cover
Contact Name
Khamami Zada
Contact Email
jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Phone
+6221-74711537
Journal Mail Official
jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Faculty of Sharia & Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jl. Ir. H. Juanda 95 Ciputat Jakarta 15412 Telp. (62-21) 74711537, Faks. (62-21) 7491821 Website:http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/ahkam E-mail: jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah
ISSN : 14124734     EISSN : 24078646     DOI : 10.15408
Core Subject : Religion, Social,
Focus and Scope FOCUS This journal focused on Islamic Studies and present developments through the publication of articles and research reports. SCOPE Ahkam specializes on islamic law, and is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Fatwa; Islamic Economic Law; Islamic Family Law; Islamic Legal Administration; Islamic Jurisprudence; Islamic Law and Politics; Islamic Legal and Judicial Education; Comparative Islamic Law; Islamic Law and Gender; Islamic Law and Contemporary Issues; Islamic Law and Society; Islamic Criminal Law
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 12 Documents
Search results for , issue "vol. 25 no. 2 (2025)" : 12 Documents clear
Navigating Indonesia’s State Ideology: The Siyāsah Shar’iyyah Framework Rido Hermawan; Kurniawan; Rr Dewi Anggraeni; Abdul Rahman Kadir; Achmad Syahid
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 25 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v25i2.48776

Abstract

A state ideology is exposed to threats that may weaken national resilience and sovereignty. This study examines the protection of Indonesia’s state ideology through the perspective of siyāsah shar’iyyah. Using a phenomenological approach, it explores religious paradigms in the governance practices of institutions responsible for safeguarding Pancasila, with emphasis on Islamic organizational management. The study applies a qualitative methodology grounded in the sharia legal paradigm, integrating Islamic legal principles as the analytical framework. Data were collected through in-depth interviews with institutional leaders and members, observation of managerial practices, and analysis of official documents, including operational guidelines and annual reports. The findings show that applying the siyāsah shar’iyyah framework promotes orderly and integrity-based governance through principles such as justice, trustworthiness (amānah), and consultative deliberation (mushāwarah). These values strengthen transparency, accountability, and managerial effectiveness, reinforcing organizational integrity and public trust. However, challenges remain, including resistance to organizational change and limited understanding of sharia-based management. The study concludes that Islamic paradigms can support modern governance when adapted locally.                                                                                            Abstrak Ideologi negara senantiasa menghadapi berbagai ancaman yang berpotensi melemahkan ketahanan dan kedaulatan nasional. Penelitian ini mengkaji upaya perlindungan ideologi negara Indonesia melalui perspektif siyāsah shar’iyyah. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologis, studi ini mengeksplorasi paradigma keagamaan dalam praktik tata kelola lembaga-lembaga yang bertanggung jawab menjaga ideologi Pancasila, dengan penekanan pada manajemen organisasi berbasis Islam. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif yang berlandaskan pada paradigma hukum syariah, dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip hukum Islam sebagai kerangka analisis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pimpinan dan anggota lembaga, observasi terhadap praktik manajerial, serta analisis dokumen resmi, termasuk pedoman operasional dan laporan tahunan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan kerangka siyāsah shar’iyyah mendorong tata kelola yang tertib dan berintegritas melalui prinsip-prinsip keadilan, amanah, dan musyawarah. Nilai-nilai tersebut memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas manajerial, sekaligus meningkatkan integritas organisasi dan kepercayaan publik. Namun demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, antara lain resistensi terhadap perubahan organisasi dan keterbatasan pemahaman mengenai manajemen berbasis syariah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa paradigma keislaman dapat mendukung tata kelola modern apabila diadaptasi secara kontekstual.
Lolo Bangko: Child Marriage & Family Resilience in Island Communities in South Sulawesi Abd Kadir Ahmad; Sabara; Sitti Arafah; Mustolehudin; Joko Tri Haryanto; Nur Fadhilah Mappaselleng
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 25 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v25i2.40543

