cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
flourishing.journal@um.ac.id
Phone
+62341-552115
Journal Mail Official
flourishing.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jln. Semarang 5 Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Flourishing Journal
ISSN : -     EISSN : 27979865     DOI : -
Core Subject : Social,
Flourishing Journal is an open-access and peer-reviewed journal dedicated to publishing research articles in the field of psychology. Flourishing Journal accepts research articles that have the potential to make a significant contribution to the exploration and development of psychology and behavioral sciences. Articles submitted to this journal must display a well-thought-out study design, appropriate data analysis, and interpretation.
Articles 316 Documents
Nilai-Nilai dan Praktik Bisnis Etnis Tionghoa di Indonesia: Studi Literatur berdasarkan Teori Schwartz Wijaya, Bagus Adinata Atmaja Sateng
Flourishing Journal Vol. 5 No. 11 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i112025p609-618

Abstract

The Chinese ethnic group is one of the immigrant ethnic groups that has mostly carried out trading activities since the 18th century in Indonesia, so they have a good economic situation and have quite a large influence on the country's economy. However, the economic gap between the Chinese ethnic group and the natives has caused some prejudice. This study aims to understand the values and cultural practices of the Chinese ethnic group in the context of business in Indonesia, so that it can reduce prejudice and promote better collaboration with the Chinese ethnic group. This study was conducted using a literature study method using Google Scholar as a database with the keywords "Chinese", "business", "Indonesia", and "entrepreneur". From 10 relevant studies, the results of the study show that the values that are prioritized in business are universalism, benevolence, achievement, and power. The philosophical basis of Chinese tradition that influences the business practices of the Chinese ethnic group in Indonesia is Daoism, Confucianism, Mohism, and Legalism. In conclusion, to build good business cooperation with ethnic Chinese, indigenous people can build trustworthy characters, improve their abilities, and maintain their good name. AbstrakEtnis Tionghoa merupakan salah satu etnis pendatang yang mayoritas melakukan aktivitas perdagangan dari abad ke-18 di Indonesia, sehingga memiliki keadaan ekonomi yang baik dan cukup besar pengaruhnya dalam ekonomi negara. Namun, kesenjangan ekonomi antara etnis Tionghoa dengan pribumi menyebabkan timbulnya prasangka buruk. Penelitian ini bertujuan untuk memahami nilai-nilai dan praktik budaya etnis Tionghoa dalam konteks bisnis di Indonesia, sehingga dapat mengurangi prasangka buruk dan mempromosikan kolaborasi yang lebih baik dengan etnis Tionghoa. Analisis data didasarkan pada teori Schwartz’s human value dan traditional Chinese culture. Penelitian ini dilakukan dengan metode studi literatur menggunakan google scholar sebagai database dengan kata kunci “Chinese”, “business”, “Indonesia”, dan “entrepreneur”. Dari 10 penelitian yang relevan, hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai yang diutamakan dalam bisnis adalah universalism, benevolence, achievement, dan power. Dasar filosofis tradisi Cina yang memengaruhi praktik bisnis etnis Tionghoa di Indonesia adalah daoisme, konfusianisme, mohisme, dan legalisme. Oleh karena itu, untuk membangun kerja sama bisnis yang baik dengan etnis Tionghoa, masyarakat pribumi dapat membangun karakter yang dapat dipercaya, meningkatkan kemampuan diri, dan menjaga nama baik diri.
Eksplorasi Tradisi Ayun Bapukung dalam Pengasuhan Anak di Banjarmasin, Kalimantan Selatan Sari, Windy Septina; Pudjibudojo, Jatie K.; Tondok, Marselius Sampe; Hasanuddin, Amalia Soraya
Flourishing Journal Vol. 5 No. 11 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i112025p638-647

