cover
Contact Name
Supardi
Contact Email
supardi@uny.ac.id
Phone
+62274-550847
Journal Mail Official
fisika@uny.ac.id
Editorial Address
Faculty of Mathematics and Natural Sciences UNY (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Jl. Colombo No.1, Karang Malang, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmu Fisika dan Terapannya (JIFTA)
ISSN : -     EISSN : 30265983     DOI : -
Jurnal Ilmu Fisika dan Terapannya merupakan jurnal yang dikelola oleh Program Studi Fisika, Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta. Jurnal ini menerbitkan karya ilmiah atau artikel dari hasil penelitian khususnya tugas akhir mahasiswa fisika, atau karya ilmiah lain yang berkaitan dengan fisika. Prosedur penerbitan dalam jurnal ini melalui peer-review dan menerapkan etika penerbitan ilmiah sebagaimana ditetapkan oleh Committee on Publication Ethics (COPE). Ruang lingkup artikel dalam jurnal ini adalah ilmu fisika dan terapannya.
Articles 196 Documents
PENGARUH VARIASI LAMA WAKTU ULTRASONIKASI TERHADAP SPEKTRUM ABSORBANSI OPTIK GRAPHENE OXIDE (GO) DARI BAHAN PENSIL 2B YANG DISINTESIS MENGGUNAKAN METODE ELEKTROLISIS THE IMPACT OF DIFFERENT ULTRASONICATION DURATION TIME TOWARDS THE OPTICAL ABSORBANCE SPECTRUM OF GRAPHENE OXIDE FROM 2B PENCIL MATERIAL SYNTHESIZED USING ELECTROLYSIS METHOD BAGAS PRAKOSO; Rita Prasetyowati
Jurnal Ilmu Fisika dan Terapannya (JIFTA) Vol 5, No 4 (2016): Jurnal Fisika
Publisher : Prodi Fisika, Departemen Pendidikan Fisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mensintesis material graphene oxide menggunakan metodeelectrochemical exfoliation yang dikombinasikan dengan penambahan solenoida serta variasi lamaproses ultrasonikasi dan mengetahui pengaruh variasi lama ultrasonikasi terhadap hasil absorbansimaterial graphene oxide. Penelitian ini dimulai dengan mengelupas grafit pensil 2B menggunakanproses elektrolisis pada campuran larutan elektrolit kuat H2SO4 dan KOH. Hasil proses elektrolisislalu disaring dan dimurnikan menggunakan vacuum filtration pump sampai didapatkan serbukgraphite oxide yang memiliki pH netral. Serbuk hasil penetralan lalu dikeringkan dan ditimbangsebanyak 0,0003 gram, 0,0006 gram, dan 0,0009 gram. Serbuk itu selanjutnya dilarutkan dalam 4 mllarutan campuran DMF dan aquabides sehingga memiliki konsentrasi 0,1 mg/ml; 0,2 mg/ml; dan 0,3mg/ml. Tiga variasi konsentrasi ini selanjutnya di ultrasonikasi dengan waktu 30 menit, 60 menit, dan90 menit. Hasil proses ultrasonikasi selanjutnya diputar dalam centrifuge dengan kecepatan 500 rpm.Bagian atas dari larutan setelah proses centrifuge ini kemudian diambil untuk dilakukan karakterisasimenggunakan instrumen UV-Vis spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaanmetode elektrolisis telah berhasil mensintesis material graphene oxide berbahan dasar pensil 2B yangditunjukkan dengan munculnya 2 puncak gelombang khas graphene oxide pada hasil uji UV-Visspektrofotometer. Selain itu, semakin lama waktu ultrasonikasi dilakukan, maka diperoleh nilaiabsorbansi material graphene oxide yang semakin tinggi juga, dimana hal itu mengindikasikankonsentrasi graphene oxide yang semakin besar.Kata Kunci: Graphene oxide, elektrolisis, ultrasonikasi, UV-Vis spektrofotometerAbstractThe aims of this research are 1) synthesizing graphene oxide material using theelectrochemical exfoliation method combined with additional solenoid coil and variation of ultrasonicationtime duration, 2) determining the impact of different ultra-sonication duration times towardthe absorbance results of graphene oxide material. Graphene is an allotropy material from carbonwhich has hexagonal structure similar to beehive and has superiority in some of its physicalproperties. This research was conducted first by exfoliating graphite of 2B pencil using electrolysis ina mixture solution of strong electrolyte of H2SO4 and KOH. The result of the electrolysis was2 | Jurnal Fisika Edisi Juli 2016screened and refined using vacuum filtration pump until graphite oxide powder is obtained which hasneutral pH. Then the powder obtained are dried and weighed for 0.0003 grams, 0.0006 grams, and0.0009 grams. The powder was then put into 4 mL of DMF and aquabides solutions thus producingthe concentrations of 0.1 mg/mL; 0.2 mg/mL; and 0.3 mg/mL. These variations of concentration arethen being ultra-sonicated for 30 minutes, 60 minutes, and 90 minutes. The results of the ultrasonicationare then rotated in a centrifuge with velocity of 500 rpm. The upper part of the solutionafter centrifuge process were then taken to be characterized using UV-Vis spectrophotometer. Theresults show that the electrolysis method has successfully synthesized graphene oxide material from2B pencil which was proven by the appearance of two distinct peaks of graphene oxide absorbancesin the UV-Vis spectrophotometer test results. Furthermore, the longer the duration of the ultrasonication,the greater the value of absorbance of graphene oxide which indicates the greaterconcentration of graphene oxide.Keywords: graphene oxide, electrolysis method, UV-Vis spectrophotometer
