cover
Contact Name
Didah Nurhamidah
Contact Email
didah.uinjkt@gmail.com
Phone
+6285710777541
Journal Mail Official
didah.uinjkt@gmail.com
Editorial Address
Pendidikan Bahasa dan Sastra IndonesiaGedung Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Lt. 5Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah JakartaJalan Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Dialektika
ISSN : 25025201     EISSN : 2407506X     DOI : 10.15408/dialektika
Dialektika : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia published two times a year (June and December ) as a medium of distributing scientific research in the field of language, literature , and the Indonesian language and literature education. Dialektika is published in collaboration between the Department of Indonesian Language and Literature Education,  Faculty of Educational Sciences, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatullah Jakarta and the Association of Indonesian Language and Literature Lecturer (ADOBSI). Dialektika has been a CrossRef member since 2015 and all of the published writings have a unique number in the DOI and been indexed in DOAJ, Google Scholar, Moraref,  Indonesia One Search- National Library of Indonesia, and Portal Garuda.
Articles 282 Documents
PEREMPUAN PUNYA CERITA: Oka Rusmini Menggugat Sejarah (His/Herstory) dalam Puisi Potret Hendra Kaprisma
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2286.282 KB) | DOI: 10.15408/dialektika.v5i2.8648

Abstract

Abstract: : According to feminists, a long historical and cultural journey has placed women as subordinates of men. Feminists themselves believe that male identity (the self), thought and mind have been formed to fight women or the “others”. This belief has resulted injustice and oppression of women, or more accurately called patriarchal oppression. Resistance to patriarchal domination is reflected in the poem named Potret (Portrait) of Oka Rusmini's work. This poem is divided into seven parts. Each part of the poem symbolizes the process of feminine writing which aimed to creating a history of women (herstory). The patriarchal inequality and dark history were opposed by Oka Rusmini by showing the practice of feminine writing (écriture feminine). The words described in Oka Rusmini's poem is transformed into a weapon for the feminist struggle. The poem is telling of the feminine writing process to create herstory history. Resistance to existing history is due to the history that applies to the construction of society is the story of men (history). Thus, to get a complete picture of the world, we also need a woman's story.Abstrak: Menurut kaum feminis, perjalanan sejarah dan budaya yang panjang telah menempatkan perempuan sebagai bawahan laki-laki. Kaum feminis sendiri percaya bahwa identitas laki-laki (diri), pikiran dan pandangan telah dibentuk untuk memerangi perempuan atau "yang lain". Keyakinan ini telah menghasilkan ketidakadilan dan penindasan terhadap perempuan, atau lebih tepatnya disebut penindasan patriarki. Perlawanan terhadap dominasi patriarki tercermin dalam puisi Potret karya Oka Rusmini. Puisi ini dibagi menjadi tujuh bagian. Setiap bagian dari puisi melambangkan proses penulisan feminin yang bertujuan untuk menciptakan sejarah perempuan (herstory). Ketidaksetaraan patriarki dan sejarah kelam ditentang oleh Oka Rusmini dengan menunjukkan praktik penulisan feminin (écriture feminine). Kata-kata yang diuraikan dalam puisi Oka Rusmini ditransformasikan menjadi senjata untuk perjuangan feminis. Puisi ini menceritakan proses penulisan feminin untuk menciptakan sejarah herstory. Perlawanan terhadap sejarah yang ada disebabkan oleh sejarah yang berlaku pada konstruksi masyarakat adalah kisah para laki-laki (history). Jadi, untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang dunia, kita juga membutuhkan kisah perempuan.  
PENERAPAN STRATEGI CATALISTING DALAM MENULIS PARAGRAF PROSESUAL Helaluddin Helaluddin
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.485 KB) | DOI: 10.15408/dialektika.v3i2.5185

