cover
Contact Name
Nugroho Heri Cahyono
Contact Email
jurnalcilpa@ustjogja.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalcilpa@ustjogja.ac.id
Editorial Address
Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Kompleks Pendopo Agung Taman Siswa Jl. Tamansiswa No.25, Wirogunan, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta Indonesia 55151
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Cilpa : Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Rupa
ISSN : 23559691     EISSN : 28092260     DOI : 10.30738
Cilpa: Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Rupa is a blind peer-reviewed journal dedicated to the publication of quality thoughts and research results in the field of Fine Arts and Fine Arts Education, the study or creation of fine arts but is flexible and not implicitly limited. All publications in CILPA are open access, allowing articles to be freely available without any violation.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 2 (2023): July" : 12 Documents clear
Strategi Identitas Karya Seni Lukis Pada Komunitas Satu Titik Di Yogyakarta Susanti, Juli; Pamungkas, Dharmawati Dewi
CILPA Vol 8 No 2 (2023): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i2.14305

Abstract

Abstrak Meningkatnya aktivitas berkesenian perupa komunitas Satu Titik yang didirikan ide beberapa mahasiswa yang berlatar belakang seni rupa. Ide tersebut menjadi kegiatan positif dapat memberikan wadah untuk perupa dalam berproses. Tujuan penelitian ini (1) peningkatan berkesenian dalam komunitas Satu titik, (2) karya seni lukis perupa komunitas Satu Titik, dan (3) strategi identitas yang digunakan komunitas Satu Titik. Jenis penelitian menggunakan deskriptif kualitatif. Menggunakan 6 perupa sebagai sampel yang memiliki keunggulan dalam berkarya seni lukis. Cara pengumpulan data penelitian menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumen. Instrumen penelitian menggunakan kamera dan laptop sebagai alat pendukung penelitian. Menganalisa data dalam penelitian, peneliti menerapkan beberapa cara, yaitu menghimpun data, mereduksi data, mengklasifikasi data, menarik kesimpulan, dan penyusunan laporan. Hasil penelitian menunjukkan (1) Komunitas Satu Titik mengalami peningkatan secara perlahan dalam berkesenian seni rupa, ditunjukkan dengan berbagai pameran, event maupunkegiatan yang dilaksanakan membuat perupa produktif mengasah skill dalam berkarya, sehingga meningkat dalam berkesenian. (2) Karya perupa komunitas Satu Titik memiliki perbedaan dalam identitas karya setiap perupa. Perupa memiliki teknik untuk mengemas karya semenarik mungkin. Identitas karya seni lukis, dapat dilihat dari media yang digunakan, judul, dan deskripsi dari perupa. (3) Strategi identitas karya yang digunakan komunitas Satu Titik berpedoman pada analisis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunities, and Threats) dan segitiga kehidupan teori Maslow yaitu kebutuhan dasar, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan mendapatkan penghargaan, dan kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. ABSTRACTIncreased activity of the artist of the one -point artist founded by the ideas of several students with a background in fine arts. The idea becomes a positive activity can provide a forum for artists in the process. The purpose of this study (1) improvement of art in a one -point community, (2) a one -point community artist painting, and (3) an identity strategy used by the one-point community. The type of research uses descriptive qualitative. Using 6 artists as samples that have advantages in creating painting. Research data collection techniques using observation, interview, and document methods. Research instruments using cameras and laptops as research support tools. Analyzing data in research, researchers apply several ways, namely collecting data, reducing data, classifying data, drawing conclusions, and preparation of reports. The results showed (1) the one -point community experienced a slow increase in the art of art, shown by various exhibitions, events and activities carried out making productive artists hone skills in work, so that it increases in art. (2) The work of one -point community artist has differences in the identity of the work of each artist. Artists have techniques to package work as attractive as possible. The identity of the painting work, can be seen from the media used, the title, and description of the artist. (3) The work identity strategy used by the one -point community is guided by SWOT analysis (Strength, Weakness, Opportunities, and Threats) and Maslow's Theory Life Triangle, namely the basic needs, the need for security, social needs, the need to get an award, and the need to actualize self.
Tantangan Guru Penggerak Dalam Mengerjakan Pembelajaran Muatan Seni Budaya Dan Prakarya Sekolah Dasar Di Gunungkidul Saputra, Ria; Susanto, Moh. Rusnoto
CILPA Vol 8 No 2 (2023): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i2.14889

