cover
Contact Name
Onie Dian Sanitha
Contact Email
onie.sanitha@eng.upr.ac.id
Phone
+6282227316489
Journal Mail Official
jpa@arch.upr.ac.id
Editorial Address
Jurusan/Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Palangka Raya, Kampus UPR Tunjung Nyaho Jalan Hendrik Timang, Palangka Raya (73111), Kalimantan Tengah
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
Jurnal Perspektif Arsitektur
ISSN : 19078536     EISSN : 2988120X     DOI : 10.36873
Fokus dan Ruang Lingkup pada Jurnal Perspektif Arsitektur 1. Desain Arsitektur 2. Perumahan dan Permukiman 3. Konstruksi Bangunan 4. Sains dan Teknologi Bangunan 5. Perkembangan Arsitektur 6. Teori Arsitektur 7. Lansekap 8. Filsafat dalam Arsitektur 9. Metodologi Penelitian dalam Arsitektur 10. Interdisiplin Ilmu yang memiliki korelasi dengan Arsitektur Jurnal Perspektif Arsitektur (JPA) merupakan media publikasi naskah tertulis hasil penelitian dan desain dalam ranah Arsitektur dan Lingkungan Binaannya. JPA berada di dalam naungan Program Studi Arsitektur Jurusan S1-Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Palangka Raya
Articles 138 Documents
PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM ARSITEKTUR FRANK LLOYD WRIGHT Titiani Widati
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 10 No. 01 (2015): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 10 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.385 KB)

Abstract

Frank Lloyd Wright adalah arsitek yang sangat menguasai pendekatan kontekstual terhadap alam. Dalam perencanaan bangunannya, Wright selalu mencoba memanipulasi skala bangunan dan perletakan bangunan agar memperkuat hubungannya dengan lingkungannya. Bagi Wright, arsitektur organik harus selalu berhubungan dengan tapaknya (site), program ruang sesuai kebutuhan klien, iklim di mana bangunan berada, penggunaan material alam yang logis dan struktural atau estetik.
ARAH PERKEMBANGAN RUANG PUBLIK PADA BUNDARAN BESAR DAN JALAN YOS SUDARSO PALANGKA RAYA Elis Sri Rahayu
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 10 No. 01 (2015): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 10 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1745.859 KB)

Abstract

Bundaran Besar dan Jalan Yos Sudarso merupakan salah satu wilayah kota yang memiliki nilai historis yang tinggi, sejalan dengan sejarah terbentuknya kota Palangka Raya. Jalan ini merupakan “axis mundi” yang merupakan satu garis lurus. Pusatnya berada di Bundaran Besar, Rujab Gubernur, DPRD Kalteng dan Tugu Tiang Pertama Kota Palangka Raya. Oleh karena itu kawasan ini merupakan kawasan yang perlu mendapatkan perhatian lebih dibanding dengan kawasan lainnya. Selain sebagai pusat kota, kawasan jalan Yos Sudarso juga merupakan ruang terbuka publik, yang menampung perdagangan informal pada jam tertentu. Dilihat dari phenomenanya kawasan ini menjadi salah satu tujuan wisata bagi warga kota Palangka Raya, terutama wisata jajan. Akibatnya perdagangan informal menjadi semakin berkembang.Dari perkembangan tersebut maka timbulah banyak permasalahan yang menarik untuk kita telusuri sehingga keberadaan ruang publik Bundaran Besar dan penggal jalan Yos Sudarso ini ke depan dapat terus hidup dan berkelanjutan
PENGENDALIAN PEMBANGUNAN LAHAN BASAH BERBASIS PREFERENSI PENGHUNI MERUBAH DISAIN RUMAH PANGGUNG Widya Fransiska F Anwar; Setyo Nugroho
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 10 No. 01 (2015): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 10 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.251 KB)

