✅ Development of learning model ✅ Problem solving, creative thinking, and Mathematics Competencies ✅Realistic mathematics education and contextual learning, ✅Innovation of instructional design ✅Learning media development ✅ Assesment and evaluation in Mathematics education ✅ Desain research in Mathematics Education
Articles 337 Documents
IDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA SMP PADA MATERI BANGUN RUANG SISI LENGKUNG MENGGUNAKAN THREE TIER-TEST M Dahlan; Ika Kurniasari
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.006 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p499-512

Abstract

Abstrak Permasalahan yang banyak ditemui siswa SMP yaitu pada mata pelajaran matematika. Siswa SMP mengalami banyak sekali mengalami miskonsepsi terkait materi bangun ruang. Oleh karena itu penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui: (1) adanya miskonsepsi yang dialami siswa SMP dalam mempelajari bangun ruang sisi lengkung, (2) miskonsepsi terbesar pada sub indikator materi bangun ruang sisi lengkung, (3) penyebab miskonsepsi siswa SMP dalam mempelajari bangun ruang sisi lengkung. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek dalam penelitian ini siswa kelas IX sebanyak 23 siswa yang diambil di salah satu SMP yang ada di Bangkalan, dimana siswa sebelumnya pernah memperoleh materi dasar bangun ruang sisi lengkung pada jenjang SD dan juga siswa kelas IX sudah mempelajari bangun ruang sisi datar pada semester ganjil. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan test dan wawancara. Data dianalisis dengan tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Soal tes yang digunakan adalah soal tes berbentuk three tier-test. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) siswa mengalami miskonsepsi pada materi bangun ruang sisi lengkung dengan rerata miskonsepsi setiap sub indikator sebesar 77,34%;(2) miskonsepsi murni terbesar siswa terletak pada memahami konsep rusuk, dimana pada konsep rusuk bangun ruang sisi lengkung siswa masih saja terpaku pada konsep rusuk pada bangun ruang sisi datar, untuk miskonsepsi false negatif siswa mengalaminya pada konsep luas, sedangkan pada volume siswa banyak mengalami miskonsepsi false positif dimana pada konsep volume siswa belum paham arti dari sebuah volume itu sendiri;(3) penyebab siswa mengalami kesulitan dalam menghadapi masalah yang berhubungan dengan unsur, luas, dan volume ruang bersisi lengkung disebabkan karena guru tidak menggunakan alat bantu visual, media atau alat praga dalam menyampaikan materi bangun ruang pada saat pembelajaran tatap muka. Kata Kunci: isi, format, artikel. Abstract The problems that many junior high school students encounter is in mathematics. Junior high school students experience a lot of misconceptions related to building materials. Therefore, this study supposed to find out: (1) there are misconceptions experienced by junior high school students in studying curved side space build, (2) the biggest misconceptions in the sub-indicators of curved side space build material, (3) the causes of junior high school students' misconceptions in studying curved side space build. The type of research used in this research is descriptive with a qualitative approach. The subjects in this study were 23 students of class IX who were taken in one of the junior high schools in Bangkalan, where students had previously obtained basic material on curved side spaces at the elementary school and also class IX students had studied flat side space in odd semesters. Data collection techniques were carried out using tests and interviews. Data were analyzed in three stages, namely data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The test questions used are test questions in the form of a three-tier-test. The results of this study show that: (1) students have misconceptions in the curved side space material with an average misconception of each sub indicator of 77,34%; (2) the biggest pure misconception of students lies in understanding the concept of ribs, where in the concept of ribs on curved sides students are still fixated on the concept of ribs on flat-sided shapes, for false negative misconceptions students experience it on the broad concept, while in volume many students experience false positive misconceptions where in the concept of volume students do not understand the meaning of a volume itself; (3) the cause of students having difficulty in dealing with problems related to the elements, area, and volume of curved-sided spaces is because the teacher does not use visual aids, media or visual aids in teaching. deliver the material of building space during face-to-face learning. Keywords: misconception, three tier-test, building curved side space.
MAPPING ON ANALOGICAL REASONING TOPIC LIMIT FUNCTION: WITH AND WITHOUT INTERMEDIATE PROBLEMS Radja Nauval Arie Salim; Abdul Haris Rosyidi
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.386 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p419-431

