cover
Contact Name
Teresia Noiman Derung
Contact Email
teresiaderung@gmail.com
Phone
+6282143778367
Journal Mail Official
sapa@stp-ipi.ac.id
Editorial Address
Jln. Seruni No 6 MALANG 65141, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sapa: Jurnal Kateketik dan Pastoral
ISSN : 25035150     EISSN : 26543214     DOI : https://doi.org/10.53544/sapa
Core Subject : Religion, Education,
SAPA merupakan jurnal yang dikelola oleh STP-IPI Malang. Nama SAPA, bukan sebuah nama kebetulan dan juga bukan singkatan. Melainkan memiliki makna yang amat mendalam. Sapa tidak hanya sekedar menyapa para pembaca melainkan mengajak para pembaca untuk semakin mendalami karya pastoral dan katekese, sehingga juga menjadi terlibat dalam kegiatan pastoral dan katekese di manapun berada
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 172 Documents
PERUBAHAN SOSIAL DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT Goa, Lorentius
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penulis mencoba menguraikan soal perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat berdasarkan teori-teori perubahan sosial. Perubahan sosial merupakan suatu proses pergeseran struktur atau tatanan didalam masyarakat, yang meliputi pola pikir yang lebih inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan penghidupan yang lebih bermartabat. Tokoh-tokoh yang berbicara soal perubahan sosial adalah: Kingsley Davis, Mac Iver, Selo Soemarjan, William Ogburn. Kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan gejala yang wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia di dalam masyarakat. Perubahan-perubahan sosial akan terus berlangsung sepanjang masih terjadi interaksi antarmanusia dan antarmasyarakat. Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat, seperti perubahan dalam unsur-unsur geografis, biologis, ekonomis, dan kebudayaan. Perubahan sosial dalam masyarakat tidak boleh dilihat dari satu sisi saja, sebab perubahan ini dapat mengakibatkan pergeseran pada banyak sektor dalam masyarakat sosial. Hal ini berarti, perubahan sosial akan selalu terjadi pada setiap bagian dari masyarakat itu sendiri. Gejala perubahan sosial dalam masyarakat dapat dilihat dari terjadinya perubahan sistem nilai maupun norma yang berlaku saat itu dan yang tidak berlaku lagi dalam masyarakat. Tentu saja, perubahan sosial ini terjadi bukan semata mata karena individu dalam masyarakat tersebut yang mau berubah, akan tetapi karena adanya perkembangan dari berbagai sektor khususnya teknologi.
SPIRITUAL LEADERSHIP YESUS MENGATASI PROBLEM PENGIKUT Leba, Katarina
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze, describe, discuss, and discover how the spiritual leadership of Jesus and the way Jesus influenced others to follow Him. With literature approach, the data were collected and analyzed. From the analysis and discussion found that Jesus has wonderful spiritual leadership qualities. He underlies His leadership in the pursuit of His Father's will. To arrive at the successful implementation of the will of the Father (the authoritative party), Jesus built in himself the values: justice, mercy, and faithfulness. On the basis of these values, Jesus did all the activities, including teaching, preaching the good news (the gospel), interspersed with feeding, healing, exorcism, and raising the dead. In addition to being indirect, through good works, Jesus openly also invites people to followers at the risk of living altruistic love-a radical (sacrifice); willing to die for the safety and happiness of all people.
