cover
Contact Name
-
Contact Email
sabuaunsrat@unsrat.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
sabuaunsrat@unsrat.ac.id
Editorial Address
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi Jl. Kampus Unsrat - Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur
ISSN : 20857020     EISSN : 28286324     DOI : 10.35793
Core Subject : Social, Engineering,
SABUA adalah jurnal lingkungan binaan dan arsitektur merupakan media informasi, komunikasi, dan pertukaran informasi mengenail masalah-masalah tentang bidang perencanaan wilayah dan kota, isu lingkungan binaan, interaksi manusia dengan karya-karya arsitektur serta interaksi antara manusia, karya-karya arsitektur dengan lingkungan binaan (kota dan desa).Artikel dapat berupa hasil penelitian, konsep perencanaan dan perancangan, kajian dan analisis kritis yang dapat ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Jurnal ini diterbitkan setiap enam bulanan (Mei dan November)
Articles 132 Documents
Analisis Pemanfaatan Lahan Berdasarkan Kemampuan Lahan di Kawasan Kebun Raya Megawati Soekarnoputri Ratatotok Kabupaten Minahasa Tenggara Mamengko, Yoga N.D.S; Supardjo, Surjadi; Karongkong, Hendriek
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 1 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i1.41233

Abstract

Abstrak Pembangunan K R Megawati Soekarnoputri Ratatotok Minahasa Tenggara menjadi pemicu  pengembangan wilayah rehabilitasi menjadi suatu kebun raya yang bermanfaat baik dalam aspek pelestarian alam, rekreasi, pendidikan dan jasa lingkungan. Ditetapkannya SK KHDTK oleh Menteri Kehutanan merupakan titik tolak pembangunan kebun raya yang mencakup tahapan perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan. Sebagai kawasan bekas tambang tentu meninggalkan permasalahan lingkungan seperti pencemaran air maupun tanah dan menyusutnya kualitas lingkungan. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi kondisi eksisting di Kawasan KR Megawati Soekarnoputri Ratatotok, menganalisis pemanfaatan lahan berdasarkan kemampuan lahan di kawasan KR Megawati Soekarnoputri Ratatotok dengan melihat master plan yang telah dibuat, serta mengetahui realisasi masterplan yang dilakukan di kawasan KR Megawati Soekarnoputri Ratatotok. Metode untuk menganalisis data pada penelitian ini antara lain analisis spasial dengan mengoverlay data spasial berupa peta yang menghasilkan peta baru dengan hasil analisis. Hasil penelitian yaitu mengetahui pemanfaatan lahan berdasarkan kemampuan lahan di kawasan KR Megawati Soekarnoputri Ratatotok Kab. Mitra. Kata Kunci : Kebun Raya, Pemanfaatan Lahan, Kemampuan LahanAbstractThe construction of the KR Megawati Soekarnoputri Ratatotok Southeast Minahasa initiated the development of the rehabilitation area into a botanical garden that has many benefits such as conservation, recreation, education and environmental services. The stipulation of the SK KHDTK by the Minister of Forestry is the starting point for the development of a botanical garden which includes the stages of planning, development, and management. As a former mining area, environmental problems often arise such as pollution and environmental degradation. The purpose of this study is to identify the existing conditions in the KR Megawati Soekarnoputri Ratatotok area, analyze land use based on land capability in the KR Megawati Soekarnoputri Ratatotok area by looking at the master plan that has been made, and to find out the realization of the master plan carried out in the KR Megawati Soekarnoputri Ratatotok area. The analytical method in this study includes spatial analysis by overlaying a map which then produces a new map with the results of the analysis. The results of the study were to determine land use based on land capability in the KR Megawati Soekarnoputri Ratatotok area, Southeast Minahasa Regency. Keywords : Botanical Garden, Land Use, Land Capability
Pengembangan Agrowisata Wawona-Lengkoan di Kabupaten Minahasa Wilem, Meylita G; Moniaga, Ingerid; Sembel, Amanda S
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 1 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i1.41234