KARAKTERISASI BUTIRAN SUB MIKRON NANOMATERIAL KARBON BATOK KELAPA DENGAN VARIASI WAKTU PENGADUKAN BAHAN YANG DIGUNAKAN UNTUK FILTRASI LOGAM Fe DARI LIMBAH AIR SELOKAN MATARAM BERDASARKAN UJI UV-VIS, XRD, SEM DAN AAS CHARACTERIZATION OF THE SUB MICRON GRAIN OF COCONUT SHELL CARBON NANOMATERIAL WITH VARIANTATION OF MATERIAL MIXING TIME USED FOR FILTRATING Fe METAL FROM WATER OF SELOKAN MATARAM USING UV-VIS, XRD, SEM AND AAS TEST Irnawati Widya Hastuti; W.S. Brams Dwandaru
Jurnal Ilmu Fisika dan Terapannya (JIFTA) Vol 6, No 4 (2017): Jurnal Fisika
Publisher : Prodi Fisika, Departemen Pendidikan Fisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi waktu pengadukan bahan dengan bahan dasar serbuk SMC batok kelapa yang disintesis dengan metode LSE terhadap hasil absorbansi dan panjang gelombang, mengetahui fasa kristalin dan ukuran partikel, dan mengetahui morfologi permukaan SMC yang digunakan untuk bahan dasar filter pada alat filter air sederhana. Penelitian dimulai dengan membuat serbuk SMC berbahan dasar batok kelapa yang telah dihaluskan, aquades 100 ml, dan detergen 2 gram ke dalam blender. Sampel kemudian dicampur dengan memvariasikan waktu pengadukan bahan. Sampel diendapkan satu malam dan disonifikasi selama 4 jam kemudian dikarakterisasi dengan spektrofotometer UV-Vis. Endapan sampel yang sudah berbentuk serbuk SMC dikarakterisasi XRD untuk masing-masing variasi waktu sedangkan untuk karakterisasi SEM dilakukan pada sampel 60 menit waktu pengadukan bahan dengan blender. Serbuk SMC tersebut kemudian dilapiskan pada kertas saring dan dipasangkan pada alat filtrasi sederhana. Limbah air yang digunakan yaitu air Selokan Mataram. Air hasil filtrasi dikarakterisasi kadar logam Fe berdasarkan karakterisasi AAS. Hasil penelitian menunjukan bahwa semakin lama waktu pengadukan bahan maka puncak absorbansi semakin bergeser ke panjang gelombang yang lebih pendek (bluesift) dan nilai absorbansi naik seiring lamanya waktu pengadukan. Serbuk SMC yang disintesis dengan metode LSE mempunyai fasa amorf setelah dilakukan variasi waktu pengadukan bahan dengan blender serbuk SMC semakin amorf. Untuk morfologi serbuk SMC pada 60 menit waktu pengadukan bahan dengan blender terlihat seperti bongkahan yang kurang teratur dengan ukuran yang berbeda-beda. Dapat diketahui ukuran serbuk SMC sekitar 1,274 μm sampai 12,502 μm dengan ketebalan sekitar 0,576 μm sampai 0,829 μm. Dari hasil karakterisasi AAS diperoleh semakin lama waktu pengadukan bahan dengan blender semakin menurun pula kadar logam Fe pada limbah air. Kata Kunci: serbuk SMC, LSE, Limbah air Selokan Mataram, waktu pengadukan bahan.ABSTRACTThe aim of this research is to know the effect of variantation of material mixing time with the powder of SMC of coconut shell as the basis material synthesized by LSE method toward the result of absorption and wavelength based on UV-Vis test, to know the crystallization phase and particle size, and to know the form of SMC’s surface with SEM characterization used for filter base material in simple filtration. The research started with making SMC powder made from mashed coconut shell, 100 ml of aquades, and 2 grams of detergent put together into blender. The sample was then mixed by varying the mixing time of the material. Samples were precipitated overnight and sonificated for 4 hours which later was characterized by UV-Vis spectrophotometer. The precipitated sample that has been shaped as SMC powder was characterized by XRD for each time variation while the SEM characterization is done on 60 minute based on mixing time. The SMC powder is then superimposed on the filtering paper and applied to a simple filtration device. Waste water that is used is water of Selokan Mataram. The result of the filtration is tested to know the metal measure of Fe based on AAS test. The results showed that the longer the mixing time of the absorbing peak the more the shift to the shorter wavelength (bluesift) and the absorbing value increases with the length of mixing time. SMC powder synthesized by LSE method has an amorphous phase after variation of mixing time of material with SMC powder blender increasingly amorphous. For SMC powder morphology at 60 minutes the blender time looks like an irregular chunk of different sizes. It can be known that the size of the SMC powder is about 1.274 μm to 12,502 μm with a thickness of about 0.576 μm to 0.829 μm. From the results of characterization of AAS obtained the longer time of mixing the material with the blender decreased also Fe content of metal in waste water.  Keywords: SMC powder, LSE, Waste water Selokan Mataram, material mixing time.
INTERPRETASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DENGAN METODE GEOMAGNET DI JALUR SESAR OYO Heningtyas Heningtyas; Nugroho Budi Wibowo; Denny Darmawan
Jurnal Ilmu Fisika dan Terapannya (JIFTA) Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Fisika
Publisher : Prodi Fisika, Departemen Pendidikan Fisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sebaran anomali medan magnet di sekitar jalur Sesar Oyo, mengetahui sus unan formasi batuan di wilayah sekitar jalur Sesar Oyo, dan mengetahui jalur Sesar Oyo berdasarkan pemodelan geomagnet.Pengambilan data dilakukan menggunakan PPM dengan 35 titik pengamatan dan spasi antar titik pengamatan 1,5 km. Pengolahan data dilakukan dengan koreksi variasi harian, koreksi IGRF, reduksi ke kutub dan kontinuasi ke atas. Pemodelan dilakukan dengan menganalisa anomali medan magnet yang telah direduksi ke kutub dan kontinuasi ke atas dengan ketinggian 2500 m.Hasil analisa menunjukkan rentang nilai anomali medan magnet di kawasan penelitian adalah 180 nT – 660 nT. Hasil pemodelan 2D menunjukkan kawasan penelitian didominasi oleh 3 formasi batuan utama yaitu batubasalt-andesitik Formasi Nglanggran, batupasir Formasi Sambipitu, dan batugamping Formasi Wonosari. Hasil pemodelan 3D menunjukkan Sesar Oyo merupakan sesar geser dengan kedalaman 150 – 300 m, jalur sesar tersebut terbagi menjadi 2 segmen yaitu dengan arah N120°E sepanjang 5,8 km dan N160°E dengan panjang 2,5 km.Kata kunci : geomagnet, formasi batuan, Sesar Oyo.ABSTRACTThe aims of this study were to determine the distribution of magnetic field anomaly around Oyo Fault line area, to determine the structure of rocks around Oyo Fault line area, and to identify Oyo Fault line based on geomagnetic modeling. Data were acquired with 35 observation points and space between each point was 1,5 km. Data were processed using diurnal correction, IGRF correction, reduction to pole, and upward continuation. The modeling was done by analyzing magnetic field anomaly which had been reducted to pole and upward continuation at 2500 m height. The results showed that the range of magnetic field anomaly in the study area is 180 nT – 660 nT. The result of 2D modeling showed that the study area is dominated by 3 rock formations which are basalts-andesitic of Nglanggran Formation, sandstone of Sambipitu Formation, and limestone of Wonosari Formation. The result of 3D modeling showed that Oyo Fault is strike-slip fault with 150 – 300 m depth. The fault is divided into 2 segments, which has direction N120°E with 5,8 km length, and N160°E with 2,5 km length.Keyword : geomagnet, rock formation, Oyo Fault
Crystal Structure and Surface Model of Semiconductor Cd (S0,5 Te0,5) Preparation Result with Bridgman Method in Various Variations of Heating Variation Risma Widayati , Ariswan
Jurnal Ilmu Fisika dan Terapannya (JIFTA) Vol 7, No 4 (2018): Jurnal Fisika
Publisher : Prodi Fisika, Departemen Pendidikan Fisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses penumbuhan kristal Cd(S0,5 Te0,5) dengan metode Bridgman, mengetahui pengaruh alur pemanasan terhadap struktur kristal dan parameter kisi kristal yang terbentuk, serta mengetahui pengaruh alur pemanasan terhadap morfologi permukaan dan komposisi kimia bahan semikonduktor Cd(S0,5 Te0,5) yang terbentuk. Proses penumbuhan kristal menggunakan metode Bridgman dilakukan dengan memanaskan bahan Cd, S dan Te pada tiga variasi alur pemanasan. Kristal hasil preparasi dengan teknik Bridgman kemudian dikarakterisasi menggunakan X-Ray Diffraction, Scanning Electron Microscopy, dan Energy Dispersive Analysis X-Ray. Hasil karakterisasi XRD menunjukkan bahwa alur pemanasan tidak mempengaruhi kristal Cd(S0,5 Te0,5) yang terbentuk yaitu polikristal dengan struktur hexagonal dan parameter kisi kristal Cd(S0,5 Te0,5) memiliki nilai yang hampir sama dari ketiga sampel. Analisis karakterisasi SEM menunjukkan bahwa alur pemanasan mempengaruhi morfologi permukaan dan komposisi kimia dari kristal Cd(S0,5 Te0,5). Kata kunci: Semikonduktor Cd(S0,5 Te0,5) Abstract The purpose of this research is to know the process of crystal growth of Cd (S0,5 Te0,5) with Bridgman method, to know the effect of heating