cover
Contact Name
Ika Kartika
Contact Email
metalurgi@brin.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
metalurgi@brin.go.id
Editorial Address
Gedung Manajemen Puspiptek Gedung 720, Jl. Puspitek, Muncul, Kec. Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten 15314, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, 15314 Alamat Penerbit : Gedung BJ Habibie, JI. M.H. Thamrin NO. 8, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta, 10340, Tangerang Selatan, Provinsi Banten
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Metalurgi
Published by BRIN Publishing
ISSN : 01263188     EISSN : 24433926     DOI : 10.55981/metalurgi
The objective of this journal is the online media for disseminating results in Research and Development and also as a media for a scientist and researcher in the field of Metallurgy and Materials. The scope if this journal related on: Advanced materials and Nanotechnology Materials and Mineral characterization and Analysis Metallurgy process: extractive Ceramic and composite Corrosion and its technological protection Mineral resources manifestation Modelling and simulation in materials and metallurgy Engineering Metallurgy instrument
Articles 282 Documents
MENDETEKSI SULFUR BERSTRUKTUR KRISTAL TRIGONAL PADA ENDAPAN BIJIH TIPE KUROKO DENGAN ANALISIS LUTTS R. Ibrahim Purawiardi
Metalurgi Vol 35, No 1 (2020): Metalurgi Vol. 35 No. 1 April 2020
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.856 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v35i1.472

Abstract

Endapan bijih tipe kuroko dikenal memiliki potensi kandungan mineral-mineral sulfida seperti pyrite, chalcopyrite, galena, sphalerite, bornite, golongan tennantite-tetrahedrite dan lain sebagainya. Dengan melimpahnya komposisi mineral sulfida pada endapan bijih ini, tentunya menyebabkan melimpahnya kandungan unsur sulfur. Oleh sebab itu, deteksi awal kandungan sulfur diperlukan untuk melihat adanya potensi kandungan mineral sulfida pada endapan bijih ini. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mendeteksinya adalah dengan teknik analisis XRD. Studi ini dilakukan untuk mencontohkan bagaimana cara mendeteksi kelebihan sulfur yang merupakan indikator awal melimpahnya kandungan mineral sulfida pada endapan bijih ini. Deteksi dilakukan dengan cara menginvestigasi adanya struktur trigonal yang merupakan karakteristik dari fasa sulfur menggunakan teknik analisis XRD yang tepat. Teknik analisis XRD yang dilakukan sendiri adalah dengan menggunakan metode analisis Lutts. Sementara itu, sampel endapan bijih tipe kuroko yang kaya akan mineral sulfida digunakan sebagai contoh kasus pada studi ini. Hasil analisis menunjukkan adanya struktur trigonal dengan karakteristik fasa sulfur dengan bidang-bidang (300), (220) dan (600). Hasil studi ini menunjukkan bahwa metode analisis Lutts terbukti dapat digunakan untuk mendeteksi adanya struktur trigonal fasa sulfur pada endapan bijih tipe kuroko.
PENGARUH PENAMBAHAN NaOH, TEMPERATUR DAN WAKTU TERHADAP PEMBENTUKAN FASA NATRIUM TITANAT DAN NATRIUM FERIT PADA PROSES PEMANGGANGAN ILMENIT BANGKA[The Effect of Caustic Addition, Temperature and Reaction Time on The Phase Formation of Sodium Titanate and Sodium Ferrite During The Roasting of Bangka’s Ilmenite] Rudi Subagja; Ahmad Royani; Puguh Prasetyo
Metalurgi Vol 27, No 3 (2012): Metalurgi Vol.27 No.3 Desember 2012
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1117.534 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v27i3.234

Abstract

Karakterisasi Struktur Coating Fe-25Al Yang Difabrikasi Dengan Metode Paduan Mekanik [Structure Characterization of Fe-25Al Coating Fabricated by Mechanical Alloying Method] Khoirun Nisa; Didik Aryanto; Toto Sudiro; Perdamean Sebayang; Mahardika P Aji
Metalurgi Vol 31, No 2 (2016): Metalurgi Vol. 31 No. 2 Agustus 2016
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.915 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v31i2.129

