cover
Contact Name
Heffry V. Dien
Contact Email
Jurnal.itpt@unsrat.ac.id
Phone
+62811432676
Journal Mail Official
Jurnal.itpt@unsrat.ac.id
Editorial Address
Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi, Kampus Unsrat, Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP
Memuat hasil penelitian dan critical review (tinjauan kritis) tentang ilmu dan teknologi perikanan dan kelautan yang mencakup, tapi tidak terbatas pada bidang: rancang bangun dan hidrodinamika alat tangkap ikan, rancang bangun dan hidrodinamika kapal perikanan, operasi penangkapan ikan, meteo-oseanografi perikanan dan kelautan, daerah penangkapan ikan, biologi perikanan, pengelolaan perikanan dan kelautan
Articles 209 Documents
Simulasi pengaruh lunas terhadap stabilitas kapal purse seine yang berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tumumpa Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara Syamtiar Arfah; Heffry V. Dien; Revols D.Ch. Pamikiran
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1: Edisi Khusus: November 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.0.2014.6092

Abstract

Lunas kapal merupakan bagian konstruksi terpenting pada sebuah kapal. Lunas pada pembuatan kontruksi kapal hendaknya memiliki kriteria yang baik seperti terbuat dari bahan yang kuat, keras tidak mudah patah dan memiliki massa jenis yang lebih besar dari air. Stabilitas merupakan syarat utama sebuah kapal agar dapat berlayar dengan aman di laut. Stabilitas adalah kemampuan kapal untuk kembali keposisi semula setelah mendapatkan pengaruh gaya-gaya dari dalam maupun luar kapal seperti angin, ombak, arus dan sebagainya. Pada penelitian ini mempelajari pengaruh ketebalan lunas luar terhadp stabilitas kapal. Metode simulasi dengan menggunakan aplikasi multisurf7 digunakan pada penelitian ini. Dari hasil analisis stabilitas pada 3 kondisi kapal yang berbeda yaitu; kondisi 1 (tidak menggunakan lunas), kondisi 2 (lunas dengan ketebalan 0.20cm), dan kondisi 3 (lunas dengan ketebalan 0.40cm), maka didapatkan hasil bahwa penambahan ketebalan lunas luar dapat meningkatkan kestabilan kapal tetapi mempengaruhi sudut kemiringan kapal sehingga dapat mengurangi daya muat kapal tersebut.
Pengaruh warna umpan buatan terhadap hasil tangkapan pancing noru di perairan Teluk Manado Isrojaty J. Paransa; Wilyam R. Tipinbu; Henry J. Kumajas
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1: Edisi Khusus: November 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.0.2014.6168

Abstract

Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan Teluk Manado dalam upaya penangkapan ikan pelagis adalah pancing ulur dengan berbagai jenis dan ukuran, baik yang menggunakan umpan alami ataupun umpan buatan.  Salah satu jenis pancing ulur yang menggunakan umpan buatan adalah pancing noru. Pancing noru dioperasikan menggunakan umpan buatan dari serat kain berwarna-warni. Untuk mendapatkan informasi ilmiah tentang warna umpan buatan yang paling disukai ikan pelagis kecil, maka perlu dilakukan penelitian tentang Perbedaan Warna Umpan Buatan Terhadap Jumlah Hasil Tangkapan Ikan Pelagis Kecil  di perairan Teluk Manado. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa umpan buatan warna merah dan biru yang paling banyak memberikan hasil tangkapan ikan pelagis kecil yakni ikan selar (Selaroides sp) dan ikan malalugis (Decapterus sp). Jumlah tangkapan pada trip I terbanyak warna merah yaitu 664 ekor, tangkapan terbanyak trip II adalah warna Kuning yakni 642 ekor,  trip IIIwarna Kuning sebanyak 433 ekor, trip IV warna Putih sebanyak 670 ekor dan trip V warna Putih sebanyak 364 ekor.  Sedangkan waktu operasiyang terbaik adalah pada jam 18.00 sampai dengan 20.59.
Komposisi hasil tangkapan jaring insang dasar di perairan sekitar Desa Lopana Teluk Amurang Amandus Burdam; Meta S. Sompie; Lefrand Manoppo
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1: Edisi Khusus: November 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.0.2014.6172