Abstract

Peran guru penggerak dalam mengerjakan pembelajaran muatan seni budaya dan prakarya  sekolah dasar di gunung kidul melalui studi literatur, penggunaan buku dan jurnal serta dokumen lain yang berkaitan Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang peran guru penggerak. Peserta didik mampu mandiri sesuai dengan aspek profil pelajar Pancasila yang mengharuskan peserta didik untuk bernalar kritis, berakhlak mulia, kreatif, gotong royong, berkebhinekaan global, bernalar kritis dan mandiri. Pembelajaran merdeka menciptakan peserta didik tidak hanya mengetahui pembelajaran tetapi memiliki kemampuan menganalisis dan penalaran yang tinggi dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan. Selain itu dikelas, guru penggerak berperan menjadi pembimbing dan pelatih bagi guru- guru yang lain. Abstrak The role of the driving teacher in carrying out learning arts and crafts content for elementary schools in Gunung Kidul through literature studies, the use of books and journals and other related documents. This article aims to provide an overview of the role of the driving teacher. Students are able to be independent in accordance with aspects of the Pancasila student profile which require students to reason critically, have noble character, be creative, work together, have global diversity, reason critically and be independent. Independent learning creates students not only knowing learning but having high analytical and reasoningabilities in solving problems faced in life. In addition, in class, the driving teacher acts as a guide and coach for other teachers
Seniman Yunizar dan Figur Figur Aneh pada Lukisannya Candra, Dio Pamola
CILPA Vol 8 No 2 (2023): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i2.15513

Abstract

Abstrak Yunizar merupakan seniman terhormat Indonesia yang berasal dari Sumatra Barat. Yunizar tinggal dan studio di Yogyakarta semenjak memulai kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 1993. Yunizar merupakan anggota Komunitas Seni Sakato. Karya karya lukisnya sangat digemari oleh publik seni rupa Indonesia bahkan mancanegara. Beberapa karyanya menvisualkan figur-figur yang kemudian bisa dibaca sebagai bentuk yang aneh. Untuk mengungkap karakter figur-figur tersebut dilakukan penelitian kulitatif sehingga bisa disimpulkan bahwa karya-karya tersebut memiliki ciri khas keanehan yang artistik yang tercipta dari keseluruhan proses berkesenian Yunizar. Astrak Yunizar is an honorable Indonesia artist fromWest Sumatra. Yunizar has lived and studio in Yogyakarta since starting his art studies at Institut Seni Indonesia Yogyakarta in 1993. Yunizar is a member of Sakato Art Community. His painting are very popular with the Indonesian and even International art public. Some of his art works visualize figures which can then be read as odd shapes. To reveal the character of thrse figures, qualitative research was carried out so that it can be concluded that these works have an artistic peculiarity that is created from the entire process of Yunizar’s art.
Representasi Kebudayaan Post Tradisi Dan Eksplorasi Nilai Estetika mediana, agus
CILPA Vol 8 No 2 (2023): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i2.15654