Abstract

Penggunaan ruang di bawah rumah panggung yang menutupi area tergenang air di bawah konstruksi panggung menjadi latar belakang makalah ini. Keadaan ini berpotensi menutup area resapan air sepanjang kawasan tepian sungai. Untuk meminimalkan efek negatif tersebut maka diperlukan suatu upaya pengendalian yang sesuai dengan preferensi penghuni dan karakter lahan basah. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model pengendalian perkembangan permukiman rumah panggung berbasis preferensi penghuni merubah rumahnya dalam kaitannya dengan lokasi rumah terhadap badan sungai. Data hasil kuistioner dan pengamatan lapangan dianalisis dengan analisis tabulasi silang, uji chi-square dan morfologi kawasan. Hasil menunjukkan bahwa penghuni rumah panggung memiliki preferensi untuk memanfaatkan ruang bawah panggung secara maksimal khususnya di lokasi yang berjarak sekitar 100 hingga 200 meter dari badan sungai dan tergenang air secara musiman. Pembahasan menyimpulkan bahwa perlu adanya pengurangan derajat penggunaan ruang bawah panggung. Tulisan ini menyarankan sebuah model pengendalian penggunaan ruang bawah rumah yang sesuai dengan penghuni, karakteristik dan fungsi ekologis kawasan lahan basah
IDENTIFIKASI PENGARUH KOSMOLOGI PADA KEDATON KESULTANAN TERNATE Hartati Kapita; Lisa Dwi Wulandari; Jenny Ernawati
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 10 No. 01 (2015): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 10 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (932.963 KB)

Abstract

Arsitektur merupakan simbol mikrokosmos dari alam semesta (makrokosmos) yang diatur berdasarkan aturan tertentu. Kosmologi di Indonesia merupakan kosmologi magis (natural) dan mistis (mitos). Penelitian dilakukan di Kota Ternate,tepatnya pada Kesultanan Ternate memiliki yang memiliki peninggalan berupa, istana sultan atau kedaton dan dibangun berdasarkan pemahaman akan nilai- nilai kosmologi. Menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pengaruh kosmologi pada Istana Kesultanan Ternate terletak pada tata ruang tengah tepatnya diloteng (bagian atas) istana dan ruang puji yang sangat disakralkan.
STRATEGI PERANCANGAN ARSITEKTUR BERKELANJUTAN : PENDEKATAN BIOMIMESIS Ave Harysakti
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 10 No. 02 (2015): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 10 Nomor 2 Tahun 2015
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.48 KB)

Abstract

Degradasi kemampuan alam dalam menyediakan sumber daya alam bagi kesejahteraan manusia disebabkan oleh aktifitas manusia dengan teknologi industrinya yang maju dengan sangat pesat. Arsitektur sebagai salah satu tolok ukur kemajuan peradaban manusia turut menjadi penyumbang terbesar dalam pendegradasian kemampuan alam ini karena pemakaian energi bangunan yang besar, penghasilan emisi karbon yang besar, dan produksi limbah dan sampah bangunan dalam skala besar pula. Untuk itu arsitektur di era sekarang ini sudah tidak dapat lagi menutup mata akan kenyataan ini, wajib mengubah metode perancangan konvensionalnya menjadi metode perancangan arsitektur berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan gambaran dan contoh aplikasi metode perancangan arsitektur berkelanjutan menggunakan strategi pendekatan Biomimesis, menggunakan kejeniusan alam sebagai sumber inspirasi desain arsitektur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan biomimesis membuka peluang seluas-luasnya untuk berkreasi dan berinovasi dalam mendesain karya arsitektur yang berkelanjutan.
PENGEMBANGAN POLA RUANG IBUKOTA KECAMATAN BANAMA TINGANG KABUPATEN PULANG PISAU Amiany
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 10 No. 02 (2015): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 10 Nomor 2 Tahun 2015
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.15 KB)