Abstract

The minimum age limit for marriage is regulated by the state to control the mental readiness of prospective bride and groom. In this context, child marriage based on local traditions is widespread in island communities. Therefore, this research aims to describe the practice of child marriage and the consequent impact on family resilience in the communities of Kodingareng and Badi in Spermonde Islands, South Sulawesi. A qualitative method is applied through critical ethnography, while data collection is carried out through interviews, observation, and document review. The results show that there is prevalence of child marriage as a common practice in island communities. In this context, the society understands the minimum age limit but maintains the tradition of child marriage due to cultural, customary, religious, and economic factors. The traditional view in the form of Lolo Bangko is the fear of not finding a suitable partner in the future. Consequently, children are forced to enter into early marriage which are often conducted illegally. This has an impact on harmony, independence, and household continuity, increasing the level of divorce in young families.                                                                                       Abstrak Negara mengatur batas usia minimal untuk melangsungkan perkawinan agar calon pengantin memiliki kesiapan mental untuk membangun keluarga. Namun, perkawinan anak-anak yang didasari oleh tradisi lokal masih marak di masyarakat kepulauan. Artikel ini mendeskripsikan praktik perkawinan anak dan dampak konsekuensinya terhadap ketahanan keluarga pada masyarakat kepulauan di Pulau Kodingareng dan Pulau Badi di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode etnografi kritis, dan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan kajian dokumen. Hasil studi menunjukkan prevalensi perkawinan anak sebagai praktik umum di masyarakat kepulauan. Masyarakat telah mengetahui peraturan batas usia minimum untuk menikah, tetapi mereka mempertahankan tradisi perkawinan anak karena faktor budaya, tradisi, kepercayaan agama, dan ekonomi. Pandangan tradisional berupa Lolo Bangko, yaitu ketakutan tidak mendapatkan pasangan yang cocok di kemudian hari sehingga anak dipaksa untuk melakukan perkawinan dini yang tak jarang dilakukan secara illegal. Hal ini berdampak pada keharmonisan, kemandirian, dan bahkan keberlangsungan unit keluarga, yaitu maraknya perceraian keluarga muda.
Islamic Sale & Purchase Principles in Decentralized Exchanges: An Evaluation of Sharia Compliance Mila Dwi Rahmatya; Mohd Syahiran Abdul Latif; Mohd Hapiz Mahaiyadin; Mohd Sirajuddin Siswadi Putera Mohamed Shith
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 25 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v25i2.41250

Abstract

Decentralized Exchanges (DEX) powered by immutable and automated smart contracts have revolutionized cryptocurrency trading by eliminating intermediaries. However, the alignment of their mechanisms with Islamic principles of sale and purchase remains unclear. This study conducted a qualitative analysis to assess the sharia compliance of DEXs. This research examines the conformity of DEX trading mechanisms with sharia principles by utilizing content and normative analysis of classical and contemporary Islamic finance literature alongside DEX-related articles, white papers, and industry reports. The findings reveal critical areas of non-compliance, particularly concerning contracting parties ('aqīd) and subject matter (mabī'). DEXs lack mechanisms to verify the legal capacity of transacting parties, potentially enabling involvement from individuals deemed incompetent under sharia. Cryptocurrencies as a medium of exchange also raise concerns because of their ambiguous nature as commodities or currencies, potentially leading to gharar (uncertainty) and ḍarar (harm). While certain aspects, such as the clarity of offer and acceptance (ijāb wa qabūl) through smart contracts and specific traded assets, such as certain tokens and NFTs, might align with sharia, the overall risks associated with speculation and inherent uncertainties necessitate caution. This study recommends that Muslims approach DEXs with caution until clear guidelines and sharia-compliant platforms are established. Furthermore, increased scrutiny from Islamic scholars and regulatory bodies is crucial for ensuring this rapidly evolving technology's ethical and compliant development. Abstrak Decentralized Exchanges (DEX) yang didukung oleh smart contracts telah mengubah perdagangan mata uang kripto dengan menghilangkan peran perantara. Namun, kesesuaian mekanisme DEX dengan prinsip jual beli dalam Islam masih menjadi perdebatan. Studi ini melakukan analisis kualitatif untuk menilai kepatuhan DEX terhadap syariah. Metode analisis konten dan normatif digunakan berdasarkan literatur keuangan Islam klasik dan kontemporer, serta artikel, white papers, dan laporan industri terkait DEX. Hasil penelitian menunjukkan beberapa aspek kritis yang tidak sesuai dengan syariah, terutama terkait pihak yang berkontrak ('aqīd) dan objek akad (mabī'). DEX tidak memiliki mekanisme untuk memverifikasi kapasitas hukum pihak yang bertransaksi, sehingga berpotensi melibatkan individu yang tidak kompeten menurut syariah. Selain itu, status mata uang kripto sebagai alat tukar menimbulkan ketidakpastian terkait posisinya sebagai komoditas atau mata uang, yang dapat mengakibatkan gharar (ketidakpastian) dan ḍarar (kerugian). Meski beberapa aspek seperti penawaran dan penerimaan (ijāb wa qabūl) melalui smart contracts sesuai syariah, risiko spekulasi tetap tinggi. Oleh karena itu, studi ini merekomendasikan kehati-hatian bagi umat Muslim dalam menggunakan DEX hingga panduan syariah yang lebih jelas tersedia, serta pengawasan ulama dan regulator yang lebih ketat diperlukan.
Constitutionalizing Islamic Law in Indonesia: Sharia Courts & the Legitimate Child Clause Alfitri; Muhammad Idzhar; Muhammad Kholil Muqorrobien; Devi Kasumawati
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 25 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v25i2.41896

