cover
Contact Name
Dody Prayitno
Contact Email
dodytrisakti@gmail.com
Phone
+62819814887
Journal Mail Official
teknosain@kocenin.com
Editorial Address
Jl. garuda No.1 RT 03 RW 022 Kel. Pengasinan, Kec. Rawalumbu, Kota Bekasi 17115
Location
Kota bekasi,
Jawa barat
INDONESIA
METRIK SERIAL TEKNOLOGI DAN SAINS
ISSN : -     EISSN : 27742989     DOI : https://doi.org/10.51616/teksi
Tujuan dari jurnal adalah menerbitkan makalah ilmiah uang dihasilkan oleh mahasiswa, dosen, peneliti dan masyarakat umum dari semua disiplin ilmu (multidisiplin/lintas bidang ilmu) dengan memakai bahasa indonesia yang baku.
Articles 95 Documents
Penerapan Biofilik Yang Meningkatkan Wellness Pada Bangunan Komersil Muhammad Rifky; Hadi Prabowo; G. Oka Sindhu Pribadi
Metrik Serial Teknologi dan Sains Vol. 7 No. 2 (2026): agustus
Publisher : Konsorsium Cendekiawan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia dan alam adalah bagian yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Alam dalam hidup manusia sangat penting dan berdampak besar pada rutinitas sehari-hari. alam berperan sebagai media terapi yang bisa memberikan pengobatan alami. kesehatan mental kepada manusia. Namun dewasa ini, pemenuhan atas ruang hijau masih sangat sedikit di kota, seperti yang terjadi di Indonesia. Dimana, Menurut laporan data Kementerian PUPR pada tahun 2019, hanya 13 kota yang memiliki ruang terbuka hijau dari 172 kota yang berpartisipasi dalam program penanaman pohon. Upaya nyata di butuhkan di bidang arsitektur agar dapat. meningkatkan kawasan hijau melalui pengimplementasian pendekatan arsitektur hijau, contohnya seperti pendekatan biofilik. Dimana, pendekatan ini menekankan Hubungan yang saling tergantung antara manusia dan alam memungkinkan tercapainya keseimbangan yang harmonis antara kehidupan manusia dengan lingkungan alam. yang baik. Berdasarkan hal itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat hal tersebut. Desain biofilik, yang mengintegrasikan elemen alam seperti visual connection with nature, presence of water, dan dynamic light pada bangunan komersial, terbukti meningkatkan kualitas wellness penghuni dan efisiensi operasional. Bangunan komersil menerapkan pendekatan arsitektur biofilik tersebut Mengingat bangunan komersil berperan sebagai sarana bagi masyarakat untuk berlibur atau melakukan kegiatan rekreasi. pekerjaan. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan sumber data berasal dari beberapa institusi pendidikan serta lembaga terkait.data diperoleh melalui pengamatan digital serta beberapa referensi yang relevan. Hal tersebut terbukti dengan adanya penerapan prinsip biofilik dalam bangunan tersebut.
Peran Connectivity Dalam Meningkatkan Kualitas Kawasan Tod Juanda Alfian Arief Rachman; Hadi Prabowo; Arief Fadhilah
Metrik Serial Teknologi dan Sains Vol. 7 No. 2 (2026): agustus
Publisher : Konsorsium Cendekiawan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transit Oriented Development (TOD) merupakan model pengembangan kawasan perkotaan yang mengutamakan hubungan antara sistem sarana transportasi umum dan tata guna lahan. Pendekatan ini diterapkan yang diarahkan untuk membentuk kawasan yang memiliki aksesibilitas tinggi, pemanfaatan ruang yang efisien, serta mendukung pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Konsep ini bertujuan membentuk kawasan yang lebih padat, memiliki aksesibilitas yang tinggi, serta mampu mendukung pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Salah satu aspek yang menentukan keberhasilan penerapan TOD adalah connectivity, yaitu tingkat keterhubungan antar elemen kawasan yang mendukung kemudahan mobilitas, orientasi ruang, serta interaksi sosial. Kawasan TOD Juanda di Jakarta Pusat memiliki potensi sebagai simpul transportasi strategis karena terhubung dengan Stasiun Juanda dan berbagai fasilitas perkotaan. Namun, kondisi eksisting kawasan masih menunjukkan adanya fragmentasi fungsi, jalur pedestrian yang belum terintegrasi secara optimal, minimnya ruang publik, serta dominasi fungsi transit sehingga kawasan lebih berperan sebagai tempat perpindahan moda dibandingkan sebagai pusat aktivitas perkotaan. Melalui penelitian ini, penulis bertujuan untuk mengkaji peranan connectivity dalam meningkatkan kualitas Kawasan TOD Juanda. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Proses analisis dilakukan melalui kajian terhadap berbagai sumber pustaka yang membahas konsep Transit Oriented Development (TOD), teori connectivity, standar dan prinsip pengembangan kawasan berbasis TOD, serta temuan dari penelitian sebelumnya yang relevan dengan topik penelitian.. Seluruh referensi tersebut dijadikan landasan dalam menganalisis dan mengevaluasi kondisi kawasan yang menjadi objek penelitian. Hasil kajian kemudian dianalisis dan dihubungkan dengan kondisi eksisting Kawasan TOD Juanda untuk mengidentifikasi peran connectivity dalam mendukung kualitas kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa connectivity memiliki tiga peran utama dalam meningkatkan kualitas Kawasan TOD Juanda. Physical connectivity berperan meningkatkan aksesibilitas dan kemudahan mobilitas melalui integrasi jaringan pedestrian, skybridge, serta hubungan antar fungsi bangunan. Visual connectivity berperan memperkuat orientasi ruang dan identitas kawasan melalui pembentukan landmark dan keterhubungan visual antar elemen kawasan. Social connectivity berperan meningkatkan interaksi sosial dan vitalitas kawasan melalui penyediaan ruang publik serta integrasi fungsi mixed-use. Ketiga aspek tersebut saling mendukung dalam mewujudkan Kawasan TOD Juanda yang lebih terintegrasi, nyaman, aktif, dan berkelanjutan.
