cover
Contact Name
Evangelista Lus Windyana Palupi
Contact Email
evangelistapalupi@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
mathedunesa@unesa.ac.id
Editorial Address
Gedung C8 lantai 1FMIPA UNESA Ketintang 60231 Surabaya Jawa Timur
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
MATHEdunesa
ISSN : 23019085     EISSN : 26857855     DOI : https://doi.org/10.26740/mathedunesa.v12n1
Core Subject : Education,
MATHEdunesa is a scientific journal of mathematics education published by the Mathematics Department of Faculty of Mathematics and Natural Sciences of Universitas Negeri Surabaya. MATHEdunesa accepts and publishes research articles and book review in the field of Education, which includes: ✅ Development of learning model ✅ Problem solving, creative thinking, and Mathematics Competencies ✅Realistic mathematics education and contextual learning, ✅Innovation of instructional design ✅Learning media development ✅ Assesment and evaluation in Mathematics education ✅ Desain research in Mathematics Education
Articles 325 Documents
Komunikasi Matematika Tulis Siswa dalam Mengajukan Masalah Matematika Konteks Pandemi Covid-19 Setia Putri Ayu Ramadani; Tatag Yuli Eko Siswono
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.837 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p230-237

Abstract

Komunikasi merupakan hal penting dalam pembelajaran. Salah satu cara untuk mengembangkan komunikasi matematika siswa yaitu melalui pengajuan masalah. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematika tulis siswa dalam mengajukan masalah matematika konteks pandemi Covid-19. Konteks Covid-19 dalam penelitian ini diaplikasikan dalam soal yang digunakan untuk tes pengajuan masalah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan dua subjek yang terpilih yaitu bisa mengajukan masalah dan menyelesikan masalah, bisa mengajukan masalah dan tidak bisa menyelesaikan masalah. Subjek mengerjakan Tes Pengajuan Masalah, kemudian hasil dianalisis berdasarkan indikator komunikasi matematika tulis siswa dalam mengajukan masalah matematika yaitu keakuratan, kelengkapan, dan kelancaran. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa siswa yang bisa mengajukan dan meyelesaikan masalah memenuhi indikator keakuratan, kelengkapan, dan kelancaran karena siswa mampu menuliskan hal yang relevan dengan masalah, menuliskan informasi yang diperoleh secara lengkap, menuliskan langkah-langkah dan hasil dengan tepat, menyebutkan rumus dengan tepat serta tepat waktu dalam mengerjakan. Siswa yang bisa mengajukan dan tidak bisa menyelesaikan masalah memenuhi indikator kelancaran, tetapi tidak akurat dan tidak lengkap karena siswa mampu menuliskan hal yang relevan dengan masalah, tidak dapat menuliskan informasi yang diperoleh, menuliskan langkah-langkah perhitungan, tetapi hasil tidak tepat, tidak mampu menyebutkan rumus dengan tepat, tepat waktu dalam mengerjakan. Saran dari penelitian ini adalah guru mampu menemukan metode yang efektif untuk melatih kemampuan komunikasi tulis siswa. Kata Kunci: komunikasi matematika tulis, pengajuan masalah, pandemic covid-19
PROFIL PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SMP DITINJAU DARI TIPE POLA ASUH ORANG TUA Muhammad Ulinnuha; Siti Khabibah
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.336 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p279-288

