cover
Contact Name
Rudy Budiatmaja
Contact Email
rudyatmaja12398@gmail.com
Phone
+6285928918217
Journal Mail Official
rudyatmaja12398@gmail.com
Editorial Address
https://e-journal.usd.ac.id/index.php/Divinitas/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual
ISSN : 29885434     EISSN : 29882311     DOI : 10.24071
Divinitas: Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual develops contextual Philosophical and Theological discourses in dialogue with sociological, anthropological, comparative religion, religious studies, historical, cultural and psychological perspectives and takes the diversity of Asian societies and cultures as its context. The journal is open to undergraduated student, graduated student and scholars from all religious backgrounds.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January" : 14 Documents clear
Bahasa Madura dan Indonesia sebagai Pengantar Ibadah dan Pelajaran Agama di GKJW Pepantan Paleran El Adibah, Elisa Dourothun Nafis; Mariska, Renita Bella; Nurhayati, Alfisyah
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7466

Abstract

Language is a cultural element that every country has with its uniqueness. Madura language is the local language used by the people of Jember, especially Paleran Village. In addition to Madurese, the national language is also used in everyday life. Language has a function as a communication tool to convey information to others. With this, it is interesting that researchers want to study the strategy of using Madurese and Indonesian languages as an introduction to worship and religious lessons at GKJW Pepantan Paleran. There are three formulations of the problem studied, including: First, why Madura and Indonesian are used as an introduction to worship and religious lessons in the Church. Second, how is the strategy of using the Madurese and Indonesian languages as an introduction to worship activities and providing religious lessons in the church?. Third, how to implement Madurese and Indonesian languages as an introduction to worship and and provision of religious lessons in the church. This study uses empirical research methods with a literature study approach based on a descriptive qualitative data approach. The results of the research show that the Madurese language is the daily language of the people of Paleran hamlet. First, the use of the Madura language as an introduction is carried out in Sunday worship activities. The Madurese language is used because it makes it easier to convey the Bible written in Madurese. Second, the use of Indonesian is used for religious learning for children, youth, and adults such as mothers and fathers.AbstrakBahasa merupakan unsur budaya yang dimiliki setiap negara dengan keunikannya. Bahasa madura merupakan bahasa lokal yang digunakan oleh masyarakat Jember, terutama Desa Paleran. Selain bahasa madura, bahasa nasional juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa memiliki fungsi sebagai alat komunikasi guna menyampaikan informasi kepada orang lain. Dengan hal ini, menarik peneliti ingin mengkaji strategi penggunaan bahasa madura dan indonesia sebagai pengantar ibadah dan pelajaran agama di GKJW Pepantan Paleran. Terdapat tiga rumusan masalah yang dikaji, diantaranya: Pertama, mengapa bahasa madura dan Indonesia digunakan sebagai pengantar ibadah dan pelajaran agama di Gereja tersebut. Kedua, bagaimana strategi penggunaan bahasa madura dan Indonesia sebagai pengantar dalam kegiatan ibadah dan pemberian pelajaran agama di gereja tersebut. Ketiga, bagaimana implementasi bahasa madura dan Indonesia sebagai pengantar ibadah dan dan pemberian pelajaran agama di gereja tersebut. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian empiris dengan pendekatan studi pustaka berdasarkan pendekatan data kualitatif deskriptif. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahasa madura merupakan bahasa sehari-hari masyarakat dusun Paleran. Pertama, penggunaan bahasa madura sebagai pengantar dilaksanakan pada kegiatan Ibadah hari minggu. Bahasa madura digunakan karena mempermudah dalam menyampaikan Al Kitab yang tertulis bahasa Madura. Kedua, penggunaan bahasa Indonesia dipakai untuk pembelajaran agama bagi kalangan anak-anak, pemuda, kalangan dewasa seperti ibu-ibu dan bapak-bapak. 
Pengaruh Agama Katolik dalam Pola Relasi Duan-Lolat pada Masyarakat Tanimbar Utara Umpung, Alfridus Giridus; Oek, Marianus M.; Metintomwat, Matias; Widodo, Agus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7525

