cover
Contact Name
-
Contact Email
sabuaunsrat@unsrat.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
sabuaunsrat@unsrat.ac.id
Editorial Address
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi Jl. Kampus Unsrat - Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur
ISSN : 20857020     EISSN : 28286324     DOI : 10.35793
Core Subject : Social, Engineering,
SABUA adalah jurnal lingkungan binaan dan arsitektur merupakan media informasi, komunikasi, dan pertukaran informasi mengenail masalah-masalah tentang bidang perencanaan wilayah dan kota, isu lingkungan binaan, interaksi manusia dengan karya-karya arsitektur serta interaksi antara manusia, karya-karya arsitektur dengan lingkungan binaan (kota dan desa).Artikel dapat berupa hasil penelitian, konsep perencanaan dan perancangan, kajian dan analisis kritis yang dapat ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Jurnal ini diterbitkan setiap enam bulanan (Mei dan November)
Articles 132 Documents
Identifikasi Struktur Ruang Berdasarkan Indikator Pola Pergerakan Masyarakat di Kota Bitung Durand, Deo Victor; Sangkertadi, Sangkertadi; Rogi, Octavianus H.A
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 10 No. 2 (2021): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v10i2.37545

Abstract

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bitung sebagai wilayah penelitian telah memasuki tahap revisi saat penelitian ini diangkat, dan perlu dilihat bahwa pusat keramaian kota saat ini lebih banyak terjadi di kecamatan Girian yang merupakan Sub-Pusat Kota daripada kecamatan Maesa yang merupakan Pusat Kota sesuai yang tertera di dalam RTRW Kota Bitung, sehingga perlu dilihat pusat pelayanan dalam Struktur Ruang Kota dengan melihat indikator Pola Pergerakan Masyarakat lewat metode “Origin Destination Survey”. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi struktur ruang kota Bitung berdasarkan indikator pola pergerakan masyarakat di kota Bitung dengan metode “Origin Destination Survey” dan mengidentifikasi permasalahan yang berpotensi terjadi sesuai dengan struktur ruang yang telah diidentifikasi. Metode pengumpulan data adalah melakukan survey dalam bentuk wawancara kuesioner kepada masyarakat kota Bitung dan metode analisis yang digunakan adalah Deskriptif Kuantitatif yaitu melihat visualisasi pergerakan masyarakat lewat Matriks Asal Tujuan dan Peta “Desire Line”. Hasil penelitian saat ini: (1) Struktur ruang kota Bitung yang diidentifikasi adalah kota dengan Struktur Ruang Kota Polisentris. (2)Adapun permasalahan yang akan terjadi di kota Bitung dengan struktur ruang kota polisentris, yaitu : Kota Polisentris dengan arahan pembangunan cenderung horizontal membuat jarak beberapa zona ke pusat pelayanan jauh sehingga masyarakat akan bergantung pada kendaraan bermotor sebagai transportasi, investasi untuk penyediaan transportasi publik tidak efektif dan mahal sehingga masyarakat akan cenderung bergantung pada transportasi pribadi, dan kecenderungan masyarakat bergantung pada kendaraan bermotor bisa berakibat pada polusi udara dari emisi bahan bakar yang bisa berakibat buruk pada lingkungan sekitar. Kata kunci: Struktur Ruang; Pola Pergerakan Masyarakat; Origin Destination Survey
Pengaruh Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) terhadap Masyarakat & Lingkungan di Kota Manado Florence, Ivana Marcia; Rondonuwu, Dwight M; Wuisang, Cynthia E.V
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 10 No. 2 (2021): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v10i2.37546

