cover
Contact Name
Maria Evvy Yanti
Contact Email
jurnalefata@gmail.com
Phone
+6281312414725
Journal Mail Official
jurnalefata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Wijaya I No.29-31, RT.2/RW.4, Petogogan, Kec. Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12170
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 24771333     EISSN : 27228215     DOI : https://doi.org/10.47543
Jurnal EFATA merupakan wadah publikasi online hasil penelitian para dosen di Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, pada bidang teologi dan pelayanan Kristiani. Jurnal EFATA diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, dengan Focus and Scope adalah: 1. Teologi Sistematika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Pastoral 4. Misiologi 5. Pelayanan Kristiani
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1: Desember 2024" : 6 Documents clear
Suara Kenabian sebagai Kritik Politik dalam Sastra Nubuatan Amos 4:1-3 Yanti, Maria Evvy; Kristovel, Erik
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 1: Desember 2024
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i1.200

Abstract

The Book of Amos is part of the Book of the Prophets in the Old Testament canon. The composition of this book has various interpretations, especially in interpreting the prophet's oration that voices prophetic voices in the life situation of the people. Different approaches certainly produce diverse theologies as well. For example, some interpret that prophetic voices are only conveyed in religious and cultic aspects. Some interpret that the prophet was only criticizing the functions and responsibilities of the priest. Some view that the prophet is only functionally responsible for contributing to the permanence of the rulers in the government. This article aims to find the theology of the prophetic voice oration in Amos 4:1-3. The method used is prophetic literature analysis. The result is that the prophetic voice conveyed takes place in the political dimension of Jerusalem in the future. The theology of the prophetic voice in the text includes condemnation in Jerusalem; a crisis in political life in Jerusalem; restoration during the political turmoil in Jerusalem through the establishment of justice and truth for the people; and the rule of the Lord in Jerusalem. Abstrak Kitab Amos merupakan bagian dari kitab nabi-nabi dalam kanon Perjanjian Lama. Komposisi dari kitab ini memiliki beragam penafsiran, khususnya dalam menafsirkan orasi nabi yang menyuarakan suara kenabian dalam situasi kehidupan umat. Pendekatan yang berbeda tentu menghasilkan teologi yang beragam pula. Misalnya, ada yang menafsirkan bahwa suara kenabian hanya disampaikan dalam aspek agama dan kultus saja. Ada yang menafsirkan bahwa nabi hanya melakukan kritik terhadap fungsi dan tanggung jawab imam. Ada juga yang memandang bahwa nabi hanya bertanggung jawab secara fungsional saja dalam memberikan kontribusi terhadap kelanggengan para penguasa di pemerintahan. Beragam penafsiran ini yang melatarbelakangi penelitian ini. Tujuan penulisan artikel ini untuk menemukan teologi dari orasi suara kenabian dalam Amos 4:1-3. Metode yang digunakan ialah analisis sastra nubuatan. Hasilnya ialah bahwa suara kenabian yang disampaikan terjadi dalam dimensi politik di Yerusalem di masa mendatang, dan teologi mengenai suara kenabian dalam teks meliputi penghukuman di Yerusalem; krisis kehidupan politik yang dialami Yerusalem; pemulihan di tengah krisis politik di Yerusalem melalui penegakan keadilan dan kebenaran bagi umat; pemerintahan TUHAN di Yerusalem. Penelitian ini memberikan kontribusi sebuah persfektif teologi yang dapat direlevansikan bagi situasi sosial politik umat saat ini.
Tipologi Relasi Gereja dan Pemerintah Menurut Philip J. Wogaman: Konstruksi Teologi Publik Perspektif Pentakostal di Indonesia Hasiholan, Anggi Maringan; Siahaan, Harls Evan R.
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 1: Desember 2024
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i1.91

Abstract

The typology of church and government relations proposed by Philip J. Wogaman provides a conceptual framework for understanding the levels of church engagement in the public sphere. This study explores how Pentecostal communities in Indonesia can actively participate in the socio-political arena without losing their theological identity. Through the seven levels of participation, the church can influence societal ethos, educate congregations, and even take more radical steps, such as civil disobedience. However, political neutrality for the sake of peace is not included in the levels of participation outlined by Wogaman. By integrating pneumatological values and public theology principles, Pentecostal churches hold significant potential to become social and spiritual transformation agents, addressing the challenges of religious pluralism, poverty, and social injustice in Indonesia. Abstrak Tipologi relasi gereja dan pemerintah menurut Philip J. Wogaman memberikan kerangka konseptual untuk memahami level keterlibatan gereja dalam ruang publik. Penelitian ini membahas bagaimana komunitas Pentakostal di Indonesia dapat berperan aktif dalam ranah sosial-politik tanpa kehilangan identitas teologisnya. Melalui tujuh tipologi partisipasi, gereja dapat memengaruhi etos masyarakat, mendidik jemaat, hingga mengambil langkah-langkah yang lebih radikal seperti pembangkangan sosial. Namun, netralitas politik demi perdamaian tidak termasuk dalam kategori partisipasi yang disebutkan oleh Wogaman. Dengan pendekatan yang mengintegrasikan nilai pneumatologis dan prinsip teologi publik, gereja Pentakostal memiliki potensi besar untuk menjadi agen transformasi sosial dan spiritual, menjawab tantangan pluralisme agama, kemiskinan, dan ketidakadilan sosial di Indonesia.
Allah Berpihak pada Perempuan: Kajian Bilangan 27:1-12 dalam Perspektif Ekofemisme Panjaitan, Firman; Sinabariba, Daniel Irwanto
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 1: Desember 2024
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i1.204