Abstract

Abstrak Pemecahan masalah merupakan inti dan tujuan dalam kurikulum matematika. Susanti (2018) menyebutkan bahwa pemecahan masalah dipengaruhi oleh perkembangan kognitif seseorang. Berkaitan dengan itu, Vygotsky dan Bandura (dalam Santrock, 2012) menyebutkan bahwa perkembangan kognitif dipengaruhi oleh pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil pemecahan masalah matematika siswa SMP ditinjau dari pola asuh orang tua. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian terdiri dari tiga siswa SMP yang memiliki pola asuh otoriter, demokratis, dan permisif. Instrumen penelitian terdiri dari angket, tes, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada tahap memahami masalah, ketiga siswa menuliskan informasi yang terdapat dalam soal dan memodelkan kedalam kalimat matematika. Pada tahap membuat rencana, subjek dengan pola asuh otoriter berusaha mengaitkan konsep matematika dengan permasalahan yang ada namun masih terdapat kesalahan. Sementara itu, subjek dengan pola asuh demokratis dan permisif mengaitkan konsep yang dia pahami dengan permasalahan dan menjelaskan langkah yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Pada tahap melaksanakan rencana subjek dengan pola asuh otoriter menggunakan informasi pada soal untuk disubstitusikan ke dalam strategi yang telah dibuat namun masih terdapat kesalahan. Sementara itu, siswa dengan pola asuh demokratis dan permisif menggunakan informasi pada soal untuk disubstitusikan ke dalam strategi yang telah dibuat dengan tepat. Pada tahap memeriksa siswa dengan pola asuh otoriter menuliskan kesimpulan dan pengecekan pada jawaban yang dia peroleh namun masih terdapat kesalahan. Sementara itu siswa dengan pola asuh demokratis dan permisif menyebutkan kesimpulan dan melakukan pengecekan jawaban. Kata kunci: pemecahan masalah matematika, pola asuh orang tua.
KONJEKTUR SISWA PADA MASALAH ANALOGI KLASIK TERBUKA TOPIK FUNGSI KUADRAT Malik Abdul Azis; Abdul Haris Rosyidi
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.324 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p254-265

Abstract

Konjektur merupakan pernyataan yang diperoleh dari informasi yang diketahui dan diyakini kebenarannya,namun nilai kebenarannya perlu dibuktikan. Konjektur siswa dapat dilihat ketika mereka menyelesaikanmasalah analogi klasik terbuka (AKT). Pada masalah AKT siswa dituntut untuk berpikir kreatif dalammenduga sifat dari suatu hal tertentu yang belum diketahui sebelumnya menggunakan analogi. Penelitian inimerupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan tahapan konstruksi konjektur siswapada masalah AKT topik fungsi kuadrat. Instrumen pendukung penelitian adalah masalah AKT topik fungsikuadrat dan pedoman wawancara. Penelitian dilakukan secara online melalui googleform untuk pengerjaantes masalah analogi klasik terbuka dan whatsapp sebagai media untuk wawancara. Subjek penelitian iniadalah tiga siswa SMA di Surabaya yang dipilih dari 70 siswa yang memiliki alur menjawab masalah AKTberbeda-beda. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan tahapan konstruksi konjektur yaitu : 1)memahami masalah, 2) mengeksplorasi masalah, 3) merumuskan konjektur, 4) memberikan argumen, dan5) membuktikan konjektur. Hasil dari penelitian ini adalah subjek mampu menyelesaikan masalah AKTtopik fungsi kuadrat dengan tepat akan tetapi terdapat dua subjek yang memberikan argumen kurang tepatdan satu subjek memberikan bukti konjektur kurang tepat. Pada tahap memahami masalah, setiap subjekdapat memahami cara menyelesaikan masalah AKT. Pada tahap mengeksplorasi masalah, setiap subjekdapat menjelaskan informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah AKT. Pada tahap merumuskankonjektur, setiap subjek dapat membuat konjektur dengan tepat menggunakan analogi atau kemiripankomponen A dan komponen C. Pada tahap memberikan argumen, semua subjek telah menggunakankemampuan penalaran analoginya, namun dua subjek memberikan argumen yang kurang tepat. Pada tahapmembuktikan konjektur, terdapat seorang subjek membuktikan menggunakan contoh kasus tertentusehingga bukti yang diberikan belum cukup untuk membuktikan konjektur yang diberikan. Hal tersebutmemperlihatkan bahwa siswa mampu menggunakan kemampuan penalaran analogi mereka untuk membuatkonjektur dengan tepat menggunakan kemiripan antara dua objek atau topik yang memiliki sifat yang mirip.Meskipun subjek mampu membuat konjektur dengan tepat akan tetapi subjek memberikan argumen danbukti yang kurang tepat. Untuk itu, guru perlu melatihkan kemampuan konjektur siswa salah satunyamenggunakan masalah AKT agar siswa mampu mengkonstruksi pengetahuannya secara mandiri.
ABSTRAKSI REFLEKTIF SISWA BERKEMAMPUAN MATEMATIKA TINGKAT TINGGI DALAM PEMECAHAN MASALAH LINGKARAN Fahilan Nur Bachtiar; Susanah Susanah
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.533 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p266-278

