cover
Contact Name
Heffry V. Dien
Contact Email
Jurnal.itpt@unsrat.ac.id
Phone
+62811432676
Journal Mail Official
Jurnal.itpt@unsrat.ac.id
Editorial Address
Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi, Kampus Unsrat, Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP
Memuat hasil penelitian dan critical review (tinjauan kritis) tentang ilmu dan teknologi perikanan dan kelautan yang mencakup, tapi tidak terbatas pada bidang: rancang bangun dan hidrodinamika alat tangkap ikan, rancang bangun dan hidrodinamika kapal perikanan, operasi penangkapan ikan, meteo-oseanografi perikanan dan kelautan, daerah penangkapan ikan, biologi perikanan, pengelolaan perikanan dan kelautan
Articles 209 Documents
Studi ketertarikan ikan di keramba jaring apung terhadap warna cahaya lampu di perairan Sindulang I, Kecamatan Tuminting, Kota Manado Felix Urbasa; Frangky E. Kaparang; Henry J. Kumajas
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2: Edisi Khusus: Januari 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.0.2015.7020

Abstract

Pemanfaatan cahaya sebagai alat bantu penangkapan ikan sesungguhnya sangat berkaitan dengan upaya nelayan dalam memahami perilaku ikan dan merespon perubahan lingkungan yang ada disekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari ketertarikan ikan terhadap warna cahaya lampu yang berbeda, mempelajari jenis ikan dan bentuk gerombolan ikan yang tertarik pada warna cahaya lampu tertentu. Penelitian ini dilakukan di Perairan Sindulang I, Kecamatan Tuminting Kota Manado. Pengamatan pada keramba jaring apung dilakukan secara langsung dan dengan menggunakan kamera. Untuk mengukur intensitas cahaya di dalam air maka, sensor lux meter dimasukkan dalam tabung kecil ukuran tinggi 5 cm lalu dicelupkan kedalam air sedalam 4 cm. Pada penelitian ini digunakan empat lampu LED modifikasi bawah laut. Ikan lebih tertarik pada warna putih dan hijau dibandingkan dengan warna biru dan merah. Warna yang paling disukai adalah warna putih.
Catch per unit effort (CPUE) periode lima tahunan perikanan pukat cincin di Kota Manado dan Kota Bitung Helmy A. Wurlianty; Johny Wenno; Mariana E. Kayadoe
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 1: Juni 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.1.2015.8292

Abstract

ABSTRACT Overfishing is due to increasing fishing capacity through increasing the size of fishing gears and vessels. This research aims to analyze the development of the five-year CPUE and maximum production of purse seine fishery in Manado and Bitung Cities periodically and determine changes in fishing capacity and its influence on CPUE. The results of this study are expected to provide information in the purse seine fishery management in the city of Manado and Bitung. The results of the analysis is the highest CPUE for Bitung occurred in the period 2005-2009, the lowest CPUE occurred in the period 2008-2012 and the highest CPUE for Manado occurred in the period 2008-2012, the lowest CPUE occurred in the period 2006-2010. The highest maximum production Bitung occurred in the period 2008-2012 amounted to 22.083 tons and maximum production of Manado occurred in the period 2006-2010 amounted to 7.855 tons. The number of vessels and their sizes in each five-year period there increased in line with the increase of production. Keywords: catch, effort, purse seine, pelagic fish.   ABSTRAK Penangkapan ikan secara berlebihan terjadi karena meningkatnya kapasitas tangkap yaitu melalui penambahan ukuran alat tangkap dan ukuran kapal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan lima tahunan CPUE maupun produksi maksimum perikanan pukat cincin di Kota Manado dan Kota Bitung secara periodik dan mengetahui perubahan kapasitas tangkap dan pengaruhnya terhadap CPUE. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dalam pengelolaan perikanan pukat cincin di Kota Manado dan Kota Bitung. Hasil analisis yang diperoleh adalah CPUE tertinggi untuk Kota Bitung terjadi pada periode tahun 2005-2009, CPUE terendah terjadi pada periode tahun 2008-2012 dan CPUE tertinggi untuk Kota Manado terjadi pada periode tahun 2008-2012, CPUE terendahnya terjadi pada periode tahun 2006-2010. Produksi maksimum tertinggi Kota Bitung terjadi pada periode tahun 2008-2012 sebesar 22.083 ton dan produksi maksimum Kota Manado terjadi pada periode tahun 2006-2010 sebesar 7.855 ton. Jumlah kapal dan ukuran kapal pada setiap periode lima tahunan meningkat seiring dengan peningkatan produksi. Kata-kata kunci: hasil tangkapan, upaya, pukat cincin, ikan pelagis
Pengaruh warna umpan pada hasil tangkapan pancing tonda di perairan Teluk Manado Sulawesi Utara Fycki Fendi Imbir; Wilhelmina Patty; Johny Wenno
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 1: Juni 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.1.2015.8294