Abstract

Desa Lopana, merupakan salah satu desa yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan yang memiliki perairan laut yang relatif luas. Permukiman penduduk sebagian besar berada di pesisir pantai, sehingga kegiatan lebih banyak terfokus pada kegiatan yang berhubungan dengan  pemanfaatan sumberdaya perikanan. Pemanfaatan sumberdaya  perikanan yang ada masih bersifat tradisional, seperti pancing noru, pancing dasar, pancing ikan tindarung dan  jaring insang. Salah satu alat tangkap yang digunakan oleh masyarakat nelayan adalah jaring insang dasar (bottom gillnet) yang digunakan untuk ikan demersal, tetapi dapat juga tertangkap ikan pelagis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi hasil tangkapan jaring insang dasar berukuran  mata 1¾ inci dan 2 inci; mengikuti metode deskriptif yang didasarkan pada studi kasus. Total hasil tangkapan jaring insang dasar adalah 1339  ekor. Tangkapan jaring insang dasar ukuran mata 1 ¾ inci sebanyak 706 ekor yang terdiri dari 7 jenis; tetapi yang dominan adalah masua, Decapterus russeli (86,04%), gorara, Pentapodus bifasciatus (6,91%) dan kowong, Lutjanus rufolineatus (3,53%). Tangkapan jaring insang dasar ukuran mata 2 inci sebanyak 630 ekor yang terdiri dari 8 jenis; dan ikan dominan adalah masua, Decapterus russeli (88,89%), tude, Selaroides leptolepis 3,33% dan kowong, Latjanus rufolineanus (2,86%).
Pengukuran tingkat kebisingan pada kapal ikan KM. Sumber Jaya (pukat cincin) bermesin tempel di perairan Teluk Manado Otniel T. Usior; Fransisco P.T. Pangalila; Frangky E. Kaparang
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1: Edisi Khusus: November 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.0.2014.6176

Abstract

Kapal purse seine bermesin tempel memiliki mesin penggerak utama maupun alat bantu menarik jarring. Hal ini menyebabkan timbulnya kebisingan yang disebabkan oleh getaran pada mesin kapal tersebut sewaktu dioperasikan. Tingkat kebisingan ini mempengaruhi tingkat kenyamanan dan kesehatan pendengara ABK dan nelayan sewaktu bekerja maupun jam istirahat. Untuk itu dilakukan pengukuran tingkat kebisingan di kapal ikan yang nantinya akan bandingkan dengan tingkat kebisingan yang diizinkan Departemen Kesehatan adalah 80 dB. Penelitian ini bersifat deskriptif dan experiment. Pengumpulan data tingkat kebisingan ini dilakukan pada kondisi sebagai berikut: perjalanan ke fishing ground, melepaskan alat (setting), menarik alat (hauling), kembali ke pangkalan. Pengambilan data kebisingan diukur pada tiap-tiap titik 1m yang berbeda di kapal dan tinggi sound desibel meter adalah 1 meter dari kapal. Data dianalisis dengan mengambarkan pola penyebaran kebisingan dengan mengunakan Software  Surver 10. Gambaran kondisi kebisingan akan dibandingkan dalam beberapa kondisi yang diukur. Dari pola penyebaran kebisingan tersebut akan terlihat daerah mana yang melebihi nilai ambang batas kebisingan. Penelitian dilaksanakan di kapal ikan pukat cincin kecil KM. Sumber Jaya yang berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tumumpa, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan, dari bulan Agustus sampai bulan Oktober 2014. Tingkat kebisingan yang tertinggi pada saat menuju ke fishing ground berada sebesar 97,8 dBdan nilai terendah  sebesar 48,7 dB.Tingkat kebisingan yang tertingggi pada saat alat tangkap dilepas berada sebesar 89,9 dB dan terendah sebesar 30,0 dB.Tingkatkebisingan yang tertinggi pada kondisialat tangkap ditarik sebesar 77,64 dB dan terendahsebesar 31,7 dB.Tingkat kebisingan yang tertinggi pada saat kembali ke Fishing basesebesar 99,7 dB, dan terendah sebesar 51,7 dB.
Pola arus permukaan saat surut di sekitar muara Sungai Malalayang, Teluk Manado Yotam N. Kamat; Patrice N.I. Kalangi; Meta S. Sompie
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1: Edisi Khusus: November 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.0.2014.6177

