cover
Contact Name
Dewi Puspita Rahayu
Contact Email
dewi.rahayu@ub.ac.id
Phone
+6282335606641
Journal Mail Official
bjss@ub.ac.id
Editorial Address
Lantai 3 Gedung A FISIP UB Jalan Veteran, Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Brawijaya Journal of Social Science
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 28097068     EISSN : 28097025     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.bjss
Core Subject : Social,
Our journal covers the following areas of study in the current context: Community Development, Education, and Social Transformation Cultural and Postcolonial Studies Democracy, Citizenship, and Civil Society Economy, Organization, and Society Gender and Family Studies Inclusion, Social Justice, and Social Policy Industrial and Labor Relations Peace, Conflict, and Security Studies Rural and Urban Ecology, Disaster Studies, and Environmental Justice Rural and Urban Sociology Science, Technology, and Society Sociology of Crime Sociology of Religion Sociology of Sports
Articles 100 Documents
Peran Organisasi Nirlaba “BOS Foundation” dalam Upaya Penekanan Angka Perdagangan Orangutan di Indonesia Mutiara Syaharani Hapsari; Syawalya Azzukhruf Fairuz; Shazarina Safira Sofyan; Ni Putu Dhyana Arinawati Sudarsana; Jalalludin Muhammad Akbar
Brawijaya Journal of Social Science Vol. 4 No. 2 (2025): Quo Vadis Sustainability: The Future and The Present
Publisher : Sociology Department, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.bjss.2024.004.02.3

Abstract

Perburuan dan perdagangan satwa liar adalah akibat dari permintaan oknum-oknum tertentu yang menjadi penyebab spesies satwa langka di Indonesia terus berkurang. Perdagangan satwa liar merupakan bentuk kejahatan ilegal yang melanggar hak-hak satwa. Kasus perdagangan satwa liar akhirnya berdampak pada jumlah orangutan yang ada di Kalimantan, Indonesia. Kemunculan organisasi nonprofit menjadi harapan baru bagi kehidupan satwa langka seperti orangutan. Mereka mencoba membuat program-program sebagai inovasi yang kiranya dapat dilakukan dalam jangka panjang. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan studi literatur yang dikaitkan dengan konsep deep ecology dan social green. Peneliti juga mencoba menilik dari segi teknologi informasi yang dimanfaatkan oleh BOS Foundation dalam upaya penekanan angka perdagangan orangutan dengan cara edukasi dan kampanye yang dilakukan di media sosial Instagram. Kegiatan tersebut turut melibatkan masyarakat agar populasi orangutan yang ada sekarang ini tetap terjaga dan terhindar dari perburuan liar untuk diperjualbelikan. Masyarakat setempat yang secara langsung berinteraksi dengan hutan, pun ikut melestarikan orangutan dan lingkungan dengan melindungi ekosistem serta sumber daya alam. Tidak hanya di tingkat lokal, usaha yang dilakukan juga terhubung dengan skala nasional dan internasional. Masyarakat luas selalu dibutuhkan sebagai agen perubahan dari upaya konservasi dan orangutan adalah spesies kunci bagi keseimbangan alam. Temuan ini dapat menjadi landasan bagi organisasi nonprofit lain untuk membuat strategi dalam mengatasi permasalahan sosial lingkungan yang ada.
Comparative Study of Municipal Waste Management of Two Municipalities in Kushtia District: A Case Study. Amin, Dr. Md. Ruhul; Mohammad Selim
Brawijaya Journal of Social Science Vol. 4 No. 2 (2025): Quo Vadis Sustainability: The Future and The Present
Publisher : Sociology Department, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.bjss.2024.004.02.6

