cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
flourishing.journal@um.ac.id
Phone
+62341-552115
Journal Mail Official
flourishing.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jln. Semarang 5 Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Flourishing Journal
ISSN : -     EISSN : 27979865     DOI : -
Core Subject : Social,
Flourishing Journal is an open-access and peer-reviewed journal dedicated to publishing research articles in the field of psychology. Flourishing Journal accepts research articles that have the potential to make a significant contribution to the exploration and development of psychology and behavioral sciences. Articles submitted to this journal must display a well-thought-out study design, appropriate data analysis, and interpretation.
Articles 318 Documents
Kesejahteraan Psikologis pada Perempuan Dewasa Awal dengan Ibu yang Menjadi Pekerja Migran Munawaroh, Dina; Nilawaty, Azzah
Flourishing Journal Vol. 5 No. 10 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i102025p534-555

Abstract

The absence of mothers working as migrant workers creates various psychosocial challenges that can affect the psychological well-being of children, especially women entering early adulthood. This condition is often characterized by feelings of loneliness, limited emotional support, and difficulty building interpersonal relationships. This study aims to describe the psychological well-being experiences of early adult women whose mothers have been working as migrant workers since childhood. This study used a qualitative method with a phenomenological approach, and was analyzed using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The informants consisted of three women aged 21-22 years selected through purposive sampling. Data were obtained through semi-structured interviews and non-participant observation. The results show that maternal absence creates a sense of loss and limited emotional support, but also forms adaptive mechanisms such as self-acceptance, independence, and resilience. Family support, long-distance communication with the mother, and the presence of a substitute figure play important roles in maintaining psychological well-being. This study confirms that psychological well-being is a dynamic process influenced by life experiences, with implications for the need for psychosocial support and policies that address the emotional aspects of children from migrant worker families. AbstrakKetidakhadiran ibu yang bekerja sebagai tenaga kerja migran menimbulkan berbagai tantangan psikososial yang dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis anak, terutama perempuan yang memasuki tahap dewasa awal. Kondisi ini sering ditandai dengan rasa kesepian, keterbatasan dukungan emosional, dan kesulitan membangun hubungan interpersonal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman kesejahteraan psikologis perempuan dewasa awal yang sejak kecil ditinggal ibunya bekerja sebagai tenaga kerja migran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, serta dianalisis dengan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Informan terdiri dari tiga perempuan berusia 21-22 tahun yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi non-partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakhadiran ibu menimbulkan rasa kehilangan dan keterbatasan dukungan emosional, tetapi juga membentuk mekanisme adaptif berupa penerimaan diri, kemandirian, dan resiliensi. Dukungan keluarga, komunikasi jarak jauh dengan ibu, serta keberadaan figur pengganti berperan penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis. Penelitian ini menegaskan bahwa kesejahteraan psikologis merupakan proses dinamis yang dipengaruhi pengalaman hidup dengan implikasi pada perlunya pendampingan psikososial dan kebijakan yang memperhatikan aspek emosional anak dari keluarga pekerja migran.
Gambaran Self -Esteem Remaja Kasus Pembunuhan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Blitar Putri, Aurellya Yuliana; Helmalia, Nabila; Cempaka, Lutfia; Dzakiya, Ainin Hana; Rahayu, Putri; Rahma, Rezka Arina
Flourishing Journal Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i12026p1-16

