cover
Contact Name
M Zainul Hafizi
Contact Email
amakfizi@gmail.com
Phone
+6282111132092
Journal Mail Official
jupsikita@gmail.com
Editorial Address
Jl. Padat Karya Komplek Green Rich Residence Blok A 32, RT 004 RW 015, Kelurahan Saigon, Kec. Pontianak Timur, Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, 78132
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia
ISSN : -     EISSN : 30259479     DOI : 10.62238
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia (JUPSI) adalah publikasi akademik yang berfokus pada pengembangan ilmu dan praktik pendidikan di bidang Ilmu Pengetahuan Sosial. Cakupan jurnal ini mencakup pendidikan IPS, pendidikan ekonomi, pendidikan sosiologi, pendidikan sejarah, serta pendidikan PPKn, dengan perhatian pada metode pembelajaran, integrasi teknologi, pengembangan kurikulum, dan strategi penguatan kesadaran sosial. Selain itu, JUPSI juga menerima artikel lintas disiplin yang berkaitan dengan pendidikan sosial, seperti integrasi pendidikan berbasis STEAM, literasi digital dalam pembelajaran sosial, serta kajian kebijakan pendidikan sosial di tingkat lokal, nasional, dan global. Jurnal ini bertujuan untuk menyajikan temuan baru dan informasi terkini yang relevan bagi akademisi, pendidik, dan peneliti guna meningkatkan kualitas pembelajaran di bidang ilmu sosial. Terbit tiga kali dalam setahun, pada bulan Februari, Juni, dan Oktober. JUPSI juga terbuka untuk menerima artikel berupa tinjauan pustaka (literature review) dan systematic literature review (SLR).
Articles 70 Documents
Child Socialization Patterns and the Risks of Child Grooming in Modern Communities Cheng Devithe; Zilaturrohmah; Fauzan Aziz
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/jupsi.v4i1.352

Abstract

This study examines child grooming as a socially embedded phenomenon shaped by everyday relational practices rather than solely as an individual criminal act. The research was conducted in response to the limited scholarly attention given to how child socialization patterns, particularly those related to trust, emotional closeness, and adult authority, may unintentionally create conditions that facilitate grooming practices. Using a qualitative interpretive phenomenological approach, the study analyzed secondary digital data collected through netnographic methods, including online news reports, investigative publications, and child protection narratives. The findings reveal that grooming risks frequently emerge within socially accepted relationships characterized by familiarity, emotional attachment, and perceived moral legitimacy. Four interconnected themes were identified: trust-based child socialization, normalization of adult and child closeness, ambiguity of social authority, and limited public awareness of grooming processes. The study concludes that social norms intended to protect children may simultaneously obscure early warning signs of exploitation. However, the reliance on secondary digital narratives limits access to direct experiential perspectives and restricts broader generalization. Penelitian ini mengkaji child grooming sebagai fenomena sosial yang tertanam dalam praktik relasional sehari hari, bukan semata mata sebagai tindakan kriminal individual. Penelitian dilakukan karena masih terbatasnya perhatian akademik terhadap pola sosialisasi anak, khususnya yang berkaitan dengan kepercayaan, kedekatan emosional, dan otoritas orang dewasa, yang secara tidak langsung dapat menciptakan kondisi yang mempermudah terjadinya grooming. Penelitian menggunakan pendekatan fenomenologi interpretatif kualitatif dengan memanfaatkan data sekunder digital yang dikumpulkan melalui metode netnografi, meliputi berita daring, laporan investigatif, dan narasi perlindungan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko grooming sering muncul dalam hubungan sosial yang dianggap wajar dan aman karena dibangun melalui kedekatan, keterikatan emosional, dan legitimasi moral. Penelitian ini mengidentifikasi empat tema utama, yaitu sosialisasi anak berbasis kepercayaan, normalisasi kedekatan antara anak dan orang dewasa, ambiguitas otoritas sosial, serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap proses grooming. Penelitian menyimpulkan bahwa norma sosial yang bertujuan melindungi anak dapat sekaligus menyamarkan tanda awal eksploitasi. Meskipun demikian, penggunaan narasi digital sekunder membatasi akses terhadap pengalaman langsung partisipan dan membatasi generalisasi temuan penelitian.
Artificial Intelligence Misuse and Digital Ethics Among University Students Ratin Wahyu Juni Atma; M Zainul Hafizi; Zihori Maulida
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/jupsi.v4i1.407

