cover
Contact Name
Sukri Rahman
Contact Email
sukrirahman@med.unand.ac.id
Phone
+6281266404069
Journal Mail Official
editorjokli@gmail.com
Editorial Address
Departemen THT-KL FK Universitas Andalas/ RSUP. Dr. M. Djamil Padang Lt.3 Gedung Administrasi dan Poliklinik RSUP. Dr. M. Djamil Jl. P. Kemerdekaan Padang, 25127
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia (JOKLI)
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : 29617480     DOI : https://doi.org/10.25077/jokli
Core Subject : Health,
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia (JOKLI), The Indonesian Journal of Otorhinolaryngology Head and Neck, merupakan Jurnal Ilmiah di bidang Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher yang melalui peer review yang menerbitkan artikel ilmiah dalam bentuk Penelitian, Tinjauan Pustaka dan Laporan Kasus dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
Articles 55 Documents
Perbedaan Ekspresi Enzim Cyclooxygenase-2 pada Pasien Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Stadium Dini dan Stadium Lanjut Diflayzer Diflayzer; Sukri Rahman; Hirowati Ali; Yessy Setiawati; Husna Yetti
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.89

Abstract

Latar Belakang: Karsinoma nasofaring (KNF) adalah keganasan yang berasal dari sel epitel nasofaring. Kelangsungan hidup dan prognosis pasien KNF sangat tergantung pada stadium tumor. Pemahaman yang baik tentang faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis dan perkembangan penyakit sangat penting dalam pengelolaan KNF. Salah satu faktor yang berpotensi memainkan peran kunci dalam hal ini adalah enzim cyclooxygenase-2 (COX-2). Peningkatan aktivitas COX-2 dapat memfasilitasi sel-sel tumor untuk memperoleh berbagai kemampuan biologis yang berkontribusi pada pertumbuhan dan perkembangan tumor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan ekspresi enzim COX-2 berdasarkan stadium karsinoma nasofaring. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional analitik komparatif numerik tidak berpasangan dua kelompok satu kali pengukuran pada jaringan tumor dalam bentuk blok parafin dari hasil biopsi pasien KNF dan dilakukan pemeriksaan imunohistokimia untuk menilai ekspresi COX-2 pada jaringan tumor KNF yang dibagi menjadi kelompok stadium dini dan stadium lanjut. Data dianalisis secara statistik dengan program komputer dan dinyatakan bermakna jika p<0,05. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan rerata ekspresi COX-2 pada KNF stadium lanjut (69,59±11,75) lebih tinggi dibandingkan dengan KNF stadium dini (47,29±31,04), namun hasil uji statistik menunjukkan bahwa perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik (p=0,28). Kesimpulan: Terdapat kecenderungan peningkatan ekspresi COX-2 pada stadium lanjut dibandingkan dengan stadium dini, namun perbedaan ini tidak signifikan secara statistik.
Diagnosis dan Tatalaksana Squamous Cell Carcinoma Lidah Stadium Dini Fitri Sakinah; Sukri Rahman; Zulda Musyarifah
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.90

