cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
flourishing.journal@um.ac.id
Phone
+62341-552115
Journal Mail Official
flourishing.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jln. Semarang 5 Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Flourishing Journal
ISSN : -     EISSN : 27979865     DOI : -
Core Subject : Social,
Flourishing Journal is an open-access and peer-reviewed journal dedicated to publishing research articles in the field of psychology. Flourishing Journal accepts research articles that have the potential to make a significant contribution to the exploration and development of psychology and behavioral sciences. Articles submitted to this journal must display a well-thought-out study design, appropriate data analysis, and interpretation.
Articles 318 Documents
Studi Bibliometrik Pengasuhan Anak Usia Dini di Era Digital (2000-2025) Inayaturrobbani, Fakhirah
Flourishing Journal Vol. 5 No. 5 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i52025p259-273

Abstract

This study examines the growing body of research on the intersection of parenting, early childhood development, and technology. As technology increasingly integrates into parenting practices, there is a need for a comprehensive overview of the research landscape. This study aims to map the trends, identify key contributors, and highlight emerging themes within this domain. A quantitative bibliometric analysis was conducted using publications indexed in Scopus from 2000 to 2025. The search strategy focused on terms related to parenting, early childhood, and technology, with a specific emphasis on psychological research. After applying exclusion criteria, 188 articles were selected for analysis. The results show a significant increase in publications, particularly from 2018 onward, with the highest publication output recorded in 2024. Network analysis revealed four major thematic clusters: screen time, child behavior, parental stress, and autism. The study also observed a shift toward more child-centered research, with a growing interest in interactive technologies. Despite the advancements, gaps remain in parental well-being and family dynamics, indicating a need for future research that explores both child development and the broader psychosocial context of digital parenting. Abstrak Seiring dengan meningkatnya peran teknologi dalam praktik pengasuhan anak usia dini, diperlukan pemetaan terhadap peta penelitian pada tema penelitian pengasuhan, perkembangan anak usia dini, dan penggunaan teknologi. Tujuan utama studi ini adalah untuk mengidentifikasi tren yang muncul, mengenali kontributor (peneliti) utama, serta menyoroti tema-tema penting yang berkembang dalam bidang pengasuhan anak usia dini dan teknologi. Studi ini menggunakan pendekatan bibliometrik kuantitatif terhadap publikasi yang terindeks di Scopus dari tahun 2000 hingga 2025. Fokus pencarian diarahkan pada istilah yang berkaitan dengan pengasuhan, anak usia dini, dan teknologi, dan terbatas pada studi-studi psikologis. Setelah melakukan proses eksklusi, dihasilkan sebanyak 188 artikel dianalisis. Temuan menunjukkan lonjakan jumlah publikasi yang signifikan sejak tahun 2018, dengan puncaknya pada tahun 2024. Analisis jaringan mengidentifikasi empat klaster utama: waktu penggunaan layar, perilaku anak, stres pada orang tua, dan autisme. Studi ini juga menyoroti pergeseran fokus penelitian ke arah anak sebagai subjek utama (bukan lagi pada orang tua) seiring meningkatnya perhatian pada teknologi yang bersifat interaktif. Walaupun terdapat kemajuan yang berarti, masih ada kekosongan dalam kajian terkait kesejahteraan orang tua dan dinamika keluarga. Hal ini menunjukkan perlunya arah penelitian selanjutnya yang tidak hanya menelaah perkembangan anak, tetapi juga memperhatikan konteks psikososial yang menyertai praktik pengasuhan digital.
Analisis Dampak Psikologis Korban Love Scam Segara, I G Bayu Candra; Chusniyah, Tutut; Dharmastuti, Anjarie
Flourishing Journal Vol. 5 No. 9 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i92025p527-535

