Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia (JOKLI)
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia (JOKLI), The Indonesian Journal of Otorhinolaryngology Head and Neck, merupakan Jurnal Ilmiah di bidang Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher yang melalui peer review yang menerbitkan artikel ilmiah dalam bentuk Penelitian, Tinjauan Pustaka dan Laporan Kasus dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
Articles
45 Documents
Analisis Skor Reflux Symptom Index (RSI) pada Pasien Laryngopharyngeal Reflux dengan Pemberian Lansoprazol dan Ranitidin di RSUP Dr M Djamil Padang
Adha, Muhammad Rofid;
Asyari, Ade;
Asrawati;
Usman, Elly;
Putra, Syandrez Prima
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v3i1.60
Laryngopharyngeal reflux (LPR) is a condition caused by the movement of stomach acid back into the pharynx, larynx and upper digestive tract. One of the diagnostic tools that can be used in LPR is the Reflux Symptom Index (RSI), where RSI can also be used to evaluate symptom improvement in patients before and after administering drug therapy. This study aims to determine the average RSI score before and after giving therapy to LPR patients at Dr M Djamil Hospital, Padang. This research is a retrospective analytical study by taking medical record data on LPR patients at Dr M Djamil Hospital Padang using consecutive sampling techniques. Data analysis was carried out univariately to determine the frequency distribution and bivariately using the paired T-test to analyze the average RSI score. The results of this study were that the majority of LPR sufferers were >50 years old (52.9%), the majority gender was female (76.2%), and the most common complaints were a lump in the throat (100%) and heartburn (100%). The average RSI score before giving therapy was found to be 22.12 ± 6.827 and after giving therapy was 13.18 ± 7.844. Based on the data analysis carried out, the p<0.001. The conclusion of this study was that there was a significant change in the average RSI value before and after administration of lansoprazole and ranitidine therapy in LPR patients.
Diagnosis dan Penatalaksanaan Kista Duktus Tiroglosus
FAHMI, ARIF;
Rahman, Sukri
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v3i1.62
Pendahuluan: Kista duktus tiroglosus merupakan sisa embriologis yang terbentuk karena kegagalan penutupan duktus tiroglosus yang memanjang dari foramen caecum di lidah ke kelenjar tiroid di anterior leher. Kista duktus tiroglosus terdapat pada sekitar 1% populasi di seluruh dunia. Gejala klinis kista ini sering kali asimptomatik, pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan kistik pada anterior leher yang menghilang saat menelan dan menjulurkan lidah. Pemeriksaan penunjang dengan Ultrasonografi, tomografi komputer maupun Magnetic Resonance Imaging. Tatalaksana yang dipilih untuk kista duktus tiroglosus adalah eksisi kista. Laporan Kasus: Seorang laki-laki 50 tahun dengan keluhan benjolan di leher depan sejak 2 tahun yang lalu semakin membesar 1 bulan ini. Pada pemeriksaan fisik didapatkan benjolan ukuran 40x30x15mm pada anterior leher yang menghilang saat menelan dan menjulurkan lidah. Dilakukan pemeriksaan laboratorium tes fungsi tiroid dan ultrasonografi tiroid didapatkan hasil normal. Hasil tomografi komputer didapatkan gambaran kista duktus tiroglosus. Dilakukan eksisi massa tumor didapatkan massa tumor ukuran 25x23x10mm. Hasil pemeriksaan histolopatologi didapatkan gambaran kista duktus tiroglosus. Kesimpulan: Kista duktus tiroglosus merupakan masa kistik jinak pada kepala leher yang sering ditemukan. Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang seperti tes fungsi tiroid, ultrasonografi tiroid dan tomografi komputer. Tatalaksana kista dusktus tiroglosus dengan eksisi kista dan duktus dengan tetap mempertahankan tulang hyoid.
