cover
Contact Name
M Zainul Hafizi
Contact Email
amakfizi@gmail.com
Phone
+6282111132092
Journal Mail Official
jupsikita@gmail.com
Editorial Address
Jl. Padat Karya Komplek Green Rich Residence Blok A 32, RT 004 RW 015, Kelurahan Saigon, Kec. Pontianak Timur, Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, 78132
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia
ISSN : -     EISSN : 30259479     DOI : 10.62238
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia (JUPSI) adalah publikasi akademik yang berfokus pada pengembangan ilmu dan praktik pendidikan di bidang Ilmu Pengetahuan Sosial. Cakupan jurnal ini mencakup pendidikan IPS, pendidikan ekonomi, pendidikan sosiologi, pendidikan sejarah, serta pendidikan PPKn, dengan perhatian pada metode pembelajaran, integrasi teknologi, pengembangan kurikulum, dan strategi penguatan kesadaran sosial. Selain itu, JUPSI juga menerima artikel lintas disiplin yang berkaitan dengan pendidikan sosial, seperti integrasi pendidikan berbasis STEAM, literasi digital dalam pembelajaran sosial, serta kajian kebijakan pendidikan sosial di tingkat lokal, nasional, dan global. Jurnal ini bertujuan untuk menyajikan temuan baru dan informasi terkini yang relevan bagi akademisi, pendidik, dan peneliti guna meningkatkan kualitas pembelajaran di bidang ilmu sosial. Terbit tiga kali dalam setahun, pada bulan Februari, Juni, dan Oktober. JUPSI juga terbuka untuk menerima artikel berupa tinjauan pustaka (literature review) dan systematic literature review (SLR).
Articles 63 Documents
Child Socialization Patterns and the Risks of Child Grooming in Modern Communities Cheng Devithe; Zilaturrohmah; Fauzan Aziz
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/jupsi.v4i1.352

Abstract

This study examines child grooming as a socially embedded phenomenon shaped by everyday relational practices rather than solely as an individual criminal act. The research was conducted in response to the limited scholarly attention given to how child socialization patterns, particularly those related to trust, emotional closeness, and adult authority, may unintentionally create conditions that facilitate grooming practices. Using a qualitative interpretive phenomenological approach, the study analyzed secondary digital data collected through netnographic methods, including online news reports, investigative publications, and child protection narratives. The findings reveal that grooming risks frequently emerge within socially accepted relationships characterized by familiarity, emotional attachment, and perceived moral legitimacy. Four interconnected themes were identified: trust-based child socialization, normalization of adult and child closeness, ambiguity of social authority, and limited public awareness of grooming processes. The study concludes that social norms intended to protect children may simultaneously obscure early warning signs of exploitation. However, the reliance on secondary digital narratives limits access to direct experiential perspectives and restricts broader generalization. Penelitian ini mengkaji child grooming sebagai fenomena sosial yang tertanam dalam praktik relasional sehari hari, bukan semata mata sebagai tindakan kriminal individual. Penelitian dilakukan karena masih terbatasnya perhatian akademik terhadap pola sosialisasi anak, khususnya yang berkaitan dengan kepercayaan, kedekatan emosional, dan otoritas orang dewasa, yang secara tidak langsung dapat menciptakan kondisi yang mempermudah terjadinya grooming. Penelitian menggunakan pendekatan fenomenologi interpretatif kualitatif dengan memanfaatkan data sekunder digital yang dikumpulkan melalui metode netnografi, meliputi berita daring, laporan investigatif, dan narasi perlindungan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko grooming sering muncul dalam hubungan sosial yang dianggap wajar dan aman karena dibangun melalui kedekatan, keterikatan emosional, dan legitimasi moral. Penelitian ini mengidentifikasi empat tema utama, yaitu sosialisasi anak berbasis kepercayaan, normalisasi kedekatan antara anak dan orang dewasa, ambiguitas otoritas sosial, serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap proses grooming. Penelitian menyimpulkan bahwa norma sosial yang bertujuan melindungi anak dapat sekaligus menyamarkan tanda awal eksploitasi. Meskipun demikian, penggunaan narasi digital sekunder membatasi akses terhadap pengalaman langsung partisipan dan membatasi generalisasi temuan penelitian.
Artificial Intelligence Misuse and Digital Ethics Among University Students Ratin Wahyu Juni Atma; M Zainul Hafizi; Zihori Maulida
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/jupsi.v4i1.407