Abstract

Abstrak Kawasan Minahasa Tengah wilayah Kecamatan Sonder Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara memiliki kawasan strategis unggulan berbasis Agrowisata Wawona-Lengkoan berdasarkan Rencana tata Ruang Wilayah Tahun 2014-2034. Namun pengelolaan dan pemanfaatan ruang belum optimal dan berkelanjutan sehingga masyarakat belum banyak mengenali kawasan ini sebagai destinasi wisata atau tujuan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal yang mendukung dan menghambat pengembangan Agrowisata Wawona-Lengkoan Kabupaten Minahasa dan menentukan strategi pengembangannya. Metode penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi lapangan, wawancara dan kuisioner. Sedangkan teknik analisis menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian diperoleh bahwa analisis IFAS (Internal Faktor Analisis Strategic) dan EFAS (Eksternal Faktor Analisis  Strategic) menunjukkan hasil pertumbuhan kawasan Agrowisata Wawona-Lengkoan berpeluang positif pada kuadran I untuk peningkatan produksi wilayah berdasarkan sumber daya alam yang tersedia di Kawasan Minahasa Tengah sebagai kawasan strategis parawisata, pertanian, dan perdagangan.Kata kunci: Kawasan Strategis; Agrowisata; SWOT.Abstract  The Central Minahasa area, the Sonder District, Minahasa Regency, North Sulawesi Province has a superior strategic area based on Wawona-Lengkoan Agrotourism based on the 2014-2034 Regional Spatial Plan. However, the management and utilization of space has not been optimal and sustainable so that many people do not recognize this area as a tourist destination or tourist destination. This study aims to analyze the internal and external factors that support and hinder the development of Wawona-Lengkoan Agrotourism in Minahasa Regency and determine its development strategy. This research method uses descriptive qualitative analysis method with data collection techniques in the form of field observations, interviews and questionnaires. While the analysis technique using SWOT analysis. The results showed that the analysis of IFAS (Internal Factors Strategic Analysis) and EFAS (External Factors Strategic Analysis) showed that the results of the growth of the Wawona-Lengkoan Agrotourism area had a positive opportunity in quadrant I to increase regional production based on available natural resources in the Central Minahasa Region as a strategic area. tourism, agriculture and trade. Keyword: Strategic Area; Agrotourism; SWOT.
Analisis Ketersediaan dan Kebutuhan Infrastruktur Minapolitan di Kabupaten Minahasa Utara (Studi Lokasi : Kecamatan Wori, Kecamatan Likupang Barat dan Kecamatan Likupang Timur) Lestari, Nurul D; Tarore, Raymond D. C. D.C; Rengkung, Michael M
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 1 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i1.41235