Abstract

ABSTRACT Fishery potential in Manado Bay, especially capture fisheries is quite large; but fishing activities that carried out by fishermen are still relatively in small scale; which is dominated by various types of hook and line, and small purse seine. Trolling is a traditional fishing gear that commonly used by fishermen in Manado Bay to catch pelagic fish species with artificial bait. This research aimed to study the effect of artificial bait color on the catch of trolling; and to identify the fish species. This research was conducted in January 2015 based on the experimental method. Two types of artificial bait colors were used, i.e. blue and pink; artificial bait was made of silk fibers. Catch data collected using small boats Pelang types, with 2 units of trolling line; operated during daylight from the morning (06:00 Wita) until the afternoon (18:00 Wita), data recorded every 2 hours for two days; and the data were analyzed using t-test. The catch of trolling line consists of Auxis thazard (0.2 kg), Selar sp (0.1 kg) and Katsuwonus pelamis (1.54 kg). Results of the analysis showed that the use of blue artificial bait on trolling caught more fish than that of pink artificial bait. Keywords: trolling line, artificial bait, Manado Bay ABSTRAK Produksi perikanan di Teluk Manado terutama perikanan tangkap cukup besar; tetapi kegiatan perikanan yang dilakukan oleh nelayan adalah masih tergolong skala kecil; yang didominasi oleh berbagai jenis pancing dan pukat cincin kecil. Pancing tonda merupakan alat tangkap ikan tradisional yang umum dioperasikan oleh nelayan di Teluk Manado untuk menangkap jenis-jenis ikan pelagis dengan umpan buatan. Penelitian ini ditujukan untuk untuk mempelajari pengaruh warna umpan buatan terhadap hasil tangkapan pancing tonda; dan mengidentifikasi jenis-jenis ikan yang tertangkap. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015 yang menggunakan metode eksperimental. Dua jenis warna umpan buatan yang digunakan, yaitu biru dan merah muda terbuat dari serat sutera. Data tangkapan dikumpulkan menggunakan 1 unit perahu tipe pelang dan 2 unit pancing tonda; dioperasikan sejak pagi hari (pukul 06.00 Wita) hingga sore hari (pukul 18:00 Wita), pencatatan data setiap 2 jam. selama dua hari; data dianalisis dengan uji t. Hasil tangkapan pancing tonda terdiri dari Auxis thazard dengan berat rata-rata 0.2 kg, Selar sp (0,1 kg) dan Katsuwonus pelamis (1.54 kg). Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan umpan buatan warna biru pada pancing tonda memberikan hasil tangkapan yang lebih banyak dibandingkan dengan umpan buatan warna merah muda. Kata-kata kunci: pancing tonda, umpan buatan, Teluk Manado
Pengaruh umpan buatan warna merah dan kuning terhadap hasil tangkapan pancing pompa di perairan pantai Desa Bajo, Kabupaten Minahasa Selatan Hermanus B. Usili; Ivor L. Labaro; Mariana E. Kayadoe
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 1: Juni 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.1.2015.8296