Abstract

Abstraksi reflektif dikenal sebagai karakteristik yang paling relevan dalam hal aspek kognitif yakni membantu siswa mengkonstruksi konsep baru dari banyak konsep yang telah ia pelajari. Dengan mengusung tema abstraksi refelektif, artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan abstraksi reflektif siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi dalam menyelesaikan permasalahan lingkaran. Subjek pada penelitian ini adalah 2 siswa kelas XI SMAN 1 Manyar tahun pelajaran 2020/2021 yang merepresentasikan kemampuan matematika tingkat tinggi. Instrumen yang digunakan adalah tugas abstraksi reflektif dan pedoman wawancara. Teknik analisis data yang dilakukan untuk menganalisis hasil tes pemecahan masalah adalah dengan menggunakan indikator abstraksi reflektif penelitian sedangkan data hasil wawancara dianalisis secara kualitatif dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan abstraksi reflektif siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi dalam menyelesaikan masalah lingkaran telah melalui empat level abstraksi reflektif yaitu Level Recognition, Level Representation, Level Structural Abstraction, dan Level Structural Awareness. Pada level Recognition siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi menjabarkan informasi dan konsep yang dia pahami dari permasalahan lingkaran. Pada level Representation siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi mengubah permasalahan lingkaran kedalam bentuk simbol atau grafik. Pada level Structural Abstraction, siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi menyelesaikan masalah dengan mengunkan informasi dan konsep pada permasalahan lingkaran tersebut. Pada level Structural Awareness, siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi dapat menyebutkan alternatif strategi, kesulitan metode yang digunakan, dan menyelesaikan masalah lain yang sejenis tanpa kesusahan pada permasalahan lingkaran tersebut.
Profil Berpikir Divergen Siswa SMP dalam Pemecahan Masalah Open-ended ditinjau dari Gaya Belajar Global-Analitik Intanalisa Hariyono; Susanah Susanah
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.057 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p289-300

Abstract

Berpikir divergen adalah kemampuan berpikir terbuka dalam menemukan berbagai macam ide/solusi atas suatu masalah sehingga menghasilkan jawaban yang benar dan penyelesaian yang logis. Pemecahan masalah yang sesuai dengan prinsip berpikir divergen yaitu pemecahan masalah open-ended. Perbedaan gaya belajar global dan analitik dapat mempengaruhi siswa dalam mencari ide penyelesaian dari suatu masalah. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan profil berpikir divergen siswa dalam pemecahan masalah matematika open-ended ditinjau dari gaya belajar global-analitik. Pengumpulan data penelitian menggunakan Angket Gaya Belajar (AGB), Tugas Pemecahan Masalah Open-ended (TPMO) dan pedoman wawancara. Subjek dalam penelitian yakni satu siswa dengan gaya belajar global dan satu siswa dengan gaya belajar analitik. Dari hasil analisis dan pembahasan siswa bergaya belajar global pada aspek fluency dapat memberikan dua jawaban berbeda dan relevan dengan masalah. Pada aspek flexibility siswa membuat dua cara/metode penyelesaian yang relevan dengan masalah yang tidak jauh berbeda cara penyelesaiannya. Pada aspek originalitiy siswa memberikan cara/metode penyelesaian yang berbeda namun tidak relevan dengan masalah. Pada aspek elaboration siswa kurang memperhatikan hal-hal detail seperti satuan panjang dan cara memperoleh jawaban. Siswa bergaya belajar analitik pada aspek fluency siswa memberikan dua jawaban berbeda yang tertulis dan satu jawaban secara lisan saat wawancara yang relevan dengan masalah. Pada aspek flexibility siswa memberikan dua cara/metode penyelesaian yang relevan dengan masalah. Pada aspek originality siswa memberikan cara/metode penyelesaian yang berbeda dan unik yang relevan dengan masalah. Pada aspek elaboration siswa menuliskan jawaban dengan detail dalam penyelesaian masalah. Kata Kunci: Berpikir Divergen, Pemecahan Masalah Open-Ended, Gaya Belajar Global, Gaya Belajar Analitik
Profil Komunikasi Matematika Siswa dalam Menyelesaikan Soal PISA Ditinjau dari Kemampuan Matematika amelia suryaningsih; Susanah Susanah
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1099.501 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p301-319