Abstract

Perairan pantai merupakan salah satu wilayah perairan yang dapat digunakan untuk berbagai kepentingan seperti usaha perikanan dan pariwisata oleh dan atau bagi masyarakat. Pemanfaatan ini sangat membutuhkan informasi oseanografi, khususnya pola pergerakan massa air. Penelitian ini bersifat deskriptif, yakni penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan dengan lebih jelas tentang kondisi tertentu. Pengumpulan data dilakukan dengan metode Lagrangian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2014 di perairan muara Sungai Malalayang. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa pada awal periode air surut, massa air cenderung bergerak ke arah barat, tetapi kemudian berbalik ke arah timur di sisa periode. Pola arus permukaan saat surut di sekitar muara Sungai Malalayang, Teluk Manado
Estimasi penggunaan bahan jaring (webbing) dan panjang tali pemberat pada pukat cincin kecil di Sulawesi Utara Isrojaty J. Paransa
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1 No. 5: Juni 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.5.2014.6928

Abstract

Ukuran panjang pukat cincin kecil yang tersebar di beberapa wilayah Sulawesi Utara sangatlah bervariasi dari 14 buah pukat cincin kecil yang dilakukan pengukuran, variasi panjang mulai dari 222,50 meter sampai dengan 450,00 meter, dan lebar mulai dari 66,00 meter sampai dengan 100,00 meter yang memiliki panjang tali pelampung dan panjang tali pemberat cenderung sama. walaupun bentuk jaring pada bagian-bagian tersebut tidaklah sama. Panjang tali pemberat yang seharusnya terpasang, tidak sesuai dengan banyaknya daging jaring yang digunakan. Tujuan dari pemotongan miring adalah untuk mengikuti bentuk sisi miring (hipotenusa) akibat adanya perbedaan lebar jaring pada masing-masing bagian. Jumlah mata jaring yang seharusnya diikatkan pada tali pemberat akan bertambah tergantung pada komposisi bentuk pemotongan, dimana selisih jumlah mata ke arah pemotongan miring dari bagian yang terlebar menuju bagian tali samping, merupakan jumlah bar dari hasil kali dua dengan selisih jumlah mata tersebut.Bertambahnya jumlah bar, dengan sendirinya akan menambah panjang tali pemberat pada bagian dimaksud dengan distribusi yang proporsional, sehingga lembaran jaring pada bagian ini akan terbentuk sesuai dengan luasan yang ada, dan mata jaring yang ada akan tertata pada sepanjang tali pemberat. Dengan demikian diharapkan dapat mencegah terjadinya penumpukan daging jaring pada bagian-bagian tertentu, yang biasanya merupakan salah satu penyebab terjadinya peristiwa terbelitnya daging jaring pada tali kolor, sehingga menghambat proses penarikan tali kolor. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif dengan studi kasus, yang meneliti suatu objek yang tujuannya untuk memberi gambaran secara sistematis, faktual dan akurat tentang fakta. Sedangkan studi kasus adalah mempelajari kasus tertentu pada objek yang terbatas secara intensif, terinci, dan mendalam pada gejala tertentu (Arikunto, 1998). Kasus yang dipelajari adalah perbandingan panjang tali pelampung dengan tali pemberat serta luas area yang seharusnya tertutupi oleh jaring berdasarkan bentuk jaring setelah ditata dengan menggunakan cutting rate. Hasil penelitian ini menunjukkan, sisi miring dapat terbentuk pada jaring dengan menggunakan cutting ratio berdasarkan selisih jumlah mata vertikal sebagai ketinggian jaring dan horizontal sebagai panjang jaring, terdapat kelebihan pemakaian bahan jaring pada 9 (sembilan) buah pukat cincin kecil dan kekurangan bahan pada 4 (empat) buah dan keseluruhan panjang tali pemberat tidak sama antara hasil analisis dengan panjang tali yang terpasang pada pukat cincin kecil.
Asosiasi ikan pada dua bentuk terumbu buatan di perairan pantai Malalayang, Kota Manado, Sulawesi Utara Yulita Anggaseng; Wilhelmina Patty; Emil Reppie
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1 No. 6: Desember 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.6.2014.6933