Abstract

Adolescents who are searching for their identity will experience a situation of identity versus identity confusion, which in some adolescents creates a self-image through bad behavior that leads to criminal acts. The number of murder cases committed by adolescents in murder East Java province throughout the year continues to increase. This study aims to determine the psychological condition of self-esteem among juvenile offenders before and after committing murder. This study uses a qualitative approach with a phenomenological study method at the LPKA Kelas 1 Blitar. Data were collected through in-depth interviews with three informants (E, K, W). Data analysis was performed using thematic analysis, and data validation was performed using time triangulation. The findings indicate that there are variations in the dynamics of self-esteem among the three informants. These variations are reflected in the different behavioral patterns displayed by each informant. In addition, external factors, such as parenting styles and unhealthy peer environments, were identified as contributing backgrounds to the homicide committed by the three informants. The meanings attributed by the three informants after committing murder were that E and W admitted to regretting their actions, while K admitted to feeling relieved after committing the act. Abstrak Remaja dalam kondisi mencari jati diri akan mengalami situasi identitas vs kebingungan identitas yang pada beberapa remaja menciptakan citra diri melalui tindakan buruk yang mengarah pada perbuatan kriminal. Angka kasus pembunuhan yang dilakukan oleh remaja di Provinsi Jawa Timur sepanjang tahunnya terus meningkat. Penelitian ini ditujukan untuk mencari tahu kondisi self-esteem yang dimiliki Anak Didik Pemasyarakatan (Andikpas) sebelum dan setelah melakukan pembunuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi fenomenologi di LPKA Kelas 1 Blitar. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tiga orang partisipan (E, K, W). Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik, validasi data menggunakan triangulasi waktu. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat variasi dinamika self-esteem pada ketiga informan. Variasi tersebut tercermin dalam pola perilaku yang berbeda pada masing-masing informan. Selain itu, terdapat faktor eksternal berupa pola asuh serta lingkungan pertemanan yang kurang sehat yang menjadi latar belakang ketiga informan melakukan pembunuhan. Adapun pemaknaan yang ditujukan kepada ketiga informan setelah melakukan pembunuhan, yakni E dan W mengaku menyesal atas tindakannya, dan K mengaku lega setelah melakukan perbuatannya.
Peningkatan Well-Being pada Penderita Diabetes melalui Program SEJIWA Dharmastuti, Anjarie; Asfari, Nur Amin Barokah; Nurmalitasari, Femmi; Iftitahurroza, Hilma Tsurayya
Flourishing Journal Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i12026p34-44

Abstract

Physiological factors do not solely cause the risk of diabetes, psychological factors also play a significant role. Anxiety and stress in diabetes sufferers result in a higher risk of disease. Therefore, the purpose of this study was to develop a SEJIWA program module that emphasizes the practice of mindfulness, gratitude, humour, optimism, spirituality, and emotional release in diabetes sufferers in the Gadingkasri area. The SEJIWA program module development method used the ADDIE model. The results of the Aiken V analysis and the program module comprehension test indicated that the SEJIWA program module could be used without revision. The SEJIWA program trial was conducted using a pre-experimental method on 68 diabetes sufferers. The instrument used was the Depression Anxiety Stress Scale (DASS) 21. The effectiveness test analysis was conducted using Paired Samples T-Test statistics. The analysis results showed that the post-test mean was significantly lower than the pre-test. This indicates that the implementation of the SEJIWA program can significantly reduce anxiety levels in diabetes sufferers. AbstrakRisiko penyakit diabetes pada dasarnya bukan sekadar disebabkan oleh faktor fisiologis saja, melainkan faktor psikologis turut memainkan peran yang signifikan. Kondisi cemas dan stres pada penderita diabetes berdampak pada risiko penyakit yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji efektivitas modul program SEJIWA yang menekankan pada praktik mindfulness, gratitude, humor, optimisme, spirituality, dan release emosi pada penderita diabetes di wilayah Gadingkasri. Metode pengembangan modul program SEJIWA ini menggunakan model ADDIE. Hasil analisis Aiken V dan uji pemahaman modul program menunjukkan bahwa modul program SEJIWA dapat digunakan tanpa revisi. Uji coba program SEJIWA dilakukan dengan metode preeksperimen pada 68 penderita diabetes. Instrumen yang digunakan adalah Depression Anxiety Stress Scale (DASS) 21. Analisis uji efektivitas dilakukan dengan statistik paired samples T-Test. Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata postes signifikan lebih rendah dibandingkan dengan pretes. Hal ini menunjukkan bahwa implementasi program SEJIWA dapat menurunkan tingkat kecemasan para penderita diabetes secara signifikan.
Potret Kemampuan Sosial Peer Counselor dalam Program Training of Trainer Puspitasari, Dwi Nikmah; Hapsari, Ayu Dyah; Multisari, Widya; An-Nisa, Lhulu
Flourishing Journal Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i12026p137-155