Abstract

Sebagai bentuk realisasi Kebijakan Energi Nasional, pemerintah kota Manado menerima hibah hasil penelitian teknologi biogas yang diadakan oleh FCU Taiwan melalui program APEC ACABT berupa instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg). PLTBg ini merupakan sebuah proyek percontohan bertenaga 10kW dengan model sistem Biowaste-to-Bioenergy menggunakan Teknologi Paten Biohidrogen/Biometana Dua Tahap (Two-stage Biohythane Production - HyMeTek) dan beroperasi menggunakan limbah biologis dari RPH sebagai bahan baku untuk menghasilkan energi listrik dan pupuk cair. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa apakah instalasi PLTBg memiliki pengaruh yang signifikan terhadap aspek Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan masyarakat pada kawasan permukiman di kota Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis Uji T (One sample t test) untuk menganalisa apakah ada perbedaan signifikan yang dihasilkan oleh PLTBg terhadap aspek sosial dan lingkungan baik setelah 1 hingga 2 tahun diimplementasikan. Sedangkan aspek ekonomi dihitung menggunakan asumsi pendapatan dan pengeluaran. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan yang dihasilkan oleh PLTBg terhadap aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan pada kawasan permukiman di kota Manado baik setelah 1 hingga 2 tahun diimplementasikan. Dimana perubahan lebih signifikan dirasakan oleh masyarakat setelah PLTBg telah diimplementasikan selama 2 tahun. Oleh sebab itu, direkomendasikan pengembangan PLTBg skala besar agar manfaatnya bisa menjangkau seluruh mayarakat kota, bahkan pulau-pulau kecil di sekitar kota Manado. Kata Kunci : Pengaruh, Energi, Biogas, Uji t, PLTBg, Manado
Karakteristik Kriminalitas Di Kawasan Permukiman Kota Manado (Studi Kasus: Kawasan Permukiman Kumuh Kecamatan Tuminting) Yura, Mikha A; Warouw, Fela; Lakat, Ricky S.M
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 10 No. 2 (2021): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v10i2.37547

Abstract

Kawasan permukiman yang adalah tempat dimana masyarakat tinggal dan beraktivitas tentunya diharapkan menjadi tempat yang aman dan nyaman termasuk aman dari kriminalitas bagi penghuninya. Salah faktor satu penyebab terjadinya kriminal adalah kepadatan penduduk yang tentunya memiliki efek samping terkait masalah kependudukan antara lain adalah kawasan permukiman kumuh dengan lingkungan dan bangunan yang belum sepenuhnya layak bagi penghuninya untuk di tinggali, tingginya kompetisi kerja, menurunnya kualitas lingkungan dan terganggunya stabilitas keamanan. Salah satu kecamatan yang memiliki kawasan kumuh adalah Kecamatan Tuminting yang terletak di beberapa kelurahan yaitu kelurahan Sindulang 1, Maasing, Mahawu dan Sumompo. Berbagai tindak kejahatan yang terjadi tentunya di sebabkan oleh berbagai hal mulai dari latar belakang pelaku kejahatan, kualitas permukiman dan aspek defensible space kawasan permukiman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Mengidentifikasi jenis kriminalitas dan pola sebaran pada kawasan permukiman di Kecamatan Tuminting dan Menganalisis karakteristik permukiman yang rawan kriminalitas berdasarkan aspek defensible space. Dengan menggunakan metode penelitian pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dari penelitian ini dapat mendiskripsikan dan memahami karakteristik kriminalitas di kawasan permukiman. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa karakteristik kriminalitas yang terjadi di kawasan permukiman kumuh Kecamatan Tuminting adalah sebagian besar di sebabkan oleh pengaruh minuman keras (miras) yang menjadi pemicu terjadinya tindak kriminalitas lainya dan juga rendahnya penerapan aspek defensible space di kawasan permukiman kumuh Kecamatan Tuminting. Kata Kunci: Kriminalitas; Permukiman Kumuh; Defensible Space
Perwilayahan Peri Urban di Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa Rorong, Josua J.R.Rorong J.R; Kumurur, Veronica A; Moniaga, Ingerid
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 10 No. 2 (2021): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v10i2.37548