Abstract

Wilayah pesisir Kota Manado terus mengalami perubahan karena adanya reklamasi pantai; dan pembangunan yang sedang dilakukan telah memberi dampak negatif terhadap keberadaan dan kualitas terumbu karang di area tersebut. Terumbu buatan dapat digunakan untuk rehabilitasi ekosistem perairan yang telah rusak. Penelitian ini bertujuan mempelajari struktur asosiasi ikan dan mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan di sekitar terumbu buatan tersebut. Penelitian dilakukan di perairan pantai Malalayang, yang didasarkan pada metode deskriptif. Empat unit terumbu buatan blok beton ditempatkan di dasar perairan (2 unit berbentuk balok kubus dan 2 unit berbentuk balok trapesium). Kehadiran jenis ikan di terumbu buatan diamati dengan teknik underwater visual census (UVC) oleh dua orang penyelan  SCUBA setiap minggu selama sebulan. Jumlah total ikan yang berasosiasi di terumbu buatan ada 225 individu; terdiri dari 12 famili, 18 genus, dan 29 spesies. Indeks keragaman relatif sama di antara kedua bentuk terumbu buatan (masing-masing 2,55 dan 2,49); indeks kekayaan masing-masing 4,93 dan 4,35. Hal ini menunjukkan bahwa kelimpahan ikan di terumbu buatan blok beton di perairan pantai Malalayang diklasifikasikan sedang.
Hubungan jenis pelumas dengan suhu mesin induk KM. Tuna Lestari 16 Musthaqim Massora; Frangky E. Kaparang; Fransisco P.T. Pangalila
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1 No. 6: Desember 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.6.2014.6937

Abstract

Minyak pelumas adalah zat cair yang digunakan sebagai pelumas dalam suatu mesin untuk mengurangi keausan akibat gesekan, dan sebagai pendingin serta peredam suara, akan tetapi suhu yang tinggi pada mesin akan merusak daya lumas. Apabila daya lumas berkurang, maka gesekan akan bertambah dan selanjutnya panas yang timbul akan semakin banyak sehingga suhu terus meningkat. Berbagai jenis pelumas banyak dipasarkan. Oleh karena itu dilakukan penelitian tentang hubungan jenis pelumas dengan suhu mesin untuk membandingkan jenis pelumas mana yang dapat mempertahankan suhu mesin dengan baik dengan mengggunakan 3 jenis pelumas yang berbeda pada sebuah mesin induk. Untuk jenis pelumas MS, suhu pada kepala silinder relatif stabil dengan tidak mengalami perubahan suhu yang signifikan, pada blok silinder suhu mengalami perubahan pada pertengahan waktu tetapi pada akhir pencatatan suhu blok silinder mengalami penurunan suhu dari awal 63°C ke 62°C sedangkan pada suhu minyak pelumas relatif stabil walaupun di jam ke-4 mengalami penaikan suhu sebanyak 4°C, tetapi di akhir pencatatan suhu kembali ke awal menjadi 50°C. Untuk pelumas jenis JD, suhu pada kepala silinder relatif naik turun walaupun di jam terakhir kembali pada suhu awal. Pada blok silinder suhu mengalami kenaikan suhu sampai di jam terakhir sedangkan pada suhu minyak pelumas relatif stabil walaupun di jam ke-4 mengalami penaikan suhu sebanyak 5°C tetapi di akhir pencatatan suhu kembali ke awal menjadi 55°C. Untuk jenis pelumas CS, suhu pada kepala silinder relatif stabil walupun mengalami kenaikan suhu pada jam ke-5 tetapi pada akhir pencatatan suhu kembali ke awal. Pada blok silinder suhu mengalami penurunan yang tidak terjadi pada dua jenis pelumas sebelumnya, sedangkan suhu minyak pelumas relatif stabil walaupun di jam ke-5 mengalami penaikan suhu sebanyak 4°C tetapi di akhir pencatatan suhu kembali ke awal menjadi 50°C.
Daerah penangkapan pukat cincin untuk ikan cakalang yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung Wawan Sutiyo; Ivor L. Labaro; Alfret Luasunaung
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1 No. 6: Desember 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.6.2014.6940