Abstract

Abstrak Kawasan Minapolitan merupakan bagian wilayah yang memiliki fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi, pengolahan, pemasaran, pelayanan jasa dan kegiatan pendukung lainnya yang mendukung komoditas perikanan. Pengembangan Kawasan Minapolitan bertujuan untuk mempercepat pengembangan wilayah dengan aktivitas perikanan dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Kabupaten Minahasa Utara merupakan wilayah yang telah ditetapkan sebagai wilayah pengembangan Kawasan Minapolitan yang diatur dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No 35/KEPMEN-KP/2013 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan. Salah satu sentra produksi perikanan terbesar yaitu 14.959 ton di tahun 2019. Memahami potensi perikanan di Kawasan Minapolitan ini maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur minapolitan di Kabupaten Minahasa Utara agar dapat meningkatkan nilai produksi perikanan dan mensejahterakan masyarakat. Terkait dengan pemahaman tersebut maka penulis tertarik untuk meneliti terkait ketersediaan dan kebutuhan infrastruktur pendukung Kawasan Minapolitan di Kabupaten Minahasa Utara dalam pengembangan Kawasan Minapolitan yang diatur dalam RTRW Kabupaten Minahasa Utara Tahun 2013-2033. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi aktivitas minapolitan di Kabupaten Minahasa Utara dan menganalisis ketersediaan dan kebutuhan infrastruktur pendukung minapolitan di Kabupaten Minahasa Utara. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu metode analisis scoring dan metode analisis deskriptif kuantitatif. Bersadarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa ketersediaan infrastruktur penunjang Kawasan Minapolitan di Kabupaten Minahasa Utara dikategorikan rendah dengan nilai 49% hingga 70% dengan kategori sedang. Oleh karena itu perlu adanya penambahan dan pembangunan infrastruktur seperti TPI, dermaga, SPDN, sarana penyediaan benih dan bengkel perahu serta perbaikan jalan sebagai aksesibilitas untuk memperlancar aktivitas atau kegiatan perikanan di Kabupaten Minahasa Utara. Kata kunci: Kawasan Minapolitan, Ketersediaan Infrastruktur, Kebutuhan InfrastrukturAbstract  Minapolitan area is a part of the region that has the main function of the economy consisting of centers of production, processing, marketing, services and other supporting activities that support fishery commodities. The development of minapolitan area aims to accelerate the development of the region with fisheries activities in increasing income and community welfare. North Minahasa Regency is an area that has been designated as a development area of Minapolitan Area stipulated in the Decree of the Minister of Marine Affairs and Fisheries of the Republic of Indonesia No. 35/KEPMEN-KP/2013 on the Determination of Minapolitan Area. One of the largest fishery production centers was 14,959 tons in 2019. Understanding the potential of fisheries in the Minapolitan Area, there needs to be efforts to improve the development of minapolitan infrastructure in North Minahasa Regency in order to increase the value of fishery production and prosper the community. Related to this understanding, the author is interested in researching the availability and needs of supporting infrastructure in The Minapolitan Area in North Minahasa Regency in the development of the Minapolitan Area stipulated in the RTRW of North Minahasa Regency in 2013-2033. The purpose of this study was to identify minapolitan activity in North Minahasa Regency and analyze the availability and needs of minapolitan supporting infrastructure in North Minahasa Regency. The methods used in this study are scoring analysis methods and quantitative descriptive analysis methods. Based on the results of the analysis, it can be concluded that the availability of supporting infrastructure in the Minapolitan Area in North Minahasa Regency is categorized as low with a value of 49% to 70% with a moderate category. Therefore, there needs to be the addition and development of infrastructure such as TPI, pier, SPDN, seed supply facilities and boat workshops and road repairs as accessibility to facilitate fishery activities or activities in North Minahasa Regency. Keyword: Minapolitan Area, Infrastructure Availability, Infrastructure Needs
Identifikasi Pusat-Pusat Pelayanan Berdasarkan Pola Perjalanan Sehari-hari di Kota Manado Sirappa, Resawati; Waani, Judy O; Sembel, Amanda S
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 1 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i1.41236

Abstract

Abstrak Perkembangan kota Manado berjalan begitu pesat dilihat dari peningkatan jumlah penduduk dan pergerakannya dari satu tempat ke tempat yang lain, kegiatan-kegiatan penduduk yang beragam sehingga membuat pergerakan penduduk tersebut berjalan dinamis. Suatu struktur spasial, menurut Alain Bertaud (2004) dapat diidentifikasi menggunakan 3 indikator yakni pola perjalanan sehari-hari, distribusi spasial penduduk, dan profil densitas. Dari ketiga indicator ini dan juga untuk melihat kondisi terkini dari struktur spasial kota Manado maka peneliti ingin meneliti tentang struktur spasial kota Manado menggunakan indicator pola perjalanan sehari-hari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur spasial kota Manado berdasarkan pola perjalanan sehari-hari serta untuk mengetahui kesesuaian rencana struktur spasial kota Manado dalam RTRW 2014-2024 dengan kondisi terkini struktur spasial kota Manado. Metode yang digunakan ialah kuantitatif deskriptif untuk menganalisis survey asal tujuan  dengan bantuan kuesioner yang kemudian dituangkan ke dalam bentuk diagram matriks asal tujuan dan peta garis keinginan. Kesimpulannya adalah: (1) berdasarkan pola perjalanan sehari-hari, struktur spasial kota Manado cenderung mengarah ke model polisentris. (2) berdasarkan hasil penelitian, kondisi terkini struktur spasial kota Manado yang telah ditinjau berdasarkan pola perjalanan sehari-hari sejalan atau sesuai dengan struktur spasial berdasarkan RTRW Kota Manado 2014-2024. Kata kunci: Struktur spasial; Pola Perjalanan Sehari-hari; Survei Asal Tujuan AbstractThe development of Manado city has been rapid seen by the increase in population size and the movement from one  place to another, many variety activity of the population make a dynamic movement. A spatial structure, according Alain Bertaud (2004) can be identified using three indicators: pattern of daily trips, land consumption (density) and density profiles. From these three indicators, to see the existing condition of  Manado’s spatial structure, researches would like to use pattern of daily trips. The purpose of this study was to know the spatial structures of Manado city based on the pattern of daily trips and for the harmonious spatial structure of Manado city in the urban plan document 2014-2024 with existing condition. The method is a descriptive quantitative to analyze the origin destination survey with questionnaire that is form into origin destination matrix diagram and the desire line map. The conclusion are: (1) based on the pattern of daily trips, the spatial structure of Manado city tended to lead to polisentris model, (2) based on the study, existing condition of Manado city which has been reviewed according to the pattern of daily trips has match with spatial structure of Manado city in the urban plan document 2014-2024. Keyword: spatial structure; pattern of daily trips; origin destination survey.
Evaluasi Pemanfaatan Lahan Peruntukkan Kawasan Permukiman Berdasarkan RTRW Kota Tomohon Tahun 2013 – 2033 Kalangie, Vira Riana Giovani; Kumurur, Veronica A; Poluan, Roosje J
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 1 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i1.41237