Abstract

Komunikasi matematika ialah sesuatu wujud keahlian yang begitu berarti dalam matematika. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mempelajari profil komunikasi matematika siswa dalam menuntaskan soal PISA ditinjau dari kemampuan matematika. Penelitian ini ialah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain uji kemampuan matematika, tugas komunikasi matematika tulis siswa dalam menuntaskan soal PISA, serta pedoman wawancara. Subjek dalam penelitian ini ialah 3 siswa kelas IX dengan tiap-tiap jenis ialah, satu siswa dengan keahlian matematika tinggi, satu siswa dengan keahlian matematika sedang, serta satu siswa dengan keahlian matematika rendah. Hasil dari penelitian ialah siswa dengan keahlian matematika tinggi a) menuliskan perihal yang dikenal serta ditanyakan b) menuliskan statment dalam soal ke dalam model matematika c) menuliskan ide untuk menuntaskan soal d) menuliskan langkah-langkah penyelesaian serta pemecahan dengan akurat, lengkap serta mudah/lancar. Sebaliknya siswa dengan keahlian matematika rendah dalam a) menuliskan/ melaporkan apa saja yang dikenal serta ditanyakan secara akurat, lengkap, serta mudah/lancar. Berikutnya tidak akurat, tidak lengkap serta tidak lancar dalam b) menuliskan statment dari soal ke dalam model matematika c) menuliskan ide untuk menuntaskan soal d) menuliskan langkah- langkah penyelesaian serta pemecahan. Penelitian ini mencerminkan bahwa keahlian/kemampuan matematika pengaruhi siswa untuk memproses data, salah satunya pada saat mengomunikasikan ide atau gagasan dalam menuntaskan soal PISA. Kata Kunci: Komunikasi Matematika, Soal PISA, Kemampuan Matematika.
Penalaran Analogi Siswa SMA Dalam Menyelesaikan Soal Persamaan Logaritma Ditinjau Dari Kemampuan Matematika Nur Mufidah An Nurma; Endah Budi Rahaju
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.769 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n3.p339-349