Abstract

Although Indonesia is not an Islamic state and does not adopt a Sharia repugnancy clause in its Constitution, since 2003, the Constitutional Court has addressed issues of Islamic law within the national legal order. Its landmark ruling on the legitimate child clause illustrates tensions between constitutional guarantees of rights and fiqh doctrines. Sunni orthodoxy defines legitimate children as those born from a valid marriage, a provision adopted into Indonesian marriage law. In practice, this excluded children from unregistered Islamic marriages, let alone those conceived outside marriage but born after their parents wed. The Court expanded legitimacy to include biological evidence, such as DNA, requiring Sharia judges to consider lineage beyond marriage registration. Using a socio-legal approach, this article combines doctrinal analysis and interviews with judges to examine compliance and internal struggles. Findings show partial compliance: cautious application in bāṭil or fāsid marriages, divided rulings on children born out of wedlock, and a gradual shift toward balancing fiqh authority with constitutional rights.   Abstrak Meskipun Indonesia bukan negara Islam dan tidak menganut klausul kepatuhan hukum dengan Syariah dalam Konstitusinya, sejak 2003 Mahkamah Konstitusi telah menangani isu‑isu hukum Islam dalam tata hukum nasional. Putusan penting mengenai klausul anak sah menunjukkan ketegangan antara jaminan konstitusional atas hak‑hak warga negara dan doktrin fikih. Menurut ortodoksi Sunni, anak sah adalah anak yang lahir dari perkawinan yang sah, suatu ketentuan yang diadopsi dalam hukum perkawinan Indonesia. Dalam praktiknya, hal ini mengecualikan anak dari perkawinan Islam yang tidak tercatat, apalagi mereka yang dikandung di luar nikah tetapi lahir setelah orang tuanya menikah. Mahkamah Konstitusi memperluas definisi anak sah dengan memasukkan bukti biologis, seperti DNA, sehingga hakim Pengadilan Agama harus mempertimbangkan nasab selain bukti perkawinan tercatat. Artikel ini menggunakan pendekatan sosio‑legal untuk menilai kepatuhan serta pergulatan internal para hakim dalam mendamaikan norma fiqh dengan mandat konstitusi. Temuan menunjukkan kepatuhan parsial: penerapan hati‑hati dalam kasus perkawinan bāṭil atau fāsid, putusan yang terbelah terkait anak luar nikah, serta pergeseran gradual menuju keseimbangan antara otoritas fiqh dan hak konstitusional.
Modern Criminological Measures to Counteract Child Substitution in accordance with Islamic Law Botagoz Abulkairova
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 25 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v25i2.42154