Abstract

Bapukung is a unique tradition of the Banjar people in South Kalimantan that has been passed down through generations, involving putting a baby to sleep in a sitting position within a cloth cradle wrapped with a long fabric. It is believed that this practice helps babies sleep soundly, reduces fussiness, and supports physical development by strengthening the neck, spine, and posture, and providing a sense of security and comfort. This study aims to explore the cultural meanings, emotional significance, and psychological values embedded in the Bapukung tradition, particularly in relation to child well-being and parental mental health. The methodology employed in this study is a literature review, which involves systematically searching for and critically evaluating relevant sources from academic journals and published papers. The results revealed that beyond health benefits, Bapukung positively impacts a child’s intelligence by promoting quality sleep and establishing healthy sleep patterns. The rocking motion mimics being cradled, offering tranquillity even in noisy environments, and eases parents to care for the baby while managing other activities. Spiritual values such as reciting dzikir and hymns accompany the practice, adding moral and educational dimensions. With its numerous benefits, Bapukung deserves preservation as a cultural heritage that supports holistic child-rearing. AbstrakBapukung adalah tradisi unik masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan yang diwariskan secara turun-temurun, dengan menidurkan bayi dalam posisi duduk di dalam buaian kain yang dibalut menggunakan kain panjang. Praktik ini dipercaya membantu bayi tidur lebih nyenyak, mengurangi rewel mendukung perkembangan fisik dengan memperkuat leher, tulang belakang, dan postur tubuh serta memberikan rasa aman dan nyaman. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna budaya, nilai emosional, dan nilai psikologis yang terkandung dalam tradisi bapukung, khususnya kaitannya dengan kesejahteraan anak dan kesehatan mental orang tua. Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka, yaitu dengan melakukan penelusuran sistematis serta evaluasi kritis terhadap sumber-sumber relevan dari jurnal akademik dan publikasi ilmiah. Hasil kajian menunjukkan bahwa selain manfaat kesehatan, bapukung juga berdampak positif pada kecerdasan anak melalui kualitas tidur yang baik dan pembentukan pola tidur yang sehat. Gerakan mengayun meniru rasa dipeluk, memberikan ketenangan bahkan di lingkungan yang bising. Tradisi ini juga meringankan tugas orang tua,memungkinkan mereka merawat bayi sambil tetap menyelesaikan aktivitas lain. Nilai spiritual seperti pembacaan dzikir dan nyanyian turut mengiringi praktik ini, menambah dimensi moral dan pendidikan. Dengan berbagai manfaat tersebut, bapukung layak dilestarikan sebagai warisan budaya yang mendukung pola pengasuhan anak secara holistik.
Kajian Politik pada Generasi Z: Menelisik Pengaruh Efikasi Politik dan Literasi Digital terhadap Perilaku Memilih di Indonesia Ardea Widianto Ari Hidayat; Mochammad Sa'id
Flourishing Journal Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i12026p240-259

Abstract

This research aims to investigate the influence of political efficacy and digital literacy on the voting behavior of Generation Z in Indonesia using a quantitative approach. The research population consists of Generation Z individuals aged 18-26, who are registered as permanent voters. Data was collected through an online questionnaire using three scales: Digital Literacy Scale to measure digital literacy, Political Efficacy Short Scale to measure political efficacy, and Voting Behavior Scale to measure voting behavior. Through convenience sampling, a total of 444 respondents (M=82, F=362) were obtained. The collected data was then analyzed using binary logistic regression. The research findings indicate that both digital literacy and political efficacy, either simultaneously or partially, can predict voting behavior, with a predictive range of 32.9% to 42.6%. Another interesting finding from the research is that external political efficacy is not a predictor of voting behavior in presidential elections (p > .05). Further theoretical and practical recommendations will be discussed. Abstrak Riset ini mencoba untuk menginvestigasi lebih mendalam terkait pengaruh efikasi politik dan literasi digital terhadap perilaku memilih pada generasi Z di Indonesia melalui pendekatan kuantiatif. Populasi dalam riset ini adalah generasi Z yang berumur 18-26 tahun atau yang sudah terdaftar sebagai Daftar Pemilih Tetap (DPT). Data diambil melalui kuesioner online menggunakan tiga skala, yaitu Digital Literacy Scale untuk mengukur literasi digital, Political Efficacy Short Scale untuk mengukur efikasi politik, dan Skala Perilaku Memilih untuk mengukur perilaku memilih. Melalui convenience sampling didapatkan sampel sebanyak 444 responden (L=82, P= 362). Data yang sudah terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan pendekatan binary logistic regression. Hasil riset menunjukkan baik secara simultan maupun parsial variabel literasi digital dan efikasi politik mampu menjadi prediktor perilaku memilih dengan besaran prediksi pada rentang 32,9 – 42,6 persen. Temuan lain yang menarik dari riset ini menunjukkan jika efikasi politik eksternal tidak mampu menjadi prediktor perilaku memilih pada pemilihan presiden (p > ,05). Adapun saran secara teoritis dan praktis akan diuraikan lebih lanjut.
Hubungan Self-Disclosure dan Trust pada Individu yang Menjalin Hubungan Romantis Daring Wilda Nidia Maharani; Nur Eva
Flourishing Journal Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i22026p260-269

