cover
Contact Name
Maria Evvy Yanti
Contact Email
jurnalefata@gmail.com
Phone
+6281312414725
Journal Mail Official
jurnalefata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Wijaya I No.29-31, RT.2/RW.4, Petogogan, Kec. Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12170
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 24771333     EISSN : 27228215     DOI : https://doi.org/10.47543
Jurnal EFATA merupakan wadah publikasi online hasil penelitian para dosen di Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, pada bidang teologi dan pelayanan Kristiani. Jurnal EFATA diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, dengan Focus and Scope adalah: 1. Teologi Sistematika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Pastoral 4. Misiologi 5. Pelayanan Kristiani
Articles 77 Documents
Spiritualitas Apologetis Berbasis Korpus Paulin: Strategi Teologis Menghadapi Proliferasi Ajaran Sesat di Ruang Siber Yasin, Harlin; Sonata, Valeria
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12, No 1: Desember 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v12i1.127

Abstract

This study examines the development of Paulin-based apologetic spirituality as a theological strategy to address the proliferation of heretical teachings in cyberspace. Through qualitative research employing a biblical-theological methodology, this study analyzes the Pauline corpus to construct contemporary apologetic frameworks. The findings reveal that Paul's apologetic methodology in Acts 17:16-34 and 1 Corinthians 9:19-23 provides relevant theological foundations for confronting digital-era deceptions. The study concludes that Paulin's apologetic spirituality, characterized by contextual adaptation, intellectual engagement, and pastoral sensitivity, offers practical strategies for maintaining doctrinal integrity while engaging contemporary challenges in digital spaces. Abstrak Strategi teologis menghadapi proliferasi ajaran sesat di ruang siber. Melalui penelitian kualitatif dengan metodologi biblika-teologis, riset ini menganalisis korpus Paulin untuk membangun kerangka apologetis kontemporer. Temuan menunjukkan bahwa metodologi apologetis Paulus dalam Kisah Para Rasul 17:16-34 dan 1 Korintus 9:19-23 memberikan landasan teologis yang relevan untuk menghadapi penyesatan era digital. Penelitian menyimpulkan bahwa spiritualitas apologetis Paulin yang ditandai adaptasi kontekstual, keterlibatan intelektual, dan sensitivitas pastoral, menawarkan strategi efektif untuk mempertahankan integritas doktrinal sambil menghadapi tantangan kontemporer di ruang digital.
Suara Profetis Kitab Mikha dalam Ruang Publik: Analisis Komposisi Teks dan Konstruksi Teologi Transformatif bagi Ketidakadilan Sosial di Indonesia Maria Evvy Yanti; Cherly Mantiri Naray
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12, No 2: Juni 2026
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v12i2.260

Abstract

This article examines the Book of Micah as a source of public theology relevant to contemporary social crises in Indonesia. Through qualitative analysis of the text's compilation history and compositional structure, the study traces the dialectic between judgment and salvation oracles across Micah's redactional layers, attentive to their socio-historical context. A public theology approach is employed to read the relationship between Micah's prophetic message and the realities of social injustice, political corruption, economic exploitation, and moral crisis in Indonesia's public sphere. The findings show that Micah's theology is not merely normative but also sharply critical of social injustice, abuse of political power, and religious deviation. The book's structure reveals a pattern that contrasts the judgment of oppressive elites with hope for a restored, just community, reflecting divine justice that demands social accountability while offering restorative hope. Micah can thus be read as a transformative theological discourse that bridges ancient Jerusalem and present-day Indonesian realities. The article's contribution lies in constructing an Old Testament-based public theology that is interpretive, critical, contextual, and relevant to shaping public ethical consciousness in Indonesia. Abstrak Artikel ini mengkaji Kitab Mikha sebagai sumber teologi publik yang relevan bagi krisis sosial kontemporer di Indonesia. Melalui analisis kualitatif terhadap sejarah kompilasi dan struktur komposisi teks, penelitian ini menelusuri dialektika antara nubuat penghukuman dan keselamatan dalam berbagai lapisan redaksi Mikha, dengan memperhatikan konteks sosial-historisnya. Pendekatan teologi publik digunakan untuk membaca relasi antara pesan profetis Mikha dan realitas ketidakadilan sosial, korupsi kekuasaan, eksploitasi ekonomi, serta krisis moral di ruang publik Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teologi Kitab Mikha bersifat teologis-normatif sekaligus kritis terhadap ketidakadilan sosial, penyalahgunaan kekuasaan politik, dan penyimpangan religius. Struktur kitab memperlihatkan pola kontras antara penghukuman terhadap elit yang menindas dan pengharapan pemulihan komunitas yang berkeadilan, yang merefleksikan keadilan Allah yang menuntut pertanggungjawaban sosial sekaligus menghadirkan harapan pemulihan. Kitab Mikha dengan demikian dapat dibaca sebagai wacana teologis transfor-matif yang menjembatani dunia teks kuno Yerusalem dengan realitas Indonesia saat ini. Kontribusi artikel ini terletak pada konstruksi teologi publik berbasis Perjanjian Lama yang bersifat interpretatif, kritis, kontekstual, dan relevan bagi kesadaran etis masyarakat.
Mamon di Meja Perjamuan: Kritik Profetik Terhadap Ketamakan Religius dan Ekonomi yang Menyingkirkan Orang Miskin Benediktus James Widya Darmaka; Andreas Andry Handiyanto; Agus Suhariono
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12, No 2: Juni 2026
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v12i2.257