Abstract

Abstrak Mapping adalah tahapan penting pada penalaran analogi, namun banyak ditemukan kesalahan pada prosesnya. Mapping merupakan proses menemukan sebuah kesimpulan dari hubungan yang ada pada masalah sumber dan masalah target. Salah satu materi matematika SMA yang sering terjadi kesalahan pada proses pengerjaannya adalah limit fungsi trigometri. Penilitian ini bertujuan untuk menganalisis mapping siswa SMA pada penalaran analogi dengan dan tanpa masalah antara pada materi limit fungsi trigonometri. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Subjek penelitian ini adalah 4 siswa kelas XII MIA SMA swasta di Gresik, dengan rincian 2 siswa menyelesaikan soal mapping penalaran analogi dengan masalah antara, dan 2 siswa menyelesaikan soal mapping penalaran analogi tanpa masalah antara. Data dianalisis menggunakan tahapan mapping yaitu mengidentifikasi hubungan masalah sumber dan masalah target, mengidentifikasi suatu struktur masalah sumber yang sesuai dengan masalah target dan menggunakan masalah sumber ke masalah target. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pada mapping, siswa kesulitan pada tahapan mengidentifikasi hubungan masalah sumber dengan masalah target. Siswa yang berhasil mengidentifikasi hubungan masalah sumber dan masalah target dapat mengidentifikasi kesamaan struktur dan mengetahui cara menggunakan masalah sumber ke masalah target, sedangkan siswa yang tidak berhasil mengidentifikasi hubungan masalah sumber dan masalah target tidak dapat melanjutkan ke tahapan selanjutnya. Pemberian masalah antara dapat membantu siswa dalam mengidentifikasi hubungan masalah sumber dan masalah target, sehingga masalah antara dapat digunakan sebagai jembatan masalah sumber ke masalah target. Kata Kunci: Limit fungsi, Mapping, Masalah Antara Penalaran Analogi Abstract Mapping is an important step in analogical reasoning, but many errors are found in the process. Mapping is the process of building conclusions from the relationship between the source problem and the target problem. One of the high school mathematics materials that often makes mistakes in the process is the limit of trigometric functions. This study aims to analyze the mapping of high school students on analogical reasoning with and without intermediate problems on the limit material of trigonometric functions. The research method used is qualitative by using 4 subjects who are class XII students of MIA private high school in Gresik, with details of 2 students solving analogy reasoning mapping problems with intermediate problems, and 2 students completing analogue reasoning mapping problems without intermediate problems. The data were analyzed using the mapping stage, namely identifying the relationship between the source problem and the target problem, identifying a source problem structure that is in accordance with the target problem and using the source problem to the target problem. The results of the study concluded that in mapping, students had difficulty at the stage of identifying the relationship between the source problem and the target problem. Students who succeed in identifying the relationship between the source problem and the target problem can identify structural similarities and know how to apply the source problem to the target problem, while students who fail to identify the relationship between the source problem and the target problem cannot proceed to the next stage. Giving intermediate problems can help students identify the relationship between the source problem and the target problem, so that the intermediate problem can be used as a bridge between the source problem and the target problem. Keywords: Analogical Reasoning, Fungsion Limit, Intermediate Problems, Mapping
Kemampuan Berpikir Analitis Siswa SMA Pada Pemecahan Masalah Matematika Ditinjau Dari Gaya Kognitif Visualizer dan Verbalizer Nabilla Dihni Amilia; Endah Budi Rahaju
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.768 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p404-418