Abstract

Abstrak Evaluasi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan setiap 5 tahun sekali untuk meninjau suatu produk perencanaan. Peruntukkan kawasan permukiman adalah salah satu hasil dari rencana yang tertuang dalam RTRW setiap wilayah. Adanya perubahan pemanfaatan lahan pada Kota Tomohon mempengaruhi keberadaaan kawasan peruntukkan ini. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya masih terdapat peruntukkan PKP yang berada pada Kawasan Rawan Bencana Gunung Api. Untuk itu, penelitian ini akan mengidentifikasi sebaran pemanfaatan lahan peruntukkan PKP agar mendapatkan lokasi dan luas peruntukkan PKP Kota Tomohon yang masih berada pada Negative List : Kawasan Lindung dan Kawasan Rawan Bencana selanjutnya memberikan tinjauan daerah potensional dalam pengembangan PKP. Metode yang digunakan yaitu teknik analisa data spasial (overlay peta dan skoring) yang memberikan keluaran berupa kesesuaian lahan permukiman dan kemampuan pengembangannya sehingga dapat dievaluasi pemanfaatan lahan peruntukkan permukiman Kota Tomohon. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui luas lahan pemanfaatan lahan PKP adalah sebesar 1156,93 ha sedangkan untuk PKP yang direncanakan adalah sebesar 1232,74 ha. Luas PKP yang berada pada Kawasan Lindung yakni Hutan Lindung adalah 0,615ha, Resapan Air adalah 9,67 ha, Sempadan Sungai adalah 38,42 ha, Sekitar Danau adalah 7,23 ha, Sempadan Mata Air adalah 2,31 ha. Kawasan Rawan Bencana yakni Gunung Berapi sebesar 127,09 ha.  Sedangkan untuk daerah potensional untuk pengembangan PKP adalah sebesar 4134,02 ha dari total luas wilayah Kota Tomohon. Kata kunci : Kawasan Negative List; Permukiman; Analisa Spasial; Daerah Potensional.Abstract Evaluation is an activity carried out every five years to review a planning product. The plan for this designation of settlements area contained in Regional Spatial Plan (RSP) of each region has. The change of land use in Tomohon City affects the existence of this designation area. Based on the results of previous research, there are still found settlements which located in Volcano Disaster-Prone Areas. Therefore, this study will identify the distribution of land use designated for settlement to obtain the location and area of Tomohon City which is still on the Negative List: Protected Areas and Disaster-Prone Areas then provides an overview of the potential areas for settlements development. The method used is the spatial data analysis technique (map overlay and scoring) which provides output in the form of the suitability land and its development capability so that the use of land designated for settlements in Tomohon City can be evaluated. The results of this study shown the currently settlement is 1156,93 ha, while the planned is 1232,74 ha. Also there are still settlement located in the Protected Area, namely Protected Forest is 0,615 ha, Water Catchment Area is 9.67 ha, River Border is 38.42 ha, Around Lake is 7,23 ha, Spring Boundary is 2.31 ha. Meanwhile in Disaster-Prone Areas, namely Volcanoes of 127.09 ha. The potential area for settlement development in Tomohon City is 4134.02 ha. Keywords: Negative List; Residential; Spatial Analysis; Potentional Areas
Potensi Lokasi Penerapan Infastruktur Hijau pada Daerah Aliran Sungai Tondano di Kota Manado: Potential Location of Green Infrastructure Implementation on Tondano Watershed in Manado City Pelealu, Rodrygo H; Sembel, Amanda S; Warouw, Fela
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i2.45968

