cover
Contact Name
Evangelista Lus Windyana Palupi
Contact Email
evangelistapalupi@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
mathedunesa@unesa.ac.id
Editorial Address
Gedung C8 lantai 1FMIPA UNESA Ketintang 60231 Surabaya Jawa Timur
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
MATHEdunesa
ISSN : 23019085     EISSN : 26857855     DOI : https://doi.org/10.26740/mathedunesa.v12n1
Core Subject : Education,
MATHEdunesa is a scientific journal of mathematics education published by the Mathematics Department of Faculty of Mathematics and Natural Sciences of Universitas Negeri Surabaya. MATHEdunesa accepts and publishes research articles and book review in the field of Education, which includes: ✅ Development of learning model ✅ Problem solving, creative thinking, and Mathematics Competencies ✅Realistic mathematics education and contextual learning, ✅Innovation of instructional design ✅Learning media development ✅ Assesment and evaluation in Mathematics education ✅ Desain research in Mathematics Education
Articles 325 Documents
Analisis Kesalahan Siswa Dalam Menyelesaikan Permasalahan Matematika Menurut Teori Polya Ditinjau dari Kecemasan Matematika Rizal Fahmi Himawan
MATHEdunesa Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.23 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n1.p1-9

Abstract

Mathematical anxiety is a feeling of panic, helplessness, stiffness, paralysis, and mental disorders that arise in a person when they are asked to solve a mathematical problem thoroughly in everyday life or in academic situations. Mathematical anxiety can have a negative effect on learning ability, application skills, and problem solving abilities. The use of uncommon mathematical problems can encourage the development of critical, creative thinking skills and higher order thinking skills from these students. The purpose of this study was to analyze the types of errors made by VIII grade Junior High School student in solving a problem with Pythagorean material based on Polya's theory with a high level of mathematical anxiety and a low level of mathematical anxiety. This research is a descriptive study using a qualitative approach. Sources of data in this study were 2 VIII grade Junior High School student even semester. There are 3 instruments in this research, namely: mathematics anxiety scale questionnaire, mathematics problem solving test, and interview guide. In this study, the mathematics anxiety scale used was an anxiety scale that was adapted from a scale developed by Mahmood and Khatoon (2011) which was obtained from an adaptation of the Mathematics Anxiety Scale questionnaire. Math problem solving tests are used to find out where students' mistakes are in the process of solving mathematical problems. Interviews are used to find out the reasons and factors that cause students to make mistakes in the process of solving mathematical problems. The results showed that: 1. Grade VIII junior high school students with a high level of mathematics anxiety made mistakes in procedural mistake category in the stages of making plans stage, executing plans stage, and re-checking stage. 2. Grade VIII junior high school students with low mathematical anxiety level made mistakes in conceptual mistake category in the re-checking stage.
PROSES MATEMATISASI SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN MASALAH KONTEKSTUAL DITINJAU DARI KEMAMPUAN MATEMATIKA Iim Mufadilatul Chasanah
MATHEdunesa Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.93 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n1.p69-78

Abstract

Kemampuan matematika yang dimiliki setiap siswa dapat mempengaruhi proses matematisasi siswanya dalam menyelesaikan masalah kontekstual. Dengan mengetahui proses matematisasi yang dilakukan siswa, guru dapat memahami apa yang dibutuhkan siswa dalam menyelesaikan masalah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses matematisasi siswa SMP dalam menyelesaikan masalah kontekstual ditinjau dari kemampuan matematika. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari tiga siswa SMP kelas IX. Data ini diperoleh dari tes kemampuan matematika, tes matematisasi dan tes wawancara. Hasil penelitian proses matematisasi siswa SMP dalam menyelesaikan masalah matematika ditinjau dari kemampuan matematika menunjukkan bahwa siswa dengan kemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah dapat menerjemahkan masalah dunia nyata ke dalam masalah matematika, serta dapat menyelesaikan masalah matematika menggunakan konsep dan keterampilan matematika yang sudah dikuasai. Namun, pada tahap merefleksi dan menvalidasi proses yang sudah dilakukan dan hasil yang sudah didapat, hanya siswa dengan kemampuan matematika tinggi yang dapat melakukannya. Siswa dengan kemampuan matematika sedang tidak mengkritisi model dan batasannya pada tahap merefleksi dan menvalidasi proses yang sudah dilakukan dan hasil yang sudah didapat. Sedangkan siswa dengan kemampuan matematika rendah tidak merefleksi argumen matematis dan tidak menjelaskan hasil, tidak mengomunikasikan proses dan hasil, dan tidak mengkritisi model dan batasannya pada tahap merefleksi dan menvalidasi proses yang sudah dilakukan dan hasil yang sudah didapat. Kata Kunci : Kemampuan Matematika, Proses Matematisasi, Masalah Kontekstual.
KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA SMP DITINJAU BERDASARKAN SELF ESTEEM PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL Efira Dwitama Ananda
MATHEdunesa Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.125 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n1.p45-58