Abstract

Advances in digital technology have transformed the ways in which individuals form and maintain romantic relationships, particularly through online platforms that reduce the intensity of face-to-face interactions and the exchange of nonverbal cues. This situation positions self-disclosure as a crucial variable in the process of building trust between partners. This study was designed to examine the correlation between self-disclosure and trust among individuals in online romantic relationships. The study employed a quantitative, correlational design involving 104 young adult participants currently in online romantic relationships. Data were collected via an online questionnaire using validated scales for self-disclosure and trust. Data analysis procedures included descriptive statistics, assumption testing, and Pearson’s correlation test. The results revealed a significant positive correlation between self-disclosure and trust, indicating that individuals with a higher capacity for self-disclosure tend to exhibit higher levels of trust toward their partners. These findings reinforce the role of self-disclosure as a fundamental psychological mechanism in the formation and maintenance of trust in online romantic relationships, while also providing an empirical contribution to the development of research on the psychology of interpersonal relationships in the digital age. Abstrak Kemajuan teknologi digital telah mentransformasi pola individu dalam membangun serta memelihara relasi romantis, utamanya melalui platform daring yang mereduksi intensitas interaksi langsung maupun pertukaran isyarat nonverbal. Kondisi tersebut menempatkan keterbukaan diri (self-disclosure) sebagai variabel krusial dalam proses terbentuknya kepercayaan (trust) di antara pasangan. Penelitian ini dirancang untuk mengkaji korelasi antara self-disclosure dan trust pada individu yang menjalin ikatan romantis secara daring. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif berdesain korelasional dengan melibatkan 104 partisipan dewasa muda yang tengah menjalani hubungan romantis berbasis daring. Pengumpulan data dilaksanakan melalui instrumen kuesioner daring dengan menggunakan skala self-disclosure dan trust yang telah teruji reliabilitasnya. Prosedur analisis data mencakup statistik deskriptif, pengujian asumsi, serta uji korelasi Pearson. Hasil penelitian mengungkapkan terdapatnya korelasi positif yang signifikan antara self-disclosure dan trust, yang menunjukkan bahwa individu dengan kapasitas keterbukaan diri yang lebih tinggi memiliki kecenderungan untuk menampilkan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi terhadap pasangannya. Temuan tersebut mengukuhkan kedudukan self-disclosure sebagai mekanisme psikologis yang fundamental dalam pembentukan dan pemeliharaan trust pada relasi romantis daring, sekaligus memberikan sumbangan empiris bagi pengembangan kajian psikologi relasi interpersonal di era digital.
Children’s Psychological Well-Being from the Perspective of Single Mothers: A Phenomenological Study on Economic Independence and Parenting Nuzulunni'mah; Trisna Sayekti Wijayanti
Flourishing Journal Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i22026p431-448