Abstract

Inheritance rights to land are often disputed. Especially in a patriarchal culture, inheritance rights to land always fall to sons. Girls were often a marginal group and were not taken into account in matters of inheritance rights to land. This also applies to the nation of Israel at the time the nation imposed inheritance rights to the Promised Land. However, this view is challenged in the narrative of Numbers 27: 1-11, especially when God sided with Zelophehad's five daughters regarding their father's inheritance of the land. This study aims to show that women are also entitled to inheritance rights to the Promised Land given by God to man. This study was conducted using qualitative methods, especially through the literature study approach. The result obtained from this study is the alignment of God to The Five Daughters of Zelaphehad to have inheritance rights over their land. This confirms that women are also trusted by God to be directly involved in maintaining and preserving the Promised Land that God has given to man. Abstrak Hak waris atas tanah seringkali menjadi sengketa. Terkhusus dalam budaya patriarkhi, hak waris atas tanah senantiasa jatuh kepada anak laki-laki. Anak perempuan seringkali menjadi kelompok marjinal dan tidak diperhitungkan dalam masalah hak waris atas tanah. Hal ini juga berlaku bagi bangsa Israel pada saat bangsa itu memberlakukan hak waris atas tanah perjanjian. Namun pandangan ini mendapat perlawanan melalui narasi Bilangan 27:1-11, khususnya ketika Allah berpihak kepada kelima anak perempuan Zelafehad berkaitan dengan hak waris atas tanah dari ayah mereka. Penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan bahwa kaum perempuan pun berhak atas hak waris atas tanah perjanjian yang diberikan Allah kepada manusia. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, khususnya melalui pendekatan studi pustaka. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah keberpihakan Allah kepada kelima anak perempuan Zelafehad untuk memiliki hak waris atas tanah mereka. Hal ini menegaskan bahwa perempuan pun dipercaya oleh Allah untuk terlibat langsung dalam menjaga dan melestarikan tanah perjanjian yang telah diberikan Allah kepada manusia.
Manajemen Role Conflict pada Model Family Pastoral dalam Menghadapi Fenomena Keberagaman Pandangan Teologis Hartono, Handreas
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 1: Desember 2024
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i1.121

Abstract

Parents in the family pastoral model feel they have a ‘double role’ in the family due to the addition of pastoral duties from the church, which had originally ‘left pastoring to the pastor’ so that role conflict is not avoided. The purpose of this paper is for the church to provide solutions through management science to the role conflict experienced by parents as a complimentary regional shepherding of the church in dealing with the interpretation of theological doctrines. The research method used in this paper is qualitative, using a descriptive analysis method based on a literature review. It can be concluded that the theoretical role conflict explains how parents' roles as spiritual leaders and family members can conflict with each other, creating tensions that require good management to support faith growth and family well-being. The diversity of theological opinions in the church and Christian society, triggered by technological advances, demands good role conflict management in family pastoral ministry to create open dialogue, solid theological education, and wise leadership to maintain family unity and spiritual well-being. Abstrak Orang tua dalam model family pastoral merasa mempunyai “peran ganda” di dalam keluarga akibat ditambahkannya tugas menggembalakan dari gereja, yang semula telah “menyerahkan penggembalaan kepada pendeta” sehingga role conflict (konflik peran) tidak terhindar. Tujuan tulisan ini adalah agar gereja dapat memberikan solusi melalui ilmu manajemen terhadap role conflict yang dialami para orang tua sebagai regional complimentary penggembalalan gereja dalam menghadapi interpretasi doktrin teologis. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah jenis kualitatif dengan menggunakan metode analisis deskriptif yang berbasis pada kajian literatur. Maka dapat disimpulkan bahwa Teoretik role conflict menjelaskan bagaimana peran orang tua sebagai pemimpin spiritual dan anggota keluarga dapat saling bertentangan, menciptakan ketegangan yang memerlukan pengelolaan yang baik untuk mendukung pertumbuhan iman dan kesejahteraan keluarga. Keberagaman pendapat teologis dalam gereja dan masyarakat Kristen, yang dipicu oleh kemajuan teknologi, menuntut pengelolaan role conflict yang baik dalam pelayanan pastoral keluarga agar menciptakan dialog terbuka, pendidikan teologis yang solid, dan kepemimpinan bijaksana untuk menjaga persatuan dan kesejahteraan spiritual keluarga.
Ibadah Sejati di tengah Kemegahan: Mengaktualisasikan Pesan Amos dalam Kehidupan Menggereja di Era Posmodern Sahuleka, Kezia Esther; Maria, Laurentia Donna; Rahmat, Vonny Ovia; Pakpahan, Gernaida Krisna R.
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 1: Desember 2024
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i1.202

