cover
Contact Name
Eka Widiyananto
Contact Email
ewdynt@gmail.com
Phone
+628122089782
Journal Mail Official
jurnalarsitektur@sttcirebon.ac.id
Editorial Address
© Redaksi Jurnal Arsitektur Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Gd.Lt.1 Jl.Evakuasi No.11, Cirebon 45135
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur
ISSN : 20879296     EISSN : 26856166     DOI : 10.59970/jas
Core Subject : Engineering,
Fokus Jurnal Arsitektur adalah mahasiswa dan dosen pembimbing untuk Mata Kuliah Metodologi Penelitian, Seminar atau Skripsi di Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon atau Prodi Arsitektur pada Perguruan Tinggi lain di Indonesia. Ruang lingkup pada Jurnal Arsitektur adalah ilmu kearsitekturan dengan bidang keilmuan diantaranya bidang keilmuan kota, perumahan dan permukiman, bidang keilmuan ilmu sejarah Arsitektur, filsafat dan teori arsitektur, bidang keilmuan teknologi bangunan, manajemen bangunan, building science, serta bidang keilmuan perancangan arsitektur.
Articles 114 Documents
PENERAPAN ANALOGI ARSITEKTUR PADA PERANCANGAN MUSEUM ARKEOLOGI PAWON ECO-HERITAGE DI KABUPATEN BANDUNG BARAT Nadila Tamisanesia; Juarni Anita; Shirli Putri Asri
Jurnal Arsitektur Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2791.325 KB) | DOI: 10.59970/jas.v14i2.67

Abstract

Ditemukannya fosil-fosil dan artefak peninggalan pra-sejarah Arkeologi di situs Gua Pawon Kabupaten Bandung Barat, maka museum dibutuhkan sebagai tempat melindungi temuan, konservasi situs, sekaligus tempat edukasi dan sosial masyarakat. Tujuan rancangan museum ini untuk mendesain museum yang komplit fasilitasnya, menjadi tempat wisata edukasi yang inovatif dan representatif agar bisa menjadi ikon kawasan sekitar Gua Pawon. Pemilihan tema arsitektur analogi diambil agar ada keselarasan dengan situs Gua Pawon sebagai bentuk apresiasi benda hasil temuan arkeolog terhadap bangunan yang menaunginya. Penerapan pengolahan fisik maupun non-fisik pada penempatan tapak hingga bentuk bangunan menggunakan penganalogian penafsiran artefak purba, seperti penafsiran batuan dolmen pada bentuk bangunan, penafsiran Gua Pawon pada ruang dalam dan penafsiran naskah purba Sunda kuno pada penempatan tapak. Penerapan tema penganalogian menghasilkan rancangan bangunan dengan bentuk sudut tajam seperti potongan batu yang menjadi keunikan estetika bangunan. Ruang dalam dirancang tidak banyak bukaan dan terdapat skylight untuk cahaya masuk seolah berada di dalam gua. Penempatan massa bangunan pada tapak mengikuti hirarki penokohan pada cerita Perjalanan Bujangga Manik. Hasil rancangan museum ini diharapkan menjadi ikon kawasan untuk menarik pengunjung datang ke Bandung Barat.
MORFOLOGI RUMAH TINGGAL PANGERAN ARYA DENDA KUSUMA DI DESA MANDALANGEN KOTA CIREBON Ani Bayu; Mudhofar .
Jurnal Arsitektur Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2069.115 KB) | DOI: 10.59970/jas.v12i1.68

