cover
Contact Name
Evangelista Lus Windyana Palupi
Contact Email
evangelistapalupi@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
mathedunesa@unesa.ac.id
Editorial Address
Gedung C8 lantai 1FMIPA UNESA Ketintang 60231 Surabaya Jawa Timur
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
MATHEdunesa
ISSN : 23019085     EISSN : 26857855     DOI : https://doi.org/10.26740/mathedunesa.v12n1
Core Subject : Education,
MATHEdunesa is a scientific journal of mathematics education published by the Mathematics Department of Faculty of Mathematics and Natural Sciences of Universitas Negeri Surabaya. MATHEdunesa accepts and publishes research articles and book review in the field of Education, which includes: ✅ Development of learning model ✅ Problem solving, creative thinking, and Mathematics Competencies ✅Realistic mathematics education and contextual learning, ✅Innovation of instructional design ✅Learning media development ✅ Assesment and evaluation in Mathematics education ✅ Desain research in Mathematics Education
Articles 325 Documents
PROFIL BERPIKIR RELASIONAL DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SMA DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF REFLEKTIF DAN IMPULSIF Delviera Lukita Wardani
MATHEdunesa Vol 9 No 3 (2020): Jurnal Mathedunesa Volume 9 Nomor 3 Tahun 2020
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.737 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v9n3.p552-561

Abstract

Relational thinking is one of the interesting problems in mathematics education, this is motivated by the students low relational thinking ability. The characteristic of relational thinking is that students can think by building relationships from various objects/contexts that are related to each other. This type of research is qualitative descriptive research. The analysis of data in this study was done by reducing MFFT test data, troubleshooting tests and interviews, data presentation, and withdrawal conclusions. The subject of this research is two students grade XI of SMA Negeri 15 Surabaya in 2020/2021 year with trigonometric ratio material. In this research, the way students thinking with relationally can be seen from how students build the relationship of information in identifying problems as a whole because there is a possibility of students writing information in full or not also the different concepts they used. Subjects with a reflective cognitive style redrawed the problem to make it easier to solve the problem, while subjects with an impulsive cognitive style only wrote briefly what was known on the problem. The relational way of thinking of reflective cognitive style subjects is more visible than the impulsive cognitive style subjects. One subject mistakenly used the settlement plan. Both of them checking back on the completion of each answer sheet, but the focus of checking is different. Keywords: Cognitive style, Impulsive, Problem solving, Reflective, Relational thinking
Representasi Matematis Siswa SMA Ditinjau Dari Gaya Kognitif Field Dependent Dan Field Independent Hesti Ayu Ningtiyas
MATHEdunesa Vol 9 No 3 (2020): Jurnal Mathedunesa Volume 9 Nomor 3 Tahun 2020
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.174 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v9n3.p579-588

Abstract

Representasi matematis penting untuk dikuasai siswa, karena membantu siswa untuk mengungkapkan ide-ide yang dimiliki siswa dalam berbagai bentuk representasi. Salah satu hal yang mempengaruhi perbedaan representasi siswa dalam menyelesaikan masalah adalah gaya kognitif siswa. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi matematis siswa SMA ditinjau dari gaya kognitif field dependent dan field independent. Subjek dalam penelitian yaitu dua siswa SMA kelas XI berjenis kelamin laki-laki dan berkemampuan matematika tinggi, yaitu satu siswa dengan gaya kognitif field dependent dan satu siswa dengan gaya kognitif field independent. Metode pengumpulan data diperoleh melalui GEFT (Group Embedded Figures Test), TKM (Tes Kemampuan Matematika), tes representasi matematis, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan subjek dengan gaya kognitif field dependent merepresentasikan ide untuk mengerjakan soal dengan representasi simbol dan verbal. Subjek dengan gaya kognitif field independent merepresentasikan ide untuk mengerjakan soal dengan representasi simbol, visual dan verbal. Representasi simbol dan visual dilihat dari jawaban subjek, untuk representasi verbal berdasarkan penjelasan subjek pada saat wawancara.
Profil Berpikir Geometri Siswa SMP dalam Menyelesaikan Soal Geometri Ditinjau dari Level Berpikir Van Hiele Salma Mu'allimatur Rahmah
MATHEdunesa Vol 9 No 3 (2020): Jurnal Mathedunesa Volume 9 Nomor 3 Tahun 2020
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.525 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v9n3.p562-569