Abstract

The phenomenon of love scams, or online dating fraud, has become a crucial issue in the realm of digital crime that capitalizes on individuals' emotional vulnerability, especially through social media platforms and dating sites. This research aims to analyze the psychological impact on victims of such scams, using a descriptive qualitative approach and a literature review. The study results show that victims of love scams not only experience significant financial losses but also face deep emotional trauma, such as post-traumatic stress disorder (PTSD), depression, feelings of shame, loss of self-confidence, and suicidal ideation. Findings also indicate that the majority of victims are middle-aged women with a high level of education and a tendency towards impulsivity and affective dependency. The long-term process of deception leads to a complex psychological attachment to the perpetrator, worsening the victim's mental state. In addition, this deception has a systemic impact on the victim's social status and interpersonal relationships. This study recommends in-depth professional psychological interventions and multidimensional prevention strategies to reduce the prevalence and long-term impact of digital romance scams. AbstrakFenomena love scam atau penipuan kencan daring telah menjadi isu krusial dalam ranah kejahatan digital yang memanfaatkan kerentanan emosional individu, khususnya melalui platform media sosial dan situs kencan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak psikologis yang dialami oleh korban penipuan tersebut, dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi literatur . Hasil studi menunjukkan bahwa korban love scam tidak hanya mengalami kerugian finansial yang signifikan, tetapi juga menghadapi trauma emosional mendalam, seperti gangguan stres pascatrauma (PTSD), depresi, perasaan malu, kehilangan kepercayaan diri, hingga ingin bunuh diri. Temuan juga mengindikasikan bahwa mayoritas korban merupakan perempuan setengah baya dengan tingkat pendidikan tinggi dan kecenderungan impulsif serta ketergantungan afektif. Proses penipuan yang berlangsung dalam jangka waktu panjang menyebabkan keterikatan psikologis yang kompleks terhadap pelaku, sehingga memperburuk kondisi mental korban. Selain itu, penipuan ini berdampak sistemik terhadap status sosial dan hubungan interpersonal korban. Penelitian ini merekomendasikan intervensi psikologis profesional yang mendalam serta strategi pencegahan multidimensi guna mengurangi prevalensi dan dampak jangka panjang dari penipuan asmara digital.
Teknologi Digital dan Kesejahteraan Psikologis Karyawan Generasi Z: Tinjauan Sistematis di Dunia Kerja Modern Widodo, Nikita Amanda Putri; Chusniyah, Tutut
Flourishing Journal Vol. 5 No. 8 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i82025p462-471

Abstract

The development of digital technology in the modern workplace presents both efficiency opportunities and challenges for the psychological well-being of Generation Z employees. This study is a systematic review based on PRISMA guidelines and JBI quality assessment of nine relevant articles (2019–2025) that discuss the relationship between work technology and the psychological well-being of Gen Z. The analysis in this study highlights how the use of digital technology in the workplace can trigger psychological stress such as digital stress, technostress, and burnout, which ultimately worsens various aspects of the psychological well-being of Generation Z employees. The findings show that technology (e.g., collaboration platforms, communication applications, and work algorithms) has the potential to increase productivity and flexibility, but also increases technostress, digital fatigue, and the blurring of work-life boundaries that negatively impact most dimensions of Psychological Well-Being (especially autonomy, environmental mastery, positive relations, and purpose in life). This study emphasizes the importance of digital strategies that are not only technically based but also humanistic in designing a healthy and inclusive future work ecosystem for Generation Z. AbstrakPerkembangan teknologi digital dalam dunia kerja modern menghadirkan peluang efisiensi sekaligus tantangan bagi kesejahteraan psikologis karyawan Generasi Z. Kajian ini merupakan tinjauan sistematis berdasarkan pedoman PRISMA dan penilaian kualitas JBI terhadap sembilan artikel relevan (2019–2025) yang membahas hubungan teknologi kerja dengan kesejahteraan psikologis Gen Z. Analisis dalam kajian ini menyoroti bagaimana penggunaan teknologi digital di tempat kerja dapat memicu tekanan psikologis seperti digital stress dan technostress yang pada akhirnya memperburuk berbagai aspek kesejahteraan psikologis karyawan Generasi Z. Temuan menunjukkan bahwa teknologi (mis. platform kolaborasi, aplikasi komunikasi, dan algoritme kerja) berpotensi meningkatkan produktivitas dan fleksibilitas, tetapi juga meningkatkan technostress, kelelahan digital, dan kaburnya batas kerja-hidup yang berdampak negatif pada sebagian besar dimensi psychological well-being (terutama autonomy, environmental mastery, positive relations, serta purpose in life). Studi ini menegaskan pentingnya strategi digital yang tidak hanya berbasis teknis, tetapi juga humanistik, dalam mendesain ekosistem kerja masa depan yang sehat dan inklusif bagi Generasi Z.
Kebermaknaan Hidup Susteran Usia Dewasa Madya Ilmi, Fadhilah Nur; Nilawaty, Azzah
Flourishing Journal Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i32025p175-191