Abstract

Permasalahan pada perencanaan kota yang selalu berlanjut dari waktu ke waktu akan tersandung pada perilaku masyarakat yang timbul diluar perencanaan pemerintah. Menyingkapi jamaknya permasalahan perkotaan, menyebabkan timbulnya menyebabkan bertambahnya kebutuhan akan ruang, sarana dan prasarana. Kabupaten Pulang Pisau adalah salah satu kabupaten pemekaran yg mengalami perkembangan yang cukup tinggi ini, termasuk Kota Bawan yang merupakan ibukota Kecamatan Banama Tingang terletak pada bagian Tengah Sungai Kahayan jalan poros Palangka Raya – Kuala Kurun dan memiliki lokasi yang tepatnya terletak di bagian paling utara dari Kabupaten Pulang Pisau. Potensi pengembangan kota Bawan adalah tersedianya lahan kosong yang cukup besar dengan ditunjang oleh letak kawasan yang cukup strategis dibagian utara kabupaten Pulang Pisau dimana dapat merupakan gerbang pergerakan masyarakat dan barang dari kabupaten tetangga. Ketersediaan lahan kosong yang luas ini memberi peluang yang cukup besar untuk menentukan kebijakan dan pengawasan pengembangan kawasan serta mengurangi konflik akibat dari kesulitan pengaturan penggunaan lahan. Perkembangan Masyarakat yang terdapat di Ibukota Kecamatan Banama Tingang memiliki adat istiadat dan kebiasaan sehari-hari, sehingga patut diperhatikan pula dalam perngembangan Ibukota Kecamatan ini kedepannya agar bisa berdasarkan potensi dan karakteristik yang dimilikinya.
INTEGRITAS ARSITEKTUR TUMAH BETANG KALIMANTAN TENGAH Syahrozi
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 10 No. 02 (2015): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 10 Nomor 2 Tahun 2015
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (954.404 KB)

Abstract

Rumah Betang, merupakan salah satu tipe rumah tradisional masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Saat ini keberadaannya sudah sangat memprihatinkan, rusak parah, tidak terawat bahkan banyak yang hilang tiada jejak. Terjadi perubahan bentuk karena tuntutan penghuni merupakan fakta yang sering terjadi pada rumah-rumah kuno ini. Karena kuno dan dianggap sudah ketinggalan jaman, menyebabkan keadaan arsitektur rumah betang semakin terpuruk, mulai ditinggalkan penghuninya. Bila dilihat dari sisi sejarahnya sangat disayangkan apabila betang ini hanya menjadi sebuah kenangan semata tanpa sempat dikenali sosok bentuk sebenarnya apalagi tata nilai maupun makna yang tersimpan di dalamnya. Banyak pesan dari para orang tua dahulu yang semestinya bisa digali sebagai bahan pembelajaran. Tidak kenal maka tidak sayang, barangkali ungkapan kelakar untuk menghibur diri, rumah betang sepertinya hanya dipandang dengan sebelah mata. Meskipun demikian harapan dan semangat untuk mengembangkannya tetap ada dengan kepedulian dari dinas terkait untuk usaha pelestariannya. Sayangnya arsitektur masa lalu ini seolah-olah hanya layak untuk dilestarikan saja belum dikembangkan lebih jauh sesuai konteks masa kini. Hal ini semestinya menjadi tanggung jawab semuanya, bukan hanya para arsitek. Di sisi lain terdapat fakta bahwa usaha penyelamatan rumah betang yang dilakukan terkadang membawa dampak kurang baik dengan menghilangkan, mengurangi atau bahkan menambah elemen-elemen baru yang kurang sesuai. Hal ini juga diperparah dengan tuntutan penghuni yang terpaksa melakukan perubahan-perubahan tanpa mengindahkan keasliannya, meskipun yang kedua ini cukup delematis, sulit dicari solusinya mengingat menyangkut hak atas kepemilikan rumah betang. Arsitektur tradisional rumah betang seyogyanya tidak dilihat dengan sebelah mata, namun secara menyeluruh, utuh, lengkap (integritas) agar dapat ditangkap makna filosofi yang dikandung di dalamnya. Tidak menutup kemungkinan perubahan-perubahan yang terjadi atas dasar usaha pelestarian, pembangunan, ataupun pengembangan bisa berdampak melemahnya integritas arsitektur rumah betang bila dilakukan dengan semena-mena atau hanya atas dasar kebutuhan sesaat. Integritas arsitektur betang menjadi sangat penting karena berpotensi memancarkan kewibawaan dan kejujuran masyarakat penghuninya dalam menjalani kehidupan. Melihat rumah betang secara utuh dan menyeluruh (integritas) akan terekam kearifan lokal tentang nilai-nilai filosofi hidup, budaya, keseimbangan alam dan kemanusiaan lainnya. Arsitektur tidak sekedar berbicara bentuk proporsi, komposisi dan teknis konstruksi tetapi juga tentang menemukan jati diri (Yu Sing, 2011). “ …… memandang arsitektur tradisional dari bentuk luarnya, sudah barang tentu akan menampilkan gambaran dalam citra kekinian kita yang rumit-runyam, yang muskil-muspra, yang lamban-lambat dan yang kolot-ngotot, meskipun justru sering hal yang demikian ini digandrungi dengan salah mengerti, dan dicemooh tanpa mengerti ”, (Soelarto, 1984)
PENGARUH SETTING RUANG KELAS TERHADAP PARTISIPASI SISWA Titiani Widati
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 10 No. 02 (2015): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 10 Nomor 2 Tahun 2015
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.907 KB)