Abstract

Cirebon merupakan daerah yang berada pada pesisir utara pulau jawa atau dikenal dengan jalur pantura yang menghubungkan Jakarta,Cirebon,semarang,Surabaya. Cirebon pada awalnya merupakan sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa yang lama kelamaan berkembang menjadi sebuah desa ramai kemudian diberi nama caruban ( carub dalam bahasa Indonesia artinya bersatu padu ). Dinamakan demikian karena disana banyak kebudayaan, suku, agama yang berkumpul karena Cirebon dulu merupakan pusat perdagangan di Jawa Barat bagian Timur. Menurut manuskrip Purwaka Caruban Nagari, pada abab 15 tepatnya dipantai laut jawa terdapat sebuah desa nelayan kecil bernama muara jati. Pada waktu itu banyak kapal asing yang datang untuk berniaga dengan penduduk setempat . pada waktu itu kepengurusan pelabuhan dipegang oleh Ki Gedeng AlangAlang yang ditunjuk oleh penguasa kerajaan galuh ( pajajaran ). Ki Gedeng Alang-Alang memindahkan permukiman ke tempat permukiman baru yang terletak di lemahwungkuk 5 km arah selatan mendekati kaki bukit menuju kerajaan galuh dengan Ki Gedeng Alang-Alang sebagai kepala permukimannya dengan gelar Kuwu Cirebon. selanjutnya, putra prabu siliwangi dilantik sebagai adipati Cirebon dengan gelar cakrabumi. Pangeran inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Cirebon, langkah pertamanya diawali tidak mengirimkan sebuah sesembahan kepada raja galuh. Dan karena hal itu raja galuh mengirimkan utusan ke Cirebon untuk menanyakan sesembahan yang berupa rebon terasi ke adipati Cirebon, dalam pertemuan itu adipati Cirebon berhasil menyakinkan para utusan bahwa wilayah Cirebon sudah berdiri sendiri. Objek yang diteliti adalah rumah tinggal dari Pangeran Arya Denda Kusuma yang diperkirakan telah berdiri pada tahun 1898. Pada rumah tinggal ini Nampak pola tata ruang yang tidak seperti hunian pada umumnya sehingga menimbulkan kekhasan tersendiri contoh pola tata ruang yang memanjang, penempatan kolom dan sebagainya yang tidak dimiliki oleh bangunan tempat tinggal lain disekitarnya
REDESAIN ALUN-ALUN KEJAKSAN SEBAGAI RUANG PUBLIK DENGAN PENDEKATAN KONSEP ARSITEKTUR HIJAU M N Rinaldi; Farhatul Mutiah
Jurnal Arsitektur Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2676.446 KB) | DOI: 10.59970/jas.v12i1.69

Abstract

Keberadaan alun-alun dalam suatu kawasan/kota sangatlah penting. Selain berfungsi sebagai landmark suatu kawasan/kota, alun-alun juga merupakan ruang publik yang mewadahi aktifitas dari warga/masyarakatnya ataupun sekedar menjadi titik kumpul. Alun-alun kejaksan sebagai ruang publik bagi masyarakat di kota Cirebon, seharusnya bisa dimanfaatkan dan dikelola dengan baik, Permasalahan di Alun-alun Kejaksan sat ini adalah keterbatasan lahan parkir dan banyak area yang kurang fungsional. Tujuan dari studi ini adalah meningkatkan fungsi Alun-alun Kejaksan sebagai ruang publik, menata serta menambah prasarana dan sarana kawasan yang ada sehingga keindahan Alun-alun tetap terjaga dan terpelihara. Dengan menggunakan metode desain arsitektur hijau dari Green Building Council dan konsep ruang publik Ideal dari Amos Rapoport, konsep besar rancangan adalah menghadirkan ruang terbuka hijau yang nyaman, dengan menambahkan basement, ruang aktif, dan vegetasi, diharapkan dapat menjadikan Alun-alun kejaksan sebagai ruang publik sebagaimana mestinya.
PERUBAHAN FUNGSI BANGUNAN DI KAWASAN PERMUKIMAN WISATA TRUSMI LAMA DESA PANEMBAHAN KABUPATEN CIREBON JAWA BARAT Oka Dwijumadir Isnaeni; Farhatul Mutiah
Jurnal Arsitektur Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2006.073 KB) | DOI: 10.59970/jas.v12i1.70

