cover
Contact Name
Didah Nurhamidah
Contact Email
didah.uinjkt@gmail.com
Phone
+6285710777541
Journal Mail Official
didah.uinjkt@gmail.com
Editorial Address
Pendidikan Bahasa dan Sastra IndonesiaGedung Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Lt. 5Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah JakartaJalan Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Dialektika
ISSN : 25025201     EISSN : 2407506X     DOI : 10.15408/dialektika
Dialektika : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia published two times a year (June and December ) as a medium of distributing scientific research in the field of language, literature , and the Indonesian language and literature education. Dialektika is published in collaboration between the Department of Indonesian Language and Literature Education,  Faculty of Educational Sciences, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatullah Jakarta and the Association of Indonesian Language and Literature Lecturer (ADOBSI). Dialektika has been a CrossRef member since 2015 and all of the published writings have a unique number in the DOI and been indexed in DOAJ, Google Scholar, Moraref,  Indonesia One Search- National Library of Indonesia, and Portal Garuda.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 6, NO 1 (2019)" : 11 Documents clear
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN DRAMA DENGAN STRATEGI TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) BERBASIS DONGKREK Dwi Rohman Sholeh; Herman J. Waluyo; Setya Yuwana Sudikan; Nugraheni Eko Wardani
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, NO 1 (2019)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2476.268 KB) | DOI: 10.15408/dialektika.v6i1.9679

Abstract

Abstract: This research is meant to: (1) describe the planning of Drama learning using Dongkrek-based Teams Games Tournament (TGT) strategy, (2) describe the implementation of Drama learning using Dongkrek-Based TGT strategy, and (3) describe the obstacles faced by the lecturers and students in drama learning using Dongkrek-Based TGT  strategy. This descriptive qualitative research took place in IKIP PGRI Madiun, East Java. The result shows that (1) The lecturer who responsible for the planning of Drama learning using Dongkrek-Based TGT strategy has implemented the designed syllabus while the objectives has been in accordance with the Standard Competency and Basic Competence.  Furthermore, the syllabus has includes the complete implementation procedures starting from initial activity of apperception, elaboration, confirmation and motivation. Main activities includes exploration, elaboration and confirmation followed by closing. (2) The implementation of Drama learning using Dongkrek-based TGT strategy included ‘Practice/performance test” in the syllabus but performed written test in the implementation while giving assignment to the student. In addition, there are some points of indicators which have not been achieved by students and didn’t received any special attention from the lecturer. The learning objectives have been in accordance with the Standard Competency and Basic Competency of the syllabus. (3) Obstacles faced by lecturer and students in the implementation of drama learning using Dongkrek-Based TGT strategy proved to be joyful learning as it comes from local culture called Dongkrek as students gained immediate competency on literacy instead of the theory. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan  perencanaan pembelajaran drama dengan strategi Teams Games Tournament (TGT) berbasis dongkrek, (2) mendeskripsikan  penerapan pembelajaran drama dengan strategi TGT berbasis dongkrek, dan (3) mendeskripsikan kendala-kendala apa sajakah yang dihadapi dosen dan mahasiswa dalam pembelajaran drama dengan strategi TGT berbasis dongkrek. Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang mengambil lokasi di IKIP PGRI Madiun Jawa Timur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Dosen pengampu dalam perencanaan pembelajaran drama dengan strategi TGT berbasis dongkrek, sudah mengikuti silabus yang dibuat, tujuan sudah sesuai dengan SK dan KD yang digunakan. Kemudian silabus langkah-langkah pembelajaran sudah lengkap dimulai dari kegiatan awal yang melingkupi apersepsi, elaborasi, konfirmasi dan motivasi. Kegiatan inti melingkupi eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, kemudian penutup. (2) Penerapan pembelajaran drama dengan TGT berbasis dongkrek pada teknik penilaian pada silabus dicantumkan “tes praktik/ kinerja” namun dosen lebih kepada tes tulis ketika memberikan tugas mahasiswa, ada pula beberapa poin indikator yang belum mampu dicapai oleh mahasiswa dan tidak mendapat perhatian khusus dari dosen. Tujuan pembelajaran juga sudah sesuai dengan SK dan KD pada silabus. (3) Kendala-kendala dosen dan mahasiswa dalam pembelajaran drama dengan strategi TGT berbasis dongkrek, karena sebuah pembelajaran yang berangkat dari sebuah kesenian lokal yaitu kesenian dongkrek maka pembelajaran drama untuk mahasiswa  menyenangkan (joyful learning) karena mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung tentang kompetensi kesastraan dan bersastra dan tidak hanya berteori.Permalink/DOI: http://doi.org/10.15408/dialektika.v6i1.9679 
UNGKAPAN MAKNA MAKIAN DALAM BAHASA MINANGKABAU DAN BATAK: STUDI KOMPERATIF usmala dewi siregar
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, NO 1 (2019)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3074.351 KB) | DOI: 10.15408/dialektika.v6i1.11437

