cover
Contact Name
Teresia Noiman Derung
Contact Email
teresiaderung@gmail.com
Phone
+6282143778367
Journal Mail Official
sapa@stp-ipi.ac.id
Editorial Address
Jln. Seruni No 6 MALANG 65141, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sapa: Jurnal Kateketik dan Pastoral
ISSN : 25035150     EISSN : 26543214     DOI : https://doi.org/10.53544/sapa
Core Subject : Religion, Education,
SAPA merupakan jurnal yang dikelola oleh STP-IPI Malang. Nama SAPA, bukan sebuah nama kebetulan dan juga bukan singkatan. Melainkan memiliki makna yang amat mendalam. Sapa tidak hanya sekedar menyapa para pembaca melainkan mengajak para pembaca untuk semakin mendalami karya pastoral dan katekese, sehingga juga menjadi terlibat dalam kegiatan pastoral dan katekese di manapun berada
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 172 Documents
KATEKESE DALAM KONTEKS SOSIO-RELIGIUS MENURUT PETUNJUK UMUM KATEKESEDAN RELEVANSINYA BAGI PENGEMBANGAN KATEKESE DI PAROKI Sukendar, Yohanes
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan katekese atau pendalaman iman banyak dilaksanakan di paroki-paroki, biarpun minat umat untuk kegiatan katekese paroki ini masih kalah jauh dibandingkan dengan kegiatan devosi. Kadang-kadang tema-tema yang diberikan dalam katekese paroki belum mengarah ketujuan tertentu, kecuali katekese persiapan menerima sakramen. Petunjuk Umum Katekese yang dikeluarkan oleh kongregasi untuk Imam pada tahun 2010, dalam artikel 193 sampai dengan 201 membahas tentang katekese dalam konteks sosio-religius. Katekese dalam konteks sosio- religius ini sangat tepat untuk dikembangkan dalam paroki-paroki, sebab katekese ini membimbing umat dalam rangka: menghadapi situasi Indonesia yang kompleks dan plural; kegiatan devosi-devosi populer yang banyak dilaksanakan oleh umat; kegiatan ekumene; dialog dengan agama- agama dan kepercayaan lain serta katekese dalam hubungannya dengan gerakan-gerakan religius baru.
MASALAH DISABILITAS DAN SOSIAL KEMASYARAKATAN DI MALANG RAYA Subasno, Yohanes
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Attention to the issue of disability becomes more intense and widespread in Indonesia proven by a newlaw: Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 about Disabled Persons. The Study Program on Pastoral Ministry in its vision and mission speaks about empowering of persons with special needs by encouraging inclusive life. As a lecturer of Community Based Rehabilitation and working together with Pilar Analisa Indonesia I did a survey on disability and social problems in Malang and its regency from July 22until August 5, 2016 using random sampling. Results of this survey are: (1)Family, neighbours and public view disabled persons ranging from treating them like other persons to unhuman activities like hiding them. (2)The economic conditions of disabled persons are less or poor because of their disability and limited opportunities. (3)Government programs for disabled persons cannot be felt by them. (4)The disability of disabled persons causes that they have low self-esteem and lack of confidence. (5) The availability of special facilities for disabled persons are very rarel found including public transportation accessibilities.