Abstract

Kawasan panembahan merupakan kawasan wisata batik lama di Cirebon. Kawasan tersebut sudah ada sejak abad ke 14. Dari waktu ke waktu kawasan tersebut mulai berubah sedikit demi sedikit hingga sekarang. Dalam perkembangan suatu kawasan tidak terlepas akan adanya perubahan, baik itu dari segi ekonomi, sosial dan budaya dan juga bangunan serta fungsinya. Dalam studi ini saya menganalisa tentang perubahan fungsi yang terjadi di kawasanpanembahan tersebut. Objek penelitian ini adalah rumah tinggal dan bangunan disekitar jalan syekh datul kahfi, dusun Trusmi. Metode penelitianyang digunakan yaitu empirical study (kajian empiris) . Metode ini berfokus pada data objektif yang mengarah pada observasi yang berarti kajian ini merupakan pengalaman pribadi penulis. Pemahaman ini juga akan bersinggungan denganfenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Pada metode penelitian ini, peneliti menggunakan perspektif dari partisipan sebagai gambaran yang diutamakan dalam memperoleh hasil penelitian. Selain metode diatas penulis juga menggunakan riset kepustakaan yang digunakan sebagai data pembanding. Menurut pengamatan / penelitian kawasan Trusmi Lamamerupakan tempat yang strategis sebagai kawasan wisata sekaligus pemukiman karena letak nya yang berada di jalur perdagangan kota dan kabupaten Cirebon. Kawasan ini juga memiliki banyak akses untuk menuju ke kota dan juga ke kabupaten Cirebon. Maka dari itu kawasan ini memiliki banyak bangunan yang berubah fungsi. Perubahan tersebut terjadi sekitar 15 tahun terakhir. Selain itu faktor perubahan fungsi di kawasan tersebut melibatakan faktor sejarah kawasan trusmi dan juga faktor ekonomi yang semakain berkembang sebagaimana mestinya.
TATA LETAK SITI INGGIL DI KERATON KASEPUHAN DAN KERATON KANOMAN Labib Irfan; Iwan Purnama
Jurnal Arsitektur Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2237.618 KB) | DOI: 10.59970/jas.v12i1.71

Abstract

Keraton Kasepuhan Cirebon didirikan oleh Pangeran Cakrabuana pada masa perkembangan Islam atau sekitar tahun 1529. Pada awal dibangunnya Keraton Kasepuhan merupakan perluasan dari Keraton Pakungwati yang merupakan keraton tertua di Cirebon. Keraton Pakungwati yang terletak di sebalah timur Keraton Kasepuhan, dibangun oleh Pangeran Cakrabuana (Putera Raja Pajajaran) pada tahun 1452, bersamaan dengan pembangunan Tajug Pejlagrahan yang berada di sebelah timurnya. Keraton Kanoman didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I pada sekitar tahun 1678 M. Seperti apa tata letak siti inggil di keraton kasepuhan dan kanoman dan apa fungsi siti inggil di keraton kasepuhan dankanoman ?. selain itu dapat mengetahui perbedaan tata letak siti inggil di keraton kasepuhan dan kanoman. Siti Inggil terletak di utara keraton yang dikelilingi oleh tembok bata merah yang menjadi cirri khas Keraton Kasepuhan Cirebon. Siti Inggil memilik makna lemah dhuwur atau tanah tinggi sesuai dengan kawasan yang berada pada tatanan tanah yang lebih tinggi sesuai dengan kawasan yang lebih tinggi dari kompleks lainya. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini metode kualitatif yaitu metode pembahasan dengan pemaparan, penguraian, penggambaran data – data dan teori yang berhubungan dengan permasalahan. Hasil penelitian menunjukan bahwa orientasi siti inggil pada Keraton kanoman adalah menghadap ke barat sedangkan pada Keraton Kasepuhan menghadap ke utara
PENGARUH LEBAR TRITISAN TERHADAP INTENSITAS CAHAYA MATAHARI PADA RUMAH TINGGAL: Studi Kasus : Perumahan Griya Damai Lestari 2 dan 3 di Kota Cirebon Nuriyani .; Eka Widiyananto
Jurnal Arsitektur Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1870.536 KB) | DOI: 10.59970/jas.v12i1.72