Abstract

Abstract: Invective expression is different from its literal meaning. Invective expression reflect the speaker`s culture, customs, and social and historical backgrounds. Therefore, without knowing a target language, culture aspects as well as expressions, the meaning of expressions can not be concluded from the dictionary definition, speakers of foreign culture often face problems in understanding the actual meaning of the meaning of expressions, especially invective expressions. In the Minangkabau culture that uses invective expressions in their daily conversations, understanding that is not a problem. However, problems may occur when the two different cultures try to understand each other's expressions. Therefore, this study analyzed invective expressions in Minangkabau and Batak languages. In addition, the writer also examined aspects of the culture and situation of the intended expressions used by speakers of each language. The researcher used qualitative methods and the data gets from the informants of both cultures. These findings reveal two categories, namely, first, invective expression in Minangkabau and Batak languages with same literal and actual meaning. Second, invective expression  in Minangkabau and Batak languages with same literal meaning but different actual meaning.Abstrak: Makna kiasan berbeda dengan arti harfiahnya. Makna kiasan mencerminkan budaya, adat istiadat penutur, dan latar belakang sosial dan historis. Oleh karena itu, tanpa mengetahui aspek budaya target dan juga ungkapan, makna ungkapan tidak dapat di simpulkan dari definisi kamus, penutur bahasa asing sering menghadapi masalah dalam memahami arti sebenarnya dari makna ungkapan khususnya ungkapan makian. Dalam budaya Minang yang menggunakan ungkapan makian dalam percakapan sehari-hari mereka, memahami itu bukanlah masalah. Namun, masalah mungkin terjadi ketika kedua budaya yang berbeda mencoba memahami ungkapan satu sama lain. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis ungkapan makian dalam bahasa Minang dan Batak. Selain itu peneliti juga meneliti aspek budaya dan situasi tujuan ungkapan di gunakan oleh penutur bahasa masing-masing. Peneliti menggunakan metode kualitatif dan  Data bersumber dari  informan kedua budaya. Temuan ini mengungkapkan dua kategori yaitu, pertama, Ungkapan makian dalam bahasa Minang dan Batak dengan makna literal dan makna aktual yang sama. Kedua, Ungkapan makian dalam bahasa Minang dan Batak dengan makna literal yang sama tapi makna aktual berbeda.
KESALAHAN PELAFALAN KOSAKATA DIFTONG DAN BUKAN DIFTONG SISWA BIPA 1 DI DAVAO CITY - FILIPINA Marlia Marlia
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, NO 1 (2019)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2285.493 KB) | DOI: 10.15408/dialektika.v6i1.7470

