cover
Contact Name
Putri Amalia Zubaedah
Contact Email
putri.amaliazubaedah@gmail.com
Phone
+6288220544759
Journal Mail Official
putri.amaliazubaedah@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Kenyalu No.1 Jango, Kec. Janapria, Kab. Lombok Tengah
Location
Kab. lombok tengah,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Journal of Mandalika Social Science
Published by Mandalika Institute
ISSN : -     EISSN : 30254337     DOI : 10.36312
Journal of Mandalika Social Science is a scientific journal in the form of research and can be accessed openly. This journal is published by Mandalika Institute. Journal of Mandalika Social Science provides a means for ongoing discussion of relevant issues that fall within the focus and scope of the journal that can be examined empirically. This journal publishes research articles covering multidisciplinary sciences, which include: Humanities and social sciences, contemporary political science, education, religion and philosophy, economics, engineering, health, medicine, art design and media.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 58 Documents
Asimilasi Budaya dan Bahasa dalam Perspektif Sosiolinguistik di IKN Nusantara terhadap Komunikasi Masyarakat Lokal di Wilayah Sepaku Semoi Azizah; Ryanto, Bhekti Agus
Journal of Mandalika Social Science Vol 3 No 1 (2025): Journal of Mandalika Social Science
Publisher : Mandalika Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/jomss.v3i1.209

Abstract

Pengembangan Ibu Kota Nasional (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur memunculkan interaksi baru antara masyarakat lokal dan imigran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses asimilasi budaya dan linguistik yang terjadi di daerah Sepaku Semoi dalam konteks sosiolinguistik. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengidentifikasi dinamika komunikasi masyarakat lokal dan perubahan pola interaksi sebagai akibat dari pengembangan IKN. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran penggunaan bahasa daerah, integrasi norma budaya baru, dan strategi adaptasi masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan sosial.
Analysis of The Potential of Creative Economy Based on Local Wisdom in Soaib Village Kemtuk District, Jayapura Regency Ramandei, Lazarus; Sudiro, Sudiro
Journal of Mandalika Social Science Vol 3 No 2 (2025): Journal of Mandalika Social Science
Publisher : Mandalika Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/jomss.v3i2.211

Abstract

This research aims to analyze the potential of local wisdom-based creative economy in Soaib Village, Kemtuk District, Jayapura Regency. Soaib Village has cultural wealth and abundant natural resources, including organic cocoa and orchids, which have the potential to be developed into a sustainable creative economy sector. The research method used a descriptive qualitative approach with data collection through observation, interviews, and documentation. Data analysis was conducted using the SWOT method, explanatory analysis, and Geographic Information System (GIS) to map the potential of existing resources. The results showed that organic cocoa and orchids are leading sectors that can drive the local economy. However, there are significant challenges such as limited infrastructure, lack of technical training, pest attacks on cocoa, and limited market access. Support from institutions such as WWF in providing training and mentoring has had a positive impact, especially in improving community skills related to forest product management and orchid cultivation. The implications of this research emphasize the importance of local wisdom as a foundation in creative economic development, while maintaining environmental sustainability. The resulting strategic recommendations include improving infrastructure, strengthening technical training, strengthening local institutions, and promoting awareness about the importance of sustainability.
Analysis of The Socio-Economic Impact of Alfamidi's Existence on Grocery Stores in Heram District, Jayapura City Ramandei, Lazarus; Sudiro, Sudiro; Wairata, Juliani
Journal of Mandalika Social Science Vol 3 No 2 (2025): Journal of Mandalika Social Science
Publisher : Mandalika Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/jomss.v3i2.229