Abstract

This article analyzes the criminological aspects of child substitution, with a particular focus on preventive measures and punishment mechanisms under sharia and modern law. Special attention is given to the protection of the rights of newborns and their mothers in accordance with Islamic legal principles. The study underscores the importance of creating a safe, and supportive environment for women in labour and their newborns within maternity hospitals. The methodological basis of the article is the dialectical method of cognition, which ensures an objective and comprehensive analysis of legal issues in obstetric-related offences. The study also applies system analysis, comparative-legal, and other relevant methods. This article examines the legal, criminological, and Islamic approaches to preventing child substitution in Indonesia and Kazakhstan. The findings indicate that child substitution remains a significant issue in Indonesia and Kazakhstan due to gaps in existing legislation and insufficient procedural safeguards for newborn identification. The article highlights the need for modern criminological measures to prevent child swapping, including improved technical equipment in maternity hospitals and accurate identification of newborns to prevent abduction or substitution. Based on these findings, the article recommends improving national legislation, establishing specialized child protection authorities, and implementing comprehensive measures to counteract child substitution.                Abstrak Artikel ini menganalisis aspek kriminologis dari substitusi anak, dengan fokus khusus pada tindakan pencegahan dan mekanisme hukuman berdasarkan syariah dan hukum modern. Perhatian khusus diberikan pada perlindungan hak-hak bayi baru lahir dan ibunya sesuai dengan prinsip-prinsip hukum Islam. Studi ini menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi wanita dalam persalinan serta bayi baru lahir di rumah sakit bersalin. Dasar metodologis artikel ini adalah metode dialektis, yang menjamin analisis yang objektif dan komprehensif terhadap masalah hukum terkait pelanggaran dalam kebidanan. Penelitian ini juga menggunakan analisis sistem, perbandingan hukum, dan metode relevan lainnya. Artikel ini mengkaji pendekatan hukum, kriminologis, dan Islam untuk mencegah substitusi anak di Indonesia dan Kazakhstan. Temuan menunjukkan bahwa penggantian anak tetap menjadi masalah signifikan di Indonesia dan Kazakhstan akibat adanya kekurangan dalam legislasi yang ada dan jaminan prosedural yang tidak memadai untuk identifikasi bayi baru lahir. Artikel ini menyoroti perlunya tindakan kriminologis modern, termasuk peningkatan peralatan teknis di rumah sakit bersalin dan identifikasi bayi yang akurat untuk mencegah penculikan atau penggantian. Berdasarkan temuan tersebut, artikel ini merekomendasikan perbaikan undang-undang nasional, pembentukan otoritas perlindungan anak khusus, dan penerapan langkah-langkah komprehensif untuk melawan substitusi anak.
Policing, Ḥisbah & the Present Challenges of Religious Law Enforcement in Malaysia Siti Zubaidah Ismail
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 25 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v25i2.42441

Abstract

This article explores the concept of ḥisbah, which is commanding the good and forbidding the evil, and the practice of religious policing in Malaysia. It discusses the role of Religious Enforcement Officers within the framework of sharia criminal law. By using the qualitative doctrinal research approach, the study analyses statutory provisions and scholarly literature to identify operational issues in religious enforcement. Findings reveal that religious enforcement officers (REOs) operate within clear legal frameworks, leading to the consistent application of the law, and are regulated by the Shariah Criminal Procedure Law. There are several key challenges in performing these duties, including ambiguous statutory provisions, evidentiary difficulties, loopholes in addressing new and complex offences, and tensions between enforcement duties and privacy concerns. The article concludes that to maintain legitimacy and public trust, reforms are necessary to clarify legal ambiguities and ensure that enforcement remains within lawful and ethical boundaries, thereby balancing religious duties and civil liberties.   Abstrak Artikel ini mengkaji konsep ḥisbah, yaitu memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, serta praktik polisi agama di Malaysia. Artikel ini membahas peran petugas penegakkan agama dalam kerangka hukum pidana syariah. Dengan menggunakan pendekatan penelitian doktrinal kualitatif, studi ini menganalisis ketentuan perundang-undangan dan literatur akademik untuk mengidentifikasi isu operasional dalam penegakkan agama. Temuan menunjukkan bahwa petugas penegakkan agama beroperasi dalam kerangka hukum yang jelas, sehingga penerapan hukum berlangsung secara konsisten, dan diatur oleh Undang-Undang Prosedur Pidana Syariah. Ada beberapa tantangan utama dalam melaksanakan tugas ini, termasuk ketentuan undang-undang yang ambigu, kesulitan pembuktian, celah hukum dalam menangani pelanggaran baru dan kompleks, serta ketegangan antara tugas penegakkan dan masalah privasi. Artikel ini menyimpulkan bahwa untuk menjaga legitimasi dan kepercayaan publik, diperlukan reformasi untuk memperjelas ambiguitas hukum dan memastikan bahwa penegakan tetap berada dalam batas hukum dan etika, sehingga menyeimbangkan antara kewajiban agama dan kebebasan sipil.
Enforcing Arbitration Awards: Ensuring Sharia Compliance in Islamic & Secular Jurisdictions Herliana
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 25 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v25i2.42795