Abstract

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis siswa sekolah menengah pertama yang memiliki tipe self esteem tinggi dan tipe self esteem rendah dalam menyelesaikan masalah Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini terdiri dari dua orang siswa kelas VIII dengan tingkat self esteem tinggi dan tingkat self esteem rendah yang masing-masing memiliki kesamaan jenis kelamin dan memiliki kemampuan matematika yang setara. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan tes tingkat self esteem, tes komunikasi matematis tulis, dan wawancara. Sedangkan, teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kondensasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa keakuratan komunikasi matematis tulis siswa dengan tingkat self esteem rendah, yaitu akurat untuk seluruh tahapan pemecahan masalah, sedangkan kelengkapan komunikasi matematis tulis tidak lengkap untuk seluruh tahapan pemecahan masalah terkecuali dalam tahap memahami masalah dan pada tingkat kelancaran komunikasi matematis tulis lancar untuk seluruh tahapan pemecahan masalah. Keakuratan komunikasi matematis lisan siswa dengan tingkat self esteem rendah,yaitu akurat untuk seluruh tahapan pemecahan masalah, sedangkan kelengkapan komunikasi matematis lisan lengkap pada tahap menyusun rencana penyelesaian masalah namun tidak lengkap pada tahap memahami masalah dan menyelesaikan masalah. Pada tingkat kelancaran komunikasi matematis lisan lancar untuk seluruh tahap pemecahan masalah. Keakuratan komunikasi matematis tulis siswa dengan tingkat self esteem tinggi, yaitu akurat untuk penulisan strategi penyelesaian masalah, penulisan langkah penyelesaian masalah, dan perhitungan. Kelengkapan komunikasi matematis tulis tidak lengkap untuk seluruh tahapan pemecahan masalah, sedangkan kelancaran komunikasi matematis tulis lancar pada tahap memahami masalah dan menuliskan strategi penyelesaian masalah. Kemudian untuk keakuratan komunikasi matematis lisan siswa dengan tingkat self esteem tinggi, yaitu akurat pada tahap memahami masalah, menyebutkan istilah atau notasi matematika, menjelaskan langkah-langkah penyelesaian masalah dan perhitungan. Sedangkan kelengkapan komunikasi matematis lisan siswa lengkap hanya pada tahap memahami masalah, selain pada tahap tersebut tidak lengkap. Kelancaran komunikasi matematis lisan siswa lancar pada tahap memahami masalah, menyelesaikan masalah, dan memeriksa kembali.
Google Classroom Atau Cisco Webex?: Aplikasi Untuk Pembelajaran Daring Pada Mata Kuliah Aljabar Liniear dina chairunnisa; MELA AZIZA
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.358 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p172-180

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran penggunaan Google Classroom dan Cisco Webex dalam pembelajaran daring (online) pada mata kuliah Aljabar Liniear. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Populasi penelitian yaitu mahasiswa/i semester 2B Tadris Matematika. Sampel yang diambil adalah 10 mahasiswa. Pemilihan jumlah sampel berdasarkan tujuan penelitian dengan random sampling dan pertimbangan kondisi pandemi Covid-19 saat ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dokumentasi berupa screnshoot proses pembelajaran daring dan wawancara. Analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa penggunaan Google Classroom dan Cisco Webex dalam pembelajaran daring memiliki kelebihan dan kekurangan nya masing-masing. Pada Google Classroom memiliki kelebihan yaitu bisa menyimpan materi yang dibagikan dosen saat pembelajaran berlangsung. Namun tidak ada fitur audio pada Google Classroom. Cisco Webex lebih memudahkan mahasiswa/i dalam memahami materi Aljabar Liniear. Hal ini disebabkan karena tersedianya sharescreen didalam Cisco Webex yang digunakan dosen ketika menjelaskan materi.
PROFIL PENALARAN MATEMATIS SISWA SMP DALAM PEMECAHAN MASALAH ARITMETIKA SOSIAL BERDASARKAN KEMAMPUAN MATEMATIKA YULIANA DWI RAHMAWATI; Masriyah Masriyah
MATHEdunesa Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.568 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n1.p110-120