Abstract

This study examines the socio-economic impact of Alfamidi minimarkets on traditional grocery stores in Heram District, Jayapura City. Using mixed methods including surveys, interviews, and Geographic Information System (GIS) analysis, the research analyzed distribution patterns and competitive dynamics between modern and traditional retail. Results reveal a uniform distribution pattern of Alfamidi outlets strategically positioned near arterial roads, providing competitive advantages through modern facilities and digital services. This has resulted in up to 30% revenue decline for traditional grocery stores. The study employs SWOT analysis to identify challenges and opportunities, recommending zoning regulations and business collaboration to maintain local economic sustainability. The findings contribute to understanding retail transformation dynamics in developing urban areas and highlight the need for balanced economic growth strategies.
Pergeseran Nilai Sosial pada Generasi Z: Antara Individualisme dan Kolektivitas Digital Rosmita, Dina
Journal of Mandalika Social Science Vol 3 No 1 (2025): Journal of Mandalika Social Science
Publisher : Mandalika Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/jomss.v3i1.250

Abstract

Transformasi sosial yang dipicu oleh digitalisasi telah mengubah pola pikir dan nilai-nilai generasi muda, khususnya Generasi Z. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pergeseran nilai sosial pada Generasi Z dalam konteks kehidupan digital yang semakin dominan, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kecenderungan mereka terhadap nilai individualisme dan kolektivitas digital, serta mengeksplorasi bagaimana mereka menyeimbangkan kedua orientasi nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi literatur terhadap sepuluh artikel ilmiah yang diterbitkan dalam delapan tahun terakhir. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z tidak sepenuhnya meninggalkan nilai kolektivitas, melainkan mengadopsinya dalam bentuk yang lebih fleksibel dan kontekstual melalui platform digital. Sementara nilai individualisme berkembang sebagai bagian dari proses pencarian jati diri dan ekspresi personal, kolektivitas digital tetap hadir melalui partisipasi aktif dalam komunitas virtual dan gerakan sosial daring. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa digitalisasi tidak hanya menjadi medium perubahan nilai, tetapi juga memungkinkan terbentuknya sintesis antara individualisme dan kolektivitas dalam konstruksi sosial Generasi Z. Studi ini memberikan kontribusi penting bagi pemahaman dinamika sosial kontemporer dan implikasinya terhadap pendidikan, kebijakan sosial, dan pembentukan karakter generasi muda.
Narasi Meme sebagai Mekanisme Kontrol Sosial: Analisis Wacana Visual dalam Budaya Digital Wahyudi, Untung
Journal of Mandalika Social Science Vol 3 No 1 (2025): Journal of Mandalika Social Science
Publisher : Mandalika Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/jomss.v3i1.251

Abstract

Meme internet telah berkembang menjadi salah satu bentuk komunikasi digital yang paling berpengaruh, memainkan peran signifikan dalam membentuk opini publik, merepresentasikan budaya populer, dan menyampaikan pesan sosial. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana meme digunakan sebagai mekanisme kontrol sosial dalam budaya digital. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur (library research), penelitian ini menganalisis wacana visual dalam meme internet sebagai alat untuk mengonstruksi, menegosiasikan, atau mempertanyakan norma sosial. Data dianalisis melalui pendekatan wacana kritis dengan fokus pada elemen visual dan teks yang menyertainya, yang mencerminkan dinamika kekuasaan, ideologi, dan resistensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meme tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga memiliki dimensi politik dan sosial yang kompleks. Meme dapat menjadi alat untuk memperkuat kontrol sosial melalui humor yang menyasar perilaku menyimpang atau nilai-nilai yang dianggap tidak sesuai. Di sisi lain, meme juga digunakan untuk melawan otoritas atau membongkar struktur kekuasaan melalui ironi dan satire. Representasi visual dalam meme sering kali memperkuat stereotip tertentu, tetapi juga dapat menjadi ruang subversif untuk memprotes ketidakadilan. Dalam konteks budaya digital yang semakin terfragmentasi, meme memiliki kekuatan unik untuk menjangkau audiens luas secara cepat, menciptakan ruang diskusi yang dinamis di antara kelompok masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meme merupakan bentuk komunikasi yang multifaset dalam budaya digital modern, sekaligus alat yang dapat dimanfaatkan untuk kontrol sosial maupun resistensi. Studi ini menawarkan perspektif baru terhadap peran meme dalam kajian budaya dan komunikasi kontemporer.
Literature as Social Critique: Examining Class Struggle and Inequality in Contemporary Indonesian Fiction Ramdani, Akbar
Journal of Mandalika Social Science Vol 3 No 1 (2025): Journal of Mandalika Social Science
Publisher : Mandalika Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/jomss.v3i1.252