Abstract

This study examines the challenges and solutions for enforcing arbitration awards in jurisdictions governed by both sharia (Islamic) law and secular (national) law. It focuses on structuring arbitration agreements and awards to comply with Sharia principles while ensuring enforceability in both legal systems. The research highlights potential conflicts between these frameworks and proposes strategies to harmonize them, ensuring recognition and enforcement across diverse legal contexts. A key focus is the difficulty of enforcing awards that include elements prohibited by sharia, such as ribā (interest), gharar (uncertainty), and maysir (gambling). The study provides practical guidance for legal professionals, arbitrators, and businesses, offering insights into ensuring enforceability while avoiding legal conflicts in cross-border disputes. This study employs a juridical normative approach, focusing on the analysis of laws, legal principles, and relevant case decisions. The data is analyzed using a qualitative method, emphasizing legal interpretation and conceptual analysis. A significant finding is that awards containing elements forbidden under sharia face enforcement challenges, potentially leading to non-recognition in sharia-compliant jurisdictions. To ensure enforceability, awards must adhere to sharia principles and international legal conventions, emphasizing fairness, transparency, and avoiding interest-based mechanisms. Non-compliance risks invalidation or rejection of the award.                                                                                       Abstrak Penelitian ini membahas tantangan dan solusi pelaksanaan putusan arbitrase di yurisdiksi yang menerapkan hukum syariah dan hukum sekuler. Fokus utamanya adalah bagaimana menyusun perjanjian dan putusan arbitrase agar sesuai dengan prinsip syariah sekaligus dapat diberlakukan dalam kedua sistem hukum. Penelitian ini mengeksplorasi potensi konflik antara kedua sistem tersebut dan mengidentifikasi cara untuk menyelaraskannya guna memastikan keberlakuan putusan arbitrase. Penelitian ini menyoroti kesulitan dalam menegakkan putusan yang mengandung elemen-elemen yang dilarang oleh syariah, seperti ribā (bunga), gharar (ketidakpastian), dan maysir (perjudian). Untuk itu, diperlukan rancangan perjanjian arbitrase yang selaras dengan prinsip syariah dan hukum sekuler, terutama dalam konteks perdagangan internasional yang melibatkan berbagai latar belakang hukum. Temuan utama menunjukkan bahwa putusan arbitrase dengan elemen-elemen yang dilarang oleh syariah sering kali tidak dapat diberlakukan di yurisdiksi syariah. Agar putusan arbitrase dapat diakui, diperlukan kesesuaian dengan prinsip keadilan, transparansi, serta penghindaran mekanisme berbasis bunga. Kegagalan mematuhi ketentuan ini dapat mengakibatkan pembatalan putusan arbitrase.
Abuse of Rights: A Comparative Study between Mālikī Jurisprudence & Positive Law Yassine Chami; Dina Imad; Maya Khater; Mohamed El Arbi Aoka
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 25 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v25i2.44606