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir analitis siswa SMA pada pemecahan masalah matematika ditinjau dari gaya kognitif visualizer dan verbalizer, sehingga jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Instrumen dalam penelitian ini yaitu angket (Visualizer and Verbalizer Questionnaire (VVQ)), tes kemampuan matematika, tes berpikir analitis, dan pedoman wawancara. Subjeknya adalah satu siswa bergaya kognitif visualizer dan satu siswa bergaya kognitif verbalizer. Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah tes kemampuan matematika, tes berpikir analitis, dan wawancara. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan metode reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa visualizer dan verbalizer pada tahap memahami masalah melakukan aktivitas kognitif berupa membedakan dan mengorganisasi, pada tahap membuat dan melaksanakan rencana, kedua siswa melakukan aktivitas kognitif berupa mengorganisasi dan memberikan atribut, langkah penyelesaian yang dilakukan kedua siswa sesuai dengan rencana yang disusun, siswa visualizer mengilustrasikan ide penyelesaian dengan panah dan menulisnya secara ringkas, siswa verbalizer menuliskan ide tersebut secara terstruktur dan jelas, pada tahap melihat kembali, siswa visualizer melakukan aktivitas kognitif berupa mengorganisasi dan memberikan atribut, sedangkan siswa verbalizer melakukan aktivitas kognitif berupa memberikan atribut. Kata kunci: Kemampuan, berpikir analitis, pemecahan masalah, visualizer dan verbalizer Abstract This study aims to describe the analytical thinking skills of high school students in solving mathematical problems in terms of visualizer and verbalizer cognitive styles, so the type of research used is descriptive qualitative. Instruments in this research are questionnaire (Visualizer and Verbalizer Questionnaire (VVQ)), mathematical ability test, analytical thinking test, and interview guide. The subject is one student with cognitive visualizer style and one student with cognitive verbalizer style. The data collection techniques used were mathematical ability tests, analytical thinking tests, and interviews. The collected data was analyzed with data reduction, data presentation, and conclusion. The results showed visualizer and verbalizer students at the stage of understanding the problem perform cognitive activities namely distinguishing and organizing, at the stage of making and implementing plans, both students perform cognitive activities namely organizing and assigning attributes, the completion steps were perform by both students according to the plans drawn up, students visualizer illustrates the idea of ​​completion with arrows and writes it briefly, verbalizer students write down the idea in a structured and clear manner, at the stage of looking back, visualizer students perform cognitive activities namely organizing and assigning attributes, while verbalizer students perform cognitive activities namely of giving attributes. Keywords: Ability, analytical thinking, problem-solving, visualizer and verbalizer
KEMAMPUAN BERPIKIR LATERAL SISWA SMP DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA OPEN-ENDED DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SENSING DAN INTUITION Aulidya Annisya Putrian; Ika Kurniasari
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.749 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p513-524

Abstract

Kemampuan berpikir lateral merupakan kemampuan untuk berpikir kreatif dengan menggunakan inspirasi untuk memecahkan suatu masalah dengan sudut pandang yang tidak terduga. Pemberian masalah matematika open ended merupakan cara yang tepat dalam mengetahui kemampuan berpikir lateral siswa karena dapat memunculkan beberapa cara penyelesaian yang berbeda. Salah satu faktor yang mempengaruhi perbedaan kemampuan berpikir siswa adalah gaya belajar, yaitu gaya belajar sensing dan intuition. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir lateral siswa dalam memecahkan masalah matematika open ended ditinjau dari gaya belajar sensing dan intuition dengan subjek penelitian yaitu dua siswa kelas IX di salah satu SMP negeri Surabaya. Pengambilan data dilakukan dengan pemberian angket gaya belajar, tes kemampuan matematika, tes pemecahan masalah, dan pedoman wawancara. Analisis data melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam memecahkan masalah matematika open-ended, siswa dengan gaya belajar sensing dan intuition keduanya dapat menyebutkan informasi yang diketahui dan informasi yang ditanyakan pada soal serta dapat membuat beberapa rencana penyelesaian masalah berdasarkan informasi yang diberikan. Namun siswa dengan gaya belajar sensing tidak dapat menyelesaian masalah sesuai yang direncanakan sebelumnya dan hanya mengecek perhitungannya saja, sehingga tidak melakukan pengecekan kebenaran jawaban. Sedangkan subjek dengan gaya belajar Intuition dapat melaksanakaan penyelesaian masalah sesuai dengan rencana yang disusun dan mengecek kebenaran jawaban. Subjek dengan gaya belajar intuition juga dapat memikirkan metode lain yang tidak umum, yaitu dengan metode grafik
PROSES BERPIKIR SISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA KONTEKSTUAL DITINJAU DARI MYER BRIGSS TYPE INDICATOR Novi Ayu Anggraeni; Endah Budi Rahadju
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.352 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p432-445

