cover
Contact Name
Evangelista Lus Windyana Palupi
Contact Email
evangelistapalupi@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
mathedunesa@unesa.ac.id
Editorial Address
Gedung C8 lantai 1FMIPA UNESA Ketintang 60231 Surabaya Jawa Timur
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
MATHEdunesa
ISSN : 23019085     EISSN : 26857855     DOI : https://doi.org/10.26740/mathedunesa.v12n1
Core Subject : Education,
MATHEdunesa is a scientific journal of mathematics education published by the Mathematics Department of Faculty of Mathematics and Natural Sciences of Universitas Negeri Surabaya. MATHEdunesa accepts and publishes research articles and book review in the field of Education, which includes: ✅ Development of learning model ✅ Problem solving, creative thinking, and Mathematics Competencies ✅Realistic mathematics education and contextual learning, ✅Innovation of instructional design ✅Learning media development ✅ Assesment and evaluation in Mathematics education ✅ Desain research in Mathematics Education
Articles 325 Documents
Development of Android-Based Edutainment Mathematics Learning Media on Ellipse Material Tuwuh Dwi Putra Wardana; Rooselyna Ekawati
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.42 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p859-867

Abstract

Learning media is a learning aid that act as an intermediary in conveying instructional information which are one of the instruments that determine the success of learning process. The research aim is to produce an edutainment mathematics learning media based android on ellipse materials that is good and decent that can be used in the learning process. The media was developed to attract students' interest in ellipse which is considered difficult by some students The qualification of the media cover three aspects of validity, practical, and effective. This research is developed using ADDIE model which consists of analysis, design, development, implementation, and evaluation. The developed media was conducted with limited trials with the research subjects are grade XI students of SMAN 1 Kedungwaru. The instrument used on this research are validation sheets, questionnaires test of practicality, and students test. Based on the data obtained the result of validity test from the experts stated that the media was categorized as valid, from the questionnaires test of practicality from students the media was categorized as practical, and from the student test result showed that 80% of the students met the completeness limit so the media categorized as effective. The result concluded that the developed media categorized as decent and can be used in learning process. Keywords: ADDIE, android, edutainment, ellips, development, learning media
Kemampuan Pemecahan Masalah Kontekstual Materi Program Linear Siswa SMA Bergaya Kognitif Field Dependent dan Field Independent Nicki Fabasti Asmah; Endah Budi Rahaju
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.046 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.pPDF_720-731

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah adalah kesanggupan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika dengan memenuhi proses menemukan jawaban berdasarkan tahap pemecahan masalah. Masalah yang dipecahkan dapat berupa masalah kontekstual. Kemampuan pemecahan masalah kontekstual siswa dapat dipengaruhi oleh gaya kognitif, yaitu field dependent (FD) dan field independent (FI). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah siswa FD dan FI ketika memecahkan masalah matematika kontekstual materi program linear. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Instrumen yang digunakan yaitu GEFT (Group Embeded Figure Test), Tes Pemecahan Masalah, dan pedoman wawancara. Subjek penelitian adalah 2 siswa SMA kelas XI IPS dengan kemampuan setara. Hasil penelitian ini menunjukkan siswa FD dan FI dapat melakukan 4 tahap pemecahan masalah dalam memecahkan masalah matematika kontekstual pada materi program linear. Siswa FD pada saat memahami masalah telah membaca permasalahan dengan cermat dan dibaca sekali, sedangkan siswa FI membaca berulang kali. Siswa FD dapat menentukan apa yang diketahui, tetapi mereka tidak dapat menentukan apa yang ditanyakan. Sedangkan siswa FI tidak menuliskan apa yang diketahui dan yang ditanyakan dalam permasalahan. Siswa FD dan FI dapat merencanakan penyelesaian permasalahan. Siswa FD dan FI menuliskan langkah pemecahan serta hasil akhir. Siswa FD dan FI dalam pembentukan kesimpulan dapat menjawab permasalahan dengan benar. Siswa FD memastikan langkah yang dilakukan sudah benar dengan memeriksa kembali dan melakukan perhitungan ulang, sedangkan siswa FI memeriksa kembali dengan membaca ulang permasalahan dan melakukan perhitungan ulang. Hasil penelitian ini menjadi masukan bagi guru sebaiknya mengingatkan siswa untuk menuliskan informasi yang ada pada suatu permasalahan dan apa yang ditanyakan.Kata Kunci: kemampuan pemecahan masalah, masalah matematika kontekstual, gaya kognitif, field dependent, field independent.
Profil Berpikir Kritis Siswa dalam Menyelesaikan Soal Higher Order Thinking Skills Ditinjau dari Tingkat Kecemasan Matematika Siti Makrufah; Ismail Ismail
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (942.043 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p868-883