OPTIMALISASI SELF-REGULATED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN SUCCESS IDENTITY Laka, Laurensius
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap anak seharusnya memperoleh kesempatan untuk menciptakan success identity, terutama ketika usianya memasuki tahap perkembangan psikososial industry versus inferiority. Pada tahap ini, sejumlah besar energi disalurkan untuk menguasai keahlian sosial yang diperlukan pada masa dewasanya kelak. Jika tidak memperoleh pengalaman sukses, maka anak dapat mengalami perasaan rendah diri (inferiority) yang berpotensi mempengaruhi proses belajar dan tahap-tahap perkembangan selanjutnya. Oleh sebab itu, pada tahap ini menjadi langkah awal yang harus diraih anak untuk menciptakan success identity. Pemenuhan kebutuhan identity ditentukan oleh sejauh mana individu merasa dirinya mampu memenuhi kebutuhan akan cinta (love) dan kebutuhan untuk merasa dirinya berharga (worthwhile), baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Namun sayangnya, individu tidak dapat secara otomatis mencapai perasaan berharga itu tanpa pengetahuan dan kemampuannya untuk berpikir. Cara terbaik untuk menggali potensi siswa dalam berpikir adalah dengan self-regulated learning (SRL), yang dapat dimaknai sebagai sejauh mana siswa secara metacognitive, motivational, dan behavioral, berpartisipasi aktif dalam proses belajarnya sendiri. Dalam metacognitive processes, siswa yang self-regulated melakukan proses-proses plan, set goals, organize, self-monitor, dan self- evaluate. Dalam motivational processes, siswa yang self-regulated menampilkan self-efficacy, self-attribution, dan menunjukkan minat pada tugas-tugas intrinsik yang tinggi. Siswa yang demikian adalah siswa yang self-starter, yang menampilkan usaha dan ketekunan luar biasa. Sementara itu, dalam behavioral processes, siswa yang self-regulated melakukan proses memilih, menyusun, dan menciptakan lingkungan belajar yang dapat mengoptimalkan proses belajarnya. Alhasil, penelitian-penelitian seputar SRL menunjukkan kaitan yang erat antara SRL dan prestasi belajar, di mana individu yang menerapkan strategi SRL secara optimal cenderung memiliki prestasi belajar yang lebih tinggi, sebab siswa yang menerapkan SRL melihat dirinya sebagai agen dari perilakunya sendiri. Siswa yang demikian, meyakini bahwa belajar adalah proses proaktif, self-motivated, dan menghubungkan success identity atau failure identity pada besarnya usaha, bukan pada faktor keberuntungan, atau sumber-sumber lain yang tak dapat dikendalikannya. Siswa yang demikian menggambarkan pribadi yang bertanggung jawab (responsible person), pribadi yang memiliki kesehatan mental, yang dapat mengekspresikan perasaan- perasaannya secara bebas, bertindak secara mandiri, dan pada akhirnya menjadi pribadi yang sungguh-sungguh berfungsi secara sempurna (fully functioning person).
PERILAKU SOSIAL KOMUNITAS ALMA PUTERI DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT DI DESA PURWOREJO DONOMULYO Derung, Teresia Noiman
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perilaku sosial merupakan suasana saling membutuhkan yang merupakan keharusan untuk menjamin keberadaan manusia. Perilaku sosial memusatkan perhatian pada tingkah laku dan pengulangan tingkah laku tertentu sebagai pokok persoalan. Tingkah laku yang dimaksud adalah tingkah laku yang dapat diamati dan dipelajari secara empiris. Sebagai bukti bahwa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup sebagai diri-pribadi tidak dapat melakukannya sendiri melainkan memerlukan bantuan dari orang lain. Penulis meneliti perilaku sosial komunitas ALMA Puteri dalam kehidupan bermasyarakat di Donomulyo karena komunitas ALMA Puteri tidak hanya menangani anak berkebutuhan khusus di wisma, tetapi terlibat secara langsung dalam kehidupan bermasyarakat, dengan mengadakan pertemuan paguyuban orang tua anak disabilitas, terlibat dalam perayaan Satu Suro, dan terlibat dalam kegiatan kemerdekaan Indonesia.Masalah yang akan digali dalam penelitian ini, adalah bagaimana perilaku sosial komunitas ALMA Puteri dalam kehidupan bermasyarakat di Desa Purworejo Donomulyo. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku sosial komunitas ALMA Puteri dalam kehidupan bermasyarakat di Desa Purworejo Donomulyo. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, dengan metode wawancara atau inerview. Hasil dari wawancara ditemukan bahwa komunitas ALMA Puteri yang ada di Donomulyo aktif dalam berbagai kegiatan dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu pertemuan paguyuban orang tua anak disabilitas, aktif dalam kegiatan Satu Suro, dan aktif dalam persiapan ulang tahun kemerdekaan Negara Repubilk Indonesia. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah perilaku sosial komunitas ALMA Puteri yang ada di Purworejo Donomulyo aktif.