Abstract

The efficient management of municipal waste is a critical challenge for developing nations, where rapid urbanization and population growth exacerbate the problem. This study provides a comprehensive analysis of municipal waste management practices in Bangladesh, focusing on a comparative study of two municipalities in the Kushtia District: Kushtia Municipality and Kumarkhali Municipality. The research aims to evaluate the effectiveness, sustainability, and environmental impact of current waste management systems in these municipalities. Data were collected through field surveys, interviews with municipal officials, and analysis of secondary sources. The study reveals significant disparities in waste management practices between the two municipalities, attributed to differences in resource allocation, community participation, and policy implementation. Kushtia Municipality, with better financial and infrastructural support, demonstrates more effective waste collection, segregation, and disposal practices compared to Kumarkhali Municipality, which struggles with inadequate resources and lack of public awareness. The findings highlight the need for a more integrated and inclusive approach to waste management, emphasizing community engagement, capacity building, and policy reforms. Recommendations include the adoption of advanced waste processing technologies, enhancement of waste segregation at the source, and the implementation of robust monitoring and evaluation frameworks. This study contributes to the growing body of knowledge on municipal waste management in developing countries and provides actionable insights for policymakers, practitioners, and researchers aiming to improve environmental sustainability and public health in urban areas of Bangladesh.
Agroecology sebagai Alternatif Keberlanjutan Pangan dan Ekologi: Pengalaman Serikat Petani Indonesia (SPI) dan Aliansi Organisasi Indonesia (AOI) Styawan, Wahyu Eka; Hidayat, Kliwon; Sukesi, Keppi
Brawijaya Journal of Social Science Vol. 4 No. 2 (2025): Quo Vadis Sustainability: The Future and The Present
Publisher : Sociology Department, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.bjss.2024.004.02.4

Abstract

Praktik pertanian konvensional di Indonesia menyebabkan kerusakan ekosistem, termasuk degradasi tanah, polusi air, dan hilangnya keanekaragaman hayati, yang berdampak negatif pada produksi pangan. Pendekatan agroecology muncul sebagai solusi atas tantangan ini dengan mengurangi ketergantungan pada input eksternal, seperti pupuk dan pestisida sintetis. Penelitian ini berfokus pada pengalaman Serikat Petani Indonesia (SPI) dan Aliansi Organis Indonesia (AOI) dalam mengembangkan dan menerapkan praktik agroecology berbasis komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan latar belakang perpindahan praktik pertanian SPI dan AOI dari pertanian konvensional ke agroecology, (2) menganalisis bagaimana penerapan prinsip agroecologyyang diimplemantasikan oleh Serikat Petani Indonesia (SPI) dan Aliansi Organis Indonesia (AOI), serta (3) menganalisis hubungan sosial dan ekosistem dalam penerapan praktik agroecology oleh SPI dan AOI. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, karena diperlukan untuk mengeksplor(menggali) pengalaman SPI dan AOI dalam mengembangkan dan menerapkan pendekatan agroecology berbasis komunitas. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi lapangan, dan dokumen. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif, sedangkan uji keabsahan data digunakan triangulasi metode, dan sumber data . Hasil penelitian menunjukkan bahwa SPI dan AOI menggunakan pendekatan agroecology yang memiliki tiga prinsip utama yakni prinsip Resilient Farming yakni mendorong transisi ke pertanian organik, sistem tanam rotasi atau polikultur dan pengunaan bibit lokal. Lalu dalam prinsip Economic Viability dengan membuat program Kawasan Daulat Pangan (KDP) dan Participatory Guarantee System (PAMOR) dan terakhir dalam prinsip Community Empowerment dengan memasifkan pendidikan, pelatihan dan pendampingan intensif. Tantangan dalam penerapan agroecology yakni sistem yang belum mendukung, minimnya infrastruktur penunjang seperti untuk pembuatan pupuk dan pembenihan, lalu kurangnya dukungan kebijakan yang memadai dari pemerintah dan lemahnya sinergi antara aktor-aktor kunci seperti pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta menjadi hambatan utama. Selain itu, terbatasnya akses petani terhadap teknologi ramah lingkungan dan pendidikan tentang agroecology memperlambat proses adopsi.
Kesakralan Air dan Kearifan Lokal: Fondasi Pelestarian Sumber Daya Air Menuju Ekonomi Sirkular Berkelanjutan Jenny Yudha Utama; Rakhmad Siful Raahmadhani; Masnia Ningsih; Muhammad Yanuar Rahmad; Ion Sastra Piawai Aziz; Mohammad Gufron Arrizqi
Brawijaya Journal of Social Science Vol. 4 No. 2 (2025): Quo Vadis Sustainability: The Future and The Present
Publisher : Sociology Department, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.bjss.2024.004.02.5