Keterlambatan Diagnosis dan Tatalaksana Benda Asing Koin di Esofagus
FAHMI, ARIF;
Asyari, Ade
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v3i1.63
Pendahuluan : Tertelan benda asing adalah kejadian yang sering terjadi terutama pada anak-anak. Keterlambatan diagnosis dapat terjadi dikarenakan gejala awal yang tidak khas dan kesalahan diagnosis awal yang dapat mengakibatkan kemungkinan komplikasi seperti inflamasi dan nekrotik mukosa esofagus yang membuat gejala menjadi lebih berat. Esofagoskopi kaku digunakan untuk diagnosis dan penatalaksanaan pada benda asing di esofagus. Laporan Kasus : Dilaporkan satu kasus benda asing di esofagus pada seorang anak perempuan usia 3 tahun yang mengeluhkan batuk setelah makan sejak 1 minggu dan nyeri menelan yang semakin memberat sejak 1 hari sebelum masuk Rumah Sakit. Pasien riwayat tertelan koin 3 minggu sebelum masuk Rumah Sakit. Pasien terlambat didiagnosis dan tatalaksana sehingga mengalami komplikasi berupa inflamasi dan nekrosis di mukosa esofagus. Dilakukan tindakan esofagoskopi kaku pada minggu ke tiga setelah tertelan benda asing. Kesimpulan: Keterlambatan diagnosis dan tatalaksana benda asing koin dapat menyebabkan gejala klinis menjadi berat dan terjadinya inflamasi dan terbentuknya nekrotik pada mukosa esofagus. Penegakan diagnosis dan tatalaksana yang tepat penting untuk mencegah terjadinya gejala klinis yang berat dan komplikasi.
Peran Ki67 pada Karsinoma Nasofaring
Hakikah, Tika;
Rahman, Sukri;
Ali, Hirowati
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v3i1.64
Latar Belakang: Pendahuluan: Karsinoma nasofaring memiliki rekurensi atau metastasis jauh, yang menandakan suatu adanya aktifitas sel yaitu proliferasi sel. Penilaian adanya suatu proliferasi sel memerlukan biomarker, salah satunya Ki67 yang sampai saat ini sudah dikenal baik sebagai penanda proliferasi sel. Tujuan: Mengetahui peran Ki67 pada karsinoma nasofaring. Tinjauan Pustaka: Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas sel skuamosa yang terjadi di daerah perbatasan epitel nasofaring dimana epitel kubus beralih menjadi epitel skuamosa. Pada stadium dini tidak mudah dideteksi karena secara anatomis terletak jauh di dalam kepala. Ki67 berhubungan erat dengan mitosis dan aktivitas proliferasi tumor ganas serta kinerja pengobatan kanker nasofaring. Kesimpulan: Ekspresi Ki67 yang tinggi merupakan penanda untuk prognosis buruk pada karsinoma nasofaring. ABSTRACT Background: Introduction: Nasopharyngeal carcinoma has recurrence or distant metastasis, which indicates a cell activity, namely cell proliferation. Assessment of the presence of a cell proliferation requires biomarkers, one of which is Ki67 which has been established as a marker of cell proliferation. Objective: To determine the role of Ki67 in nasopharyngeal carcinoma. Literature Review: Nasopharyngeal carcinoma is a malignant squamous cell tumor that occurs in the border area of the nasopharyngeal epithelium where the cuboidal epithelium turns into the squamous epithelium. At an early stage, it is difficult to detect because it is anatomically located deep in the head. Ki67 is closely related to the mitotic and proliferative activity of malignant tumors and the treatment performance of nasopharyngeal carcinoma. Conclusion: High Ki67 expression is a marker for poor prognosis in nasopharyngeal carcinoma.
Tatalaksana Tumor Warthin dengan Parotidektomi Superfisialis
Febri arius sari;
Rahman, Sukri
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v3i1.66
Latar Belakang: Tumor Warthin merupakan tumor jinak paling sering kedua yang ditemukan pada kelenjar parotis, setelah adenoma pleomorfik. Tumor Warthin banyak ditemukan pada pasien usia lanjut, dengan riwayat merokok lama dan lebih sering pada laki-laki. Pemeriksaan penunjang untuk diagnosis tumor parotis antara lain biopsi aspirasi jarum halus, ultrasonografi, tomografi komputer dan magnetic resonance imaging. Penatalaksanaan tumor jinak parotis adalah eksisi tumor secara parotidektomi dengan preservasi saraf fasialis. Laporan Kasus: Dilaporkan satu kasus tumor Warthin parotis dekstra pada seorang laki-laki berusia 43 tahun dengan keluhan benjolan di bawah daun telinga kanan sejak 3 tahun lalu. Pada regio parotis dekstra tampak benjolan ukuran 40x30x10mm, berbatas tegas, tidak