PERCAKAPAN SEHARI-HARI SEBAGAI SARANA EVANGELISASI Yulius, Martinus Irwan
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 3 No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan dunia karena pengaruh perkembangan tidak bisa dipungkiri. Pengaruhnya kepada mereka yang telah dibaptis maupun mereka yang bukan kristen. Seruan seruan Evangelisasi baru untuk menghadapi tantangan ini telah dimulai oleh Paus Yohanes Paulus II dalam berbagai kesempatan. Sejak saat itu, pesan Injil yang tetap sama itu perlu disampaikan dengan cara-cara, semangat-semangat dan metode-metode yang baru. Artikel ini mencoba menggali dan menerapkan gagasan Groome dalam sebuah pedagogi pendidikan iman. Metode ini memang digagas dalam konteks formal; namun tidak menutup kemungkinan metode ini diterapkan dalam konteks yang lebih informal. Penulis melihat bahwa percakapan sehari-hari bisa menjadi sarana dan konteks pewartaan yang baik. Dengan menerapkan metode Groome dalam percakapan sehari-hari, pewartaan Injil tetap bisa dijalankan dan lebih menyentuh konteks kehidupan manusia.
EDITORIAL JURNAL SAPA VOL. 3 NO. 1 Editor, Tim
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 3 No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGUATAN LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI KEAGAMAAN: PENELITIAN DOSEN PTAK Sarumaha, Aloma
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 3 No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap Dosen di Perguruan Tinggi dituntut untuk melaksanakan Tri Dharma Peguruan Tinggi yaitu, Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Tulisan ini bermaksud untuk menyampaikan gagasan pentingnya penguatan lembaga pendidikan Tinggi Keagamaan melalui penelitian para dosen. Setiap dosen di Peguruan Tinggi memiliki kewajiban untuk melaksanakan penelitian. Mengingat pentingnya penelitian, maka kegiatan penelitian dicoba difasilitasi oleh Pemerintah, cq. Ditjen Bimas Katolik, khususnya Direktorat Pendidikan Katolik. Fasilitasi ini sekaligus sebagai tanda kehadiran Negara untuk memperkuat masyarakat, dan untuk event ini, penguatan itu melalui aktivitas riset yang dilakukan oleh dosen PTAK. Sekaligus, dengan demikian, riset ini menjadi ruang bagi dosen PTAK untuk memperkembangkan kemampuannya dalam mengorganisasi situasi sosial yang mengandung unsur positif. Dengan demikian posisi Pemerintah adalah memfasilitasi sejauh memungkinkan; perguruan tinggi tetap mempunyai tanggung jawab untuk berjuang agar aktivitas penelitian terselenggara dengan baik dan teratur. Dan kelihatannya ke depan, research policy ini akan diutamakan untuk mereka yang sudah bergelar doktor dan berjabatan akademik lektor. Dengan demikian yang masih magister dan asisten ahli akan dilimpahkan ke PTAK untuk mengelolanya sendiri.
KORELASI ANTARA KOMPETENSI PEDAGOGI GURU PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DENGAN KEBERHASILAN SISWA SEKOLAH DASAR DI MALANG Sukendar, Yohanes
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 3 No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan apakah ada korelasi antara kompetensi Guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) dengan keberhasilan siswa dalam memperoleh nilai untuk rapor dan kehidupan siswa. Hanya saja dalam penelitian ini tidak semua komptensi guru diukur. Dari empat komptensi yang seharusnya dimiliki oleh guru, yang mau diteliti dalam penellitian ini adalah komptensi pedagogi. Komptensi pedagogi adalah kemampuan guru pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasi berbagai potensi yang dimiliki. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pendapat dari Petunjuk Umum Katekese bahwa proses pembelajaran bidang studi PAK yang paling menentukan adalah peranan Guru. Maka jika kemampuan guru dalam bidang pedagogi sangat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam hasl nilai dan kehidupan rohaninya sebagai anak Katolik. Metodologi yang dgunakan adalah kuesioner dan nilai raport. Subyek penelitian adalah semua Guru PAK SD di Malang dan murid-murid. Khusus untuk murid- murid dibatasi kelas 4 sampai 6 dan diambil antara 3 sampai 6 siswa. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa korelasi komptensi pedagogi Guru Agama Katolik dengan partisipasi siswa dalam pembelajaran PAK, diperoleh hasil 0,237, artinya ada korelasi antara komptensi Guru Agama Katolik dengan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Semakin tinggi hidup rohani dan kemampuan pedagogi Guru Agama Katolik semakin tinggi pula partisipasi siswa dalam pembelajaran.