Abstract

Abstrak Berpikir geometris merupakan serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh siswa dalam menyelesaikan soal geometri meliputi visualisasi, konstruksi, dan penalaran. Terdapat perbedaan dalam proses berpikir geometris yang dilakukan para siswa dalam menyelesaikan soal. Salah satu yang mempengaruhi proses berpikir geometris siswa adalah level berpikir Van Hiele. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan profil berpikir geometris siswa dalam menyelesaikan soal geometri ditinjau dari level berpikir Van Hiele. Subjek penelitian ini terdiri dari tiga siswa kelas IX SMP dengan tingkat berpikir Van Hiele yang berbeda yang dipilih berdasarkan hasil tes level berpikir Van Hiele yang dilakukan. Hasil menunjukkan subjek level 0 melakukan kesalahan dalam ketiga aktivitas kognitif berpikir geometris. Subjek level 0 mengkonstruksi objek geometri tidak berdasarkan aturan geometris, melakukan kesalahan dalam memvisualisasikan objek geometri, dan melakukan kesalahan dalam menarik kesimpulan. Subjek level 1 melakukan proses visualisasi dan konstruksi dengan benar, tetapi melakukan kesalahan dalam proses penalaran karena ketidaktelitian dalam perhitungan matematis. Subjek level 2 melakukan proses visualisasi, konstruksi, dan penalaran dengan benar. Kata Kunci: berpikir geometri, level berpikir Van Hiele, soal geometri. Abstract Geometric thinking is a series of activities carried out by students in solving geometric problems including visualization, construction, and reasoning. There are differences in the geometric thinking processes that students do in solving problems. One thing that influences students' geometric thinking process is Van Hiele's level of thinking. This research is a qualitative descriptive study which aims to describe the geometric thinking profile of students in solving geometry problems in terms of Van Hiele's thinking level. The subjects of this study consisted of three students of class IX JHS with different Van Hiele thinking levels who were selected based on the results of the Van Hiele thinking level test conducted. The results showed that level 0 subjects made mistakes in all three cognitive activities of geometric thinking. Level 0 subjects construct geometric objects not based on geometric rules, make mistakes in visualizing geometric objects, and make mistakes in drawing conclusions. Level 1 subjects performed the visualization and construction processes correctly, but made mistakes in the reasoning process due to inaccuracies in mathematical calculations. Level 2 subjects carry out the visualization, construction, and reasoning processes correctly. Keywords: geometric thinking, Van Hiele level’s, geometry problem
PROFIL KOMUNIKASI MATEMATIKA TULIS SISWA DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA BERDASARKAN GAYA KOGNITIF FIELD DEPENDENT DAN FIELD INDEPENDENT Rima Maisyah Ridwanah; Masriyah Masriyah
MATHEdunesa Vol 9 No 3 (2020): Jurnal Mathedunesa Volume 9 Nomor 3 Tahun 2020
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.103 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v9n3.p595-606