Abstract

The meaning of life is a crucial value, as discovering it can lead to true happiness. This qualitative case study explores the process of finding life’s meaning through the life journey of Sister L. The study applies pattern matching and explanation-building analysis to examine how experiences, attitudes, and creativity influence her understanding of life’s purpose. Data were collected through interviews, observations, and documentation. Sister L’s journey reveals that personal experiences, reflective attitudes, and creative expression contribute significantly to the development of self-understanding and a mature self-concept. Spiritual maturity and continuous learning from life experiences guided her in setting meaningful life goals and sustaining strong personal commitments. Support from her social environment also played a vital role in reinforcing her path as a religious sister. Her deep experiences of suffering and reflection eventually led her to find life’s meaning when she joined the Compagnia Missionaria del Sacro Cuore congregation. Through disciplined routines and consistency, Sister L gradually achieved her life goals, found inner satisfaction, and reached self-actualization. Her final life purpose is now centered on readiness to face God. This study offers valuable insight into life’s meaning and decision-making, particularly for individuals choosing a solitary or celibate life path. AbstrakMakna hidup menjadi nilai yang penting karena jika seseorang mampu menemukan arti hidupnya maka kebahagiaan akan muncul. Peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif pendekatan studi kasus. Menggunakan metode analisis kombinasi pattern matching dengan analisis explanation building, fokus menganalisis aspek kebermaknaan hidup pada tahapan alur hidup suster dan menggali pengaruh proses penemuan makna hidup. Pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Aspek-aspek pengalaman, sikap, dan kreativitas dapat mempengaruhi proses pencarian makna hidup dari Suster L. Suster L menemukan makna hidup melalui pengalaman, sikap, dan kreativitas yang membentuk pemahaman diri dan kematangan konsep diri. Pembelajaran dari pengalaman hidup serta kematangan rohani membantunya menentukan tujuan dan komitmen hidup. Dukungan sosial turut memperkuat tekadnya sebagai suster. Pengalaman penderitaan dan pemaknaan hidup membawanya pada arti hidup saat bergabung dengan kongregasi Compagnia Missionaria del Sacro Cuore. Dengan menjalani rutinitas secara konsisten, ia berhasil mencapai tujuan-tujuan hidup, merasakan kepuasan, dan mengaktualisasikan diri. Kini, tujuan akhirnya adalah kesiapan untuk menghadap Tuhan. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru untuk masyarakat luas mengenai pandangan hidup dan pemilihan keputusan, terutama pada individu yang memutuskan untuk hidup melajang dan sendiri.
Self-Driven Success: Studi Kualitatif Motivasi Intrinsik Mahasiswa Edupreneur melalui Lensa Teori Determinasi Diri Tnopo, Isfridus Tafin; Daeng, Sirilus Ugi; Utomo, Hanggara Budi
Flourishing Journal Vol. 5 No. 5 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i52025p274-285