Abstract

Social skills are essential to adolescent development and support success in social, academic, and future professional contexts. This study employed the Training of Trainers (ToT) approach to enhance the social skills of peer counselors in Malang. The participants were 58 peer counselors divided into two groups: an experimental group and a control group. The ToT module was adapted from the Social Skills among Adolescents Module and had previously undergone feasibility testing. Social skills were assessed using a 23-item Social Skill Measurement instrument, which demonstrated good validity and reliability (Cronbach’s Alpha = 0.84). Paired sample t-test analysis yielded significance values of 0.071 for the control group and 0.184 for the experimental group, indicating no significant differences between pretest and posttest scores in either group. The lack of training effectiveness was influenced by several factors, particularly the pretest results, which showed that 20 participants (68.97%) were already in the high-skill category and the remaining 9 participants (31.03%) were at a moderate level, leading to a ceiling effect. Improvements are needed, including a reassessment of instrument selection, more detailed activity scheduling, the addition of ice-breaking sessions, and increased time allocation for discussion and practical exercises. AbstrakKeterampilan sosial merupakan aspek penting dalam perkembangan remaja dan berperan dalam mendukung keberhasilan di bidang sosial, akademik, serta profesional di masa depan. Pendekatan training of trainers (ToT) digunakan dalam meningkatkan keterampilan sosial konselor sebaya di Malang. Partisipan penelitian adalah 58 konselor sebaya yang dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Modul ToT diadaptasi dari Social Skills among Adolescents Module dan telah melalui uji kelayakan sebelumnya. Keterampilan sosial diukur menggunakan instrumen Social Skill Measurement yang terdiri dari 23 butir, yang menunjukkan validitas dan reliabilitas yang baik dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,84. Hasil uji paired sample t-test menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,071 pada kelompok kontrol dan 0,184 pada kelompok eksperimen, yang menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan antara skor pretest dan posttest pada kedua kelompok. Ketidakefektifan pelatihan dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama hasil pretest yang menunjukkan bahwa 20 partisipan (68,97%) telah berada pada kategori keterampilan tinggi, sementara 9 partisipan lainnya (31,03%) berada pada kategori sedang, sehingga menimbulkan ceiling effect. Beberapa aspek masih perlu ditingkatkan, antara lain evaluasi pemilihan instrumen, perincian jadwal kegiatan, penambahan sesi icebreaking, serta penambahan alokasi waktu untuk diskusi dan latihan praktik.
Nilai-Nilai dan Praktik Bisnis Etnis Tionghoa di Indonesia: Studi Literatur berdasarkan Teori Schwartz Wijaya, Bagus Adinata Atmaja Sateng
Flourishing Journal Vol. 5 No. 11 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i112025p609-618

Abstract

The Chinese ethnic group is one of the immigrant ethnic groups that has mostly carried out trading activities since the 18th century in Indonesia, so they have a good economic situation and have quite a large influence on the country's economy. However, the economic gap between the Chinese ethnic group and the natives has caused some prejudice. This study aims to understand the values and cultural practices of the Chinese ethnic group in the context of business in Indonesia, so that it can reduce prejudice and promote better collaboration with the Chinese ethnic group. This study was conducted using a literature study method using Google Scholar as a database with the keywords "Chinese", "business", "Indonesia", and "entrepreneur". From 10 relevant studies, the results of the study show that the values that are prioritized in business are universalism, benevolence, achievement, and power. The philosophical basis of Chinese tradition that influences the business practices of the Chinese ethnic group in Indonesia is Daoism, Confucianism, Mohism, and Legalism. In conclusion, to build good business cooperation with ethnic Chinese, indigenous people can build trustworthy characters, improve their abilities, and maintain their good name. AbstrakEtnis Tionghoa merupakan salah satu etnis pendatang yang mayoritas melakukan aktivitas perdagangan dari abad ke-18 di Indonesia, sehingga memiliki keadaan ekonomi yang baik dan cukup besar pengaruhnya dalam ekonomi negara. Namun, kesenjangan ekonomi antara etnis Tionghoa dengan pribumi menyebabkan timbulnya prasangka buruk. Penelitian ini bertujuan untuk memahami nilai-nilai dan praktik budaya etnis Tionghoa dalam konteks bisnis di Indonesia, sehingga dapat mengurangi prasangka buruk dan mempromosikan kolaborasi yang lebih baik dengan etnis Tionghoa. Analisis data didasarkan pada teori Schwartz’s human value dan traditional Chinese culture. Penelitian ini dilakukan dengan metode studi literatur menggunakan google scholar sebagai database dengan kata kunci “Chinese”, “business”, “Indonesia”, dan “entrepreneur”. Dari 10 penelitian yang relevan, hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai yang diutamakan dalam bisnis adalah universalism, benevolence, achievement, dan power. Dasar filosofis tradisi Cina yang memengaruhi praktik bisnis etnis Tionghoa di Indonesia adalah daoisme, konfusianisme, mohisme, dan legalisme. Oleh karena itu, untuk membangun kerja sama bisnis yang baik dengan etnis Tionghoa, masyarakat pribumi dapat membangun karakter yang dapat dipercaya, meningkatkan kemampuan diri, dan menjaga nama baik diri.
Efektivitas Pelatihan Peer Counselor untuk Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Praktik Konseling Dasar Siswa Fatmawiyati, Jati; Puspitasari, Dwi Nikmah; Hapsari, Ayu Dyah; An-Nisa, Lhulu; Artha, Sholicahtud Devytta; Andayani, Sri
Flourishing Journal Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i12026p171-181