Abstract

Abstract: BIPA students in Davao City - the Philippines mostly use Visaya in their daily lives. In addition, some of them are still affected by Spanish in the pronounciation of the sounds of the language. This is the main influence of pronounciation errors in Indonesian vocabulary. This research examines the pronunciation of vocabulary with diphthong and not diphthong in Bahasa Indonesia. The purpose of this analysis is to describe the mistakes of BIPA students in pronouncing diphthong double vowels and not diphthongs and to explain the solutions that can be done to minimize these errors. The method used is descriptive qualitative. The finding in this research is that there are errors in vocal pronunciation of double diphthong and not diphthong. As many as 96% recite the double diphthong correctly and 4% still pronounce incorrectly. 67% recite double vowels instead of diphthongs being diphthongs and 33% recite double vowels separately (read every letter in the final syllable). This happens because of three things. First, the influence of the Visaya language. Second, the influence of Spanish. Third, the presence of allophones in Indonesian vowels. These problems can be overcome in three ways. First, through spoken-syllable techniques. Second, through the technique of imitation. Third, through repeated words. Through this research, it is expected to be able to help BIPA students in reciting Indonesian vocabulary, especially duplicate vocabulary, so that pronunciation errors can be minimized.Abstrak: Siswa BIPA di Davao City – Filipina mayoritas menggunakan bahasa Visaya dalam kehidupan sehari-harinya. Selain itu, sebagian di antara mereka masih terpengaruh bahasa Spanyol dalam pelafalan bunyi bahasa. Hal inilah menjadi pengaruh utama kesalahan pelafalan dalam kosa kata bahasa Indonesia. Riset ini mengkaji pelafalan kosa kata bervokal rangkap diftong dan bukan diftong bahasa Indonesia. Tujuan dilakukan analisis ini adalah mendeskripsikan kekeliruan siswa BIPA dalam pelafalan vokal rangkap diftong dan bukan diftong serta memaparkan solusi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan kesalahan tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Temuan dalam riset ini adalah adanya kekeliruan pelafalan vokal rangkap diftong dan bukan diftong.  Sebanyak 96% melafalkan vokal rangkap diftong dengan benar dan 4% masih melafalkan salah. Sebanyak 67% melafalkan vokal rangkap bukan diftong menjadi diftong dan 33% melafalkan vokal rangkap secara terpisah (dibaca per huruf di silabel akhir). Hal ini terjadi disebabkan oleh tiga hal. Pertama, pengaruh bahasa Visaya. Kedua, pengaruh bahasa Spanyol. Ketiga, adanya alofon dalam vokal rangkap bahasa Indonesia. Masalah-masalah tersebut dapat diatasi melalui tiga cara. Pertama, melalui teknik ucap – silabel. Kedua, melalui teknik ucap – tiru. Ketiga, melalui ucap – ulang. Melalui riset ini, diharapkan dapat membantu siswa BIPA dalam melafalkan kosa kata bahasa Indonesia, terutama kosa kata bervokal rangkap, sehingga kesalahan pelafalan dapat diminimalkan. 
POLA NARASI PADA ANTOLOGI CERPEN TARIAN SALJU KARABAN Novi Diah Haryanti
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, NO 1 (2019)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3929.212 KB) | DOI: 10.15408/dialektika.v6i1.12767

Abstract

Abstract: This study aims to look at narrative patterns in the collection of short stories "Karaban Snow Dance" (TSK). From the fifteen short stories, the researchers took five main stories, namely the Karaban Snow Dance (Tarian Salju Karaban), The Fall of a Leaf (Gugurnya Sehelai Daun),  Canting Kinanti Song (Tembang Canting Kinanti), Jagoan Men Arrived (Lelaki Jagoan Tiba), and Origami Pigeon (Merpati Origami). Of the five short stories, environmental themes and honesty appear most often. The place setting depicted shows the environment that is close to the author or according to the author's origin. The main characters in the four short stories are children, only one short story Male Hero Tiban (Lelaki Jagoan Tiban/LJK) who uses adult takoh as the main character. The child leaders in LJK only appear in the past stories of the main characters. The five short stories do not show a picture of whole parents (father and mother). The warm relationship between mother and child appears clearly, in contrast to the father-child relationship that is almost negligent. The five short stories also represent how children become heroes for their family, friends, and environment.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat pola narasi pada kumpulan cerpen Tarian Salju Karaban (TSK). Dari limabelas cerpen yang ada, peneliti mengambil lima cerpen utama yakni “Tarian Salju Karaban”, “Gugurnya Sehelai Daun”, “Tembang Canting Kinanti”, “Lelaki Jagoan Tiba”, dan “Merpati Origami”. Kelima cerpen menampilkan tema lingkungan dan kejujuran. Latar tempat yang digambarkan memperlihatkan lingkuangan yang dekat dengan penulis atau sesuai dengan asal usul penulis. Tokoh utama dalam keempat cerpen tersebut ialah anak-anak, hanya satu cerpen “Lelaki Jagoan Tiban” (LJK) yang menggunakan takoh dewasa sebagai tokoh utama. Tokoh anak dalam LJK hanya muncul dalam cerita masa lalu tokoh utama. Kelima cerpen tersebut tidak memperlihatkan gambaran orangtua utuh (ayah dan ibu). Relasi yang hangat antara ibu dan anak muncul dengan jelas, berbeda dengan relasi bapak-anak yang nyaris alpa. Kelima  cerpen tersebut juga merepresentasikan bagaimana anak-anak menjadi pahlawan bagi keluarga, sahabat, dan lingkungannya.  
RAGAM BAHASA DALAM TRANSAKSI JUAL-BELI DI PASAR BERINGHARJO YOGYAKARTA mohamad jazeri jazeri; Dian Nita Zullina; Siti Zumrotul Maulida
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, NO 1 (2019)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2950.487 KB) | DOI: 10.15408/dialektika.v6i1.9622