Abstract

Kompetensi komunikasi siswa haruslah menjadi fokus utama guru karena termasuk dalam salah satu tujuan kurikulum 2013 dalam pembelajaran matematika. Komunikasi berperan penting dalam pemecahan masalah matematika. Untuk mengomunikasikan pemecahan masalah yang baik, maka dibutuhkan komunikasi matematika dengan baik. Faktor yang mempengaruhi siswa dalam pemecahan masalah salah satu adalah gaya kognitif. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan profil komunikasi matematika tulis siswa dalam pemecahan masalah matematika berdasarkan gaya kognitif field dependent (FD) dan field independent (FI) yang dimiliki siswa. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang dilaksanakan di UPT SMP Negeri 5 Gresik. Penelitian ini menggunakan instrument Tes Kemampuan Matematika (TKM), Tes GEFT, dan Tes Komunikasi Matematika Tulis (TKMT). TKM digunakan untuk memilih subjek penelitian sehingga setiap subjek penelitian memiliki kemampuan matematika tinggi yang setara. Tes GEFT digunakan untuk mengelompokkan siswa dengan gaya kognitif FD dan FI. Sedangkan TKMT berguna untuk mendeskripsikan profil komunikasi matematika tulis siswa dalam pemecahan masalah. Teknik analisis data terdiri dari analisis tes TKM, GEFT, dan TKMT. Ada dua subjek dalam penelitian ini yaitu, satu subjek gaya kognitif field dependent (FD) dan satu subjek gaya kognitif field independent (FI). Dua siswa tersebut diberikan tes komunikasi matematika tulis untuk memperoleh data komunikasi matematika tulis siswa. Pada penelitian ini diperoleh hasil dimana gaya kognitif FI memiliki komunikasi matematika tulis dengan uraian: subjek SFI dalam memahami masalah menuliskan hal-hal yang diketahui serta ditanyakan secara akurat, lengkap, dan lancar. Selanjutnya, subjek SFI membuat rencana penyelesaian dengan menuliskan strategi pemecahan masalah, istilah/notasi, dan membuat gambar atau sketsa secara akurat, lengkap, dan lancar. Dalam tahap melaksanakan rencana penyelesaian, subjek SFI menuliskan tahap-tahap perhitungan dengan akurat, lengkap, dan lancar. Selanjutnya pada tahap memeriksa kembali, kesimpulan dituliskan secara akurat, lengkap, dan lancar oleh subjek SFI. Di sisi lain subjek dengan gaya kognitif FD memiliki komunikasi matematika tulis dengan uraian: Subjek SFD dalam memahami masalah menuliskan hal-hal yang diketahui serta ditanyakan secara akurat, lengkap, dan tidak lancar. Selanjutnya, subjek SFD membuat rencana penyelesaian dengan menuliskan strategi pemecahan masalah secara tidak akurat, tidak lengkap, dan tidak lancar. Sedangkan dalam menuliskan istilah atau notasi dan membuat gambar atau sketsa secara akurat, lengkap, dan lancar. Dalam tahap melaksanakan rencana penyelesaian, subjek SFD menuliskan tahap-tahap perhitungan dengan tidak akurat, lengkap, dan tidak lancar. Selanjutnya pada tahap memeriksa kembali, kesimpulan dituliskan secara tidak akurat, tidak lengkap, dan tidak lancar oleh subjek SFD. Berdasarkan deskripsi dan hasil analisis dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa gaya kognitif field dependent dan field independent dapat mempengaruhi komunikasi tulis siswa dalam pemecahan masalah. Oleh karena itu, penting bagi guru dan siswa untuk mengetahui komunikasi matematika tulis agar dapat meningkatkan kemampuan dan pemahaman dalam pemecahan masalah.
PROFIL KOMUNIKASI MATEMATIKA SISWA DENGAN KECERDASAN LINGUISTIK DALAM MEMECAHKAN MASALAH DITINJAU DARI JENIS KELAMIN Tria Winda Liana
MATHEdunesa Vol 9 No 3 (2020): Jurnal Mathedunesa Volume 9 Nomor 3 Tahun 2020
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.793 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v9n3.p589-594

Abstract

Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan komunikasi matematika siswa dalam memecahkan masalah. Indikator komunikasi matematika dalam pemecahan masalah mengacu pada langkah pemecahan masalah Polya dan Prayitno. Subjek penelitian ini adalah dua siswa yang memiliki kecerdasan linguistik tinggi. Instrumen penelitiannya adalah angket identifikasi kecerdasan linguistik, tes komunikasi matematika dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa laki-laki mampu merumuskan informasi atau hal-hal yang diketahui dan ditanyakan secara tertulis dan lisan, mengungkapkan strategi penyelesaian dan memodelkan situasi dengan menggunakan simbol atau notasi matematika, menyatakan representasi matematika (rumus), menyelesaikan masalah sesuai langkah-langkah penyelesaian, serta menuliskan dan mengungkapkan kesimpulan. Sedangkan, untuk siswa perempuan perbedaannya pada kemampuan menggunakan simbol atau notasi matematika dalam menyelesaikan permasalahan. Kata kunci : komunikasi matematika, kecerdasan linguistik, pemecahan masalah.
PROFIL PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA KONTEKSTUAL SISWA SMP DITINJAU dari KEPRIBADIAN MYER BRIGGS INDICATOR (MBTI) Luthfia Laili Ayu Ns
MATHEdunesa Vol 9 No 3 (2020): Jurnal Mathedunesa Volume 9 Nomor 3 Tahun 2020
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.199 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v9n3.p631-646