terfiksir, warna sama dengan kulit sekitar dan tidak ada nyeri tekan. Dilakukan pemeriksaan biopsi aspirasi jarum halus didapatkan hasil Warthin tumor dan pemeriksaan tomografi komputer dengan kesan massa dominan kistik parotis dekstra. Pasien ditatalaksana dengan parotidektomi superfisialis dengan preservasi nervus fasialis. Hasil pemeriksaan histopatologi didapatkan gambaran tumor Warthin. Kesimpulan: Tumor Warthin perlu dipikirkan dalam suatu diagnosis banding pada tumor jinak parotis yang biasanya muncul sebagai massa tanpa gejala dan tumbuh lambat. Pemeriksaan histopatologi merupakan standar baku dalam menegakkan diagnosis tumor parotis. Tindakan parotidektomi diikuti preservasi saraf fasialis merupakan tindakan pembedahan pada tumor Warthin. Kata kunci: tumor jinak parotis, tumor Warthin, parotidektomi superfisialis, saraf fasialis
Parotidektomi dengan Pendekatan Diseksi Ekstrakapsular pada Adenoma Pleomorfik Parotis
Edward, Fajar Dirgantara;
Rahman, Sukri
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v4i1.83
Pendahuluan: Tumor parotis merupakan tumor kelenjar ludah yang paling sering terjadi. Sebagian besar dari tumor kelenjar parotis adalah jinak. Adenoma pleomorfik merupakan tumor jinak kelenjar ludah terbanyak sekitar 60-80% dari seluruh neoplasma di kelenjar ludah dan paling sering ditemukan pada kelenjar parotis sebanyak 85%. Diagnosis adenoma pleomorfik ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran klinis, dan pemeriksaan penunjang dengan Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJAH), pemeriksaan radiologis, dan histopatologi massa tumor. Penatalaksanaan tumor jinak parotis adalah dengan eksisi tumor secara lengkap yaitu dengan parotidektomi dan preservasi nervus fasialis. Laporan Kasus: Dilaporkan satu kasus seorang wanita usia 24 tahun dengan adenoma pleomorfik parotis sinistra. Pada regio parotis sinistra tampak benjolan dengan ukuran 40x30x10 mm, berbatastegas, warna sama dengan sekitar, konsistensi padat kenyal, terfiksir, nyeri tekantidak ada. Dilakukan pemeriksaan BAJAH dengan hasil adenoma pleomorfik. Pemeriksaan Computerized Tomography Scan (CT scan) dengan kesan tumor parotis sinistra. Dilakukan tindakan parotidektomi dengan diseksi ekstrakapsular dan pemeriksaan histopatologi dengan kesan adenoma pleomorfik. Kesimpulan: Adenoma pleomorfik merupakan tumor jinak pada kelenjar ludah dan paling sering terjadi di kelenjar parotis yang ditandai dengan gejala pembengkakan di regio parotis, tanpa gejala, dan tanpa menimbulkan nyeri. Pemeriksaan BAJAH dan CT scan leher dapat dilakukan untuk membantu mendiagnosis adenoma pleomorfik. Teknik pembedahan parotidektomi dengan ekstrakapsular diseksi merupakan pilihan operasi pada kasus tertentu tanpa identifikasi nervus fasialis.
Diagnosis dan Tatalaksana Terbaru Presbikusis
Ghinasari, Meilia;
Rosalinda, Rossy
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v4i1.84
Latar Belakang: Presbikusis didefinisikan sebagai gangguan pendengaran sensorineural progresif yang terkait dengan penuaan. Beberapa studi menunjukkan bahwa kerentanan genetik, stres oksidatif dan peradangan kronik dalam sel rambut dapat memicu respons inflamasi, yang menyebabkan kerusakan pada sel rambut seiring bertambahnya usia. Tujuan: untuk lebih memahami diagnosis dan tatalaksana terbaru presbikusis. Tinjauan Pustaka: Presbikusis ditandai dengan gangguan pendengaran sensorineural yang progresif, bilateral dan simetris, dengan sebagian besar pasien mulai mengalami kehilangan pendengaran pada frekuensi tinggi. Individu dengan presbikusis sering mengalami “cocktail party effect”, disertai gejala seperti tinnitus, vertigo, ketidak-seimbangan dan jatuh. Diagnosis presbikusis ditegakkan dengan pada penurunan pendengaran di atas frekuensi 2000 Hz pada audiometri nada murni dan didapatkan abnormalitas pada audiometri tutur dan speech-in-noise test. Tatalaksana presbikusis mencakup alat bantu dengar, implan koklea, medikamentosa, terapi stem cell dan terapi gen. Kesimpulan: Kerentanan genetik, stres oksidatif dan peradangan kronik terlibat dalam perkembangan presbikusis. Diagnosis presbikusis ditegakkan dengan audiometri nada murni, audiometri tutur dan speech-in-noise test. Tatalaksana presbikusis meliputi rehabilitasi pendengaran, medikamentosa dan terapi gen.