Abstract

Literature serves not only as an aesthetic medium, but also as a reflection and critique of complex social realities. This article aims to examine how contemporary Indonesian fictional literary works represent class struggles and social inequality as part of the discourse of social criticism. This research uses a qualitative approach with a library research method on a number of post-reform Indonesian novels that raise the theme of poverty, marginalization, and structural inequality. The analysis was carried out by utilizing social criticism theory and literary sociology approaches to identify narratives of resistance, power, and inequality that appear in literary texts. The results of the study show that these works not only voice the socio-economic conditions of marginalized groups, but also offer a space for readers to re-reflect on the unequal social structure. Indonesian contemporary fiction writers use characters, plots, and settings as narrative strategies to raise social issues symbolically and ideologically. Thus, literature plays a role as a tool for transforming social consciousness that is able to penetrate the formal boundaries of education and mainstream media. This article recommends the need to strengthen interdisciplinary studies between literature and social sciences to better understand the relationship between texts, society, and social change in contemporary Indonesia.
Sociolinguistic Variations and Identity Negotiation Among Urban Youth in Multilingual Communities Winarti, Wiwi
Journal of Mandalika Social Science Vol 3 No 1 (2025): Journal of Mandalika Social Science
Publisher : Mandalika Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/jomss.v3i1.253

Abstract

Sociolinguistic variations in multilingual communities reflect the complexity of the relationship between language and identity, particularly among urban youth. This study uses a qualitative method based on literature studies to explore how youth in urban environments utilize language choices to negotiate their social, cultural, and personal identities. Analysis of relevant literature shows that youth use code shifts, language hybridity, and linguistic innovation as adaptive strategies to the social dynamics presented by urbanization and globalization. In a multilingual community, language choice serves not only as a means of communication, but also as a symbol of cultural affiliation, resistance to homogenization, and expression of social mobility. Youth actively build their identities through interactions in social spaces, both physical and digital, which often reflect the tension between local authenticity and global influence. This negotiation of linguistic identity in urban spaces emphasizes the importance of contextual understanding of the role of language in shaping dynamic social structures. This article contributes to sociolinguistic studies by underlining the relationship between linguistic variation and identity construction in multilingual urban environments, while highlighting the theoretical and practical implications for the management of linguistic diversity in the modern era.
TikTok Sebagai Ruang Dialog Kultural Generasi Z dan Tradisi Lokal Tanjung, Muhammad Anhar
Journal of Mandalika Social Science Vol 3 No 1 (2025): Journal of Mandalika Social Science
Publisher : Mandalika Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/jomss.v3i1.255

Abstract

TikTok sebagai platform media sosial berbasis video pendek telah berkembang menjadi ruang dialog kultural yang strategis bagi Generasi Z dalam merepresentasikan, menginterpretasikan, dan mendistribusikan ulang warisan budaya lokal. Perubahan dinamika budaya dalam era digital menuntut adaptasi baru terhadap cara pelestarian dan transformasi nilai-nilai tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Generasi Z memanfaatkan TikTok sebagai medium partisipatif dalam membangun kembali relasi antara identitas generasi dan tradisi lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi literatur, yang melibatkan telaah terhadap buku, artikel ilmiah, dan publikasi akademik relevan, serta konten-konten TikTok yang menjadi bahan kajian dalam penelitian terdahulu. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis isi kualitatif untuk mengeksplorasi makna simbolik dari representasi budaya yang tampil di platform tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok membuka ruang baru bagi pelestarian budaya lokal dengan cara yang lebih kreatif, visual, dan mudah diakses oleh khalayak luas. Generasi Z tidak hanya menjadi pewaris pasif budaya, tetapi juga aktor utama dalam proses transformasi budaya melalui narasi digital yang mereka ciptakan. Namun, proses ini juga membawa tantangan seperti komodifikasi budaya dan pemutusan konteks nilai tradisional. Dengan demikian, TikTok berperan sebagai media sosial yang mampu menjembatani masa lalu dan masa kini, antara lokalitas dan globalitas, dalam satu ruang digital yang cair dan dinamis.
Kelas Sosial dalam Keranjang Belanja Studi tentang Gaya Konsumsi Masyarakat Urban Yusup, Aldian
Journal of Mandalika Social Science Vol 3 No 1 (2025): Journal of Mandalika Social Science
Publisher : Mandalika Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/jomss.v3i1.256