flow to crystal structure and crystal lattice parameters, and to know the influence of heating flow to surface morphology and chemical composition of Cd semiconductor material (S0.5 Te0.5) formed. The process of crystal growth using Bridgman method is done by heating the material Cd, S and Te on three variations of heating flow. Bridgman's preparation crystals were then characterized using X-Ray Diffraction, Scanning Electron Microscopy, and Energy Dispersive Analysis X-Ray. The XRD characterization results show that the heating flow does not affect the crystalline Cd (S0.5 Te0.5) formed ie the polycrystalline with hexagonal structure and the crystal lattice parameter of Cd (S0.5 Te0.5)) has almost the same value of the three samples. SEM characterization analysis showed that the heating flow affected the surface morphology and chemical composition of the Cd crystals Cd (S0.5 Te0.5). Keyword : Semiconductors Cd(S0,5 Te0,5)
PENGARUH PENYISIPAN LOGAM BESIPADA LAPISAN AKTIF TITANIA TERHADAP STRUKTUR MORFOLOGI DAN RESISTANSI LAPISAN AKTIF TiO2 SERTA PERFORMANSI SEL SURYA YANG DIHASILKAN THE EFFECT OF INSERTION OF IRON METALSON TITANIA ACTIVE LAYERTO THE MORPHOLOGICAL STURCTURE AND RESISTANCE OF TiO2 ACTIVE LAYERAND ALSO THE RESULTING SOLAR CELL PERFORMANCE Winda Setya Ningtias; Rita Prasetyowati, M.Si
Jurnal Ilmu Fisika dan Terapannya (JIFTA) Vol 5, No 7 (2016): Jurnal Fisika
Publisher : Prodi Fisika, Departemen Pendidikan Fisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyisipan logam besi pada lapisan aktif titania terhadap struktur morfologi permukaan dan komposisi kimia lapisan titania, spektrum absorbansi lapisan aktif titania, nilai resistansi lapisan titania, serta tegangan sel surya yang dihasilkan.Pembuatan lapisan aktif titania dilakukan dengan menggunakan teknik sol gel dan doctor blade coating. Sampel disusun dalam bentuk sandwich yang terdiri dari empat bagian yaitu kaca ITO (Indium Tin Oxide), lapisan TiO2-Fe, lapisan elektrolit dan lempeng aluminium. Lapisan elektrolit berasal dari campuran PVA (Poly Vinyl Alcohol) dan NaF (Natrium Floride). Sampel dikarakterisasi menggunakan SEM-EDX, spektroskopi UV-Vis, jembatan wheatstone dan multimeter.Hasil SEM (Scanning Electron Microscopy) menunjukkan lapisan TiO2-Fe yang terbentuk memiliki struktur morfologi yang homogen dengan ukuran diameter rata-rata partikel yaitu 145 nm. Dari hasil EDX (Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy) pada lapisan titania-besi mengandung Ti sebesar 59,82%, O sebesar 40,03% dan Fe sebesar 0,15%. Hasil UV-Vis menunjukkan lapisan TiO2 dan TiO2-Fe mampu menyerap cahaya pada panjang gelombang 200–390 nm dan 650–800 nm. Nilai resistansi untuk lapisan TiO2 yaitu 3190 Ω. Nilai resistansi lapisan titania dengan penambahan logam besi sebanyak 0,05 g; 0,075 g; 0,1 g; 0,125 g dan0,15 g secara berturut-turut adalah 3188,49 Ω ; 3188,40 Ω ; 3188,39 Ω; 3187,98 Ω dan 3184,87 Ω. Performansi sel surya yang didapat yaitu nilai tegangan, dimana tegangan pada saat massa logam besi yang dicampurkan sebesar 0,05 g; 0,075 g; 0,1 g; 0,125 g; dan 0,15 g secara berturut-turut adalah 0,370 volt; 0,398 volt; 0,334 volt; 0,488 volt dan 0,545volt.Kata kunci : titania, sel surya fotoelektrokimia, TiO2-Fe, fotovoltaikABSTRACTThe purpose of this research was to determine the effect of insertion of iron metals on titania active layer to surface morphological structure and chemical composition of titania layer, absorbance spectrum of titania active layer, resistance value of titania layer, and also the resulting solar cell voltage.The manufacture of the active layer of titania was done by using sol gel and doctor blade coating techniques. Sample are arranged in sandwich form that consist of four parts, there are ITO (Indium Tin Oxide) glass, TiO2-Fe layer, electrolyte layer and aluminium plate. Electrolyte layer used was a mixture of PVA (Poly Vinyl Alcohol) and NaF (Natrium Floride). Sample was characterized by using SEM-EDX, UV-Vis spectroscopy, wheatstone bridge and multimeter.The SEM (Scanning Electron Microscopy) result indicate that the formed TiO2-Fe layers have quite evenly structure with average of particles diameter values of 