Abstract

ABSTRACT Pump handline is a traditional fishing gear commonly used by fishermen in the Gulf Amurang to catch demersal fishes/reef fishes. This handline uses artificial baits made of fiber cloth of different colors, and an effective bait color is unknown yet. This research aims to study the effect of artificial bait colors on the pump handline catches, and to identify the species. This research was conducted through experimental methods by operating four pump handline units using red and yellow artificial baits starting at 07:00 am until 14:00 pm. The catches were 33 fishes, consisting of 23 fishes caught with red baits and 10 fishes caught with yellow baits. The results showed that red and yellow artificial baits on the pump handline had different number of catches, the average catches per hour of the respective bait colors were 3.83 (4 fishes) and 1.67 (2 fishes). The catch species consisted of 17 species, and was predominated by groupers, parrot fish, snappers and goat fish. Keywords: pump handline, artificial bait, demersal fish/reef fishes.   ABSTRAK Pancing pompa merupakan alat tangkap ikan tradisional yang umum dioperasikan oleh nelayan di Teluk Amurang untuk menangkap jenis-jenis ikan demersal/ikan-ikan karang. Umpan yang digunakan adalah umpan buatan dari serat kain yang warnanya bervariasi, dan warna umpan yang efektif belum diketahui. Sehingga tujuan penelitian ialah mempelajari pengaruh warna umpan buatan terhadap hasil tangkapan pancing pompa dan mengidentifikasi jenis-jenis ikan yang tertangkap. Penelitian ini dilakukan melalui metode eksperimental dengan mengoperasikan empat unit pancing pompa yang menggunakan umpan buatan warna merah dan kuning pada pukul 07.00 hingga pukul 14:00 Wita. Hasil tangkapan yang diperoleh berjumlah 33 ekor ikan, terdiri dari 23 ekor tertangkap dengan umpan buatan warna merah dan 10 ekor tertangkap dengan umpan buatan warna kuning. Hasil analisis menyimpulkan bahwa umpan buatan warna merah dan warna kuning pada pancing pompa ternyata berbeda, karena umpan warna merah mendapatkan hasil rata-rata 3,83 (4 ekor) per jam, sedangkan umpan warna kuning rata-rata 1,67 (2 ekor) per jam. Jenis-jenis ikan yang tertangkap dengan pancing pompa terdiri dari 17 spesies, dan didominasi oleh goropa, kakatua, gorara dan biji nangka. Kata-kata kunci: pancingpompa,  umpan buatan, ikandemersal/ikankarang
Kajian tentang stabilitas KM. Surya Prima yang dibuat di Desa Borgo, Kec. Tanawangko, Kab. Minahasa Gerry Willardoe Kayadoe; Heffry V. Dien; Revols D.Ch. Pamikiran
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 1: Juni 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.1.2015.8330