Abstract

Religious and economic greed constitute a theological problem that cannot be reduced to individual moral weakness. Through a qualitative approach employing theological construction and prophetic anti-mammonic critique, mammon is read as a power that displaces the loyalty of faith, shapes human imagination toward material possessions, and structures social relations according to accumulation, status, and economic honor. The metaphor of the banquet table is employed to expose the ecclesial irony whereby a space meant to declare grace, equality, and the body of Christ can instead be captured by a class logic that excludes the poor. The findings demonstrate that greed becomes most dangerous when sacralized through the language of blessing, abundance, success, and growth, for such language can conceal exploitation, silence the experience of the poor, and blunt the church's prophetic critique. The church must be formed as an anti-mammonic community, that is, a community that refuses to make wealth the measure of human dignity, restores the voice of the poor, theologically examines its fellowship practices, and makes the table of Christ a praxis of justice. Thus, the critique of greed is not merely a call to generosity but a summons to dismantle religious-economic structures that continue to exclude the poor from the center of the church's life. Abstrak Ketamakan religius dan ekonomi merupakan persoalan teologis yang tidak dapat direduksi menjadi kelemahan moral individu. Melalui pendekatan kualitatif dengan konstruksi teologis dan kritik profetik anti-mamonik, mamon dibaca sebagai kuasa yang menggeser loyalitas iman, membentuk imaji-nasi manusia terhadap harta, serta menata relasi sosial berdasarkan akumulasi, status, dan kehormatan ekonomi. Metafora meja perjamuan digunakan untuk menyingkap ironi gerejawi ketika ruang yang seharusnya menyatakan anugerah, kesetaraan, dan tubuh Kristus justru dapat direbut oleh logika kelas yang menyingkirkan orang miskin. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa ketamakan menjadi paling berbahaya ketika disakralkan melalui bahasa berkat, kelimpahan, keberhasilan, dan pertumbuhan, sebab bahasa tersebut dapat menyembunyikan eksploitasi, membungkam pengalaman orang miskin, dan menumpulkan kritik profetik di dalam gereja. Gereja perlu dibentuk sebagai komunitas anti-mamonik, yaitu komunitas yang menolak menjadikan harta sebagai ukuran martabat, memulihkan suara orang miskin, menguji praktik persekutuan secara teologis, serta menjadikan meja Kristus sebagai praksis keadilan. Dengan demikian, kritik terhadap ketamakan bukan sekadar seruan kemurahan hati, melainkan panggilan untuk membongkar struktur religius-ekonomi yang membuat orang miskin tetap tersingkirkan dari pusat kehidupan gereja.
Ecclesia Semper Reformanda: Eklesiologi Etis dan Panggilan Gereja sebagai Komunitas Moral yang Terus Bertobat di tengah Demoralisasi Publik Harls Evan Riant Siahaan; Rogate Debora; Herlofina Ga; Andre Rumagit
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12, No 2: Juni 2026
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v13i1.135

