cover
Contact Name
Abdul Muchlis
Contact Email
garuda@apji.org
Phone
+6285695565558
Journal Mail Official
jurnal@admi.co.id
Editorial Address
Perumahan Bumi Dirgantara Permai Blok CL NO 5, Jl. Durian, Jati Asih, Bekasi, Provinsi Jawa Barat, 17421
Location
Kab. bekasi,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
ISSN : 28290437     EISSN : 2829050X     DOI : 10.56127
Core Subject : Health,
Anatomi Anestesiologi Bedah Mulut Biokimia dan Biologi Molekular Cardiovaskular Dermatologi dan Venerologi Epidemiologi Farmakologi Farmasi Fisiologi Forensik Geriatri Genetika Gizi Medik Hematologi Histologi Ilmu Bedah Ilmu Kedokteran Gigi Anak Ilmu Kesehatan Anak Ilmu Kesehatan Masyarakat Ilmu Penyakit Dalam Ilmu Penyakit Mulut Kedaruratan Medik Kedokteran Preventif Konservasi Gigi Mikrobiologi Neurologi Obstetrik dan Ginekologi Onkologi Optalmologi Oral Diagnostik Ortodonti Otorinolaringologi Oral Biologi Parasitologi Patalogi Anatomi Patologi Klinik Periodonti Prostodonti Psikiatri Pulmonologi Radiologi Rehabilitasi Medik
Articles 133 Documents
PERAN KUALITAS PERSAHABATAN TERHADAP HAPPINESS PADA MAHASISWA RANTAU Stephanie Gabriel; Lia Aulia Fachrial
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 4 No. 1 (2025): Februari: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v4i1.1904

Abstract

Status sebagai mahasiswa perantau tentu adalah hal baru bagi sebagian besar mahasiswa. Mulai dari lingkungan, peran, hingga tanggung jawab yang berbeda dari sebelumnya. Kehadiran sahabat dalam mengisi hari-hari selama masa perantauan menjadi salah satu hal penting. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh kualitas persahabatan terhadap kebahagiaan pada mahasiswa perantau. Responden pada penelitian ini adalah 150 mahasiswa perantau dengan rentang usia 18 – 23 tahun, perempuan dan laki-laki, berdomisili di berbagai wilayah Indonesia (DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Luar Pulau Jawa), kuliah merantau baik di Pulau Jawa maupun Luar Pulau Jawa. Penelitian ini menggunakkan Teknik regresi sederhana. Alat ukur yang digunakan adalah skala kebahagiaan dari (Seligman, 2005) dan skala kualitas persahabatan (Bukowski, Hoza, Boivin, 1994). Hasil Uji hipotesis diperoleh terdapat pengaruh kualitas persahabatan terhadap kebahagiaan (R Square = 0,280 dengan nilai Sig. = 0, 000). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis diterima, yaitu kualitas persahabatan memiliki pengaruh sebesar 28% terhadap kebahagiaan pada mahasiswa perantau, dan sisanya sebesar 72% dipengaruhi oleh faktor-faktor diluar penelitian.
ANALISIS PERAN PKK DALAM PENCEGAHAN & PENANGANAN STUNTING DI INDONESIA Sri Wahyuningsih; Arlin Adam
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 4 No. 1 (2025): Februari: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v4i1.1915

Abstract

Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang signifikan di Indonesia, ditandai dengan gangguan pertumbuhan anak akibat kekurangan gizi kronis dan faktor lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting di Indonesia. Metode penelitian yang dipakai yakni Literature Review dengan mencari literatur dari basis data penelitian Google scholar, ProQuest, Semantic Scholar, EBSCO, dan Pubmed. Dari peninjauan Hasil penelitian menunjukkan bahwa PKK memiliki peran strategis sebagai ujung tombak pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam penyuluhan gizi, promosi pola hidup sehat, dan pengawasan tumbuh kembang anak di tingkat rumah tangga. Program PKK seperti Dasa Wisma, pemantauan posyandu, dan edukasi tentang pola makan seimbang menjadi instrumen utama dalam mendukung target pemerintah untuk menurunkan prevalensi stunting. Namun, keterbatasan sumber daya, kapasitas, dan koordinasi lintas sektor menjadi tantangan yang perlu diatasi. Kesimpulannya, optimalisasi peran PKK memerlukan penguatan kapasitas kader, alokasi sumber daya yang memadai, serta dukungan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan organisasi lainnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi kebijakan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan efektivitas intervensi dalam pencegahan dan penanganan stunting di Indonesia.
DETERMINAN KESEDIAAN IBU HBSAG POSITIF MELAKUKAN PEMERIKSAAN HEPATITIS B (HbsAg) PADA BAYI YANG DILAHIRKAN DI PUSKESMAS MAKASAR DKI JAKARTA TAHUN 2022 Febliyalink, Dbels Ath Qodr
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 4 No. 1 (2025): Februari: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v4i1.1923