Abstract

This paper offers a comparative analytical evaluation of the theory of abuse of rights as articulated within Mālikī jurisprudence and in positive law. It highlights the doctrinal foundations of this theory within the Mālikī school, characterized by the extensive application of this concept to encompass all types of harm, supported by evidence from the Holy Quran and Sunnah. The research also employs a qualitative method based on a comparative analysis of classic jurisprudential texts, such as al-Muwāfaqāt, al-Furūq, and al-Mudawwanah, while specifically focusing on contemporary positive law, such as the civil codes of Egypt and Algeria. The study demonstrates that there is a high degree of overlap between the core criteria laid down by Mālikī jurisprudence related to the abuse of rights and the related criteria adopted in contemporary positive law, especially concerning three basic criteria: the illegitimacy of the interest; the intent to harm others; and the inconsistency between the interest sought and the harm caused. The study also demonstrates that Mālikī jurisprudence was at the forefront of developing an integrated theory of abuse of rights that carefully balances private interests with broader public-interest principles.                                                                                       Abstrak Paper ini menyajikan evaluasi analitis komparatif terhadap teori penyalahgunaan hak sebagaimana dirumuskan dalam fikih Mālikī  dan dalam hukum positif. Kajian ini menyoroti landasan doktrinal teori tersebut dalam mazhab Mālikī, yang dikenal penerapannya yang luas sehingga mencakup semua bentuk kemudaratan, didukung oleh dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan komparatif terhadap teks-teks fikih klasik, seperti al-Muwāfaqāt, al-Furūq, dan al-Mudawwanah, serta membandingkannya dengan hukum positif kontemporer, khususnya dalam kodifikasi perdata Mesir dan Aljazair. Hasil penelitian menunjukkan adanya tingkat keselarasan yang signifikan antara prinsip dasar dalam fikih Mālikī terkait penyalahgunaan hak dan prinsip yang diadopsi dalam hukum positif modern, terutama terkait tiga prinsip utama: ketidakabsahan kepentingan yang diperjuangkan; adanya niat untuk merugikan pihak lain; dan ketidakseimbangan antara tujuan yang ingin dicapai dengan kerugian yang ditimbulkan. Studi ini juga menegaskan bahwa fikih Mālikī berada di garda terdepan dalam merumuskan teori penyalahgunaan hak yang komprehensif, yang mampu menyeimbangkan kepentingan individu dengan prinsip kemaslahatan umum.
Equality from The Perspective of Islamic Constitutional Law al-Musāwah & Legal Equality in Islamic Constitutional Frameworks Masykuri Abdillah
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 25 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v25i2.46563

Abstract

This article examines equality from the perspective of contemporary Islamic constitutional law (fiqh al-siyāsah), focusing on al-musāwah within the framework of human rights and modern political systems. Using the Quran, ḥadīth, and the opinions of ulama and Muslim intellectuals, analyzed via usūl al-fiqh with attention to maqāṣid al-sharīʿah, the study highlights that most contemporary scholars uphold equality as a foundational principle of society and the state. Here, equality refers to legal equality (al-musāwah al-qānūniyyah or al-musāwah amām al-qaḍāʾ), rather than factual equality (al-musāwah al-fiʿliyyah) or general equality of opportunity (al-musāwah fī takāfuʾ al-furṣah). Equality of opportunity applies to free state services such as education and healthcare, which facilitate social mobility. Certain inequalities remain, particularly concerning the status of Muslims versus non-Muslims and men versus women. Key examples include inheritance, polygamy, testimony, and the practice of ḥijāb or niqāb, all based on qaṭʿī (definitive) evidence. Nevertheless, many contemporary scholars engage in ijtihād to reinterpret these rulings in modern contexts and uncover their underlying wisdom.                                                                                       Abstrak Artikel ini membahas gagasan kesetaraan dari perspektif fiqh al-siyāsah kontemporer, dengan menempatkan konsep al-musāwah dalam kerangka hak asasi manusia dan sistem politik modern. Dengan merujuk pada Al-Qur’an, hadis, serta pandangan para ulama dan intelektual Muslim, yang dianalisis melalui pendekatan uṣūl al-fiqh dengan mempertimbangkan maqāṣid al-sharīʿah, studi ini menunjukkan bahwa mayoritas ulama kontemporer menempatkan kesetaraan sebagai prinsip fundamental dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam kajian ini, kesetaraan dipahami terutama sebagai kesetaraan di hadapan hukum (al-musāwah al-qānūniyyah atau al-musāwah amām al-qaḍāʾ), bukan kesetaraan faktual (al-musāwah al-fiʿliyyah) ataupun kesetaraan kesempatan (al-musāwah fī takāfuʾ al-furṣah). Kesetaraan kesempatan lebih relevan dalam konteks akses terhadap layanan publik yang disediakan negara, seperti pendidikan dan layanan kesehatan, yang berperan penting dalam mendorong mobilitas sosial. Pada saat yang sama, artikel ini juga mengakui bahwa bentuk-bentuk ketidaksetaraan tertentu masih dipertahankan dalam hukum Islam, khususnya terkait relasi Muslim dan non-Muslim, serta antara laki-laki dan perempuan. Hal ini tampak, misalnya, dalam pengaturan warisan, poligami, kesaksian, serta praktik jilbab atau niqab, yang umumnya bersandar pada dalil-dalil qaṭʿī. Meski demikian, banyak ulama kontemporer terus melakukan ijtihad untuk membaca ulang ketentuan-ketentuan tersebut dalam konteks sosial modern, sekaligus menggali hikmah dan tujuan normatif yang mendasarinya.
Adapting Fiqh al-Aqalliyāt in Japan: Islamic Legal Responses to Muslim Social Life in a Minority Context Ade Dedi Rohayana; Maghfur Ahmad; Taufiqur Rohman; Achmad Gazali
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 25 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v25i2.46709