Abstract

Informasi posisi daerah penangkapan ikan cakalang yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bitung belum banyak diketahui. Banyak orang beranggapan bahwa cakalang yang didaratkan tersebut adalah hasil tangkapan dari Laut Sulawesi dan Maluku. Oleh karena itu dilakukan penelitian tentang posisi daerah penangkapan dan hasil tangkapan ikan cakalang pada alat tangkap pukat cincin yang didaratkan di PPS Bitung; dan memetakan daerah penangkapan tersebut. Upaya tangkap bulanan berpuncak pada bulan Maret dalam rentang waktu Februari hingga Mei dengan jumlah upaya sebanyak 130 kapal pada bulan Maret dan sebanyak 124 kapal pada bulan Mei. Berdasarkan index musim, musim tangkapan ikan cakalang di perairan timur Indonesia terjadi pada bulan Mei dan Oktober hingga Desember dengan puncak musim pada bulan November. Tren tangkapan bulanan menunjukkan hasil tangkapan terendah 5.485,88 ton/tahun pada bulan Juli dan tertinggi 11.882,37 ton/tahun pada bulan November. Posisi daerah penangkapan pukat cincin dengan intensitas penangkapan tertinggi berada di wilayah Sulawesi dan Teluk Cendrawasih. Pemetaan daerah penangkapan cakalang yang didaratkan di PPS Bitung yaitu dari Laut Maluku, Samudera Pasifik, Laut Seram, Laut Kepulauan Raja Ampat, Laut Halmahera dan Laut Sulawesi dengan Laut Halmahera dan Laut Maluku sebagai daerah penangkapan yang produktif.
Analisis tren hasil tangkapan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) dengan alat tangkap purse seine dan pole and line (Studi kasus di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung) Adi Saputra; Meta S. Sompie; Lefrand Manoppo
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1 No. 6: Desember 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.6.2014.6942

Abstract

Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan salah satu sumberdaya ikan  ekonomis penting yang dihasilkan dari perairan Indonesia, baik sebagai komoditas ekspor maupun sebagai komoditas konsumsi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan gizi nasional. Prediksi hasil tangkapan ikan cakalang yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Bitung untuk tahun-tahun yang akan datang belum diketahui oleh berbagai pihak. Sehingga dianggap perlu untuk melakukan penelitian tentang analisis hasil tangkapan ikan cakalang ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tren hasil tangkapan ikan cakalang yang didaratkan di PPS Bitung, juga untuk mengetahui prediksi hasil tangkapan ikan cakalang untuk tiga tahun ke depan. Hasil dari penelitian ini berguna untuk dijadikan pedoman pengembangan pelabuhan perikanan ke depan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode studi kasus dengan menggunakan analisis regresi. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka disimpulkan bahwa tren hasil tangkapan ikan cakalang yang didaratkan di PPS Bitung hingga tahun 2016 akan cenderung meningkat; dengan demikian kebutuhan pasokan bahan baku ikan cakalang untuk tiga tahun mendatang masih dapat terpenuhi.

Page 5 of 21 | Total Record : 209