Abstract

Abstract:: Writing is one of language competencies that must be mastered by students. The basic type of writing is paragraph. But there are still many students who have not been able to write their ideas into procesual paragraph. This paper shows the research, which is conducted to know significant differences between writing procesual paragragh of students who use catalisting strategy and conventional strategy. This study is a quasy-experimental research using Nonequivalent Control Group Design. The data about writing procesual paragraph is collected with rubric assessment. Based on research and discussion that have been held, the average score of experiment class is 86,5 and the average score of control class is 72,5. It shows that the average score of group using catalisting strategy is higher than the average of group with conventional strategy.Abstrak: Menulis merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang harus dikuasai oleh mahasiswa. Adapun jenis tulisan yang paling dasar adalah menulis paragraf. Namun masih banyak mahasiswa yang belum mampu menuangkan ide dan gagasannya ke dalam bentuk paragraf salah satunya paragraf prosesual. Tulisan ini merupakan penjabaran dari penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan antara menulis paragraf prosesual yang diajarkan dengan menggunakan strategi catalisting dengan mahasiswa yang diajarkan melalui strategi konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan menggunakan ancangan Nonequivalent Control Group Design. Data tentang menulis paragraf prosesual diperoleh dengan menggunakan rublik penilaian menulis paragraf. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, diperoleh skor rata-rata kelas eksperimen adalah 86,5 dan skor rata-rata kelas kontrol adalah 72,5. Hal ini menunjukkan bahwa skor rata-rata kelompok yang diajarkan dengan strategi catalisting lebih tinggi dari skor rata-rata kelompok yang diajarkan dengan strategi konvensional. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/dialektika.v3i2.5185
SOCIAL PHENOMENON IN POETRY MONEY MESSAGE AND SHAVE BEFORE SLEEP BY JOKO PINURBO Irsyad Zulfahmi
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.807 KB) | DOI: 10.15408/dialektika.v1i1.1417

Abstract

The objective of the reserch is to identify the picture of social conditions contained in two poems by Joko Pinurbo, namely the Money Message and Shave Before Sleeping.Based on the  results  of research conducted, it can be concluded; in form, the poem Messages Money consists of four temple and fifteen rows, depicting how someone who tried to improve the conditions  of life by "wander", which then have an impact not only on the material but also on the moral side.Meanwhile, in a poem titled Shave Before Sleeping in shape, consisting of 28 arrays of 2 stanza. The poet uses the metaphor of the body as a natural phenomenon, this is where the poet actually want to describe the rate of development  of  advanced   industrial  however  less  attention  to  the  preservation  of  the natural environment.
NILAI MORAL DALAM TERJEMAHAN SYAIR AJONGA YINDA MALUSA KARYA SYEKH HAJI ABDUL GANIU (SUATU PENDEKATAN HERMENEUTIKA) la muda; Kadirun Kadirun
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4649.802 KB) | DOI: 10.15408/dialektika.v6i2.13253

Abstract

Abstract: The moral value in the translation of Ajonga Yinda Malusa  lyric by Sheikh Haji Abdul Ganiu is the cultural heritage of the Indonesian people that can be used as a reference in character education that is being echoed by the government at this time. The purpose of this research is to describe moral values in the translation of Ajonga Yinda Malusa lyric by Sheikh Haji Abdul Ganiu. This study used content analysis method with a hermeneutic Paul Ricouer approach about text analysis and text reconstruction. The data of this study was the translation of Ajonga Yinda Malusa lyric by Syekh Haji Abdul Ganiu. The data analysis appropriate with the components of good moral values was moral knowledge, moral feeling, and moral action. The results showed that the translation of Ajonga Yinda malusa lyric, there was moral knowledge in the aspect of moral awareness, knowledge of moral values, determination of perspective, moral thinking, decision making, and personal knowledge. Moral feeling led to the aspect of conscience, self-esteem, empathy, love a good thing, poise, and humility. Moral action led to aspect of competence, desire, and habits. These three components were an aspect that led to the birth of moral values.Abstrak: Nilai moral dalam terjemahan syair Ajonga Yinda Malusa karya Syekh Haji Abdul Ganiu merupakan warisan budaya bangsa  Indonesia yang dapat dijadikan referensi dalam pendidikan karakter yang sedang digaungkan pemerintah saat ini. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan nilai moral dalam terjemahan syair Ajonga Yinda Malusa karya Syekh Haji Abdul Ganiu. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi dengan pendekatan hermeneutika Paul Ricouer tentang analisis teks dan rekontruksi teks. Data yang digunakan sebagai objek kajian adalah terjemahan syair Ajonga Yinda Malusa karya Syekh Haji Abdul Ganiu. Data analisis sesuai dengan komponen nilai moral yang baik yakni pengetahuan moral, perasaan moral dan tindakan moral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada terjemahan syair Ajonga Yinda Malusa terdapat pengetahuan moral pada aspek kesadaran moral, pengetahuan nilai moral, penentuan prespektif, pemikiran moral, pengambilan keputusan dan pengetahuan pribadi. Perasaan moral mengarah pada aspek hati nurani, harga diri, empati, mencintai hal yang baik, kendali diri dan kerendahan hati. Tindakan moral mengarah pada aspek kompetensi, keinginan, dan kebiasaan. Ketiga komponen itu merupakan aspek yang mendorong lahirnya nilai-nilai moral.  
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NASKAH DRAMA OPERA KECOA KARYA N.RIANTIARNO Agung Prayitno Putro; Herman J Waluyo; Nugraheni Eko Wardhani
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v7i1.6188