Abstract

Abstrak Penelitian ini adalah pemaparan tentang proses dan hasil penciptaan karya seni lukis hasil karya penulis (Agus Mediana Adiputra) yang berangkat dari gagasan menghadirkan wacana dan isu kondisi kebudayaan post tradisi yang terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat Bali. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses dan metode penciptaan karya, perwujudan karya yang didalamnya terkandung nilai estetika yang akan dibahas dengan teori estetika objektif serta representasi kondisi post tradisi dalam karya seni lukis yang dibuat dengan mengunakan alat bantu berupa mikroskop digital yang dipakai sebagai alat untuk memindai dan memperbesar berbagai objek dalam budaya visual dan religi di Bali yang disalin ulang dengan kerja melukis bermediakan cat akrilik diatas kanvas. Adapun metode penciptaan yang digunakan mengacu pada metode penciptaan seni oleh Gustami yang terdiri dari eksplorasi , perancngan dan perwujudan. Hasil karya lukisan yang dihasilkan dapat dibaca sebagai representasi kebudayaan post tradisi dalam kebudayaan Bali hal ini dapat dilihat dan dihadirkan melalui metode atau cara kerja melukis dalam karya karya yang dibahas dalam artikel ini. Penghadiran berbagai elemen budaya visual Bali seperti banten atau sarana upacara yang dihadirkan secara terfragmentasi dan ter-zoom in melalui bantuan teknologi mikroskop merepresentasikan bagaimana penulis selaku subject atau seniman Bali hari ini berupaya meletakkan kesadaran pengunaan teknologi modern dalam memandang dan mereinterpretasi aneka rupa budaya visual sebagai produk pengetahuan tradisi. Perjumpaan antara tradisi dan cara melihatnya dengan cara modern inilah yang menjadi salah satu penanda dari terjadinya kondisi post tradisi dalam kebudayaan Bali. Sebuah kondisi yang merepresentasikan bagaimana manusia Bali hari ini hidup dalam keniscayaan antara menjaga dan melestrarikan tradisi dan merayakan modernitas yang tak terelakan.  Karya-karya yang hadir juga dapat terbaca secara estetika, dalam penelitian ini penulis memakai teori estetika objektif untuk menjabarkan aspek-aspek visual yang memiliki nilai artistik dalam karya yang hadir.  AbstractThis research is an explanation of the process and results of the creation of works of art by the author which depart from the idea of presenting discourse and issues of posttraditional cultural conditions that occur in the social life of the Balinese people. The purpose of this research is to find out the processes and methods of creating works, the embodiment of works which contain aesthetic values which will be discussed with objective aesthetic theory as well as the representation of post-traditional conditions in works of art which are made using tools in the form of digital microscopes which are used as tools for scanning and enlarging various objects in visual and religious culture in Bali which are reproduced by painting work using acrylic paint on canvas. The creation method used refers to Gustami's method of art creation which consists of exploration, design and embodiment. The resulting paintings can be read as a representation of post-traditional culture in Balinese culture. This can be seen and presented through the methods or workings of painting in the works discussed in this article. The presence of various elements of Balinese visual culture such as offerings or ceremonial instruments which are presented in a fragmented and zoomed in manner with the help of microscope technology represents how writers as subjects or Balinese artists today try to place awareness of the use of modern technology in viewing and reinterpreting various forms of visual culture as products. traditional knowledge. This encounter between tradition and the way of seeing it in a modern way is one of the markers of the occurrence of post-traditional conditions in Balinese culture. A condition that represents how Balinese people today live in the inevitability between preserving and preserving traditions and celebrating modernity which is inevitable. The works that are present can also be read aesthetically, in this study the author uses objective aesthetic theory to describe the visual aspects that have artistic value in the works that are present.
Perancangan Identitas Visual Kampung Batik Semarang Nurimani, Retian Andarweni; Kusuma, Paku
CILPA Vol 8 No 2 (2023): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i2.15700