Abstract

Berpikir kritis adalah aktivitas mental individu untuk mengembangkan pengetahuan yang dimiliki dengan mempertimbangkan, mengevaluasi, dan menghubungkan informasi dengan fakta atau informasi lain dari berbagai sumber untuk tujuan membuat keputusan yang rasional. Ada beberapa faktor yang memengaruhi proses berpikir kritis matematis seseorang, salah satunya adalah adanya perbedaan kecemasan matematika. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan profil berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal High Order thinking Skills (HOTS) ditinjau dari tingkat kecemasan matematika. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini dari 2 siswa kelas VIII dengan tingkat kemampuan matematika dan jenis kelamin sama antara lain siswa dengan kecemasan matematika rendah dan siswa dengan kecemasan matematika tinggi. Pengambilan data dilakukan dengan memberikan tes kemampuan matematika, angket kecemasan matematika (AKM), tes pemecahan masalah (TPM), dan wawancara. Selanjutnya data pemecahan masalah yang diperoleh dianalis menggunakan kriteria berpikir kritis menurut Enis yang disingkat dengan FRISCO yaitu Focus (Fokus), Reason (Alasan), Inference (Kesimpulan), Situation (Situasi), Clarity (Kejelasan), dan Overview (Meninjau Kembali). Pada hasil penelitian didapat bahwa siswa yang berkecemasan matematika rendah menunjukkan semua kriteria berpikir kritis Fokus, Reason, Inference, Situation, Clarity, Overview dalam menyelesaikan soal HOTS level menganalisis(C4), level mengevaluasi (C5), sekaligus level mencipta(C6). Namun siswa berkecemasan matematika tinggi menjukkan semua kriteria berpikir kritis Fokus, Reason, Inference, Situation, Clarity, Overview dalam menyelesaikan soal HOTS level menganalisis(C4), menunjukkan kriteria berpikir kritis kritis Focus, Reason, Overview dalam menyelesaikan soal HOTS level mengevaluasi (C5), dan menunjukkan kriteria berpikir kritis kritis Reason saja dalam menyelesaikan soal HOTS level mencipta (C6). Hal ini menunjukkan bahwa siswa berkecemasan matematika rendah memiliki proses berpikir kritis lebih baik dibandingkan siswa berkecemasan matematka tinggi. Kata Kunci : Berpikir Kritis, High Order thinking Skills, Kecemasan Matematika
Students' Mathematical Literacy Processes on PISA-Like Tasks with The Domain of Space and Shape Pradnya Paramitha Solikhah; Endah Budi Rahaju; Nina Rinda Prihartiwi
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.629 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p732-743

Abstract

Mathematical literacy is defined as the ability possessed by an individual in formulating, employing, and interpreting mathematics in a variety of contexts. This research aims to describe the mathematical literacy processes of Junior High School students in solving PISA-like problems on space and shape content. The method in this research used qualitative descriptive. The research subject was students of the ninth grade in SMP Negeri 2 Krembung on Sidoarjo, which consisted of twenty-nine students. The instruments used were test and interview. The results showed that the students’ mathematical literacy was classified as less for the process of formulating. Some students still find many difficulties, such as difficulty in determining the strategy used in solving the problem as well as errors in calculation and drawing conclusion. The students’ mathematical literacy was classified as quite good for the process of employing. Students understand the intent of the problem and know what strategy used, although there were some minor errors in calculation or drawing a conclusion. The students’ mathematical literacy was classified as very lacking in the process of interpreting. Students only guess because students were still unable to understand the meaning of the questions and what strategies were used to solve the given problems to answer questions.
Analisis Kegagalan Siswa SMA dalam Pemecahan Masalah Kontekstual Materi Kesebangunan Dewi Isarotur Rohmahh; Abdul Haris Rosyidi
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.782 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p765-778