Abstract

The public demoralization, marked by widespread corruption, the erosion of leadership integrity, and declining social trust, places the church at a critical crossroads: can the church genuinely present itself as a credible and transformative moral community? This article argues that the principle ecclesia semper reformanda, the church that must always be reformed according to the Word of God, needs rehabilitation from its slogan-domestication toward a living paradigm of ethical ecclesiology. By integrating historical-biblical analysis, dogmatic construction, and Indonesian contextual reflection, the article builds the argument that the authentic church is a moral community that is simul sancta et peccatrix, simultaneously holy and sinful, and precisely for this reason is called to continual repentance (semper reformanda) as the prerequisite for its prophetic ministry to the nation. Without consistent communal moral reformation, the church loses its theological legitimacy to serve as a credible voice amid Indonesia's public demoralization crisis. This study offers a paradigmatic reconstruction of semper reformanda as an ecclesial imperative that transcends denominational boundaries. Abstrak Demoralisasi publik yang ditandai dengan merebaknya korupsi, erosi integritas kepemimpinan, dan melemahnya kepercayaan sosial menempatkan gereja di persimpangan yang krusial: apakah gereja mampu hadir sebagai komunitas moral yang kredibel dan transformatif? Artikel ini berargumen bahwa prinsip ecclesia semper reformanda, gereja yang harus selalu diperbarui menurut Firman Allah, perlu direhabilitasi dari domestikasi slogannya menuju paradigma eklesiologi etis yang hidup. Dengan mengintegrasikan analisis historis-biblis, konstruksi dogmatis, dan refleksi kontekstual Indonesia, artikel ini membangun argumen bahwa gereja yang autentik adalah komunitas moral yang simul sancta et peccatrix, sekaligus kudus dan berdosa, dan justru karena itu dipanggil untuk terus-menerus bertobat (semper reformanda) sebagai prasyarat bagi pelayanan profetiknya kepada bangsa. Tanpa reformasi moral komunal yang konsisten, gereja kehilangan legitimasi teologis untuk menjadi suara yang kredibel di tengah krisis demoralisasi publik di Indonesia. Penelitian ini menawarkan rekonstruksi paradigmatis semper reformanda sebagai imperatif eklesial yang melampaui batas denominasional.
Baptisan sebagai Penghapusan Hierarki: Kajian Eksegetis-Teologis atas Galatia 3:26-29 dan Tawaran Ulang Identitas Eklesial di tengah Masyarakat Majemuk Valeria Sonata; Syani B. Rante Salu; Asih Rachmani Endang Sumiwi
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12, No 2: Juni 2026
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v12i2.143

Abstract

This article examines Galatians 3:26–29 as a performative baptismal formula that functions to restructure the social identity of the early Christian community. Employing a grammatical-historical exegesis of the Greek text (NA28) alongside a socio-rhetorical analysis of the Galatian crisis, this study finds that the metaphor of "putting on Christ" (enedusasthe) and the 'oude-oude-kai' conjunctive pattern in verse 28 point back to Genesis 1:27 LXX, thereby indicating a restoration of the created order that abolishes ethnic, class, and gender stratification. The article further traces the tension between the "eschatological indicative" of spiritual equality and Paul's seemingly varied social practice in 1 Corinthians 11, Philemon, and the household codes, proposing a model of progressive realization. These findings are then contextualized within Indonesia's pluralistic society, and the concept of baptismal anamnesis is proposed as a theological foundation for dismantling ecclesial and social hierarchies. Abstrak Artikel ini mengkaji Galatia 3:26-29 sebagai formula baptismal yang bersifat performatif dan berfungsi untuk merestrukturisasi identitas sosial jemaat mula-mula. Dengan menggunakan metode eksegesis gramatikal-historis atas teks Yunani (NA28) dan analisis sosio-retoris terhadap krisis Galatia, penelitian ini menemukan bahwa metafora (enedusasthe) dan pola konjungsi 'oude-oude-kai' pada ayat 28 merujuk kembali pada Kejadian 1:27 LXX, sehingga mengindikasikan pemulihan tatanan penciptaan yang menghapus stratifikasi etnis, kelas, dan gender. Artikel ini juga menelusuri ketegangan antara indikatif eskatologis kesetaraan spiritual dan praktik sosial Paulus yang tampak beragam dalam 1 Korintus 11, Filemon, dan kode rumah tangga, serta mengusulkan model realisasi yang progresif. Temuan ini kemudian direfleksikan secara kontekstual dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, dengan mengusulkan konsep anamnesis baptismal sebagai dasar teologis bagi penghapusan hierarki eklesial dan hierarki sosial.
Formula Baptisan Trinitarian dalam Matius 28:19: Kajian Hermeneutik-Kritis atas Orisinalitas Teks dan Implikasinya bagi Teologi Baptisan Kristen Purwati Purwati
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12, No 2: Juni 2026
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v12i2.256