Abstract

Mathematical reasoning is the ability to think about mathematical problems, namely by thinking logically about mathematical problems to get conclusions about problem solutions. There are several factors that can affect students' mathematical reasoning, including mathematical abilities. Dissimilarity of students' mathematical abilities allows for dissimilarity in their mathematical reasoning abilities. So, this research intends to describe students' mathematical reasoning abilities in solving social arithmetic problems based on dissimilarity in mathematical abilities. The purpose of this research was to describe qualitative data about the mathematical reasoning abilities of students with high, medium, or low abilities in solving social arithmetic problems. The instrument used was the Mathematical Ability Test to determine the three research subjects, followed by a Problem Solving Test to get qualitative data about students' mathematical reasoning abilities, then interviews to get deeper data that was not obtained through written tests. Thus, the research data were analyzed using mathematical reasoning indicators. From the result of data analysis, it was found that all students understood the problem well. Students with high and medium mathematical abilities are determining and implementing problem solving strategies properly, namely writing down the step for solving them correctly and making accurate conclusions by giving logical argumens at aech step of the solution. However, students with low mathematical abillities have difficulty in determining and implementing problem solving strategies because they do not understand the concept, thus writing the steps to solve the problems incorrectly and not giving accurate conclusions about the correctness of the solution. Keywords: mathematical reasoning, problem solving, mathematical abilities
Penalaran Analogi Siswa SMA dalam Pengajuan Masalah Setelah Solusi Agung Prasetyo
MATHEdunesa Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.392 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n1.p19-31

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penalaran analogi siswa SMA dalam pengajuan masalah setelah solusi. Subjek penelitian terdiri dari 3 siswa terpilih di kelas X SMAN 1 Gresik tahun ajaran 2020/2021 semester ganjil. Subjek dipilih berdasarkan kriteria kemiripan masalah yang diajukan dengan masalah sumber, yaitu: kemiripan permukaan (surface similarity) dan kemiripan struktur (structural similarity). Selanjutnya, dilakukan wawancara untuk menggali informasi mengenai penalaran analogi yang terlibat dalam pengajuan masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dalam mengajukan masalah siswa cenderung mengadaptasi informasi di permukaan maupun struktur masalah sumber. Meskipun ketika mengadaptasi struktur masalah sumber, siswa cenderung memerlukan waktu yang lebih lama atau ia mengetahuinya secara tidak langsung saat memecahkan masalah sumber. Pada fase persiapan, siswa mampu memahami maksud masalah sumber dengan benar. Pada fase inkubasi, siswa cenderung mampu mengidentifikasi informasi di permukaan masalah sumber dengan benar. Sementara itu, struktur masalah sumber dapat diidentifikasi oleh siswa, hanya saja siswa memerlukan waktu yang lebih lama atau ia mengetahuinya secara tidak langsung ketika memecahkan masalah sumber. Pada fase iluminasi, siswa cenderung mengadaptasi informasi di permukaan masalah sumber secara langsung atau mengubah struktur menjadi lebih sederhana. Pada fase verifikasi, siswa cenderung memastikan kebenaran masalah yang diajukan dengan melihat masalah sumber dan pemecahan masalah yang diajukan. Keterampilan siswa dalam mengadaptasi informasi di permukaan maupun struktur masalah sumber mengindikasikan kemiripan masalah yang diajukan dengan masalah sumber, sehingga penalaran analogi membantu siswa dalam mengajuan masalah. Oleh karena itu, guru dapat melatihkan siswa untuk mengajukan masalah berbantuan penalaran analogi. Kata Kunci: Pengajuan Masalah, Penalaran Analogi, Kemiripan Permukaan, Kemiripan Struktural.
Pengembangan E-Comic Matematika Berbasis Pendidikan Matematika Realistik (PMR) Bermuatan Etnomatematika Materi Aritmetika Sosial Aldio Rahmata
MATHEdunesa Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (798.652 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n1.p32-44