Abstract

The imbalance between school counsellors and students limits the effectiveness of psychosocial services, requiring preventive student-empowerment approaches. This study aimed to examine the effectiveness of peer counsellor training in improving students’ knowledge and basic counselling practice skills. A quasi-experimental one-group pretest-posttest design was conducted with 26 vocational high school students selected through purposive sampling. Instruments consisted of a basic counselling knowledge questionnaire and practice observation sheets, and data were analysed using a paired sample t-test. Results indicated a significant post-training improvement (p < .001; d = 1.135), with mean scores increasing from 119.6 to 151.9. The findings suggest that integrating counselling concepts, ethics, empathic communication, role-play simulation, and structured feedback facilitates the transformation of declarative knowledge into procedural competence and enhances self-efficacy. The training also strengthened interpersonal readiness to provide peer support as an extension of school counselling services. In conclusion, peer counsellor training effectively improves students’ basic counselling competencies and offers a collaborative strategy to expand access to school mental-health services, although further controlled and longitudinal studies are recommended to strengthen external validity. AbstrakKeterbatasan rasio guru bimbingan dan konseling dengan jumlah siswa menyebabkan layanan psikososial di sekolah belum optimal, sehingga diperlukan pendekatan preventif berbasis pemberdayaan siswa. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas pelatihan peer counselor dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktik konseling dasar siswa. Metode penelitian menggunakan kuasi eksperimen dengan desain one-group pretest post-test pada 26 siswa sekolah menengah kejuruan yang dipilih secara purposive. Instrumen berupa kuesioner pengetahuan konseling dasar dan lembar observasi praktik, sedangkan analisis data menggunakan paired sample t-test. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan skor pasca pelatihan (p < 0,001; d = 1,135) dengan kenaikan mean dari 119,6 menjadi 151,9. Pembahasan mengindikasikan bahwa kombinasi psikoedukasi konsep konseling, etika, empati, role-play, dan umpan balik reflektif memfasilitasi transformasi pengetahuan deklaratif menjadi keterampilan prosedural serta meningkatkan efikasi diri peserta. Pelatihan juga memperkuat kesiapan interpersonal dalam memberikan dukungan sebaya sebagai perpanjangan layanan konselor sekolah. Sehingga, pelatihan peer counselor efektif meningkatkan kompetensi konseling dasar siswa dan berpotensi menjadi strategi kolaboratif untuk memperluas akses layanan kesehatan mental di sekolah, meskipun penelitian lanjutan dengan kelompok kontrol dan follow-up diperlukan untuk memperkuat validitas eksternal.
Intimacy Virtual pada Pasangan Romantis yang Belum Pernah Bertemu Secara Tatap Muka: Studi Fenomenologi Utami, Uly Dahniar; Qoyyimah, Nur Rohmah Hidayatul; Bisri, Mohammad; Putri, Raissa Dwifandra
Flourishing Journal Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i12026p65-88