Abstract

Abstract: This article aims to describe the variety of languages used by sellers and buyers in buying and selling transactions at Beringharjo market, Malioboro, Yogyakarta. This research is a qualitative research with a Sociolinguistic approach. The data of this research is a variety of languages spoken by sellers and buyers in buying and selling transactions. Data is collected by video recording techniques which are then transcribed. Data analysis is carried out based on various language theories and mixed code by Fishman. Based on the results of the data analysis it is known that (1) the trading transactions in Beringharjo market are done by bargaining for goods which leads to agreement and disagreement, (2) the variety of speech used by traders includes unstandardized variety of Indonesian, Ngoko Alus variant Javanese, and the diverse Javanese language of Ngoko Lugu, and (2) the variety of speech used by buyers includes satandardized Indonesian languages, unstandardized Indonesian, and Ngoko Alus Javanese variety. In general, sellers and buyers use mixed code, which is a mixture of Indonesian and Javanese. This happened because the Indonesian language used was influenced by the dialect of the local language. The speech variety used by the speaker is also influenced by the background of their social life. Abstrak: Artikel ini mendeskripsikan ragam bahasa yang digunakan penjual dan pembeli dalam transaksi jual-beli di pasar Beringharjo, Malioboro, Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan Sosiolinguistik. Data penelitian ini adalah ragam bahasa yang dituturkan oleh penjual dan pembeli dalam transaksi jual-beli. Data dikumpulkan dengan teknik perekaman video yang kemudian ditranskripsikan. Analisis data dilakukan dengan berdasar pada teori ragam bahasa dan campur kode Fishman. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa (1) transaksi jual-beli di pasar Beringharjo dilakukan dengan tawar-menawar barang yang berujung pada kesepakatan dan ketidaksepakatan, (2) ragam tutur yang digunakan oleh pedagang meliputi bahasa Indonesia ragam nonbaku, bahasa Jawa ragam Ngoko Alus, dan bahasa Jawa ragam Ngoko Lugu, dan (2) ragam tutur yang digunakan oleh pembeli meliputi bahasa Indonesia ragam baku, bahasa Indonesia ragam nonbaku, dan bahasa Jawa ragam Ngoko Alus. Secara umum, penjual dan pembeli menggunakan campur kode, yakni campuran bahasa Indonesia dan Jawa, baik Bahasa Jawa ragam Ngoko Lugu, Ngoko Alus, maupun Krama Inggil bergantung mitra tuturnya. Hal tersebut terjadi karena bahasa Indonesia yang digunakan dipengaruhi oleh dialek bahasa daerah asal. Ragam tutur yang digunakan oleh penutur tersebut dipengaruhi pula oleh latar belakang kehidupan sosial mereka. 
ANALISIS WACANA KASUS PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN PADA BERITA ONLINE DALAM PERSPEKTIF ANALISIS SARA MILLS yosi zamzuardi; Syahrul Syahrul
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, NO 1 (2019)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.401 KB) | DOI: 10.15408/dialektika.v6i1.9750