Abstract

Fe-25Al coating has been prepared on low carbon steel substrate by using a mechanical alloying technique. Structure of Fe-25Al coating before and after heat treatment at 600, 700, and 800 °C was studied by using XRD (x-ray diffraction) characterization. SEM (scanning electron microscopy) and EDX (energy disperse xray) were used to identified the morphology of cross-section of Fe-25Al coating after mechanical alloying process. The result of SEM, EDX and XRD showed that the Fe-25Al deposited uniformly on low carbon steel. The Fe-25Al coating formation has a solid solution Fe(Al) phase. Heat treatment caused the changing in the phase of Fe-25Al coating, where the Fe3Al phase with orientation of (110), (200) and (211) plane was formed. The optimum of diffusion process was occurs at temperature of 600C which was indicated by the increasing in the crystalline size and followed by the decreasing in the dislocation density and lattice strain. Increasing temperature on the heat treatment caused the changing in the structure parameter, such as lattice parameter, crystalline size, lattice strain and dislocation density. In this work, heat treatment on the Fe-25Al coating influenced the changing in crystal defect such as grain boundaries, vacancy and dislocation. It affected thechanges of lattice strain and crystalline size of Fe-25Al coating.AbstrakCoating Fe-25Al telah dipreparasi di atas substrat baja karbon rendah dengan menggunakan metode paduan mekanik. Struktur dari coating Fe-25Al sebelum dan setelah diberi perlakuan panas pada 600°C, 700°C, and 800°C dipelajari dengan menggunakan karakterisasi X-ray diffraction (XRD). Scanning electron microscopy (SEM) dan energy disperse X-ray (EDX) digunakan untuk mengetahui morfologi dari penampang lintang coating Fe-25Al setelah proses paduan mekanik. Hasil dari SEM, EDX dan XRD menunjukkan bahwa Fe-25Al telah terdeposisi seragam pada substrat baja karbon rendah. Coating Fe-25Al yang terbentuk memiliki fasa solid solution Fe(Al). Perlakuan panas menyebabkan perubahan fasa pada coating Fe-25Al, dimana terbentuk fasa Fe3Al dengan orientasi bidang (110), (200) dan (211). Proses difusi optimum terjadi pada suhu 600°C yang ditunjukkan dengan peningkatan ukuran butir, diikuti dengan berkurangnya densitas dislokasi dan regangan kisi. Meningkatnya suhu pada perlakuan panas menyebabkan perubahan parameter struktur seperti parameter kisi, ukuran kristal, regangan kisi dan kerapatan dislokasi. Dalam pekerjaan ini, perlakuan panas pada coating Fe-25Al mempengaruhi perubahan cacat kristal seperti batas butir, kekosongan dan dislokasi. Hal tersebut berakibat pada perubahan regangan kisi dan ukuran kristal dari coating Fe-25Al.
ANODIZING-ELECTRODEPOSITION HYBRID COATING BY USING ELECTROLITE SOLUTION AND ZIRCONIUM OXIDE ON THE SURFACE MAGNESIUM AZ31B Erryani, Aprilia; Elvira, Bunga Rani; Nurbaiti, Syifa Ranggoyani; Syahiddah, Amalia; Mujahidah, Hafsah; Thaha, Yudi Nugraha; Budi, Esmar
Metalurgi Vol 37, No 3 (2022): Metalurgi Vol. 37 No. 3 Desember 2022
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2040.034 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v37i3.680

Abstract

In this study, sodium silicate was synthesized and the characterization of zirconia which was used as a suspension solution for the anodization and electrodeposition processes. The results of the synthesis using FTIR showed the success of making Na2SiO3 with the appearance of absorption from functional groups such as: silanol (Si-OH) and siloxane (Si-O-Si) groups. From the SEM data, it is known that each batch contains elements of oxygen, sodium and silicon, this indicates that Na2SiO3 was successfully synthesized without any detectable impurities. Calcination results using SEM showed that each batch was dominated by zircon elements, but the highest zircon content in batch 3 was 88.81%. XRD data shows that ZrO2 (Monoclinic) dominates, in batch 1 and batch 3 there is Cl2 from ZrOCl. Therefore, the ZrO2 used without the calcination process is in batch 3. Anodizing and Electrodeposition processes are carried out in 3 ways, namely: a. Anodizing, b. Two steps (Anodizing-Electrodeposition, c. One step hybrid (Anodizing and Electrodeposition) with the addition of Al2O3 and Na2O7SiO3 elements to the electrolyte. The surface of magnesium after being coated looks pale white line. SEM data shows that all three methods are coated and contain elements of O, Na, Mg, Zr, Si, K, and in method c. Al is found. The three samples also showed that the sanding process was not optimal and the Zr particles were not evenly distributed on the surface.
OPTIMASI PROSES PELAPISAN ANODISASI KERAS PADA PADUAN ALUMINIUM Eka Eka Febriyanti
Metalurgi Vol 26, No 2 (2011): Metalurgi Vol.26 No.2 Agustus 2011
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.951 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v26i2.15

