cover
Contact Name
Maria Evvy Yanti
Contact Email
jurnalefata@gmail.com
Phone
+6281312414725
Journal Mail Official
jurnalefata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Wijaya I No.29-31, RT.2/RW.4, Petogogan, Kec. Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12170
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 24771333     EISSN : 27228215     DOI : https://doi.org/10.47543
Jurnal EFATA merupakan wadah publikasi online hasil penelitian para dosen di Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, pada bidang teologi dan pelayanan Kristiani. Jurnal EFATA diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, dengan Focus and Scope adalah: 1. Teologi Sistematika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Pastoral 4. Misiologi 5. Pelayanan Kristiani
Articles 71 Documents
Membangun Spiritualitas Kristiani Posmodern melalui Analogi Pembebasan Israel dari Mesir Waoma, Ken Jacks Gunawan; Rusmiyanto, Andreas Danang
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 10, No 1: Desember 2023
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v10i1.131

Abstract

This article examines the event of Israel's liberation from Egypt as a typology of the work of the Messiah and reflects it for Christian spirituality in the current post-postmodern era. This research investigates the parallels between the story of Israel's liberation and the teachings about the Messiah, highlighting symbolic meanings that can be applied analogically in the context of postmodern Christian life. This research uses descriptive and interpretative analysis methods with a hermeneutic approach. The typology of messianic work shown by the narrative of Israel's liberation from Egypt can become the foundation of Christian spirituality in the postmodern era. Abstrak Artikel ini mengkaji peristiwa pembebasan Israel dari Mesir sebagai tipologi karya Mesias dan merefleksikannya bagi spiritualitas kristiani di era posposmodern saat ini. Penelitian ini menyelidiki paralel antara kisah pembebasan Israel dan ajaran tentang Mesias, menyoroti makna simbolis yang dapat diaplikasikan secara analogis dalam konteks kehidupan Kristen posposmodern. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dan interpretatif dengan pendekataan hermeneutik. Tipologi karya mesias yang ditunjukkan oleh narasi pembebasan Israel dari Mesir dapat menjadi fondasi spiritualitas kekristenan di era posmodern.
Dari Tempat Ibadah menuju Taman Spiritualitas: Telusur Sejarah GBI Basilea Menteng sebagai Rumah Kemajemukan Hasiholan, Anggi Maringan; Pasulu, Yemima; Tuapattinaya, Susana
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 10, No 2: Juni 2024
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v10i2.177

Abstract

Since its founding, the Bethel Indonesia Church (GBI) Basilea Menteng has significantly transformed from a place of worship to a "spiritual garden", reflecting its rich history and religious dynamics. This research aims to trace the history of GBI Basilea Menteng from its founding to the present, focusing on the concept of a "spiritual garden". The method used is qualitative research with a historical approach, collecting data through documentation and interviews. This research combines constructive theology and history, such as Joas Adiprasetya's garden spirituality and Jan Sihar Aritonang's guide to local church history. The research results show that implementing the garden spirituality model and plural leadership at GBI Basilea Menteng has created an inclusive and supportive community, allowing a diversity of spiritualities to develop. This transformation enriches the spiritual experience of congregation members and strengthens unity in diversity. Through this approach, GBI Basilea Menteng becomes a model church that is not only centered on Christ but also integrates the principles of inclusivity and diversity in every aspect of its life. Abstrak Gereja Bethel Indonesia (GBI) Basilea Menteng, terletak di kawasan ikonik Jakarta, telah menjadi simbol spiritualitas dan komunitas selama beberapa dekade. Penelitian ini menelusuri sejarah dan transformasi gereja ini dari sekadar tempat ibadah menjadi sebuah "taman spiritualitas" yang mencerminkan perjalanan sejarah dan dinamika keagamaan yang kaya. Dengan fokus pada konsep spiritualitas taman, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana GBI Basilea Menteng mengakomodasi berbagai ekspresi spiritualitas, menciptakan komunitas yang inklusif dan suportif. Model kepemimpinan majemuk terpimpin atau Presiding Elders (PE) yang diterapkan oleh Lukas Tahir telah memungkinkan distribusi tanggung jawab yang lebih merata dan mendorong partisipasi aktif dari berbagai pemimpin. Penerapan model spiritualitas taman dalam ibadah dan pelayanan telah memperkaya pengalaman spiritual setiap anggota, memperkuat kesatuan dalam keberagaman, dan menjadikan gereja sebagai tempat yang harmonis dan dinamis. Penelitian ini memberikan wawasan tentang peran gereja dalam konteks sosial dan sejarah yang spesifik serta menjadi referensi bagi studi-studi selanjutnya mengenai sejarah gereja dan pengaruhnya dalam pembangunan komunitas dan spiritualitas.
Suara Kenabian sebagai Kritik Politik dalam Sastra Nubuatan Amos 4:1-3 Yanti, Maria Evvy; Kristovel, Erik
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 1: Desember 2024
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i1.200