Abstract

Seseorang dengan kepribadian yang berbeda maka akan memiliki karakteristik kemampuan yang berbedapula dalam menyelesaikan masalah matematika kontekstual. Terdapat banyak pengelompokan kepribadian,salah satunya kepribadian Myer Briggs Type Indicator (MBTI) yang membagi seseorang dalam 16 tipe.Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan profil pemecahan masalah kontekstual siswa SMP dengan tipekepribadian Introvert-Sensing-Thinking-Judging (ISTJ), Introvert-Sensing-Feeling-Judging (ISFJ),Introvert-iNtuition-Thinking-Judging (INTJ), dan Introvert-iNtuition-Feeling-Judging INFJ. Instrumenyang digunakan dalam penelitian ini adalah Tes Kepribadian MBTI, Tes Kemampuan Matematika (TKM),dan Tes Pemecahan Masalah Kontekstual. Subjek dalam penelitian ini adalah empat siswa kelas VIIIdengan kepribadian ISTJ, ISFJ, INTJ, dan INFJ dengan kemampuan matematika yang setara. Empat subjektersebut diberikan tes pemecahan masalah kontekstual untuk memperoleh data pemecahan masalahkontekstual siswa dengan kepribadian yang ditetapkan peneliti. Hasil tes pemecahan masalah matematikakontekstual dianalisis menggunakan langkah pemecahan masalah Polya. Pada tahap memahami masalahsubjek ISTJ dan ISFJ memperoleh dan menyajikan data sesuai dengan apa yang dilihat oleh inderanyasedangkan subjek INTJ dan INFJ menghubungkan dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya.Pada tahap membuat rencana pemecahan masalah subjek ISTJ dan INFJ melakukan analisa terlebih dahulusebelum mengeksekusikannya sedangkan subjek ISFJ dan INFJ cenderung membayangkan danmerencanakan apa yang menurutnya benar. Pada tahap pelaksanaan rencana subjek ISTJ, ISFJ, INTJ, INFJmelaksanakan rencana penyelesaian yang telah disusun secara sistematis dan runtut. Subjek ISTJ dan INTJmemeriksa kembali dari langkah awal hingga akhir sedangkan subjek ISFJ dan INFJ hanya hitungan akhir.Keempat subjek tersebut dapat menyimpulkan jawaban akhir.
KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS SISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI JENIS KELAMIN Mohamad Imron
MATHEdunesa Vol 9 No 3 (2020): Jurnal Mathedunesa Volume 9 Nomor 3 Tahun 2020
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.924 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v9n3.p621-630

Abstract

Kemampuan koneksi matematis adalah salah satu kemampuan yang diperlukan dalam memecahkan masalah matematika. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan koneksi matematis siswa, di antaranya adalah jenis kelamin. Perbedaan jenis kelamin memungkinkan adanya perbedaan kemampuan koneksi matematis setiap siswa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan koneksi matematis siswa sekolah menengah pertama dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari jenis kelamin. Subjek penelitian terdiri dari dua siswa kelas 9 SMP dengan berjenis kelamin perempuan dan laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa perempuan dan siswa laki-laki memenuhi indikator yang sama yaitu menemukan fakta, prinsip dan konsep matematika konteks di luar matematika, menemukan keterkaitan antar prinsip matematika untuk menyelesaikan masalah, menggunakan koneksi antara fakta, prinsip matematika pada masalah yang diselesaikan, serta menggunakan keterkaitan antar konsep dengan prosedur dan operasi hitung matematika untuk memeriksa kembali.
PEMAHAMAN SISWA SMP TERHADAP KONSEP PEMBAGIAN PECAHAN BERDASAR TUGAS PENGAJUAN SOAL ANALOGIS Erina Aprilia Susanti
MATHEdunesa Vol 9 No 3 (2020): Jurnal Mathedunesa Volume 9 Nomor 3 Tahun 2020
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.649 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v9n3.p607-620