Abstract

ABSTRAK Indonesia memiliki beragam batik yang tersebar di seluruh Indonesia, salah satunya berada di Kota Semarang. Batik Semarang atau batik Semaranganan diproduksi di Kampung Batik Semarang yang terletak di Kelurahan Rejomulyo, Semarang Timur yang merupakan sentra batik berfokus pada motif semarangan yang menampilkan karakteristik dan keindahan Kota Semarang. Namun, batik Semarangan kalah saing dengan batik yang sudah terkenal seperti dari Cirebon, Surakarta, Pekalongan, dan batik pesisir lainnya. Hal itu terjadi karena masih kurang tereksposnya serta belum adanya identitas visual sehingga tidak semua orang Semarang mengetahui keberadaan Kampung Batik Semarang. Oleh karena itu, perlu adanya perancangan identitas visual yang bertujuan membantu Kampung Batik Semarang dapat diketahui dan dikunjungi oleh masyarakat khususnya orang Semarang. Proses perancangan dimulai dengan mengumpulkan data dari observasi, studi pustaka, wawancara, kuesioner yang kemudian dilanjutkan dianalisis dengan matriks perbandingan dan SWOT. Dengan perancangan ini, dapat menjadi solusi yang tepat bagi permasalahan Kampung Batik Semarang ABSTRAK Indonesia has varieties of batik spread throughout Indonesia, one of them is in Semarang City. Semarang batik or Semarangan batik is produced in Kampung Batik Semarang, which is located in Rejomulyo urban village, East Semarang, a center for batik focusing on Semarangan motifs that display the characteristics and beauty of Semarang City. However, Semarangan batik is less infamous than well-known batik from Cirebon, Surakarta, Pekalongan, and other coastal batik. This is due to being less exposure and the absence of visual identity, so that not all Semarang citizens know the existence of Kampung Batik Semarang. Therefore, a necessary to design the visual identity that aims to support Kampung Batik Semarang being renowned and visited by more people, in particular Semarang residents. The design process sets to collect data from observation, literature study, interview, and questionnaire. After that, the data is analyzed with a comparison matrix and SWOT analysis. By this design, it could be the right solution for the problem of Kampung Batik Semarang. .
Perancangan Komik Webtoon Melalui Kisah Fabel Al-Quran Sebagai Media Pembentukan Karakter Ayati, Arifiyah Ayati; Nugraha, Novian Denny
CILPA Vol 8 No 2 (2023): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i2.15721

Abstract

AbstraKKetersediaan buku di Indonesia dari segi kualitas dan kuantitas masih sangat minim beredar. Padahal buku yang berkualitas merupakan salah satu sarana yang dapat membantu pembentukan karakter karena membangun nilai intelektual, emosional, sosial dan moral. Salah satu contohnya adalah buku bacaan yang dikreasikan melalui sastra berbentuk fabel dengan unsur edukasi dan moral yang terkandung didalamnya, yang umumnya berkaitan erat dengan ajaran agama seperti dalam agama Islam pada al-quran dalam surat An-Naml (semut). Namun jumlah pengkajian pembentukan karakter berbasis cerita fabel al-quran masih terbatas. Bertepatan dengan perkembangan zaman dan teknologi saat ini komik tidak hanya berbentuk media konvensional tetapi juga berbentuk digital contohnya platform komik digital yang dapat diakses dengan mudah dan gratis seperti Webtoon. Hal inilah yang melatarbelakangi perancangan komik webtoon melalui kisah fabel al-quran sebagai media pembentukan karakter. Penelitian yang digunakan menggunakan metode kualitatif dengan data yang diperoleh melalui studi pustaka dan wawancara serta menggunakan metode analisis matriks dan SWOT. Dengan adanya perancangan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas buku bahan bacaan yang mudah dijangkau oleh masyarakat Indonesia. Abstract The availability of books in Indonesia in terms of quality and quantity is still very minimal in circulation. Whereas a quality book is one of the means that can help character formation because it builds intellectual, emotional, social and moral values. One example is reading books created through literature in the form of fables with educational and moral elements contained in them, which are generally closely related to religious teachings such as Islam in the Qur'an in Surah An-Naml (ant). However, the number of studies on character formation based on the Koran fable story is still limited. Coinciding with the development of the times and current technology, comics are not only in the form of conventional media but also in digital form, for example digital comic platforms that can be accessed easily and for free such as Webtoon. This is the background for designing webtoon comics through the fable of the Koran as a medium for character building. The study used qualitative methods with data obtained through library research and interviews and using matrix and SWOT analysis methods. With this design, it is hoped that it can improve the quality of reading materials that are easily accessible to the people of Indonesia.
Strategi Identitas Karya Seni Lukis Pada Komunitas Satu Titik Di Yogyakarta Susanti, Juli; Pamungkas, Dharmawati Dewi
CILPA Vol 8 No 2 (2023): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i2.14305