Abstract

Virus Hepatitis B (VHB) menjadi salah satu masalah utama penyakit infeksi di dunia. Di Puskesmas Makasar Jakarta Timur, masih banyak ibu dengan HBsAg positif yang tidak melakukan pemeriksaan HBsAg pada bayi yang dilahirkan, sehingga program pemerintah melakukan triple eliminasi Hepatitis B pada bayi belum terlaksana dengan baik. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis determinan kesediaan ibu HBsAg Positif melakukan pemeriksaan Hepatitis B (HBsAg)ada bayi yang dilahirkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method yaitu pendekatan penelitian yang menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif, dengan rancangan cross sectional Data primer dan sekunder diambil menggunakan kuesioner yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Guna memperdalam kajian, dilakukan wawancara mendalam tentang kebijakan dan program triple eliminasi Hepatitis B. Validasi data kualitatif dilakukan dengan triangulasi sumber. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh populasi yang memenuhi syarat sebanyak 72 ibu. Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat, dengan uji chi square, analisis multivariat . Hasil penelitian menunjukkan bahwa 33,3% ibu bersedia melakukan pemeriksaan HBsAg pada anak yang dilahirkan. Faktor usia, Pendidikan, pekerjaan, pendapatan, riwayat persalinan, pengetahuan, dan sikap berhubungan dengan kesediaan Ibu untuk melakukan pemeriksaan, sedangkan faktor yang dominan adalah sikap dengan OR = 19,213, artinya ibu yang bersikap positif berpeluang meningkatkan kesediaan untuk memeriksakan diri sebesar 19 kali
PENGARUH PENDIDIKAN ORANGTUA TERHADAP MASALAH STUNTING PADA BALITA DI KABUPATEN SIKKA D. Mahing, Maria Goreti Etywati; Arlin Adam
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 4 No. 1 (2025): Februari: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v4i1.1929

Abstract

Masalah stunting menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang dihadapi di Kabupaten Sikka. Pendidikan orangtua yang rendah menjadi salah satu faktor penyebab masalah stunting pada balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mengetahui pengaruh tingkat pendidikan orangtua (Ibu) terhadap masalah stunting pada balita di Desa Kajowair, Kabupaten Sikka. Penelitian ini dilakukan termasuk dalam penelitian survei dengan metode cross-sectional survey. Penelitian ini dilakukan di Desa Kajowair, Kecamatan Hewokloang dengan menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stunting paling besar terjadi pada balita yang memiliki ibu dengan tingkat pendidikan paling rendah (dasar) sebanyak 40 orang. Sementara itu, balita yang yang memiliki ibu dengan tingkat pendidikan paling tinggi (sarjana) memiliki balita yang mengalami stunting paling rendah yakni sebanyak 6 orang. Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh antara tingkat pendidikan orang tua (ibu) dan balita yang mengalami stunting.
ANALISA PENGETAHUAN DAN PERILAKU REMAJA TENTANG HIV/AIDS DAN PENCEGAHANNYA Kristiani Lalan; Arlin Adam
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 4 No. 1 (2025): Februari: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v4i1.1939

