cover
Contact Name
Isnaini Muhandhis
Contact Email
isnainimuhandhis@uwp.ac.id
Phone
+628179673146
Journal Mail Official
jurnalgesiuwp@gmail.com
Editorial Address
Jalan Raya Benowo no. 1 - 3, Babat Jerawat, Kec. Pakal, Surabaya, Jawa Timur 60197
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Gender Equality and Social Inclusion (gesi)
ISSN : 29642760     EISSN : 29642760     DOI : https://doi.org/10.38156/gesi
JGESI adalah Journal Of Gender Equality And Social Inclusion (e-ISSN. 2964-2760), diterbitkan oleh Pusat Studi Gender dan Inklusi Sosial, Universitas Wijaya Putra Surabaya, Indonesia. Jurnal ini diterbitkan pada tahun 2022 dengan terbitan dua kali per tahun (September dan Maret). Jurnal Ilmiah JGESI merupakan jurnal ilmiah yang terbit secara on-line dan menerbitkan artikel atau karya ilmiah hasil penelitian dalam bidang multidisiplin ilmu yang terkait tentang Pengentasan Kemiskinan, Ketahanan Pangan dan Pertanian Berkelanjutan, Kesehatan dan Kesejahteraan, Energi Bersih dan Terjangkau, Gender dan Kesetaraan Hukum, Gender dan Kesetaraan Politik.
Articles 52 Documents
Dekonstruksi Identitas Gender di Era Digital: Hermeneutika Filosofis atas Gender Performativity Judith Butler dan Kekuasaan Algoritmik Aluysius Hendra Wijaya
Journal of Gender Equality and Social Inclusion (gesi) Vol. 5 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Pusat Studi GESI - UWP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38156/gesi.v5i1.215

Abstract

Penelitian ini mengkaji dekonstruksi identitas gender di era digital melalui pendekatan hermeneutika filosofis terhadap pemikiran Judith Butler. Penelitian bertujuan menganalisis konsep gender performativity beserta konsep citationality dan iterability, serta menjelaskan relevansinya dalam budaya digital kontemporer dan implikasinya terhadap kesetaraan gender dan inklusi sosial (GESI). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Data primer diperoleh dari karya Judith Butler Gender Trouble dan Bodies That Matter, sedangkan data sekunder berasal dari buku dan artikel ilmiah mengenai poststrukturalisme, budaya digital, dan teori gender. Analisis dilakukan menggunakan hermeneutika filosofis Paul Ricoeur melalui interpretasi kritis terhadap teks dan konteks digital kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gender dipahami Butler sebagai konstruksi sosial yang dibentuk melalui tindakan performatif yang berulang. Di era digital, performativitas tersebut dimediasi oleh representasi visual, interaksi virtual, dan algoritma media sosial yang berfungsi sebagai bentuk kuasa diskursif baru dalam membentuk maupun membatasi ekspresi identitas gender. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Butler tetap relevan untuk menjelaskan transformasi identitas digital sekaligus membuka refleksi kritis mengenai keadilan algoritmik, kesetaraan gender, dan inklusi sosial, meskipun tetap memerlukan dialog dengan perspektif biologis, filosofis, dan teologis.
Analisis Feminisme Kultural terhadap Ketidaksetaraan Gender dalam Tradisi Uang Panai di Masyarakat Bugis Raisah Raisah; Wiwik Novianti; Nuryanti Nuryanti
Journal of Gender Equality and Social Inclusion (gesi) Vol. 5 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Pusat Studi GESI - UWP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38156/gesi.v5i1.239

Abstract

Tradisi uang panai merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Bugis yang masih dipertahankan dalam prosesi perkawinan adat. Namun, pergeseran maknanya menjadi simbol status sosial memunculkan persoalan ketidaksetaraan gender. Penelitian ini bertujuan menganalisis ketidaksetaraan gender dalam tradisi uang panai dari perspektif feminisme kultural. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap lima informan perempuan Bugis di Desa Jauh, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, yang dipilih secara purposive. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, kemudian diinterpretasikan berdasarkan perspektif feminisme kultural Rosemarie Tong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uang panai masih dipandang sebagai simbol penghormatan dan tanggung jawab, tetapi materialisasi yang berlebihan menyebabkan perempuan dinilai berdasarkan kemampuan ekonomi laki-laki. Di sisi lain, perempuan Bugis menafsirkan kembali uang panai sebagai simbol penghormatan, tanggung jawab moral, dan penghargaan terhadap keluarga, bukan sebagai ukuran martabat perempuan. Temuan ini menunjukkan bahwa perempuan berperan aktif dalam merekonstruksi makna tradisi agar tetap sejalan dengan nilai penghormatan, musyawarah, dan kesetaraan gender tanpa menghilangkan identitas budaya Bugis.