Abstract

Abstrak Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan mendeskripsikan penalaran analogi siswa SMA dalam menyelesaikan persamaan logaritma berdasarkan kemampuan matematika. Subjek penelitian ini adalah tiga siswa dari kelas X MIPA di salah satu SMA Negeri di Sidoarjo yang memiliki kemampuan matematika tinggi, kemampuan matematika sedang, dan kemampuan matematika rendah, berjenis kelamin perempuan, serta komunikatif. lnstrumen penelitian ini yaitu soal tes kemampuan matematika, soal tes kemampuan penalaran analogi matematika dan pedoman wawancara. Hasil dari penelitian ini yaitu pada tahap encoding siswa berkemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah dapat menjelaskan dengan benar mengenai informasi dan apa yang ditanyakan pada soal sumber dan soal target. Pada tahap inferring siswa berkemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah mampu menentukan dan menjelaskan konsep yang dipakai dalam mengerjakan soal sumber dan soal target tetapi saat mengidentifikasi keterkaitan informasi antara soal sumber dan soal target hanya siswa dengan kemampuan matematika tinggi dan sedang yang bisa menemukan sedangkan siswa dengan kemampuan matematika rendah tidak bisa menemukan keterkaitannya. Pada tahap mapping siswa berkemampuan matematika tinggi dan sedang dapat menentukan keterkaitan dan menjelaskan kesamaan konsep antara soal sumber dengan soal target, sedangkan siswa dengan kemampuan matematika rendah tidak mampu menjelaskan keterkaitan dan kesamaan konsep antara soal sumber dan soal target. Pada tahap applying siswa berkemampuan matematika tinggi dapat mengerjakan soal target dengan tepat, siswa berkemampuan matematika sedang kurang tepat mengerjakan soal target karena tidak mengubah permisalan yang telah dibuat ke dalam bentuk logaritma, sedangkan siswa berkemampuan rendah meskipun tidak dapat menyebutkan keterkaitan antara soal sumber dan soal target ia bisa menjawab soal target dengan tepat, ini dikarenakan siswa hanya mengikuti prosedur-prosedur yang sudah ia pelajari sebelumnya. Kata Kunci: penalaran analogi, kemampuan matematika, persamaan logaritma Abstract This research is a qualitative descriptive study which aims to describe the analogical reasoning of high school students in solving logarithmic equations based on mathematical abilities. The subjects of this study were three students from class X Mathematics and Natural Sciences at a high school in Sidoarjo who have high math ability, medium math ability, and low math ability, are female, and communicative. The instruments of this study were mathematics ability test questions, mathematical analogy reasoning test questions and interview guides. The result of this research is that at the encoding stage, students with high, medium, and low math abilities can correctly explain the information and what is being asked in the source questions and the target questions. At the inferring stage, students with high, medium, and low mathematical abilities are able to determine and explain the concepts used in working on the source and target questions, but when identifying the linkage of information between the source question and the target question only students with high and moderate mathematical abilities are able to find it, while students with low math abilities are unable to find the relationship. At the mapping stage students with high and moderate mathematical abilities can determine linkages and explain the similarity of concepts between the source questions and the target questions, while students with low math abilities are unable to explain the linkages and similarities of concepts between the source questions and the target questions. At the application stage, students with high mathematical abilities can work on the target problem correctly, students with mathematical ability are not doing the target question correctly because they do not change the example that has been made into logarithmic form, while low-ability students even though they cannot mention the relationship between the source question and the target question she can answer the target questions correctly, this is because the student only follows the procedures she has learned before. Keywords: analogical reasoning, math skills, logarithmic equations
Argumentasi Analogis Siswa SMP Dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Ditinjau Dari Perbedaan Jenis Kelamin Lieska Maulita Shamimi; Abdul Haris Rosyidi
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.635 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p320-329

Abstract

Analogical argumentation is a part of analogical reasoning which has an important role in mathematics. Analogical argumentation can help one to demonstrate that a statement is reasonable. Someone's argument can be seen when solving a problem because argumentation functions to generate and support a solution to a problem. In solving problems, gender influences the process. This qualitative research aims to describe students' analogical argumentation in solving math problems in terms of gender differences. The subjects of this study were two students from class VIII-K SMP Negeri 2 Surabaya, one male and one female with the same math ability. The research was conducted online via googleform for the analogical argumentation test and whatsapp as a platform for interviews. The research instruments were the analogical argumentation test and the latest interviews. The data obtained were then analyzed using analogical argumentation components, namely classification and conclusions. The results showed that there were complaints on the classification component, namely that the two students were able to identify the characteristics or structure of the source problem and the target problem so that the comments component was able to make a statement of the solution. The difference is in the classification component, namely students who are able to identify the problem between the problem and the target problem, not quite right in the understanding of the structure. Both female students were able to use analogical argumentation to conclude both problems logically, while male students were less logical.
Pengembangan e-book Interaktif pada Materi Bentuk Aljabar untuk Siswa SMP Laila Tuljannah; Siti Khabibah
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.551 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p330-338