Abstract

Pada era generasi Z, dunia pendidikan perlu memanfaatkan teknologi dalam mengembangkan bahan ajar yang menarik dan dapat meningkatkan motivasi siswa. Namun pada kenyataannya masih banyak pendidik yang menggunakan cara konvensional dalam menyampaikan materi pelajaran, sehingga siswa kurang berminat untuk belajar matematika yang sifatnya abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran e-comic matematika berbasis pendidikan matematika realistik (PMR) bermuatan etnomatematika materi aritmetika sosial yang layak digunakan dalam pembelajaran dengan memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif dan analisis data secara kuantitatif. Langkah penelitian pengembangan e-comic matematika diadaptasi dari model ADDIE (Analyze, Design, Develop, Implement, dan Evaluate). Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-comic matematika berbasis pendidikan matematika realistik (PMR) bermuatan etnomatematika materi aritmetika sosial telah mencapai kevalidan 82,95% dengan kategori valid. Kevalidan diperoleh dari hasil penilaian oleh dua validator ahli media dan ahli materi. Kepraktisan e-comic matematika mencapai persentase 84,18% dengan kategori praktis. Kepraktisan diukur dari hasil penilaian angket uji kepraktisan yang dilakukan oleh 12 siswa selaku subjek penelitian. Sedangkan keefektifan e-comic mencapai 83,33% dengan kategori sangat efektif. Keefektifan diukur berdasarkan banyaknya siswa yang mencapai KKM setelah menggunakan e-comic matematika. Sehingga dapat disimpulkan bahwa e-comic matematika berbasis pendidikan matematika realistik (PMR) bermuatan etnomatematika pada materi aritmetika sosial layak digunakan dalam pembelajaran dan diharapkan dapat menjadi referensi sumber belajar oleh pendidik untuk dapat menarik minat serta meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi aritmetika sosial.
PROFILE OF HIGH SCHOOL STUDENTS REFLECTIVE THINKING IN SOLVING ALGEBRA PROBLEMS VIEWED FROM MATHEMATICAL ABILITY Dyah Ayu Puspita Ardani
MATHEdunesa Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.591 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n1.p59-68

Abstract

This study aims to describe students' reflective thinking in solving algebraic problems with different mathematical abilities. This study used reflective thinking components by Surbeck, Han, and Moyer, including reacting, elaborating, and contemplating. This study was descriptive qualitative research that used a qualitative approach. The instruments in this study were mathematical ability tests, mathematical problem-solving tests, and interview guidelines. This study was conducted by selecting three subjects from 31 students of SMAN 1 Pacet with female gender who have high, medium, and low mathematical abilities. This study's results were at the reacting stage; the three students analyzed what was known and asked according to the information provided, analyzed the relationship between what was known and asked, and reasons. At the elaborating stage, the three students were able to analyze the theory used. High and low-ability students have encountered similar questions. Medium ability students admitted that they had never met similar questions but examined the differences. High and medium-ability students explain the results obtained in detail at the contemplating stage, check their results, and make conclusions. Low ability students only explain part of the solution because they cannot find the solution. They try to correct their mistakes but give up, so they do not make conclusions. For low-ability students, the teacher can provide practice questions that trigger reflective thinking to solve math problems correctly and improve their weaknesses. Keywords: reflective thinking, mathematics problems, high school algebra, mathematical ability.
PROSES BERPIKIR SISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA KONTEKSTUAL DITINJAU DARI KEMAMPUAN MATEMATIKA DAN JENIS KELAMIN Aulia Rohmatul Hidayah
MATHEdunesa Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.268 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n1.p121-136