Tatalaksana Paresis Nervus Fasialis akibat Fraktur Temporal
Khalisha, Auzy Yoana;
Rosalinda, Rossy;
Handayani, Tuti
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v4i1.85
Latar Belakang: Fraktur tulang temporal merupakan salah satu cedera kepala yang sering terjadi akibat trauma tumpul berenergi tinggi. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah paresis nervus fasialis, yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Diagnosis ditegakkan dengan adanya riwayat trauma kepala disertai paresis nervus fasialis satu sisi, penurunan pendengaran dan tampak adanya garis fraktur pada High-Resolution Computed Tomography (HRCT) scan temporal. Laporan kasus: Dilaporkan seorang perempuan 43 tahun dengan keluhan wajah sisi kiri mencong sejak 1 bulan pasca kecelakaan lalu lintas. Pemeriksaan menunjukkan hemotimpanum, paresis nervus fasialis perifer sinistra House-Brackmann V, gangguan pendengaran konduktif, dan hasil HRCT menunjukkan fraktur longitudinal tulang temporal kiri melibatkan dinding kanalis fasialis. Pasien ditatalaksana dengan pemasangan pipa grommet dan injeksi kortikosteroid intratimpani, terapi medikamentosa berupa obat neurotropik dan tetes mata, serta fisioterapi wajah. Perbaikan klinis terjadi bertahap hingga House-Brackmann III dalam 2 bulan pasca tindakan. Kesimpulan: Penatalaksanaan paresis nervus fasialis akibat fraktur tulang temporal memerlukan pendekatan multidisiplin. Deteksi dini, evaluasi menyeluruh, dan tatalaksana yang tepat dapat meningkatkan prognosis, memperbaiki fungsi nervus fasialis, dan mencegah kecacatan jangka panjang.
Tatalaksana Tuli Mendadak pada Anak
Dona, Rafika;
Rosalinda, Rossy
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v4i1.86
Latar Belakang: Tuli mendadak merupakan kondisi kehilangan pendengaran secara tiba-tiba dengan minimal ambang dengar 30 dB pada 3 frekuensi yang berdekatan pada audiometri nada murni terjadi kurang dari 72 jam yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen dan penurunan kualitas hidup secara signifikan. Insidensinya jarang pada anak, etiologi dan patogenesis tuli mendadak pada anak terbanyak adalah idiopatik, infeksi virus dan kelainan anatomi telinga dalam. Pemberian terapi kortikosteroid saat ini menjadi pilihan terapi utama untuk kasus tuli mendadak termasuk pada anak. Laporan Kasus: Seorang anak laki-laki berusia 15 tahun dengan keluhan penurunan pendengaran mendadak pada telinga kanan sejak 11 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien memiliki kebiasaan merokok. Dari pemeriksaan audiometri nada murni didapatkan hasil gangguan pendengaran tipe campuran derajat berat pada telinga kanan. Terapi awal dengan kortikosteroid sistemik dilanjutkan dengan injeksi intratimpani empat siklus dan terjadi perbaikan pendengaran yang signifikan. Kesimpulan: Tuli mendadak pada anak jarang terjadi, penyebab tuli mendadak pada anak terbanyak adalah idiopatik, infeksi virus dan kelainan anatomi. Penatalaksanaan tuli mendadak dengan terapi kortikosteroid sistemik dan injeksi intratimpani sebagai salvage therapy pada anak menunjukkan hasil klinis yang baik terutama bila diberikan dalam periode awal onset.
Gangguan Pendengaran Pada Pasien Hydrocephalus Ventriculoperitoneal Shunt
Irwan, Stevani;
Warto, Nirza
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v4i1.87
Latar Belakang: Pendahuluan: Hidrosefalus merupakan suatu keadaan yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan cairan serebrospinal pada ventrikel sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial (TIK). Gangguan pendengaran yang terjadi pada pasien hidrosefalus bersifat sensorineural. Tujuan: Mengetahui dan memahami hubungan gangguan pendengaran sensorineural pada pasien hidrosefalus tanpa pemasangan Ventriculoperitoneal Shunt (VP Shunt) dan pasien hidrosefalus dengan pemasangan VP Shunt, sehingga dapat menegakkan diagnosis secara dini dan tatalaksana yang tepat. Tinjauan Pustaka: Gangguan pendengaran dapat terjadi pra operatif dan pasca operatif VP Shunt, namun jarang dilaporkan sebagai gejala utama dari hidrosefalus, Pemeriksaan pendengaran yang dapat dilakukan pada pasien hidrosefalus seperti pemeriksaan penala, audiometri nada murni dan Brainstem auditory evoked potential (BAEP). Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan pada pemeriksaan pendengaran pra operatif dan post operatif VP Shunt pada pasien hidrosefalus. Pemeriksaan pendengaran pada pasien hidrosefalus dapat membantu untuk menentukan adanya gangguan pendengaran, sehingga dapat menentukan tatalaksana yang tepat.