Abstract

Abstrak DAS merupakan kawasan dimana ekosistem sumber daya alam berada hingga merupakan kawasan permukiman. Kawasan DAS yang berada diperkotaan sering kali tidak diperhatikan sehingga terjadinya pembangunan yang kurang memperhatikan kondisi alami DAS itu sendiri dan menimbulkan berbagai masalah seperti longsor, genangan hingga banjir. DAS Tondano merupakan salah satu DAS yang berada di Kota Manado. Pembangunan yang terjadi di DAS Tondano meningkatkan kawasan terbangun dimana kawasan terbangun dapat mempengaruhi kondisi dari suatu DAS. Infrastruktur hijau merupakan sebuah konsep, .upaya, atau pendekatan untuk menjaga lingkungan yang.sustainable dan juga merupakan suatu konsep pengelolaan air hujan meniru siklus hidrologi alami dalam merespon air hujan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat karaktristik kawasan DAS berdasarkan faktor penentu infrastruktur hijau dan kemudian dilanjutkan untuk melihat potensi penerapan infrastruktur hijau di DAS Tondano. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis spasial dengan pendekatan boolean overlay yang dimana data spasial berupa faktor penentu infrastruktur hijau dianalisis untuk mendapatkan potensi lokasi penerapannya. Karakteristik DAS Tondano berdasarkan faktor penentu infrastruktur hijau didapatkan bahwa ada 10 jenis infrastruktur hijau yang dapat diterapkan yaitu kolam detensi, constructed wetland, parit resapan, kolam resapan, bioretensi, vegetated filter strip, sengkedan rumput, sand filter, premeable pavement¸ dan cistern. Dari hasil analisis potensi lokasi didapatkan bahwa infrastruktur hijau dapat diterapkan hampir diseluruh DAS Tondano dengan potensi luasan sebesar 971,28 ha dan Kecamatan Paal Dua merupakan daerah dengan potensi penerapan paling besar dengan potensi luasan sebesar 323,82 ha. Kata kunci: Infrastruktur Hijau, DAS, Analisis Spasial, Boolean Overlay, SIG Abstract The watershed is an area where the natural resource ecosystem is located until residential area. Watershed areas located in cities often go unnoticed so that development occurs that do not pay attention to the condition of the natural watershed itself and cause various problems such as landslides, inundation to floods. The Tondano watershed is one of the watersheds located in Manado City. The development that occurs in the Tondano watershed increases the built-up area where the built-up area can affect the condition of a watershed. Green infrastructure is a concept, effort, or approach to maintain a sustainable environment and is also a concept of rainwater management imitating the natural hydrological cycle in responding to rainwater. This study aims to look at the characteristics of the watershed area based on the determinants of green infrastructure and then proceed to see the potential application of green infrastructure in the Tondano watershed. The research method used is spatial analysis with a boolean overlay approach where spatial data in the form of determinants of green infrastructure are analyzed to obtain potential locations for its application. The characteristics of the Tondano watershed based on the determinants of green infrastructure are found that there are 10 types of green infrastructure that can be applied, detention ponds, constructed wetlands, infiltration ditches, infiltration ponds, bioretension, vegetated filter strips, grass stingers, sand filters, premeable pavement ̧ and cistern. From the results of the analysis of potential locations, it was found that green infrastructure could be applied almost throughout the Tondano watershed with a potential area of 971.28 ha and Paal Dua District is the area with the greatest application potential with a potential area of 323.82 ha. Keyword: Green Infrastructure, Watershed, Spatial Analysis, Boolean Overlay, GIS
Implementasi CHSE Pada Kawasan Wisata di Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan: Implementation of CHSE in Tourist Areas in Bolaang Uki District, South Bolaang Mongondow Regency Bangkiang, Afra Khairunnisa; Syafriny, Reny; Siregar, Frits O. P.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i2.45973