Abstract

The North Tanimbar community in the Maluku Islands has a tradition of a relationship pattern known as Duan-Lolat (Giver-Receiver). This Duan-Lolat relationship pattern originates from the context of marriage, namely the relationship between man (husband) and woman (wife), which at the same time also implies the relationship between nature and humans (cosmological) as well as the master (the king) with his servants (political). This research, using a qualitative approach with interviews and literature studies, aims to examine the influence of Catholicism in the Duan-Lolat relationship pattern. The results show that before the Catholic faith entered, the people of North Tanimbar embraced animist beliefs centered on human relationships with the universe and ancestral spirits, referred to as Makenar and Batmakenar. After the Catholicism entered in their society, the community’s belief system underwent to change. In this religious context, Duan, as the Giver, which in the original beliefs was identified with men, nature and kings, is now applied to God or Ubila’a, in their language. Meanwhile, Lolat, as the receiver, which was originally identified with women, humans, and servants, is applied to humans in their relationship with God. With this new understanding and meaning, Catholicism can be easily accepted by the North Tanimbar community, while strengthening the community’s understanding of the relationship between humans and God, as well as forming the basis for religious practice and the communityAbstrakMasyarakat Tanimbar Utara di Kepulauan Maluku memiliki tradisi dalam pola relasi yang dikenal dengan Duan-Lolat (Pemberi-Penerima). Pola relasi Duan-Lolat ini berasal dari konteks perkawinan, yaitu relasi antara laki-laki (suami) dan perempuan (istri), yang sekaligus juga berimplikasi konteks relasi alam dengan manusia (kosmologis) dan tuan/raja dengan hamba (politis). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara dan studi pustaka, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh Agama Katolik dalam pola relasi Duan-Lolat tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa sebelum iman Katolik masuk, masyarakat Tanimbar Utara memiliki kepercayaan animisme yang berpusat pada hubungan manusia dengan alam semesta dan roh-roh leluhur, yang disebut sebagai Makenar dan Batmakenar. Setelah masuknya Agama Katolik, sistem kepercayaan masyarakat mengalami perubahan. Dalam konteks religius ini, Duan, sebagai Pemberi, yang dalam kepercayaan asli diidentikkan dengan laki-laki, alam, dan raja, kini diterapkan pada Allah atau Ubila’a, dalam bahasa mereka. Sementara itu, Lolat, sebagai penerima, yang semula diidentikan pada wanita, manusia, dan hamba, kita diterapkan pada manusia dalam relasinya dengan Allah. Dengan pemahaman dan pemaknaan yang baru ini, Agama Katolik dapat diterima oleh Masyarakat Tanimbar Utara, sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat tentang hubungan manusia dengan Allah, serta membentuk landasan praktik keagamaan dan penghayatan spiritual yang mendasari kehidupan beragama di Tanimbar Utara.
Dewa Tertinggi “Puang Matua” dalam Kepercayaan Aluk To Dolo Ari, Rofinus; Saleda, Aldry Toban; Bilang, Antonius; Widodo, Agus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7498

Abstract

Each religious tradition has its own name for Hyang Ilahi. In general, the figure of Hyang Ilahi is commonly referred to as God, Allah, Gusti, dewa, and others. These names indicate the relationship and understanding of a particular society or community towards the Divine Being. This research using qualitative methods through literature study, field observations, and interviews aims to explain the understanding of divinity in Aluk To Dolo Religious tradition, especially the existence of Puang Matua. The results show that the Aluk To Dolo Religious tradition has a divine figure that they worship and praise, namely Puang Matua. Aluk To Dolo adherents always aim for unity with Puang Matua through all the rules of life that have been passed down by Puang Matua as norms that must be obeyed. In addition, they hope to be reunited and live with Puang Matua.AbstrakSetiap aliran kepercayaan memiliki penyebutan masing-masing untuk Hyang Ilahi. Secara umum, sosok Hyang Ilahi ini ini biasa disebut dengan nama Tuhan, Allah, Gusti, dewa, dan lain-lain. Nama-nama ini menunjukkan relasi dan pemahaman masyarakat atau komunitas tertentu akan Hyang Ilahi tersebut. Penelitian dengan metode kualitatif melalui studi pustaka, observasi lapangan, dan wawancara ini bertujuan untuk menjelaskan paham ketuhanan dalam kepercayaan Aluk To Dolo, khususnya eksistensi Puang Matua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan Aluk To Dolo memiliki sosok Ilahi yang mereka sembah dan puji, yakni Puang Matua. Para penganut Aluk To Dolo selalu mengarah kepada kesatuan dengan Puang Matua melalui segala aturan hidup yang telah diturunkan oleh Puang Matua sebagai norma yang harus ditaati. Selain itu, mereka berharap dapat dipersatukan kembali dan hidup bersama Puang Matua. 
Persepsi Umat Katolik terhadap Kualitas Pendidikan Sekolah Katolik di Kevikepan Yogyakarta Barat dan Kevikepan Yogyakarta Timur Ayu Widiastuti, Fransiska Lyra; Lintang Natalie, Maria Gratia; Agatha, Aurelia Christy; Maharani, Gabriella
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7429

