cover
Contact Name
Moh. Fathoni
Contact Email
jurnaladalah@gmail.com
Phone
+6285328075686
Journal Mail Official
jurnaladalah@gmail.com
Editorial Address
Jl. Mataram No.1, Karang Miuwo, Mangli, Kaliwates, Jember, East Java, Indonesia 68136
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Al'Adalah
This journal aims to publish original research articles on Islam and Muslims, especially Islamic thoughts, doctrines, and practices oriented toward moderation, egalitarianism, and humanity. The journal articles cover integrated topics on Islamic issues, including Islamic philosophy and theology, Islamic culture and history, Islamic politics, Islamic law, Islamic economics, and Islamic education, engaging a multidisciplinary and interdisciplinary approach. Therefore, this journal receives original research articles from any country and region concerned with Islam and Muslim.
Articles 464 Documents
STATUS NASAB ANAK AKIBAT LI'AN YANG DIBUKTIKAN DENGAN TES DNA: ANALISIS TES DNA SEBAGAI ALAT BUKTI
Al'Adalah Vol. 7 No. 2 (2004)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbicara dengan status nasab anak akibat adanya li'an, alat bukti tes DNA menurut mayoritas ulama berpendapat bahwa nasab anak tersebut hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya. Seorang suami yang mengingkari terhadap anak yang dikandung istrinya berhak melakukan sumpah li'an. Dengan demikian li'an merupakan salah satu alat bukti yang dapat menentukan status hukum nasab seorang anak. Setelah suami istri melakukan li'an secara otomatis nasab anak hanya berhubungan dengan ibunya Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (khususnya dibidang kedokteran) ditemukanlah suatu cara untuk menentukan keturunan seseorang yaitu dengan melalui tes DNA (Deoxiirybo nucleat acid) apabila dihadapkan pada bidang pembuktian, maka tes DNA ini merupakan salah satu alat bukti, yaitu berupa qarinah (petunjuk, tanda-tanda). Qarinah ini apabila telah menunjukkan keakuratan faktanya, maka tidak diperlukan lagi alat bukti yang lain. Demikian juga jika ada sepasang suami istri yang telah melakukan li'an dan kemudian setelah anak lahir bisa dibuktikan dengan tes DNA ternyata anak tersebut positif keturunan suami istri tersebut maka anak tersebut status nasabnya adalah anak dari suami istri.
PESANTREN GENDER: KONSTRUKSI BAKU BASIS PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
Al'Adalah Vol. 5 No. 2 (2002)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tema tentang pesantren tampaknyna selalu aktual. Tercermin pada berbagai fokus pembicaraan, kajian dan penelittan yang dilakukan para ahli, terutama setelah swemakin diakuinya kontribusi pesantren sebagai "sub kultur". Bahkan menjadi semakin menarik ketika keberadaan pesantren sebagai sub kultur dikaitkan dengan wacana gender dan pemberdayaan perempuan. Yang menjadi concern tulisan ini, karena dalam perjalanannya yang panjang pesantren ternyata telah mengalami proses dekonstruksi, bahkan rekonstruksi sehingga melahirkan konstruksi baru, kendati masih diterima secara kontroversial. Tulisan ini mencoba mendesain paradigma tentang konstruksi baru pesantren dimaksud, mula-mula tentang konstruksi pesantren, perkenalana pesantren dengan isu-isu perempuan, dan konstruksi baru pesantren sebagai basis pemberdayaan perempuan. Tentu saja, semuanya ini baru tahap eksploratif yang maish memerlukan kajian lebih lanjut.