Abstract

Studi lingkungan dan perilaku adalah bidang multidisiplin yang membahas mengenai hubungan interaksi antara manusia dengan lingkungan fisik dan membahas tentang penerapan untuk meningkatkan kualitas hidup melalui kebijakan, perencanaan dan desain lingkungan. Tiga hal mendasar dalam interaksi antara perilaku manusia dan lingkungan yaitu: (1) organisasi, (2) individu dan (3) setting fisik. Studi setting fisik dalam penelitian ini ditujukan untuk melihat dan membuktikan konsistensi hasil penelitian sebelumnya tentang hubungan setting fisik dan perilaku manusia, terutama bagaimana setting lingkungan fisik bisa memperngaruhi perilaku manusia yang berada di dalamnya.
TIPOLOGI RUMAH TRADISIONAL DI PULANG PISAU, PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Indrabakti Sangalang; Yunitha; Nathalia; Lyudmillya Vlasova; Agus Satriawan
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 10 No. 02 (2015): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 10 Nomor 2 Tahun 2015
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.701 KB)

Abstract

Rumah tradisional sebagai karya arsitektur tradisional Kalimantan Tengah merupakan warisan budaya daerah Kalimantan Tengah yang memiliki nilai-nilai luhur yang mencerminkan budaya setempat yang terjadi pada saat itu dan mempunyai kekhasan dan ciri tersendiri baik dalam bentuk arsitekturalnya maupun filosofi yang dikandung bentuk bangunannya serta mempunyai hubungan yang erat dengan setting sosial budaya masyarakat. Tentu saja tidak menutup kemungkinan bahwa rumah tradisional yang terbentuk mendapat pengaruh dari budaya-budaya dari luar. Ini dikarenakan arsitektur tradisional Kalimantan Tengah mempunyai sikap ramah untuk mau menerima pengaruh-pengaruh luar dengan mencerna pengaruh-pengaruh tersebut sedemikian rupa dalam proses penyesuaian sehingga dalam penyertaan kehadirannya merupakan suatu kesatuan yang harmonis. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengidentifikasi hal-hal yang mempengaruhi perkembangan dari rumah tradisional di wilayah Kabupaten Pulang Pisau yang berbeda dari kawasan lainnya di Kalimantan Tengah untuk memperkaya tipologi rumah tradisional Kalimantan Tengah selain Huma (rumah) Betang yang sudah dikenal terlebih dulu. Pulang Pisau sendiri berada pada posisi sebelah selatan Provinsi Kalimantan Tengah dan berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Selatan yang terkenal dengan Rumah Adat Banjar, dapat dikatakan menjadi pintu masuk bagi budaya baru yang sedikit banyak memberikan pengaruh bagi perkembangan arsitektur tradisionalnya.
PENGARUH BENTUKAN ARSITEKTUR TERHADAP KENYAMANAN THERMAL PADA RUMAH BETANG DI KALIMANTAN TENGAH Tari Budayanti Usop
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 10 No. 02 (2015): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 10 Nomor 2 Tahun 2015
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1093.734 KB)