Abstract

Pemecahan masalah merupakan aktivitas penting dalam pembelajaran matematika. Masih terdapat siswa yang mengalami kegagalan dalam pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kegagalan siswa dalam pemecahan masalah kontekstual materi kesebangunan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan subjek 4 siswa dari SMA Negeri di Bojonegoro. Subjek penelitian dipilih dari siswa yang mengalami kegagalan di tahapan pemecahan masalah Polya yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan pada tahap memahami masalah siswa gagal dalam menentukan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan soal, siswa gagal dalam menentukan informasi yang cukup untuk mencari yang ditanyakan, gagal memvisualisasikan masalah dengan tepat, dan memberikan argumen pemahamannya yang tidak sesuai dengan soal. Pada tahap merencanakan masalah, siswa gagal dalam mengkaitkan masalah dengan materi matematika, kurang tepat dalam menyebutkan teorema atau definisi yang terkait dengan masalah. Pada tahap menyelesaikan pemecahan masalah siswa menjalankan penyelesaian tidak sesuai dengan rencana yang sudah disusun, menyelesaikan masalah dengan langkah yang kurang tepat, dan gagal membuktikan penyelesaiannya adalah benar. Pada tahap melihat kembali pemecahan masalah siswa gagal menemukan alternatif penyelesaian lain. Ketidakmampuan siswa menemukan konsep atau teorema yang relevan menjadi indikasi bahwa ada masalah dalam menerapkan konsep matematika di kehidupan sehari-hari.
Profil Berpikir Relasional Siswa SMA dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau dari Gaya Belajar Auditori Ana Agustini; Endah Budi Rahaju
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.813 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p794-811

Abstract

Abstrak Berpikir relasional dalam memecahkan masalah matematika merupakan kemampuan berpikir untuk memahami potongan-potongan informasi yang tampak berbeda namun sebenarnya memiliki keterkaitan objek dari informasi yang diketahui pada soal menjadi bentuk simbol dan angka dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya untuk memecahkan masalah matematika. Dalam memecahkan masalah dapat dipengaruhi oleh beberapa hal salah satunya adalah gaya belajar siswa. Dalam penelitian ini gaya belajar yang digunakan berdasarkan cara individu memecahkan masalah berfokus pada subjek penelitian dengan gaya belajar auditori. Gaya belajar auditori yaitu gaya belajar yang mengandalkan indra pendengaran dalam proses mengingat dan menganalisis sebuah informasi yang didapatkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan profil berpikir relasional dalam memecahkan masalah matematika pada siswa SMA dengan gaya belajar auditori. Subjek dari penelitian ini adalah 3 siswa SMA kelas XI yang memiliki gaya belajar auditori dan tuntas dalam menyelesaikan masalah matematika yang diberikan. Berdasarkan hasil analisis data ketiga siswa dengan gaya belajar auditori mampu melaksanakan aktivitas berpikir relasional dalam memecahkan masalah matematika pada tahapan memahami masalah dengan mengidentifikasi unsur penting dalam masalah dan membangun relasi dalam setiap unsur dan antar unsur yang diketahui siswa. Pada tahap membuat rencana dalam pemecahan masalah siswa auditori mampu membangun relasi dalam memilih strategi penyelesaian. Pada tahap melaksanakan strategi yang telah dipilih dalam memecahkan masalah siswa auditori mampu menggunakan aturan untuk memecahkan masalah serta menjelaskan keterkaitan hubungan operasi hitung bilangan, meskipun masih terdapat kesalahan dalam pengerjaan karena kurangnya ketelitian siswa. Pada tahap terakhir siswa auditori belum mampu dalam memeriksa kembali hasil dan tidak melakukan aktivitas berpikir relasional. Kata Kunci: Berpikir Relasional, Masalah Matematika, Gaya Belajar Auditori Abstract Relational thinking in solving mathematical problems is the ability to think to understand pieces of information that look different but actually have object relations from the information known in the problem into the form of symbols and numbers with previous knowledge to solve mathematical problems. In solving problems, it can be influenced by several things, one of which is student learning styles. In this study, the learning style used is based on the way individuals solve problems focusing on research subjects with auditory learning styles. Auditory learning style is a learning style that relies on the sense of hearing in the process of remembering and analyzing the information obtained. This study uses a qualitative descriptive approach that aims to explain the profile of relational thinking in solving mathematical problems in high school students with auditory learning styles. The subjects of this study were 3 high school students in class XI who have an auditory learning style and are thorough in solving the given math problems. Based on the results of data analysis, the three students with auditory learning styles are able to carry out relational thinking activities in solving mathematical problems at the stage of understanding the problem by identifying important elements in the problem and building relationships within each element and between elements. At the stage of making plans in solving problems, auditory students are able to build relationships in choosing resolution strategies. At the stage of implementing the strategies that have been chosen in solving problems, auditory students are able to use rules to solve problems and explain the relationship between numbers, although there are still errors in the work due to the lack of student accuracy. At the last stage, auditory students have not been able to re-examine the results and do not carry out relational thinking activities. Keywords: Relational Thinking, Math Problems, Auditory Learning Style
Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMA dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Ditinjau dari Self-Confidence Anisa Nur Aini; Rini Setianingsih
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.81 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p812-825