Abstract

Abstract: The purpose of this study is to describe the values of character education for Drama course. It is a qualitative descriptive  study.  The  data  were obtained from the play entitled Opera Kecoa¸ written by N.Riantiarno. by looking at the settings, the characters, the plots and some relevant documents. The technique used to collect the data was by document analysis technique. As one form of literary work, Opera Kecoa drama script contains character education values. The values of character education in this drama script are shown through characterizations and events in each chapter. Based on the results of the analysis found ten character education values contained in the drama  Opera Kecoa, these values include: social care, tolerance, hard work, discipline, peace,patriotism, friendly, independent, creative, and responsibility. By reason of the values of these characters, the Opera Kecoa drama script can be used as a medium of learning in the college literature.  Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat pada sebuah naskah drama. Penelitian  ini menggunakan metode deskriptif  kualitatif dengan subjek penelitiannya adalah naskah drama Opera Kecoa karya N.Riantiarno. Sumber data diperoleh dari tempat dan peristiwa, informan, naskah drama, dan dokumen. Pengumpulan data menggunakan teknik analisis dokumen. Sebagai salah satu bentuk karya sastra, naskah drama Opera Kecoa memuat nilai-nilai  pendidikan  karakter. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam naskah drama  ini ditampilkan melalui penokohan dan alur peristiwa pada setiap babaknya. Berdasarkan hasil analisis maka ditemukan sepuluh nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam naskah drama Opera Kecoa, nilai-nilai tersebut antara lain: peduli sosial, toleransi, kerja keras, disiplin, cinta damai, cinta tanah air, bersahabat, mandiri, kreatif, dan tanggung jawab. Dengan alasan adanya nilai-nilai karakter tersebut maka naskah drama Opera Kecoa dapat digunakan sebagai salah satu media pembelajaran sastra di perguruan tinggi.  
BENTUK DAN MAKNA PADA PENAMAAN SELAMETAN MASYARAKAT JAWA: KAJIAN LINGUISTIK ANTROPOLOGI Anita Zuhrotul Jannah
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v7i1.13722

Abstract

Abstract: Culture is one of the identities of a community in each region, one of which is selametan. Selametan is a culture that is closely related to the Javanese community. The purpose of this research is to describe the form and meaning in naming selametan Javanese society. The research data were obtained using competent observational techniques. The method of data analysis uses descriptive qualitative. Methods of data analysis through data transcripts and data classification. Data analysis uses morphological and semantic theories. The form of data analysis is descriptive. The results showed the naming of selametan in Javanese society consisting of 19 selametan consisting of pre-birth to death. Then the naming of the form is analyzed using morphological theory and its meaning is analyzed using semantic theory. The results showed that in terms of naming selametan, many Javanese people were formed from numbers during pre-birth and death, while in life they were formed from activities to be carried out. Whereas in meaning, the naming has lexical and referential meaning.Abstrak: Budaya menjadi salah satu identitas sebuah masyarakat pada setiap daerah, salah satunya selametan. Selametan merupakan salah satu budaya yang lekat dengan masyarakat jawa. Tujuan penelitian ada adalah mendeskripsikan bentuk dan makna pada penamaan selametan masyarakat jawa. Data penelitian diperoleh menggunakan tekhnik simak libat cakap. Metode analisis data menggunakan deskriptif kualitatif. Metode analisis data melalui transkipsi data dan klasifikasi data. Analisis data menggunakan teori morfologi dan semantik. Bentuk analisis data berupa deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan penamaan selametan pada masyarakat jawa yang terdiri dari 19 selametan yang terdiri dari masa prakelahiran sampai kematian. Kemudian penamaan selametan tersebut dianalisis bentuknya menggunakan teori morfologi dan dianalisis maknanya menggunakan teori semantik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bentuk, penamaan selametan masyarakat jawa banyak dibentuk dari bilangan pada masa prakelahiran dan kematian, sedangkan pada masa kehidupan dibentuk dari kegiatan yang akan dilakukan. Sedangkan secara makna, penamaan tersebut memiliki makna leksikal dan referensial.  
PELAFALAN DAN PENGENALAN KOSAKATA PADA PEMELAJAR BIPA DI DALAM TES KEMAHIRAN BERBICARA Rosida Erowati; Neneng Nurjanah
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v7i1.8514