MELAWAN RELIGIOUS IGNORANCE: (Dialog Ide The Sense of Fullness menurut Charles Taylor dan Zen) Selatang, Fabianus
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini merupakan sebuah upaya untuk mengelaborasi pemikiran Charles Taylor yang tertuang dalamA Secular Agedan ajaran Zen. Dalam terang tulisan itu nampak bahwa nilai-nilai religius masih pantas dipeluk oleh manusia zaman ini. Bahkan di tengah gejala kedangkalan dan keputusasaan, agama justru senantiasa menawarkan kekuatan yang pantas direfleksikan karena mampu membawa manusia ke kedalaman hidupnya sebagai makluk religius yang selalu mencari cita rasa kepenuhandi dalam hidupnya. Di tengah era sekularisme yang telah memarginalisasikan nilai agama ke dalam ranah privat manusia, agama masih memiliki spirit dan kekuatan yang memungkinkan manusia mencapai kedalaman meaning di dalam hidupnya. Sebenarnya keprihatinan terbesar bukan hanya soal pengurungan nilai-nilai agama ke dalam ranah privat manusia, melainkan juga pada persoalan kejenuhan manusia dengan pergumulan personal dan komunal terhadap agama yang pada akhirnya menciptakan pribadi yang ignorant terhadap nilai-nilai religius. Status Questionis-nya adalah apakah memang nilai-nilai religius tidak begitu relevan lagi dan tidak menjadi prioritas bagi manusia dewasa ini sebagaimana ciri khas masyarakat sekular? Atau apakah gambaran sosio-religius semacam itu hanyalah ekspresi keangkuhan intelektual manusia yang pada akhirnya menjebak manusia kepada suatu pengalaman disengagement? Apakah benar bahwa agama menciderai nilai-nilai kebebasan dan otonomitas manusia yang kini sungguh-sungguh menjadi ideal tertinggi kaum sekular sehingga agama dianggap hanya pantas berada dalam ruang-ruang ibadat kaum tradisionalis?
PENURUNAN JUMLAH UMAT KATOLIK DI PAROKI MARIA RATU DAMAI PURWOREJO DONOMULYO Derung, Theresia Noiman; Goa, Lorentius; Batlyol, Antonela
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehadiran Gereja sebagai umat Allah adalah tanda dan sarana kehadiran Kristus sendiri di dunia. Gereja bermaksud menyatakan dengan lebih konkrit ajaran dan teladan Kristus bagi dunia terutama bagi keselamatan seluruh umat manusia. Salah satu sifat hakiki dari Gereja adalah apostolik, dengan ciri ini mau ditegaskan adanya kesadaran bahwa Gereja dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru (Ef. 2:20). Gereja yang dibangun pada zaman para rasul berkembang dengan pesat sampai saat ini. Hal ini terjadi karena mereka bertekun dalam pengajaran para rasul dan persekutuan. Mereka sehati-sejiwa selalu berkumpul untuk berdoa dan memecahkan roti, mereka bersatu dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyan bersama (Kis.2:41-47). Cara hidup jemaat perdana menjadi tonggak untuk kehidupan Gereja selanjutnya sampai saat ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah umat Katolik di Stasi mengalami penurunan sebesar 579. Hal ini dikarenakan faktor pindah agama 316 orang (54,5%), umat meninggal 137 orang (23,7%), pindah tempat 126 orang (21,8%). Dengan demikian, penurunan jumlah umat terbesar disebabkan karena pindah agama yang dilatarbelakangi oleh perkawinan.
PENGGEMBALAAN UMAT DALAM MENUMBUH-KEMBANGKAN IMAN KATOLIK RADIKAL Mudjijo, Paulus; Jumilah, Bernadeta Sri
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Iman yang radikal adalah iman yang berakar bahkan mengakar. Iman yang radikal justru dibutuhkan karena yang ditawarkan dunia bisa menggoyahkan keyakinan. Hidup keagamaan yang tidak dilandasi iman yang radikal adalah hidup keagamaan yang dapat diibaratkan dengancasing saja, yang tampak dari luar, tapi tidak dapat diketahui isi yang ada di dalamnya. Iman sebaiknya mengakar. Mengakar berarti menjangkau atau menyerupai akar, menjadi akar. Iman yang mengakar adalah iman yang mencengkeram sumber yang menghidupkan dan memperkokoh, bahkan diharapkan menjadi sumber kehidupan dan kekuatan itu sendiri. Dari iman yang mendalam itulah tumbuh berbagai buah iman. Orang Kristiani diharapkan radikal dalam beriman, tanpa menjadi radikalis atau jatuh dalam radikalisme. Pribadi yang radikal dalam beriman adalah pribadi yang memiliki Kristus sebagai akar kehidupannya dan menggantungkan diri pada Kristus sebagai sumber kehidupan dan kekuatan. Penggembalaan umat sangat penting bagi orang Kristiani dalam menghadapi paham radikalisme. Penggembalaan yang diperlukan adalah pemerhatian umat secara individual melalui kunjungan pengenalan secara pribadi yang mempererat relasi, pemerhatian umat secara keluarga dengan kunjungan keluarga, penggembalaan kelompok umat, saling memberi perhatian di antara umat, membawanya ke padang yang berumput hijau dan sumber air yang segar (Mazmur 23: 1-6).