Abstract

ABSTRAK Meningkatnya aktivitas berkesenian perupa komunitas Satu Titik yang didirikan ide beberapa mahasiswa yang berlatar belakang seni rupa. Ide tersebut menjadi kegiatan positif dapat memberikan wadah untuk perupa dalam berproses. Tujuan penelitian ini (1) peningkatan berkesenian dalam komunitas Satu titik, (2) karya seni lukis perupa komunitas Satu Titik, dan (3) strategi identitas yang digunakan komunitas Satu Titik. Jenis penelitian menggunakan deskriptif kualitatif. Menggunakan 6 perupa sebagai sampel yang memiliki keunggulan dalam berkarya seni lukis. Cara pengumpulan data penelitian menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumen. Instrumen penelitian menggunakan kamera dan laptop sebagai alat pendukung penelitian. Menganalisa data dalam penelitian, peneliti menerapkan beberapa cara, yaitu menghimpun data, mereduksi data, mengklasifikasi data, menarik kesimpulan, dan penyusunan laporan. Hasil penelitian menunjukkan (1) Komunitas Satu Titik mengalami peningkatan secara perlahan dalam berkesenian seni rupa, ditunjukkan dengan berbagai pameran, event maupun kegiatan yang dilaksanakan membuat perupa produktif mengasah skill dalam berkarya, sehingga meningkat dalam berkesenian. (2) Karya perupa komunitas Satu Titik memiliki perbedaan dalam identitas karya setiap perupa. Perupa memiliki teknik untuk mengemas karya semenarik mungkin. Identitas karya seni lukis, dapat dilihat dari media yang digunakan, judul, dan deskripsi dari perupa. (3) Strategi identitas karya yang digunakan komunitas Satu Titik berpedoman pada analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, and Threats) dan segitiga kehidupan teori Maslow yaitu kebutuhan dasar, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan mendapatkan penghargaan, dan kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. ABSTRACT Increased activity of the one -point artist founded by the ideas of several students with a background in fine arts. The idea becomes a positive activity and can provide a forum for artists in the process. The purpose of this study is (1) improvement of art in a one -point community, (2) a one -point community artist painting, and (3) an identity strategy used by the one-point community. The type of research uses descriptive qualitative. Using 6 artists as samples that have advantages in creating painting. Research data collection techniques using observation, interview, and document methods. Research instruments using cameras and laptops as research support tools. Analyzing data in research, researchers apply several methods, namely collecting data, reducing data, classifying data, drawing conclusions, and preparation of reports. The results showed (1) the one -point community experienced a slow increase in the art of art, shown by various exhibitions, events and activities carried out making productive artists hone skills in work, so that it increases in art. (2) The work of one -point community artist has differences in the identity of the work of each artist. Artists have techniques to package work as attractive as possible. The identity of the painting work can be seen from the media used, the title, and description of the artist. (3) The work identity strategy used by the one -point community is guided by SWOT analysis (Strength, Weakness, Opportunities, and Threats) and Maslow's Theory Life Triangle, namely the basic needs, the need for security, social needs, the need to get an award, and the need to actualize self.
Tantangan Guru Penggerak Dalam Mengerjakan Pembelajaran Muatan Seni Budaya Dan Prakarya Sekolah Dasar Di Gunungkidul Saputra, Ria; Susanto, Moh. Rusnoto
CILPA Vol 8 No 2 (2023): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i2.14889