Abstract

HIV/AIDS merupakan salah satu masalah kesehatan global yang memerlukan perhatian serius, terutama di kalangan remaja sebagai kelompok usia yang rentan terhadap perilaku berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pengetahuan dan perilaku remaja terkait HIV/AIDS serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah Literature Review dengan mencari literatur dari basis data penelitian Google scholar, ProQuest, Semantic Scholar, Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS berada pada kategori sedang (60%), dengan sebagian besar responden mengetahui jalur penularan HIV, namun kurang memahami gejala awal dan metode pencegahan yang tepat. Perilaku remaja terkait pencegahan HIV/AIDS masih perlu ditingkatkan, terutama dalam hal menghindari perilaku seksual berisiko dan penyalahgunaan narkoba. Faktor yang berpengaruh terhadap pengetahuan dan perilaku remaja meliputi tingkat pendidikan, akses informasi, serta peran keluarga dan lingkungan sosial. Kesimpulannya, meskipun sebagian besar remaja memiliki pengetahuan dasar tentang HIV/AIDS, masih diperlukan upaya edukasi yang lebih komprehensif melalui program kesehatan, sosialisasi di sekolah, serta peran aktif keluarga. Langkah-langkah tersebut penting untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong perilaku pencegahan yang positif di kalangan remaja.
ANALISIS PERAN PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT LUMPUH LAYU DI INDONESIA Irhasana, Irhasana; Arlin Adam
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 4 No. 1 (2025): Februari: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v4i1.1940

Abstract

Lumpuh layu atau Acute Flaccid Paralysis (AFP) adalah kondisi kelumpuhan yang terjadi secara mendadak dan sifatnya lemas. Penyakit lumpuh layu merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat menyebabkan kecacatan permanen dan memengaruhi kualitas hidup individu yang terdampak. Lumpuh layu dapat menyerang otot pernapasan atau anggota gerak, seperti tangan atau kaki. Lumpuh layu dapat ditularkan melalui feses penderita yang mengkontaminasi makanan dan minuman. Pencegahan penyakit ini memerlukan peran aktif dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, sektor kesehatan, lembaga swasta, dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran masing-masing pemangku kepentingan dalam upaya pencegahan penyakit lumpuh layu di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah Metode penelitian yang dipakai yakni Literature Review dengan mencari literatur dari basis data penelitian Google scholar, ProQuest, Semantic Scholar, EBSCO, dan Pubmed. Dari peninjauan Tujuan penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan program pencegahan sangat bergantung pada koordinasi multisektoral yang melibatkan Pemerintah memiliki peran sentral dalam merancang kebijakan dan menyediakan sumber daya, sementara lembaga swasta dan masyarakat berperan dalam mendukung implementasi di tingkat lokal. Kesimpulannya, sinergi yang kuat antar-pemangku kepentingan diperlukan untuk menciptakan sistem pencegahan yang berkelanjutan. Rekomendasi yang dihasilkan mencakup peningkatan koordinasi antar-lembaga, penguatan program imunisasi, dan strategi komunikasi kesehatan yang efektif. ntuk mencegah penyakit lumpuh layu di Indonesia.
My Advocacy Embraces Patients: A Case Study of Activist Support for Homeless Persons with Mental Disorders Wulandari, Virine; Rudangta Arianti
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 4 No. 2 (2025): Juni: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v4i2.2030

Abstract

Homeless individuals with mental disorders (ODGJ) are part of a vulnerable population that frequently experiences social discrimination, rejection from their immediate environment, and difficulties in accessing healthcare facilities. This study aims to identify the forms of social assistance provided by mental health activists and the challenges encountered in supporting homeless ODGJ in the Special Region of Yogyakarta. A qualitative case study approach was employed to examine the experiences of two volunteers selected through purposive sampling. Data were collected via semi-structured interviews and direct observation, then analyzed using thematic analysis. The study reveals two main obstacles faced by participants: (1) resistance from patients' families, including denial of mental health conditions and even physical rejection, and (2) tensions within the participants' own families. The developed solutions include educational approaches, collaboration with community leaders, and dialogue with families. Additionally, this research identifies four categories of support provided: (a) emotional (companionship and confidence-building), (b) appreciative (promotion of creative works and recognition), (c) instrumental (vocational training and medical services), and (d) informational (counseling on therapy and mental disorder management).
Potassium-Competitive Acid Blockers (P-CABS) as a New Breakthrough in the Treatment of Gastroesophageal Reflux Disease and Erosive Esophagitis : A Recent Literature Review Ayuni Putri, Nia
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 4 No. 2 (2025): Juni: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v4i2.2031

