cover
Contact Name
Evangelista Lus Windyana Palupi
Contact Email
evangelistapalupi@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
mathedunesa@unesa.ac.id
Editorial Address
Gedung C8 lantai 1FMIPA UNESA Ketintang 60231 Surabaya Jawa Timur
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
MATHEdunesa
ISSN : 23019085     EISSN : 26857855     DOI : https://doi.org/10.26740/mathedunesa.v12n1
Core Subject : Education,
MATHEdunesa is a scientific journal of mathematics education published by the Mathematics Department of Faculty of Mathematics and Natural Sciences of Universitas Negeri Surabaya. MATHEdunesa accepts and publishes research articles and book review in the field of Education, which includes: ✅ Development of learning model ✅ Problem solving, creative thinking, and Mathematics Competencies ✅Realistic mathematics education and contextual learning, ✅Innovation of instructional design ✅Learning media development ✅ Assesment and evaluation in Mathematics education ✅ Desain research in Mathematics Education
Articles 325 Documents
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN DARING PADA MATERI PERSAMAAN DAN FUNGSI KUADRAT Rizcha Handini Setiani
MATHEdunesa Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.88 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n1.p137-146

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran daring pada materi persamaan dan fungsi kuadrat. Keefektifan pembelajaran ditinjau dari empat aspek, yakni: kegiatan guru, kegiatan peserta didik, ketuntasan belajar peserta didik, dan reaksi peserta didik terhadap pembelajaran. Suatu pembelajaran dikatakan efektif jika paling sedikit tiga dari empat aspek di atas terpenuhi, dengan ketentuan aspek ketuntasan belajar peserta didik terpenuhi. Learning Management System (LMS) yang digunakan untuk penelitian ini adalah Google Meet, Google Classroom, dan Google Jamboard. Penelitian ini ialah penelitian deskriptif kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini yakni peserta didik kelas XI Teknik Bisnis Sepeda Motor (TBSM) 2 yang terdiri dari 35 peserta didik yang diambil secara acak. Setelah penelitian ini dilakukan maka dapat disimpulkan pembelajaran daring pada materi persamaan dan fungsi kuadrat dikatakan tidak efektif karena tidak tuntasnya hasil belajar peserta didik dan kurang positifnya reaksi peserta didik terhadap pembelajaran. Perihal ini diakibatkan bermacam aspek, antara lain minimnya uraian yang komprehensif serta sederhana dari guru, rendahnya aspek afektif serta psikomotorik pada pembelajaran, sinyal internet, rendahnya atensi peserta didik terhadap pembelajaran daring, serta pembelajaran daring belum diterapkan sepenuhnya di sekolah. Kata Kunci : Efektivitas, Pembelajaran Daring.
Proses Berpikir Matematis Siswa dalam Menyelesaikan Soal PISA Kategori HOTS dan Scaffoldingnya Maya Firdaustita Hawai
MATHEdunesa Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.303 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n1.p95-109