Abstract

Humans need social relationships to develop a sense of identity and achieve well-being. In early adulthood, the development of a sense of identity can be achieved through intimacy. One form of intimacy developed at this stage is through establishing romantic relationships or dating. This study aims to explore the dynamics of virtual intimacy in romantic couples who have never met face-to-face. The study uses a qualitative approach with a phenomenological method. There are six participants (three couples) selected based on the duration of their virtual relationship. Data are collected through in-depth interviews and documentation, then analyzed using thematic analysis. The results show that intense communication, self-disclosure, and trust are the main factors in the formation and maintenance of virtual intimacy. In addition, the duration of the relationship influenced the patterns of interaction and the level of self-disclosure between couples. Without physical meetings, participants were able to maintain emotional closeness through consistent virtual interactions. This study is expected to provide an overview of the intimacy formed virtually for future researchers. AbstrakManusia membutuhkan hubungan sosial untuk mengembangkan rasa identitas dan mencapai kesejahteraan. Pada masa dewasa awal, pengembangan rasa identitas dapat dicapai melalui keintiman. Bentuk keintiman yang dibangun pada tahap ini salah satunya melalui menjalin hubungan romantis atau berpacaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika intimacy virtual pada pasangan romantis yang belum pernah bertemu secara tatap muka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Partisipan berjumlah enam orang yang merupakan tiga pasangan yang dipilih berdasarkan durasi hubungan virtual. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang intens, keterbukaan diri, dan kepercayaan menjadi faktor utama dalam pembentukan dan pemeliharaan intimacy virtual. Selain itu, durasi hubungan memengaruhi pola interaksi dan tingkat pengungkapan diri antarpasangan. Tanpa adanya pertemuan secara fisik, partisipan bisa mempertahankan kedekatan secara emosional melalui interaksi virtual yang konsisten. Penelitian ini diharapkan bisa memberikan gambaran mengenai intimacy yang terbentuk secara virtual bagi peneliti selanjutnya.
Academic-Based Service Brand: Analisis Brand Equity Laboratorium Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang Tyas, Yuanita Putri Ayuning; Fatmawiyati, Jati; Andayani, Sri
Flourishing Journal Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i12026p104-117

Abstract

Brand equity has become one of the central concepts in modern marketing, particularly in the service sector, which emphasizes interactions between consumers and service providers. This study aims to describe the brand equity formation of the Psychology Laboratory, Faculty of Psychology, Universitas Negeri Malang (UM), as a provider of psychological services based on Aaker’s theory (1991, 1996) and consumer behaviour perspectives. This study used a descriptive qualitative design with a case study approach, involving two participants who were users of psychological services. Data were collected through in-depth interviews, observations, and open-ended questionnaires, and were analysed using thematic analysis. Empirical findings reveal that the core dimensions of brand equity, brand awareness, brand association, perceived quality, brand loyalty, and other proprietary brand assets emerge from academic reputation, direct experiences, and interpersonal trust rather than commercial promotion. The findings highlight that the UM Psychology Laboratory holds a distinctive identity as an academic-based service brand that relies on scientific credibility as its primary source of brand strength. This credibility-based brand equity provides a conceptual and practical framework for strengthening institutional trust and long-term engagement in psychological service organizations. AbstrakBrand equity menjadi salah satu konsep utama dalam bidang pemasaran modern, terutama dalam sektor jasa yang menekankan interaksi antara konsumen dan penyedia layanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembentukan brand equity Laboratorium Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Malang (UM), sebagai penyedia layanan psikologi berdasarkan teori Aaker (1991, 1996) dan perspektif perilaku konsumen. Penelitian menggunakan desain deskriptif-kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melibatkan 2 orang subjek pengguna layanan psikologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan kuesioner terbuka, kemudian dianalisis dengan teknik tematik. Temuan empiris menunjukkan bahwa dimensi inti brand equity, brand awareness, brand association, perceived quality, brand loyalty, dan other proprietary brand assets muncul dari reputasi akademis, pengalaman langsung, dan kepercayaan interpersonal, alih-alih promosi komersial. Hal ini menyoroti identitas khas Laboratorium Psikologi UM sebagai academic-based service brand yang mengandalkan kredibilitas ilmiah sebagai sumber utama kekuatan mereknya. Brand equity berbasis kredibilitas ini menyediakan kerangka kerja konseptual dan praktis untuk memperkuat kepercayaan institusional serta keterlibatan jangka panjang dalam organisasi layanan psikologi.
Eksplorasi Tradisi Ayun Bapukung dalam Pengasuhan Anak di Banjarmasin, Kalimantan Selatan Sari, Windy Septina; Pudjibudojo, Jatie K.; Tondok, Marselius Sampe; Hasanuddin, Amalia Soraya
Flourishing Journal Vol. 5 No. 11 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i112025p638-647