Abstract

Perbedaan proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah dapat dipengaruhi oleh tipe kepribadian yaitu Extrovert dan Introvert. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan proses berpikir siswa extrovert dan introvert dalam menyelesaikan masalah matematika kontekstual. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Instrumen yang digunakan yaitu angket tipe kepribadian, Tes Kemampuan Matematika (TKM), Tes Pemecahan Masalah (TPM), dan pedoman wawancara. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas XI SMA dengan kemampuan setara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa exstrovert maupun introvert mampu melakukan semua tahapan proses berpikir dalam menyelesaikan masalah matematika. Siswa exstrovert dan introvert pada saat penerimaan informasi membaca soal dengan cermat. Siswa extrovert membaca cukup sekali, sedangkan siswa introvert membaca berulang kali. Namun pada tahap pengolahan informasi siswa extrovert mengalami kesalahan dalam pemilihan nilai optimum hasil penyelesaian. Siswa introvert dapat melaksanakan rencana dengan merubah permasalahan ke model matematika, mencari titik yang dilalui, menggambar grafik, uji titik, menentukan daerah penyelesaian, metode uji titik pojok dan menemukan hasil penyelesaian dengan benar. Siswa extrovert dapat membuat kesimpulan dari permasalahan yang diberikan meskipun pada lembar jawaban tidak dituliskan, siswa extrovert memeriksa kembali hasil yang dikerjakan dengan membaca dari awal tanpa menghitung kembali. Sedangkan siswa introvert dapat menuliskan kesimpulan yang diperoleh dan memeriksa kembali hasil yang dikerjakan dengan membaca dan menghitung ulang. Hasil penelitian ini menjadi masukan bagi guru agar memperhatikan proses berpikir siswa dengan memberikan soal masalah matematika kontekstual. Kata kunci : proses berpikir, masalah matematika kontekstual, myer brigss type indicator, extrovert dan introvert
PROFIL KEMAMPUAN ABSTRAKSI REFLEKTIF SISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH GEOMETRI DITINJAU DARI GAYA BELAJAR nahdliyah fajriyah; Susanah Susanah
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (823.098 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p458-473