Abstract

Kemampuan komunikasi matematis adalah kemampuan siswa dalam menyampaikan ide matematika baik dalam tulisan maupun secara lisan. Kemampuan komunikasi matematis perlu ditumbuhkan dalam diri siswa agar dapat menyampaikan ide dan pemikirannya terhadap suatu konsep tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis siswa SMA dalam menyelesaikan masalah matematika pada materi program linear ditinjau dari self-confidence. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 3 orang siswa dimana subjek diperoleh dari penyebaran angket self-confidence kepada 32 orang siswa kelas XI IPA 5 pada salah satu SMA di Sidoarjo yang dipilih masing-masing satu siswa dengan self-confidence tinggi, sedang, dan rendah. Teknik pengumpulan data menggunakan 2 butir soal tes esai materi program linear, angket self-confidence, dan wawancara. Data yang diperoleh kemudian dianalisis berdasarkan indikator kemampuan komunikasi matematis melalui tiga tahapan yaitu kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan self-confidence tinggi mempunyai kemampuan komunikasi matematis yang tinggi dan mampu memenuhi semua indikator kemampuan komunikasi matematis, sedangkan siswa dengan self-confidence sedang dan rendah memiliki kemampuan komunikasi matematis sedang dan hanya mampu memenuhi dua indikator kemampuan komunikasi matematis dari tiga indikator yang ada. Oleh karena itu, guru diharapkan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa dengan memperbanyak kegiatan diskusi bersama, presentasi, sesi tanya jawab antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa serta memberikan banyak latihan soal kepada siswa agar self-confidence yang dimiliki siswa juga meningkat.
Kemampuan Representasi Matematis Siswa dalam Menyelesaikan Soal Open-Ended Ditinjau dari Self-Concept Putri Hidayah Yonicha Sari; Janet Trineke Manoy
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.87 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p826-836

Abstract

Penelitian ini merupakan analisis deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menguraikan kemampuan representasi matematis siswa dalam menyelesaikan soal open-ended ditinjau dari self-concept siswa. Tiga siswa kelas XI sebagai subjek pada penelitian dipilih dengan metode pemilihan subjek secara purposive sampling. Tes self-concept berbentuk kuesioner, tes kemampuan representasi matematis berupa soal open-ended, serta pedoman wawancara digunakan sebagai instrumen pada penelitian ini. Subjek dipilih pada awal penelitian menggunakan tes self-concept, berikutnya subjek diberikan tes soal open-ended dan selanjutnya dilakukan wawancara. Perolehan data dianalisis melalui metode analisis data dengan langkah pengumpulan informasi, penyajian informasi, serta pengambilan kesimpulan dan verifikasi. Hasil analisis memperlihatkan bahwa subjek dengan kategori self-concept tinggi, yang memiliki pandangan sangat positif terhadap kemampuan yang dimilikinya, mampu memunculkan tiga bentuk representasi pada langkah menyusun rencana penyelesaian yaitu representasi visual, representasi simbolik, dan representasi verbal ketika diberikan soal berbentuk open-ended. Kemudian subjek dengan kategori self-concept sedang yang memiliki pandangan cukup positif terhadap kemampuan yang dimilikinya, mampu memunculkan dua bentuk representasi pada langkah menyusun rencana penyelesaian yaitu representasi visual dan representasi simbolik serta pada langkah melaksanakan rencana penyelesaian yaitu representasi simbolik dan representasi verbal ketika diberikan soal berbentuk open-ended. Sedangkan subjek dengan kategori self-concept rendah yang memiliki pandangan negatif terhadap kemampuan yang dimilikinya, mampu menunjukkan dua bentuk representasi pada langkah menyusun rencana penyelesaian yaitu representasi visual dan representasi simbolik ketika diberikan soal berbentuk open-ended.
Kemampuan Numerasi Siswa MA dalam Menyelesaikan Soal Setara Asesmen Kompetensi Minimum pada Konten Aljabar Afifa Nur Arofa; Ismail Ismail
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.29 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p779-793

