cover
Contact Name
Maria Evvy Yanti
Contact Email
jurnalefata@gmail.com
Phone
+6281312414725
Journal Mail Official
jurnalefata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Wijaya I No.29-31, RT.2/RW.4, Petogogan, Kec. Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12170
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 24771333     EISSN : 27228215     DOI : https://doi.org/10.47543
Jurnal EFATA merupakan wadah publikasi online hasil penelitian para dosen di Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, pada bidang teologi dan pelayanan Kristiani. Jurnal EFATA diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, dengan Focus and Scope adalah: 1. Teologi Sistematika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Pastoral 4. Misiologi 5. Pelayanan Kristiani
Articles 71 Documents
Revitalisasi Prinsip Pendidikan Hieronimus bagi Pendidikan Perempuan di Indonesia: Kajian Historis dan Kontekstual Cahyono, Heru; Hasiholan, Anggi Maringan
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 2: Juni 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i2.223

Abstract

The revitalization of women's education requires an approach that emphasizes not only cognitive development but also spirituality, ethics, and social engagement. The principle of Disciplina Christiana, derived from Jerome's ascetic thought, provides an alternative curricular framework for addressing the challenges of women's education in Indonesia's plural and patriarchal context. The focus lies in shaping women as autonomous subjects—faithful, critical, and compassionate—rather than passive objects within the educational system. This study aims to formulate a transformative educational model by employing a qualitative method with a historical-hermeneutical approach and theological analysis. Three key areas are highlighted: lectio sacra as a spiritual practice that helps women connect with their faith, disciplina vitae to develop strong morals and self-discipline, and actio caritatis as a way to engage in helping others and promoting social justice actively. These pillars are integrated into the contextual and transformative praxis of Christian religious education. The result is a curricular model that not only shapes character but also strengthens women's agency and participation in building a more just and compassionate society. Abstrak Revitalisasi pendidikan perempuan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga spiritualitas, etika, dan keberpihakan sosial. Prinsip Disciplina Christiana dari pemikiran asketik Hieronimus memberikan ide untuk kurikulum alternatif yang cocok untuk mengatasi tantangan pendidikan perempuan di Indonesia yang beragam dan patriarkal. Fokusnya adalah pada pembentukan perempuan sebagai subjek otonom yang beriman, kritis, dan berbelarasa, bukan sebagai objek pasif dalam sistem pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model pendidikan yang transformatif dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan hermeneutik historis serta analisis teologis. Tiga pilar utama yang dikembangkan adalah lectio sacra sebagai praktik spiritual yang membantu perempuan mengenali identitas religius, disciplina vitae sebagai cara untuk membangun ketahanan moral dan keteraturan hidup, serta actio caritatis sebagai motivasi untuk terlibat aktif dalam pelayanan dan keadilan sosial. Ketiga pilar ini diintegrasikan ke dalam praksis Pendidikan Agama Kris-ten yang kontekstual dan transformatif. Hasilnya adalah model kurikulum yang tidak hanya membentuk karakter, tetapi juga memperkuat agensi dan partisipasi perempuan dalam masyarakat yang lebih adil dan penuh kasih.
Pembalasan Setimpal (Lex Talionis) dalam Kitab Obaja: Telaah Teologis terhadap Konsep Keadilan Allah Yanti, Maria Evvy; Lamsir, Seno
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 2: Juni 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i2.220