Abstract

Abstraksi reflektif ialah kegiatan penataan kembali secara vertikal konsep matematika yang baru dari konsep matematika yang telah tuntas dipelajari sebelumnya saat kegiatan pembelajaran. Kemampuan abstraksi sangat diperlukan dalam proses pemecahan masalah. Cara siswa untuk menerima informasi yang baru dan proses yang digunakan untuk belajar disebut dengan gaya belajar. Gaya belajar seorang siswa memiliki keterkaitan terhadap kemampuan abstraksinya sementara terdapat tiga tingkatan abstraksi yang salah satunya merupakan abstraksi reflektif, maka dari itu gaya belajar juga mempengaruhi asbtraksi reflektif siswa. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan tentang kemampuan abstraksi reflektif siswa dengan gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik dalam menyelesaikan suatu masalah geometri. Subjek dari penelitian ini merupakan tiga siswa kelas IX yang masing-masing memenuhi gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti, dan instruman pendukung dalam penelitian ini adalah angket gaya belajar, tes kemampuan abstraksi reflektif dalam menyelesaikan masalah geometri, dan pedoman wawancara. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah materi luas tembereng dan juring lingkaran. Hasil yang didapatkan adalah siswa dengan gaya belajar visual dan kinestetik mampu memenuhi semua level kemampuan abstraksi reflektif. Siswa dengan gaya belajar auditori memenuhi semua level kemampuan abstraksi reflektif, namun terdapat kekurangan pada salah satu indikator yaitu menemukan alternatif strategi yang lain untuk menyelesaikan permasalahan. Oleh karena itu, guru diharapkan dapat melatih siswa dengan soal-soal pemecahan masalah yang memiliki tingkat abstraksi reflektif lebih tinggi sehingga dapat meningkatkan kemampuan abstraksi reflektif siswa, serta guru diharapkan dapat membiasakan mengajar dengan model pembelajaran yang beragam karena siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Kata Kunci: Abstraksi Reflektif, Pemecahan Masalah, Gaya Belajar.
ANALISIS KESALAHAN SISWA SMA DALAM MENYELESAIKAN SOAL EKSPONEN Annisa Faradina Rahma; Siti Khabibah
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.564 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p446-457

Abstract

Salah satu materi matematika yang diajarkan di SMA ialah Eksponen. Materi eksponen penting dipelajari karena dibutuhkan sebagai prasyarat materi matematika lainnya, konsep dasar materi ini diberikan pada bangku SMP meski demikian tidak menutup kemungkinan ditemukannya kesalahan pada siswa SMA. Kesalahan yang terjadi diduga karena adanya kesulitan. Untuk perbaikan pembelajaran, kesalahan yang teridentifikasi perlu dianalisis untuk dicari tahu penyebabnya agar dapat diberi tindakan yang sesuai dan meminimalisir ditemukan kesalahan serupa di masa mendatang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan tujuan menganalisis jenis kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal eksponen berdasarkan prosedur Newman serta faktor yang menyebabkan siswa melakukan kesalahan tersebut. Teknik pengambilan data menggunakan metode tes tulis dan wawancara. Tes tulis yang digunakan berupa tes diagnostik materi eksponen. Subjek penelitian 3 siswa dari 31 siswa kelas X IPA 3 SMA Hang Tuah 2 Sidoarjo yang dipilih berdasarkan banyaknya kesalahan yang dilakukan saat tes. Hasil penelitian menunjukkan kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal eksponen yaitu (1) kesalahan membaca soal; (2) kesalahan memahami soal; (3) kesalahan transformasi soal; (4) kesalahan keterampilan proses; (5) kesalahan menuliskan jawaban. Adapun faktor penyebab kesalahan yang ditemukan yakni siswa kurang memahami konsep eksponen, kurang memahami syarat penggunaan sifat eksponen, kesulitan menghadapi soal berbentuk soal cerita, sulit untuk menentukan rumus, siswa jarang menyiapkan bahan belajar di kelas, tidak mengulangi kembali materi yang diperoleh, kurangnya latihan soal, mudah bosan apabila tidak paham materi, dan enggan bertanya saat menemukan kesulitan.
MISCONCEPTION ANALYSIS OF STUDENTS WITH IMPULSIVE-REFLECTIVE COGNITIVE STYLE IN SOLVING PATTERNS OF NUMBERS PROBLEMS Aqila Firda Istinabila; Dini Kinati Fardah
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.11 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.pPDF_525-535