145 nm. The EDX (Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy) result on iron-titania layer show that it contains 59,82% Ti, 40,03% O, and 0,15% Fe. UV-Vis result show that TiO2 and TiO2-Fe layer were able to absorb light at wavelengths of 200-390 nm dan 650-800 nm. Resistane value of TiO2 layer is 3190 Ω. The resistance values of titania layer with the additon of iron metal as much as 0,05 g; 0,075 g; 0,1 g; 0,125 g and 0,15 g in a row are 3188,49 Ω; 3188,40 Ω; 3188,39 Ω; 3187,98 Ω; 3184,87 Ω. The result obtained from solar cell performance are voltage values, which the voltage values when the mass of iron metal mixed as much as 0,05 g; 0,075 g; 0,1 g; 0,125 g; and 0,15 g in a row are 0,370 volt; 0,398 volt; 0,334 volt; 0,488 volt and 0,545 volt.Keyword: titania, photoelectrochemical solar cell, TiO2-Fe,photovoltaic
ANALISIS INDEKS KERENTANAN SEISMIK BERDASARKAN PENGUKURAN SINYAL MIKROTREMOR DI KECAMATAN PRAMBANAN DAN KECAMATAN GANTIWARNO KABUPATEN KLATEN Zahroh Utami Nugroho Budi Wibowo Denny Darmawan
Jurnal Ilmu Fisika dan Terapannya (JIFTA) Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Fisika
Publisher : Prodi Fisika, Departemen Pendidikan Fisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menentukan frekuensi predominan (f_g) dan faktor amplifikasi (A) serta menentukan nilai indeks kerentanan seismik (K_g) dan mikrozonasinya di Kecamatan Prambanan dan Kecamatan Gantiwarno. Data mikrotremor dianalisis menggunakan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai f_g berada pada kisaran 0,7 Hz – 9,5 Hz, nilai A berada pada kisaran 1,79 – 9,01, dan nilai K_g berada pada kisaran 2,27×〖10〗^(-6) s^2/cm – 52,53×〖10〗^(-6) s^2/cm. Berdasarkan mikrozonasi, K_g rendah dengan nilai sekitar 2,27×〖10〗^(-6) s^2/cm – 8,58×〖10〗^(-6) s^2/cm menyebar di Desa Joho sebelah timur, Desa Pereng, Desa Ceporan, Desa Jogoprayan, Desa Gentan, dan Desa Sengon sebelah selatan. Untuk nilai K_g sedang yang ditunjukkan dengan nilai sekitar 10,27×〖10〗^(-6) s^2/cm – 20×〖10〗^(-6) s^2/cm dan K_g tinggi dengan nilai lebih dari 20×〖10〗^(-6) s^2/cm menyebar di Kecamatan Gantiwarno sebelah barat dan selatan, Kecamatan Prambanan sebelah barat, Desa Sanggrahan, dan Desa Cucukan sebelah utara. Kata Kunci : Indeks Kerentanan Seismik, Horizontal to Vertical Spectral Ratio, Mikrotremor,. ABSTRACT This research aimed to determine predominant frequency (f_g) and amplification factor (A), and also to determine seismic vulnerability index (K_g) and its microzonation in Prambanan and Gantiwarno Subdistrict. The microtemor data was analyzed using Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) method. This research showed that f_g is between 0.7 Hz – 9.5 Hz, A value is between 1.78 – 9.01, and K_g is between 2.27×〖10〗^(-6) s^2/cm – 52.53×〖10〗^(-6) s^2/cm. The low K_g with the value of about 2.27×〖10〗^(-6) s^2/cm – 8.58×〖10〗^(-6) s^2/cm spread in eastern part of Joho Village, Pereng Village, Ceporan Village, Jogoprayan Village, Gentan Village, and southern part of Sengon Village. Medium K_gvalue between 10.27 ×〖10〗^(-6) s^2/cm to 20 × 〖10〗^(-6) s^2/cm and high K_g value which is more than 20×〖10〗^(-6) s^2/cm spread in western part and southern part of Gantiwarno Subdistrict, , Sanggrahan Village, western part of Prambanan Subdistrict, and northern part of Cucukan Village Keywords: Seismic Vulnerability Index, Horizontal to Vertical Spectral Ratio, Microtemor
PEMETAAN PERCEPATAN GETARAN TANAH MAKSIMUM DAN INTENSITAS GEMPABUMI DI KAWASAN JALUR SESAR SUNGAI OYO YOGYAKARTA (MICROZONATION OF PEAK GROUND ACCELERATION AND EARTHQUAKE INTENSITY IN OYO RIVER FAULT LINES AREA, YOGYAKARTA) Meita Aulia Sari; Nugroho Budi Wibowo; Denny Darmawan
Jurnal Ilmu Fisika dan Terapannya (JIFTA) Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Fisika