Penerapan Thermal and Airflow Variability Serta Presence of Water Pada Pengembangan Stasiun Gubeng Surabaya Dafa Al Rahmad; Inavonna Inavonna; Julindiani Iskandar
Metrik Serial Teknologi dan Sains Vol. 7 No. 2 (2026): agustus
Publisher : Konsorsium Cendekiawan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stasiun kereta api sebagai simpul transportasi seringkali terjebak dalam desain yang masif dan kaku, yang berdampak pada ketidaknyamanan termal dan tekanan psikologis bagi penggunanya. Penelitian ini mengkaji penerapan dua pola desain biofilik, yaitu Thermal and Airflow Variability dan Presence of Water, pada perancangan Transit Oriented Development (TOD) Stasiun Gubeng Surabaya. Pendekatan ini bertujuan menciptakan lingkungan stasiun yang adaptif terhadap iklim tropis Surabaya melalui sirkulasi udara alami dan elemen air yang memberikan efek pendinginan serta ketenangan visual. Melalui metode analisis deskriptif kualitatif pada elemen desain fasad, skylight, dan integrasi lanskap air, hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pola biofilik ini mampu meningkatkan kualitas mikroklimat bangunan dan kesejahteraan psikologis pengunjung.
Implementasi Arsitektur Eco-Tech Melalui Konektivitas Stasiun-Mall Dan Urban Responses Pada Pengembangan Stasiun Surabaya Gubeng Regya Kurniawan; Inavonna Inavonna; Julindiani Iskandar
Metrik Serial Teknologi dan Sains Vol. 7 No. 2 (2026): agustus
Publisher : Konsorsium Cendekiawan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan arsitektur Eco-Tech menyediakan solusi desain yang mengintegrasikan inovasi teknologi canggih dengan kesadaran lingkungan untuk menciptakan ruang bangunan yang berkelanjutan. Dalam konteks infrastruktur transportasi umum, penerapan prinsip-prinsip ini sangat penting untuk menghubungkan struktur dengan ekosistem perkotaan. Studi ini berfokus pada analisis penerapan pendekatan arsitektur Eco-Tech dalam pengembangan Stasiun Surabaya Gubeng, dengan penekanan pada dua prinsip utama yang dikemukakan oleh Catherine Slessor (1997), yaitu aspek Making Connection (membangun konektivitas) dan Urban Responses (tanggapan terhadap konteks perkotaan). Melalui studi ini, diharapkan dapat memberikan dasar konseptual dan perspektif baru dalam merancang stasiun kereta api besar yang modern, efisien secara teknologi, tetapi tetap menanggapi iklim lokal dan terhubung erat dengan tata ruang kota Surabaya. Metode penelitian yang diterapkan adalah metode deskriptif kualitatif, dengan pengambilan data melalui observasi objek dan tinjauan literatur yang sesuai. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa penguatan koneksi di antara moda dan perancangan tata massa yang menanggapi iklim serta bangunan cagar budaya di sekitarnya adalah kunci sukses implementasi Eco-Tech di daerah transit..
Pengaruh Proses Tempering Terhadap Kekerasan Baja SKH55 Arahva Achmad Artama; Dody Prayitno
Metrik Serial Teknologi dan Sains Vol. 7 No. 2 (2026): agustus
Publisher : Konsorsium Cendekiawan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja High Speed Steel (HSS) tipe SKH55 merupakan material perkakas yang membutuhkan kekerasan dan ketahanan aus tinggi, salah satunya untuk aplikasi pin dies. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perlakuan panas tempering terhadap perubahan nilai kekerasan baja SKH55. Metode penelitian bersifat eksperimental dengan menggunakan 8 spesimen uji berdiameter 20 mm dan panjang 50 mm. Parameter variabel yang digunakan meliputi temperatur austenisasi yaitu 1180°C dan 1200°C dengan waktu tahan (holding time) 2 jam. Media quenching adalah air dan oli. Proses tempering pada suhu 560°C selama 2 jam. Karakterisasi sifat mekanik dilakukan melalui pengujian kekerasan Rockwell (HRC) dan pengamatan mikrostruktur dengan metalografi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa seluruh spesimen as-quenched membentuk matriks martensit. Proses tempering menyebabkan martensit bertransformasi menjadi martensit temper yang disertai dengan presipitasi karbida sekunder. Hasil pengujian kekerasan menunjukkan adanya fenomena secondary hardening. di mana proses tempering meningkatkan nilai kekerasan dibandingkan kondisi as quenching (tanpa tempering). Nilai kekerasan tertinggi dicapai oleh spesimen dengan kombinasi perlakuan suhu austenisasi 1180°C, media quenching air, dan dilanjutkan tempering 560°C, yaitu sebesar 65,86 HRC (meningkat 2,64 HRC atau 4,2%). Sebaliknya, kekerasan terendah terdapat pada spesimen austenisasi 1200°C dengan quenching oli dan tanpa tempering sebesar 62,28 HRC. Temperatur austenisasi 1180°C menghasilkan kekerasan yang lebih optimal dibandingkan 1200°C karena pelarutan karbida yang homogen serta meminimalkan pembentukan retained austenite dan pertumbuhan butir. Media pendingin air juga menghasilkan kekerasan yang relatif lebih tinggi dibanding oli akibat laju pendinginan yang lebih cepat.

Page 10 of 10 | Total Record : 95