Abstract

Materi bentuk aljabar merupakan pintu gerbang menuju matematika tingkat lanjut. Seringkali siswa mengalami miskonsepsi pada materi bentuk aljabar terutama pada konsep operasi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar dengan salah satu penyebabnya adalah kurangnya minat untuk mempelajari materi tersebut. Salah satu cara agar siswa berminat dalam belajar aljabar adalah menyediakan media pembelajaran seperti e-book interaktif agar dapat menunjang belajar siswa pada masa pandemi COVID-19 yang proses belajarnya dilaksanakan dari rumah melalui pembelajaran daring. Sehingga penelitian pengembangan ini bertujuan untuk: 1) Menghasilkan produk e-book interaktif pada materi bentuk aljabar untuk siswa SMP, 2) Mendeskripsikan kevalidan e-book interaktif pada materi bentuk aljabar untuk siswa SMP, 3) Mendeskripsikan kepraktisan e-book interaktif pada materi bentuk aljabar untuk siswa SMP, 4) Mendeskripsikan keefektifan setelah menggunakan e-book interaktif pada materi bentuk aljabar. Penelitian ini menggunakan model pengembangan ADDIE yang terdiri dari 5 tahap yaitu Analyze, Design, Develop, Implement, dan Evaluate. Penelitian ini menghasilkan produk e-book interaktif dalam bentuk .apk untuk pengguna smartphone dengan sistem operasi android. e-book interaktif materi bentuk aljabar untuk siswa SMP yang telah dikembangkan memenuhi kriteria kelayakan (valid, ppraktis, dan efektif). Hasil uji kevalidan e-book interaktif sebesar 87,42% dengan kategori “sangat valid”. Kevalidan diperoleh dari hasil penilaian 2 validator materi dan 2 validator media. Hasil uji kepraktisan e-book interaktif sebesar 90% sehingga dapat dikatakan bahwa e-book interaktif ini termasuk kategori “Sangat Praktis”. Kepraktisan diperoleh dari hasil penilaian siswa melalui angket tertutup. e-book interaktif ini termasuk efektif karena hasil belajar siswa tuntas dengan persentase ketuntasan sebesar 88,89% dan hasil respon siswa termasuk dalam kategori “sangat positif” dengan persentase sebesar 88,54%. Dapat disimpulkan bahwa e-book interaktif pada materi bentuk aljabar untuk siswa SMP layak digunakan dalam pembelajaran sehingga meningkatkan prestasi belajar dan minat siswa dalam belajar aljabar.
ANALISIS KEMAMPUAN DAN DISPOSISI BERPIKIR REFLEKTIF MATEMATIS SISWA DITINJAU DARI PERBEDAAN JENIS KELAMIN Nur Aini; Ika Kurniasari
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.708 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p350-363

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir reflektif siswa dalam matematika beserta disposisi atau sikap yang muncul, ditinjau dari perbedaan jenis kelaminnya. Subjek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VIII-I SMP Negeri 1 Sukorejo. Subjek dipilih 2 siswa dari masing-masing jenis kelamin dengan syarat nilai tes kemampuan berpikir reflektif matematis yang tertinggi dan jawaban yang lebih lengkap. Instrumen yang digunakan yaitu tes kemampuan berpikir reflektif matematis, skala disposisi berpikir reflektif matematis, dan pedoman wawancara. Penelitian ini diawali dengan siswa mengerjakan tes kemampuan berpikir reflektif matematis dan skala disposisi berpikir reflektif matematis. Kemudian dilakukan wawancara kepada subjek terpilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa berjenis kelamin laki-laki memenuhi tiga fase berpikir reflektif yaitu reacting, comparing, dan contemplanting. Sedangkan siswa berjenis kelamin perempuan hanya memenuhi fase reacting dan comparing. Sehingga dalam hal ini, kemampuan berpikir reflektif matematis siswa berjenis kelamin laki-laki tergolong sudah mampu sedangkan siswa berjenis kelamin perempuan tergolong kurang mampu. Kemudian, untuk disposisi berpikir reflektif matematisnya sama-sama tergolong cukup. dari hasil tersebut, diperoleh hubungan negatif antara kemampuan berpikir reflektif matematis siswa dengan disposisi atau sikap yang muncul yang ditinjau dari perbedaan jenis kelaminnya. Dimana kemampuan siswa yang baik, tidak menjamin disposisi atau sikap yang muncul juga baik, maupun kebalikannya.

Page 5 of 33 | Total Record : 325