Abstract

Wilayah peri urban atau daerah pinggiran kota merupakan zona transisi tata guna lahan, karakteristik sosial dan ekonomi, yang terletak di antara lahan perkotaan terbangun yang menyatu dengan pusat kota dan lahan pedesaan yang hampir tidak terdapat kawasan perkotaan, bentuk tanah lahan dan pemukiman perkotaan. Kecamatan Tombulu merupakan salah satu wilayah peri urban kota Kota Manado yang mengalami banyak perubahan baik secara fisik, sosial maupun ekonomi sebagai dampak dari perkembangan Kota Manado. Tujuan dari penenlitian ini, yang pertama untuk mengidentifikasi karakteristik wilayah peri urban berdasarkan aspek fisik, sosial dan ekonomi. Serta menganalisis dan menentukan perwilayahan peri urban. Dalam penelitian ini menggunakan tiga metode analisis, yang pertama adalah metode analisis statistik deskriptif untuk memperoleh hasil data yang sesuai dengan definisi operasional variabel. Kedua adalah metode analisis skoring untuk memberikan skor pada tiap variabel sesuai dengan karakteristik tiap desa, kemudian yang terakhir adalah metode analisis overlay untuk menentukan skor total yang akan digunakan dalam menentukan klasifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kecamatan Tombulu memiliki dua karakteristik wilayah peri urban, yaitu PU sekunder dan rural PU. Dari 11 desa yang ada di Kecamatan Tombulu, 10 desa bercirikan PU sekunder dan 1 desa bercirikan rural PU. Kata kunci: Perwilayahan; Peri Urban; Karakteristik; Kecamatan Tombulu
Sistem Transportasi Publik di Kota Tomohon Berdasarkan Konsep Kota Layak Huni Kaseger, Angie; Sembel, Amanda S; Lintong, Steven
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 1 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i1.41223

Abstract

Kota yang baik haruslah mampu menampung segala aktivitas masyarakat dengan memberikan rasa nyaman, aman dan tanang bagi seluruh masyarakat guna untuk beraktivitas dikenal dengan livable city atau kota layak huni. Salah satu aspek yang ada dalam konsep kota layak huni adalah aspek transportasi. Pembangunan Kota Tomohon saat ini sedang berkembang keadaan ini akan selalu sebanding dengan pertumbuhan penduduk dan jumlah kendaraan pribadi, akan tetapi tidak didukung dengan sistem transportasi angkutan umum yang memadai. Tujuan peneltian ini untuk menganalisis apakah sistem transportasi angkutan umum di KotaTomohon mampu mencapai indicator transportasi yang nyaman dalam konteks kota yang layak huni. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif-deskriptif. Analisis ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan menggunakan angka-angka dengan menggunakan perhitungan statistic dengan metode skoring skala guttman sampel dalam penelitian ini yaitu 50 responden. Hasil penelitian ini yaitu Kota Tomohon masuk pada kategori mendekati tidak sesuai. Hal tersebut terjadi dikarenakan terdapat variabel yang belum memenuhi prinsip-prinsip yang dikembangkan. Variabel tersebut yaitu, jalur pejalan kaki dengan proporsi masyarakat yang merasa nyaman 36% dan yang tidak 64%, terminal dengan jarak rata-rata terminal ke pusat pelayanan 178 meter serta kepadatan bangunan yaitu 6 bangunan/ha tergolong klasifikasi rendah dan belum sesuai dengan kriteria yang ada dan kenyamanan moda transportasi karena waktu tunggu angkutan umum rata-rata 88 menit. Kata kunci : Kota Layak Huni, Transportasi, Angkutan Umum, Kota TomohonA good city must be able to accommodate all community activities by providing a sense of comfort, security and challenge for the entire community to carry out activities known as Livable City or City Worth Living. One aspect of the concept of a livable city is the transportation aspect. The development of Tomohon City is currently developing. This situation will always be proportional to population growth and the number of private vehicles, but it is not supported by an adequate public transportation transportation system. The purpose of this study is to analyze whether the public transportation transportation system in Tomohon City is able to achieve comfortable transportation indicators in the context of a livable city. This study uses a quantitative-descriptive approach. This analysis aims to explain the phenomenon by using numbers using statistical calculations using the Guttman scale scoring method. The sample in this research is 50 respondents. The results of this study are that the City of Tomohon is in the category of approaching unsuitable. This hall occurs because there are variables that do not meet the principles developed. These variables are pedestrian paths with the proportion of people who feel comfortable 36% and those who don't 64%, terminals with an average distance of 178 meters from the terminal to the service center and a building density of 6 buildings/ha classified as low and not in accordance with existing criteria. and the convenience of transportation modes because the average waiting time for public transportation is 88. Keywords: Liveable City, Transportation, Public Transportation, Tomohon City
Ketangguhan Wilayah Perkotaan Tondano dalam Menghadapi Bencana Pandemi di Era New Normal Runtulalo, Eleazar Imanuel; Takumansang, Esli; Rompas, Leidy M
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 1 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i1.41226