Abstract

Abstrak Peran guru penggerak dalam mengerjakan pembelajaran muatan seni budaya dan prakarya sekolah dasar di gunung kidul melalui studi literatur, penggunaan buku dan jurnal serta dokumen lain yang berkaitan. Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang peran guru penggerak. Peserta didik mampu mandiri sesuai dengan aspek profil pelajar Pancasila yang mengharuskan peserta didik untuk bernalar kritis, berakhlak mulia, kreatif, gotong royong, berkebhinekaan global, bernalar kritis dan mandiri. Metode penelitian dengan Kualitatif deskriptif yaitu suatu rumusan masalah yang memandu penelitian untuk mengeksplorasi atau memotret situasi sosial yang akan diteliti secara menyeluruh, luas dan mendalam. Hasil penelitian yaitu di Sekolah Dasar wilayah Gunung Kidul mengidentifikasi beberapa tantangan, diantaranya yaitu materi yang dianggap terlalu tinggi sehingga guru dan siswa kerap kali kesulitan untuk memahami materi yang disampaikan. Guru penggerak dalam pengajaran seni budaya dan prakarya memiliki peran khusus yaitu menjadi guru yang mampu mengelola pembelajaran dengan menggunakan teknologi yang ada dengan melakukan refleksi dan perbaikan terus menerus sehingga peserta didik terdorong untuk meningkatkan prestasi akademiknya secara mandiri. Selain itu di kelas, guru penggerak berperan menjadi pembimbing dan pelatih bagi guru- guru yang lain. Abstract The role of the mobilizing teacher in working on the learning of cultural arts and crafts content in elementary schools in Gunung Kidul through literature studies, the use of books and journals and other related documents. This article aims to provide an overview of the role of the mobilizing teacher. Students are able to be independent in accordance with aspects of the Pancasila learner profile which requires students to reason critically, have noble character, creative, mutual cooperation, global diversity, reason critically and independently. The research method with descriptive qualitative is a problem formulation that guides research to explore or portray the social situation to be studied thoroughly, broadly and deeply. The results of the research, namely in Gunung Kidul area elementary schools, identified several challenges, including material that is considered too high so that teachers and students often have difficulty understanding the material presented. The lead teacher in teaching cultural arts and crafts has a special role, namely being a teacher who is able to manage learning by using existing technology by reflecting and improving continuously so that students are encouraged to improve their academic performance independently. In addition, in the classroom, the lead teacher acts as a mentor and trainer for other teachers.
Seniman Yunizar dan Figur Figur Aneh pada Lukisannya Candra, Dio Pamola
CILPA Vol 8 No 2 (2023): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i2.15513

Abstract

Abstrak Yunizar merupakan seniman kontemporer Indonesia yang berasal dari Sumatra Barat. Yunizar tinggal dan studio di Yogyakarta semenjak memulai kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 1993. Yunizar merupakan anggota Komunitas Seni Sakato. Karya karya lukisnya sangat digemari oleh publik seni rupa Indonesia bahkan mancanegara. Beberapa karyanya menvisualkan figur-figur yang kemudian bisa dibaca sebagai bentuk yang aneh. Untuk mengungkap karakter figur-figur tersebut dilakukan penelitian kulitatif sehingga bisa disimpulkan bahwa karya-karya tersebut memiliki ciri khas keanehan yang artistik yang tercipta dari keseluruhan proses berkesenian Yunizar. Abstract Yunizar is an contemporary Indonesian artist fromWest Sumatra. Yunizar has lived and studio in Yogyakarta since starting his art studies at Institut Seni Indonesia Yogyakarta in 1993. Yunizar is a member of Sakato Art Community.  His painting are very popular with the Indonesian and even International art public. Some of his art works visualize figures which can then be read as odd shapes. To reveal the character of thrse figures, qualitative research was carried out so that it can be concluded that these works have an artistic peculiarity that is created from the entire process of Yunizar’s art.
Representasi Kebudayaan Post Tradisi Dan Eksplorasi Nilai Estetika mediana, agus
CILPA Vol 8 No 2 (2023): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i2.15654