PENDEKATAN FEMINIS: SEBUAH PARADIGMA BAKU DALAM KAJIAN FIQH BERKEADILAN GENDER
Al'Adalah Vol. 5 No. 2 (2002)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengan pengamatan sepiptas saja, tanpa harus melalui penelitian yang seksama, setiap pengamat masalah- masalah perempuan dan keperempuanan dapat melihat, bahwa perempuan sepanjang sejarah peradaban manusia hanya memainkan peran sosial ekonomi, apalagi politik riil sekali posisinya kalau dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini dimungkinkan karena adanya tatanan bangunan yang timpang, yaitu tatanan bangunan yang timpang, yaitu tatanan nilai dimana pria ditempatkan sebagai pihak superior (kuat) diharapkan perempuan yang inperior (lemah). Berabad-ahad tatanan ini cukup mapan dan dianggap sebagai suatu yang alamiah bahkan oleh kaum perempuan sendiri.
KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN: REFLEKSI SEBUAH KETIMPANGAN KEKUASAAN
Al'Adalah Vol. 5 No. 2 (2002)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekerasan terhadap perempuan tidak hanya terjadi dalam suatu masyarakat saja, di berbagai negara di dunia persoalan ini menjadi problema yang sangat serius. Kekerasan terhadap perempuan merupakan indikasi rendahnya status perempuan dalam masyarakat. Menurut Nursyahbani Katjasungkana (1995) masalah kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dipandang lagi sebagai masalah antar individu, tetapi merupakan problema sosial yang berkaitan dengan segala bentuk penyiksaan, kekerasan, kekejaman dan pengabaian terhadap martabat manusia. Kekerasan terhadap perempuan merupakan refleksi dari kekuasaan laki-laki, atau perwujudan kerentanan perempuan dihadapan laki-laki, bahkan gambaran dari ketidakadilan terhadap perempuan. Dalam pandangan para feminis, kekerasan terhadap perempuan membuktikan adanya struktur kekuasaan yang terlalu menguntungkan laki-laki.
TAFSIR DAN FIQH EMANSIPATORIS: ALTERNATIF UPAYA MENGHENTIKAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK
Al'Adalah Vol. 5 No. 2 (2002)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, manusia tidak mampu mengetahui serta menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi. Banyak persoalan yang tidak dapat dijangkau manusia, sehingga membutuhkan 'peran Tuhan' untuk menjelaskannya. Al-Qur'an dan al-Hadits merupakan salah satu jalan yang diberikan Tuhan untuk membantu manusia mengetahui berbagai persoalan yang mereka hadapi, agar manusia dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat. Teks-teks tersebut merupakan pedoman bagi umat Islam untuk mengarungi kehidupan didunia. Karena itu, diskursus tentang agama Islam tidak akan lepas dari apa yang tertuang dalam teks-teks keagamaan, baik teks primer ataupun teks sekunder.
HAK-HAK PENDIDIKAN PEREMPUAN DALAN PERSPEKTIF ISLAM
Al'Adalah Vol. 5 No. 2 (2002)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara normatif setiap orang harus mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan, dengan tanpa membedakan status sosial ekonomi dan jenis kelamin. UUD 1945 pasal 31 ayat 1 menyatakan bahwa "Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran." Demikian juga UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 7 disebutkan bahwa kesempatan pendidikan pada setiap satuan pendidikan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial dan tingkat kemampuan ekonomi, dan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan. Namun dalam jaminan normatif di atas, tidak serta merta terpresentasikan dalam tataran empiris. Terbukti, perempuan cenderung memiliki kesempatan pendidikan lebih kecil dibanding laki-laki. Semakin tinggi jenjang pendidikan semakin lebar kesenjangannya.
PERLUKAH GENDER DIPERMASALAHKAN?
Al'Adalah Vol. 5 No. 2 (2002)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gender is something different from sex. Sex refers to biological anatomy of human that distinguish between man and woman, it is unchangeable. Whereas gender refers to social construction on what and how men or women should be, behave, act, etc. Surely, social construction is different from one region to another, it is changeable. It depends on social expectation in one area. In fact, it is often gender-biased from which women often suffer. That is why gender should be questioned and we need to deconstruct the gender-based social construction.
