cover
Contact Name
Heffry V. Dien
Contact Email
Jurnal.itpt@unsrat.ac.id
Phone
+62811432676
Journal Mail Official
Jurnal.itpt@unsrat.ac.id
Editorial Address
Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi, Kampus Unsrat, Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP
Memuat hasil penelitian dan critical review (tinjauan kritis) tentang ilmu dan teknologi perikanan dan kelautan yang mencakup, tapi tidak terbatas pada bidang: rancang bangun dan hidrodinamika alat tangkap ikan, rancang bangun dan hidrodinamika kapal perikanan, operasi penangkapan ikan, meteo-oseanografi perikanan dan kelautan, daerah penangkapan ikan, biologi perikanan, pengelolaan perikanan dan kelautan
Articles 209 Documents
Kontribusi hasil perikanan laut terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Ilhamsyah Ilhamsyah; Effendi P. Sitanggang; Johnny Budiman
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1: Edisi Khusus: November 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.0.2014.6082

Abstract

Perairan laut Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat terletak pada 0o45’ LU-2o15’ LS dan 129o15’- 132o00’ BT, dengan luas laut 91,50% dari luas total wilayah (71.605,69 km2), yang kaya akan sumberdaya perikanan, serta perairannya cocok untuk budidaya laut seperti kerang mutiara. Produk domestik regional bruto (PDRB) adalah salah satu indikator untuk menelaah struktur perekonomian suatu daerah. Dengan menggunakan metode survey, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi: (1) PDRB Raja Ampat terhadap PDRB Papua Barat, (2) PDRB Raja Ampat dari subsektor perikanan terhadap PDRB Papua Barat dari subsektor tersebut, dan (3) kontribusi perikanan laut terhadap PDRB Kabupaten Raja Ampat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Dengan PDRB Migas, PDRB Raja Ampat berkontribusi 3,73% per tahun (ADHB) dan 4,99% per tahun (ADHK) terhadap PDRB Papua Barat selama periode 2009 - 2013; sedangkan tanpa PDRB Migas, PDRB Raja Ampat berkontribusi 3,87% per tahun (ADHB) dan 4,40% per tahun (ADHK) terhadap PDRB Papua Barat selama periode tersebut; (2) Dengan PDRB Migas, subsektor perikanan berkontribusi 23,02% per tahun (ADHB) dan 26,30% per tahun (ADHK) terhadap PDRB Kab. Raja Ampat selama periode tersebut; sementara tanpa PDRB Migas, kontribusi subsektor perikanan ini masing-masing 42,70% per tahun (ADHB) dan 49,71% per tahun (ADHK). Dengan dan tanpa PDRB Migas, subsektor perikanan Kab. Raja Ampat berkontribusi 14,45% per tahun (ADHB) dan 17,93% per tahun (ADHK) terhadap subsektor perikanan Papua Barat; dan (3) Kontribusi hasil laut terhadap PDRB subsektor perikanan Raja Ampat selama periode tersebut 0,55% per tahun dihitung (ADHB) dan 0,55% per tahun (ADHK). Untuk itu perlu lebih ditingkatkan jumlah perusahaan perikanan dan usaha perseorangan untuk meningkatkan nilai PAD dari subsektor perikanan dan (2) perlu penegakan hukum dan sanksi yang tegas terhadap penyalahgunaan perizinan bagi perusahaan budidaya mutiara maupun perorangan dalam bidang perikanan.
Perbandingan fase umur bulan terhadap hasil tangkapan sero di perairan Teluk Amurang Provinsi Sulawesi Utara Alfius Mambrasar; Ivor L. Labaro; Meta S. Sompie
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1: Edisi Khusus: November 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.0.2014.6083

Abstract

Sero diklasifikasikan sebagai alat tangkap pasif dengan memanfaatkan tingkah laku ikan yang beruaya ke arah pantai saat air pasang. Dengan demikian, tingginya osolasi pasang surut yang berkaitan dengan fase bulan di langit, akan berpengaruh terhadap hasil tangkapan sero. Tetapi informasi ilmiah seperti ini khususnya pada sero belum banyak tersedia. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh fase umur bulan terhadap hasil tangkapan sero; mengidentifikasi jenis hasil tangkapan dan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh. Penelitian ini dilakukan di Teluk Amurang, yang didasarkan pada metode deskriptif, mulai dari Agustus sampai September 2014. Hasil identifikasi spesies yang tertangkap di sero selama penelitian berjumlah 699 ekor, dimana 386 ekor tertangkap pada fase gelap, 199 ekor tertangkap pada fase bulan perbani awal, 71 ekor tertangkap pada bulan perbani akhir dan 43 ekor tertangkap pada bulan purnama terang. Pada fase bulan gelap, fase bulan perbani awal dan fase bulan perbani akhir memberikan hasil tangkapan banyak, tetapi fase bulan purnama terang hasil tangkapan sedikit.
Pengaruh jenis umpan terhadap hasil tangkapan rawai pancang di perairan Desa Bajo Octavianus Rumbewas; Johny Wenno; Janny F. Polii
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1: Edisi Khusus: November 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.0.2014.6084