Abstract

Aluminium merupakan logam yang banyak digunakan untuk bahan baku  komponen otomotif karena ringan dan mudah diproses menjadi bentuk yang diinginkan. Namun disamping keunggulan tersebut aluminium juga mempunyai kelemahan yaitu  mudah terdeformasi dan mempunyai nilai kekerasan dan ketahanan aus yang rendah, sehingga tidak sesuai untuk aplikasi yang kondisinya harus bergesekan dengan komponen lainnya. Karena itu untuk aplikasi tersebut aluminum harus ditingkatkan kekerasan dan ketahanan ausnya, salah satunya dengan proses anodisasi keras. Pada penelitian ini proses anodisasi keras dilakukan dengan memberi konsentrasi asam sulfat 15 wt % yang dicampur dengan konsentrasi asam oksalat yang berbeda-beda dengan pengaturan temperatur yang berbeda pula, serta dilakukan pada waktu anodisasi yang berbeda beda.  Dari hasil penelitian terlihat bahwa dengan penambahan konsentrasi berat asam oksalat dapat meningkatkan ketebalan dan kekerasan lapisan  hasil  proses  anodisasi  keras  sampai  titik  optimal.  Namun  hal  tersebut  berbanding  tebalik  dengan kenaikan temperatur anodisasi, semakin meningkatnya temperatur anodisasi ketebalan dan kekerasan lapisan anodis menurun. Dengan bertambahnya waktu anodisasi justru meningkatkan ketebalan lapisan anodis dan menurunkan kekerasannya.  Ketebalan lapisan anodis terbaik sebesar 89,6 μm didapat dari penelitian anodisasi keras dengan temperatur 9 °C, asam oksalat 2 wt %, dan waktu anodisasi selama 60 menit.  Kekerasan lapisan anodis tertinggi sebesar 515 HV didapat dari penelitian anodisasi keras dengan temperatur 5 °C, asam oksalat 1 wt %, dan waktu anodisasi selama 30 menit. AbstractAluminum is one of the metals that commonly used for automotive parts because it has specific character such as light weight and easy to be processed to the desired shapes. Nevertheless, aluminum is also easy to be deformed, has low hardness and low wear resistance. Therefore, aluminum needs to be treated for application where abrasive process is taken place. One of the treatment for aluminum to improved its hardness and wear resistance is hard anodizing. In this research , hard anodizing has been proceed using 15 wt % sulphate acid mixed with various weight of oxalic acid at different temperature and duration arrangement. Experimental result show that addition of oxalic acid concentration can increase thickness and hardness value of anodized layer to the optimal point. However, by increasing anodizing temperature the thickness and hardness of anodized layer decrease. With increasing anodizing time, it can improves thickness of anodized layer but decreases its hardness value. The optimum thickness of anodized layer that can be obtained is 89,6 μm at variation of temperature 9 °C, oxalic acid of 2 wt % and 60 minutes of anodization time. The optimum hardness that can be obtained is 515 HV at variation of temperature 5 °C, oxalic acid of 1 wt % and 30 minutes of anodization time.
PENAMBAHAN AlTiB SEBAGAI PENGHALUS BUTIR PADA PROSES RAPID SOLIDIFICATION ALUMINIUM [Addition of AlTib As Grain Refiner On Rapid Solidification Process of Aluminium] Galih Senopati; Saefudin Saefudin
Metalurgi Vol 29, No 3 (2014): Metalurgi Vol.29 NO.3 Desember 2014
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.454 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v29i3.295