Abstract

Air tidak hanya memiliki nilai ekologis dan ekonomis, tetapi juga dimensi spiritual dan budaya yang kuat dalam kehidupan masyarakat tradisional. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana nilai kesakralan air dan praktik kearifan lokal di Desa Seloliman, Mojokerto, berkontribusi terhadap pelestarian sumber daya air yang sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual ruwat air, simbolisme angka sakral, serta praktik spiritual-ekologis yang diwariskan secara turun-temurun membentuk sistem pelestarian air yang inklusif dan adaptif terhadap tantangan lingkungan modern. Kesakralan air berperan sebagai etika ekologis yang membatasi eksploitasi, sementara kearifan lokal menawarkan model konservasi berbasis komunitas. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya integrasi nilai budaya dan spiritual dalam kebijakan pembangunan berkelanjutan, sekaligus merekomendasikan replikasi model serupa di wilayah lain yang memiliki karakteristik ekospiritual serupa.
Alienasi Masyarakat Lokal dalam Pengambilan Keputusan terkait Desa Wisata Osing Kemiren Gesta Agam Ernando; Anggun Trisnanto Hari Susilo; Siti Kholifah
Brawijaya Journal of Social Science Vol. 5 No. 1 (2025): Social Transformation, Resilience, and Governance in Contemporary Societies
Publisher : Sociology Department, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.bjss.2025.005.01.5

Abstract

Pariwisata merupakan salah satu sektor penting dalam perekonomian lokal, terutama di daerah yang memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal seperti Kabupaten Banyuwangi. Desa Kemiren yang dihuni oleh masyarakat adat Osing, telah ditetapkan sebagai desa wisata. Namun, pengembangan desa wisata ini sering kali menyebabkan terjadinya alienasi terhadap masyarakat lokal dalam proses pengembangannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran masyarakat Osing dalam proses pengambilan keputusan terkait Desa Wisata Osing Kemiren. Mengacu pada teori alienasi oleh Karl Marx, penelitian ini menggunakan dua indikator alienasi di antaranya ketidakberdayaan (powerlessness) dan ketidakberartian (meaninglessness). Teori yang digunakan membantu memahami bagaimana masyarakat merasa terpisah atau terasingkan dari proses dan hasil yang seharusnya mereka dapatkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi alami. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan analisis dokumen. Informan penelitian terdiri dari kepala dinas kebudayaan dan pariwisata, kepala desa, kepala dusun, ketua lembaga adat dan anggota masyarakat yang terlibat langsung dalam pengembangan Desa Wisata Kemiren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Osing Desa Kemiren mengalami alienasi dalam perencanaan keputusan terkait pengembangan desa wisata. Meskipun peranan mereka rendah dalam tahap perencanaan, adaptasi positif terlihat dalam pelaksanaannya, terutama dalam pelestarian budaya lokal dan peningkatan ekonomi melalui kegiatan pariwisata. Partisipasi aktif dalam pelaksanaan mampu mengurangi rasa keterasingan, tetapi keterlibatan yang lebih inklusif diperlukan untuk memastikan distribusi manfaat yang lebih merata. Keterlibatan yang lebih inklusif dan strategi pemberdayaan yang berfokus pada masyarakat lokal sangat penting untuk mengurangi dampak alienasi dalam setiap tahap pengambilan keputusan. Temuan ini memberikan dasar perancangan kebijakan desa wisata yang lebih berkelanjutan dan adil.
Gastronomi dan Sakralitas Budaya Kuliner “Kolok Goblok” menuju Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kabupaten Malang Maulia Dyah Risanti; Marshanda, Isa Aini Yushan; Sabila, Isna Sal; Hartono
Brawijaya Journal of Social Science Vol. 5 No. 1 (2025): Social Transformation, Resilience, and Governance in Contemporary Societies
Publisher : Sociology Department, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.bjss.2025.005.01.3

Abstract

The purpose of writing this article is to explore the culinary culture of Kolak Goblok as part of the culinary cultural heritage of Poncokusumo village, Malang Regency, East Java. Specifically, the study examines in more depth the history, manufacturing process, and cultural and social values ​​contained in Kolok Goblok. Kolok Goblok is a traditional culinary that has deep historical, cultural, and social values. A dish made from pumpkin steamed with grated coconut and brown sugar, is not just food, but has an important role in traditional rituals and community celebrations. This study uses a qualitative descriptive method with data collection techniques through observation, in-depth interviews and documentation. Thirteen respondents were involved in the data collection process, including 3 Pokdarwis, 2 traditional institutions, 1 village official, 1 village head, 2 community leaders, 3 culinary preservationists, and 1 kolok goblok maker. The analysis method used in this study is descriptive analysis, which aims to provide a comprehensive picture of the existence and meaning of Kolok Goblok for the Poncokusumo community. The results of the study show that Kolok Goblok is not just a traditional food, but also a symbol of regional identity that represents local cultural values. This dish is part of a cultural expression that has been passed down from generation to generation and is still maintained today. In addition, Kolok Goblok has great potential in supporting culture-based tourism in Malang Regency
A Bibliometric Analysis of Cyber Resilience from 2000 to 2024 Muslikhatin, Lilik; Rodon Pedrason; Yoedhi Swastanto; Rudi Laksmono
Brawijaya Journal of Social Science Vol. 5 No. 1 (2025): Social Transformation, Resilience, and Governance in Contemporary Societies
Publisher : Sociology Department, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.bjss.2025.005.01.1