Abstract

Rawai pancang adalah suatu alat penangkap ikan yang terdiri dari dua potong kayu pancang, dua utas tali sambung, dua buah kili-kili nomor 4, satu utas tali utama, 16 buah kili-kili nomor 7, dan 16 utas tali monofilament yang pada ujungnya diikat mata pancing nomor 15. Penelitian dilakukan dengan perlakuan berupa empat jenis umpan yang berasal dari irisan daging cumi (Sepia sp), ikan malalugis (Decapterus macarellus), ikan sardine (Amblygaster sp), dan ikan kebung (Rastrelliger sp) yang diacak. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriktif, didasarkan pada suatu studi kasus. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perbedaan jenis umpan berpengaruh sangat nyata terhadap hasil tangkapan. Hasil uji Beda Nyata Terkecil menunjukkan bahwa penggunaan umpan cumi sangat lebih baik dari umpan-umpan lainnya.
Pengaruh jenis umpan terhadap hasil tangkapan pancing dasar sekitar perairan Desa Bajo Kabupaten Minahasa Selatan Provinsi Sulawesi Utara Laban Amber; Fanny Silooy; Mariana E. Kayadoe
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1: Edisi Khusus: November 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.0.2014.6085

Abstract

Penggunaan pancing dasar dengan berbagai jenis umpan hidup memberikan hasil tangkapan yang cukup memuaskan namun nelayan belum mengetahui penggunaan umpan alami (ikan) apa yang paling cocok dan memberikan hasil terbanyak. Dari beberapa jenis umpan ikan yang biasa digunakan, maka dipilih tiga jenis ikan yang dijadikan umpan yaitu ikan malalugis, tude dan cumi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dan uji BNT. Hasil analisis menunjukkan bahwa umpan yang terbaik untuk pancing dasar adalah ikan malalugis dengan jumlah hasil tangkapan terbanyak yaitu 59 ekor, diikuti oleh ikan tude dengan hasil tangkapan 41 ekor dan cumi dengan hasil tangkapan 37 ekor. Komposisi hasil tangkapan adalah ikan gaca (Lutjanus gibus) dengan jumlah tertinggi sebanyak 40 ekor, gutila (Lethanusoratus) 30 ekor, gorara (Lutjanus sp) 28 ekor, goropa (Cepolopholis minata) 23 ekor dan ikan tato (Edonus niger) hanya 16 ekor.
Analisis musim penangkapan ikan cakalang di perairan Kepala Burung Murniati Tilik; Johnny Budiman; Johny Wenno
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1: Edisi Khusus: November 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.0.2014.6086

Abstract

Pengetahuan mengenai pola musim penangkapan merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan eksploitasi sumberdaya cakalang, terutama dalam menetapkan waktu yang tepat untuk meningkatkan intensitas penangkapan sekaligus menentukan waktu yang tepat pula untuk mengurangi intensitas penangkapan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui kecenderungan hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan (CPUE) ikan cakalang setiap bulan, dan (2) menentukan pola musim penangkapan ikan cakalang di perairan Raja Ampat dengan pendekatan CPUE. Analisis pola musim penangkapan ikan menggunakan Metode Persentase Rata-rata (the Average Percentage Methods) yang didasarkan pada Analisis Runtun Waktu (Times Series Analysis). Jumlah kapal pole and line yang beroperasi di perairan Kepala Burung dan berpangkalan di Kota Sorong sampai dengan tahun 2014 berjumlah 31 buah. Dari hasil tangkapan dan jumlah trip setiap bulan, kemudian dihitung CPUE dan selanjutnya dilakukan analisis musim penangkapan. Indeks Musim (IM) yang lebih besar dari 100 terdapat pada bulan-bulan April, Mei dan September sampai dengan Desember. Jadi dalam satu tahun terjadi dua kali musim penangkapan dengan puncak pada bulan April dan pada bulan November, sedangkan puncak musim paceklik terjadi pada bulan Januari dan bulan Juli.
Distribusi tangkapan pada jaring insang cendro di perairan pantai bagian timur Kabupaten Kepulauan Kepulauan Sangihe Isrojaty J. Paransa; Aminadab Faam; Johnny Budiman
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1: Edisi Khusus: November 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.0.2014.6087