Abstract

ABSTRACT The stability of a ship is one of the important technical factors in supporting successful fishing operations, and ultimately improving the welfare of fishermen; therefore a study on the stability of KM. Surya Prima had been done in the village of Borgo, District of Tanawangko, Minahasa Regency. Dynamic stability is the stability of the vessel measured by giving a force at the boat to form a certain rocking angle. This stability is expressed as an area under the curve of static stability. Dynamic ship stability calculation results will be compared with the stability criteria according to the International Maritime Organization (IMO) as in Fyson (1985) through the GZ curve. From the comparison it will get the level of dynamic stability of the vessel under study. Dynamic stability parameter values of Surya Prima purse seine vessel were: A (0-300) = 0.1179 m-rad., B (0-400) = 0.1935 m-rad., C (30-400) = 0.07552 m-rad., D (Angle GZmax) = 48 097, E (GZmin) = 0.475 m, F (GM) = 0965 m. Keywords: stability, curve, purse seiner   ABSTRAK Kestabilan kapal adalah salah satu faktor teknis penting dalam menunjang sukses operasi penangkapan ikan, dan pada akhirnya akan membantu meningkatkan kesejahteraan nelayan; oleh karena itu telah diadakan penelitian stabilitas KM. Surya Prima di Desa Borgo, Kecamatan Tanawangko, Kabupaten Minahasa. Stabilitas dinamis adalah stabilitas kapal yang diukur dengan jalan memberikan suatu usaha pada kapal sehingga membentuk sudut oleng tertentu. Stabilitas dinamis dinyatakan dalam luas area di bawah kurva stabilitas statis. Hasil perhitungan stabilitas dinamis kapal yang diukur dibandingkan dengan nilai kriteria kestabilan kapal oleh International Maritime Organization (IMO) dalam Fyson (1985) melalui kurva GZ. Dari perbandingan itu akan didapatkan tingkat kestabilan dinamis dari kapal yang diteliti. Nilai parameter kestabilan dinamis kapal pukat cincin Surya Prima adalah sebagai berikut: A (0-300) = 0.1179 m-rad., B (0-400) = 0.1935 m-rad., C (30-400) = 0.07552 m-rad., D (Sudut GZmax) = 48.097, E (GZmin) = 0.475 m, F (GM) = 0.965 m. Kata-kata kunci: stabilitas, kurva, pukat cincin
Pengaruh penambahan ekstrak minyak tenggiri pada umpan bubu terhadap hasil tangkapan ranjungan di perairan Malalayang, Kota Manado Thomson M. Watem; Henry J. Kumajas; Fanny Silooy
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 1: Juni 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.1.2015.8331

Abstract

ABSTRACT Swimming crab (Portunus pelagicus) is one of the economically important marine product commodities resulting from coastal waters Indonesia. Swimming crab in coastal waters of North Sulawesi usually caught accidentally with bottom gillnet. There has been a special fishing gear for crab traps, but not known by local fishermen. Addition of mackerel oil extract on baits could increase the fishing power of swimming crab traps but this kind of scientific information, particularly on swimming crab, not widely available yet. This research aims to study the effect of mackerel oil extract on traps bait to catch swimming crab; and to identify the types of biota captured. This research was conducted in coastal waters of Malalayang Satu, Malalayang District, Manado City; in December 2014 to January 2015; which is based on experimental methods. Six units of trap were operated seven nights; where tree units of them used scad mackerel bait that injected by mackerel oil extract, and tree other units just used scad mackerel bait without mackerel oil extract; and the capture data were analyzed by t test. The catch was 58 swimming crab in total; 42 fish was caught by scad mackerel bait with mackerel oil extract, and 16 swimming crab was caught by bait without mackerel oil extract. Analysis of t test showed that the use of mackerel oil extracts in bait traps, giving different swimming crab catches compared with bait without mackerel oil extracts. Keywords: swimming crab, trap, mackerel oil, Malalayang Manado   ABSTRAK Ranjungan (Portunus pelagicus) merupakan salah satu komoditi hasil laut ekonomis penting yang dihasilkan dari perairan pantai Indonesia. Rajungan di perairan pantai Sulawesi Utara biasanya tertangkap tanpa sengaja dengan jaring insang dasar. Sebenarnya telah ada alat tangkap bubu khusus untuk rajungan, tetapi belum dikenal oleh nelayan lokal. Pemberian ekstrak berupa minyak tenggiri pada umpan diduga dapat meningkatkan kemampuan tangkap dari bubu ranjungan; namun informasi ilmiah seperti ini, khususnya pada ranjungan, belum banyak tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh ekstrak minyak tenggiri pada umpan bubu terhadap hasil tangkapan ranjungan; dan mengidentifikasi jenis-jenis biota yang tertangkap. Penelitian ini dilakukan di perairan pantai Kelurahan Malalayang Satu, Kecamatan Malalayang, Kota Manado; pada bulan Desember 2014 sampai bulan Januari 2015; yang didasarkan pada metode experimental fishing. Enam unit bubu dioperasikan tujuh malam; di mana tiga unit menggunakan umpan ikan layang yang disuntikkan ekstrak minyak tenggiri, dan tiga unit lainnya hanya menggunakan umpan ikan layang tanpa ekstrak; dan data dinalisis dengan uji t. Tangkapan total berjumlah 58 ekor; 42 ekor tertangkap dengan umpan layang yang diberi ekstrak minyak tenggiri, dan 16 ekor tertangkap dengan umpan tanpa ekstrak minyak tenggiri. Hasil analisis uji t menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak minyak tenggiri pada umpan bubu memberikan hasil tangkapan ranjungan yang lebih banyak dibandingkan dengan umpan tanpa ekstrak minyak tenggiri. Kata-kata kunci: rajungan, bubu, minyak tenggiri, Malalayang Manado. [1] Penulis untuk penyuratan; email: thompson@yahoo.com
Pengelolaan sumberdaya ikan lema (Ratrelliger kanagurta) yang berbasis kearifan lokal di Kampung Warsamdin dan Lopintol, Distrik Teluk Mayalibit, Provinsi Papua Barat Wahalid Najamudin; Emil Reppie; Lefrand Manoppo
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 1: Juni 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.1.2015.8332