Abstract

The phenomenon of students engaging in entrepreneurship while undergoing higher education is growing, marking the emergence of a new identity as edupreneurs. This is influenced by various psychological factors that play a significant role in shaping entrepreneurial intentions and behaviors among university students. This study aims to explore in depth the intrinsic motivation of students in running a business through a phenomenological approach based on self-determination theory. Data were collected through in-depth interviews with three students who run different businesses, namely a fresh vegetable provider, a coffee shop, and a used clothing seller. Thematic analysis was conducted based on three fundamental psychological needs: autonomy, competence, and connectedness. The results show that students' intrinsic motivation is formed through the experience of running a business that provides freedom in making decisions, opportunities to develop skills, and support from the social environment. These findings reinforce the concept of self-determination theory that sustainable and meaningful motivation stems from the fulfillment of basic psychological needs. The contribution of this research is that it can broaden the understanding of the formation of student entrepreneurial behavior and the importance of the role of higher education in supporting the development of the intrinsic motivation of edupreneur students. AbstrakFenomena mahasiswa yang terlibat dalam dunia kewirausahaan sambil menjalani pendidikan tinggi semakin berkembang, menandai munculnya identitas baru sebagai edupreneur. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis yang memainkan peran penting dalam membentuk niat dan perilaku kewirausahaan di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam motivasi intrinsik mahasiswa dalam berwirausaha melalui pendekatan fenomenologi berdasar teori determinasi diri. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap tiga mahasiswa yang menjalankan usaha berbeda yaitu penyedia sayuran segar, penjual warung kopi, dan penjual pakaian bekas. Analisis tematik dilakukan berdasarkan tiga kebutuhan psikologis dasar yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi intrinsik mahasiswa terbentuk melalui pengalaman menjalankan usaha yang memberikan kebebasan dalam mengambil keputusan, kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, dan dukungan dari lingkungan sosial. Temuan ini memperkuat konsep teori determinasi diri bahwa motivasi yang berkelanjutan dan bermakna berakar dari pemenuhan kebutuhan psikologis dasar. Kontribusi penelitian ini adalah dapat memperluas pemahaman mengenai pembentukan perilaku kewirausahaan mahasiswa dan pentingnya peran pendidikan tinggi untuk mendukung pengembangan motivasi intrinsik mahasiswa edupreneur.
Keseimbangan Emosi dan Jiwa: Studi Korelasional tentang Regulasi Emosi dan Kesejahteraan Psikologis pada Siswa Rakasiwy, Mochamad Randy Pradika; Satwika, Yohana Wuri
Flourishing Journal Vol. 5 No. 7 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i72025p389-400

Abstract

The decline in psychological well-being among students is a global phenomenon, largely influenced by the unstable nature of adolescent life and the complex challenges they face in academic, social, and other aspects. This study examines the relationship between emotion regulation and psychological well-being among high school students in Surabaya. The research employed a quantitative correlational method and involved a sample of 427 students. Emotion regulation and psychological well-being were measured using validated scales. The results indicated that the majority of students reported a low level of psychological well-being (56,9%), while the level of emotion regulation was predominantly in the high category (44,3%). Data analysis revealed a moderately strong correlation between the two variables, with a correlation coefficient of 0.465. The p-value for the relationship between emotion regulation and psychological well-being was 0.000. At a significance level of 0.05, the p-value of 0.000 indicates a statistically significant result; thus, the null hypothesis is rejected. Therefore, the two variables are significantly associated. This study highlights a positive correlation between students’ emotion regulation and their psychological well-being. AbstrakPenurunan kesejahteraan psikologis di kalangan pelajar merupakan fenomena yang terjadi secara global yang disebabkan oleh fase kehidupan pelajar yang cenderung tidak stabil dan dihadapkan permasalahan kompleks pada aspek akademik, sosial, maupun isu lainnya. Studi ini mengkaji hubungan regulasi emosi dengan kesejahteraan psikologis pada siswa sekolah menengah atas di Kota Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif korelasional dan melibatkan 427 siswa sebagai sampel. Regulasi emosi dan kesejahteraan psikologis diukur menggunakan skala yang telah tervalidasi. Hasil menunjukkan mayoritas siswa menunjukkan skor kesejahteraan psikologis pada taraf rendah yakni sebesar 56,9%, sedangkan skor regulasi emosi pada taraf tinggi yakni 44,3%. Hasil analisis data menunjukkan adanya korelasi yang cukup kuat antara kedua variabel, dengan koefisien korelasi sebesar 0,465. Nilai p-value antara regulasi emosi dan kesejahteraan psikologis adalah 0,000. Pada taraf signifikansi 0,05, nilai p sebesar 0,000 menunjukkan bahwa hasil uji signifikan, sehingga hipotesis nol ditolak. Dengan demikian, kedua variabel memiliki hubungan yang signifikan secara statistik. Penelitian ini mengungkapkan bahwa regulasi emosi siswa berkorelasi positif dengan kesejahteraan psikologis.
Perbedaan Motivasi Kerja Generasi Milenial Berstatus Sosial Ekonomi Rendah di Kota Makassar Hasmy, Zulfauzy Abu; Riyono, Bagus
Flourishing Journal Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i32025p124-139