Abstract

Ikan cendro (Tylosorus sp) termasuk salah satu sumberdaya ekonomis penting di Indonesia, yang menyebar di perairan Indonesia bagian Timur. Ikan ini termasuk ikan pelagis yang sulit ditangkap karena pergerakan sangat gesit, jarang tertangkap dengan jaring, umumnya tertangkap dengan pancing layang-layang.Namun, di Kabupaten Kepulauan Sangihe khususnya di Desa Simueng nelayan menangkap ikan ini dengan menggunakan jaring insang yang dikenal dengan soma sako atau soma solong. Berdasarkan 10 trip penangkapan, pada lembaran pertama yang tertangkap adalah adalah 1542  ekor (38,88 %) dan lembar kedua sebanyak 2424 ekor (38,30 %), sedangkan lembar jaring ketiga adalah 905 ekor (22,81 %),. Indikasi ini menunjukkan bahwa ikan berusaha meloloskan diri dari bagian bawah jaring sementara ikan jenis ini dikenal sebagai ikan yang bergerombol di dekat permukaan air. Sebaiknya ada penelitian lanjut mengenai lebar maksimal jaring dalam keadaan tertata saat dioperasikan berdasarkan lembaran jaring.
Fluktuasi hasil dan upaya tangkapan ikan pelagis dengan pukat cincin (small purse seine) yang berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tumumpa Kota Manado Cornelius Obimaru; Ivor L. Labaro; Lefrand Manoppo
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1: Edisi Khusus: November 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.0.2014.6088

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui komposisi dan fluktuasi hasil tangkapan pukat cincin dan mengetahui tingkat upaya pemanfaatan ikan pelagis dengan pukat cincin yang mendaratkan hasil tangkapan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tumumpa, Kota Manado.Penelitian ini didasarkan pada metode survei dengan pendekatan secara deskriftif.Data yang dikumpulkan adalah data hasil tangkapan pukat cincin selama 5 tahun terakhir, melalui wawancara dengan nelayan dan petugas setempat, serta data yang tercatat di PPP Tumumpa. Selanjutnya data tersebut dianalisis dengan menggunakan perhitungan CPUE untuk mengetahui upaya pemanfaatan sumberdaya oleh alat tangkap pukat cincin. Hasil tangkapan yang didaratkan di PPP Tumumpa umumnya adalah ikan pelagis yang terdiri dari ikan layang (Decapterus sp), cakalang (Katsuwonus pelamis), tongkol (Euthynus affinis), baby tuna  (Thunnus sp) dan selar (Selaroides leptolepis).Jenis hasil tangkapan tertinggi adalah ikan cakalang sebesar 23.334 ton, diikuti oleh ikan layang sebesar 11.330 ton, tongkol 4.912 ton, baby tuna 3.725 ton, dan yang  terendah adalah ikan selar hanya sebesar 166 ton. Tingkat upaya penangkapan selama 5 tahun menunjukkan tren negatif atau menurun setiap tahun.  Hasil tangkapan ikan layang, selar dan baby tuna menunjukkan tren negatif atau menurun setiap tahun, yang mengindikasikan bahwa ketiga jenis ikan tersebut mengarah ke tangkap lebih (overfished) atau tingkat eksploitasinya membahayakan kelestarian sumberdaya.
Studi tentang distribusi suhu dan salinitas pada lokasi penangkapan ikan layaran di Teluk Amurang Kasim Kasim; Janny F. Polii; K. W.A. Masengi
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1: Edisi Khusus: November 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.0.2014.6089