Abstract

The Book of Obadiah is the shortest book among the minor prophets, with various interpretations, especially in interpreting the principle of lex talionis in Obadiah 1:15b. Different approaches certainly produce diverse theologies. For example, some interpret the prophetic theology of lex talionis as the context of God's judgment on the Edomites. Some write that the principle of lex talionis is the basis for punishment for the Edomites, and the evidence shows that Edom's actions that bring evil to Israel will be repaid with the same suffering. There is also an opinion that prophetic theology, as exemplified in the tradition of lex talionis and Obadiah 1:15b, encompasses not only vengeance but also God's justice, His faithfulness to His people, and a warning to nations that commit evil. The purpose of writing this article is to undertake a study of the practice of lex talionis in Obadiah 1:15b as a form of God's justice. The method used is the analysis of prophetic theology through the interpretation of social history. The interpretation of lex talionis in Obadiah 1:15b reveals three key aspects: (1) the consequences of punishment for the nations' crimes, (2) the application of lex talionis as a manifestation of God's justice, and (3) salvation as the hope for those who endure punishment as a form of justice. Abstrak Kitab Obaja merupakan kitab terpendek di antara kitab nabi-nabi kecil dengan beragam penafsiran, khususnya dalam menafsirkan prinsip lex talionis, dalam Obaja 1:15b. Pendekatan yang berbeda tentu menghasilkan teologi yang beragam pula. Misalnya, ada yang menafsirkan bahwa teologi kenabian tentang lex talionis sebagai konteks penghakiman Allah atas bangsa Edom. Ada juga yang menuliskan bahwa prinsip lex talionis sebagai dasar hukuman bagi bangsa Edom dan ini menunjukkan bahwa tindakan Edom yang mendatangkan kejahatan bagi Israel akan dibalas dengan penderitaan yang sama. Terdapat pula pendapat bahwa teologi kenabian melalui tradisi lex talionis Obaja 1:15b bukan hanya tentang pembalasan, tetapi juga tentang keadilan Allah, kesetiaan-Nya kepada umat-Nya, dan peringatan bagi bangsa-bangsa yang berbuat jahat. Tujuan penulisan artikel ini ialah untuk menemukan telaah praktik lex talionis dalam Obaja 1:15b sebagai bentuk keadilan Allah. Metode yang digunakan ialah analisis teologi kenabian melalui tafsir sejarah sosial. Hasilnya ialah bahwa interpretasi lex talionis dalam Obaja 1:15b meliputi (1) konsekuensi hukuman bagi kejahatan bangsa-bangsa, (2) berlakunya prinsip lex talionis sebagai bentuk keadilan Allah, dan (3) adanya keselamatan sebagai pengharapan umat dibalik penghukuman yang dialami umat sebagai bentuk keadilan.
Transformasi Paradigmatik Pendidikan Kristiani melalui Spiritualitas Persahabatan: Rekonstruksi Teologis-Pedagogis Berdasarkan Yohanes 15:12-15 Putri, Ayu; Poroe, Herman; Sonata, Valeria
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 2: Juni 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v%vi%i.221

Abstract

This research examines paradigmatic transformation in Christian education through the implementation of friendship spirituality as a response to the dichotomy between academic achievement and holistic character formation. Employing interpretive qualitative methodology with a theological hermeneutical approach to John 15:12-15, this study analyzes the relational construction between cognitive, affective, and spiritual dimensions in contemporary Christian education. Research findings suggest that spirituality of friendship, rooted in the concepts of philia and agape within the Johannine tradition, offers a theoretical framework for holistic pedagogical transformation. The implementation of friendship spirituality through virtue ethics-based character education, dialogical collaborative learning, the internalization of transformative service values, and the creation of inclusive learning communities can lead to integral Christian education. Results indicate that this approach is capable of forming students who possess intellectual competence, moral integrity, mature spirituality, and high social sensitivity within the context of a plural society. Abstrak Penelitian ini mengkaji transformasi paradigmatik dalam pendidikan Kristiani melalui implementasi spiritualitas persahabatan sebagai respons terhadap dikotomi antara pencapaian akademik dan pembentukan karakter holistik. Melalui metodologi kualitatif interpretatif dengan pendekatan hermeneutik teologis terhadap perikop Yohanes 15:12-15, penelitian ini menganalisis konstruksi relasional antara dimensi kognitif, afektif, dan spiritual dalam pendidikan Kristiani kontemporer. Temuan penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas persahabatan yang berfundasi pada konsep philia dan agape dalam tradisi Johannine memberikan kerangka teoritis bagi transformasi pedagogis yang holistik. Implementasi spiritualitas persahabatan melalui pendidikan karakter berbasis virtue ethics, pembelajaran kolaboratif dialogis, internalisasi nilai-nilai pelayanan transformatif, dan penciptaan komunitas belajar inklusif dapat merealisasikan pendidikan Kristiani yang integral. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa pendekatan ini mampu membentuk peserta didik yang memiliki kompetensi intelektual, integritas moral, spiritualitas yang matang, serta sensitivitas sosial yang tinggi dalam konteks masyarakat plural.
Abraham "Sahabat Allah" dalam Tawarikh 20:7 sebagai Ingatan Budaya Adi, Hery Setyo
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 2: Juni 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v%vi%i.211