Abstract

Millennial workers are a group of individuals who are relatively new to the workforce and have limited experience. Nevertheless, they have rapidly grown to dominate the job market. Several previous studies have explored the various work motivations of the millennial generation, which have since sparked ongoing debates. The purpose of this study is to examine and describe the differences in work motivation among Millennials with low socioeconomic levels in Makassar. This study hypothesizes that simultaneously there is a significant difference in the Millennials’ work motivation based on the personal need fulfillment of Millennials workers in Makassar. The participants in this study are 200 millennial workers with a low economic level. They are consisted of work focused in the service sector, employees in the production sector, sales workers, and fishermen. The Work Motivation Scale is used for data collection by an online platform and a paper-and-pencil test. Moreover, the difference test in the multivariate analysis of variance (MANOVA) is generated in this research. The result shows that, simultaneously, there is a significant difference in the work motivation based on personal need fulfilment of the Millennials who have low economic level in Makassar. AbstrakKelompok pekerja generasi milenial merupakan mereka yang baru serta minim pengalaman yang memasuki dunia kerja. Meskipun demikian perkembangan mereka sangat cepat dalam mendominasi lapangan pekerjaan. Beberapa studi terdahulu menjelaskan berbagai motivasi kerja generasi milenial yang kemudian menjadi perdebatan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan mendeskripsikan perbedaan motivasi kerja pada generasi milenial berstatus sosial ekonomi rendah di Kota Makassar. Hipotesis penelitian ini adalah secara simultan terdapat perbedaan yang signifikan pada motivasi kerja berdasarkan pemenuhan kebutuhan pada pekerja milenial di Kota Makassar. Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 200 orang pekerja milenial berstatus sosial ekonomi rendah yang bekerja pada bidang pekerjaan pelayanan jasa, industri dan pengolahan, tenaga penjualan serta nelayan tangkap. Pengumpulan data menggunakan skala motivasi kerja yang disebar pada platform online serta dengan cara paper and pencil test. Analisis data menggunakan uji perbedaan multivariat analysis of varians (Manova). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada motivasi kerja berdasarkan pemenuhan kebutuhan pada pekerja milenial berstatus sosial ekonomi rendah di Kota Makassar.
Eksplorasi Pengalaman Individu dengan Gangguan Psikosomatik: Gejala, Faktor Psikologis, Dampak, dan Strategi Koping Adnan, Kahlil; Hidajat, Helga Graciani
Flourishing Journal Vol. 5 No. 10 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i102025p578-598

Abstract

Psychosomatic disorders represent a complex condition involving the interaction of psychological, biological, and social factors, significantly affecting an individual's physical and mental health. This study aims to explore the experiences of individuals with psychosomatic disorders, particularly regarding the symptoms experienced, contributing factors, impacts on daily life, and coping strategies employed. The research utilizes a qualitative phenomenological approach, conducting semi-structured interviews with three participants who have experienced psychosomatic disorders. The findings reveal that physical symptoms such as headaches, nausea, fatigue, and insomnia are closely related to stress, academic pressure, or work demands. The impacts include decreased productivity, disruption of social relationships, and an overall decline in quality of life. Coping strategies employed encompass internal approaches (relaxation and emotional management) and external approaches (social support and medical consultations). Participants also highlighted the importance of more comprehensive healthcare services, public education, and social support in helping them manage these disorders. This study emphasizes the need for a holistic approach in addressing psychosomatic disorders by integrating biopsychosocial aspects to improve the quality of life for affected individuals. AbstrakGangguan psikosomatik merupakan kondisi yang kompleks, melibatkan interaksi antara faktor psikologis, biologis, dan sosial yang berdampak signifikan pada kesehatan fisik dan mental individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman individu dengan gangguan psikosomatik, khususnya terkait gejala yang dialami, faktor penyebab, dampak terhadap kehidupan sehari-hari, serta strategi koping yang diterapkan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan wawancara semi-terstruktur terhadap tiga partisipan yang memiliki pengalaman gangguan psikosomatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala fisik seperti sakit kepala, mual, kelelahan, dan insomnia sangat terkait dengan stres, tekanan akademik, atau tuntutan pekerjaan. Dampak yang dirasakan meliputi penurunan produktivitas, gangguan hubungan sosial, dan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan. Strategi koping yang diterapkan mencakup pendekatan internal (relaksasi dan pengelolaan emosi) serta pendekatan eksternal (dukungan sosial dan konsultasi medis). Partisipan juga mengungkapkan pentingnya layanan kesehatan yang lebih komprehensif, edukasi masyarakat, dan dukungan sosial untuk membantu mereka mengelola gangguan ini. Penelitian ini menegaskan perlunya pendekatan holistik dalam penanganan gangguan psikosomatik, dengan mempertimbangkan aspek biopsikososial untuk meningkatkan kualitas hidup individu yang terdampak.
Adaptasi dan Validasi Alat Ukur Kepuasan Kebutuhan Dasar Psikologis pada Guru Utomo, Hanggara Budi; Putri, Raissa Dwifandra
Flourishing Journal Vol. 5 No. 9 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i92025p472-482