Abstract

This study was motivated by the increasing number of single mothers in Indonesia who face dual roles as caregivers and breadwinners, which may affect their children's psychological well-being. The study aims to explore how single mothers understand and fulfill their children's psychological well-being through economic independence and parenting practices. Using a qualitative phenomenological approach, data were collected through in-depth interviews with six single mothers who run businesses and have school-age children. The findings indicate that mothers define psychological well-being as children feeling happy, safe, and having their needs fulfilled. To achieve economic independence, mothers manage home-based businesses that allow them to remain present for their children. Parenting practices emphasize discipline, affection, open communication, and responsibility. Based on Ryff’s dimensions of psychological well-being, children demonstrate positive development in self-acceptance, social relationships, autonomy, environmental mastery, purpose in life, and personal growth. These outcomes are shaped by the mothers’ resilience and additional support systems. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya jumlah ibu single parent di Indonesia yang menghadapi tantangan ganda dalam memenuhi kemandirian ekonomi sekaligus memastikan kesejahteraan psikologis anak. Kondisi tersebut menuntut ibu untuk menjalankan peran pengasuhan dan pencari nafkah secara bersamaan, sehingga berpotensi memengaruhi perkembangan emosional, sosial, serta keberfungsian psikologis anak. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam bagaimana ibu single parent memaknai dan memenuhi kesejahteraan psikologis anak melalui kemandirian ekonomi serta pola pengasuhan yang mereka jalankan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap enam ibu single parent yang memiliki usaha UMKM dan anak usia sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis anak dimaknai ibu sebagai kondisi ketika anak merasa bahagia, aman, dan tercukupi kebutuhannya. Para ibu berupaya mencapai kemandirian ekonomi melalui usaha rumahan yang memungkinkan mereka tetap mendampingi anak, sementara pengasuhan dilakukan dengan penekanan pada disiplin, kasih sayang, komunikasi terbuka, serta penanaman nilai tanggung jawab. Analisis berdasarkan aspek-aspek psychological well being Ryff mengungkap bahwa anak menunjukkan perkembangan positif dalam penerimaan diri, hubungan sosial, kemandirian, penguasaan lingkungan, tujuan hidup dan pertumbuhan pribadi, yang terbentuk melalui kombinasi antara ketangguhan ibu, dukungan sosial, serta adaptasi keluarga terhadap perubahan peran.
Pengaruh Fear of Commitment terhadap Marital Readiness pada Emerging Adults Lajang Sandra Handayani Sutanto; Febe Tefila Elyona Penaamadiong
Flourishing Journal Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i22026p270-292

Abstract

Motivated by the rising trend of delayed marriage and non-committed relationships (situationship) among young Indonesians. This study aimed to examine the influence of fear of commitment on marital readiness among single emerging adults in DKI Jakarta. A quantitative, non-experimental cross-sectional design was employed involving 139 participants aged 18–29 years. The Lebanese Fear of Relationship Commitment Scale (LFRC) and the Sukoon Marital Readiness Scale (SMRS) were administered online, with data analyzed using Pearson's correlation and simple linear regression. Findings revealed a significant negative relationship between fear of commitment and marital readiness (r=−0.180, p = .034), indicating that higher levels of fear of commitment are associated with lower marital readiness, and vice versa. Nevertheless, the contribution of fear of commitment to marital readiness was relatively small, accounting for only 3.3% of the variance (R² = 0.033), suggesting that other factors likely play larger roles. Two dimensions fear of emotional commitment and financial dependence, as well as tension related to the idea of marriage were significant predictors of lower marital readiness. Gender differences were also found, with women showing higher fear of commitment and lower marital readiness compared to men. Abstrak Penelitian ini didasari oleh meningkatnya tren penundaan pernikahan dan hubungan tanpa status (HTS) di kalangan dewasa muda Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fear of commitment terhadap marital readiness pada emerging adults lajang di DKI Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain non-eksperimental cross-sectional dan melibatkan 139 partisipan berusia 18-29 tahun. Instrumen yang digunakan adalah Lebanese Fear of Relationship Commitment Scale (LFRC) dan Sukoon Marital Readiness Scale (SMRS), dengan analisis data menggunakan korelasi Pearson dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara fear of commitment dan marital readiness (r = -0.180, p = .034). Artinya semakin besar rasa takut akan komitmen akan menurunkan kesiapan menikah, demikian juga sebaliknya. Meskipun demikian, pengaruh fear of commitment terhadap marital readiness relatif kecil dengan kontribusi sebesar 3,3% (R² = 0.033). Hasil ini menunjukkan fear of commitment berpengaruh negatif terhadap marital readiness, meskipun faktor lain berperan lebih besar. Dua dimensi yaitu fear of emotional commitment and financial dependence serta tension related to the idea of marriage menunjukkan pengaruh signifikan terhadap rendahnya kesiapan menikah. Selain itu, ditemukan perbedaan berdasarkan jenis kelamin, di mana perempuan memiliki tingkat fear of commitment yang lebih tinggi dan marital readiness yang lebih rendah dibanding laki-laki.
Loving Yourself to Forgive: The Influence of Self-Compassion on Forgiveness Among College Students Yoezer Galen Darian Samson; Keshia Irene Muliawan; Nixie Aurelia Liem; Xi Yang Chen; Yusak Novanto
Flourishing Journal Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i22026p449-469