Abstract

Perkembangan ekonomi digital telah mendorong perubahan signifikan dalam pola konsumsi masyarakat urban Indonesia. Fitur keranjang belanja daring, sebagai elemen penting dalam e-commerce, bukan hanya menjadi alat transaksi, tetapi juga mencerminkan identitas dan stratifikasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana keranjang belanja berperan sebagai representasi kelas sosial dalam praktik konsumsi digital masyarakat urban. Fokus utama penelitian ini adalah membaca pola-pola konsumsi lintas kelas sosial yang terekam melalui fitur keranjang belanja sebagai ekspresi gaya hidup, preferensi budaya, dan simbol posisi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur (library research), yang mengkaji berbagai sumber sekunder, seperti jurnal ilmiah, buku akademik, dan artikel relevan dari tahun 2015–2024. Data dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif melalui teknik content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isi keranjang belanja mencerminkan kelas sosial konsumen. Kelas atas cenderung membeli produk simbolik bernilai tinggi untuk menunjang gaya hidup eksklusif, kelas menengah memilih produk campuran antara fungsional dan aspiratif, sementara kelas bawah fokus pada barang kebutuhan pokok yang bersifat utilitarian. Preferensi konsumsi ini sekaligus mencerminkan nilai-nilai budaya, strategi sosial, dan bentuk distingsi simbolik antar kelas sosial dalam masyarakat urban. Dengan demikian, konsumsi daring bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga bentuk komunikasi sosial yang mencerminkan dinamika kelas dan identitas di era digital.
Membaca Budaya Konsumtif dari Rak Promo Minimarket Aprianti, Nurul Annisa
Journal of Mandalika Social Science Vol 3 No 1 (2025): Journal of Mandalika Social Science
Publisher : Mandalika Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/jomss.v3i1.257

Abstract

Perubahan gaya hidup masyarakat urban Indonesia dalam dua dekade terakhir mencerminkan pergeseran signifikan dalam pola konsumsi, yang kini lebih dipengaruhi oleh keinginan daripada kebutuhan. Minimarket, sebagai ruang konsumsi harian, menjadi arena penting bagi praktik budaya konsumtif ini, terutama melalui keberadaan rak promosi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana rak promo di minimarket tidak hanya berfungsi sebagai alat pemasaran, tetapi juga sebagai representasi simbolik budaya konsumsi masyarakat urban kelas menengah ke bawah. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur, penelitian ini mengeksplorasi makna sosial dan simbolik dari rak promo sebagai cerminan gaya hidup, identitas sosial, dan mekanisme representasi kelas. Data diperoleh dari berbagai literatur akademik, kemudian dianalisis secara interpretatif menggunakan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rak promo berperan sebagai alat komunikasi non-verbal yang menyisipkan pesan-pesan ideologis konsumtif dalam keseharian. Ia tidak hanya menyusun pola konsumsi, tetapi juga membentuk citra diri konsumen dan menegaskan struktur kelas sosial. Barang-barang yang dipajang menjadi simbol dari kebutuhan, keinginan, hingga aspirasi masyarakat terhadap gaya hidup tertentu. Penelitian ini menegaskan pentingnya membaca ulang ruang-ruang sehari-hari sebagai locus dari pembentukan makna sosial, termasuk minimarket yang tampak banal namun menyimpan dinamika budaya yang kompleks.