Publisher : Prodi Fisika, Departemen Pendidikan Fisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai dan mikrozonasi dari percepatan getaran tanah maksimum (PGA) dan intensitas gempabumidi kawasan jalur sesar Sungai Oyoakibat gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006. Pengambilan data mikrotremor dilakukan di 25 titik pengamatan yang terletak di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul. Data mikrotremor diolah menggunakan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) untuk mendapatkan kurva H/V yang menghasilkan nilai frekuensi predominan (f0) di setiap titik pengamatan sebagai parameter untuk menghitungPGA menggunakan metode Kanai (1966)danintensitas gempabumi menggunakan metode Wald (1999). Hasil penelitian menyatakan bahwa nilai PGAberkisar antara 84,74 – 363,1 cm/s² dengan intensitas gempabumi berada pada skala VI, VII, dan VIII MMI.Mikrozonasi PGA dengan nilai relatif lebih tinggi berada di formasi Nglanggran (Kecamatan Imogiri bagian timur dan Kecamatan Dlingo bagian barat)dan formasi Sambipitu (Kecamatan Playen bagian barat).Sementara itu, mikrozonasi PGA dengan nilai relatif lebih rendah berada di formasi Wonosari (Kecamatan Panggang bagian Utara dan Kecamatan Playen bagian Barat daya, serta Kecamatan Imogiri bagian Tenggara dan Kecamatan Dlingo bagian Selatan). Kata kunci:    PGA, Intensitas gempabumi, Mikrotremor, Horizontal to Vertical Spectral Ratio, Sesar Sungai Oyo  AbstractThe aims of this research were to determine and microzonate the peak ground acceleration (PGA) and earthquake intensity in Oyo River Fault Line Area which was caused by May 27th, 2006 Yogyakarta earthquake. The research data were acquired from microtremor signal measurement in 25 observation pointslocated in Bantul Regency and Gunungkidul Regency. Microtremor data were analyzed using Horizontal to Vertical Ratio (HVSR) method to determine predominant frequency for every observation point as parameter to determinePGA using Kanai method (1966) and earthquake intensity using Wald method (1999).The result showed that the value of peak ground acceleration was between 84,74 – 363,1 cm/s²with earthquake intensity of VI, VII and VIII MMI. Higher value of PGA was located in  Nglanggran formation (easternpart of Imogiri sub district and westernpart of Dlingo sub district) and Sambipitu formation (western part of Playen sub district). In addition, microzonation of PGA with lower value located in Wonosari formation (northern part of Panggang sub district and southwestern part of Playen sub district, also southeastern part of Imogiri sub district and southern part of Dlingo subdistrict).  Keywords:     PGA, Earthquake Intensity, Microtremor, Horizontal to Vertical Spectral Ratio, Oyo river fault
THE INFLUENCE OF VARIATION OF THE NUMBER OF CIRCULAR SHAPED TO THE CHARACTERISTICS OF OPTICAL FIBER AS A MASS MEASURING SENSOR Nuraeni Puji Winahyu , Heru Kuswanto
Jurnal Ilmu Fisika dan Terapannya (JIFTA) Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Fisika
Publisher : Prodi Fisika, Departemen Pendidikan Fisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah lintasan serat optik dan pengelupasan buffer terhadap keluaran daya optik dan mengetahui sensitivitas serta linearitas terbaik pada sensor pengukur massa yang berbentuk melingkar. Serat optik yang digunakan adalah Polymer Optical Fiber (POF) tipe SH-4001-1.3. Lingkaran dibentuk dengan diameter 5 cm, variasi jumlah lingkarannya yaitu 1 lingkaran, 2 lingkaran dan 3 lingkaran. Selain memberikan variasi jumlah lingkaran, juga diberikan variasi perlakuan pada buffer. Kemudian serat optik diberikan tekanan diatasnya dengan massa beban maksimum sebesar 1 kg. Laser He-Ne dengan daya sebesar 5 mW dan panjang gelombang 632,8 nm digunakan sebagai sumber cahaya. Intensitas cahaya dari POF ini akan dideteksi menggunakan rangkaian pengikut tegangan sebagai receiver yang dihubungkan oleh multimeter digital. Jumlah lingkaran dan pengelupasan buffer dapat mempengaruhi ouput POF. Nilai intensitas cahaya keluaran pada serat optik yang dikelupas dan dibentuk tiga lingkaran mengalami pelemahan daya terbesar ketika diberikan massa sehingga memiliki sensitivitas terbaik. Membentuk serat optik menjadi tiga lingkaran tanpa pengelupasan buffer memiliki nilai linearitas terbaik. Kata kunci : serat optik, Polymer Optical Fiber (POF), rugi—rugi serat optik, pembengkokan (bending) Abstrack This study aims to determine the effect of number of optical fiber trajectories and buffer peeling on optical power output and to know the best sensitivity and linearity