Abstract

The Book of Amos is part of the Book of the Prophets in the Old Testament canon. The composition of this book has various interpretations, especially in interpreting the prophet's oration that voices prophetic voices in the life situation of the people. Different approaches certainly produce diverse theologies as well. For example, some interpret that prophetic voices are only conveyed in religious and cultic aspects. Some interpret that the prophet was only criticizing the functions and responsibilities of the priest. Some view that the prophet is only functionally responsible for contributing to the permanence of the rulers in the government. This article aims to find the theology of the prophetic voice oration in Amos 4:1-3. The method used is prophetic literature analysis. The result is that the prophetic voice conveyed takes place in the political dimension of Jerusalem in the future. The theology of the prophetic voice in the text includes condemnation in Jerusalem; a crisis in political life in Jerusalem; restoration during the political turmoil in Jerusalem through the establishment of justice and truth for the people; and the rule of the Lord in Jerusalem. Abstrak Kitab Amos merupakan bagian dari kitab nabi-nabi dalam kanon Perjanjian Lama. Komposisi dari kitab ini memiliki beragam penafsiran, khususnya dalam menafsirkan orasi nabi yang menyuarakan suara kenabian dalam situasi kehidupan umat. Pendekatan yang berbeda tentu menghasilkan teologi yang beragam pula. Misalnya, ada yang menafsirkan bahwa suara kenabian hanya disampaikan dalam aspek agama dan kultus saja. Ada yang menafsirkan bahwa nabi hanya melakukan kritik terhadap fungsi dan tanggung jawab imam. Ada juga yang memandang bahwa nabi hanya bertanggung jawab secara fungsional saja dalam memberikan kontribusi terhadap kelanggengan para penguasa di pemerintahan. Beragam penafsiran ini yang melatarbelakangi penelitian ini. Tujuan penulisan artikel ini untuk menemukan teologi dari orasi suara kenabian dalam Amos 4:1-3. Metode yang digunakan ialah analisis sastra nubuatan. Hasilnya ialah bahwa suara kenabian yang disampaikan terjadi dalam dimensi politik di Yerusalem di masa mendatang, dan teologi mengenai suara kenabian dalam teks meliputi penghukuman di Yerusalem; krisis kehidupan politik yang dialami Yerusalem; pemulihan di tengah krisis politik di Yerusalem melalui penegakan keadilan dan kebenaran bagi umat; pemerintahan TUHAN di Yerusalem. Penelitian ini memberikan kontribusi sebuah persfektif teologi yang dapat direlevansikan bagi situasi sosial politik umat saat ini.
Tipologi Relasi Gereja dan Pemerintah Menurut Philip J. Wogaman: Konstruksi Teologi Publik Perspektif Pentakostal di Indonesia Hasiholan, Anggi Maringan; Siahaan, Harls Evan R.
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 1: Desember 2024
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i1.91