Abstract

ABSTRACT People in the villages of Lopintol and Warsamdin, Raja Ampat have local knowledge called lobe in managing mackerel resource (Rastrelliger kanagurta), which set the pattern of utilization and do not damage the ecosystem of coastal waters through a religious approach. The purpose of this research is to describe the local knowledge of Lopintol and Warsamdin villages communities in managing mackerel resources; to inventory and identify the type of goto used; and to determine the composition of catch length.           This research was conducted in December 2014. Lobe is local knowledge about catching mackerel, which is attracted with light at night in the middle of the bay; directed to shore up into the goto, then captured with a scoop net. The amount goto in Lopintol village is 44 units and entirely made of stone; while in Warsamdin village is 24 units; where 14 units made of stone, 4 units made of board, and 6 units made of wood. The catch during the study (14 trips) is 12516 fish. The percentage of fish fork length of 20-20.9 cm was 7. 3%, 21-21.9 cm (37.7 %), 22-22.9 cm (15,0%), and fork length 23-23.9 was 39.9%. The fish caught had generally already ever done spawning reproduction. Keywords: mackerel, lobe wisdom, goto, Mayalibit Bay   ABSTRAK Masyarakat di Kampung Warsamdin dan Kampung Lopintol, Kabupaten Raja Ampat memiliki kearifan lokal yang disebut lobe dalam mengelola sumberdaya ikan lema (Rastrelliger kanagurta) dengan mengatur pola pemanfaatan serta tidak merusak ekosistem perairan pantai melalui pendekatan religius yang mereka anut. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan kearifan lokal masyarakat kampung Warsamdin dan Lopintol dalam mengelola sumberdaya ikan lema; mengidentifikasi jenis goto yang digunakan dan mengetahui komposisi ukuran panjang hasil tangkapan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2014. Lobe merupakan pengetahuan lokal tentang penangkapan ikan kembung yang dikumpulkan dengan cahaya lampu pada malam hari di tengah teluk, kemudian digiring ke pantai sampai masuk ke dalam goto, kemudian ditangkap dengan serok. Jumlah goto yang ada di kampung Lopintol sebanyak 44 goto seluruhnya goto batu, sedangkan di kampung Warsamdin sebanyak 24 buah yang terdiri dari goto batu 14 unit, goto papan 4 unit dan goto kayu 6 unit. Hasil tangkapan selama penelitian (14 trip) berjumlah 12.516 ekor. Presentase panjang garpu ikan 20-20,9 cm sebanyak 7,3%, 21-21,9 cm (37,7%), 22-22,9 cm (15,0%) dan 23-23,9 cm sebanyak 39,9%. Ikan-ikan yang tertangkap umumnya sudah pernah memijah. Kata-kata kunci: ikan kembung, kearifan lobe, goto, Teluk Mayalibit
Analisis finansial usaha rumpon pada kelompok tani nelayan Malos III Malalayang I Timur, Kota Manado Tonny Yeheskel Napasau; Lefrand Manoppo; Effendi P. Sitanggang
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 1: Juni 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.1.2015.8333