Abstract

Deposisi Kalsium Karbonat pada Ti-6Al-6Mo[CALCIUM CARBONATE DEPOSITION ON TI-6AL-6MO] Made Subekti Dwijaya; Muhammad Satrio Utomo; Syafira Nur Ajeng Ramadhanti; Fendy Rokhmanto; Ibrahim Purawiardi; Galih Senopati; Aprilia Erryani; Inti Mulyati
Metalurgi Vol 36, No 1 (2021): Metalurgi Vol. 36 No. 1 April 2021
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1033.833 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v36i1.583

Abstract

Osseointegration is one of important property in development of implant materials for orthopedic applications.  While biocompatible metallic materials such as titanium alloys should already have adequate biocompatibility properties as implant materials, their osseointegration property could be further improved by bioceramic coating. Calcium carbonate (CaCO3) and hydroxyapatite are two major bioceramics in bones that can be utilized to improve the osseointegration property of metallic implant materials. Current challenge on bioceramic coating of metallic implant materials is to obtain coating method that is facile and economically feasible for implementation in the industry. Here we propose a simple and straightforward method to deposit calcium carbonate on Ti-6Al-6Mo. We utilize two common biomimetic solutions, the phosphate buffer saline (Dulbecco’s PBS) and supersaturated calcification solution (SCS) to induce the calcium carbonate formation on the Ti-6Al-6Mo surface. Microstructural and elemental observations by scanning electron microscope (SEM) – energy dispersive x-ray (EDX) has shown the presence of calcium carbonate on the surface of the Ti-6Al-6Mo immersed in SCS. Moreover, the crystallography analysis by x-ray diffraction (XRD) also confirmed the formation of calcium carbonate on the surface of Ti-6Al-6Mo. We also studied the proposed method on pure Ti (>95%) as comparison and similar outcomes were also observed. The effect on duration of immersion was also accounted in current setting. The outcomes of immersion duration for 7 and 10 days were not significantly different. ABSTRAKOsseointegrasi adalah salah satu properti penting dalam pengembangan material untuk aplikasi implan tulang. Meskipun material logam biokompatibel seperti paduan titanium sudah memiliki properti biokompatibel bawaan yang sudah mencukupi sebagai material implan tulang, sifat osseointegrasi -nya masih dapat ditingkatkan dengan pelapisan biokeramik. Kalsium karbonat (CaCO3) dan hidroksiapatit adalah dua biokeramik utama pada tulang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan sifat osseointegrasi pada material implan. Tantangan saat ini pada pelapisan biokeramik pada material implant adalah memperoleh metode pelapisan yang mudah diterapkan dan ekonomis untuk selanjutnya diterapkan di industri. Pada penelitian ini dilakukan sebuah metode yang sederhana untuk mendeposisi kalsium karbonat pada permukaan Ti-6Al-6Mo. Kami menggunakan dua larutan biomimetik yang sudah secara luas digunakan, yaitu Dulbecco’s PBS (phosphate buffer saline) dan SCS (supersaturated calcification solution) untuk membuat pembentukan kalsium karbonat pada permukaan Ti-6Al-6Mo. Pengamatan struktur mikro dan elemental dengan scanning electron microscope (SEM) - energy dispersive x-ray (EDX) menunjukkan keberadaan deposit kalsium karbonat pada permukaan Ti-6Al-6Mo. Lebih lanjut, analisa kristalografi dengan difraksi x-ray (XRD) juga menguatkan keberadaan deposit kalsium karbonat pada permukaan Ti-6Al-6Mo. Kami juga mempelajari metode yang diajukan pada Ti murni (>95%) sebagai perbandingan dan diperoleh hasil yang serupa. Pengaruh durasi perendaman juga diamati dalam penelitian ini. Hasil dari imersi dengan durasi 7 dan 10 hari tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan
MEKANISME PEMBENTUKAN TITANIUM SILIKON KARBIDA DARI SISTEM Ti-SiC-C[The Mechanisme of Titanium Silicon Carbide in Ti-SiC-C System] Solihin Solihin
Metalurgi Vol 28, No 3 (2013): Metalurgi Vol.28 No.3 Desember 2013
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.834 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v28i3.259

Abstract

The Effect of Roasting Prior to The Leaching Process of Alkalinized Ferronickel Slag Followed by Precipitation Process Wahyu Mayangsari; Agus Budi Prasetyo; Eni Febriana; Januar Irawan; Rudi Subagja; Florentinus Firdiyono; Johny Wahyuadi Soedarsono
Metalurgi Vol 36, No 2 (2021): Metalurgi Vol. 36 No. 2 Agustus 2021
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (855.491 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v36i2.588