Abstract

Ketangguhan wilayah merupakan kemampuan sebuah wilayah untuk dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri terhadap suatu kejadian bencana. Bencana pandemi merupakan salah satu wabah penyakit terbesar di dalam sejarah peradaban manusia, yang mengakibatkan banyaknya kerugian di berbagai sektor. Data yang diperoleh dari gugus tugas Covid 19 Minahasa menetapkan, bahwa Kecamatan Tondano Barat dan Kecamatan Tondano Selatan adalah 2 Kecamatan yang memiliki angka kasus positif Covid-19 kedua terbanyak di wilayah perkotaan Tondano. Tujuan dalam penelitian ini yaitu mengidentifikasi adaptasi masyarakat selama pandemi Covid-19 sebagai moda ketangguhan wilayah, serta menganalisis tingkat ketangguhan Kecamatan Tondano Barat dan Kecamatan Tondano Selatan terhadap ancaman dari pandemi Covid-19 . Metode yang digunakan untuk proses analisis adalah analisis likert untuk mengukur tingkat ketangguhan tiap aspek dan analisis spasial untuk menghasilkan peta-peta mengenai pola persebaran fasilitas kesehatan dan perdagangan jasa yang menjadi mitigasi dalam ketangguhan wilayah terhadap bencana pandemi. Hasil dari kedua analisis tersebut dapat menunjukkan adaptasi, mitigasi dan inovasi wilayah Tondano Selatan dan Tondano Barat dalam menghadapi bencana pandemi di era new normal. Kata kunci: Ketangguhan , Pandemi, Analisa Spasial Abstract Regional resilience is the ability of a region to be able to adapt and adapt to a disaster event. The pandemic disaster is one of the largest disease outbreaks in the history of human civilization, resulting in many losses in various sectors. Based on data from the Minahasa Regency Covid-19 task force, it was determined that West Tondano District and South Tondano District were the 2 sub-districts that had the second highest positive rate of Covid-19 cases in the Tondano urban area. This study have a purpose to identify community adaptation during the Covid-19 pandemic as a mode of regional resilience, as well as analyze the level of resilience of West Tondano District and South Tondano District against the threat of the Covid-19 pandemic. The analytical method used is Likert analysis to measure the level of resilience of each aspect and spatial analysis to produce maps of the distribution pattern of health facilities and trade in services that are a mitigation in the region's resilience to pandemic disasters. The results of the two analyzes can show the adaptation, mitigation and innovation of the South Tondano and West Tondano regions in the face of a pandemic disaster in the new normal era.Keyword: resilience, pandemic, spatial analyze
Pengaruh Keterjangkauan Trayek Angkutan Kota Terhadap Peningkatan Transportasi Online di Kota Tomohon Oroh, Renaldi M; Sembel, Amanda S; Mandey, Johansen C
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 1 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i1.41227