Abstract

The development of Artificial Intelligence (AI) in higher education presents both opportunities and digital ethical challenges among university students. This study aims to analyze the forms of AI misuse and their implications for students’ digital ethics within Indonesian online media spaces. The study employed a qualitative approach using a netnographic research design through observations of national media reports, digital documentation, and social media activities related to AI usage among university students. The findings indicate that AI misuse has developed in various forms, including AI-based plagiarism, academic dependency on automated technologies, digital identity manipulation through deepfake practices, the creation of manipulative content, and privacy violations. These phenomena are influenced by the accessibility of AI technology, limited AI literacy, weak digital ethical awareness, and the popularity-oriented culture of social media. The study also found that unethical AI usage potentially reduces academic integrity, critical thinking abilities, and the quality of students’ social interactions within digital spaces. Therefore, strengthening AI literacy, digital ethics, and institutional policies is essential to promote more responsible technology usage in higher education environments. This study contributes to the growing discourse on AI ethics and digital culture among university students in the era of digital transformation. Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pendidikan tinggi menghadirkan peluang sekaligus tantangan etika digital di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk penyalahgunaan AI serta implikasinya terhadap etika digital mahasiswa dalam ruang media daring di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian netnografi melalui observasi terhadap pemberitaan media nasional, dokumentasi digital, dan aktivitas media sosial terkait penggunaan AI di lingkungan mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyalahgunaan AI berkembang dalam berbagai bentuk, seperti plagiarisme berbasis AI, ketergantungan akademik terhadap teknologi otomatis, manipulasi identitas digital melalui praktik deepfake, hingga pembuatan konten manipulatif dan pelanggaran privasi. Fenomena tersebut dipengaruhi oleh kemudahan akses teknologi, rendahnya literasi AI, lemahnya kesadaran etika digital, serta budaya popularitas media sosial. Penelitian ini juga menemukan bahwa penggunaan AI secara tidak etis berpotensi menurunkan integritas akademik, kemampuan berpikir kritis, serta kualitas interaksi sosial mahasiswa dalam ruang digital. Oleh karena itu, penguatan literasi AI, etika digital, dan kebijakan institusional menjadi langkah penting untuk mendorong penggunaan teknologi yang lebih bertanggung jawab di lingkungan pendidikan tinggi.
Community-Based Social Learning in Religious Transformation: A Study of the Wetu Telu–Waktu Lima Transition in Lombok, Indonesia Herman Zuhdi; Febi Laeli Putri
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/jupsi.v4i1.416