Abstract

In the online learning process since March 2020, many students have experienced misconceptions in solving the questions given by the teacher, including mathematics learning activities. In online learning activities students are required to be able to understand the material quickly with all the limitations that students have so that misconceptions arise in students. This misconception can occur, one of which is influenced by differences in students' cognitive styles. This study aims to analyze students' misconceptions in solving problems related to number pattern material. The analysis was carried out on 1 subject with impulsive cognitive style and 1 subject with reflective cognitive style with the same learning outcomes. This type of research is descriptive research with a qualitative approach. Supporting instruments include the Matching Familiar Figure Test (MFFT) and a written test consisting of 9 multiple choice questions which include sub-materials of arithmetic number series, geometric number series, letter number series, and contextual questions related to PATTERNS OF NUMBERS with 4 answer choices. To analyze students' misconceptions, the Three Tier test method is used, namely the first tier consists of number pattern material questions in the form of multiple choice with 4 answer choices, the second tier is the column for students' reasons for giving answers, and the third tier is a column of students' confidence levels using the CRI method, and continue with the interview. The results showed that students with impulsive cognitive style experienced classificational, correlational, and theoretical misconceptions. Meanwhile, students with reflective cognitive style are correlation misconceptions and theoretical misconceptions. To anticipate the occurrence of misconceptions, teachers should provide variations in the learning process, so that students can focus on the learning process and teachers often check students' understanding of concepts. Keywords: Number pattern, Misconception, Cognitive Style, Three Tier, CRI
DEVELOPMENT OF MATHEMATICAL DIGITAL COMICS WITH ETHNOMATEMATICS APPROACH TO CLASS III ELEMENTARY SCHOOL ON WEIGHT UNIT CONVERSION MATERIAL Sabilla Putri Arliani; Siti Khabibah
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (793.884 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p481-487

Abstract

Technological developments have affected most aspects of human life, including education. The role of technology in education can be found in the development of learning media. One of the difficulties faced by students is connecting the mathematics they get in school with real life. Digital comics with an ethnomathematical approach can be one of the potential learning media to connect school mathematics with the real world. The purpose of this research is to develop and produce a mathematical digital comic with an ethnomathematical approach for converting weight units from g to kg and vice versa for grade III SD which is suitable for use. The method used is ADDIE. The criteria for evaluating digital comics used are valid, practical, and effective. The selection of research subjects was carried out using a purposive sampling technique and the subjects obtained were 20 third grade elementary school students and two media expert validators as well as material experts. The results showed that the digital comics developed met the valid criteria with a validity level of 80.35%, practical with a practicality percentage of 81.87%, and effective because 100% of students passed the KKM. So it can be concluded that the digital comics developed are suitable for use in mathematics learning activities because they meet the criteria of validity, practicality, and effectiveness and are expected to be used by educators as learning media to increase enthusiasm and improve student learning outcomes.
DEVELOPMENT OF STUDENT WORKSHEET ON PROBABILITY WITH REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION APPROACH USING PANDEMIC CONTEXT Dava Imadul Bilad; Rooselyna Ekawati
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.787 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p488-498

Abstract

The condition of education during the pandemic experienced several changes that made it difficult for students to understand the material being taught and made them more passive in learning activities.Therefore, this study aim at developing student worksheet on probability material with realistic mathematics education approach with pandemic context to help students learn the material well and increase student activity in distance learning and make learning activities more meaningful for students because it makes students find their own concepts so that students can better understand the material well. This study based on 4 aspects, namely: validity, practicality, effectiveness, and feasibility. This research was developed following the ADDIE principle (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation) and the subject for this study was 8th grade students. Then this student worksheet was validated by 2 experts and supervised for practicality by 1 expert. The results of developing student worksheets have a validity value of 83.78% and considered as few revisions. Then for the practicality test, it gets a score of 85% and categorized as practical. Then for the learning results, in the pre-test most students have not been able to work on the questions given and in the post-test all students can work on the questions given well so that the success of student worksheets is very high to make students understand the concept. The student satisfaction questionnaire in learning, the average value of 4.8 can be rounded up to 5, which means that students are very satisfied with the learning activities that have been carried out. So, the result of this research is the success of developing learning media on the material of probability that is suitable to be given to students during this pandemic because it can improve student’s understanding of material and make students more active in participating in learning activities. Keywords: Student Worksheet; Realistic Mathematics Education (RME); ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, And Evaluation); Probability.

Page 11 of 34 | Total Record : 337