Abstract

Bapukung is a unique tradition of the Banjar people in South Kalimantan that has been passed down through generations, involving putting a baby to sleep in a sitting position within a cloth cradle wrapped with a long fabric. It is believed that this practice helps babies sleep soundly, reduces fussiness, and supports physical development by strengthening the neck, spine, and posture, and providing a sense of security and comfort. This study aims to explore the cultural meanings, emotional significance, and psychological values embedded in the Bapukung tradition, particularly in relation to child well-being and parental mental health. The methodology employed in this study is a literature review, which involves systematically searching for and critically evaluating relevant sources from academic journals and published papers. The results revealed that beyond health benefits, Bapukung positively impacts a child’s intelligence by promoting quality sleep and establishing healthy sleep patterns. The rocking motion mimics being cradled, offering tranquillity even in noisy environments, and eases parents to care for the baby while managing other activities. Spiritual values such as reciting dzikir and hymns accompany the practice, adding moral and educational dimensions. With its numerous benefits, Bapukung deserves preservation as a cultural heritage that supports holistic child-rearing. AbstrakBapukung adalah tradisi unik masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan yang diwariskan secara turun-temurun, dengan menidurkan bayi dalam posisi duduk di dalam buaian kain yang dibalut menggunakan kain panjang. Praktik ini dipercaya membantu bayi tidur lebih nyenyak, mengurangi rewel mendukung perkembangan fisik dengan memperkuat leher, tulang belakang, dan postur tubuh serta memberikan rasa aman dan nyaman. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna budaya, nilai emosional, dan nilai psikologis yang terkandung dalam tradisi bapukung, khususnya kaitannya dengan kesejahteraan anak dan kesehatan mental orang tua. Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka, yaitu dengan melakukan penelusuran sistematis serta evaluasi kritis terhadap sumber-sumber relevan dari jurnal akademik dan publikasi ilmiah. Hasil kajian menunjukkan bahwa selain manfaat kesehatan, bapukung juga berdampak positif pada kecerdasan anak melalui kualitas tidur yang baik dan pembentukan pola tidur yang sehat. Gerakan mengayun meniru rasa dipeluk, memberikan ketenangan bahkan di lingkungan yang bising. Tradisi ini juga meringankan tugas orang tua,memungkinkan mereka merawat bayi sambil tetap menyelesaikan aktivitas lain. Nilai spiritual seperti pembacaan dzikir dan nyanyian turut mengiringi praktik ini, menambah dimensi moral dan pendidikan. Dengan berbagai manfaat tersebut, bapukung layak dilestarikan sebagai warisan budaya yang mendukung pola pengasuhan anak secara holistik.
Kajian Politik pada Generasi Z: Menelisik Pengaruh Efikasi Politik dan Literasi Digital terhadap Perilaku Memilih di Indonesia Hidayat, Ardea Widianto Ari; Sa'id, Mochammad
Flourishing Journal Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i12026p226-245

Abstract

This research aims to investigate the influence of political efficacy and digital literacy on the voting behavior of Generation Z in Indonesia using a quantitative approach. The research population consists of Generation Z individuals aged 18-26, who are registered as permanent voters. Data was collected through an online questionnaire using three scales: Digital Literacy Scale to measure digital literacy, Political Efficacy Short Scale to measure political efficacy, and Voting Behavior Scale to measure voting behavior. Through convenience sampling, a total of 444 respondents (M=82, F=362) were obtained. The collected data was then analyzed using binary logistic regression. The research findings indicate that both digital literacy and political efficacy, either simultaneously or partially, can predict voting behavior, with a predictive range of 32.9% to 42.6%. Another interesting finding from the research is that external political efficacy is not a predictor of voting behavior in presidential elections (p > .05). Further theoretical and practical recommendations will be discussed. Abstrak Riset ini mencoba untuk menginvestigasi lebih mendalam terkait pengaruh efikasi politik dan literasi digital terhadap perilaku memilih pada generasi Z di Indonesia melalui pendekatan kuantiatif. Populasi dalam riset ini adalah generasi Z yang berumur 18-26 tahun atau yang sudah terdaftar sebagai Daftar Pemilih Tetap (DPT). Data diambil melalui kuesioner online menggunakan tiga skala, yaitu Digital Literacy Scale untuk mengukur literasi digital, Political Efficacy Short Scale untuk mengukur efikasi politik, dan Skala Perilaku Memilih untuk mengukur perilaku memilih. Melalui convenience sampling didapatkan sampel sebanyak 444 responden (L=82, P= 362). Data yang sudah terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan pendekatan binary logistic regression. Hasil riset menunjukkan baik secara simultan maupun parsial variabel literasi digital dan efikasi politik mampu menjadi prediktor perilaku memilih dengan besaran prediksi pada rentang 32,9 – 42,6 persen. Temuan lain yang menarik dari riset ini menunjukkan jika efikasi politik eksternal tidak mampu menjadi prediktor perilaku memilih pada pemilihan presiden (p > ,05). Adapun saran secara teoritis dan praktis akan diuraikan lebih lanjut.