Abstract

Self-compassion is regarded as a psychological resource that enables individuals to respond to failure and painful experiences with greater kindness toward themselves, emotional balance, and acceptance. At University X, which upholds Christian values such as love and forgiveness, this study examined the effect of self-compassion on forgiveness among undergraduate students. This study employed a quantitative, non-experimental, correlational design with a cross-sectional approach, involving 202 undergraduate students selected through purposive sampling. Data were collected using the Self-Compassion Scale and the Heartland Forgiveness Scale. The data were analyzed using descriptive statistics, bivariate correlation analysis, and simple linear regression. The results revealed a significant positive relationship between self-compassion and forgiveness (r = .721), with self-compassion accounting for 51.6% of the variance in forgiveness (R² = .516). These findings indicate that students with higher levels of self-compassion are more likely to demonstrate greater forgiveness. Therefore, counseling and student development programs that focus on cultivating self-compassion may serve as an effective strategy for enhancing students' capacity for forgiveness. Abstrak Self-compassion dipandang sebagai salah satu sumber daya psikologis yang memungkinkan individu merespons kegagalan dan pengalaman menyakitkan dengan sikap yang lebih penuh kasih, seimbang secara emosional, dan penuh penerimaan. Di Universitas X yang menjunjung tinggi nilai-nilai Kristiani, seperti kasih dan pengampunan, penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh self-compassion terhadap forgiveness pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif non-eksperimental dengan pendekatan korelasional dan rancangan cross-sectional yang melibatkan 202 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Self-Compassion Scale dan Heartland Forgiveness Scale. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji korelasi bivariat, dan analisis regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara self-compassion dan forgiveness (r = 0,721), dengan self-compassion menjelaskan 51,6% variasi forgiveness (R² = 0,516). Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan tingkat self-compassion yang lebih tinggi cenderung memiliki kemampuan memaafkan yang lebih baik. Oleh karena itu, pengembangan program konseling dan pembinaan mahasiswa yang berfokus pada peningkatan self-compassion dapat menjadi salah satu strategi untuk mendukung peningkatan self-compassion, guna meningkatkan tingkat forgiveness pada mahasiswa.
Psychological Capital, Tuntutan Kerja dan Keterikatan Kerja Anggota pada Organisasi AIESEC in UNS Jelena Jening Ayomi; Aditya Nanda Priyatama
Flourishing Journal Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i22026p293-308