Abstract

Latar Belakang: Squamous Cell Carcinoma (SCC) lidah merupakan salah satu keganasan tersering di rongga mulut. Bersifat agresif dengan prognosis yang bervariasi. Meskipun permukaan lidah dapat diperiksa secara langsung, banyak kasus terdiagnosis pada stadium lanjut. Secara global, SCC lidah menyumbang bagian signifikan dari kanker rongga mulut dan memiliki prevalensi yang cukup tinggi di Asia Selatan dan Tenggara, termasuk Indonesia. Secara klinis, kanker lidah bermanifestasi sebagai lesi ulseratif atau infiltratif yang sering menyerupai kelainan jinak sehingga menyebabkan keterlambatan diagnosis. Laporan Kasus: Telah dilaporkan satu kasus SCC lidah stadium I (T1N0M0) pada seorang perempuan berusia 55 tahun, dilakukan tindakan partial glossectomy kemudian dilanjutkan pemberian radioterapi sebagai terapi adjuvan pada pasien tersebut. Kesimpulan: Tujuan pengobatan Oral Cavity Squamous Cell Carcinoma (OCSCC) adalah penyembuhan kanker, memulihkan fungsi dasar seperti berbicara dan menelan, minimalisasi efek samping, serta memperhitungkan risiko kekambuhan. Pembedahan merupakan terapi utama pada kasus SCC lidah stadium dini (T1/T2N0M0). Pemberian radioterapi sebagai terapi adjuvant didasarkan pada hasil batas sayatan pembedahan yang positif atau tipis/dekat (kurang dari 5 mm), invasi perineural, perivaskular serta adanya nodul okulta.
Diagnosis dan Tatalaksana Kolesteatoma Kongenital Alexis Faisal; Jacky Munilson
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.91

Abstract

Latar Belakang: Kolesteatoma kongenital adalah kista inklusi epidermis yang bersifat jinak namun merusak, terletak di telinga tengah dan mastoid. Kondisi ini jarang terjadi, hanya mencakup 1%-5% dari semua kasus kolesteatoma. Meskipun etiologi kolesteatoma kongenital belum sepenuhnya jelas, hipotesis yang paling diterima adalah kegagalan penyerapan kembali sisa jaringan epitel embrionik selama perkembangan janin. Pada pemeriksaan fisik, kolesteatoma kongenital didapatkan massa berwarna putih mutiara di belakang membran timpani yang utuh, tanpa riwayat keluar cairan dari telinga (otorrhea) atau tindakan bedah bagian otologi sebelumnya. Tujuan: Untuk menganalisis gejala yang muncul, karakteristik klinis, penegakkan diagnosa dan tatalaksana pasien dengan kolesteatoma kongenital. Tinjauan Pustaka: Diagnosis dini sangat penting untuk mencegah kerusakan parah pada struktur telinga tengah. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan klinis dan pencitraan, seperti Computed Tomography (CT) Scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Metode assessment melalui Stadium Potsic digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat keparahan penyakit yang berkorelasi dengan resiko kekambuhan pascaoperasi. Kesimpulan: Kolesteatoma kongenital adalah massa putih yang terletak di medial membran timpani yang utuh, tanpa riwayat otore, perforasi atau prosedur otologi sebelumnya. Pilihan tatalaksana pembedahan terdiri dari dua prosedur bedah utama yaitu timpanomastoidektomi dengan dinding utuh dan dinding runtuh.
Korelasi Perubahan Kadar Enzim Superoxide Dismutase dan Ambang Dengar pada Penderita Tumor Ganas Kepala Leher yang Mendapat Kemoterapi Cisplatin Rini Yoanita; Rossy Rosalinda; Sukri Rahman; Gestina Aliska; Husna Yetti
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.92