Abstract

Abstract : This study discusses the discourse of sexual violence that occurs among women in online media coverage. Good media can display balanced information. Various reports related to sexual harassment often experienced by women can be represented in a discourse differently. At present the exploitation of women is carried out through more intellectual and neatly packaged methods, one of which is through discourse revealed in the mass media. Women in the media are positioned visually prominent , but also marginalized in meaning. If this continues, it will reinforce the existence of gender differences between women and men which has implications for the potential for increasing gender oppression with women as victims. The problem discussed in this study is a critical discourse analysis using the theory of Sara Mils. The discussion of Sara Mills around discourse theory makes the discourse of feminism a vortex of study. In addition, it also addresses women's issues such as how women are displayed in text, images, photos and in the news. The focus of this study is to examine 1) how the text experiences bias in representing women in the text, 2) how the marginalization of women is formed in weakening women's position.Abstrak: Penelitian ini membahas tentang wacana kekerasan seksual yang terjadi di kalangan perempuan dalam pemberitaan media online. Media yang baik dapat menampilkan informasi yang berimbang. Berbagai pemberitaan terkait pelecehan seksual sering dialami perempuan dapat direpresentasikan  ke dalam sebuah wacana secara berbeda-beda. Saat ini eksploitasi terhadap perempuan dilakukan melalui cara-cara yang lebih intelektual dan dikemas secara apik, salah satunya melalui wacana yang diungkap dalam media massa. Perempuan dalam media diposisikan yang menonjol secara visual, tetapi juga terpinggirkan dalam makna. Hal tersebut jika terus dibiarkan, akan mempertegas adanya perbedaan gender antara perempuan dengan laki-laki yang berimplikasi pada potensi meningkatnya penindasan gender dengan perempuan sebagai korbannya. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah  analisis wacana kritis menggunakan teori Sara Mills. Pembahasan Sara Mills seputar teori wacana menjadikan wacana feminisme sebagai pusaran kajiannya. Selain itu juga membahas isu-isu perempuan seperti bagaimana perempuan ditampilkan dalam teks, gambar, foto serta dalam berita. Fokus penelitian ini  yaitu mengkaji 1) bagaimana teks mengalami bias dalam merepresantasikan perempuan dalam teks, 2) bagaimana marginalisasi perempuan terbentuk dalam pelemahan posisi perempuan.
REPRESENTASI KETIDAKADILAN PADA KUMPULAN PUISI NYANYIAN AKAR RUMPUT Fetti Astrini Rishanjani
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, NO 1 (2019)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5635.247 KB) | DOI: 10.15408/dialektika.v6i1.11561

Abstract

Abstract: The aim of this research is to do an in-depth study of the representation of injustice cointaned in the anthology of poetry Nyanyian Akar Rumput written by Wiji Thukul and its implication in learning Indonesian language. This research is a qualitative research using descriptive analysis method. The research concludes that the analyzed poems represent acts of injustice, such as commutative and recreative injustice. The results of this research showed: (1) Representation of creative injustice was found in the poem entitled “Peringatan” that revealed people’s freedom in voicing criticism to fight for their rights as citizens; (1) Representation of creative injustice was found in the poem entitled “Penyair” that revealed the poet’s disappointment with the regime due to his freedom to work; (3) The implication of this research can be used by teachers and students as learning materials for literary studyAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam mengenai representasi ketidakadilan yang terdapat di dalam kumpulan puisi Nyanyian Akar Rumput karya Wiji Thukul serta implikasinya dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menyimpulkan puisi yang dianalisis mempresentasikan adanya tindak ketidakadilan kreatif. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Representasi ketidakadilan kreatif ditemukan pada puisi berjudul “Peringatan” yang mengungkapkan tentang ketidakbebasan rakyat dalam menyuarakan kritik untuk memperjuangkan hak-haknya sebagai warga negara ; (2) Representasi ketidakadilan kreatif ditemukan pada puisi berjudul “Penyair” yang mengungkapkan tentang kekecewaan penyair terhadap rezim saat itu akibat ketidakbebasan dalam berkarya; (3)Implikasi representasi ketidakadilan pada puisi dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat dimanfaatkan oleh guru dan siswa sebagai bahan pembelajaran sastra.
ANALISIS WACANA KASUS PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN PADA BERITA ONLINE DALAM PERSPEKTIF ANALISIS SARA MILLS yosi zamzuardi; Syahrul Syahrul
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, NO 1 (2019)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v6i1.9750