Abstract

The typology of church and government relations proposed by Philip J. Wogaman provides a conceptual framework for understanding the levels of church engagement in the public sphere. This study explores how Pentecostal communities in Indonesia can actively participate in the socio-political arena without losing their theological identity. Through the seven levels of participation, the church can influence societal ethos, educate congregations, and even take more radical steps, such as civil disobedience. However, political neutrality for the sake of peace is not included in the levels of participation outlined by Wogaman. By integrating pneumatological values and public theology principles, Pentecostal churches hold significant potential to become social and spiritual transformation agents, addressing the challenges of religious pluralism, poverty, and social injustice in Indonesia. Abstrak Tipologi relasi gereja dan pemerintah menurut Philip J. Wogaman memberikan kerangka konseptual untuk memahami level keterlibatan gereja dalam ruang publik. Penelitian ini membahas bagaimana komunitas Pentakostal di Indonesia dapat berperan aktif dalam ranah sosial-politik tanpa kehilangan identitas teologisnya. Melalui tujuh tipologi partisipasi, gereja dapat memengaruhi etos masyarakat, mendidik jemaat, hingga mengambil langkah-langkah yang lebih radikal seperti pembangkangan sosial. Namun, netralitas politik demi perdamaian tidak termasuk dalam kategori partisipasi yang disebutkan oleh Wogaman. Dengan pendekatan yang mengintegrasikan nilai pneumatologis dan prinsip teologi publik, gereja Pentakostal memiliki potensi besar untuk menjadi agen transformasi sosial dan spiritual, menjawab tantangan pluralisme agama, kemiskinan, dan ketidakadilan sosial di Indonesia.
Allah Berpihak pada Perempuan: Kajian Bilangan 27:1-12 dalam Perspektif Ekofemisme Panjaitan, Firman; Sinabariba, Daniel Irwanto
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 1: Desember 2024
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i1.204

Abstract

Inheritance rights to land are often disputed. Especially in a patriarchal culture, inheritance rights to land always fall to sons. Girls were often a marginal group and were not taken into account in matters of inheritance rights to land. This also applies to the nation of Israel at the time the nation imposed inheritance rights to the Promised Land. However, this view is challenged in the narrative of Numbers 27: 1-11, especially when God sided with Zelophehad's five daughters regarding their father's inheritance of the land. This study aims to show that women are also entitled to inheritance rights to the Promised Land given by God to man. This study was conducted using qualitative methods, especially through the literature study approach. The result obtained from this study is the alignment of God to The Five Daughters of Zelaphehad to have inheritance rights over their land. This confirms that women are also trusted by God to be directly involved in maintaining and preserving the Promised Land that God has given to man. Abstrak Hak waris atas tanah seringkali menjadi sengketa. Terkhusus dalam budaya patriarkhi, hak waris atas tanah senantiasa jatuh kepada anak laki-laki. Anak perempuan seringkali menjadi kelompok marjinal dan tidak diperhitungkan dalam masalah hak waris atas tanah. Hal ini juga berlaku bagi bangsa Israel pada saat bangsa itu memberlakukan hak waris atas tanah perjanjian. Namun pandangan ini mendapat perlawanan melalui narasi Bilangan 27:1-11, khususnya ketika Allah berpihak kepada kelima anak perempuan Zelafehad berkaitan dengan hak waris atas tanah dari ayah mereka. Penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan bahwa kaum perempuan pun berhak atas hak waris atas tanah perjanjian yang diberikan Allah kepada manusia. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, khususnya melalui pendekatan studi pustaka. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah keberpihakan Allah kepada kelima anak perempuan Zelafehad untuk memiliki hak waris atas tanah mereka. Hal ini menegaskan bahwa perempuan pun dipercaya oleh Allah untuk terlibat langsung dalam menjaga dan melestarikan tanah perjanjian yang telah diberikan Allah kepada manusia.
Manajemen Role Conflict pada Model Family Pastoral dalam Menghadapi Fenomena Keberagaman Pandangan Teologis Hartono, Handreas
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 1: Desember 2024
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i1.121