Abstract

Work engagement plays a critical role in non-profit organizations by contributing to organizational effectiveness, enriching members' learning experiences, and ensuring long-term sustainability. Yet, sustaining high levels of work engagement continues to pose a challenge for AIESEC in UNS. This study investigates the relationship between psychological capital and job demands with work engagement among AIESEC in UNS members. A total of 101 active members from the 2025/2026 period were involved through total sampling. A quantitative correlational approach was employed, with data collected using the Utrecht Work Engagement Scale (UWES-9), Psychological Capital Questionnaire (PCQ-12), and a job demands scale that met validity and reliability requirements. Multiple and partial correlation analyses were conducted following the fulfillment of normality and linearity assumptions. Findings revealed that psychological capital and job demands jointly demonstrated a significant relationship with work engagement (R = 0.573; R² = 0.328). Partial correlation indicated that psychological capital retained a positive and significant association with work engagement when job demands were controlled (p < 0.001), whereas job demands yielded no significant relationship once psychological capital was accounted for (p = 0.368). These results suggest that work engagement among AIESEC in UNS members is more closely associated with psychological capital than with job demands. Abstrak Keterikatan kerja memegang peranan penting dalam organisasi non-profit karena berkontribusi terhadap efektivitas organisasi, memperkaya pengalaman belajar anggota, serta mendukung keberlangsungan organisasi dalam jangka panjang. Namun demikian, menjaga keterikatan kerja pada tingkat yang optimal masih menjadi persoalan tersendiri bagi AIESEC in UNS. Penelitian ini mengkaji hubungan antara psychological capital dan tuntutan kerja dengan keterikatan kerja pada anggota AIESEC in UNS. Seluruh anggota aktif periode 2025/2026 sebanyak 101 orang dilibatkan sebagai partisipan melalui teknik total sampling. Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional digunakan, dengan instrumen pengumpulan data berupa Utrecht Work Engagement Scale (UWES-9), Psychological Capital Questionnaire (PCQ-12), dan skala tuntutan kerja yang telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Analisis dilakukan menggunakan korelasi berganda dan korelasi parsial setelah asumsi normalitas dan linearitas terpenuhi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa psychological capital dan tuntutan kerja secara simultan berhubungan signifikan dengan keterikatan kerja (R = 0,573; R² = 0,328). Korelasi parsial menunjukkan bahwa psychological capital tetap berhubungan positif dan signifikan dengan keterikatan kerja setelah tuntutan kerja dikendalikan (p < 0,001), sedangkan tuntutan kerja tidak menunjukkan hubungan yang signifikan setelah psychological capital dikontrol (p = 0,368). Temuan ini mengindikasikan bahwa keterikatan kerja anggota AIESEC in UNS lebih erat kaitannya dengan psychological capital dibandingkan tuntutan kerja.
Kebahagiaan Pasien Gagal Ginjal Kronis dengan Terapi Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD): Kajian Fenomenologis melalui Interpretative Phenomenological Analysis Rizki Nur Pratama; Imanuel Hitipeuw; Yudho Bawono
Flourishing Journal Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i22026p309-328