in circular mass measuring sensors. Fiber optic used is Polymer Optical Fiber (POF) type SH-4001-1.3. The circle is formed with a diameter of 5 cm, the variation of the number of circles is 1 circle, 2 circle and 3 circle. In addition to varying the number of circles, also given variations on the buffer. Then the optical fiber is given the pressure above it with a maximum mass of 1 kg. He-Ne laser with 5 mW endurance and 632.8 nm wavelength used as light source. The light intensity of the POF will perform the detection using a voltage follower circuit as a multilayed digital receiver. The number of loop and buffer peels can affect the POF ouput. The value of light intensity on the optical fiber that is exfoliated and formed three circles contains the greatest power weakening when given the mass so it has the best sensitivity. Forming optical fiber into three circles without peeling buffer has the best linearity value. Keywords: optical fiber, Polymer Optical Fiber (POF), optical fiber loss, bending
KARAKTERISASI FISIS NANOMATERIAL KARBON BERBASIS GRAFIT DARI LAPISAN TIPIS JELAGA HASIL PEMBAKARAN LAMPU TEPLOK BERBAHAN BAKAR MINYAK TANAH PHYSICS CHARACTERIZATION OF GRAPHITE BASED CARBON NANOMATERIAL FROM SOOT THIN LAYER AS RESULTED BY KEROSENE OIL LAMP COMBUSTION Noviyanto Dwi Swastiko Noviyanto Dwi Swastiko; W.S. Brams D W.S. Brams D
Jurnal Ilmu Fisika dan Terapannya (JIFTA) Vol 5, No 4 (2016): Jurnal Fisika
Publisher : Prodi Fisika, Departemen Pendidikan Fisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh ketinggian, sudut, serta waktu pengasapan terhadap nilai hambatan yang dihasilkan dari nanomaterial karbon, 2) mengetahui besar nilai transparansi nanomaterial karbon yang diperoleh dari hasil sintesis menggunakan metode pengasapan, dan 3) mengetahui karakterisasi nanomaterial karbon menggunakan XRD. Jelaga merupakan salah satu material karbon yang berukuran nano dan dikategorikan ke dalam nanomaterial karbon. Penelitian ini dilakukan menggunakan lampu minyak tanah (lampu teplok).Dalam penelitian ini bahan bakar yang digunakan pada lampu teplok berupa minyak tanah. Pembakaran tidak sempurna yang ditimbulkan oleh lampu teplok akan menghasilkan karbon berupa jelaga. Penelitian dimulai dengan melakukan pengamplasan salah satu permukaan kaca preparat.Kemudian kaca preparat tersebut diletakkan di atas lampu teplok dengan variasi ketinggian dan lamanya waktu pengasapan. Selanjutnya sudut kaca preparat di atas lampu teplok juga diberikan variasi yaitu 0°; 30°; 45°; 60°; dan 90°. Jelaga yang menempel pada kaca preparat selanjutnya dikarakterisasi. Proses karakterisasi jelaga karbon dilakukan dengan pengujian hambatan, pengujian transparansi, dan pengujian X-Ray Diffraction (XRD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) nilai hambatan yang paling kecil yaitu pada ketinggian kaca preparat 8 cm dengan sudut 0° dan waktu pengasapan selama 10 menit, 2) nilai transparansi paling besar yang dihasilkan dari jelaga karbon adalah sebesar 93,07% dengan ketinggian kaca preparat 8 cm dengan sudut 0° dan waktu pengasapan 3 menit, 3) hasil XRD menunjukkan bahwa jelaga karbon merupakan material berfasa amorf dengan ukuran partikel sebesar 24,86 nm. Kata-kata Kunci: nanomaterial karbon, jelaga, lampu teplok, XRD Abstract This study aims are to know 1) the effect of altitude, angle and timing of curing to the resistance value resulted from carbon nanomaterials, 2) the transparency value of carbon nanomaterials obtained from the synthesis using methods of curing, and 3) the characterization of carbon nanomaterials using XRD. Soot is a carbon nano-sized material and can be categorized into carbon nanomaterials. This study was conducted using a kerosene lamp (oil lamp). In this study, kerosene is used as the fuel of oil lamp. The incomplete combustion caused by the kerosene lamp will produce carbon in the form of soot. The study begins with sanding one surface of the glass slide. Then the glass slide is placed on top of the kerosene lamp with a variation in altitude and duration of fumigation. Furthermore, the angle glass slide on top of the kerosene lamp was also given the variation such as 0°; 30°; 45°; 60°; and 90°. Soot attached to the glass slide is further characterized. Characterization of carbon soot process is done by resistance test, transparency test, and X-Ray Diffraction (XRD). The result shows that 1) the lowest resistance value is at a height of 8 cm glass slide at an angle of 0° and 10 minutes of curing time, 2) the greatest transparency value from the carbon soot is 93.07% with a height of 8 cm glass slide at an angle of 0 ° and 3 minutes of curing time, 3) the XRD result shows that carbon soot is fasa amorf material with a particle size of 24.86 nm. Keywords: carbon nanomaterials, soot, oil lamp, XRD