Abstract

Salah satu karakteristik pada iklim tropis lembab adalah sinar matahari yang berlimpah, hal ini dapat mempengaruhi bangunan atau ruang-ruang dalam bangunan tersebut. Sinar matahari tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan pencahayaan alami pada bangunan sehingga dapat mengoptimalkan penerangan agar aktifitas manusia tidak terganggu. Tritisan yang ada di bukaan jendela pada rumah-rumah yang berada di iklim tropis adalah merupakan bagian dari sistem pembayangan sebagai bentuk respon terhadap sinar matahari. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bahwa lebar tritisan pada bukaan dapat mempengaruhi intensitas cahaya yang masuk kedalam sebuah ruangan pada bangunan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah causal-comparative yaitu mencari korelasi atau hubungan antara lebar tritisan dengan besarnya intensitas cahaya dengan menggunakan analisis korelasi bivariate. Pengambilan data dilakukan dengan mengukur tingkat intensitas matahari dengan alat ukur light meter pada ruang dengan ukuran tritisan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukan ada pengaruh signifikan antara lebar tritisan dengan intensitas cahaya yang masuk ke dalam bangunan dan menunjukan bahwa semakin kecil lebar tritisan maka semakin besar tingkat pencahayaan alami pada sebuah ruangan.
PERKEMBANGAN HUNIAN BARU DI PERMUKIMAN SEKITAR KERATON KASEPUHAN CIREBON Yusup Amrullah; Iwan Purnama
Jurnal Arsitektur Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2492.417 KB) | DOI: 10.59970/jas.v12i1.73

Abstract

Keraton kasepuhan merupakan salah satu penginggalan kota Cirebon yang sampai sekarang masih eksistensi keberadaannya dikota Cirebon. Keraton ini juga menunjukan ciri khasnya dalam bentuk sebuah bangunan tradisionalnya, selain itu terdapat permukiman yang berada persis di dekitar keraton. Permukiman tersebut yaitu untuk memeuhi kebutuhan magersari sebagai tempat tinggal ketika bekerja di keraton. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan hunian baru atau rumah tinggal disekitar keraton, yang memliki perubahan dari segi fisik bentuk bangunan. Penelitian ini dilakukan dnegan cara pendokumentasian dan pemetaan letak titik bangunan baru yang memiliki perubahan meurut peneliti. Dengan adanya tujuan penelitian tersebut maka kita bisa mengetahui bagaimana proses terjadinya perubahn yang terjadi pada bangunan sekitar keraton, dikarenakan bangunan tersebut berada di wilayah keraton dan tanah tersebut masih ada bagian yang dimiliki keratin. Hasil penelitian menunjukan bahwa perkembangan hunian baru terjadi karena perilaku bangunan dan masyarakat itu sendiri. Gaya hidup masyarakat yang lebih kearah simple dan praktis membuat bangunanpun mengedepankan terhadap kebutuhan dan menyampingkan terhadap nilai-nilai budaya tradisional yang ada di Keraton kasepuhan.
RAGAM HIAS ORNAMEN DINDING YANG TERDAPAT DI CANGKUP MAKAM SULTAN SULAIMAN BERADA DI KOMPLEKS ASTANA SUNAN GUNUNG JATI Efendi .; Yovita Adriani
Jurnal Arsitektur Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2036.873 KB) | DOI: 10.59970/jas.v14i2.74