Abstract

The issue of cyber resilience is a growing global concern, as it reflects a country's ability to prepare for, absorb, recover from, and adapt to cyber threats and attacks. Weak cyber resilience can intensify the rise of digital crimes, making nations more vulnerable to disruption. This study aims to explore and analyse the development of cyber resilience research from 2000 to 2024 through a bibliometric approach. Data was collected from three major academic databases, Scopus, OpenAlex, and Google Scholar which are using relevant keywords such as cyber resilience, cyber security, cybercrime, and cyber defence. VOSviewer software was utilized to create network visualizations that map the connections between authors, research topics, institutions, countries, and keywords. The findings reveal a significant increase in scholarly publications over the years, indicating a growing global interest in this domain. Key research areas such as Cyber-Physical Systems (CPS), cyber resilience strategies, and social technologies have shown notable development. Furthermore, the focus of research has gradually shifted from purely technical aspects to more interdisciplinary themes involving public policy, international relations, risk governance, and the social sciences. The COVID-19 pandemic served as a turning point, amplifying research on societal impacts, remote work vulnerabilities, and risk communication. This evolution emphasizes the need for a holistic and integrated research agenda. The study concludes that international cooperation among scholars and institutions is crucial to strengthen cyber resilience. Future research directions should emphasize multidisciplinary and multimodal approaches to navigate the increasingly complex and interconnected landscape of cyber resilience, particularly in emerging domains such as social media governance, digital democracy, and AI-driven security.
Sirkulasi Modal Sosial dalam Politik Elektoral: Strategi Ketahanan Mukhammad Misbakhun sebagai Caleg Petahana Miftahul Huda
Brawijaya Journal of Social Science Vol. 5 No. 1 (2025): Social Transformation, Resilience, and Governance in Contemporary Societies
Publisher : Sociology Department, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.bjss.2025.005.01.4

Abstract

Studi ini menganalisis strategi ketahanan elektoral Mukhammad Misbakhun dalam mempertahankan kekuasaan sebagai anggota legislatif selama tiga periode pemilu (2009, 2014, dan 2019), serta keberhasilan elektoralnya. Fokus utama studi ini adalah bagaimana sirkulasi modal sosial, termasuk jaringan hubungan, kedekatan ideologis, dan basis loyalitas konstituen, berkorelasi dengan ketahanan politik calon legislatif petahana, bahkan ketika berpindah partai politik. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dan data dari wawancara mendalam, dokumentasi kampanye, dan analisis media, temuan menunjukkan bahwa modal sosial tidak hanya statis, tetapi juga bersirkulasi dan direproduksi secara strategis dalam ruang politik elektoral. Misbakhun mampu mengelola dan mengembangkan modal sosialnya melalui adaptasi terhadap konteks partai, dinamika lokal, dan konsistensi narasi politik yang dibangun selama masa jabatannya. Penelitian ini menawarkan wawasan baru tentang bagaimana hubungan sosial-politik, lebih dari sekadar struktur partai, merupakan penentu utama keberlangsungan kekuatan politik calon legislatif petahana di Indonesia
Identitas dan Praktik Representasional Komunitas Hijrah Urban Wisnu Pudji Pawestri
Brawijaya Journal of Social Science Vol. 5 No. 1 (2025): Social Transformation, Resilience, and Governance in Contemporary Societies
Publisher : Sociology Department, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.bjss.2025.005.01.2