Abstract

This study examines the relevance of true worship from the perspective of the prophet Amos (Amos 5:21-27) in the context of contemporary church worship. Prophet Amos condemned the Israelites’ worship practices, which were outwardly grand but spiritually hollow, neglecting the values of justice and righteousness. A similar phenomenon is observed in modern churches, where emphasis on luxury and ritual symbolism sometimes overshadows the call to serve others and pursue social justice. Using a qualitative descriptive method with a hermeneutic approach, this study explores the historical and theological meaning of Amos’ text, integrating intertextual analysis to provide practical relevance for churches. The findings highlight that true worship is not merely ritual expression but must reflect love, justice, and openness to the world. Churches are called to be transformational communities, bridging faith and practice through tangible acts of service. This study underscores the importance of reexamining the essence of worship in modern churches to align with the prophetic values conveyed by Amos and address contemporary social challenges. Abstrak Penelitian ini mengkaji relevansi ibadah sejati menurut perspektif Nabi Amos (Amos 5:21-27) dengan konteks ibadah gereja masa kini. Nabi Amos mengecam praktik ibadah bangsa Israel yang megah secara lahiriah namun kosong secara spiritual, mengabaikan nilai-nilai keadilan dan kebenaran. Fenomena serupa terlihat dalam gereja modern, di mana aspek kemewahan dan simbolisme ritual terkadang mengesampingkan panggilan untuk melayani sesama dan memperjuangkan keadilan sosial. Melalui metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan hermeneutik, penelitian ini menggali makna historis-teologis teks Amos, mengintegrasikan analisis intertekstual untuk memberikan relevansi praktis bagi gereja. Hasil penelitian menyoroti bahwa ibadah sejati bukan sekadar ekspresi ritual, tetapi harus mencerminkan kasih, keadilan, dan keterbukaan terhadap dunia. Gereja dipanggil untuk menjadi komunitas transformasional yang menghubungkan iman dan praktik melalui pelayanan nyata. Penelitian ini menegaskan pentingnya meninjau ulang esensi ibadah dalam gereja masa kini agar selaras dengan nilai-nilai profetik yang disampaikan Amos, sekaligus relevan dengan tantangan sosial masyarakat modern.
Pembinaan Iman dan Optimalisasi Media Digital: Sebuah Upaya Meningkatkan Gairah Beribadah Pandiangan, Jonathan Christoper; Siahaya, Karel Martinus
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 1: Desember 2024
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i1.203

Abstract

The development of progress in the digital era that continues to increase significantly has a positive impact on the utilization of technology in everyday life. These technological advances have penetrated various aspects, including spiritual practices in the dimensions of faith and passion for worship. However, there are still problems in utilizing digital media, content, and the quality of human resources to support faith development and increase the passion for worship. This research aims to examine the role of digital media in optimizing faith development and increasing worship motivation among Christians. By using a qualitative method with a literature study approach, conclusions are drawn that emphasize the importance of utilizing digital media to increase the accessibility of worship. This is because digital content that supports faith development and is aligned with digital media has great potential in optimizing worship passion, provided that the content presented follows religious values and supports spiritual goals. Of course, this results in social interaction within the digital community to increase spiritual engagement for the sake of sustainable worship. Abstrak Perkembangan dari kemajuan di era digital yang terus meningkat signifikan membawa dampak positif dalam pemanfaatan teknologi dikehidupan sehari-hari. Kemajuan teknologi tersebut telah merambah berbagai aspek, termasuk dalam praktik spiritual dalam dimensi iman dan gairah beribadah. Namun, masih terdapat persoalan dalam memanfaatkan media digital, konten dan kualitas sumber daya manusia untuk mendukung pembinaan iman dan meningkatkan gairah beribadah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran media digital dalam mengoptimalkan pembinaan iman dan meningkatkan motivasi ibadah di kalangan kekristenan. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literature, didapat kesimpulan yang menekankan pentingnya pemanfaatan media digital untuk meningkatkan aksesibilitas ibadah. Ini dikarenakan adanya konten digital yang mendukung pembinaan iman dan selaras dengan media digital memiliki potensi besar dalam mengoptimalkan gairah ibadah, dengan syarat bahwa konten yang disajikan sesuai dengan nilai-nilai agama dan mendukung tujuan spiritualitas. Tentunya hal ini mengakibatkan adanya interaksi sosial dalam komunitas digital untuk meningkatkan keterlibatan spiritual demi gairah ibadah secara berkelanjutan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6