Abstract

Teachers' interest and desire and motivation to teach will arise if there is an experience of basic psychological need satisfaction. This study aims to adapt and validate the Basic Psychological Need at Work developed by Ilardi, in order to obtain a valid and reliable measuring instrument to measure the satisfaction of the basic psychological needs of the Indonesian version of teachers in East Java. The adaptation process was carried out using guidelines from the International Test Commission in 2017. The validation process is carried out by testing content validity using content validity analysis and construct validity using confirmatory factor analysis. The respondents were 108 elementary school teachers in Kediri, Blitar, Nganjuk, and Tulungagung. Based on the results, it can be seen that the measurement model of the psychological basic needs satisfaction construct explains the existence of a good goodness of fit. In addition, the composite reliability value of the measuring instrument is between 0.74-0.93, and the average variance extracted value is in the range of 0.64-0.92. The results of this study indicate that the Basic Psychological Need at Work measuring instrument is a valid and reliable measuring instrument for measuring basic psychological need satisfaction in teachers in Indonesia, especially in East Java
Pengaruh Kontrol Diri dan Dukungan Sosial terhadap Disiplin Kerja pada Operator SPBU Perusahaan X Ningtyas, Krisma; Sulistiyaningsih, Retno
Flourishing Journal Vol. 5 No. 8 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i82025p422-441

Abstract

Work discipline is a fundamental aspect in developing human resources who comply with regulations and contribute to improving performance quality, particularly for gas station operators who interact directly with customers. Self-control and social support are assumed to play an important role in shaping such disciplined behavior. Therefore, this study aims to examine the influence of self-control and social support on the level of work discipline among gas station operators at Company X. Data were collected using questionnaires. Participants were recruited using a purposive sampling technique, with a total of 291 participants involved. The results indicate that self-control and social support jointly have a significant effect on work discipline, contributing 41.3%. These findings suggest that enhancing self-control abilities and ensuring adequate social support can foster better work discipline among gas station operators. Hence, it is recommended that the company implement training programs related to self-control and strengthen social support systems in the workplace to promote higher employee discipline. AbstrakKedisiplinan kerja merupakan aspek fundamental dalam pengembangan sumber daya manusia yang patuh terhadap aturan serta berkontribusi pada peningkatan mutu kinerja, khususnya bagi petugas SPBU yang berhubungan langsung dengan konsumen. Faktor kontrol diri dan dukungan sosial diperkirakan memiliki peranan penting dalam membentuk perilaku disiplin tersebut. Berdasarkan hal itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kontrol diri dan dukungan sosial terhadap tingkat kedisiplinan kerja operator SPBU di Perusahaan X. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen berupa skala. Pengambilan partisipan dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan total partisipan yang terlibat sebanyak 291 partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol diri dan dukungan sosial secara simultan memberikan pengaruh signifikan terhadap disiplin kerja dengan sumbangan sebesar 41,3%. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan mengendalikan diri serta tersedianya dukungan sosial yang memadai dapat mendorong peningkatan disiplin kerja pada operator SPBU. Oleh karena itu, disarankan agar pihak perusahaan mengimplementasikan program pelatihan terkait kontrol diri serta memperkuat sistem dukungan sosial di lingkungan kerja untuk mendukung peningkatan kedisiplinan karyawan.