Abstract

This study aims to explore happiness, conceptually defined as subjective well-being, among patients with chronic kidney disease undergoing Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). This study employed a qualitative approach using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Data were collected through semi-structured interviews guided by an interview protocol based on the principle of epoché. The participants consisted of three patients with chronic kidney disease who had undergone CAPD therapy for at least six months. The findings revealed two main themes, namely the experience of being a CAPD patient and subjective well-being. The experience of being a CAPD patient encompassed challenges, meaning-making processes, and family support, while subjective well-being was reflected through life satisfaction, dissatisfaction, positive affect, and negative affect. The results indicate that participants achieved subjective well-being despite living with a chronic illness, as evidenced by the predominance of positive over negative affect and by self-acceptance. In addition, family support, particularly from spouses, played a significant role in facilitating psychological adaptation. These findings highlight the importance of interventions that consider meaning-making, emotion regulation, and family support in enhancing the psychological well-being of patients with chronic illness. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kebahagiaan yang secara konseptual dipahami sebagai subjective well-being pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani terapi Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dengan panduan wawancara yang dirancang berdasarkan prinsip epoché. Subjek penelitian terdiri dari tiga pasien gagal ginjal kronis yang telah menjalani terapi CAPD minimal selama enam bulan. Hasil penelitian menunjukkan dua tema induk, yaitu pengalaman sebagai pasien CAPD dan subjective well-being. Pengalaman sebagai pasien CAPD mencakup permasalahan, pemaknaan terhadap kondisi diri, serta dukungan keluarga, sedangkan subjective well-being tergambar melalui kepuasan hidup, ketidakpuasan, afek positif, dan afek negatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa subjek mampu mencapai subjective well-being meskipun berada dalam kondisi penyakit kronis, yang ditandai dengan dominasi afek positif dibandingkan afek negatif serta adanya penerimaan diri terhadap kondisi yang dialami. Selain itu, dukungan keluarga, khususnya dari pasangan, berperan penting dalam mendukung proses adaptasi psikologis. Temuan ini mengindikasikan pentingnya intervensi yang mempertimbangkan aspek pemaknaan, regulasi emosi, dan dukungan keluarga dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis pasien.
Predicting Students’ Pro-Environmental Attitudes Based on Environmental Personality and Personal Responsibility Mediated by Locus of Control Damianus Dai Koban; Erian Fatria; Agus Priadi; Guspri Devi Artanti; Eka Apriyanti
Flourishing Journal Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i22026p329-352

Abstract

Climate change and the increasing frequency of hydrometeorological disasters are widely recognized as threats to ecosystems and human life. One of the underlying causes is the lack of pro-environmental attitudes within society. This study examined the determinants of students’ pro-environmental attitudes by investigating the roles of environmental personality and personal responsibility, with locus of control as a mediating variable. A quantitative causal research design was employed to test a hypothetical model based on environmental education theories. The sample consisted of 65 students from SMK Negeri Semendawai, East OKU, South Sumatra, Indonesia, selected through multistage random sampling. The findings revealed that personal responsibility (PR) was the strongest and only significant predictor of students’ pro-environmental attitudes (PEA), exceeding the influence of environmental personality (EP) and locus of control (LOC), both of which had direct but non-significant effects. Furthermore, LOC did not mediate the relationship between the independent variables and pro-environmental attitudes, possibly due to situational constraints and limited supporting facilities. These findings suggest that environmental education should move beyond cognitive instruction toward affective learning that strengthens students’ sense of ownership and personal responsibility through practical environmental experiences. Abstrak Perubahan iklim dan berbagai bencana hidrometerologi yang terjadi saat ini diyakini sebagai sebuah fenomena yang dapat merusak seluruh tatanan ekologi dan kehidupan di permukaan bumi. Salah satu faktor yang diduga menjadi akar masalah ini adalah sikap masyarakat yang kurang pro-lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki faktor-faktor determinan sikap pro lingkungan didasarkan kepribadian lingkungan dan tanggung jawab pribadi dengan mediasi locus of control. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan studi kausal yang mengkonfirmasi beberapa model pendidikan lingkungan sebagai rujukan dalam membangun model hipotetik penelitian. Sampel penelitian ini melibatkan 65 siswa SMK Negeri Semendawai, OKU Timur, Provinsi Sumatera Selatan yang dipilih secara multistage random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggung jawab pribadi (PR) merupakan prediktor tunggal yang paling kuat dan signifikan dalam membentuk sikap pro-lingkungan (PEA) siswa, mengungguli faktor kepribadian lingkungan (EP) dan locus of control (LOC) yang berpengaruh langsung namun tidak signifikan. Selain itu, LOC gagal berfungsi sebagai variabel mediator dalam model ini, yang diduga akibat adanya hambatan situasional dan kurangnya fasilitas pendukung. Implikasinya, pendidikan lingkungan di sekolah perlu bertransformasi dari edukasi kognitif ke pendekatan afektif yang memperkuat rasa memiliki dan tanggung jawab personal melalui pengalaman praktis.