Abstract

Terak feronikel dihasilkan sebagai produk samping dari produksi feronikel. terak feronikel mempunyai potensi sebagai bahan baku beberapa komponen berharga karena komposisinya melalui proses bertahap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari proses pemanggangan campuran terak feronikel dan Na2CO3 sebelum leaching air panas dan presipitasi untuk menghasilkan endapan silika. Proses pemanggangan terak feronikel dengan penambahan Na2CO3 telah dilakukan untuk pembentukan natrium silikat. Kemudian dilarutkan melalui proses pelindian menggunakan air panas 90 ° C selama 120 menit. Endapan silika didapatkan dengan proses presipitasi sodium silikat terlarut diikuti dengan pemeraman selama tiga hari. Berdasarkan hasilnya, pemanggangan menyebabkan perubahan komposisi yang mempengaruhi persen pelindian dan perolehan silika. Reaksi terjadi dari permukaan ke inti yang dibuktikan dengan pengecilan ukuran residu pelindian dari RAF nya. Natrium silikat dalam bentuk Na4SiO4  diketahui terlarut Ketika pelindian air dilakukan. Pengendapan dan pemeraman larutan natrium silikat telah menghasilkan endapan silika dengan ukuran partikel lebih dari 100 mm. pemanggangan pada 1000 ° C selama 240 menit menghasilkan perolehan silika tertinggi.
Karakterisasi Tingkat Degradasi Superalloy Udimet 520 Pada Sudu Putar Turbin Pembangkit Listrik Tenaga Gas [Characteristic Degradation Level of Superalloy Udimet 520 of Rotating Blade of a Gas Turbine Power Plant] Dewa Nyoman Adnyana
Metalurgi Vol 33, No 1 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 1 April 2018
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1502.228 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v33i1.436

Abstract

First stage rotating blades of a gas turbine power plant having design capacity of 130 MW have been in operation for more than 50.000 hours. The blade material was made of Udimet 520, a Ni- based superalloys. During its operation, the turbine blades may have been subjected to degradation due to several damage mechanisms such as thermal aging, creep, fatigue, corrosion and/or erosion. The aim of this examination was to determine the degree of degradation and the possibility of future service continuation of the turbine blades. A post-service first stage turbine blade was dismounted from the engine rotor and used for examination. Various laboratory examinations were performed including chemical analysis, metallographic examination, hardness testing and creep testing. Results of the examination obtained showed that the turbine blade material has not been experiencing some significant morphology change in microstructure due to thermal aging, either on the matrix austenite phase (g) and precipitate of gamma prime (g') or on the carbide phase particles. In addition, the level of creep resistance of the turbine blade material was still higher than the minimum creep property of the Udimet 520. Furthermore, the degree of degradation due to corrosion and/or oxidation occurred on most of the blade exterior in general was considered low. Based on this condition, the first stage gas turbine blades were considered serviceable. AbstrakSudu putar turbin tingkat pertama pada sebuah unit pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dengan kapasitas terpasang 130 MW telah dioperasikan selama lebih dari 50.000 jam. Menurut data desain, material sudu  turbin dibuat dari paduan super berbasis Ni dengan spesifikasi Udimet 520. Selama pengoperasiannya, sudu turbin diperkirakan mengalami degradasi akibat sejumlah mekanisme kegagalan yang terjadi seperti: thermal aging, creep, fatik, korosi, dan/atau erosi. Pengujian yang dilakukan ini bertujuan untuk menentukan tingkat degradasi dan kelayakan sudu turbin untuk kelanjutan pengoperasiannya diwaktu yang akan datang. Sebuah sudu turbin tingkat pertama dilepas dari rotor unit PLTG untuk digunakan dalam pengujian ini. Sebelum melakukan pengujian, sudu turbin tersebut dibelah menjadi 2 (dua) bagian, dimana salah satu belahan diberi proses heat-treatment. Sejumlah pengujian laboratorium telah dilakukan meliputi analisa kimia, uji metalografi, uji kekerasan dan uji creep. Hasil pengujian menunjukkan bahwa material sudu turbin belum mengalami perubahan yang berarti pada morfologi struktur mikro akibat thermal aging, baik pada matrik fasa austenit (g) dan partikel/presipitat fasa  gamma prime (g') Ni3 (Al,Ti) maupun pada fasa karbida. Disamping itu tingkat ketahanan creep material sudu turbin terlihat masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan sifat ketahanan creep minimum material standar Udimet 520. Lebih jauh, tingkat degradasi akibat korosi dan/atau oksidasi yang terjadi pada permukaan luar sudu turbin pada umumnya masih tergolong rendah. Didasarkan pada kondisi tersebut, sudu turbin tingkat pertama direkomendasikan untuk dilanjutkan pemakaiannya, tetapi setelah dilakukan pekerjaan rekondisi.  