Abstract

"Abraham, your friend"—a title that appears in 2 Chronicles 20:7—holds deep theological significance for the post-exilic people of Judah. This article presents a study of that title using the cultural memory method developed by Jan Assmann alongside the historical-critical method. The findings reveal that the mention of Abraham as God’s friend in King Jehoshaphat’s public prayer serves as a means of reactivating the collective memory of Judah’s communal identity and theological foundation in the face of crisis. The redaction of the Book of Chronicles during the Persian post-exilic period demonstrates that the memory of Abraham as God’s friend functioned both as foundational memory and contra-present memory to build identity, generate hope, and strengthen the legitimacy of Judah’s post-exilic existence. The memory of Israel as the descendants of Abraham, the friend of God, shaped a collective identity that distinguished Israel from other nations and affirmed their spiritual claim to the Promised Land, despite their political subjugation under Persian rule. The contemporary implication of this study offers a theological perspective for Christian communities to uphold their faith identity amid pressure through spiritual strategies such as theological memory, perseverance in prayer, and nonviolent resistance. Abstrak “Abraham, sahabat-Mu,” sebuah julukan yang muncul dalam 2 Tawarikh 20:7, memiliki makna teologis yang mendalam bagi bangsa Yehuda pascapembuangan. Artikel ini merupakan hasil studi mengenai julukan tersebut dengan menggunakan metode ingatan budaya yang dikembangkan Jan Assmann dan metode kritik historis. Temuan menunjukkan bahwa penyebutan Abraham sebagai sahabat Allah dalam doa publik Raja Yosafat merupakan sarana mengaktifkan ingatan masa lalu tentang identitas komunal dan dasar teologis keberadaan bangsa Yehuda untuk menghadapi situasi krisis. Peredaksian kitab Tawarikh pada masa pascapembuangan periode Persia memperlihatkan ingatan tentang Abraham sahabat Allah sebagai foundational memory dan contra-present memory sekaligus guna membangun identitas, menciptakan harapan, dan memperkuat legitimasi keberadaan Yehuda pascapembuangan. Ingatan tentang Israel, keturunan dari Abraham yang adalah sahabat Allah, juga membentuk identitas kolektif untuk membedakan Israel dari bangsa-bangsa lain, serta meneguhkan klaim spiritual atas tanah perjanjian meskipun secara politis berada di bawah kekuasaan Persia. Implikasi kontemporer dari kajian ini memberikan pandangan teologis bagi komunitas Kristen untuk mempertahankan identitas imannya di tengah tekanan, melalui strategi spiritual, yakni ingatan teologis, ketekunan berdoa, dan tidak melakukan perlawanan secara fisik.
Teologi Ekologi sebagai Teologi Publik: Tanggung Jawab Kristen dalam Menghadapi Krisis Lingkungan Purwanto, Edi
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 2: Juni 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i2.208

Abstract

Krisis lingkungan global akibat perubahan iklim telah menjadi tantangan multidimensi yang tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga sosial dan spiritual. Artikel ini menganalisis kontribusi ecotheology sebagai bentuk teologi publik Kristen dalam merespons tantangan tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka, penelitian ini mengeksplorasi dasar-dasar teologis ecotheology, peranannya dalam ruang publik, serta hambatan implementasinya dalam konteks masyarakat plural. Hasil kajian menunjukkan bahwa ecotheology menekankan nilai intrinsik ciptaan, keadilan ekologis, dan spiritualitas ekologis sebagai ekspresi iman yang mengarah pada tanggung jawab kolektif terhadap keberlanjutan bumi. Sebagai teologi publik, ecotheology mendorong gereja untuk terlibat dalam pendidikan, advokasi kebijakan, dan transformasi praksis sosial demi masa depan ciptaan yang adil dan lestari. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi teologi ekologi ke dalam misi gereja bukan hanya sebuah pilihan reflektif, melainkan bagian dari kesaksian iman Kristen di tengah krisis zaman.
Suffering in the Perspective of Being Religious Wiryadinata, Halim
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12, No 1: Desember 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v12i1.237

Abstract

Humans and suffering are inseparable because they complement each other throughout life. Basically, humans, as weak creatures, always seek religion as external guidance to support their lives. Therefore, we assert that religious premises serve as external power to help humans survive suffering by building an understanding of religion and suffering from the perspective of religious sociology and by offering an argument for how Job accepted suffering to show himself to be a religious man. In the last part of our paper, we will show that suffering forms a man as a religious man in the faith growth as part of the human life process.
Penyembuhan Ilahi sebagai Epistem Pedagogis: Rekonstruksi Pendidikan Kristiani-Pentakostal melalui Pendekatan Spirit-led learning Putri, Ayu Purnama; Siahaan, Harls Evan; Khandira, Michael Erfian
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12, No 1: Desember 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v12i1.241