Abstract

ABSTRACT Efforts to catch fish in large quantities require time and a large number of fishing gears as well as increasing fishing intensity. FADs is one method of fishing which aims to collect fish in a catchable area so that fishing can be done effectively and efficiently. This study aimed to analyze the FADs business run by Farmers and Fishermen Group Malos III in East Malalayang I, Manado City; to know the profit-sharing system and depositing dues or fees on group cash. This research was done with descriptive method which is based on case studies. The research results showed that investment cost is Rp.38.933.000; fixed cost is Rp. 19.999.500; variable cost is Rp. 142.250.000; and total cost is Rp. 162. 249.500. Average production value is Rp. 122.857.616; absolute profit is Rp. 177.720 083. benefit cost ratio average is 7.59; break even point average is Rp. 3.769.891; profitability average is 14.69% and average payback period is 0.07 years (1 month). Results of the analysis indicated that the business FADs on KTN Malos III in East Malalayang I Manado was very profitable. Revenue sharing system was 70% for the owner of fishing gear (small purse seine) and 30% for the owners of FADs on each fishing operations. Keywords: FADs, KTN Malos III, break even point, revenue sharing system.   ABSTRAK Upaya menangkap ikan dalam jumlah besar memerlukan waktu dan jumlah alat tangkap yang lebih besar serta peningkatan intensitas pengoperasiannya. Rumpon merupakan salah satu metode dalam penangkapan ikan yang bertujuan untuk mengumpulkan ikan dalam satu area penangkapan agar penangkapan ikan dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis usaha rumpon dari Kelompok Tani Nelayan Malos III Malalayang I Timur, Kota Manado; untuk mengetahui system bagi hasil dan penyetoran iuran atau fee pada kas kelompok. Penelitian ini dikerjakan degan metode deskritif didasarkan pada studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya investasi sebesar Rp.38.933.000; biaya tetap Rp. 19.999.500; biaya tidak tetap Rp. 142.250.000; biaya total Rp. 162.249.500. Nilai produksi rata-rata Rp. 122.857.616; keuntungan absolut Rp. 177.720.083; benefit cost ratio rata-rata 7,59; break even point rata-rata Rp. 3.769.891; rentabilitas rata-rata14,69 % dan jangka waktu pengembalian rata-rata 0,07 tahun (1 bulan). Hasil analisis menyatakan usaha rumpon pada KTN Malos III Kelurahan Malalayang I Timur Manado sangat menguntungkan. Sistem bagi hasil yang berlaku adalah 70 % untuk pemilik alat tangkap (soma pajeko) dan 30 % untuk pemilik rumpon pada setiap kali operasi penangkapan. Kata-kata kunci: rumpon, KTN Malos III, break even point, sistem bagi hasil
Bathimetri di perairan pantai depan Sungai Bahu, Kecamatan Malalayang, Manado Wandasari Hamid; Frangky E. Kaparang; Heffry V. Dien
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 1: Juni 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.1.2015.8334