Abstract

The development of Artificial Intelligence (AI) in higher education presents both opportunities and digital ethical challenges among university students. This study aims to analyze the forms of AI misuse and their implications for students’ digital ethics within Indonesian online media spaces. The study employed a qualitative approach using a netnographic research design through observations of national media reports, digital documentation, and social media activities related to AI usage among university students. The findings indicate that AI misuse has developed in various forms, including AI-based plagiarism, academic dependency on automated technologies, digital identity manipulation through deepfake practices, the creation of manipulative content, and privacy violations. These phenomena are influenced by the accessibility of AI technology, limited AI literacy, weak digital ethical awareness, and the popularity-oriented culture of social media. The study also found that unethical AI usage potentially reduces academic integrity, critical thinking abilities, and the quality of students’ social interactions within digital spaces. Therefore, strengthening AI literacy, digital ethics, and institutional policies is essential to promote more responsible technology usage in higher education environments. This study contributes to the growing discourse on AI ethics and digital culture among university students in the era of digital transformation. Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pendidikan tinggi menghadirkan peluang sekaligus tantangan etika digital di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk penyalahgunaan AI serta implikasinya terhadap etika digital mahasiswa dalam ruang media daring di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian netnografi melalui observasi terhadap pemberitaan media nasional, dokumentasi digital, dan aktivitas media sosial terkait penggunaan AI di lingkungan mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyalahgunaan AI berkembang dalam berbagai bentuk, seperti plagiarisme berbasis AI, ketergantungan akademik terhadap teknologi otomatis, manipulasi identitas digital melalui praktik deepfake, hingga pembuatan konten manipulatif dan pelanggaran privasi. Fenomena tersebut dipengaruhi oleh kemudahan akses teknologi, rendahnya literasi AI, lemahnya kesadaran etika digital, serta budaya popularitas media sosial. Penelitian ini juga menemukan bahwa penggunaan AI secara tidak etis berpotensi menurunkan integritas akademik, kemampuan berpikir kritis, serta kualitas interaksi sosial mahasiswa dalam ruang digital. Oleh karena itu, penguatan literasi AI, etika digital, dan kebijakan institusional menjadi langkah penting untuk mendorong penggunaan teknologi yang lebih bertanggung jawab di lingkungan pendidikan tinggi.
Community-Based Social Learning in Religious Transformation: A Study of the Wetu Telu–Waktu Lima Transition in Lombok, Indonesia Herman Zuhdi; Febi Laeli Putri
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/jupsi.v4i1.416

Abstract

The transition from Wetu Telu to Waktu Lima among the Sasak community in Lombok reflects a significant process of religious and social transformation involving changes in religious practices, knowledge systems, and cultural identities. This study investigates the role of community-based social learning in shaping and facilitating this transformation. A qualitative case study approach was employed in North Lombok using in-depth interviews, observation, document analysis, and oral history. Data were analyzed through thematic analysis to identify patterns of learning, interaction, and adaptation within the community. The findings indicate that Wetu Telu functioned as a traditional social learning system through which religious and cultural values were transmitted across generations. The transition toward Waktu Lima was supported by religious leaders, families, Islamic educational institutions, and community organizations through processes of observation, participation, dialogue, and social interaction. These mechanisms enabled the community to adopt new religious orientations while maintaining important elements of local cultural identity. The study highlights community-based social learning as a key mechanism in religious transformation.Transisi dari Wetu Telu menuju Waktu Lima pada masyarakat Sasak di Lombok merupakan proses transformasi sosial dan keagamaan yang ditandai oleh perubahan praktik keagamaan, sistem pengetahuan, dan identitas budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran pembelajaran sosial berbasis komunitas dalam mendorong dan memfasilitasi proses transformasi tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif yang dilakukan di Lombok Utara melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan sejarah lisan. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola pembelajaran, interaksi, dan adaptasi yang berkembang dalam komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Wetu Telu berfungsi sebagai sistem pembelajaran sosial tradisional yang mentransmisikan nilai-nilai keagamaan dan budaya antargenerasi. Transisi menuju Waktu Lima didukung oleh tokoh agama, keluarga, lembaga pendidikan Islam, dan organisasi masyarakat melalui proses observasi, partisipasi, dialog, dan interaksi sosial. Mekanisme tersebut memungkinkan masyarakat mengadopsi orientasi keagamaan baru tanpa kehilangan unsur-unsur penting identitas budaya lokal. Penelitian ini menegaskan pentingnya pembelajaran sosial berbasis komunitas dalam menjelaskan transformasi keagamaan