cover
Contact Name
Yusa Djuyandi
Contact Email
yusa.djuyandi@unpad.ac.id
Phone
+628179242566
Journal Mail Official
editor.aliansi@gmail.com
Editorial Address
Pusat Studi Keamanan dan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran. Kampus FISIP Universitas Padjadjaran, Gedung D, Lt.2 Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21, Jatinangor, Sumedang, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Aliansi : Jurnal Politik, Keamanan Dan Hubungan Internasional
ISSN : -     EISSN : 28291794     DOI : -
Core Subject : Humanities, Social,
Sejak pertama kali diterbitkan oleh Universitas Padjadjaran yang secara teknis dikelola Pusat Studi Keamanan dan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran pada April 2022, Aliansi : Jurnal Politik, Keamanan Dan Hubungan Internasional berkomitmen untuk mempublikasikan hasil penelitian baik empirik maupun kajian teoritik yang mengangkat isu-isu politik, terutama di Indonesia. Publikasi yang ditampilkan pada Aliansi : Jurnal Politik, Keamanan Dan Hubungan Internasional diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan ilmu politik dan memberikan impak bagi pemahaman tentang pembangunan politik dan demokrasi khususnya di Indonesia.
Articles 133 Documents
RELEVANSI BALANCE OF THREAT DALAM MENGKAJI TRANSFORMASI KAPABILITAS PERTAHANAN JEPANG TAHUN 2023 Ramadhan, Muhammad Fauzan Rizki; Nurfebriansyah, Ahmad Rifki
Aliansi Vol 5, No 1 (2026): Aliansi : Jurnal Politik, Keamanan Dan Hubungan Internasional
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/aliansi.v5i1.70357

Abstract

Artikel ini berargumen bahwa perspektif Jepang terhadap ancaman global dan regional, mempengaruhi orientasi kebijakan pertahanannya. Merujuk pada Buku Putih Pertahanan tahun 2023, Jepang telah memulai transformasi dan peningkatan kapabilitas pertahanan terbesar dalam sejarahnya semenjak Perang Dunia Kedua. Meski memiliki komitmen konstitusional pasifisme dan non-militerisme, serta masih terjebak dalam stagnasi ekonomi kepanjangan, ancaman yang dipersepsikan nyatanya cukup untuk memengaruhi kalkulasi strategisnya secara radikal. Dengan mengatasnamakan pertahanan diri, Tokyo rela untuk melepas secara gradual identitas tradisionalnya agar dapat lebih efektif menjawab secara mandiri ancaman-ancaman yang berasal dari negara revisionis di lingkungannya. Menggunakan teori Balance of Threat, dan desain riset kualitatif berlogika deduktif, artikel ini melihat bahwa keputusan transformasi pertahanan yang dilakukan Jepang merupakan suatu bentuk jawaban atas peningkatan persepsi ancaman dari negara tersebut, yang disebabkan oleh negara-negara agresif dan ambisius di lingkungannya seperti Korea Utara, Rusia, dan juga Cina. Tingginya persepsi ancaman tersebut dibuktikan dengan mengoperasionalisasikan empat variabel dari teori, yakni; agregat kekuatan, kedekatan geografis, kapabilitas ofensif, dan intensi ofensif, yang masing-masing memperlihatkan tren yang merugikan Tokyo. Hal ini kemudian menjadi justifikasi yang memaksa Jepang untuk merespon kondisi ini secara mandiri dengan melakukan transformasi dan peningkatan kapabilitas pertahanannya di tahun 2023, guna menjawab tantangan geopolitik keamanan yang semakin mendesak. 
PENGARUH KONTEN EDUKASI POLITIK KANAL BIJAKPILKADA TERHADAP MINAT PARTISIPASI PUBLIK DALAM PILKADA JAKARTA 2024 Putra, Marginata Kurnia; Zidan, Muhamad; Sofian, Ferane Astrifani; Jaslin, Safa Ratu
Aliansi Vol 5, No 1 (2026): Aliansi : Jurnal Politik, Keamanan Dan Hubungan Internasional
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/aliansi.v5i1.70617