Abstract

AbstrakTransportasi dalam perkotaan merupakan salah satu aspek terpenting dalam menunjang keberhasilan perkembangan sebuah kota terutama dalam menunjang aktivitas dan kegiatan masyarakat, dalam perkembangan teknologi saat kini sudah sangat pesat, tidak terkecuali di sektor transportasi pada tahun 2016 yang merupakan awal mula kehadiran transportasi online di Kota Manado dan berkembang sampai ke Kota Tomohon di awal 2017 sampai saat ini. Berdasarkan kondisi yang ada di Kota Tomohon terdapat indikasi bahwa penggunaan angkutan kota itu sendiri semakin lama makin berkurang, ini berkaitan dengan adanya moda transportasi lain yaitu transportasi online, kehadiran transportasi online memiliki peran tersendiri dalam perubahan sosial dan budaya suatu wilayah kota. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana kerterjangkauan dan aspek-aspek yang mempengaruhi masyarakat dalam memilih moda transportasi online sebagai moda utama dibanding angkutan kota. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dan analisis regresi. Hasil penelitian ini menunjukkan keterjangkauan trayek angkutan kota di Kota Tomohon, permukiman penduduk yang terjangkau akan trayek dengan radius 300 meter sisi sebesar (73%), permukiman penduduk yang tidak terjangkau akan trayek/jalur angkutan kota (27%), dan Dalam uji determinasi aspek yang mempengaruhi masyarakat yaitu keandalan, kenyamanan, keamanan, tarif/ongkos, waktu perjalanan, yang mempunyai pengaruh sebesar 55.5 % terhadap penggunaan angkutan kota. Kata kunci : Angkutan Kota, Transportasi Online, Keterjangkauan, Regresi Linier BergandaAbstractCity transportation is one of the important aspects of supporting the success of the development of a city, especially supporting community activities and activities, current technological developments are very rapid, especially the transportation industry in 2016 is the initial stage of being online. transportation presence in Manado City and expanded to Tomohon City in early 2017 until now. Based on the existing conditions in Tomohon City, there are indications that the use of city transportation is decreasing from time to time, this is related to the existence of other modes of transportation, especially online traffic, the existence of online traffic plays a role in socio-cultural. changes in an urban area. The purpose of this study is to understand affordability and the factors that influence people's choice of online transportation as the main mode compared to urban transportation. The method used is descriptive analysis and quantitative regression. The results of this study indicate the affordability of urban traffic lanes in the city of Tomohon, affordable residential areas for lanes with a radius of 300 meters on the right and left are (73%), residential areas that cannot be accessed by urban transportation routes/routes (27%), and In the aspects studied to determine the impact on the community, namely reliability, comfort, security, safety, cost, driving time, the effect of 55.5% on the use of urban transportation.Keyword : City Transportation, Online Transportation, Affordability, Multiple Linear Regression.
Pemanfaatan Lahan di Sekitar Kawasan Cagar Alam di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur Lengkong, Cheri; Tarore, Raymond; Moniaga, Ingerid
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 1 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i1.41228