Abstract

Perception is a viewpoint formed by individuals through the processing of information and experiences received via sensory processes. In this process, individuals provide interpretation and evaluation of certain stimuli or objects. This study aims to analyze the perceptions of Catholic communities regarding the quality of Catholic school education in the Yogyakarta Vicariate. The research employed a qualitative method with a realist approach. Data collection was conducted through a combination of Focus Group Discussions (FGDs) and a survey technique using Google Forms distributed via WhatsApp groups from June to August 2023. The research subjects were members of the Catholic community in 23 parishes of the Western Yogyakarta Vicariate and 25 parishes of the Eastern Yogyakarta Vicariate. Participants involved in the parish FGDs had experiences or engagement with Catholic school education, such as parents, students, teachers or educators, and school staff within both vicariates. The subjects participated in FGDs using several structured question instruments, and the results of these discussions were recorded in Google Forms. The findings were analyzed using a thematic analysis technique, revealing that Catholics in the Yogyakarta Vicariate have a positive perception of Catholic schools. However, the study also found a discrepancy between this positive perception and the actual data on new student admissions, which have declined in several Catholic schools.AbstrakPersepsi adalah pandangan yang dibentuk oleh individu melalui pengolahan informasi dan pengalaman yang diterima melalui proses penginderaan. Dalam proses ini, individu memberikan interpretasi dan penilaian terhadap stimulus atau objek tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran persepsi umat katolik terhadap kualitas pendidikan sekolah katolik di Kevikepan Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan realis. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan kombinasi Focus Group Discussion (FGD) dengan teknik survei melalui google form yang disebarkan ke WhatsApp Group dari bulan Juni hingga Agustus 2023. Subjek dalam penelitian ini adalah umat katolik yang berada di paroki wilayah Kevikepan Yogyakarta Barat sebanyak 23 paroki dan Kevikepan Yogyakarta Timur sebanyak 25 paroki. Umat katolik yang terlibat dalam FGD di paroki memiliki pengalaman atau terlibat dengan pendidikan sekolah katolik, seperti orang tua, murid, guru atau tenaga pendidik, hingga karyawan sekolah di Kevikepan Yogyakarta Barat dan Kevikepan Yogyakarta Timur. Subjek melakukan FGD menggunakan beberapa instrumen pertanyaan yang telah disusun, lalu hasil FGD tersebut dinotulensikan ke dalam google form. Hasil penelitian dianalisis dengan teknik tematik dan ditemukan bahwa umat katolik di Kevikepan Yogyakarta memiliki persepsi yang positif terhadap sekolah katolik. Hasil persepsi tersebut juga ditemukan ketidakselarasan antara persepsi positif umat katolik dengan kenyataan data penerimaan siswa baru yang mengalami penurunan di beberapa sekolah katolik.
Beragama Katolik, Berbudaya Tionghoa sebuah Kajian Terhadap Hibriditas Umat Katolik-Tionghoa Paroki St. Maria Immaculata Slawi Julianto, Romario; Lelono, Martinus Joko
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7548