Abstract

ABSTRACT The word bathymetry come from the Greek. Bathy is depth and metry is the science of measurement. So bathymetry can be defined as the science of measuring and mapping the bottom of waters. It is necessary to have accurate data about the physical state of the waters like shape of the coastline, tidal height and the shape of seabed. So that the objectives of this study are: to map the shape of the coastline, the state of tides and to describe the contours of the seabed. Collecting data using a water depth transect pattern normal to coastline. Tidal height measured using a tide pole. Results showed that the length of the surveyed coastline was 1,327 meters stretching from position 1027'39.9 "-124049'13.7" N to 1027'34.0 "-124049'03.0" E. Sea level at high tide was 204 cm high at 05.00 pm and low tide (10 cm) occurred at 00.00 pm. Seabed of Malalayang coastal waters has two basic forms; at north the depth was more than 100 m and the contour was very steep, while at northwest of the study location had the depth of less than 100 m and shape sloping beaches with contour lines rather far apart. Keywords: bathymetry, Bahu River, Malalayang District   ABSTRAK Kata bathimetri berasal dari bahasa Yunani yaitu Bathy adalah kedalaman dan metry ialah ilmu tentang pengukuran. Sehingga Bathymetri dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang pengukuran dan pemetaan dasar perairan. Untuk itu diperlukan data yang akurat tentang keadaan fisik perairan seperti bentuk garis pantai, pasang surut kedalaman perairan dan bentuk dasar laut. Sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah: untuk memetakan bentuk garis pantai, keadaan pasang surut dan menggambarkan kontur dasar laut. Survei dilakukan dengan menggunakan metode sounding. Pengambilan data kedalaman perairan mengikuti pola transek yang tegak lurus garis pantai. Tinggi pasang surut diukur dengan palem pasut. Hasil penelitian bahwa panjang garis pantai lokasi penelitian adalah 1.327 meter yang terbentang dari posisi 1027’39.9”-124049’13.7” LU sampai1027’34.0”-124049’03.0” BT. Tinggi permukaan air laut pada saat pasang tertinggi yaitu 204 cm pada pukul 17.00 WITA dan surut terendah (10 cm) terjadi pada pukul 00.00 WITA. Keadaan dasar perairan di pantai Malalayang memiliki 2 bentuk dasar perairan yakni dibagian utara memiliki tingkat kedalaman yang lebih besar dari 100 meter dan bentuk pantainya adalah lereng terjal dengan garis kontur yang berdekatan, sedangkan barat laut dari lokasi penelitian memiliki tingkat kedalaman yang kurang dari 100 meter dan bentuk pantainya landai dengan garis kontur yang agak berjauhan. Kata-kata kunci: bathimetri, Sungai Bahu, Kecamatan Malalayang
Komposisi hasil tangkapan lobster dengan alat tangkap jerat di perairan Kampung Amdui, Distrik Batanta Selatan, Kabupaten Raja Ampat Thimotius M. Womsiwor; Meta S. Sompie; Revols D.Ch. Pamikiran
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 1: Juni 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.1.2015.8335

Abstract

Perairan Kabupaten Raja Ampat dikenal memiliki hamparan terumbu karang yang cukup luas dan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Salah satu sumberdaya perikanan yang dihasilkan dari perairan tersebut adalah udang barong (Panulirus sp.). Alat tangkap tradisional yang umum digunakan nelayan menangkap udang di perairan Kampung Amdui, Distrik Batanta Selatan, Kabupaten Raja Ampat adalah jerat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis lobster yang tertangkap dan komposisi ukurannya. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei yang didasarkan pada studi kasus. Hasil tangkapan jerat selama penelitian adalah empat jenis lobster; yaitu lobster batik (Panulirus homorus), lobster batu (Panulirus spenicillatus), lobster bambu (Panulirus versicolor), dan lobster mutiara (Panulirus ornatus); dengan kisaran panjang karapaks adalah 11,3–18,0 cm. Analisis hubungan panjang berat menunjukkan bahwa lobster mutiara, lobster bambu dan lobster batu memiliki nilai b lebih besar 3, sedangkan lobster batik memiliki nilai b lebih kecil dari 3. Kata-kata kunci: lobster, alat tangkap jerat, komposisi ukuran, Raja Ampat

Page 7 of 21 | Total Record : 209