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal PISA kategori HOTS beserta scaffoldingnya. Proses berpikir matematis siswa ditinjau dari fase berpikir matematis yang dikembangkan oleh Mason, dkk. Pemberian scaffolding berdasarkan level scaffolding Anghileri. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah 3 siswa kelas IX yang dipilih dari 31 siswa. Sebanyak 31 siswa mengerjakan tes kemampuan matematika. Selanjutnya dipilih 3 siswa yang terdiri dari satu siswa berkemampuan matematika tinggi, satu siswa berkemampuan matematika sedang dan satu siswa berkemampuan matematika rendah. Selanjutnya subjek terpilih diberi tes yang terdiri dari 3 soal PISA kategori HOTS dan dilakukan wawancara serta pemberian scaffolding. Scaffolding diberikan ketika siswa mengalami stuck pada proses berpikir matematisnya. Hasil penelitian menunjukan: (1) Proses berpikir matematis siswa berkemampuan tinggi dalam menyelesaikan soal nomor 1 dimulai dengan fase entry dengan memenuhi aspek know, want, dan introduce, dilanjutkan dengan fase attack dengan melalui aspek try, maybe, dan why. Proses berpikir matematis siswa berkemampuan tinggi dalam menyelesaikan soal nomor 2 dimulai dengan fase entry dengan melalui aspek know, want, dan introduce, dilanjutkan dengan fase attack dengan melalui aspek try, maybe, dan why. Kemudian dilanjutkan dengan fase review dengan memenuhi aspek check, reflect, dan extand. Proses berpikir matematis siswa berkemampuan matematika tinggi dalam menyelesaikan soal nomor 3 dimulai dengan fase entry dengan melalui aspek know, want, dan introduce, dilanjutkan dengan fase attack dengan melalui aspek try dan maybe kemudian fase review dengan memenuhi aspek check, reflect, dan extand dan berulang dengan fase attack. (2) Proses berpikir matematis siswa berkemampuan sedang dalam menyelesaikan soal nomor 1 dimulai dengan fase entry melalui aspek know, want, dan introduce, dilanjutkan dengan fase attack dengan melalui aspek try, maybe, dan why. Proses berpikir matematis siswa berkemampuan matematika sedang dalam menyelesaikan soal nomor 2 dan 3 dimulai dimulai dengan fase entry melalui aspek know, want, dan introduce, dilanjutkan dengan fase attack dengan melalui aspek try dan maybe(3) Proses berpikir matematis siswa berkemampuan matematika rendah dalam menyelesaikan soal nomor 1 dimulai dan berakhir pada fase entry dengan memenuhi aspek know dan want. Dalam menyelesaikan soal nomor 2 dan 3, proses berpikir matematis siswa berkemampuan matematika rendah dimulai pada fase entry dengan memenuhi aspek know dan want. Proses ini berakhir pada fase attack dengan memenuhi try. (4) Setelah pemberian scaffolding, siswa berkemampuan tinggi, siswa berkemampuan sedang, dan siswa berkemampuan rendah memenuhi fase berpikir matematis dan menyelesaikan soal PISA kategori HOTS dengan benar. Kata kunci: berpikir matematis, HOTS, kemampuan matematika, PISA, scaffolding.
NUMBER SENSE SISWA PADA MATERI EKSPONEN DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF REFLEKTIF-IMPULSIF Firdausin Nuzula; Endah Budi Rahaju
MATHEdunesa Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.688 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n1.p147-156

Abstract

Number sense berperan penting dalam kehidupan sehari-hari yang dapat diperoleh dari pengalaman belajar sejak usia dini. Number sense merupakan kemampuan seseorang dalam memahami bilangan dan operasinya serta menggunakannya untuk menyelesaikan masalah secara fleksibel. Setiap individu memiliki number sense yang berbeda, salah satu penyebabnya adalah gaya kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan number sense siswa pada materi eksponen ditinjau berdasarkan gaya kognitif reflektif dan impulsif. Subjek dalam penelitian ini adalah satu siswa bergaya kognitif reflektif dan satu siswa bergaya kognitif impulsif kelas X dengan peminatan Ilmu Pengetahuan Alam berjenis kelamin sama dan berkemampuan matematika setara. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi Tes Gaya Kognitif (TGK), Tes Kemampuan Matematika (TKM), Tes Number Sense (TNS), dan pedoman wawancara. Berdasarkan hasil penelitian, subjek reflektif dan impulsif mampu menjelaskan definisi eksponen akan tetapi subjek impulsif tidak mengetahui hubungan bentuk akar dengan eksponen. Kedua subjek mampu mengubah bentuk eksponen dengan nilai ekuivalen. Subjek reflektif mampu menggunakan sifat perkalian, pembagian, dan perpangkatan eksponen. Sedangkan subjek impulsif dapat menggunakan sifat perkalian dan perpangkatan eksponen meskipun membuat beberapa kesalahan. Subjek reflektif dan impulsif menggunakan metode perhitungan mental dan kertas. Subjek reflektif mampu memberi alternatif lain penyelesaian TNS, namun tidak dengan subjek impulsif. Subjek reflektif mengecek kembali jawabannya, sedangkan subjek impulsif tidak mengecek kembali padahal ia telah melakukan beberapa ketidaktelitian. Kata Kunci: number sense, reflektif, impulsif, eksponen.
Scaffolding Sesuai Gaya Belajar Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMP dalam Menyelesaikan Soal HOTS Firnanda Muharrima; Janet Trineke Manoy
MATHEdunesa Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.434 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n1.p162-171