DISKURSUS GENDER DALAM WACANA MODERNITAS DAN POSTMODERNITAS: SATU PERSPEKTIF SOSIOLOGI PENDIDIKAN
Al'Adalah Vol. 5 No. 2 (2002)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbincangan realsi antara laki-laki dan perempuan (gender) menguat setelah kemunculan gerakan renaissans yang menandai lahirnya era modernitas. Perbincangan itu sendiri kemudian menjelma menjadi gerakan praksis yang disponsori kelompok perempuan terdidik guna menggugat struktur sosial yang patriarkis. Adapun trends gerakan perempuan pada era modern itu lebih berorientasi kepada isu-isu global dan cenderung mengabaikan aspek local knowledge. Kritik terhadap gerakan gender era modernitas kemudian melahirkan diskursus dan gerakan gender post-modernitas yang mencoba untuk mengangkat kembali aspek local knowledge sebagai model sosial gerakan. Perbincangan dan sekaligus gerakan praksis gender baik dalam semangat modernitas maupun post-modernitas, salah satunya menyoroti persoalan ketimpangan pendidikan yang menjadi kunci terciptanya struktur sosial bias gender. Oleh karena itu, untuk merubah struktur sosial bias gender diperlukan transformasi pendidikan sebagai entry point-nya.
MASALAH GENDER DALAM PERSFEKTIF TASAWUF
Al'Adalah Vol. 5 No. 2 (2002)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak orang memahami, bahwa kesetaraaan gender tidak ditemukan dalam Islam dengan menampilkan Nash dan gambaran tradisi Jahiliyah, hingga masa Rasulullah SAW, padahal dijaman tersebut tidak seluruhnya demikian. Masih ada beberapa suku pada jaman itu yang menempatkan posisi perempuan sema dengan laki-laki. Memang tidak dapat dibantah, bahwa kajian Fiqh klasik sangat banyak aturan yang mendiskriditkan gender tentang hak dan peranan perempuan. Tetapi hal itu, menjadi lahan garapan Fiqh modern untuk membongkarnya, dengan mengacu kepada rasa keadilan bagi laki dengan perempuan. ILmu pengetahuan dan teknologi, tidak melihat adanya alasan yang dapat dibenarkan untuk melakukan diskriminasi terhadap gender. Bahkan ilmu tasawuf tidak menilai kepribadian seseorang karena kelainan gender, tetapi siapapun diantara manusia yang sanggup melakukan pembersihan diri (Takhalli), pengisian hati (Tahalli), itulahyang diberi anugrah oleh Allah untuk sampai kepada-Nya (Tajalli). Dan termasuk sangat dihargai dan dijunjung tinggi oleh masyarakat Tasawuf, karena kesucian diri dan perilakunya, kesabaran dan keikhlasannyaa, yang pada puncaknya ia disebut Waliullah. Gelar ini menjadi milik seluruh gender yang berhasil menembus kesulitan (tembok tabir) dan melewati berbagai macam rintangan, yang akhirnya upaya maksimal itu dapat mencapai tujuan, yaitu tingkatan Sufi yang lebih tinggi, yakni Habib Allah, sebagaimana tingkatan kesufian yang telah diterima oleh Sufi besar perempuan, yang bernama Rabi'ah al-'Adawiyah.
GENDER DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN
Al'Adalah Vol. 5 No. 2 (2002)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kedudukan pria dan wanita adalah sama dan sederajat dalam segala Hal merupakan tema sentral dan sekaligus menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita. Dengan demikian, wanita juga memiliki kapabilitas yang sama dengan pria untuk memenuhi berbagai persyaratan dunia kerja, walau tak dapat dipungkiri bahwa dalam praktek organisasional peran diantara keduanya dalam banyak hal berbeda atau bahkan dibedakan, oleh karena itu tawaran yang hendak diberikan pada tulisan mi adalah bagaimana peran wanita dan pria itu lebih bersifat korelasional dan komplementer serta hadirnya sifat timbal balik dalam mengelola manajemen.