Abstract

The transition from Wetu Telu to Waktu Lima among the Sasak community in Lombok reflects a significant process of religious and social transformation involving changes in religious practices, knowledge systems, and cultural identities. This study investigates the role of community-based social learning in shaping and facilitating this transformation. A qualitative case study approach was employed in North Lombok using in-depth interviews, observation, document analysis, and oral history. Data were analyzed through thematic analysis to identify patterns of learning, interaction, and adaptation within the community. The findings indicate that Wetu Telu functioned as a traditional social learning system through which religious and cultural values were transmitted across generations. The transition toward Waktu Lima was supported by religious leaders, families, Islamic educational institutions, and community organizations through processes of observation, participation, dialogue, and social interaction. These mechanisms enabled the community to adopt new religious orientations while maintaining important elements of local cultural identity. The study highlights community-based social learning as a key mechanism in religious transformation.Transisi dari Wetu Telu menuju Waktu Lima pada masyarakat Sasak di Lombok merupakan proses transformasi sosial dan keagamaan yang ditandai oleh perubahan praktik keagamaan, sistem pengetahuan, dan identitas budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran pembelajaran sosial berbasis komunitas dalam mendorong dan memfasilitasi proses transformasi tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif yang dilakukan di Lombok Utara melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan sejarah lisan. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola pembelajaran, interaksi, dan adaptasi yang berkembang dalam komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Wetu Telu berfungsi sebagai sistem pembelajaran sosial tradisional yang mentransmisikan nilai-nilai keagamaan dan budaya antargenerasi. Transisi menuju Waktu Lima didukung oleh tokoh agama, keluarga, lembaga pendidikan Islam, dan organisasi masyarakat melalui proses observasi, partisipasi, dialog, dan interaksi sosial. Mekanisme tersebut memungkinkan masyarakat mengadopsi orientasi keagamaan baru tanpa kehilangan unsur-unsur penting identitas budaya lokal. Penelitian ini menegaskan pentingnya pembelajaran sosial berbasis komunitas dalam menjelaskan transformasi keagamaan
The Influence of Self-Efficacy and Learning Motivation on Vocational Teachers' Interest in Developing Digital Learning Media Ahmad Reza Midfaruddin; Marsono
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia (In Press)
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/jupsi.v4i2.453

Abstract

Digital transformation in vocational education requires teachers not only to use technology but also to develop digital learning media that respond to practical and occupational learning needs. HoweTemuan ini menunjukkan bahwa transformasi digital pendidikan vokasi memerlukan strategi kelembagaan yang memperkuat keyakinan diri, motivasi belajar berkelanjutan, penyediaan teknologi, dan pengembangan profesional guru secara sistematison vocational teachers’ interest in developing digital learning media. Using a quantitative ex post facto correlational design, data were collected from 70 teachers at SMKN 10 Malang through a 45-item five-point Likert questionnaire. Data were analyzed using validity and reliability testing, normality and classical assumption tests, multiple linear regression, t-tests, F-test, and coefficient of determination. The results showed that self-efficacy and learning motivation positively and significantly predicted teachers’ interest, both individually and simultaneously, with learning motivation emerging as the stronger predictor. Together, the two variables explained 66.1% of the variance in teachers’ interest. These findings indicate that sustainable digital transformation in vocational education requires institutional strategies that strengthen teachers’ confidence and continuous motivation to learn alongside technological provision and ongoing professional development support systematically.Transformasi digital dalam pendidikan vokasi menuntut guru tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga mengembangkan media pembelajaran digital yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran praktis dan kebutuhan dunia kerja. Namun, minat guru untuk mengembangkan media digital berkaitan dengan kesiapan psikologis, terutama efikasi diri dan motivasi belajar. Penelitian ini menganalisis pengaruh parsial dan simultan efikasi diri dan motivasi belajar terhadap minat guru kejuruan dalam mengembangkan media pembelajaran digital. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional ex post facto yang melibatkan 70 guru SMKN 10 Malang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert lima tingkat yang terdiri atas 45 pernyataan. Analisis mencakup uji validitas dan reliabilitas, normalitas, asumsi klasik, regresi linear berganda, uji t, uji F, dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efikasi diri dan motivasi belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat guru, baik secara parsial maupun simultan, dengan motivasi belajar sebagai prediktor yang lebih kuat. Kedua variabel mampu menjelaskan 66,1% variasi minat guru. Temuan ini menunjukkan bahwa transformasi digital pendidikan vokasi memerlukan strategi kelembagaan yang memperkuat keyakinan diri, motivasi belajar berkelanjutan, penyediaan teknologi, dan pengembangan profesional guru secara sistematis.
Improving Grade IV Students’ Learning Outcomes through Project Based Learning in Natural and Social Sciences at SD Inpres 2 Tondo Firnianti; Nashrullah; Sisriawan Lapasere; Yusdin Bin. M Gagaramusu; Mas'adi
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia (In Press)
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/jupsi.v4i2.457