Abstract

Santa Maria Immaculata Slawi Parish stands in the Tegal Regency area which has a history of the development of the Chinese community. Chinese ethnicity plays an important role in the dynamics of the Parish. They simultaneously live Chinese culture and the Catholic faith. As a result of the New Order policies they were unable to live out their culture, but Presidential Decree Number 6 of 2000 and Presidential Decree Number 19 of 2000 opened up space for their cultural expression. On Chinese New Year they start holding toa pek kong or tepekong mutual carnivals. The gotong tepekong ritual is a procession of palanquins containing statues of ancestors that are paraded around the city. This article will explore the appreciation of Chinese Catholics in living out two different traditions. Homi K. Bhabha's thoughts are used to understand the attitude choices of the Chinese-Catholic community in Slawi. In his study, Homi K. Bhabha talks about "third space," the meeting or interaction between two different cultures or identities in the same space. Homi K. Bhabha emphasizes "third space" not only as a result of the meeting between two cultures but also as a dynamic social construction. Analysis of this reality will help understand the complexity of people's meaning of their religious and cultural riches.AbstrakParoki Santa Maria Immaculata Slawi berdiri di daerah Kabupaten Tegal yang memiliki sejarah berkembangnya masyarakat Tionghoa. Etnis Tionghoa berperan penting dalam dinamika Paroki. Mereka sekaligus menghidupi budaya Tionghoa dan iman Katolik. Akibat kebijakan orde baru mereka tidak bisa menghidupi budaya mereka, tetapi Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 dan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2000 membuka ruang bagi ekspresi budaya mereka. Pada Tahun Baru Imlek mereka mulai mengadakan kirab gotong toa pek kong atau tepekong. Ritual gotong tepekong merupakan arak-arakan tandu yang berisikan patung leluhur yang diarak mengelilingi kota. Tulisan ini akan menggali penghayatan orang Katolik-Tionghoa dalam menghidupi kedua tradisi yang berbeda. Pemikiran Homi K. Bhabha digunakan untuk memahami pilihan sikap umat Tionghoa-Katolik di Slawi. Dalam kajiannya, Homi K. Bhabha berbicara mengenai “ruang ketiga,” pertemuan atau interaksi antara dua budaya atau identitas yang berbeda dalam satu ruang yang sama. Homi K. Bhabha menekankan “ruang ketiga” bukan hanya sebagai hasil pertemuan antara dua budaya melainkan juga membangun konstruksi sosial yang dinamis. Analisis terhadap realitas ini akan membantu memahami kompleksitas pemaknaan umat akan kekayaan agama dan budayanya.
Kepercayaan Animisme dan Paham Ketuhanan Fumiripits dalam Mitologi Suku Asmat Jalo, Fransiskus Vanlith; Widodo, Agus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7499

Abstract

The Asmat tribe who inhabit the Land of Papua, has a belief in divinity that is deeply rooted in the Fumeripits myth. Fumeripits is seen as the highest god, above the ancestors of the Asmat tribe, who is considered the creator, having higher power and authority. The writing method used is literature study and uses primary data obtained directly through interviews with sources. The aim of this research is to explain Fumeripits divine understanding and reveal how the Asmat people view the role of ancestral spirits in their lives, including how ancestral spirits provide prosperity for the living. Based on the Fumeripits myth, the Asmat people believe that their ancestor was a young man who was skilled in the art of carving. They believe there are three worlds, namely Asamat Ow Capinmi (world of the living), Damir Ow Capinmi (stopover place), and Safan (Heaven). Asamat Ow Capinmi, the Asmat community has an obligation to do good and obey customary law. To help ancestors experience liberation from Damir Ow Capinmi. AbstrakSuku Asmat yang mendiami Tanah Papua, memiliki paham ketuhanan yang mengakar kuat pada mitos Fumeripits. Fumeripits dipandang sebagai dewa tertinggi, di atas nenek moyang suku Asmat, yang dianggap sebagai pencipta, memiliki kekuasaan dan otoritas yang lebih tinggi. Metode penulisan yang digunakan adalah studi pustaka dan menggunakan data primer yang diperoleh langsung melalui wawancara dengan narasumber. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan paham ketuhanan  Fumeripits dan mengungkapkan bagaimana masyarakat Asmat memandang peran arwah leluhur dalam kehidupannya, termasuk bagaimana arwah leluhur memberikan kesejahteraan bagi yang masih hidup. Berdasarkan mitos Fumeripits, masyarakat Asmat meyakini bahwa nenek moyangnya adalah seorang pemuda yang memiliki keahlian dalam seni ukir. Mereka meyakini ada tiga dunia, yaitu Asamat Ow Capinmi (dunia orang hidup), Damir Ow Capinmi (tempat persinggahan), dan Safan (Surga). Asamat Ow Capinmi masyarakat Asmat memiliki kewajiban untuk berbuat baik dan menaati hukum adat. Untuk membantu nenek moyang mengalami pembebasan dari Damir Ow Capinmi
Makna Lokalitas “Gereja Maria” di Paroki Administratif Mater Dei Bonoharjo Relliantoko, Aditya -; Warsono, Agustinus Tri Edy
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7431