Abstract

Kemampuan matematika siswa Indonesia pada PISA menempati peringkat ke 72 dari total 78 negara, hal ini menunjukkan bahwa siswa Indonesia belum mampu menyelesaikan soal berupa masalah yang memerlukan keterampilan berpikir tingkat tinggi diantaranya keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskrispikan kemampuan berpikir kreatif siswa SMP yang diberikan scaffolding sesuai gaya belajar dalam menyelesaikan soal HOTS (High Order Thinking Skills) materi kesebangunan dan kekongruenan. Subjek penelitian diambil dari 3 siswa kelas 9 SMP Negeri 31 Surabaya, dimana setiap siswa mewakili gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Teknik pengumpulan data menggunakan tes gaya belajar, tes kemampuan berpikir kreatif, dan wawancara. Scaffolding diberikan kepada siswa yang tidak kreatif atau tidak mampu menyelesaikan Tes Kemampuan Berpikir Kreatif (TKBK I). Setelah diberikan scaffolding sesuai gaya belajar, subjek dapat menyelesaikan TKBK I, TKBK II, serta menggunakan cara lain yang berbeda. Kemampuan berpikir kreatif matematis subjek dengan gaya belajar kinestetik meningkat dari tidak kreatif menjeadi cukup kreatif, subjek dengan gaya belajar audio dan visual meningkat dari tidak kreatif menjadi kreatif. Pada proses pemberian scaffolding, subjek dengan gaya belajar visual dan audio lebih cepat menerima dan memahami bantuan dari peneliti, sedangkan subjek dengan gaya belajar kinestetik membutuhkan waktu yang lebih lama dan penjelasan yang lebih rinci. Disimpulkan bahwa scaffolding sesuai gaya belajar dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa.
Eksplorasi Berpikir Kritis Siswa dalam Aktivitas Collaborative Problem Solving Pada Penerapan Barisan dan Deret Siti Munawaroh; Tatag Yuli Eko Siswono
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.267 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.pPDF_181-188

Abstract

Berpikir kritis penting dimiliki untuk bersaing di abad ke-21. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi berpikir kritis siswa dalam aktivitas collaborative problem solving pada penerapan barisan dan deret. Pendekatan penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif bersifat eksploratif. Subjek terdiri dari siswa kelas XII MIPA 3 di SMAN 1 Balongpanggang dengan satu kelompok terdiri dari dua siswa dengan kriteria pasangan kolaborasi berpikir kritis tinggi dan rendah, sedang dan rendah, serta berpikir kritis tinggi dan sedang. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu tes berpikir kritis dalam collaborative problem solving dan wawancara yang dianalisis dengan reduksi data, penyajian data dan penyimpulan. Data yang diperoleh akan dianalisis berdasarkan indikator berpikir kritis dalam collaborative problem solving. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa berpikir kritis siswa dalam Collaborative problem solving terkait penerapan barisan dan deret pada pasangan kolaborasi berpikir kritis tinggi dan rendah dapat melewati indikator identifikasi, analisis dan evaluasi. Sedangkan berpikir kritis siswa dalam Collaborative problem solving terkait penerapan barisan dan deret pada pasangan kolaborasi berpikir kritis sedang dan rendah tidak dapat melewati analisis dan evaluasi. Kata Kunci: berpikir kritis, collaborative problem solving, barisan dan deret
PROFILE OF STUDENTS’ ANALOGICAL REASONING IN SOLVING MATHEMATICS PROBLEMS: A STUDY BASED ON SELF-REGULATED LEARNING Mar'atus Solehah; Masriyah Masriyah
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.208 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p220-229

Abstract

Analogical reasoning is an important ability for students related to reasoning activities by thinking carefully about the regularity of patterns found in mathematics. One of the factors that influence analogical reasoning is self-regulated learning, which shows the ability of the student to analyze, take strategies, and the ability to control their learning environment. This research aims to describe students’ analogical reasoning in solving mathematics problems based on self-regulated learning. The subjects were one student with low self-regulated learning and one student with high self-regulated learning. The research method used is descriptive qualitative, and data were obtained through analogical problem-solving tests and interviews. Subjects were chosen based on the questionnaire instruments’ categorization regarding the student's self-regulated learning and the mathematical ability test instruments. The results of this study were (1) Analogical reasoning of a student with low self-regulated learning: passed through the stages of structuring, mapping, and applying. At the structuring, the student identified all the information completely, but did not understand the problem correctly and could found the relationship between the source problem and the target problem. At the mapping stage, the mapping process only appears in the student’s mind. At the applying stage, not completely mentioned all the possible solutions to the given problems. Meanwhile, (2) Analogical reasoning of a student with high self-regulated learning passed all the analogical reasoning stages of structuring, mapping, applying, and verifying. At the structuring, the student identified all the information completely and understand the problem. At the mapping stage, the student built a new mathematical model for the target problem. At the applying, the student mentioned all the possible solutions correctly. And student did the verification. Keywords: analogical reasoning, self-regulated learning, problem-solving
Development of Interactive Module Based on Realistic Mathematics Education for the Material of Numbers Haqqi Hidayatullah; Rooselyna Ekawati
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.804 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p200-205