Page 4 of 29 | Total Record : 282


Filter by Year

2011 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2024): Metalurgi Vol. 39 No. 2 2024 Vol 39, No 1 (2024): Metalurgi Vol. 39 No. 1 2024 Vol 38, No 3 (2023): Metalurgi Vol. 38 No. 3 2023 Vol 38, No 2 (2023): Metalurgi Vol. 38 No. 2 2023 Vol 38, No 1 (2023): Metalurgi Vol. 38 No. 1 2023 Vol 37, No 3 (2022): Metalurgi Vol. 37 No. 3 Desember 2022 Vol 37, No 2 (2022): Metalurgi Vol. 37 No. 2 Agustus 2022 Vol 37, No 1 (2022): Metalurgi Vol. 37 No. 1 April 2022 Vol 36, No 3 (2021): Metalurgi Vol. 36 No. 3 Desember 2021 Vol 36, No 2 (2021): Metalurgi Vol. 36 No. 2 Agustus 2021 Vol 36, No 1 (2021): Metalurgi Vol. 36 No. 1 April 2021 Vol 35, No 3 (2020): Metalurgi Vol. 35 No. 3 Desember2020 Vol 35, No 2 (2020): Metalurgi Vol. 35 No. 2 Agustus 2020 Vol 35, No 1 (2020): Metalurgi Vol. 35 No. 1 April 2020 Vol 34, No 3 (2019): Metalurgi Vol. 34 No. 3 Desember 2019 Vol 34, No 2 (2019): Metalurgi Vol. 34 No. 2 Agustus 2019 Vol 34, No 1 (2019): Metalurgi Vol. 34 No. 1 April 2019 Vol 33, No 3 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 3 Desember 2018 Vol 33, No 2 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 2 Agustus 2018 Vol 33, No 1 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 1 April 2018 Vol 32, No 3 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 3 Desember 2017 Vol 32, No 2 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 2 Agustus 2017 Vol 32, No 1 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 1 April 2017 Vol 31, No 3 (2016): Metalurgi Vol. 31 No. 3 Desember 2016 Vol 31, No 2 (2016): Metalurgi Vol. 31 No. 2 Agustus 2016 Vol 31, No 1 (2016): Metalurgi Vol. 31 No. 1 April 2016 Vol 30, No 3 (2015): Metalurgi Vol. 30 No. 3 Desember 2015 Vol 30, No 2 (2015): Metalurgi Vol.30 No.2 Agustus 2015 Vol 30, No 1 (2015): Metalurgi Vol.30 No.1 APRIL 2015 Vol 29, No 3 (2014): Metalurgi Vol.29 NO.3 Desember 2014 Vol 29, No 2 (2014): Metalurgi Vol.29 No.2 Agustus 2014 Vol 29, No 1 (2014): Metalurgi Vol.29 No.1 April 2014 Vol 28, No 3 (2013): Metalurgi Vol.28 No.3 Desember 2013 Vol 28, No 2 (2013): Metalurgi Vol.28 No.2 Agustus 2013 Vol 28, No 1 (2013): Metalurgi Vol.28 No.1 April 2013 Vol 27, No 3 (2012): Metalurgi Vol.27 No.3 Desember 2012 Vol 27, No 2 (2012): Metalurgi Vol. 27 No. 2 Agustus 2012 Vol 27, No 1 (2012): Metalurgi Vol. 27 No. 1 April 2012 Vol 26, No 3 (2011): Metalurgi Vol. 26 No. 3 Desember 2011 Vol 26, No 2 (2011): Metalurgi Vol.26 No.2 Agustus 2011 Vol 26, No 1 (2011): Metalurgi Vol. 26 No. 1 April 2011 More Issue