Abstract

This study aims to discover the theological reflections contained in a work of art that is the fruit of an artist's reflection. The author intends to examine a case study of a religious statue, namely the Virgin Mary, which appears in an unusual form. This statue is located in the Mater Dei Bonoharjo Administrative Parish, Wates, Kulon Progo, D.I. Yogyakarta, in the local area. It is a work of art with theological meaning and hidden beauty. The study was further explored using a literature review method from various relevant sources. In order to obtain more accurate data, the author conducted an interview with Mr. Ismanto, a sculptor from Muntilan, Central Java. The results of the author's research state that Mary's role is not only as the Mother of Jesus, but she is also present as the Mother of the Church. Thanks to Mary's motherhood, the Church appears as a mother who nurtures the children of God. Works of art are a means of expressing the fruit of faith reflection on the encounter with God. Works of art are often viewed merely as decorations, without looking more deeply at the fact that a work of art is the result of a person's contemplation. Every time a work of art is created, there is a ‘soul’ that remains in the work of art.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menemukan refleksi teologis yang terdapat pada suatu hasil karya seni yang merupakan buah refleksi seorang seniman. Penulis hendak meneliti studi kasus tentang sebuah patung religius yakni Bunda Maria yang tampil secara tidak biasa. Sebuah patung yang terdapat di Paroki Administratif Mater Dei Bonoharjo, Wates, Kulon Progo, D.I. Yogyakarta dalam lokalitas setempat. Suatu karya seni dengan segala makna teologis dan keindahan yang tersembunyi. Kajian terkait lebih diperdalam dengan metode studi pustaka dari berbagai sumber yang relevan. Supaya memperoleh data yang lebih akurat, penulis melakukan wawancara dengan Bapak Ismanto, seorang seniman pematung dari Muntilan, Jawa Tengah. Hasil penelitan yang diperoleh penulis menyatakan bahwa peranan Maria bukan saja sebagai Bunda Yesus, namun ia hadir sebagai Bunda Gereja. Berkat keibuaan Maria, Gereja tampil sebagai seorang ibu yang mengayomi anak-anak Allah. Karya seni merupakan sarana untuk mengekspresikan buah refleksi iman akan perjumpaan dengan Allah. Karya seni seringkali hanya dipandang sebagai hiasan saja, tanpa melihat secara lebih mendalam bahwa suatu karya seni ialah hasil dari permenungan seseorang. Setiap kali proses menciptakan karya seni, terdapat ‘jiwa’ yang tertinggal dalam hasil karya seni itu.
Kelenteng Kong Fuk Nio dan Masjid Jami Muntok dalam Worldview Toleransi Kota Muntok Primayudha, Novrizal; Santosa, Imam; Syarief, Achmad; Destiarmand, Achmad Haldani
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7481

Abstract

The long history of ethnic and religious tolerance in Indonesia has always tended to tell a story about expressions of indifference, and even hidden persuasiveness, which scrutinizes the problems of large organizations such as religion and culture. By concentrating on two contiguous places of worship of two religious’ communities in Muntok City, West Bangka, this article strives to identification from a side that is rarely exposed. The observation, interviews, and the acquisition of literature data elucidate how the application of amalgamated components in the two places of worship is a product of tolerance practices negotiated in the past hence it is of utmost significance to refrain from disregarding this historical substance through the interpretation of anomalous forms or idealized occasionalism. Thus, through Rainer Forst's concept of "Toleration", this article attempts to provide research significance to comprehending the concept of tolerance by discussing the relationship between physical cultural relics and tolerance practices to gain the worldview of the cultural proprietors. In this discourse, the presence of a building that represents a form of tolerance in a region is not only seen from its physical appearance, but also by careful consideration of the intangible relationships that operate in the realm of history and societal change.AbstrakSejarah panjang toleransi dari keragaman etnis dan agama di Indonesia senantiasa memiliki kecenderungan untuk menceritakan sebuah kisah mengenai ungkapan ketidakpedulian dan keterpaksaan, yang menganalisis permasalahan dari organisasi besar seperti agama dan budaya. Dengan mengambil fokus pada dua tempat peribadatan dari dua umat beragama yang berdampingan di Kota Muntok, Bangka Barat, artikel ini akan mencoba mengidentifikasi dari sisi yang jarang terekspos. Hasil observasi, wawancara dan perolehan data literatur, menunjukkan bagaimana penerapan elemen yang dipadukan pada dua bangunan peribadatan tersebut merupakan produk dari praktik toleransi yang dinegosiasikan di masa lampau sehingga penting sekali untuk tidak mengabaikan sejarah material ini dengan memaknai toleransi pada bentuk yang anomali, perpaduan yang kebetulan, atau oksidentalisme yang diidealkan. Melalui, konsepsi “Toleration” dari Rainer Forst, artikel ini mencoba untuk memberikan signifikasi penelitian terhadap konsep toleransi dengan mendiskusikan relasi antara artefak budaya fisik dan praktik toleransi serta worldview (pandangan-dunia) masyarakat pemiliknya. Dalam artikel ini, keberadaan sebuah bangunan yang digunakan untuk merepresentasikan toleransi dalam sebuah wilayah, tidak serta merta melihat secara fisik saja, namun harus juga melihat relasi-relasi nonfisik yang bergerak dalam dimensi sejarah maupun perkembangan masyarakatnya. 
Hubungan Manusia dan Alam dalam Lirik Lagu Syifa Sativa: Kajian Ekokritik Dewi, Stefani Kartika
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7463