Abstract

During the Covid 19 pandemic, which required distance or online learning makes learning material difficult for students to understand, especially number material in junior high schools. One of the ways that teachers can use to facilitate students in learning is by taking approaches, one of which is the Realistic Mathematics Education (RME) approach. To support online learning where students can study independently with teacher guidance so that learning media is very important. One of the learning media developed is an interactive module based RME. The purpose of this research is to describe how the process of developing interactive modules based on realistic mathematics education on numbers and how the results of developing interactive modules are measured from the aspects of validity, practicality, and effectiveness as an alternative learning media. This study used research and development methods, the model used in this research was ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). The subjects of this study were 15 students in grade 7 junior high school. The test results showed that the module is valid with a percentage of 76,13% valid, from teachers 92,49% practical, from students 86,33% practical, and 88,66% effectiveness. The uniqueness of this interactive module is that it has interactive features such as videos, practice questions, and related learning media. Based on the research conducted, the interactive modules can be said to be a good mathematics learning medium.
ANALYSIS OF STUDENT'S MATHEMATICS REPRESENTATION IN SOLVING MATHEMATICS PROBLEMS BASED ON SPATIAL COGNITIVE STYLE Majidatul Himmah; Endah Budi Rahaju
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.645 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.pPDF_189-199

Abstract

Mathematical representation is important to be trained in learning so that students can express ideas in obtaining a solution to a problem. This study aims to describe the mathematics representation of students in solving mathematics problems based on spatial cognitive style. This research is a descriptive research with a qualitative approach. The subjects of this study were three students of class XI MA Miftahul Qulub Pamekasan consisting of female gender students with equal mathematical abilities, namely all hig, and having different levels of spatial cognitive style, namely high, medium, and low. The instruments used in this study were spatial cognitive style tests, math problem solving tests, and interview guides. The results of this study indicate that (1) Students with a high spatial cognitive style understand the problem by presenting the information on the questions with visual representations in the form of tables and mathematical expressions of mathematical inequalities; planning problem solving using representations of words; carry out problem-solving plans using representations of mathematical expressions in calculations and visual representations in graphical form; checking again using representations of mathematical expressions, word representations, and visual representations. (2) Students with medium spatial cognitive style understand the problem by presenting the information on the questions with a visual representation in the form of tables and mathematical expressions of mathematical inequalities; planning problem solving using representations of words; carry out problem-solving plans using representations of mathematical expressions in calculations and visual representations in graphical form; checking again using representations of mathematical expressions and verbal representations but have not been able to provide conclusions. (3) Students with low spatial cognitive style understand the problem by presenting some of the information on the problem with a visual representation in the form of tables and mathematical expressions of mathematical inequalities; planning problem solving using representations of words; carry out problem-solving plans with representations of mathematical expressions; however, unable to checking again. Students with high and medium spatial cognitive styles can solve problem solving problems, but have different representational tendencies, while students with low spatial cognitive styles cannot solve problem solving problems. The results of this study can be a reference for teachers to pay attention to students' spatial cognitive styles in the learning process so that it is easier for students to understand the material.
Kreativitas Siswa dalam Memecahkan Soal HOTS (High Order Thinking Skills) Berdasarkan Tingkat Kemampuan Matematika Chyntia Dewi Puspita Rini; Pradnyo Wijayanti
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (906.801 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p238-253