Abstract

Abstract: The speaking skills of BIPA 1 learners include the ability to pronounce Indonesian phonemes accurately. The accuracy of phoneme pronunciation is not only intended for fluency in speaking, but so that students are able to distinguish the meaning of words. By utilizing a qualitative descriptive approach, this study aims to describe the pronunciation of BIPA learners in Egypt in a speaking ability test. This pronunciation description indicates the ability of BIPA learners to recognize vocabulary, the meaning of words, as well as the difficulty of pronunciation in tests of speaking ability. The results of this study indicate that beginner BIPA learners in Egypt have difficulty at the phonological level, namely the phonetic articulation of consonant sounds / b /, / p /, / ŋ /, / ɲ /, / k /, / ʔ / and consistently having difficulty to map sound / b / to / p /. In addition, it tends to double the sound / ŋ / with / ɡ /, also avoiding the sound / ɲ /.Abstrak: Kemahiran berbicara pemelajar BIPA 1 mencakup kemampuan melafalkan fonem bahasa Indonesia dengan jitu. Ketepatan pelafalan fonem tidak semata ditujukan untuk kelancaran berbicara, namun agar pemelajar mampu membedakan makna kata. Dengan memanfaatkan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelafalan pemelajar BIPA di Mesir dalam tes kemampuan berbicara.  Deskripsi pelafalan ini mengindikasikan kemampuan pemelajar BIPA dalam mengenali kosakata, makna kata-kata, serta kesulitan pelafalan dalam tes kemampuan berbicara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemelajar BIPA pemula di Mesir memiliki kesulitan pada level fonologis, yaitu pada artikulasi fonetik pada bunyi konsonan /b/, /p/, /ŋ/, /ɲ/, /k/, /ʔ/ dan secara konsisten kesulitan untuk memetakan bunyi /b/ ke /p/. Selain itu, cenderung menggandakan bunyi /ŋ/ dengan /ɡ/, juga menghindari bunyi /ɲ/.
PERSEPSI BUNYI HENTIAN BERSUARA BAHASA INDONESIA OLEH PEMELAJAR TAIWAN Johny Lee
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v7i1.16629

Abstract

Abstract: This study investigated the perception performance of the voiced stops of Indonesian language by Taiwanese learners. Previous studies suggest that the perception of foreign languages’ phonemic category absent in the L1 inventory is troublesome, and this is also the case for the Taiwanese learners’ of Indonesian. Seven of eight of our subjects were unable yet to perfectly distinguish between the voiced stops [b, d, g] and their voiceless counterpart [p, t, k] despite being able to speak Taiwanese (Southern Min) which has the voicing distinction for bilabial stops [b]-[p] and velar stops [g]-[k]. The result yielded from a small sized experimental study of forced option test and literature study provides us a preliminary understanding on why some Taiwanese learners sometimes made production errors, oral and written. This study serves as a preliminary study which we hope to lead to a bigger-scale and well-controlled psychoacoustics study in the future in order to have a more definitive result on the perceptional issue by Taiwanese learners of Indonesian. Abstrak: Studi ini meneliti kemampuan persepsi pemelajar Taiwan terhadap bunyi konsonan hentian bersuara bahasa Indonesia. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pemelajar bahasa asing memiliki kesulitan mempersepsi terhadap bunyi-bunyi bahasa asing yang tidak dimiliki oleh kategori fonem bahasa pertama dan kondisi yang sama juga dijumpai pada pemelajar bahasa Indonesia sebagai bahasa asing asal Taiwan. Tujuh dari delapan subjek penelitian masih belum mampu untuk secara sempurna membedakan konsonan hentian bersuara [b, d, g] dan pasangan takbersuaranya [p, t, k] meski semua subjek mampu berbahasa Taiwan (Min Selatan) yang memiliki pembedaan ciri suara pada konsonan hentian bilabial [b]-[p] dan bunyi konsonan hentian velar [g]-[k]. Hasil yang dihasilkan dari penelitian eksperimen dengan teknik force option test dan rujukan kepustakaan berskala kecil ini memberikan gambaran awal tentang kemungkinan penyebab pemelajar bahasa Indonesia asal Taiwan terkadang membuat kekeliruan produksi bahasa, baik secara lisan maupun tulisan. Penelitian ini berfungsi sebagai studi awal yang diharapkan bisa diteruskan untuk penelitian berskala besar dan menggunakan metode psikoakustik untuk mendapatkan hasil yang lebih definitif terhadap isu persepsi pemelajar bahasa Indonesia asal Taiwan. 
PENERAPAN E-LEARNING PADA SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) Devi Kurnia Khikmawati; Tina Indri Astuti; Any Novitasari
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v7i1.13584