Abstract

The low level of student achievement and participation in Natural and Social Sciences (IPAS) learning highlighted the need for instructional practices that provide more meaningful opportunities for students to engage with the learning process. This study examined the improvement of Grade IV students’ learning outcomes through Project Based Learning (PjBL) on the topic “Stories about My Region” at SD Inpres 2 Tondo. The study employed Classroom Action Research involving 22 students and was implemented in two cycles of planning, action, observation, and reflection. Data were obtained from learning-outcome tests, observations of teacher and student activities, and documentation, and were analyzed using quantitative and qualitative procedures. The findings revealed a progressive improvement in achievement, with the class mean rising from 48.86 at pre-action to 56.59 in Cycle I and 80.22 in Cycle II. Classical mastery similarly increased from 9.09% to 27.20% and ultimately reached 90.90%. Improvements made following Cycle I reflection were also accompanied by stronger teacher implementation and student participation. These findings suggest that contextually implemented and progressively refined PjBL can support more active learning and improved achievement. However, the classroom-specific design limits the broader generalization of the findings.Rendahnya hasil belajar dan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) menunjukkan perlunya praktik pembelajaran yang memberikan kesempatan lebih bermakna bagi peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar. Penelitian ini mengkaji peningkatan hasil belajar peserta didik kelas IV melalui penerapan Project Based Learning (PjBL) pada materi “Cerita tentang Daerahku” di SD Inpres 2 Tondo. Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang melibatkan 22 peserta didik dan dilaksanakan dalam dua siklus yang mencakup perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Data diperoleh melalui tes hasil belajar, observasi aktivitas guru dan peserta didik, serta dokumentasi, kemudian dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan bertahap pada nilai rata-rata kelas dari 48,86 pada pratindakan menjadi 56,59 pada siklus I dan 80,22 pada siklus II. Ketuntasan klasikal juga meningkat dari 9,09% menjadi 27,20% dan mencapai 90,90% pada siklus II. Perbaikan pembelajaran berdasarkan refleksi siklus I turut diikuti oleh peningkatan kualitas pelaksanaan pembelajaran dan keterlibatan peserta didik. Temuan ini menunjukkan bahwa PjBL yang diterapkan secara kontekstual dan disempurnakan melalui refleksi dapat mendukung pembelajaran yang lebih aktif serta peningkatan hasil belajar. Namun, cakupan penelitian pada satu kelas membatasi generalisasi temuan ke konteks pendidikan yang lebih luas.
Effectiveness of The Group Investigation Method on Problem-Solving Skills and Cooperation of Elementary School Students Laila Anjani Wulandari; Deni Hardianto; Muhammad Anarda Wiguna
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia (In Press)
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/jupsi.v4i2.460