Abstract

Perkembangan media digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi politik, terutama menjelang pemilihan umum. Namun seiring dengan meningkatnya akses terhadap informasi digital juga diikuti oleh maraknya penyebaran hoaks dan disinformasi politik yang berpotensi memengaruhi kualitas pengambilan keputusan warga negara. Dalam konteks tersebut, kehadiran platform pendidikan politik digital yang menyediakan informasi kredibel dan mudah diakses menjadi semakin penting. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas konten informasi pada fitur BijakPilkada terhadap niat partisipasi masyarakat dalam Pemilihan Kepala Daerah Jakarta 2024. Berlandaskan Uses and Gratifications Theory, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 100 responden. Data dianalisis menggunakan regresi linier sederhana melalui SPSS versi 29. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas konten BijakPilkada berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat partisipasi publik, dengan nilai t sebesar 5,504 yang lebih besar dari t tabel 1,984 (p < 0,05). Nilai koefisien determinasi sebesar 23,6% menunjukkan bahwa kualitas konten menjelaskan sebagian variasi niat partisipasi publik. Analisis regresi menghasilkan konstanta sebesar 16,258 dan koefisien regresi sebesar 0,487, yang menunjukkan bahwa setiap peningkatan kualitas konten diikuti oleh peningkatan niat partisipasi masyarakat. Temuan ini menegaskan pentingnya kualitas informasi digital dalam mendukung literasi politik dan mendorong keterlibatan warga negara dalam proses demokrasi di tengah meningkatnya disinformasi politik pada era media digital.
ANALISIS KOMPARATIF PENCITRAAN BANGSA INDONESIA MELALUI INSTAGRAM: MENTERI LUAR NEGERI SEBAGAI KOMUNIKATOR IDENTITAS NASIONAL Zahid, Ali; Akmaluddin, Ghiyats
Aliansi Vol 5, No 2 (2026): Aliansi : Jurnal Politik, Keamanan Dan Hubungan Internasional
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/aliansi.v5i2.71949

Abstract

Diplomasi digital mengubah cara negara menyusun dan memproyeksikan citranya di ruang publik global. Penelitian ini membandingkan pencitraan bangsa Indonesia melalui akun Instagram Menteri Luar Negeri pada tahun pertama masa jabatan Retno Marsudi pada Januari – Desember 2015 dan Sugiono pada Oktober 2024 – Oktober 2025. Kajian terdahulu mengenai diplomasi digital Indonesia umumnya menyoroti akun institusional Kementerian Luar Negeri sehingga peran diplomat sebagai individu yang mengkomunikasikan identitas nation brand belum banyak diteliti. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif komparatif dengan metode analisis isi. Sumber data primer berupa 150 unggahan Instagram, yaitu 75 unggahan @retno_marsudi dan 75 unggahan @sugiono_56, yang dilengkapi 50 unggahan akun institusional @Kemlu_RI sebagai pembanding serta komentar berbahasa asing sebagai indikator resepsi audiens. Data sekunder mencakup Asia Power Index Lowy Institute (2025), editorial media internasional, dan literatur akademik. Validasi data ditempuh melalui pengkodean ganda atas seluruh unggahan, penghitungan reliabilitas antar pengkode, penelusuran ulang arsip unggahan, serta triangulasi sumber. Kerangka analisis memadukan model communicators of nation brand identity dari Dinnie, nation brand hexagon dari Anholt, diplomasi publik dari Cull, personalisasi diplomasi dari Neumann, dan micro-moments diplomacy dari Manor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Retno Marsudi membangun narasi kemanusiaan dan multilateralisme yang tercermin pada 48% video monolog serta 35% dimensi People, sedangkan Sugiono menampilkan pola seremonial dan berorientasi ekonomi dengan 67% foto seremonial, 18% video monolog, dan 38% dimensi Investment. Perbedaan tersebut berkaitan dengan latar belakang dan kapasitas komunikator, bukan semata gaya personal. Digital diplomacy has reshaped the way states construct and project their image in the global public sphere. This study compares Indonesian nation branding through the Instagram accounts of the Foreign Minister during the first year of Retno Marsudi (January–December 2015) and Sugiono (October 2024–October 2025). Previous work on Indonesian digital diplomacy has largely concentrated on the institutional account of the Ministry of Foreign Affairs, leaving the individual diplomat as a communicator of nation brand identity underexamined. The study applies a qualitative-comparative approach using content analysis. Primary data consist of 150 Instagram posts, namely 75 posts from @retno_marsudi and 75 posts from @sugiono_56, supplemented by 50 posts from the institutional account @Kemlu_RI as a benchmark and foreign-language comments as an indicator of audience reception. Secondary data include the Lowy Institute Asia Power Index (2025), international editorials, and academic literature. Data validation was carried out through double coding of the entire corpus, intercoder reliability testing, re-verification of archived posts, and source triangulation. The analytical framework combines Dinnie’s communicators of nation brand identity, Anholt’s nation brand hexagon, Cull’s public diplomacy, Neumann’s personalisation of diplomacy, and Manor’s micro-moments diplomacy. The findings show that Retno Marsudi built a humanitarian and multilateral narrative, reflected in 48% talking-head videos and 35% People dimension content, whereas Sugiono displayed a ceremonial and economically oriented pattern with 67% ceremonial photographs, 18% talking-head videos, and 38% Investment dimension content. These differences relate to the communicator’s background and capacity rather than personal style alone.