Abstract

Latar Belakang: Cisplatin dapat digunakan sebagai terapi tunggal atau kombinasi untuk induksi atau terapi neoadjuvan pada tumor ganas kepala leher, memiliki berbagai toksisitas yang membatasi dosis dan bersifat kumulatif, bahwa stria vaskularis merupakan awal cedera yang diinduksi oleh Cisplatin. Cisplatin meningkatkan pembentukan reactive oxygen species (ROS) di koklea. Superoksida diubah menjadi hidrogen peroksida baik secara spontan maupun melalui superoxide dismutase (SOD). Tujuan penelitian untuk mengetahui korelasi antara perubahan konsentrasi enzim antioksidan SOD dan perubahan ambang dengar penderita kemoterapi dengan Cisplatin pada tumor ganas kepala leher. Metode: Penelitian ini menggunakan pretest-posttest one group design pada penderita tumor ganas kepala leher yang mendapat kemoterapi cisplatin dengan dosis 75 mg/m2. Sebelum dilakukan kemoterapi dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni dan pengambilan sampel darah sebagai data awal. Dua minggu sesudah kemoterapi, dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni dan pengambilan sampel darah kembali. Data dianalisis secara statistik dengan program komputer dan dinyatakan bermakna jika p<0,05. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan peningkatan kadar SOD sesudah diberikan kemoterapi cisplatin dengan signifikansi p<0,05. Terdapat peningkatan nilai ambang dengar hantaran tulang pada frekuensi 250, 500, dan 8000 Hz sesudah kemoterapi dengan signifikansi p<0,05. Terdapat korelasi lemah antara kadar SOD dan ambang dengar hantaran tulang pada frekuensi 250, 2000, dan 4000 Hz, dan korelasi sedang pada frekuensi 500, 1000, dan 8000 Hz. Kesimpulan: Pemeriksaan kadar SOD berkorelasi lemah dan sedang terhadap ambang dengar penderita tumor ganas kepala leher yang mendapat kemoterapi cisplatin. Pemeriksaan kadar SOD dapat dijadikan prediktor untuk menilai kondisi stres oksidatif pada kejadian ototoksik sebagai pertimbangan pemberian antioksidan.
Papiloma Sel Skuamosa pada Kanalis Akustikus Eksterna: Kasus Jarang Charla Syafefi; Rossy Rosalinda; Zulda Musyarifah
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.94

Abstract

Latar Belakang: Papiloma sel skuamosa pada kanalis akustikus eksterna adalah tumor jinak yang jarang terjadi. Papiloma sel skuamosa disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV) dan umumnya terjadi tanpa gejala. Diagnosis yang tepat dan akurat dibutuhkan untuk mendapatkan hasil terapi yang memuaskan. Penatalaksanaan yang menjadi pilihan adalah dengan eksisi komplit tumor. Terapi ini dipilih untuk mencegah kekambuhan dari papiloma sel skuamosa. Laporan Kasus: Seorang laki-laki berusia 67 tahun datang dengan keluhan terdapat benjolan di telinga kanan. Benjolan baru disadari saat melakukan pemeriksaan kesehatan berkala. Keluhan disertai dengan rasa penuh pada telinga. Tidak ada keluhan lain seperti telinga berair, penurunan pendengaran ataupun nyeri pada telinga. Pasien didiagnosis dengan tumor pada liang telinga kanan dan dilakukan biopsi sebelum tindakan operasi dengan hasil papiloma sel skuamosa. Pasien ditatalaksana dengan tindakan eksisi bedah komplit dalam anestesi umum. Setelah 2 bulan operasi tidak ada kekambuhan pada pasien. Pasien dipantau berkala untuk menilai terjadinya rekurensi. Kesimpulan: Papiloma sel skuamosa pada kanalis akustikus eksterna adalah kasus yang jarang terjadi. Tindakan eksisi bedah diperlukan untuk tatalaksana dan pemantauan berkala untuk mencegah terjadinya rekurensi.
Profile of Non-Viral Risk Factors in Nasopharyngeal Carcinoma at RSUP Dr. M. Djamil Padang Khansa Nihlatiyah Izzati; Sukri Rahman; Fathiya Juwita Hanum
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v5i1.95