Abstract

This study examines the influence and effectiveness of the Group Investigation method on elementary students' problem-solving ability and cooperation in Pancasila Education. It employed a quasi-experimental pretest–posttest control-group design, comparing an experimental class and a control class of fourth-grade students at Giriwungu State Elementary School. Data were collected using a reflective problem-solving test and a cooperation observation sheet, both of which were validated and tested for reliability prior to implementation. The data were analyzed using normality and homogeneity tests, normalized gain (N-gain), and Multivariate Analysis of Covariance (MANCOVA). The results revealed that the Group Investigation method had a significant simultaneous effect on students' problem-solving ability and cooperation, with a large effect size (partial η² = .378). Furthermore, the method explained 23.4% of the variance in problem-solving ability and 29.1% of the variance in cooperation after controlling for pretest scores. These findings provide empirical evidence that the Group Investigation method can simultaneously foster cognitive and social competencies through inquiry-based cooperative learning, highlighting its potential as an effective instructional approach for Pancasila Education in elementary schools. Penelitian ini mengkaji pengaruh dan efektivitas metode Group Investigation terhadap kemampuan pemecahan masalah dan kerja sama peserta didik sekolah dasar dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental pretest–posttest control-group dengan membandingkan kelas eksperimen dan kelas kontrol pada peserta didik kelas IV SD Negeri Girinkuiri Data dikumpulkan menggunakan tes reflektif kemampuan pemecahan masalah dan lembar observasi kerja sama yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya sebelum digunakan. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, homogenitas, normalized gain (N-gain), dan Multivariate Analysis of Covariance (MANCOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Group Investigation memberikan pengaruh simultan yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah dan kerja sama dengan ukuran efek yang besar (partial η² = 0,378). Selain itu, metode ini menjelaskan 23,4% variasi kemampuan pemecahan masalah dan 29,1% variasi kerja sama setelah mengontrol skor pretest. Temuan ini memberikan bukti empiris bahwa metode Group Investigation mampu mengembangkan kompetensi kognitif dan sosial secara simultan melalui pembelajaran kooperatif berbasis inkuiri, sehingga berpotensi menjadi pendekatan pembelajaran yang efektif dalam Pendidikan Pancasila di sekolah dasar.
Wizer.me-Based Social Studies Worksheets with Think Pair Share Model to Improve Critical Thinking Skill Zona Anggraini; Sekar Purbarini Kawuryan
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia (In Press)
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/jupsi.v4i2.461

Abstract

This study developed a Wizer.me based Social Studies worksheet integrated with the Think Pair Share model for Grade VI students and examined its feasibility, practicality, and effectiveness in supporting critical thinking skills. Research and development was conducted using the ADDIE model. Content and media experts evaluated product feasibility, while practicality was assessed through one to one, small group, and field trials. Effectiveness was examined using a quasi experimental pretest and posttest control group design involving two classes of 20 students. The worksheet addressed “Stories about Our Indonesia” through videos, images, interactive questions, and structured think, pair, and share activities. Content validation reached 72.92%, media validation 82.81%, and the descriptive mean 77.67%. Student practicality reached 85.26%, while teacher practicality reached 100%. The experimental group achieved an N gain of 0.724, compared with 0.599 in the control group, with significant differences in posttest, gain, and N gain. These findings indicate that the integrated intervention was feasible, practical, and associated with stronger critical thinking improvement than the control condition, supporting structured digital learning in elementary Social Studies classrooms. Penelitian ini mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik IPS berbasis Wizer.me yang terintegrasi dengan model Think Pair Share untuk peserta didik kelas VI serta menguji kelayakan, kepraktisan, dan keefektifannya dalam mendukung keterampilan berpikir kritis. Penelitian dan pengembangan dilaksanakan menggunakan model ADDIE. Kelayakan produk dinilai oleh ahli materi dan ahli media, sedangkan kepraktisan diuji melalui tahap one to one, small group, dan field trial. Keefektifan diuji menggunakan desain kuasi eksperimen pretest dan posttest dengan kelompok kontrol yang melibatkan dua kelas, masing masing terdiri atas 20 peserta didik. LKPD memuat materi “Cerita tentang Indonesia Kita” melalui video, gambar, soal interaktif, serta aktivitas think, pair, dan share yang terstruktur. Validasi materi mencapai 72,92%, validasi media 82,81%, dan rerata deskriptif 77,67%. Kepraktisan peserta didik mencapai 85,26%, sedangkan kepraktisan guru mencapai 100%. Kelompok eksperimen memperoleh N gain 0,724, dibandingkan 0,599 pada kelompok kontrol, dengan perbedaan signifikan pada posttest, gain, dan N gain. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi terintegrasi tersebut layak, praktis, dan berkaitan dengan peningkatan keterampilan berpikir kritis yang lebih kuat dibandingkan kondisi kontrol dalam pembelajaran IPS kelas VI sekolah dasar.
Process Output Gaps in Educational Performance Across Bali: A Regional Typology for Targeted Education Policy Rizka Zakiah; Dita Puruwita; Annisa Lutfia; Nadya Fadillah Fidhyallah
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia (In Press)
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/jupsi.v4i2.463