Abstract

Perairan Teluk Amurang yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan, merupakan salah satu daerah perikanan yang potensial bagi masyarakat Sulawesi Utara.Nelayan melakukan penangkapan ikan hanya berdasarkan pengalaman untuk menentukan daerah penangkapan sehingga mereka memerlukan biaya yang besar dan waktu yang lama.Daerah penangkapan ikan layaran di perairan Teluk Amurang seyogianya dapat diketahui dengan memperhatikan parameter oseanografi, seperti suhu permukaan laut.Hal ini disebabkan karena setiap spesies ikan memiliki kisaran suhu tertentu yang sesuai dengan kebiasaan hidupnya yang dapat ditoleransi oleh tubuhnya sehingga dapat mempengaruhi penyebaran ikan di suatu perairan.Musim penangkapan ikan layaran di perairan Teluk Amurang masih belum pasti setiap tahunnya. Selain adanya tanda-tanda alami yang dapat diketahui oleh nelayan tentang  musim penangkapan , faktor oseanografi yaitu tentang distribusi suhu dan salinitas dilokasi penangkapan perlu diketahui.Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah :1). Menentukan distribusi suhu dan salinitas pada lokasi penangkapan ikan layaran. 2). Menentukan distribusi suhu dan salinitas secara vertical dan horizontal sampai kedalaman 10 meter pada lokasi penangkapan ikan layaran. Ada beberapa titik di perairan Teluk Amurang yang merupakan lokasi penangkapan ikan layaran.Lokasi ini sudah diketahui oleh masyarakat nelayan secara turun temurun. Musim penangkapan ikan layaran dapat diketahui dengan adanya tanda-tanda diantaranya  keberadaanjenis ikan untuk umpan yaitu ikan peda cina (moon fish). Penelitian tentang studi distribusi suhu dan salinitas ini di laksanakan pada lima stasiun dan masing – masing stasiun ada lima titik lokasi penngkapan  yang ditentukan dengan koordinat. Ikan marlin mempunyai 3 jenis spesies, yaitu ikan marlin hitam, ikan marlin biru, dan ikan marlin loreng. Ikan ini memiliki nama lokal di beberapa daerah di Indonesia, seperti : Layaran, Setuhuk hitam , Meka, Setuhuk, Tumbuk dan Setuhuk. Masyarakat di sekitar teluk Amurang menyebut ikan ini dengan ikan layaran.Penangkapan ikan ini menggunakan alat tangkap tonda dan long line.Klasifikasi ikan layaran (Istiophorus sp.) (Saanin 1984) adalah sebagai berikut : Filum : Chordata , Sub filum : Vertebrata , Kelas : Pisces , Sub kelas : Teleostei , Ordo : Percomorphi, Sub ordo : Scombroidea , Famili : Istiophoridae  , Genus : Istiophorus , Spesies : Istiophorus platypterus. Profil suhu hasil pengukuran di perairan Teluk Amurang selama 5 hari secara umum memperlihatkan berkurangnya suhu dari kedalaman 1 sampai 10 meter tetapi tidak mengalami perubahan yamg signifikan.Nilai salinitas hasil pengukuran di perairan Teluk Amurang selama 5 hari secara umum memperlihatkan meningkatnya salinitas dari kedalaman 1 sampai 10 meter tetapi tidak mengalami perubahan yang besar. Nilai suhu terendah terdapat pada stasiun 5 di kedalaman 10 meter yaitu 30,33 °C dan suhu tertinggi terdapat pada stasiun 2 di kedalaman 1 meter yaitu 30,87 °C. Nilai salinitas terendah terdapat pada stasiun 1 di kedalaman 1 meter yaitu 36,54 ‰ dan salinitas tertinggi terdapat pada stasiun 4 dan 5 di kedalaman 10 meter yaitu 38,10 ‰.
Pengaruh perbedaan ukuran mata pancing terhadap hasil tangkapan rawai pancang di Desa Bajo, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan Edison Andarek; Mariana E. Kayadoe; Janny F. Polii
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1: Edisi Khusus: November 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.0.2014.6090