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir siswa dalam memecahkan masalah matematika kontekstual ditinjau dari kemampuan matematika dan jenis kelamin pada materi persamaan linear dua variabel (SPLDV) kelas VIII. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Subjek diambil dari 50 siswa yang diberikan tes kemampuan matematika. Melalui hasil tes, diperoleh enam siswa dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang masing-masing jenis kelamin terdiri dari tiga kategori kemampuan matematika, tinggi, sedang dan rendah sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa siswa laki-laki dan perempuan berkemampuan matematika tinggi melakukan semua tahap proses berpikir, yaitu menerima, menyimpan, mengolah, dan memanggil kembali informasi pada setiap tahap pemecahan masalah. Siswa laki-laki berkemampuan matematika sedang tidak memanggil kembali informasi saat memahami masalah, tidak mengolah informasi saat melaksanakan rencana penyelesaian, dan tidak melakukan tahap memeriksa kembali. Sedangkan siswa perempuan tidak memanggil kembali informasi saat memahami masalah dan tidak mengolah informasi pada tahap memeriksa kembali. Siswa laki-laki berkemampuan matematika rendah saat memahami masalah melakukan proses menerima, menyimpan, mengolah, dan memanggil kembali informasi, dan pada tahap memeriksa kembali melakukan proses memanggil kembali informasi . Sedangan siswa perempuan tidak memanggil kembali informasi saat memahami masalah, dan tidak mengolah informasi saat merencakan penyelesaian. Urutan tahapan dan proses berpikir yang dilakukan masing-masing siswa berbeda. Dengan adanya perbedaan tersebut, guru diharapkan dapat mengenali proses berpikir dan urutan yang dilakukan siswa serta dapat menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan proses berpikir siswa pada masing-masing kategori kemampuan matematika dan jenis kelamin, sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematika. Kata Kunci: Proses Berpikir, Pemecahan Masalah Kontekstual, Kemampuan matematika, Jenis Kelamin
Penalaran Aljabar Siswa SMP dalam Menyelesaikan Masalah SPLDV Ditinjau dari Gaya Kognitif Visualizer dan Verbalizer Puspita Anggraini Setyaningrum
MATHEdunesa Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.484 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n1.p79-94

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penalaran aljabar siswa SMP dalam menyelesaikan masalah SPLDV ditinjau dari gaya kognitif visualizer (object imagery dan spatial imagery) dan verbalizer. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini terdiri dari tiga subjek kelas IX C SMP N 5 Ponorogo dengan jenis kelamin perempuan, kemampuan matematika berkategori tinggi, dan masing-masing bergaya kognitif object imagery (OI), spatial imagery (SI), dan verbalizer (V). Instrumen penelitian yang digunakan yaitu tes gaya kognitif OSIVQ, tes kemampuan matematika (TKM), tes pemecahan masalah (TPM), dan pedoman wawancara. Hasil penelitian ini, semua subjek menunjukkan penalaran aljabarnya pada tahap specializing, dengan menentukan informasi yang diketahui dan hal yang ditanyakan secara lengkap. Namun, OI tidak memahami maksud dari salah satu pertanyaan dalam TPM yaitu tentang cara mengecek kembali penyelesaian dengan metode penyelesaian SPLDV yang berbeda. Pada tahap conjecturing, semua subjek menentukan permisalan variabel dari apa yang diketahui. Namun, hanya SI dan V yang dapat menentukan rencana penggunaan metode eliminasi-substitusi untuk menyelesaikan masalah SPLDV. Pada tahap generalizing, hanya SI dan V pula yang menentukan penyelesaian SPLDV dengan metode eliminasi-substitusi. Meskipun demikian, seluruh subjek mampu menyusun model matematika dari soal yang diberikan dan melakukan substitusi dari nilai yang diperoleh ke model matematika yang ditanyakan. Pada tahap justifiying, hanya SI yang menentukan penyelesaian masalah SPLDV dengan metode yang berbeda yaitu metode substitusi, namun terdapat kesalahan perhitungan yang disebabkan oleh faktor ketidaktelitian, sehingga menyebabkan perbedaan hasil. Selain itu, semua subjek dapat menyimpulkan hasil dari empat pertanyaan saja dalam TPM tentang penentuan harga paket dengan kalimat yang runtut. Kata Kunci: penalaran aljabar, SPLDV, object imagery, spatial imagery, verbalizer.

Page 3 of 33 | Total Record : 325