Abstract

AbstrakKawasan Cagar Alam Gunung Ambang memiliki keindahan dan keunikan yang mengeksplorasi frora dan fauna endemik khas, contohnya burung hantu dengan nama latin ninox . Kawasan Cagar Alam Gunung Ambang memiliki potensi panas bumi (geotermal) yang bisa dijadikan sebagai sumber energi listrik. Kawasan Cagar Alam Gunung Ambang di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur mengalami penurunan fungsi kawasan menjadi Taman Wisata Alam dan Hutan Lindung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan pemanfaatan lahan yang terjadi di sekitar kawasan Cagar Alam Gunung Ambang di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur dan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan pemanfaatan lahan  di kawasan Cagar Alam Gn.Ambang di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Metode yang digunakan yaitu deskriptif dengan pendekatan kualitatif kuantitatif dengan teknik analisis spasial overlay. Hasil dari penelitian yang dilakukan adalah Kawasan Cagar Alam Gn. Ambang di Kabupaten Bolaang Mongondow timur pada tahun 2017 mengalami perubahan lahan menjadi Taman Wisata Alam dengan luas ± 2339,96 dan Hutan Lindung dengan luas ± 167,9 Ha. Sehingga luas CA Gn. Ambang di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur seluas ±970 Ha dari luas sebelum terjadi perubahan lahan seluas ±3477 Ha.Kata Kunci: Perubahan Pemanfaatan Lahan, Kawasan Sekitar Cagar Alam, Panas Bumi. AbstrakThe Gunung Ambang Nature Reserve area has a beauty and uniqueness that explores unique endemic flora and fauna, for example the owl with the Latin name ninox. The Gunung Ambang Nature Reserve area has geothermal potential that can be utilized as an energy source. Therefore, the Gunung Ambang Nature Reserve Area in East Bolaang Mongondow Regency experienced a decline in the function of the area to become a Nature Tourism Park and Protected Forest. The purpose of this study was to identify changes in land use that occurred around the Gunung Ambang Nature Reserve in Bolaang Mongondow Timur Regency. The research method used is descriptive with a quantitative qualitative approach and the analytical technique used is spatial overlay. The results of the research conducted are that the Gunung Ambang Nature Reserve Area in Bolaang Mongondow Timur Regency in 2017 experienced a land change into a Nature Tourism Park covering an area of ± 2339.96 Ha and a Protected Forest covering an area of ± 167.9 Ha. So that the remaining area of the Gunung Ambang Nature Reserve in Bolaang Mongondow Timur Regency is ±970 Ha from the area before the land change was ±3477 Ha. Keywords: Land Use Change, Area Around Nature Reserve, Geothermal.
Analisis Kesesuaian Lahan Permukiman Berbasis Kemampuan Lahan di Kabupaten Halmahera Utara Sarita, Wiber; Kumurur, Veronica A; Makarau, Vicky H
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 1 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i1.41230

Abstract

AbstrakPenggunaan lahan untuk permukiman mendapat prioritas dalam pengembangan kawasan di Kabupaten Halmahera Utara. Pengembangan tersebut jika tidak sesuai dengan aspek kemampuan lahannya maka akan berdampak buruk bagi lingkungan sekitar mengingat Halmahera Utara merupakan kabupaten yang sedang berkembang sehingga peningkatan pembangunan akan terus meningkat. Selain itu, meningkatnya kebutuhan masyarakat dan pertumbuhan jumlah penduduk yang terus bertambah tentunya akan terus membutuhkan lahan. Sementara lahan pada wilayah perencanaan memiliki keterbatasan dalam menampung semua aktivitas pembangunan. Untuk itu akan dianalisis kesesuaian lahan permukiman di Kabupaten Halmahera Utara berdasarkan kelas kemampuan lahanya. Teknik yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu bersifat deskriptif kualitatif dengan pendekatan investigasi spasial. Penelitian ini menunjukan bahwa kapasitas lahan di Kabupaten Halmahera Utara dibagi menjadi 5 kelas yaitu, Kelas A, Kelas B, Kelas C, Kelas D, dan Kelas E. Kelas kemampuan lahan yang mendominasi di Kabupaten Halmahera Utara adalah kemampuan pengembangan agak tinggi (Kelas D) yang memiliki luas 140177.14 Ha. Kesesuaian lahan permukiman di Kabupaten Halmahera Utara, dilihat berdasarkan kelas kemampuan lahannya, terdiri dari 3 bagian yaitu lahan permukiman sesuai seluas 35.03 Ha, lahan permukiman cukup sesuai seluas 3.43 Ha, dan lahan permukiman tidak sesuai dengan luas sebesar 5.95 Ha. Kata kunci: Kemampuan Lahan; Kesesuaian Lahan; Permukiman. Abstract Land use for settlements gets priority in regional development in North Halmahera Regency. If the development is not in accordance with the aspect of land capability, it will have a negative impact on the surrounding environment, considering that North Halmahera is a developing district so that the increase in development will continue to increase. In addition, the increasing needs of the community and the increasing population growth will of course continue to require land. Meanwhile, land in the planning area has limitations in accommodating all development activities. For this reason, the suitability of residential land in North Halmahera Regency will be analyzed based on the land capability class. The technique used in this research is descriptive qualitative with a spatial investigation approach. This study shows that the land capacity in North Halmahera Regency is divided into 5 classes, namely, Class A, Class B, Class C, Class D, and Class E. The dominant land capability class in North Halmahera Regency is the rather high development capacity (Class D). which has an area of 140177.14 Ha. The suitability of residential land in North Halmahera Regency, based on the land capability class, consists of 3 parts, namely suitable residential land with an area of 35.03 ha, fairly suitable residential land covering an area of 3.43 ha, and non-suitable residential land with an area of 5.95 ha. Keyword: Land Capability; Land Suitability; Settlement.
Persepsi dan Preferensi Masyarakat dalam Kegiatan Pertanian Perkotaan (Urban Farming) Di Kota Manado Podung, Geraldine C.D; Rondonuwu, Dwight M; Kumurur, Veronica A
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 1 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i1.41231