Abstract

Abstrak Penerapan protokol kesehatan pada kawasan wisata sangat diperlukan karena pada tahun 2020 dunia diguncang oleh penyebaran pandemi wabah virus COVID-19. Kecamatan Bolaang Uki menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan yang ikut dalam penerapan protokol kesehatan CHSE (Cleanliness, Healty, Safety, Environment Sustainability) pada kawasan wisata. Tujuan dalam penelitian ini yaitu, mengidentifikasi kondisi eksisting obyek wisata terhadap pedoman pelaksanaan CHSE pada kawasan wisata di Kecamatan Bolaang Uki pada masa pandemi dan mengetahui kesesuaian implementasi CHSE terhadap pedoman pelaksanaan CHSE pada kawasan wisata di Kecamatan Bolaang Uki pada masa pandemi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dengan dari data yang diperoleh melalui observasi langsung, kuesioner dan wawancara dan menggunakan teknik analisis skoring. Berdasarkan hasil kajian dan analisis dapat diketahui bahwa kesesuaian implementasi CHSE di Kecamatan Bolaang Uki adalah mendekati tidak sesuai untuk penerapan protokol kesehatan pada pada keempat obyek wisata yaitu ekowisata Mangrove Panango, wisata Pantai Sondana, wisata Pantai Tersakiti dan ekowisata Mangrove Dudepo. Kata kunci: Kawasan Wisata; COVID-19; CHSE. Abstract The implementation of health protocols in tourist areas is very necessary because in 2020 the world was shaken by the spread of the COVID-19 virus outbreak pandemic. Bolaang Uki Subdistrict is one of the sub-districts in South Bolaang Mongondow Regency that participates in the implementation of CHSE (Cleanliness, Healty, Safety, Environment Sustainability) health protocols in tourist areas. The purpose of this study is to identify the existing conditions of tourist objects against the guidelines for the implementation of CHSE in tourist areas in Bolaang Uki District during the pandemic and find out the suitability of CHSE implementation to the guidelines for implementing CHSE in tourist areas in Bolaang Uki District during the pandemic. The method used is a quantitative descriptive method with from data obtained through direct observation, questionnaires and interviews and using scoring analysis techniques. Based on the results of the study and analysis, it can be seen that the suitability of CHSE implementation in Bolaang Uki District is close to being inappropriate for the implementation of health protocols in the four tourist attractions, namely Panango Mangrove ecotourism, Sondana Beach tourism, Tersakiti Beach tourism and Dudepo Mangrove ecotourism. Keyword: Tourist Area; COVID-19; CHSE.
Faktor - Faktor Kekumuhan Di Kawasan Permukiman Perkotaan Amurang – Tumpaan: Slum Factors In Amurang-Tumpaan Urban Settlement Area Rorimpandey, Magdalena C.; Sela, Rieneke L.E.; Rondonuwu, Dwight
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i2.45977