Abstract

Seseorang dikatakan paham konsep bila mampu mengenali konsep tersebut di setiap konteks. Salah satu cara untuk mengeksplorasi pemahaman konsep yaitu dengan pengajuan soal analogis. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pemahaman siswa terhadap konsep pembagian pecahan berdasar tugas pengajuan soal analogis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan subjek tiga siswa SMP kelas VIII. Pemilihan Subjek dilakukan dengan metode variasi maksimal ditentukan berdasarkan ketepatan pengajuan soal. Instrumen penelitian ini adalah wawancara berbasis tes pemahaman konsep. Data dianalisis menggunakan tiga komponen pemahaman konsep yaitu penerjemahan, penafsiran, dan ekstrapolasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemahaman konsep pembagian pecahan siswa SMP dalam tugas pengajuan soal analogis, yaitu pada komponen penerjemahan hanya satu subjek yang mampu menjelaskan konsep pembagian pecahan yang digunakan dalam tugas pengajuan soal. Pada komponen penafsiran semua subjek mampu menyebutkan konsep matematika yang terdapat pada soal, namun tidak ada subjek yang mampu memahami hubungan antara perintah soal dengan jawaban pada contoh soal. Keterkaitan antara perintah soal dengan jawaban contoh soal dapat digunakan dalam penggunaan konsep pada tugas pengajuan soal, tetapi tidak ada subjek yang mampu memahami keterkaitan tersebut karena subjek tidak memiliki pemahaman yang memadai pada materi prasyarat. Pada komponen ekstrapolasi terdapat satu subjek yang mampu mengajukan soal sesuai dengan konteks dan konsep pembagian pecahan, namun satu subjek lainnya mengalami kesalahan pada salah satu tugas pengajuan soal karena tugas pengajuan soal yang dikerjakan tidak sesuai konsep pecahan. Terdapat satu subjek yang tidak memenuhi ketiga komponen pemahaman, hal tersebut karena subjek hanya menulis ulang jawaban contoh soal ke dalam tugas pengajuan soal. Oleh karena itu penting bagi guru untuk melatih kemampuan menggunakan analogi agar pemahaman konsep siswa semakin mendalam mengenai materi yang sedang diajarkan, memberikan tugas pengajuan soal analogi juga membantu guru mengetahui pemahaman siswa pada materi yang sedang diajarkan dan materi yang telah diajarkan sebelumnya. Kata Kunci: Pemahaman Konsep, Pengajuan Soal Analogis, Pembagian Pecahan.
Pengaruh Pembelajaran Pengajuan Masalah Berbantuan GeoGebra Terhadap Pemahaman Konsep Matematika, Berpikir Kritis, dan Penalaran Adaptif Siswa Evan Bagus Armanda Putra
MATHEdunesa Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.04 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n1.p157-161

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran pengajuan masalah berbantuan GeoGebra yang digunakan terhadap pemahaman konsep, berpikir kritis, dan penalaran adaptif pada siswa. Penelitian ini dilakukan pada pokok bahasan, transformasi geometri yaitu pada materi translasi, refleksi, rotasi, dan dilatasi untuk siswa kelas XI IPA 1 SMA Amanatul Ummah Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode Pre-Experimental Design dengan jenis rancangan One Group Pretest-Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 25 siswa dan diberi perlakuan berupa pembelajaran pengajuan masalah berbantuan GeoGebra dengan diberikannya Pretest dan Posttest pada pembelajaran sebelum menggunakan GeoGebra dan setelah menggunakan GeoGebra. Lembar Pretest dan Posttest, lembar observasi aktifitas siswa, dan angket respon siswa digunakan sebagai instrumen dalam penelitian ini. Berdasarkan uji Wilcoxon menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan pada hasil penelitian ini yang berupa peningkatan pada kemampuan pemahaman konsep, berpikir kritis, dan penalaran adaptif siswa. Hasil observasi aktivitas siswa menunjukkan menunjukkan aktivitas siswa yang aktif selama pelaksanaan pembelajaran pengajuan masalah berbantuan GeoGebra. Hasil angket respon siswa menunjukkan respon yang positif terhadap pembelajaran pengajuan masalah berbantuan GeoGebra dari semua aspek. Kata Kunci: Pembelajaran Pengajuan Masalah, Pemahaman Konsep, Berpikir Kritis, Penalaran Adaptif, GeoGebra.
A PENERAPAN BLENDED LEARNING BERBASIS WEB COURSE UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA KELAS VIII PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL Priza Tri setya Wicaksana
MATHEdunesa Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.531 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n1.p10-18

Abstract

In today's millenial era, people should be able to learn anywhere and anytime. In fact, what is meant is to study group or learn individually. But the reality in the field shows that the learning used still applies traditional learning, namely classroom-based learning with teachers as information centers. Teachers are also asked to be able to adapt to current conditions by combining learning with the progress of communication and information technology that is developing today. Learning models, media, and attitudes that support the above statements are blended learning, google classroom application media, and high self-reliance owned by students. The purpose of this research is to improve the learning independence skills of learners through the application of blended learning models. The research instruments used are observation sheets of blended learning methods, observation sheets of student activities, self-reliance questionnaires and student response questionnaires. Data retrieval techniques in this study using observation methods, tests and questionnaires. Based on data analysis obtained on learning devices, normalized gain calculation, quality of blended learning method implementation, and student response questionnaires get excellent results. In the calculation of normalized gain calculations get a score of 0.794 from these results, the independence of students' learning belongs to a high category. From these results, it can be concluded that students are very interested in blended learning methods that have been applied so as to increase the independence of learning of grade VIII students in the two-variable Linear Equation System material.

Page 2 of 33 | Total Record : 325