Abstract

Parents in the family pastoral model feel they have a ‘double role’ in the family due to the addition of pastoral duties from the church, which had originally ‘left pastoring to the pastor’ so that role conflict is not avoided. The purpose of this paper is for the church to provide solutions through management science to the role conflict experienced by parents as a complimentary regional shepherding of the church in dealing with the interpretation of theological doctrines. The research method used in this paper is qualitative, using a descriptive analysis method based on a literature review. It can be concluded that the theoretical role conflict explains how parents' roles as spiritual leaders and family members can conflict with each other, creating tensions that require good management to support faith growth and family well-being. The diversity of theological opinions in the church and Christian society, triggered by technological advances, demands good role conflict management in family pastoral ministry to create open dialogue, solid theological education, and wise leadership to maintain family unity and spiritual well-being. Abstrak Orang tua dalam model family pastoral merasa mempunyai “peran ganda” di dalam keluarga akibat ditambahkannya tugas menggembalakan dari gereja, yang semula telah “menyerahkan penggembalaan kepada pendeta” sehingga role conflict (konflik peran) tidak terhindar. Tujuan tulisan ini adalah agar gereja dapat memberikan solusi melalui ilmu manajemen terhadap role conflict yang dialami para orang tua sebagai regional complimentary penggembalalan gereja dalam menghadapi interpretasi doktrin teologis. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah jenis kualitatif dengan menggunakan metode analisis deskriptif yang berbasis pada kajian literatur. Maka dapat disimpulkan bahwa Teoretik role conflict menjelaskan bagaimana peran orang tua sebagai pemimpin spiritual dan anggota keluarga dapat saling bertentangan, menciptakan ketegangan yang memerlukan pengelolaan yang baik untuk mendukung pertumbuhan iman dan kesejahteraan keluarga. Keberagaman pendapat teologis dalam gereja dan masyarakat Kristen, yang dipicu oleh kemajuan teknologi, menuntut pengelolaan role conflict yang baik dalam pelayanan pastoral keluarga agar menciptakan dialog terbuka, pendidikan teologis yang solid, dan kepemimpinan bijaksana untuk menjaga persatuan dan kesejahteraan spiritual keluarga.
Ibadah Sejati di tengah Kemegahan: Mengaktualisasikan Pesan Amos dalam Kehidupan Menggereja di Era Posmodern Sahuleka, Kezia Esther; Maria, Laurentia Donna; Rahmat, Vonny Ovia; Pakpahan, Gernaida Krisna R.
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 1: Desember 2024
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i1.202

Abstract

This study examines the relevance of true worship from the perspective of the prophet Amos (Amos 5:21-27) in the context of contemporary church worship. Prophet Amos condemned the Israelites’ worship practices, which were outwardly grand but spiritually hollow, neglecting the values of justice and righteousness. A similar phenomenon is observed in modern churches, where emphasis on luxury and ritual symbolism sometimes overshadows the call to serve others and pursue social justice. Using a qualitative descriptive method with a hermeneutic approach, this study explores the historical and theological meaning of Amos’ text, integrating intertextual analysis to provide practical relevance for churches. The findings highlight that true worship is not merely ritual expression but must reflect love, justice, and openness to the world. Churches are called to be transformational communities, bridging faith and practice through tangible acts of service. This study underscores the importance of reexamining the essence of worship in modern churches to align with the prophetic values conveyed by Amos and address contemporary social challenges. Abstrak Penelitian ini mengkaji relevansi ibadah sejati menurut perspektif Nabi Amos (Amos 5:21-27) dengan konteks ibadah gereja masa kini. Nabi Amos mengecam praktik ibadah bangsa Israel yang megah secara lahiriah namun kosong secara spiritual, mengabaikan nilai-nilai keadilan dan kebenaran. Fenomena serupa terlihat dalam gereja modern, di mana aspek kemewahan dan simbolisme ritual terkadang mengesampingkan panggilan untuk melayani sesama dan memperjuangkan keadilan sosial. Melalui metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan hermeneutik, penelitian ini menggali makna historis-teologis teks Amos, mengintegrasikan analisis intertekstual untuk memberikan relevansi praktis bagi gereja. Hasil penelitian menyoroti bahwa ibadah sejati bukan sekadar ekspresi ritual, tetapi harus mencerminkan kasih, keadilan, dan keterbukaan terhadap dunia. Gereja dipanggil untuk menjadi komunitas transformasional yang menghubungkan iman dan praktik melalui pelayanan nyata. Penelitian ini menegaskan pentingnya meninjau ulang esensi ibadah dalam gereja masa kini agar selaras dengan nilai-nilai profetik yang disampaikan Amos, sekaligus relevan dengan tantangan sosial masyarakat modern.
Pembinaan Iman dan Optimalisasi Media Digital: Sebuah Upaya Meningkatkan Gairah Beribadah Pandiangan, Jonathan Christoper; Siahaya, Karel Martinus
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 1: Desember 2024
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i1.203