Abstract

Contemporary Christian education faces epistemological challenges in integrating the pneumatological dimension into academic learning constructs shaped by the secularist paradigm. This study develops a theoretical framework for Pentecostal Christian education that integrates divine healing as a pedagogical epistemology through the Spirit-led learning model. Using an interpretive qualitative approach, this research integrates theological, phenomenological, and pedagogical analysis through bibliographic studies and analysis of healing experiences in the Pentecostal tradition. Findings show that divine healing has a holistic pedagogical dimension that is experiential, embodied, and communal, teaching faith that is not only conceptual but transformative. Spirit-led learning is synthesized from the convergence of Mezirow and Freire's transformational learning theory with Pentecostal pneumatology, placing the Holy Spirit as Magister Supremus in the pedagogical process. This model actualizes multidimensional transformation—cognitive, affective, and spiritual—while shifting the orientation of education from the transmission of knowledge to existential formation. The research produced pedagogical guidelines for implementation in formal and nonformal educational contexts that facilitate learners' holistic transformation. Pendidikan Kristen kontemporer menghadapi problematika epistemologis dalam menginte-grasikan dimensi pneumatologis dengan konstruksi pembelajaran akademik yang didominasi paradigma sekularisme. Penelitian ini mengembangkan kerangka teoretis pendidikan Kristen Pentakosta yang mengintegrasikan penyembuhan ilahi sebagai epistemologi pedagogis melalui model Spi-rit-led learning. Menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif, riset ini mengintegrasikan analisis teologis, fe-nomenologis, dan pedagogis melalui kajian bibliografis serta analisis pengalaman penyembuhan dalam tradisi Pentakostal. Temuan menunjukkan bahwa penyembuhan Ilahi memiliki dimensi pedagogis holistik yang bersifat experiential, embodied, dan komunal, mengajarkan iman yang tidak hanya konseptual tetapi transformatif. Spirit-led learning disintesiskan dari konvergensi teori pembelajaran transformasio-nal Mezirow-Freire dengan pneumatologi Pentakostal, menempatkan Roh Kudus sebagai Magister Supremus dalam proses pedagogis. Model ini meng-aktualisasikan transformasi multidimensional—kog-nitif, afektif, dan spiritual—sekaligus meng-geser orientasi pendidikan dari transmisi pengetahuan menuju formasi eksistensial. Penelitian menghasilkan guidelines pedagogis untuk implementasi dalam konteks pendidikan formal dan nonformal yang memfasilitasi transformasi holistik peserta didik.
Ulos dan Refigurasi Makna Keselamatan dalam Konteks Batak Kristen Novalina, Martina
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12, No 1: Desember 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v12i1.242

Abstract

This article examines ulos as a symbol of hope and salvation in Batak culture and how this symbol can be refigured in the light of the Gospel through Paul Ricoeur’s symbolic hermeneutics and Stephen Bevans’ contextual theology. The study explores the dynamic relationship between cultural symbols and divine revelation as a dialogical expression of faith and culture. Employing a qualitative–theological approach, it applies symbolic analysis to Batak cultural texts (rituals, narratives, and socio-spiritual meanings of ulos) and to relevant biblical passages, particularly John 1:14 and Revelation 21:3-5. The findings reveal that ulos mediates theological understanding of love, sacrifice, and hope, which are fundamentally consonant with the Gospel message of universal salvation in Christ. From a hermeneutic perspective, ulos functions as an incarnational sign of divine love that envelops humanity. Within a contextual–theological framework, it serves as a local vessel of divine revelation, connecting Christian faith to Batak cultural identity. This study concludes that the reinterpretation of local symbols, such as the ulos, is not merely cultural but deeply theological, an integral dimension of the Church’s effort to inculturate the Christian faith in Indonesia, thereby affirming the sacredness of local wisdom, meaning, and spiritual expression within the framework of the Gospel. Abstrak Artikel ini mengkaji ulos sebagai simbol harapan dan keselamatan dalam kebudayaan Batak serta bagaimana simbol tersebut dapat direfigurasi dalam terang Injil melalui pendekatan hermeneutika simbolik Paul Ricoeur dan teologi kontekstual Stephen Bevans. Penelitian ini menelusuri relasi dinamis antara simbol budaya dan wahyu ilahi sebagai bentuk dialog antara iman dan kebudayaan lokal. Metode yang digunakan adalah kualitatif-teologis dengan analisis simbolik terhadap teks budaya Batak (ritual, narasi, dan makna sosial-spiritual ulos) dan teks-teks biblika yang relevan (terutama Yoh. 1:14 dan Why. 21:3-5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ulos memediasi pemahaman teologis mengenai kasih, pengorbanan, dan pengharapan, yang secara hakiki sejalan dengan pesan Injil tentang keselamatan universal di dalam Kristus. Dalam perspektif hermeneutika simbolik, ulos dapat dipahami sebagai tanda inkarnasional kasih Allah yang menyelimuti manusia, sementara dalam kerangka teologi kontekstual, ia berfungsi sebagai wadah lokal bagi pewahyuan ilahi yang menghubungkan iman Kristen dengan identitas budaya Batak. Artikel ini menegaskan bahwa reinterpretasi simbol lokal seperti ulos tidak sekadar bersifat kultural, melainkan teologis, menjadi bagian integral dari upaya inkulturasi iman Kristen di Indonesia yang menghargai nilai, makna, dan ekspresi religius masyarakat setempat.
Pemaknaan Penciptaan Bumi dalam Kejadian 1:1-2 sebagai Kedaulatan Allah Yanti, Maria Evvy; Sarwono, Nehemia Chandra
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12, No 1: Desember 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v12i1.239