PEMBAHARUAN LITURGI EKARISTIKONSILI VATIKAN II Haryadi, Antonius
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembaharuan Liturgi Ekaristi yang sesuai dengan zaman, dan teologi Gereja, menjadi kebutuhan seluruh Gereja. Konsili Vatikan II memberi jawaban atas kerinduan Gereja untuk mengadakan pembaharuan Liturgi Ekaristi. Konsili Vatikan II menghasilkan 16 dokumen, salah satu diantaranya adalah Konstitusi dogmatis tentang liturgi, yaitu sacrosanctum concilium. Perayaan Ekaristi adalah perayaan seluruh Gereja, oleh karerna itu keterlibatan aktif seluruh umat dalam Perayaan Ekaristi mernjadi syarat mutlak. Pembaharuan liturgi ekaristi dimaksudkan untuk memberi kesempatan umat untuk lebih berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi. Di samping itu pembaharuan yang perlu dilakukan dalam Perayaan Ekaristi mencakup ; perlunya peninjauan kembali tata perayaan ekaristi, penggunaan bahasa pribumi mulai diijinkan, diijinkannya komuni dalam dua rupa, dianjurkan agar lebih sering diadakan misa konselebrasi.
KEBANGKITAN YESUS MASIH DIRAGUKAN Paska, Paskalis Edwin I Nyoman
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak zaman para rasul hingga dewasa ini ada saja yang meragukan kebangkitan Yesus bahkan menentang ajaran bahwa Yesus sungguh-sungguh bangkit. Padahal iman akan kebangkitan merupakan dasar iman kristiani dan alasan utama mengapa Yesus diakui sebagai Tuhan. Serangan terhadap iman akan kebangkitan pun tetap gencar. Berbagai alasan diajukan untuk meruntuhkannya. Zakir naik, misalnya, mengatakan bahwa Yesus pasti tidak pernah mati. Alasannya, Yunus tetap hidup selama tiga hari di perut ikan. Yesus yang menjadi tanda seperti Yunus tentulah tidak mati selama di rahim bumi. Jika Yesus tidak pernah mati, bagaimana mungkin ia bangkit dari kematian? Sesungguhnya perumusan iman akan kebangkitan yang ada dalam Syahadat Para Rasul sudah melewati proses refleksi dan diskusi yang panjang. Pendasaran biblisnya sangat kuat. Beberapa diantaranya yang biasa dipakai sebagai bukti kebangkitan Yesus ialah wafat Yesus, kubur kosong, dan penampakan-Nya yang jelas-jelas dikisahkan dalam Kitab Suci. Namun, orang orang yang tidak mengimani kebangkitan masih saja bisa mempertanyakan dan menyangkalnya. Dibutuhkan bukti yang lebih meyakinkan, yakni perubahan hidup para saksi kebangkitan baik saksi-saksi di zaman para rasul, maupun di zaman kita sekarang ini. Kesaksian mereka diharapkan membawa orang kepada pengalaman akan Yesus yang bangkit.