Abstract

Regional education evaluation often emphasizes overall performance rankings, which may obscure whether favorable educational processes are consistently aligned with student outcomes. This study examines process–output alignment across Bali’s nine local government territories using data from Rapor Pendidikan Indonesia 2025. A quantitative evaluative-comparative, cross-sectional design was employed. Nine educational process indicators and three output indicators were transformed from ordinal categories into standardized scores, aggregated into a Process Index (PI) and Output Index (OI), and used to calculate process–output gaps. Spearman’s rank correlation and a median-based four-quadrant typology were then applied. The results show substantial territorial variation. The OI exceeded the PI in all regions, with the largest gaps observed in Klungkung, Bangli, and Jembrana, while Buleleng showed the closest numerical alignment. The PI and OI were moderately positively associated (ρ = 0.552, p = 0.123, n = 9), although the relationship was not statistically significant. The typology identified consolidated performance, educational resilience, conversion gaps, and structural vulnerability. These findings support differentiated regional education policy, while interpretation remains limited by cross-sectional aggregated data and ordinal score transformation. Evaluasi pendidikan daerah sering menekankan peringkat kinerja secara keseluruhan, sehingga dapat mengaburkan apakah kondisi proses pendidikan yang baik benar-benar selaras dengan capaian siswa. Penelitian ini menganalisis keselarasan proses–output pada sembilan wilayah pemerintah daerah di Bali menggunakan data Rapor Pendidikan Indonesia 2025. Penelitian menggunakan desain kuantitatif evaluatif-komparatif dengan pendekatan cross-sectional. Sembilan indikator proses dan tiga indikator output ditransformasikan dari kategori ordinal menjadi skor terstandar, kemudian diagregasikan ke dalam Process Index (PI) dan Output Index (OI), serta digunakan untuk menghitung process–output gap. Analisis dilanjutkan dengan korelasi peringkat Spearman dan tipologi empat kuadran berbasis median. Hasil menunjukkan adanya variasi kewilayahan yang cukup jelas. Nilai OI lebih tinggi daripada PI di seluruh wilayah, dengan gap terbesar di Klungkung, Bangli, dan Jembrana, sedangkan Buleleng menunjukkan keselarasan numerik terdekat. PI dan OI memiliki hubungan positif sedang (ρ = 0,552; p = 0,123; n = 9), tetapi tidak signifikan secara statistik. Tipologi menghasilkan kategori consolidated performance, educational resilience, conversion gap, dan structural vulnerability. Temuan ini mendukung kebijakan pendidikan daerah yang lebih terdiferensiasi, dengan keterbatasan pada data agregat cross-sectional dan transformasi skor ordinal.
Children’s Educational Access by Gender in the Cultural Perspective of the Bahorok Malay-Islamic Community Najwa Zahra; Sakti Ritonga
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia (In Press)
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/jupsi.v4i2.467