Abstract

Huma Hai Buntoi dan Betang Toyoi merupakan salah satu tipe rumah tradisional Dayak di Kalimantan Tengah. Huma Hai merupakan bangunan tua berdiri pada tahun 1870 yang lalu namun masih kuat dan bertahan sampai sekarang. Penghuni rumah silih berganti dan masih keturunan dari Demang Singa Jalla. Bentuk rumah merupakan bangunan panggung dengan konstruksi kayu ulin yang kuat. Sedangkan Betang Toyoi bangunan tua yang berdiri pada tahun 1869, yang hingga saat ini masih kuat berdiri walaupun kondisi bangunan agak kurang terawat. Penghuni rumah pun silih berganti dan masih keturunan dari Bapak Toyoi Bin Pandji atau bergelar Demang Singa Ranggam. Meskipun pada masa lalu bangunan ini mungkin tidak dirancang khusus dengan mempertimbangkan keadaan iklim tapi lebih pada faktor budaya (culture), namun kenyataannya kenyamanan thermal dalam ruang yang bebas AC ini sangat terasa. Meskipun tidak dilakukan pengukuran seberapa besar temperatur udara dalam ruangan tersebut rasa gerah atau panas akibat kelembaban udara tidak begitu terasa. Logikanya massa bangunan yang menghadap ke arah Sungai Kahayan dengan jarak ± 50 meter adalah daerah dengan kelembaban udara yang tinggi. Keadaan yang menyebabkan ketidak nyamanan thermal. Permukaan sungai yang luas berpotensi menambah kelembaban pada daerah sekitarnya. Kelembaban terjadi akibat prosentase kandungan uap air di udara yang cukup besar. Semakin tinggi kandungan uap air dalam udara semakin tinggi kelembabannya dan semakin tinggi pula ketidak nyamanan thermalnya. Bangunan Huma Hai Buntoi dan Betang Toyoi yang berada di kawasan dengan kelembaban tinggi semestinya tidak nyaman secara thermal dan menjadi fenomena aneh apabila dilihat dari kenyataan bahwa keadaan di dalam ruang terasa nyaman secara thermal, akan tetapi kedua Betang ini memiliki perbedaan desain ruang dan yang lebih terasa nyaman secara thermal adalah bangunan Huma Hai Buntoi sedangankan pada bangunan Betang Toyoi bentuk bangunannya lebih memanjang kekiri dan kekanan agak berbeda suhu yang dirasakan dari kedua sisi-sisi bangunan yang memanjang tersebut walaupun masih terasa nyaman secara thermal.

Page 5 of 14 | Total Record : 138


Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 20 No. 1 (2025): Menjaga Identitas, Menggagas Inovasi dalam Rupa Gagasan Perancangan dan Riset Vol. 19 No. 2 (2024): Kajian Konseptual Perancangan Kawasan, Ruang Terbuka Publik dan Bangunan Arsit Vol. 19 No. 1 (2024): Kajian Konseptual Perancangan Kawasan, Ruang Terbuka Publik dan Bangunan Arsit Vol. 18 No. 2 (2023): Vol. 18 No. 2 (2023): "Teori dan Implementasi Desain Perancangan" Vol. 18 No. 1 (2023): "Teori dan Implementasi Desain Perancangan Arsitektur" Vol. 17 No. 1 (2022): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 17 Nomor 1 Tahun 2022 Vol. 17 No. 2 (2022): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 17 Edisi II, Desember 2022 Vol. 16 No. 01 (2021): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 16 Nomor 1 Tahun 2021 Vol. 16 No. 2 (2021): JPA - Jurnal Perspektif Arsitektur. Volume 16 No. 2, Desember 2021 Vol. 13 No. 02 (2018): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 13 Nomor 2 Tahun 2018 Vol. 13 No. 01 (2018): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 13 Nomor 1 Tahun 2018 Vol. 12 No. 02 (2017): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 12 Nomor 2 Tahun 2017 Vol. 11 No. 02 (2016): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 11 Nomor 2 Tahun 2016 Vol. 11 No. 01 (2016): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 11 Nomor 1 Tahun 2016 Vol. 10 No. 02 (2015): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 10 Nomor 2 Tahun 2015 Vol. 10 No. 01 (2015): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 10 Nomor 1 Tahun 2015 Vol. 9 No. 02 (2014): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 9 Nomor 2 Tahun 2014 Vol. 9 No. 01 (2014): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 9 Nomor 1 Tahun 2014 Vol. 7 No. 02 (2012): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 7 Nomor 2 Tahun 2012 Vol. 7 No. 01 (2012): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 7 Nomor 1 Tahun 2012 Vol. 6 No. 02 (2011): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 6 Nomor 2 Tahun 2011 Vol. 6 No. 01 (2011): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 6 Nomor 1 Tahun 2011 Vol. 5 No. 02 (2010): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 5 Nomor 2 Tahun 2010 Vol. 5 No. 01 (2010): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 5 Nomor 1 Tahun 2010 More Issue