Abstract

Berhasilnya suatu usaha perikanan, tergantung pada metode penangkapan suatu alat tangkap yang digunakan, yang harus sesuai dengan kondisi perairan setempat (Ayodhyoa, 1981), Rawai atau juga disebut sebagai long line merupakan sederetan mata pancing yang dipasang dengan tali cabang pada satu atau lebih tali utama.Panjang rawai bisa bervariasi dari yang pendek (beberapa meter saja) sampai yang sangat panjang (berkilometer).Dalam penelitian yang dilakukan, perbedaan ukuran mata pancing diteliti untuk dapat diketahui ukuran mata pancing yang cocok dengan kedalaman perairan pada lokasi penelitian yaitu di Desa Bajo, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan. Masalah mendasar yang diteliti,yaitu: Apakah ada pengaruh ukuran mata pancing terhadap hasil tangkapan rawai pancang yang dioperasikan? Mata pancing ukuran berapakah yang memberikan hasil tangkapan yang banyak? Jenis-jenis ikan apa sajakah yang tertangkap? Tujuan utama penelitian ini adalah: Mengetahui pengaruh ukuran mata pancing terhadap hasil tangkapan ikan dengan alat tangkap rawai pancang, Mengetahui ukuran mata pancing yang paling cocok digunakan., Mengetahui jenis ikan yang tertangkap. Metode penangkapan rawai pancang dalam penelitian ini yaitu dengan menancapkan di laut kemudian setiap 3 jam dilakukan pengambilan hasil tangkapan dan penggantian umpan yang gagal tangkap. Hasil tangkapan dikumpulkan sebanyak 3 kali pengambilan setiap hari selama 8 hari. Hasil tangkapan yang diperoleh selama penelitian berjumlah 125 ekor ikan demersal.Jenis ikan yang banyak tertangkap adalah ikan goropa loreng sebanyak 25 ekor (20%) dan banyak tertangkap pada mata pancing ukuran nomor 13. Berikutnya secara berurut adalah ikan lencam sebanyak 19 ekor (15,2%), ikan gorara sebanyak 16 ekor (12,8%), ikan gutila sebanyak 12 ekor (9,6%), ikan babagoni sebanyak 11 ekor (8,8%), ikan sembilan sebanyak 10 ekor (8%), ikan gaca sebanyak 9 ekor (7,2%), belut sebanyak 8 ekor (6,4%), ikan kakap sebanyak 7 ekor (5,6%), ikan goropa hitam sebanyak 6 ekor (4,8%) dan akhirnya ikan biji nangka sebanyak 2 ekor (1,6%). Jadi terdapat 11 jenis ikan yang tertangkap dan frekuensi terbanyak pada mata pancing ukuran nomor 13. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa F hitung > F tabel, pada taraf signifikansi 99% untuk perlakuan, sehingga secara statistik menerima hipotesis tandingan H1 dan menolak hipotesis dasar H0.Hal ini berarti bahwa keempat ukuran mata pancing sebagai perlakuan berpengaruh sangat nyata terhadap hasil tangkapan rawai pancang. Hasil uji BNT menunjukkan bahwa penggunaan mata pancing ukuran nomor 13 berbeda nyata dengan ukuran nomor 14, berbeda sangat nyata dengan nomor 15 dan nomor 16. Mata pancing ukuran nomor 14 berbeda sangat nyata dengan nomor 16. Ukuran mata pancing nomor 14 tidak berbeda nyata dengan nomor 15 dan mata pancing ukuran nomor 15 tidak berbeda nyata dengan nomor 16. Kesimpulannya bahwa mata pancing ukuran nomor 13 lebih baik dari ketiga ukuran mata pancing lainnya.
Studi tentang bentuk umpan buatan terhadap hasil tangkapan ikan selar (Caranx melamphygus) dengan pancing noru di sekitar rumpon Andika La Ode; Alfret Luasunaung; Wilhelmina Patty
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1: Edisi Khusus: November 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.0.2014.6091

Abstract

Pancing noru (handline) pada umumnya terdiri dari  penggulung, tali utama,  tali pengantar,  tali cabang,  kili-kili,  mata pancing, umpan buatan, dan pemberat. Penelitian bertujuan untuk (1) Membandingkan bentuk umpan buatan pancing noru terhadap jumlah hasil tangkapan ikan selar (Caranx melamphygus) dan  menentukan bentuk umpan buatan pancing noru yang terbaik terhadap jumlah hasil tangkapan ikan selar di Perairan sekitar Teluk Manado. Pengumpulan data dilakukan dengan metode eksperimental yaitu melakukan percobaan penangkapan ikan selar dengan menggunakan bentuk umpan buatan yang berbeda. Data hasil tangkapan dianalisa dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) untuk  melihat apakah Ho(diterima) : Bentuk umpan buatan tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan selar  atau H1(ditolak) : Bentuk umpan buatan berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan selar. Hasil tangkapan diperoleh ikan selar sebanyak 2456 ekor yaitu hasil tebanyak dalam penangkapan dan setelah dianalisa untuk setiap bentuk umpan yang berbeda terlihat bahwa  FHit.< FTabel, artinya perlakuan ketiga bentuk umpan buatan pada perikanan pancing noru mempunyai peluang yang sama  terhadap hasil tangkapan ikan selar.  Sehingga berdasarkan hipotesis penelitian yang ditetapkan sebelumnya maka H0 diterima.  Sebaliknya H1 ditolak. Dari hasil analisa tersebut  dapat disimpulkan bahwa ketiga bentuk umpan buatan pancing noru yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan terhadap hasil tangkapan ikan selar dan ketiga bentuk umpan tersebut juga mempunyai kemampuan menangkap ikan selar  yang sama.

Page 4 of 21 | Total Record : 209