Abstract

This study aims to describe the pastoral narrative in the lyrics of the songs "Tanam Sawi di Bulan" and "Waktu yang Membentang" by Syifa Sativa. The purpose is to show the relationship between humans and nature. Through content analysis, the two lyrics of Syifa Sativa's songs were read based on the study of ecocriticism of pastoral narratives. The results of the content analysis show that the two Syifa Sativa songs contain pastoral narratives. The pastoral narrative presented in the two Syifa Sativa songs contains the elements of bucolic (shepherd), arcadia construction, and retreat and return discourse. The two Syifa Sativa songs show the relationship between humans and nature. Humans whose environment has changed become alienated from nature. Humans who are alienated from nature yearn for village life with a well-preserved natural condition. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan narasi pastoral dalam lirik lagu “Tanam Sawi di Bulan” dan “Waktu yang Membentang” karya Syifa Sativa. Tujuannya adalah untuk menunjukkan adanya hubungan manusia dan alam. Melalui metode analisis isi dilakukan pembacaan terhadap kedua lirik lagu karya Syifa Sativa berdasarkan kajian ekokritik narasi pastoral. Hasil analisis isi menunjukkan bahwa kedua lirik lagu Syifa Sativa mengandung narasi pastoral. Narasi pastoral yang diusung dalam kedua lirik lagu Syifa Sativa mengandung unsur bucolic (penggembala), konstruksi arcadia, dan wacana retreat dan return. Kedua lirik lagu Syifa Sativa menunjukkan adanya hubungan manusia dan alam. Manusia yang lingkungannya telah mengalami perubahan menjadi terasing dari alam. Manusia yang terasing dari alam merindukan kehidupan desa dengan kondisi alam yang masih terjaga.
Analisis Peran dan Program Pendidikan Sekolah Katolik dalam Pembentukan Karakter Siswa di Wilayah Kevikepan Kedu Kevin, Stefanus Kristian; Pramesti, Maria Chika; Siregar, Tiur Valentina; Gulo, Mateayani Fili
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7438

Abstract

The high number of juvenile delinquency cases has become a concern in Catholic education in terms of shaping and developing quality character. This study aims to analyze the role and programs of Catholic schools in shaping the character of students in the Kedu vicariate. The method used in this study is a qualitative method with a phenomenological approach. There were 150 subjects involved in Catholic school education in the Kedu Vicariate, including parents, school administrators, teachers, school employees, and students. The subjects participated in Focus Group Discussions (FGDs), and the results of the FGDs were transcribed and written into a g-form as a qualitative survey. Based on the results of this study, it can be concluded that Catholic education in the Kedu Vicariate has a very important role and program in character building, such as faith-based education, good teacher role models, retreat and live-in activities, education in the church, modern technology, and an adequate curriculum, thereby forming characters that are faithful, disciplined, moral, reflective, able to adapt to technology, and knowledgeableAbstrakBanyaknya kasus kenakalan remaja menjadi perhatian dalam pendidikan katolik untuk membentuk dan mengembangkan karakter yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana peran dan program pendidikan sekolah Katolik dalam pembentukan karakter siswa di wilayah kevikepan Kedu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 150 orang yang terlibat dalam pendidikan sekolah Katolik di Kevikepan Kedu, seperti orang tua, pengurus sekolah, guru, karyawan sekolah dan para murid. Subjek melakukan Focus Group Discussion (FGD) dan hasil FGD tersebut dinotulensikan dan ditulis ke dalam g-form sebagai survei kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan Katolik di wilayah Kevikepan Kedu memiliki peran dan program yang sangat penting dalam pembentukan karakter seperti pendidikan berbasis iman, role model guru yang baik, kegiatan retret dan live-in, pendidikan dalam menggereja, teknologi yang modern, dan kurikulum yang memadai sehingga membentuk karakter yang beriman, disiplin, bermoral, reflektif, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, dan kompetensi pengetahuan 

Page 1 of 2 | Total Record : 14