Abstract

AbstrakJumlah penduduk terus bertambah, menyebabkan peningkatan kebutuhan bangunan dan menyebabkan sulitnya penyediaan RTH, terutama pada skala kecamatan. Salah satu solusi penghijauan dan penyediaan RTH pada lokasi padat ialah dengan partisipasi masyarakat untuk menghijaukan lahan pribadi dengan cara urban farming. Sebelum itu, perlu diteliti pemahaman masyarakat tentang urban farming untuk penghijauan. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lokasi yang berpotensi serta bagaimana persepsi dan preferensi masyarakat terkait urban farming. Penelitian menggunakan metode deskriptif dari data yang diperoleh melalui observasi langsung dan kuesioner. Adapun penelitian ini difokuskan pada kecamatan padat yakni Kecamatan Sario, Wenang, dan Singkil, lokasi potensial untuk pelaksanaan urban farming antara lain lahan terbengkalai di kecamatan (54 titik lahan terbengkalai), area revitalisasi sungai, ruang vertikal, halaman rumah ataupun pada lahan di bangunan komersil dan perkantoran. Berdasarkan analisa, 85% responden memberikan respon positif mengenai urban farming, dan dari preferensi masyarakat, urban farming pada lahan privat dapat dilakukan dengan metode konvensional dan vertikal, ditujukan untuk penyediaan RTH privat, estetika lingkungan, dan ketahanan pangan, sedangkan untuk di lahan bersama atau lahan terbengkalai ditujukan untuk pembuatan taman komunal dengan fungsi pemenuhan RTH dan penghijauan, ketahanan pangan dan ekonomi. Urban farming juga dapat dilakukan di atap bangunan terutama bagi bangunan komersil. Kata kunci: Pertanian Perkotaan; Ruang Terbuka Hijau; Penghijauan Kawasan Padat; Partisipasi Masyarakat.Abstract  The number of opulation continues to grow, causing an increase in the need for buildings and making it difficult to provide green open space, especially at the sub-district scale. Therefore, one of the solution for reforestation in crowded locations is by involving community participation to utilize their own private with urban farming. So, it is necessary to do research about the community's understanding of urban farming for reforestation purposes. This study uses a descriptive method based on the data obtained through direct observation regarding urban farming. This research is focused on densely populated sub-districts namely Sario, Wenang, and Singkil District, potential locations for urban farming are abandoned lands in each sub-district (54 points location), river revitalization areas, vertical space and private land and commercial buildings. Based on the analysis, 85% of respondents gave a positive response about urban farming, and from their preferences, urban farming on private land can be carried out using conventional and vertical methods, aimed for of private green open space, and food security, while urban farming on shared land is intended for the function of fulfilling green open space, reforestation, as well as resilience food and economy. Urban farming can also be done on the rooftop, especially for commercial buildings Keyword: Urban Farming, Green Opesn Space, Reforestation Dense Areas, Community Participation.

Page 8 of 14 | Total Record : 132