LIMA PEREMPUAN DALAM SILSILAH YESUS MENURUT INJIL MATIUS (Mat 1:1-17) Sukendar, Yohanes
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bermaksud menganalisa kelima perempuan dalam Injil Matius 1:1-17. Kelima perempuan itu ialah: 1) Tamar perempuan Kanaan, (Kej 38:1-30). 2) Rahap, perempuan Kanaan yang menjadi pelacur, tetapi ia berjasa melindungi mata-mata orang Israel (Yos 2:1-24); 3)Rut, perempuan asing berasal dari Moab. (Bacalah kitab Rut). 4) Istri Uria (Batsyeba), adalah perempuan korban nafsu Daud. Keempat perempuan itu mempunyai kisah perkawinan dengan unsur skandal atau cemoohan. Tetapi mereka adalah sarana aktif Roh Allah untuk menurunkan Mesias. 5) Maria. Situasi perkawinan Maria juga aneh, karena mengandung tanpa melalui hubungan seksual dengan calon suaminya. Yusuf adalah seorang yang benar dan suci dalam keputusannya untuk menceraikan Maria. Tetapi Allah menjelaskan bahwa Maria adalah seorang yang lebih suci daripada Yusuf, karena Maria adalah sarana utama Roh Kudus. Dalam rahimnya terkandung Yesus Kristus. Metode yang digunakan adalah analisa teks. Dari hasil analisa dapat disimpulkan bahwa dengan memasukkan kelima perempuan itu Matius mau menunjukkan bahwa karya keselamatan Allah tidak terhalangi oleh dosa manusia. Bahkan Allah juga menggunakan orang-orang berdosa untuk melaksanakan karya keselamatan-Nya.
KEBAHAGIAAN DAN KESEJAHTERAAN SUAMI-ISTRI IMPLIKASINYA BAGI KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN Mudjijo, Paulus
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semua mengakui, semua mengiyakan, bahwa tujuan perkawinan adalah demi kebahagiaan dan kesejahteraan suami isteri. Namun apa makna dan isi dari kebahagiaan dan kesejahteraan suami-isteri itu, barangkali ada berbagai macam pendapat atau pandangan. Dalam tulisan ini akan diuraikan makna sejati dari kebahagiaan dan kesejahteraan suami-isteri, sesuai hukum-hukum yang berlaku. Akan diuraikan bagaimana hal tersebut menurut Kitab Hukum Kanonik, undang- undang perkawinan Republik Indonesia. Juga akan disoroti menurut hukum Islam, dan adat, khususnya Jawa. Ajaran mengenai tujuan perkawinan tersebut mempunyai implikasi bagi Kursus Persiapan Perkawinan. Dalam kursus persiapan perkawinan, para calon suami-isteri harus memperoleh pengetahuan yang memadai mengenai sejatinya tujuan perkawinan Katolik. Paparan ini merupakan usaha untuk memberikan sumbangan bagi para petugas pastoral atau siapapun yang bertanggungjawab dalam pembentukan keluarga yang sejahtera.
KATEKESE UMAT SEBAGAI CITA–CITA, PILIHAN DAN GERAKAN KATEKESE INDONESIA X, Intansakti Pius
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Katekese umat sebagai model khas katekese Indonesia sudah berkembang semenjak pertemuan kateketik antar keuskupan se Indonesia yang pertama di Sindanglaya Jawa Barat tahun 1977 hingga sekarang. Katekese umat adalah musyawarah iman,yang merupakan inkulturasi dari budaya musyawarah. Katekese umat dapat ditinjau dari berbagai aspek dan sudut pandang. Pada tulisan ini katekese umat dilihat dari tiga aspek. Katekese umat sebagai cita cita Gereja Indonesia bahwa yang berkatekese adalah dari,oleh dan untuk umat sesuai dengan paham Gereja yang adalah umat Allah. Katekese umat juga dapat dilihat sebagai suatu pilihan Gereja Indonesia dengan memperhatikan budaya bangsa ini adalah musyawarah dan mufakat. Maka model katekese umat sangat sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Katekese umat juga adalah suatu gerakan, yang berarti katekese umat hendaknya menjadi pola, atau model bagi katekese yang ada di bumi nusantara ini. Ketiga tinjauan ini mau menunjukan bahwa memang katekese umat adalah katekese khas bangsa kita.

Page 2 of 18 | Total Record : 172