Abstract

Experts have their opinions on research to understand the text of Genesis 1:1-3. The investigation yielded mixed conclusions regarding the text. The reconstruction theory says the Genesis creation story is about reconstruction, not creation. Similarly, this description of the wilderness is combined with pre-creation imagery from ancient Southwest Asia, namely, darkness, the Great Ocean, and water. This prompted the need to study the parallel meaning of the texts of Genesis 1:1-3. The purpose of this writing is to know the meaning of the creation of the earth as the balance of ecosystems contained in Genesis 1:1-3. Researchers employ a qualitative research approach, using the source and meaning of words to interpret the text. The results of this study are that Genesis 1:1-3 provides the meaning that the people's belief in the sovereign God as the creator brings prosperity to all of His creation. Abstrak Para ahli memiliki pendapat masing-masing dalam penelitian untuk memahami teks Kejadian 1:1-2. Penyelidikan yang dilakukan menghasilkan kesimpulan yang beragam mengenai teks tersebut. Adanya ‘The reconstruction theory’ yang menuliskan bahwa kisah penciptaan dalam kitab Kejadian bukan menjelaskan tentang hari penciptaan, melainkan hari pembangunan ulang. Demikian pula adanya gambaran padang gurun belantara ini dipadukan dengan gambaran-gambaran pra-penciptaan di Asia Barat Daya kuno, yaitu mengenai adanya unsur-unsur kegelapan, samudra raya, dan air. Hal ini mendorong perlunya kajian pemaknaan kesejajaran teks Kejadian 1:1-3. Tujuan penulisan ini ialah ingin mengetahui makna penciptaan bumi sebagai keseimbangan ekosistem yang terkandung di dalam Kejadian 1:1-2. Pendekatan penelitian kualitatif dengan metode sumber dan makna kata dilakukan peneliti untuk mendapatkan pemaknaan teks. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa Kejadian 1:1-3 memberikan makna keyakinan umat akan Allah yang berdaulat sebagai sang pencipta yang mendatangkan kesejahteraan bagi seluruh ciptaan-Nya.
Embodied Agency and Divine Healing: A Historical Theological Analysis of Women in Pentecostal Tradition Ginting, Aldrik Christian Prayfanca; Debora, Rogate; Momongan, Yefta
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12, No 1: Desember 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v12i1.235

Abstract

The question of women’s participation in divine healing remains significant within Pentecostal theology, which affirms the universality of the Spirit’s gifts yet often limits women’s embodied agency in practice. This study addresses the gap between theological potential and ecclesial reality by examining how women’s bodies function as instruments of divine healing rather than passive vessels. Using a qualitative historical-theological literature review supported by narrative analysis, the research interprets biblical, patristic, medieval, and Pentecostal texts that portray women as active participants in healing events, with attention to gestures, presence, and embodied acts that reveal cooperation between the embodied helper and the Divine Helper. The findings show that women across different periods exercised agency through physical action, symbolic gestures, ascetic practices, and relational presence, each serving as a locus where divine power becomes visible. These patterns demonstrate that healing arises through a synergistic partnership between human embodiment and the work of the Holy Spirit. The study concludes that recognizing women’s embodied agency is essential for a coherent Pentecostal theology of healing while calling churches to affirm and cultivate women as legitimate agents of divine healing.