Abstract

The adaptation of fiqh al-aqalliyāt (Islamic jurisprudence for Muslim minorities) poses legal and social challenges for Muslims in non-Muslim majority countries. Japan, with its secular legal system and predominantly non-Muslim society, offers a distinct context to examine how Muslim communities maintain religious practices in a non-supportive environment. This study explores how Muslims in Japan adjust their religious obligations despite limited access to religious facilities, how they reconcile Islamic law with Japanese state law, and how these adjustments influence social integration. Data were gathered through qualitative methods, including in-depth interviews with Muslim community members and leaders in urban areas such as Tokyo, Mito, Koga and Ibaraki. Using the frameworks of legal pluralism and maṣlaḥah-based reasoning, the study reveals that Muslims apply flexible interpretations of fiqh al-aqalliyāt, including time adjustments for prayer, the use of shared spaces for worship, and legal innovations in marriage. These adaptive strategies help sustain religious identity while fostering coexistence. The study concludes that fiqh al-aqalliyāt can serve as a dynamic legal tool to harmonize religious commitments with minority realities, contributing to the broader discourse on Islamic law in global minority contexts.   Abstrak Adaptasi fiqh al-aqalliyāt menghadirkan tantangan signifikan bagi Muslim yang hidup sebagai minoritas di negara non-Muslim. Studi kualitatif ini mengkaji bagaimana komunitas Muslim di Jepang—sebuah negara sekuler dengan sistem hukum dan masyarakat yang khas—mengatasi keterbatasan akses terhadap fasilitas ibadah dan mendamaikan hukum agama dengan hukum negara. Melalui wawancara mendalam dengan anggota komunitas di wilayah perkotaan (termasuk Tokyo dan Ibaraki), penelitian ini menemukan bahwa dengan menggunakan kerangka pluralisme hukum dan pendekatan berbasis maṣlaḥah, Muslim Jepang menerapkan interpretasi fiqh al-aqalliyāt yang fleksibel, seperti penyesuaian waktu salat, penggunaan ruang bersama untuk ibadah, dan inovasi dalam masalah pernikahan. Strategi adaptif ini memungkinkan mereka mempertahankan identitas keagamaan, mendorong integrasi sosial, dan hidup berdampingan secara harmonis, sekaligus menegaskan bahwa fiqh al-aqalliyāt dapat menjadi instrumen hukum yang dinamis untuk menyelaraskan komitmen keagamaan dengan realitas minoritas global.

Page 1 of 2 | Total Record : 12