Abstract

Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) merupakan sebuah penilaian kompetensi mendasar seperti literasi membaca dan numerasi siswa yang diperlukan dalam kehidupan. Pada penelitian ini akan dibahas tentang kemampuan numerasi yang memuat tiga konteks dan tiga proses kognitif pada konten aljabar. Penelitian dengan pendekatan kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan numerasi siswa dalam menyelesaikan soal yang setara dengan AKM. Subjek penelitian ini yaitu 36 siswa Madrasah Aliyah 1 Pasuruan kelas XI MIA-1 tahun ajaran 2021/2022. Subjek diberikan tes berupa soal setara AKM yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan numerasi yang kemudian diambil sebanyak 3 siswa untuk dilaksanakannya wawancara. Berdasarkan hasil dan wawancara, siswa kemampuan numerasi rendah dapat menentukan prosedur dan fakta dan dapat menyelesaikan permasalahan aljabar yang bersifat rutin dalam konteks personal. Dalam konteks sosial budaya dapat menyebutkan konsep aljabar yang digunakan dan pada konteks saintifik dapat menyebutkan fakta. Siswa kemampuan numerasi sedang dapat memahami fakta dan prosedur pada konteks personal, menyebutkan konsep pada konteks sosial budaya dan dapat meyebutkan fakta pada konteks saintifik, dapat menyelesaikan permasalahan aljabar yang bersifat rutin dalam konteks personal dan sosial budaya serta menyelesaikan masalah aljabar yang bersifat tidak rutin dalam konteks personal. Siswa kemampuan numerasi tinggi dapat menentukan prosedur dan fakta dalam konteks personal, dapat menentukan konsep pada konteks sosial budaya dan dapat menentukan fakta pada konteks saintifik. Dalam masalah yang bersifat rutin, dapat menyelesaikan masalah aljabar dari ketiga konteks sedangkan dalam masalah aljabar yang tidak rutin, siswa dapat menyelesaikan pada konteks personal dan saintifik. Oleh karena itu untuk meningkatkan kesiapan siswa dalam menghadapi AKM disarankan dalam kegiatan belajar mengajar guru memberikan banyak latihan soal yang setara AKM dengan konten aljabar.
Analisis Kemampuan Numerasi Siswa SMA dalam Menyelesaikan Soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Katherina Estherika Anggraini; Rini Setianingsih
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1148.139 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p837-849

Abstract

AKM berfungsi untuk mengukur kompetensi siswa maka soal AKM terdiri dari berbagai konten atau topik, beragam konteks serta beberapa tingkat proses kognitif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk mendeskripsikan kemampuan numerasi siswa SMA dalam meyelesaikan soal AKM. Subjek penelitian ini adalah tiga orang siswa dari kelas X dengan diberikan soal tes AKM dan melakukan wawancara. Hasil penelitian ini yaitu berdasarkan hasil tes soal AKM dari 15 siswa terdapat 11 siswa dengan kemampuan numerasi rendah, tiga siswa dengan kemampuan numerasi sedang, dan satu orang siswa dengan kemampuan numerasi tinggi. Berdasarkan hasil wawancara, siswa dengan kemampuan numerasi rendah pada level pemahaman menentukan informasi dari bacaan dengan tepat, pada level penerapan siswa belum mampu memberikan solusi penyelesaian dari soal, dan pada level penalaran siswa belum mampu menganalisis dan menyelesaikan soal. Siswa dengan kemampuan numerasi sedang pada level pemahaman mendapatkan informasi dari bacaan dengan tepat, pada level penerapan siswa memberikan solusi penyelesaian dari soal, dan pada level penalaran siswa cukup mampu dalam menganalisis dan menyelesaikan soal dan disertai alasan yang tepat. Sedangkan siswa dengan kemampuan numerasi tinggi pada level pemahaman mendapatkan informasi dari bacaan dengan tepat sehingga siswa memahami soal, pada level penerapan siswa memberikan solusi penyelesaian dari soal, dan pada level penalaran siswa mampu menganalisis dan menyelesaikan soal disertai alasan yang tepat. Peneliti menyarankan agar guru dan siswa memperbanyak latihan soal AKM untuk melatih kemampuan numerasi siswa dalam pemahaman, penerapan, dan penalaran siswa agar siswa menjadi terbiasa dalam proses kognitifnya serta mempersiapkan siswa menghadapi soal AKM.