Abstract

Abstract : This study discusses the discourse of sexual violence that occurs among women in online media coverage. Good media can display balanced information. Various reports related to sexual harassment often experienced by women can be represented in a discourse differently. At present the exploitation of women is carried out through more intellectual and neatly packaged methods, one of which is through discourse revealed in the mass media. Women in the media are positioned visually prominent , but also marginalized in meaning. If this continues, it will reinforce the existence of gender differences between women and men which has implications for the potential for increasing gender oppression with women as victims. The problem discussed in this study is a critical discourse analysis using the theory of Sara Mils. The discussion of Sara Mills around discourse theory makes the discourse of feminism a vortex of study. In addition, it also addresses women's issues such as how women are displayed in text, images, photos and in the news. The focus of this study is to examine 1) how the text experiences bias in representing women in the text, 2) how the marginalization of women is formed in weakening women's position.Abstrak: Penelitian ini membahas tentang wacana kekerasan seksual yang terjadi di kalangan perempuan dalam pemberitaan media online. Media yang baik dapat menampilkan informasi yang berimbang. Berbagai pemberitaan terkait pelecehan seksual sering dialami perempuan dapat direpresentasikan  ke dalam sebuah wacana secara berbeda-beda. Saat ini eksploitasi terhadap perempuan dilakukan melalui cara-cara yang lebih intelektual dan dikemas secara apik, salah satunya melalui wacana yang diungkap dalam media massa. Perempuan dalam media diposisikan yang menonjol secara visual, tetapi juga terpinggirkan dalam makna. Hal tersebut jika terus dibiarkan, akan mempertegas adanya perbedaan gender antara perempuan dengan laki-laki yang berimplikasi pada potensi meningkatnya penindasan gender dengan perempuan sebagai korbannya. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah  analisis wacana kritis menggunakan teori Sara Mills. Pembahasan Sara Mills seputar teori wacana menjadikan wacana feminisme sebagai pusaran kajiannya. Selain itu juga membahas isu-isu perempuan seperti bagaimana perempuan ditampilkan dalam teks, gambar, foto serta dalam berita. Fokus penelitian ini  yaitu mengkaji 1) bagaimana teks mengalami bias dalam merepresantasikan perempuan dalam teks, 2) bagaimana marginalisasi perempuan terbentuk dalam pelemahan posisi perempuan.
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN DRAMA DENGAN STRATEGI TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) BERBASIS DONGKREK Dwi Rohman Sholeh; Herman J. Waluyo; Setya Yuwana Sudikan; Nugraheni Eko Wardani
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, NO 1 (2019)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v6i1.9679