Abstract

Astana Gunung Jati merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari pemakamam sunan, raja-raja keraton Cirebon dan kerabatnya turunan dari sunan Gunung Jati. Keunikan akan kompleks pemakaman di Astana Gunung Jati dilihat dari fisik bangunan yang merupakan peninggalan masa lalu. Terutama pada dindingnya yang banyak dihiasi beragam komposisi elemen berupa hiasan keramik, guci dan ukiran. Keramiknya sendiri merupakan bawaan dari Tiongkok dan juga ada beberapa bagian milik dari bangsa kolonial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berbagai ragam hias ornament pada dinding cangkup makam sultan sulaiman yang berada di komplek makam sunan gunung jati. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui sumber tertulis, lisan atau wawancara dan pengamatan di lapangan untuk melakukan observasi langsung. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data. Pada ornament bangunan sultan raja sulaiman keramik memiliki bentukan pola yang menyerupai bentuk bunga Teratai dengan kata lain bahwa ornament ini di bentuk dengan cara Deformasi atau menyederhanakan bentuk menjadi bentuk yang baru bukan hanya bentuk Teratai saja terdapat berbagai macam pola seperti bintang, mahkota, dan bentuk geometris lainnya. Bahwa cangkup makam sultan sulaiman ternyata memiliki ragam hias geometris dan memiliki pola yang simetris.
SIMBOLISASI PENGGUNAAN ORNAMEN PADA ELEMEN FASAD GEREJA SANTO YUSUF Sri Ayu Sladiva; Sasurya Chandra
Jurnal Arsitektur Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1762.792 KB) | DOI: 10.59970/jas.v14i2.75

Abstract

Cirebon memiliki banyak cagar budaya salah satunya yaitu Gereja Santo Yusuf. Gereja Santo Yusuf menjadi gereja katolik tertua se-Jawa Barat yang menjadi salah satu ikon di kota Cirebon. Gereja yang dirancang oleh Gaunt Slotez berada di Jalan Yos Sudarso tepatnya di Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat. Gereja katolik yang berkembang pada tahun 1877 ini dirintis oleh seorang pengusaha bernama Louise Theodore Gonsalves yang juga menjadi seorang pemimpin perusahaan pabrik gula di Tersana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui simbolis penerapan ornamen yang ada pada gereja Santo Yusuf di Cirebon atau simbolisasi penggunaan ornamen pada elemen fasad gereja Santo Yusuf Cirebon. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan metode kualitatif. Data yang diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara, pengumpulan data dari sumber informasi, pengukuran serta dokumentasi. Masing – masing gereja memiliki ciri khas tersendiri, mungkin yang menjadi salah satu ciri khas tersebut dapat dilihat dari ornamennya. Banyak orang yang mengetahui ornamen adalah karya yang indah, namun sedikit orang yang mengetahui ornamen juga memiliki simbolik. Maka dari itu, penerapan ornamen pada arsitektur gereja juga dapat mengetahui simbolik atau pesan yang terkandung di dalamnya. Pusat peradaban umat katolik di dunia berada pada Vatikan, Eropa
TRANSFORMMASI BENTUK DAN FUNGSI ALUN-ALUN KEJAKSAN SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK Syiva Miftahul Jannah; Nurhidayah .
Jurnal Arsitektur Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1672.488 KB) | DOI: 10.59970/jas.v14i2.76

Abstract

Ruang terbuka publik merupakan suatu ruang yang dapat diakses secara bebas oleh seluruh masyarakat. Salah satu nya adalah alun-alun. Alun-alun merupakan salah satu ruang publik bersejarah yang terus mengalami perubahan seiring waktu dan kebudayaan manusia yang terus berkembang. Sebagai bentuk dari ruang publik, perubahan yang terjadi pada alun-alun tak dapat dilepaskan dari peran institusi pemerintahan dan kebijakan yang diambilnya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kontrol terhadap kota dan ruang-ruang publiknya. Alun-alun Kejaksan berada di jalan Kartini, Kecamatan Kejaksa, Kebon Baru, Cirebon. Alun-alun Kejaksan sebagai ruang terbuka publik telah mengalami beberapa kali perubahan bentuk dan fungsi sejak dibangun tahun 1918. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan bentuk meliputi elemen pembentuk ruang terbuka yang terdiri dari lapangan, taman, jalur pedestrian, serta aspek fungsi yang meliputi fungsi administrasi dan sosial budaya..Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan melakukan studi literatur, wawancara, dan observasi lapangan. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bagaimana transformasi bentuk yang terjadi di Alun-alun Kejaksan

Page 5 of 12 | Total Record : 114