Abstract

Kreativitas adalah suatu kemampuan untuk menciptakan ide baru dengan memodifikasi, mongkombinasikan, atau menggunakan kembali ide yang sudah ada sebelumnya. Komponen dari kreativitas yaitu kefasihan, keluwesan, dan kebaruan. Tujuan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan kreativitas siswa dengan kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah dalam menyelesaikan soal matematika HOTS. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah 32 siswa kelas XI SMAN Bojonegoro yang dipilih 6 siswa sebagai subjek penelitian dengan acuan hasil nilai UTS dipilih 2 siswa dengan nilai tertinggi, 2 siswa dengan nilai sedang, dan 2 siswa dengan nilai terendah. Data penelitian diperoleh dari tugas pemecahan masalah dan wawancara. Hasil dan penelitian ini siswa berkemampuan matematika tinggi dalam menyelesaikan soal matematika HOTS pada komponen kreativitas kefasihan dapat menemukan 5 jawaban dan pada komponen fleksibilitas serta kebaruan dapat menemukan 3 cara yang berbeda dan salah satu cara yang digunakannya tidak digunakan oleh siswa yang lainnya. Tetapi komponen kebaruan tidak dicapai oleh salah satu siswa. Siswa berkemampuan matematika sedang pada komponen kefasihan dan fleksibilitas dapat menyelesaikan dengan satu cara tetapi menggunakan metode yang berbeda. Komponen fleksibilitas tidak dicapai oleh salah satu siswa berkemampuan sedang karena hanya dapat memberikan satu jawaban dengan satu cara. Pada komponen kebaruan siswa tidak dapat memberikan cara yang berbeda dan unik. Siswa berkemampuan matematika rendah pada komponen kefasihan dapat menemukan satu jawaban dengan satu cara serta lancar dalam menyampaikan idenya, pada komponen fleksibilitas tidak ada siswa yang dapat memberikan cara yang berbeda. Pada komponen kebaruan tidak terdapat keunikan pada jawaban kedua siswa berkemampuan rendah. Kata Kunci: Kreativitas, HOTS, Tingkat kemampuan matematika
Kemampuan Berpikir Lateral Siswa SMP Dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Ditinjau dari Perbedaan Jenis Kelamin Siti Ulin Nikmah; Endah Budi Rahaju
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.997 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p206-219

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir lateral siswa SMP dalam menyelesaikan masalah matematika ditinjau dari perbedaan jenis kelamin. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Untuk itu peneliti memilih siswa kelas VIII-1 SMPN 4 Waru sebagai subjek penelitian. Dua subjek terpilih yaitu satu subjek laki – laki dan satu subjek perempuan melalui tes kemampuan matematika yang memiliki kemampuan matematika tinggi dan komunikasi yang baik berdasarkan hasil konsultasi dengan guru pengajar. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes kemampuan matematika, tes pemecahan masalah, dan wawancara. Kemampuan berpikir lateral diperoleh melalui analisis hasil tes pemecahan masalah dan wawancara terhadap dua orang subjek terpilih mengenai tes pemecahan masalah yang telah diselesaikan. Hasilnya adalah terdapat perbedaan antara kemampuan berpikir lateral siswa laki – laki dengan perempuan. Perbedaan keduanya yaitu tampak ketika mereka melakukan penyelesaian terhadap masalah dan cara mereka berpikir menyelesaikan masalah. Kemampuan berpikir lateral siswa laki – laki yaitu mampu memodelkan soal, menuliskan permasalahan dengan 3 penyelesaian berbeda, dan lebih cepat menemukan ide atau langkah penyelesaian suatu permasalahan, serta banyak ide untuk mencari solusi penyelesaian. Sedangkan kemampuan berpikir lateral siswa perempuan yaitu mampu memodelkan soal, mengerti variabel, menuliskan permasalahan dengan 2 penyelesaian berbeda, dan membaca berulang kali untuk bisa menyelesaikan permasalahan atau menemukan ide penyelesaian suatu permasalahan, serta lebih teliti dalam proses penyelesaian. Pada penelitian ini siswa laki – laki cenderung lebih unggul dalam menyelesaikan masalah matematika dibandingkan siswa perempuan. Sedangkan siswa perempuan lebih teliti dalam proses penyelesaian dan perhitungan. Berdasarkan hasil penelitian, guru dalam melakukan pembelajaran di kelas perlu melatihkan pemecahan masalah dengan memperhatikan perbedaan kemampuan berpikir lateral siswanya terutama dalam kelas yang heterogen jenis kelaminnyaKata Kunci: Berpikir lateral, menyelesaikan masalah, perbedaan jenis kelamin.

Page 4 of 33 | Total Record : 325