STUDI INTERAKSI DUA NUKLEON DAN FENOMENA KRITIS POTENSIAL YUKAWA INTERACTION STUDY OF TWO NUCLEONS AND CRITICAL PHENOMENON OF THE POTENTIAL YUKAWA Bima Anang Dwijaya; R. Yosi Aprian Sari
Jurnal Ilmu Fisika dan Terapannya (JIFTA) Vol 6, No 4 (2017): Jurnal Fisika
Publisher : Prodi Fisika, Departemen Pendidikan Fisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai energi ikat inti pada interaksi dua nukleon dalam besaran komputasi (tak bersatuan), mengetahui hubungan antara jangkauan interaksi nukleon (1/α)terhadap nilai konstanta kopling (λ) dan mengetahui hubungan antara (αc) sebagai fungsi (l). Penelitian ini menggunakan persamaan Schrodinger yang mengandung potensial efektif (potensial Yukawa dan potensial sentrifugal). Metode yang digunakan untuk penyelesaian persamaan Schrodinger di penelitian ini adalah metode beda hingga (finite difference method) dan metode bagi dua (bisection method) untuk menentukan swanilai sebagai nilai energi ikat inti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin besar nilai konstanta kopling (λ) pada bilangan kuantum l=0, maka semakin besar pula jangkauan interaksi antar nukleon (1/α). Pada l = 0 untuk λ = 1, 2, 3, 4, 5 secara berurutan adalah -5.5706×10-5, -3.9383×10-5, -4.2967×10-5, -3.6282×10-5, -5.6721×10-5. Pada l = 1 untuk nilai λ= 2, 3, 4, 5 secara berurutan adalah -2.8020×10-4, -1.6167×10-4, -3.6391×10-4, -2.7500×10-4. Pada l = 2 untuk λ = 3, 4, 5 secara berurutan adalah -3.1003×10-4, -4.7158×10-4, -4.7541×10-4. Pada l = 3 untuk λ = 4, 5 secara berurutan adalah -5.8623×10-4, -3.8635×10-4. Pada l = 4 untuk λ =5  adalah -1.1960×10-3. Pada konstanta kopling (λ) tetap, nilai kritis (αc) menurun secara eksponensial terhadap berbagai nilai bilangan kuantum momentum sudut (l) dengan fungsi αc(l) = λ[A1 exp(-l/B1)+ A2 exp (-l/B2)] dengan A1=0.83227, B1=0.41485, A2=0.00954 dan B2=0.04329. Kata kunci: potensial Yukawa, energi ikat, nukleon AbstractThis study aims to determine the value of the nucleus binding energy on the interaction of two nucleons in the unit of computing (non dimensionless). The second aim is to determine the relation between the range of interaction of nucleons (1 / α) to the value of coupling constants (λ). The last is to determine the relation between (αc) as a function of (l).This study uses the Schrodinger equation containing effective potential (Yukawa potential and centrifugal potential). The method used to solve the Schrodinger equation in this study the finite difference method and bisection method to determine eigenvalue as a nucleus binding energy.The results of this study showed that the greater the value of the coupling constants (λ) on the quantum number l = 0, the greater the range of interactions between nucleons (1 / α). At l = 0 for λ = 1, 2, 3, 4, 5 the range of interactions are:  -5.5706×10-5, -3.9383×10-5, -4.2967×10-5, -3.6282×10-5, -5.6721×10-5  respectively , at l = 1 to the value λ = 2, 3, 4, 5 the range of interactions are: -2.8020×10-4, -1.6167×10-4, -3.6391×10-4, -2.7500×10-4 respectively, at l = 2 for λ = 3, 4, 5 the range of interactions are: -3.1003×10-4, -4.7158×10-4, -4.7541×10-4 respectively, at l = 3 for λ = 4, 5 the range of interactions are -5.8623×10-4, -3.8635×10-4 respectively, at l = 4 for λ = 5 is -1.1960×10-3. With a constant the coupling constants (λ), the critical value (αc) decreases exponentially with respect to various values of the angular momentum quantum number (l) with the function αc (l) = λ [A1 exp (-l / B1) + A2 exp (-l / B2)] where A1=0.83227, B1=0.41485, A2=0.00954 and B2=0.04329.