Abstract

Abstrak Penelitian ini adalah pemaparan tentang proses dan hasil penciptaan karya seni lukis hasil karya penulis (Agus Mediana Adiputra) yang berangkat dari gagasan menghadirkan wacana dan isu kondisi kebudayaan post tradisi yang terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat Bali. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses dan metode penciptaan karya, perwujudan karya yang didalamnya terkandung nilai estetika yang akan dibahas dengan teori estetika objektif serta representasi kondisi post tradisi dalam karya seni lukis yang dibuat dengan mengunakan alat bantu berupa mikroskop digital yang dipakai sebagai alat untuk memindai dan memperbesar berbagai objek dalam budaya visual dan religi di Bali yang disalin ulang dengan kerja melukis bermediakan cat akrilik diatas kanvas. Adapun metode penciptaan yang digunakan mengacu pada metode penciptaan seni oleh Gustami yang terdiri dari eksplorasi , perancngan dan perwujudan. Hasil karya lukisan yang dihasilkan dapat dibaca sebagai representasi kebudayaan post tradisi dalam kebudayaan Bali hal ini dapat dilihat dan dihadirkan melalui metode atau cara kerja melukis dalam karya karya yang dibahas dalam artikel ini. Penghadiran berbagai elemen budaya visual Bali seperti banten atau sarana upacara yang dihadirkan secara terfragmentasi dan ter-zoom in melalui bantuan teknologi mikroskop merepresentasikan bagaimana penulis selaku subject atau seniman Bali hari ini berupaya meletakkan kesadaran pengunaan teknologi modern dalam memandang dan mereinterpretasi aneka rupa budaya visual sebagai produk pengetahuan tradisi. Perjumpaan antara tradisi dan cara melihatnya dengan cara modern inilah yang menjadi salah satu penanda dari terjadinya kondisi post tradisi dalam kebudayaan Bali. Sebuah kondisi yang merepresentasikan bagaimana manusia Bali hari ini hidup dalam keniscayaan antara menjaga dan melestrarikan tradisi dan merayakan modernitas yang tak terelakan.  Karya-karya yang hadir juga dapat terbaca secara estetika, dalam penelitian ini penulis memakai teori estetika objektif untuk menjabarkan aspek-aspek visual yang memiliki nilai artistik dalam karya yang hadir.  AbstractThis research is an explanation of the process and results of the creation of works of art by the author which depart from the idea of presenting discourse and issues of posttraditional cultural conditions that occur in the social life of the Balinese people. The purpose of this research is to find out the processes and methods of creating works, the embodiment of works which contain aesthetic values which will be discussed with objective aesthetic theory as well as the representation of post-traditional conditions in works of art which are made using tools in the form of digital microscopes which are used as tools for scanning and enlarging various objects in visual and religious culture in Bali which are reproduced by painting work using acrylic paint on canvas. The creation method used refers to Gustami's method of art creation which consists of exploration, design and embodiment. The resulting paintings can be read as a representation of post-traditional culture in Balinese culture. This can be seen and presented through the methods or workings of painting in the works discussed in this article. The presence of various elements of Balinese visual culture such as offerings or ceremonial instruments which are presented in a fragmented and zoomed in manner with the help of microscope technology represents how writers as subjects or Balinese artists today try to place awareness of the use of modern technology in viewing and reinterpreting various forms of visual culture as products. traditional knowledge. This encounter between tradition and the way of seeing it in a modern way is one of the markers of the occurrence of post-traditional conditions in Balinese culture. A condition that represents how Balinese people today live in the inevitability between preserving and preserving traditions and celebrating modernity which is inevitable. The works that are present can also be read aesthetically, in this study the author uses objective aesthetic theory to describe the visual aspects that have artistic value in the works that are present.

Page 1 of 2 | Total Record : 12