Abstract

Abstrak Akibat semakin pesatnya pertumbuhan penduduk berdampak pada aspek kehidupan, terutama mengenai permukiman. Surat keputusan Bupati Kabupaten Minahasa Selatan Nomor 217 tahun 2015 tentang penetapan lokasi kawasan permukiman kumuh terdapat 23 lokasi kawasan permukiman kumuh yang tersebar di 9 wilayah kecamatan. Berdasarkan arahan pelaksanaan RKP-KP tahun 2015, lokasi penanganan permukiman kumuh perkotaan akan mengacu pada kawasan kumuh yang berada di kawasan perkotaan Amurang-Tumpaan. Dengan perincian luasan yaitu kelurahan Ranoyapo 0,52 Ha, Uwuran 10,99 Ha, Ranomea 0,59 Ha, Lopana 2,49 Ha, Tumpaan 11,55 Ha, serta Tumpaan Baru 0,36 Ha, semuanya memiliki tingkat kekumuhan yang berat. Sehingga penelitian ini perlu dilakukan agar mendapatkan output berupa faktor-faktor kekumuhan di kawasan permukiman perkotaan Amurang-Tumpaan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor kekumuhan di permukiman perkotaan Amurang-Tumpaan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan analisis skoring. Hasil analisis faktor kondisi bangunan gedung, kondisi jalan lingkungan, kondisi penyediaan air minum, kondisi drainase lingkungan, kondisi pengelolaan air limbah, kondisi pengelolaan persampahan dan kondisi proteksi kebakaran menunjukan memiliki skor yang tinggi dikarenakan cakupan pelayanan dan persyaratan teknis yang tidak memenuhi standart, sedangkan kondisi jalan lingkungan ada pada tingkat kekumuhan yang sedang karena sebagian besar jalan lingkungan yang ada pada lokasi penelitian ini sudah memiliki cakupan pelayanan dan persyaratan teknis yang sudah memenuhi standart. Kata kunci: Permukiman Kumuh; Faktor Kekumuhan Kawasan Perkotaan Amurang Tumpaan. Abstract As a result of the rapid population growth, it has an impact on aspects of life, especially regarding settlements. Decree of the Regent of South Minahasa Regency Number 217 of 2015 concerning the determination of the location of slum areas, there are 23 locations of slum areas spread over 9 sub-districts. Based on the direction of the 2015 RKP-KP implementation, the location for handling urban slums will refer to the slum area in the Amurang-Tumpaan urban area. With details of the area, namely Kelurahan Ranoyapo 0.52Ha, Uwuran 10.99Ha, Ranomea 0.59Ha, Lopana 2.49Ha, Tumpaan 11.55Ha, and Tumpaan Baru 0.36Ha, all of them have a heavy level of slums. So this research needs to be done in order to get an output in the form of slum factors in the Amurang-Tumpaan urban settlement area. The purpose of this study was to analyze the slum factor in the urban settlements of Amurang-Tumpaan. The data analysis technique used in this research is using scoring analysis. The results of factor analysis of building conditions, environmental road conditions, drinking water supply conditions, environmental drainage conditions, wastewater management conditions, waste management conditions and fire protection conditions show that they have a high score due to service coverage and technical requirements that do not meet the standards. while the condition of the environmental road is at a moderate level of slums because most of the existing environmental roads in this research location already have service coverage and technical requirements that have met the standard. Keyword: Slums; Slums Factors in Amurang Tumpaan Urban Area
Identifikasi Kegiatan Pertambangan Terhadap Kesesuaian Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Tahun 2013-2033: Identification of Mining Activities against the Suitability of the Regional Spatial Plan of North Bolaang Mongondow Regency in 2013-2033 Mokodompis, Sonia R.; Warouw, Fela; Wuisang, Cynthia E. V.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i2.45980