Abstract

Profile of Non-Viral Risk Factors in Nasopharyngeal Carcinoma at RSUP Dr. M. Djamil Padang Background: Nasopharyngeal carcinoma is a malignancy originating from the nasopharyngeal epithelium and is one of the rarest cases of malignancy in the world. There are several non-viral factors that influence nasopharyngeal carcinoma. The purpose of this study was to determine the frequency distribution of non-viral risk factors for nasopharyngeal carcinoma, namely age, gender, occupation, family history, smoking, alcohol consumption, consumption of salted fish, and exposure to wood smoke and wood dust. Methods: This study is a descriptive study with a case-control design, with nasopharyngeal carcinoma patients as cases and patients with diagnoses other than nasopharyngeal carcinoma as controls. The sample size for this study was 20 for each case and control sample, analyzed using cross-tabulation tests. Results: The nasopharyngeal carcinoma patient showed that the majority of patients were aged between 46 and 55 years old and were predominantly male. The most common occupation was in the service and sales sector. Most patients had no family history of nasopharyngeal carcinoma. The majority of patients were non smokers, had never consumed alcohol, and rarely consumed salted fish. The most common patients were those who had never been exposed to wood smoke and wood dust. Conclusion: Non-viral risk factors associated with nasopharyngeal carcinoma were age 46–55 years, male sex, and employment in trade and sales services.
Methods for Assessing Mucociliary Transport and Nasal Patency: A Physiological Review Daniel Pradana Andrian Wicaksono; Arin Dwi Iswarini
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v5i1.96

Abstract

Methods for Assessing Mucociliary Transport and Nasal Patency: A Physiological Review Background: Mucociliary transport and nasal patency are essential physiological components in maintaining respiratory function and upper airway defense mechanisms. Impairment of these systems may reduce mucosal clearance efficiency, increase airflow resistance, and contribute to inflammatory and infectious conditions of the nasal cavity and paranasal sinuses. Accurate evaluation of mucociliary function and nasal patency is therefore important in both clinical practice and rhinology research. Objective: This literature review aims to discuss various methods for assessing mucociliary transport and nasal patency based on their underlying physiological principles. Literature Review: Mucociliary transport can be assessed using subjective methods such as the saccharin test and objective methods including digital high-speed videomicroscopy and scintigraphy radioisotope clearance test. Nasal patency may be evaluated using subjective approaches such as the Visual Analog Scale (VAS) and Nasal Obstruction Symptom Evaluation (NOSE), as well as objective techniques including Peak Nasal Inspiratory Flow (PNIF), rhinomanometry, and acoustic rhinometry. Each method has distinct principles, advantages, and limitations in representing structural and functional aspects of nasal physiology. Conclusion: Understanding the physiological basis and characteristics of each assessment method is essential to improve clinical interpretation and to guide the appropriate selection of evaluation techniques in rhinology practice and research.
The Role of Probiotics in Modulating Immune Response in Allergic Rhinitis: A Literature Review Inas Qonita; Joyce Caecilia Manullang; Rahelia Dwi Josephine Pandjaitan; Kezvia Khanza Quinn Fahira
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v5i1.101

Abstract

The Role of Probiotics in Modulating Immune Response in Allergic Rhinitis: A Literature Review Background: Allergic rhinitis is an inflammation of the nasal mucosa that occurs as a result of a hypersensitivity reaction mediated by immunoglobulin E (IgE) following exposure to allergens. This condition is commonly characterized by symptoms such as recurrent sneezing, rhinorrhea, nasal congestion, and nasal itching. The pathogenesis of allergic rhinitis involves complex immune responses, including mast cell activation, eosinophil infiltration, and the release of various inflammatory mediators. The complexity of these mechanisms has led to the development of therapeutic approaches that focus not only on symptom control but also on the modulation of immune responses, one of which involves the use of probiotics. Objective: To identify and understand the role of probiotics in modulating the immune response in allergic rhinitis. Literature Review: Probiotics have the potential to be used as an adjuvant therapy in allergic rhinitis due to their ability to modulate immune responses involved in the pathogenesis of the disease. Several probiotic strains, particularly from the genera Lactobacillus and Bifidobacterium, have been shown to regulate the Th1/Th2 balance, reduce the production of allergen-specific IgE, and enhance the activity of regulatory T cells that help suppress allergic inflammatory reactions. In addition, probiotic metabolites such as short-chain fatty acids (SCFAs) can inhibit inflammatory pathways and promote the production of anti-inflammatory cytokines. Findings from several clinical studies indicate that probiotic administration may help improve symptoms and quality of life in patients with allergic rhinitis, suggesting their potential use as an adjunct to conventional therapy. Conclusion: Probiotics have the potential to serve as a promising adjuvant therapy for allergic rhinitis through their immunomodulatory effects. However, their clinical effectiveness still depends on the specific strain, dosage, and duration of administration; therefore, further research is required to establish optimal therapeutic standards.
Primary Tumor Extension Profiles of T3-T4 Glottic Carcinoma at RSUP Dr. M. Djamil Padang Aisyah Suci Ayudya; Sukri Rahman; Hasmiwati Hasmiwati
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v5i1.103