Abstract

Gastroesophageal reflux disease (GERD) and erosive esophagitis (EE) are common gastrointestinal disorders typically managed with proton pump inhibitors (PPIs). Although effective, PPIs have certain limitations, prompting the development of a new class of acid-suppressing agents known as potassium-competitive acid blockers (P-CABs). These agents offer the potential for faster and possibly more effective treatment compared to PPIs. This literature review aims to evaluate the efficacy, safety, and potential cost-effectiveness of P-CABs versus PPIs in the treatment of GERD and EE, based on five recent clinical trials. This review includes randomized controlled clinical trials investigating four types of P-CABs: vonoprazan, linaprazan glurate, fexuprazan, and tegoprazan, based on five source articles. The findings indicate that all P-CABs demonstrate efficacy that is comparable to or greater than that of PPIs, with a faster onset of action, favorable safety profiles, and promising cost-effectiveness, particularly in severe cases of EE. These results suggest that P-CABs are a promising alternative therapy for GERD and EE, supported by strong clinical evidence across various treatment scenarios. This review offers a novel contribution by summarizing five recent clinical trials on four P-CAB agents. Addressing the lack of comparative evaluations on their efficacy, safety, and cost-effectiveness, especially in PPI-resistant GERD and EE cases, this review supports more informed clinical decision-making.
The Relationship Between Social Function and Somatic Symptoms with the Quality of Life of the Elderly in the Tresna Werdha Social Home Sulaksono, Ari Dwi; Niken Asih Laras Ati; Heri Suroso
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 4 No. 2 (2025): Juni: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v4i2.2057

Abstract

Social functioning and somatic symptoms are crucial components of the health status of the elderly that can influence their quality of life, particularly for those residing in social care facilities. This study aims to analyze the relationship between social functioning and somatic symptoms with the quality of life of the elderly in the Tresna Werdha Social Care Center (PSTW). The research design employed is cross-sectional, involving 146 elderly participants selected through simple random sampling from two PSTWs in East Java. The instruments used include the General Health Questionnaire (GHQ-28) to measure social functioning and somatic symptoms, as well as the Older People's Quality of Life Brief Questionnaire (OPQoL-Brief) to assess quality of life. The results indicate that the majority of the elderly have a moderate level of social functioning (63%) and experience mild to moderate somatic symptoms (58%). Spearman's test reveals a significant relationship between social functioning and quality of life (p=0.001; r=0.512), as well as between somatic symptoms and quality of life (p=0.003; r=-0.474). Thus, it can be concluded that better social functioning is associated with higher quality of life, while more severe somatic symptoms are linked to lower quality of life. This study highlights the necessity for nursing interventions focused on enhancing social interactions and managing somatic complaints among the elderly to improve their quality of life in institutional settings
Mandibular Ameloblastoma in a 28-Year-Old Woman Muhammad Apri Rajab; Widyanti Soewoto
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 4 No. 2 (2025): Juni: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v4i2.2083

Abstract

Ameloblastoma is a benign odontogenic tumor originating from enamel-producing epithelial cells, which, despite being benign, can grow aggressively and cause damage to surrounding structures. This case reports a 28-year-old female patient who complained of a lump on the left chin that had developed over the past three years. The lump was hard, painless, and not accompanied by systemic symptoms such as fever or weight loss. Based on clinical and supporting examinations, including MSCT and biopsy, the diagnosis of bilateral mandibular and maxillary ameloblastoma was confirmed. This tumor displayed characteristics of bone destruction and invasion into surrounding tissues, requiring radical treatment. A hemimandibulectomy procedure was chosen as the primary therapy to remove the part of the jaw infected by the tumor, with the aim of reducing the high risk of recurrence. Reconstruction with a mandibular plate was performed to restore chewing function and the patient's facial aesthetic appearance. Long-term monitoring with radiography is required to detect recurrence. Although benign, ameloblastoma can be highly destructive and requires proper treatment to prevent further damage or tumor recurrence

Page 9 of 14 | Total Record : 133