Abstract

This article examines the Trinitarian baptismal formula in Matthew 28:19 through a critical-hermeneutical study of textual originality and its implications for Christian baptismal theology. The main problem addressed in this study arises from the tension between the formula “in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit” in Matthew 28:19 and the formula “in the name of Jesus” found in several New Testament passages. This tension has often sparked polemical debate in ecclesial contexts, while it requires textual, grammatical, historical, redactional, and theological analysis in academic settings. This study employs a qualitative library-based method with a critical-hermeneutical approach to Matthew 28:19 within the broader context of Matthew 28:16-20. The results show that the Trinitarian formula in Matthew 28:19 is not just a liturgical expression; it is an important part of the universal call to discipleship. Textually, there is no strong evidence that the Gospel of Matthew ever circulated without the formula of the Father, the Son, and the Holy Spirit. Theologically, the formula functions as a marker of discipleship identity, a confession of ecclesial faith, and an ecclesiological foundation for the Christian community. This article concludes that Matthew 28:19 is best understood as a point of convergence among the authority of the risen Christ, the formation of disciples among all nations, and Christian baptismal identity in relation to the Triune God. Abstrak Artikel ini membahas formula baptisan Trinitarian dalam Matius 28:19 melalui kajian hermeneu-tik-kritis atas orisinalitas teks dan implikasinya bagi teologi baptisan Kristen. Persoalan utama penelitian ini berangkat dari ketegangan antara formula “dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus” dalam Matius 28:19 dan formula “dalam nama Yesus” yang muncul dalam beberapa teks Perjanjian Baru. Ketegangan tersebut sering dipahami secara polemis dalam praktik gereja, padahal secara akademik perlu dibaca melalui analisis tekstual, gramatikal, historis, redaksional, dan teologis. Penelitian ini menggunakan meto-de kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan hermeneutik-kritis terhadap Matius 28:19 dalam konteks Matius 28:16–20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula Trinitarian dalam Matius 28:19 tidak dapat direduksi menjadi rumus liturgis semata, melainkan merupakan bagian integral dari mandat pemuridan universal. Secara tekstual, tidak terdapat bukti kuat bahwa Injil Matius pernah beredar tanpa formula Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Secara teologis, formula tersebut berfungsi sebagai penanda identitas murid, pengakuan iman gereja, serta dasar eklesiologis bagi komunitas Kristen. Artikel ini menyimpulkan bahwa Matius 28:19 lebih tepat dipahami sebagai titik temu antara otoritas Kristus yang bangkit, pembentukan murid bagi segala bangsa, dan identitas baptisan Kristen dalam relasi dengan Allah Tritunggal.
Oikonomia Trinitaris: Panggilan Orang Kristen untuk Menjaga dan Memelihara Bumi Agustin Soewitomo Putri; Marianus Patora; Ho Lucky Setiawan; Nicolien Meggy Sumakul
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12, No 2: Juni 2026
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v12i2.232

Abstract

This article examines the concept of Trinitarian oikonomia as a theological foundation for the Christian calling to care for and preserve the earth. The increasingly acute ecological crisis is not merely a scientific and environmental concern but also touches upon profound theological issues that the church has too long neglected. This article argues that Trinitarian oikonomia, which refers to how the Triune God governs and sustains all creation, provides a solid foundation for Christian ecological engagement through a qualitative research approach based on a library study employing systematic theological hermeneutics. The discussion encompasses four key points: the theological meaning of oikonomia in Trinitarian tradition; the distinctive roles of the three divine individuals in creation, redemption, and renewal; the ecological crisis as a theological crisis; and the implications of Trinitarian spirituality, ethical values, and lifestyle for ecclesial life. This article concludes that the active engagement of Christians in earth-keeping constitutes an authentic expression of Trinitarian faith rather than merely a response to contemporary ecological demands. Abstrak Artikel ini mengkaji konsep oikonomia Trinitaris sebagai landasan teologis bagi panggilan orang Kristen untuk menjaga dan memelihara bumi. Krisis ekologi yang semakin akut tidak hanya menjadi persoalan ilmiah dan lingkungan, tetapi juga menyentuh isu teologis yang mendesak dan sering kali diabaikan oleh gereja. Melalui pendekatan penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan metode hermeneutika teologi sistematik, artikel ini mengargumentasikan bahwa oikonomia Trinitaris, yakni cara Allah Trinitas mengurus dan memelihara seluruh ciptaan-Nya, memberikan fondasi yang kokoh bagi keterlibatan ekologis orang Kristen. Pembahasan mencakup empat pokok: makna teologis oikonomia dalam tradisi Trinitaris; peran distinktif ketiga pribadi ilahi dalam penciptaan, penebusan, dan pembaruan ciptaan; krisis ekologi sebagai krisis teologis; serta implikasi spiritualitas, nilai etis, dan gaya hidup Trinitaris bagi kehidupan menggereja. Artikel ini menyimpulkan bahwa keterlibatan aktif orang Kristen dalam pemeliharaan bumi merupakan ekspresi autentik dari penghayatan iman Trinitaris yang menyeluruh, bukan sekadar respons terhadap tuntutan ekologis kontemporer.