PERJUMPAAN INTERKULTURAL GURU DAN SISWA UNTUK MENGIKIS BUDAYA TIDAK BERANI BERPENDAPAT Subasno, Yohanes
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 3 No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap bayi dilahirkan dengan tangisan yang mirip bahkan sama, namun akhirnya mereka mengembangkan kecakapan bahasa yang berbeda. Hal itu terjadi karena pengaruh lingkungan dan pendidikan yang diterimanya. Paling mudah mengidentifikasi perbedaan budaya adalah dari bahasanya. Interaksi berbagai budaya kerap dijumpai di masyarakat, termasuk di sekolah-sekolah. Penulis tertarik mempelajari interaksi dua budaya di sekolah, yakni budaya Indonesia Timur yang lebih terbuka, diwakili oleh guru, dan budaya Jawa yang cenderung tidak berani berpendapat dari kalangan siswa. Apakah perjumpaan interkultural guru dan siswa dapat mengikis ketidakberanian berpendapat? Beberapa teori mengemukakan bahwa budaya diwariskan dari generasi ke generasi. Dua polar budaya yang terus diperbincangkan adalah budaya kolektif dan individualis, yang keduanya bertalian erat dengan pemilihan kata dan pembentukan kalimat dalam berkomunikasi. Seorang yang berkomunikasi lebih dari satu bahasa, akan memiliki pola pikir mengikuti bahasa yang sedang digunakannya. Uncertainty management theory menyebutkan, komunikasi seseorang dipengaruhi konsep diri, motivasi berinteraksi, reaksi terhadap orang asing, kategori sosial orang asing, proses situasional, dan koneksi dengan orang asing. Unsur-unsur tersebut mempengaruhi kecemasan, menyebabkan ketidakberanian mengungkapkan pendapat termasuk bertanya. Interaksi interkultural yang terjadi di kelas menempatkan guru sebagai pusat perhatian siswa. Gaya komunikasi yang dipengaruhi oleh budaya aslinya, berpengaruh pada siswa. Timbulah konflik dalam diri siswa: mendengarkan guru sebagai kepatuhan versus guru yang menawarkan gaya lebih bebas berekspresi. Bila proses ini berjalan natural, maka ketidakberanian mengemukakan pendapat akan terkikis. Namun perjumpaan interkultural juga berpotensi menyebabkan miskomunikasi dan salah paham. Jika terus terjadi, dapat mengakibatkan antitesis hipotesa dalam artikel ini.
PENDIDIKAN SEBAGAI HABITUS TRANSFORMASI DIRI: Kajian definisi, aspek dan tujuan Pendidikan Selatang, Fabianus
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 3 No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan definisi, aspek dan tujuan pendidikan dari sudut pandang filsafat. Filsafat pendidikan menyentuh tiga hal penting yakni being and reality, knowledge, and value. Ketiga hal penting itu dikupas dalam konteks pendidikan di Indonesia dewasa ini. Penulis mengawali pembicaraan ini dari hingar-bingar dan sepak terjang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. Saat yang sama, manusia dihadapkan dengan idealisme dan tuntutan zaman. Metode yang dipakai oleh penulis adalah kepustakaan dengan mengkaji beberapa literatur yang terkait dengan filsafat pendidikan. Penulis mendalami dan manggali dari beberapa literatur terkait pendidikan. Yang akan dikaji dan didalami dari tema mengenai pendidikan ini ialah definisi, aspek dan tujuan pendidikan. Selain tiga hal tersebut, penulis menambahkan beberapa sub bagian yang terkait dengan judul di atas. Hasil temuan dari kajian literatur ini antara lain. Pertama, gagasan pendidikan sebagai habitus merupakan kajian yang emblematis. Dikatakan demikian karena pendidikan dihadapkan dengan konsep-konsep yang diusung oleh modernitas. Ketika pendidikan hanya menekankan aspek akal budi, maka aspek karakter, religiusitas, moralitas, dan reflektif kurang mendapat tempat. Kedua, pendidikan dewasa ini dihadapkan pada dua hal yakni idealisme dan impasse (kebutuhan). Ketiga, subjek dari pendidikan ialah manusia. Oleh karena itu, pendidikan menyentuh totalitas diri manusia seutuhannya dan bukan manusia yang parsial. Kesimpulanya, pendidikan sebagai habitus transformasi diri mengajak setiap pelaku pendidikan untuk mengembalikan roh dari pendidikan itu sendiri, sehingga rohnya tidak tercabut dan direduksi dari manusia modern.

Page 4 of 18 | Total Record : 172