Abstract

Abstract: This research is meant to: (1) describe the planning of Drama learning using Dongkrek-based Teams Games Tournament (TGT) strategy, (2) describe the implementation of Drama learning using Dongkrek-Based TGT strategy, and (3) describe the obstacles faced by the lecturers and students in drama learning using Dongkrek-Based TGT  strategy. This descriptive qualitative research took place in IKIP PGRI Madiun, East Java. The result shows that (1) The lecturer who responsible for the planning of Drama learning using Dongkrek-Based TGT strategy has implemented the designed syllabus while the objectives has been in accordance with the Standard Competency and Basic Competence.  Furthermore, the syllabus has includes the complete implementation procedures starting from initial activity of apperception, elaboration, confirmation and motivation. Main activities includes exploration, elaboration and confirmation followed by closing. (2) The implementation of Drama learning using Dongkrek-based TGT strategy included ‘Practice/performance test” in the syllabus but performed written test in the implementation while giving assignment to the student. In addition, there are some points of indicators which have not been achieved by students and didn’t received any special attention from the lecturer. The learning objectives have been in accordance with the Standard Competency and Basic Competency of the syllabus. (3) Obstacles faced by lecturer and students in the implementation of drama learning using Dongkrek-Based TGT strategy proved to be joyful learning as it comes from local culture called Dongkrek as students gained immediate competency on literacy instead of the theory. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan  perencanaan pembelajaran drama dengan strategi Teams Games Tournament (TGT) berbasis dongkrek, (2) mendeskripsikan  penerapan pembelajaran drama dengan strategi TGT berbasis dongkrek, dan (3) mendeskripsikan kendala-kendala apa sajakah yang dihadapi dosen dan mahasiswa dalam pembelajaran drama dengan strategi TGT berbasis dongkrek. Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang mengambil lokasi di IKIP PGRI Madiun Jawa Timur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Dosen pengampu dalam perencanaan pembelajaran drama dengan strategi TGT berbasis dongkrek, sudah mengikuti silabus yang dibuat, tujuan sudah sesuai dengan SK dan KD yang digunakan. Kemudian silabus langkah-langkah pembelajaran sudah lengkap dimulai dari kegiatan awal yang melingkupi apersepsi, elaborasi, konfirmasi dan motivasi. Kegiatan inti melingkupi eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, kemudian penutup. (2) Penerapan pembelajaran drama dengan TGT berbasis dongkrek pada teknik penilaian pada silabus dicantumkan “tes praktik/ kinerja” namun dosen lebih kepada tes tulis ketika memberikan tugas mahasiswa, ada pula beberapa poin indikator yang belum mampu dicapai oleh mahasiswa dan tidak mendapat perhatian khusus dari dosen. Tujuan pembelajaran juga sudah sesuai dengan SK dan KD pada silabus. (3) Kendala-kendala dosen dan mahasiswa dalam pembelajaran drama dengan strategi TGT berbasis dongkrek, karena sebuah pembelajaran yang berangkat dari sebuah kesenian lokal yaitu kesenian dongkrek maka pembelajaran drama untuk mahasiswa  menyenangkan (joyful learning) karena mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung tentang kompetensi kesastraan dan bersastra dan tidak hanya berteori.Permalink/DOI: http://doi.org/10.15408/dialektika.v6i1.9679 
POLA NARASI PADA ANTOLOGI CERPEN TARIAN SALJU KARABAN Novi Diah Haryanti
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, NO 1 (2019)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v6i1.12767

Abstract

Abstract: This study aims to look at narrative patterns in the collection of short stories "Karaban Snow Dance" (TSK). From the fifteen short stories, the researchers took five main stories, namely the Karaban Snow Dance (Tarian Salju Karaban), The Fall of a Leaf (Gugurnya Sehelai Daun),  Canting Kinanti Song (Tembang Canting Kinanti), Jagoan Men Arrived (Lelaki Jagoan Tiba), and Origami Pigeon (Merpati Origami). Of the five short stories, environmental themes and honesty appear most often. The place setting depicted shows the environment that is close to the author or according to the author's origin. The main characters in the four short stories are children, only one short story Male Hero Tiban (Lelaki Jagoan Tiban/LJK) who uses adult takoh as the main character. The child leaders in LJK only appear in the past stories of the main characters. The five short stories do not show a picture of whole parents (father and mother). The warm relationship between mother and child appears clearly, in contrast to the father-child relationship that is almost negligent. The five short stories also represent how children become heroes for their family, friends, and environment.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat pola narasi pada kumpulan cerpen Tarian Salju Karaban (TSK). Dari limabelas cerpen yang ada, peneliti mengambil lima cerpen utama yakni “Tarian Salju Karaban”, “Gugurnya Sehelai Daun”, “Tembang Canting Kinanti”, “Lelaki Jagoan Tiba”, dan “Merpati Origami”. Kelima cerpen menampilkan tema lingkungan dan kejujuran. Latar tempat yang digambarkan memperlihatkan lingkuangan yang dekat dengan penulis atau sesuai dengan asal usul penulis. Tokoh utama dalam keempat cerpen tersebut ialah anak-anak, hanya satu cerpen “Lelaki Jagoan Tiban” (LJK) yang menggunakan takoh dewasa sebagai tokoh utama. Tokoh anak dalam LJK hanya muncul dalam cerita masa lalu tokoh utama. Kelima cerpen tersebut tidak memperlihatkan gambaran orangtua utuh (ayah dan ibu). Relasi yang hangat antara ibu dan anak muncul dengan jelas, berbeda dengan relasi bapak-anak yang nyaris alpa. Kelima  cerpen tersebut juga merepresentasikan bagaimana anak-anak menjadi pahlawan bagi keluarga, sahabat, dan lingkungannya.  

Page 1 of 2 | Total Record : 11