Abstract

Abstrak Sektor pertambangan memiliki bahan tambang yang bernilai tinggi dalam membantu menopang pembangunan perekonomian. Maka dari itu kegiatan pertambangan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Ketidaksesuaian dengan rencana tata ruang wilayah merupakan isu penting dalam kegiatan pertambangan. Hal tersebut dapat mengakibatkan perubahan pada penggunaan lahan. Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara No. 3 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Tahun 2013-2033, kawasan peruntukan pertambangan terdiri dari pertambangan mineral logam, mineral non logam dan panas bumi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan terhadap kegiatan pertambangan dan mengidentifikasi karaktersitik dan sebaran kegiatan pertambangan kemudian dilanjutkan untuk melihat kesesuaian kegiatan pertambangan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Metode penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dan analisis spasial berupa analisis superimpose (overlay). Hasil penelitian menunjukkan perubahan penggunaan lahan pertambangan di tahun 2022 sebesar 0,83% bertambah dengan luasan sebesar 1.551,1 ha dan karakteristik dari kegiatan pertambangan terdiri dari jenis pertambangan mineral logam berupa emas dan jenis pertambangan batuan berupa batuan dan pasir dengan lokasi persebaran terdapat di 6 (enam) lokasi yaitu di Desa Sangkub III, Desa Kopi, Desa Binjeita, 2 lokasi di Desa Paku Selatan, dan Desa Komus II Timur. Kemudian hasil identifikasi dari keenam lokasi tersebut, terdapat 5 (lima) lokasi kegiatan pertambangan yang tidak sesuai dengan RTRW Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Kemudian sudah tidak terdapat aktivitas pada 9 (sembilan) lokasi kawasan pertambangan yang sesuai dengan RTRW Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Kata Kunci : Pertambangan, Kesesuaian, Rencana Tata Ruang, Perubahan Penggunaan Lahan, SIG Abstract The mining sector has high-value mining materials to help support economic development. Therefore, mining activities are spread in almost all parts of Indonesia. Non-compliance with the regional spatial plan is an important issue in mining activities. This can lead to changes in land use. In accordance with the Regional Regulation of North Bolaang Mongondow Regency No. 3 of 2013 concerning the Regional Spatial Plan of North Bolaang Mongondow Regency in 2013-2033, the mining designation area consists of metal mineral mining, non-metallic minerals and geothermal. This study aims to determine changes in land use for mining activities and identify the characteristics and distribution of mining activities and then continue to see the suitability of mining activities with the Regional Spatial Plan of North Bolaang Mongondow Regency. This research method uses descriptive qualitative analysis and spatial analysis in the form of superimpose (overlay) analysis. The results of the study show that the change in mining land use in 2022 is 0.83%, increasing with an area of ​​1,551,1 ha and the characteristics of mining activities consist of the type of metal mineral mining in the form of gold and the type of rock mining in the form of rock and sand with the distribution location being in 6 (six) locations, namely in Sangkub III Village, Kopi Village, Binjeita Village, 2 locations in South Paku Village, and East Komus II Village. Then the results of the identification of the six locations, there are 5 (five) locations of mining activities that are not in accordance with the RTRW of North Bolaang Mongondow Regency. Then there is no activity at 9 (nine) mining area locations in accordance with the RTRW of North Bolaang Mongondow Regency. Keyword : Mining, Suitability, Spatial Plan, Land Use Change, GIS
Penerapan Konsep Water Sensitive Urban Design Pada Kawasan Permukiman di Danau Tondano (Studi Kasus : Kecamatan Eris, Kabupaten Minahasa): Application of Water Design Concepts in Settlement Areas in Lake Tondano (Case Study: Eris District, Minahasa Regency) Yasinta, Afiifa Ayudiah; Warouw, Fela; Makarau, Vicky H.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i2.45981

Abstract

Abstrak Kecamatan Eris adalah salah satu wilayah administrasi yang berada di kawasan sekitar Danau dan merupakan salah satu kawasan permukiman yang turut memberikan dampak penurunan kualitas air Danau akibat aktivitas manusia yang bermukim di kawasan Sempadan Danau, maksud dari penelitian ini adalah untuk menggunakan konsep Water Sensitive Urban Design sebagai upaya meminimalisir dampak dari permasalahan perairan yang terjadi di Danau Tondano dan Kecamatan Eris. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik fisik Kecamatan Eris karena dalam konsep WSUD harus memerhatikan karakteristik fisik wilayah Penelitian untuk penggunaan elemen yang sesuai dengan karakteristik fisik . dan tujuan kedua analisis elemen WSUD berdasarkan karakteristik fisik yang sudah teridentifikasi. Teknik analisa data dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik analisis Spasial dan aeknik Analisis Deskriptif . Berdasarkan hasil analisis bahwa Kecamatan Eris dapat menggunakan elemen Swales &Buffer Strips, Check Dams, Dry Ponds, Bioretensi, Grass pollutant traps dan Porous Pavement. Kata Kunci : Penurunan Kualitas air Danau Tondano, Water Sensitive Urban Design, Kecamatan Eris Abstract Eris district is one of the administrative areas located in the area around the lake and one of the residential areas that have an impact on decreasing the uality of Lake water due to human activities living in the Lake border area. The purpose of this research is to use the concept of Water Sensitive Urban Design to minimize the impact of water problems that occur in Lake Tondano and Eris District. The purpose of this study is to identify the physical characteristics of Eris Sub-District because the WSUD concept must pay attention to the physical characteristics of the research area for the use of elements that are in accordance with the physical characteristics, and the Analysis of WSUD elements based on the identified physical characteristics. Data analysis technique in this research is using spatial analysis technique and descriptive analysis technique. Based on the Results of the Analysis that Eris District can use Elements of Swales & Buffer Strips, Check Dams, Dry Ponds, Bioretention, Grass Pollutant Traps and Porous Pavement. Keyword: Tondano Lake water quality degradation, Water Sensitive Urban Design, Eris Distric

Page 9 of 14 | Total Record : 132