Abstract

Fenomena hijrah di kalangan masyarakat urban Muslim Indonesia telah berkembang menjadi bagian dari budaya populer yang menampilkan bentuk baru kesalehan publik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana anggota Komunitas Terang Malang membentuk dan menampilkan identitasnya sebagai Muslim yang berhijrah serta bagaimana praktik representasi tersebut dinegosiasikan dalam wacana islamisasi dan modernitas. Menggunakan pendekatan fenomenologi Edmund Husserl, data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi partisipan. Pisau analisis menggunakan teori identitas Stuart Hall, performativitas Judith Butler dan Saba Mahmood, serta konsep kesadaran Husserl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas hijrah dibangun melalui praktik representasional yang mencakup narasi “dulu gelap–kini terang,” penggunaan bahasa religius, simbol tubuh, dan rutinitas ibadah yang diulang. Representasi ini bersifat selektif, anggota secara sadar menampilkan identitas baru yang dianggap “terang” dan menyembunyikan masa lalu yang kelam, meski kadang ditampilkan kembali sebagai strategi dakwah. Identitas hijrah juga dipengaruhi oleh wacana islamisasi dan modernitas, di mana anggota menegosiasikan posisi mereka antara kesalehan dan gaya hidup modern. Mereka menggunakan strategi budaya populer untuk menjembatani nilai spiritual dan ekspresi modernitas. Dengan demikian, hijrah tidak hanya dipahami sebagai proses spiritual, tetapi juga sebagai praktik sosial dan budaya yang membentuk identitas Muslim urban yang taat sekaligus relevan di dunia modern.
Akuntabilitas dan Transparansi dalam Kemitraan Pemerintah dan Sektor Privat di Era Keterbukaan Informasi Nur Alifa; Ayunda Eka Permata; Shella Rizki Junizar; Valentina Dona Agnesia
Brawijaya Journal of Social Science Vol. 5 No. 1 (2025): Social Transformation, Resilience, and Governance in Contemporary Societies
Publisher : Sociology Department, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.bjss.2025.005.01.6

Abstract

Meningkatnya keterlibatan sektor swasta dalam penyediaan layanan publik melalui Kemitraan Pemerintah–Swasta atau Public-Private Partnerships (PPP) telah menjadi model tata kelola dominan dalam administrasi publik kontemporer yang menawarkan peluang peningkatan efisiensi, inovasi, dan mobilisasi sumber daya dalam penyampaian layanan publik, namun partisipasi aktor non-pemerintah dalam mengelola aset publik secara bersamaan memunculkan tantangan kritis terkait akuntabilitas dan transparansi, khususnya dalam konteks keterbukaan informasi di mana mekanisme akuntabilitas yang tidak memadai dan akses informasi yang terbatas dapat melemahkan kepercayaan publik, mengurangi legitimasi kebijakan, dan meningkatkan risiko penyalahgunaan sumber daya publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan literatur dengan mengkaji berbagai sumber akademik termasuk jurnal ilmiah, artikel, dan buku referensi yang relevan dengan akuntabilitas, transparansi, dan informasi publik dalam kemitraan pemerintah–swasta melalui metode deskriptif-kualitatif dengan mensintesis kerangka teoritis dan temuan empiris dari studi sebelumnya. Temuan menunjukkan bahwa transparansi memainkan peran penting dalam memperkuat akuntabilitas dalam kemitraan publik-swasta, di mana akses terbuka terhadap informasi memungkinkan warga untuk memantau, menilai, dan mengevaluasi proses maupun hasil kolaborasi lintas sektor, sementara reformasi pemerintahan digital melalui implementasi sistem e-government  berfungsi sebagai instrumen penting untuk meningkatkan transparansi dan pengawasan publik, meskipun implementasi akuntabilitas dan transparansi dalam PPP masih menghadapi tantangan signifikan termasuk keterbatasan kapasitas institusional, infrastruktur teknologi yang tidak merata, dan partisipasi publik yang terbatas di wilayah tertentu. Studi ini menekankan bahwa peningkatan akuntabilitas dan transparansi dalam kemitraan pemerintah–swasta memerlukan kerangka regulasi yang komprehensif, pemanfaatan teknologi informasi yang efektif, dan keterlibatan publik yang aktif, sehingga dengan mengintegrasikan elemen-elemen tersebut, PPP dapat beroperasi lebih bertanggung jawab, transparan, dan berkelanjutan dengan memastikan kepentingan publik tetap menjadi inti dari inisiatif pembangunan di era keterbukaan informasi.

Page 10 of 10 | Total Record : 100