Abstract

Primary Tumor Extension Profiles of T3-T4 Glottic Carcinoma at RSUP Dr. M. Djamil Padang Background: Laryngeal carcinoma is a malignant tumor arising from the laryngeal epithelium, and most cases originate from the glottis (60–75%). In Indonesia, laryngeal carcinoma ranks 17th, with approximately 4,000 cases and a mortality rate of 1%. Symptoms of glottic carcinoma are commonly nonspecific, such as hoarseness, and are therefore often overlooked, leading many patients to present at an advanced stage. Treatment selection and prognosis are influenced by the extent of tumor spread to surrounding tissues. Computed tomography (CT) is used to detect invasion and to assist in staging. This study aimed to describe the pattern of primary tumor extension in T3-T4 stage glottic carcinoma at Dr. M. Djamil General Hospital, Padang. Methods: This quantitative study used a descriptive design with a retrospective approach based on medical records. A total of 19 patients with T3-T4 stage glottic carcinoma at Dr. M. Djamil General Hospital, Padang, were included. Data were analyzed using univariate analysis and presented as frequencies and percentages. Results: The most common T stage was T4 (68.4%). In T3 disease, the most frequent extension was invasion of the inner cortex of the thyroid cartilage (71.4%). In T4 disease, the most frequent extension was invasion of the outer cortex of the thyroid cartilage (42.3%). Conclusion: Most advanced-stage glottic carcinomas were T4; the most frequent extension pattern in T3 was invasion of the inner cortex of the thyroid cartilage, whereas in T4 it was invasion of the outer cortex of the thyroid cartilage.
Diagnosis and Management of Vestibular Neuritis Clarissa Fiolly Refieska; Rossy Rosalinda
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v5i1.105

Abstract

Diagnosis and Management of Vestibular Neuritis Background: Vestibular neuritis is one of the most common peripheral vestibular disorders, characterized by the sudden loss of unilateral vestibular function, resulting in acute vertigo without associated cochlear or neurological symptoms. Objective: To know and understand the diagnosis and management of vestibular neuritis. Literature Review: The exact etiology of neuritis vestibular remains unclear, but three main mechanisms are thought to play a role viral infection of the vestibular nerve, ischemia of the anterior vestibular artery, and immunological mechanisms. The clinical findings of neuritis vestibular include sudden-onset severe spinning vertigo lasting more than 24 hours, often accompanied by nausea and vomiting, typically occurring in middle-aged individuals, without cochlear symptoms or other neurological manifestations. Accurate diagnosis of neuritis vestibular requires supportive examinations such as the head impulse test (HIT), caloric test, and vestibular-evoked myogenic potential (VEMP) Treatment for vestibular neuritis includes symptomatic therapy, specific pharmacological therapy, and vestibular rehabilitation, which have been studied and applied to reduce symptoms, accelerate vestibular compensation, and improve patients’ quality of life. Conclusion: Vestibular neuritis, also known as vestibular neuronitis, is a distinctive form of peripheral vertigo and a major cause of acute vestibular dysfunction. Its etiology remains uncertain but is thought to involve viral infection, ischemia, and immunological mechanisms. Clinically, the main symptom is severe spinning vertigo lasting more than 24 hours, often accompanied by nausea and vomiting in middle-aged patients. Diagnosis is established through physical examination and ancillary tests. Treatment consists of specific pharmacological therapy and vestibular rehabilitation.