Abstract

Abstract: Research on the application of e-learning in Extraordinary Schools (SLB) aims to increase the motivation and interest in learning for blind children. This research was conducted using qualitative research methods. A qualitative approach is an approach that is used to obtain data in more depth so that it can be used to develop theories and describe the reality and complexity of the phenomenon under study. The results of this study are the effectiveness of the application of e-learning in the form of a speech dictionary that is tailored to the needs of blind children. Novelty or novelty in this study is the application of e-learning for blind children. E-Learning has been applied to special schools and public schools, but its application is less adapted to the needs of Children with Special Needs (ABK). This research resulted in a novelty in the form of the application of e-learning tailored to the needs of special needs children, especially for blind children Abstrak: Penelitian mengenai penerapan e-learning pada Sekolah Luar Biasa (SLB) ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan minat belajar anak tunanetra. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Pendekatan kualitatif yaitu suatu pendekatan yang digunakan untuk memperoleh data secara lebih mendalam sehingga dapat digunakan untuk mengembangkan teori dan mendeskripsikan realitas serta kompleksitas fenomena yang diteliti. Hasil dari penelitian adalah keefektifan penerapan e-learning berupa kamus bicara yang disesuaikan dengan kebutuhan anak tuna netra. Novelty atau kebaruan dalam penelitian ini adalah penerapan e-learning bagi anak tuna netra. E-Learning sudah diterapkan pada sekolah luar biasa maupun sekolah umum, namun penerapannya kurang disesuaikan dengan kebutuhan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Penelitian ini menghasilkan kebaruan berupa penerapan e-learning yang disesuaikan dengan kebutuhan ABK, khususnya bagi anak tunanetra. 
ANALISIS SEMIOTIKA SIMBOL HEWAN DALAM PERCAKAPAN POLITIK DI TWITER Aloysius Rangga Aditya Nalendra; Sultan Himawan; Jeffry Latumahina; Bryan Kalbu Adhi
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v7i1.13324

Abstract

Abstract: This research is in the form of descriptive qualitative. This study tries to analyze the language phenoma by using Pierce's semiotic theory. Researchers used many data taken from Twitter social media as data taken from January 2018 to November 2019. Empirical data found on Twitter was processed and analyzed using the thick description method. The study conducted observations on social media and conducted data collection with an experimental system for this neutrality study. The results of this study are the discovery of the fact of the use of animal symbols, namely tadpoles, bat and desert lizards in the interaction of the social media world by netizens. Researchers found the meanings and symbols of the use of these animals only as a mocking tool but also became a symbol of guidance to criticize the animal symbol as not only a stigma but also a means of controlling social criticism.Abstrak: Penelitian ini berbentuk deskriptif kualitatif  yang bertujuan untuk menganalisa fenoma bahasa dengan teori semiotic Pierce. Peneliti meggunakan beberapa data yang diambil dari media sosial twitter sebagai data empiris yang diambil dalam  kurun waktu Januari 2018 hingga November 2019. Data empiris yang ditemukan dalam twitter tersebut diolah dan dianalisa dengan metode  thick description. peneliti melakukan observasi di dalam media sosial dan melakukan pengambilan data dengan sistem acak guna menjaga netralitas penelitian ini. Hasil penelitian ini adalah penemuan fakta empiris penggunaan simbol hewan yakni cebong, kampret dan kadal gurun dalam interkasi dunia sosial media yang dilakukan oleh netizen. Peneliti menemukan kesamaan makna dan tujuan penggunaan symbol ketiga hewan tersebut yakni bukan hanya  sebagai alat mengejek tetapi juga menjadi symbol petunjuk untuk mengkritik sehingga symbol hewan tersebut bukan saja menjadi stigma namun juga menjadi alat kontrol kritik sosial.   

Page 9 of 29 | Total Record : 282