Abstract

The development of progress in the digital era that continues to increase significantly has a positive impact on the utilization of technology in everyday life. These technological advances have penetrated various aspects, including spiritual practices in the dimensions of faith and passion for worship. However, there are still problems in utilizing digital media, content, and the quality of human resources to support faith development and increase the passion for worship. This research aims to examine the role of digital media in optimizing faith development and increasing worship motivation among Christians. By using a qualitative method with a literature study approach, conclusions are drawn that emphasize the importance of utilizing digital media to increase the accessibility of worship. This is because digital content that supports faith development and is aligned with digital media has great potential in optimizing worship passion, provided that the content presented follows religious values and supports spiritual goals. Of course, this results in social interaction within the digital community to increase spiritual engagement for the sake of sustainable worship. Abstrak Perkembangan dari kemajuan di era digital yang terus meningkat signifikan membawa dampak positif dalam pemanfaatan teknologi dikehidupan sehari-hari. Kemajuan teknologi tersebut telah merambah berbagai aspek, termasuk dalam praktik spiritual dalam dimensi iman dan gairah beribadah. Namun, masih terdapat persoalan dalam memanfaatkan media digital, konten dan kualitas sumber daya manusia untuk mendukung pembinaan iman dan meningkatkan gairah beribadah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran media digital dalam mengoptimalkan pembinaan iman dan meningkatkan motivasi ibadah di kalangan kekristenan. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literature, didapat kesimpulan yang menekankan pentingnya pemanfaatan media digital untuk meningkatkan aksesibilitas ibadah. Ini dikarenakan adanya konten digital yang mendukung pembinaan iman dan selaras dengan media digital memiliki potensi besar dalam mengoptimalkan gairah ibadah, dengan syarat bahwa konten yang disajikan sesuai dengan nilai-nilai agama dan mendukung tujuan spiritualitas. Tentunya hal ini mengakibatkan adanya interaksi sosial dalam komunitas digital untuk meningkatkan keterlibatan spiritual demi gairah ibadah secara berkelanjutan.
Koinonia sebagai Spiritualitas Persahabatan Lintas Iman: Sebuah Tawaran Konstruktif Teologi Kristen Siahaan, Harls Evan R.; Putri, Agustin Soewitomo; Pardede, Nurmalia; Sumakul, Nicolien Meggy
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 2: Juni 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i2.188