Abstract

Educational access for girls and boys in the Malay Bahorok community has changed alongside developments in social, economic, and educational conditions. Earlier generations experienced more limited educational opportunities due to inadequate educational facilities, geographical distance, household economic constraints, and gendered expectations concerning children’s roles. This study aims to examine educational access for girls and boys from the perspective of Malay Bahorok culture, identify the factors influencing such access, and understand changing community perceptions of education across generations. The study employed a descriptive qualitative approach involving 11 informants, comprising 2 key informants, 7 primary informants, and 2 supporting informants. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation and analyzed thematically. The findings indicate that educational access has become increasingly equal for girls and boys, including growing support for girls’ pursuit of higher education. However, gender-based divisions of domestic responsibilities remain evident within family life. These findings indicate that changes in educational access have progressed more rapidly than changes in some gender norms within households. The study contributes to understanding educational transformation and gender relations within culturally grounded communities. Akses pendidikan anak perempuan dan laki-laki dalam masyarakat Melayu Bahorok mengalami perubahan seiring perkembangan kondisi sosial, ekonomi, dan pendidikan. Pada generasi terdahulu, keterbatasan fasilitas pendidikan, jarak, kondisi ekonomi keluarga, dan konstruksi peran gender memengaruhi kesempatan anak untuk melanjutkan pendidikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis akses pendidikan anak perempuan dan laki-laki dalam perspektif budaya Melayu Bahorok, mengidentifikasi faktor yang memengaruhinya, serta memahami perubahan pandangan masyarakat terhadap pendidikan berdasarkan pengalaman antargenerasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan 11 informan yang terdiri atas 2 informan kunci, 7 informan utama, dan 2 informan tambahan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan akses pendidikan yang semakin setara antara anak perempuan dan laki-laki, termasuk meningkatnya dukungan terhadap pendidikan tinggi perempuan. Namun, pembagian tanggung jawab domestik berdasarkan gender masih ditemukan dalam kehidupan keluarga. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan akses pendidikan berlangsung lebih cepat daripada perubahan sebagian norma gender dalam rumah tangga. Penelitian berkontribusi pada pemahaman mengenai transformasi pendidikan dan relasi gender dalam masyarakat berbasis budaya.
The Relationship between Gender-Based Class Segregation and Students’ Social Skills Hanifah Rahmi; Nuriza Dora
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia (In Press)
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/jupsi.v4i2.469

Abstract

Gender-based class segregation represents one form of classroom organization implemented in some educational institutions, particularly within Islamic-based schools. Such an arrangement creates patterns of student interaction that differ from those found in mixed-gender classrooms and may be associated with students’ social development. This study aimed to examine the relationship between gender-based class segregation and the social skills of eighth-grade students at SMP IT Bina Insan Lubuk Pakam. A quantitative approach with an ex post facto design was employed. The study involved 46 eighth-grade students. Data were collected using a questionnaire that had undergone validity and reliability testing and were subsequently analyzed through preliminary assumption tests and simple linear regression. The results demonstrated a positive and statistically significant relationship between gender-based class segregation and students’ social skills (B = 0.557; t = 4.656; p < .001; R = .574; R² = .330). The finding indicates that gender-based class segregation was associated with variation in students’ social skills within the research context. However, the observed relationship should not be interpreted as causal evidence. The study highlights the importance of considering peer interaction and the learning environment in understanding students’ social-skill development. Segregasi kelas berbasis gender merupakan salah satu bentuk pengorganisasian pembelajaran yang diterapkan pada sebagian lembaga pendidikan, termasuk sekolah berbasis Islam. Pengaturan tersebut membentuk pola interaksi siswa yang berbeda dari kelas campuran dan berpotensi berkaitan dengan perkembangan keterampilan sosial siswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara segregasi kelas berbasis gender dan keterampilan sosial siswa kelas VIII di SMP IT Bina Insan Lubuk Pakam. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex post facto. Sampel penelitian terdiri atas 46 siswa kelas VIII. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah melalui pengujian validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis menggunakan uji prasyarat dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan secara statistik antara segregasi kelas berbasis gender dan keterampilan sosial siswa (B = 0,557; t = 4,656; p < 0,001; R = 0,574; R² = 0,330). Temuan ini menunjukkan bahwa segregasi kelas berbasis gender berkaitan dengan variasi keterampilan sosial siswa dalam konteks penelitian. Namun, hubungan tersebut tidak menunjukkan hubungan kausal. Penelitian ini menegaskan pentingnya memperhatikan kualitas interaksi teman sebaya dan lingkungan pembelajaran dalam pengembangan keterampilan sosial siswa.