Abstract

This constructive theological study examines the potential of koinonia as a theological foundation for authentic interfaith spiritual friendship. This research demonstrates that koinonia has universal aspects rooted in the Trinity that can inform interfaith relationships while preserving the distinctiveness of Christian beliefs. This study employs a constructive theology methodology alongside a library research approach to analyze primary biblical sources and secondary scholarship from both classical and contemporary traditions. The research demonstrates that koinonia's ability to involve and transform people, primarily through the work of the Holy Spirit, facilitates an understanding of the Spirit's life-giving role even outside of church settings. Friendship spirituality, which serves as a mode of interfaith koinonia, offers deeper personal engagement than formal dialogue models; it is characterized by mutual vulnerability, a commitment to shared flourishing, and the celebration of diversity as a divine gift. For Indonesian churches, this framework provides practical guidance for navigating pluralistic contexts while maintaining theological integrity. The study contributes to global interfaith discourse by bridging international scholarship with Indonesian contextual wisdom, offering an innovative synthesis between Trinitarian theology and interfaith engagement. Abstrak Studi teologi konstruktif ini mengeksplorasi potensi koinonia sebagai fondasi teologis bagi spiritualitas persahabatan lintas iman yang autentik. Kajian ini menunjukkan bahwa koinonia memiliki aspek yang bersifat umum yang berakar pada konsep Trinitas dan bisa menjadi model untuk hubungan antaragama tanpa menghilangkan ciri khas Kristen. Dengan menggunakan metode teologi konstruktif dan penelitian pustaka, studi ini memeriksa sumber-sumber utama dari Alkitab dan penelitian tambahan dari tradisi lama dan baru. Penelitian menunjukkan bahwa sifat partisipatif dan mengubah dari koinonia, terutama aspek yang berkaitan dengan Roh Kudus, memberikan ruang teologis untuk mengakui kerja Roh Kudus yang memberi kehidupan di luar batas-batas gereja. Spiritualitas persahabatan sebagai cara koinonia antaragama memberikan keterlibatan pribadi yang lebih mendalam dibandingkan dengan model dialog formal, yang ditandai oleh kerentanan bersama, komitmen untuk kesejahteraan bersama, dan perayaan keragaman sebagai anugerah ilahi. Bagi gereja-gereja di Indonesia, kerangka ini memberikan panduan praktis untuk menghadapi berbagai kepercayaan sambil tetap menjaga keyakinan teologis mereka. Studi ini menambah pembicaraan tentang hubungan antaragama di seluruh dunia dengan menghubungkan penelitian internasional dengan kebijaksanaan yang ada di Indonesia, serta memberikan gabungan baru antara teologi Trinitarian dan keterlibatan antaragama.
Pemberdayaan Jemaat dalam Pelestarian Lingkungan Berbasis Etika Alkitabiah Marbun, Ernida
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 2: Juni 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i2.206

Abstract

The global environmental crisis demands a comprehensive response from various institutions, including religious communities. This study explores the potential for empowering Christian congregations in environmental conservation efforts through a biblical ethical approach. This study analyzes the theological foundations of environmental conservation, an effective model of congregational empowerment, and the practical implementation of biblical ethics in a contemporary ecological context by using a qualitative methodology that includes a hermeneutic-theological approach and a participatory case study. The research findings indicate that the concept of stewardship in the Christian tradition provides a strong ethical foundation for active congregational involvement in environmental conservation. The developed empowerment model integrates spiritual, educational, and practical dimensions through a participatory approach involving all congregation members. Program implementation demonstrated a significant increase in ecological awareness, changes in environmentally friendly behavior, and communal engagement in conservation initiatives. This study contributes to the development of practical ecological theology, providing a framework for mobilizing religious communities to address environmental challenges. Practical implications include the development of faith-based ecological education curricula, ecotheological communication strategies, and partnership models between religious institutions and environmental organizations. Abstrak Krisis lingkungan global menuntut respons komprehensif dari berbagai institusi, termasuk komunitas religius. Penelitian ini mengeksplorasi potensi pemberdayaan jemaat Kristen dalam upaya pelestarian lingkungan melalui pendekatan etika Alkitabiah. Menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan hermeneutik-teologis dan studi kasus partisipatif, penelitian ini menganalisis landasan teologis pelestarian lingkungan, model pemberdayaan jemaat yang efektif, dan implementasi praktis etika Alkitabiah dalam konteks ekologis kontemporer. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konsep stewardship (penatalayanan) dalam tradisi Kristen menyediakan fondasi etis yang kuat untuk keterlibatan aktif jemaat dalam pelestarian lingkungan. Model pemberdayaan yang dikembangkan mengintegrasikan dimensi spiritual, edukatif, dan praktis melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan seluruh anggota jemaat. Implementasi program menunjukkan peningkatan signifikan dalam kesadaran ekologis, perubahan perilaku ramah lingkungan, dan keterlibatan komunal dalam inisiatif pelestarian. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teologi ekologi praktis dan memberikan bingkai kerja untuk mobilisasi komunitas religius dalam menghadapi tantangan lingkungan. Implikasi praktis mencakup pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan berbasis iman, strategi komunikasi ekoteologi, dan model kemitraan antara institusi religious dan organisasi lingkungan.