cover
Contact Name
Magfiroh
Contact Email
dokicti@gmail.com
Phone
+6285288852893
Journal Mail Official
dokicti@gmail.com
Editorial Address
Perumahan Surya Alam 8 Blok A No. 15 Jl. Masjid Jami, Talang Jambe, Kec. Sukarami, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30961
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
ISSN : 2988439X     EISSN : 2987260X     DOI : https://doi.org/10.61994/alshamela
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies is a scientific journal published by CV Doki Course and Training. The papers to be published in Al-Shamela are research articles (quantitative or qualitative research approaches), literature studies or original ideas that are considered to contribute to scientific studies of Quranic and Hadith Studies. It is published two times a year, in April and October. There are two version of publication; print out (p) with ISSN: 2988-439X and electronic (e) with ISSN Online: 2987-260X
Articles 65 Documents
Dimensi Spiritual dan Pendidikan Keluarga dalam Doa Nabi Ibrāhīm: Perspektif al-Qurṭubī dan ‘Alī al-Ṣābūnī Sakhoyah Aisyatul Izza; Ulin Nuha
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 2 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i2.2369

Abstract

Penelitian ini mengkaji dimensi spiritual dan pendidikan keluarga dalam doa Nabi Ibrāhīm a.s. di dalam Al-Qur’an melalui perbandingan penafsiran al-Qurṭubī dalam al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān dan Muḥammad ‘Alī al-Ṣābūnī dalam Ṣafwah al-Tafāsīr. Kajian difokuskan pada Q.S. Ibrāhīm [14]: 40–41 dan Q.S. al-Ṣāffāt [37]: 100 yang memuat permohonan keteguhan mendirikan salat, ampunan bagi diri sendiri, orang tua, dan orang-orang beriman, serta harapan memperoleh keturunan yang saleh. Penelitian kualitatif berbasis studi pustaka ini menggunakan pendekatan tafsir muqāran. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan dianalisis secara deskriptif, analitis, dan komparatif, dengan pemikiran al-Ghazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn sebagai kerangka teori pendamping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua mufasir memahami doa Nabi Ibrāhīm a.s. sebagai wujud penghambaan, ketergantungan kepada Allah, dan kepedulian terhadap keberlanjutan iman antargenerasi. Al-Qurṭubī memberikan uraian lebih luas dengan menonjolkan aspek kebahasaan, riwayat, akidah, dan keragaman pendapat ulama, sedangkan al-Ṣābūnī menyajikan penafsiran yang lebih ringkas dan sistematis dengan penekanan pada hikmah moral, spiritual, dan pendidikan. Doa-doa tersebut menegaskan bahwa pendidikan keluarga harus berlandaskan tauhid, keteladanan orang tua, pembiasaan ibadah, kasih sayang, dan doa yang berkelanjutan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa doa Nabi Ibrāhīm a.s. tetap relevan untuk memperkuat spiritualitas, membangun keluarga saleh, dan menghadapi tantangan moral serta keluarga kontemporer melalui keselarasan antara doa, ikhtiar, dan tawakal.
Resiliensi Perempuan dalam Kisah Maryam dan Āsiyah: Kajian Tafsir Al-Azhar Perspektif Edith H. Grotberg Dhea Aulia Husna; Hana Natasya
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 2 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i2.2373

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis penafsiran Hamka tentang resiliensi perempuan dalam kisah Maryam dan Āsiyah dalam Tafsir Al-Azhar serta menelaah relevansinya bagi kehidupan perempuan masa kini melalui kerangka resiliensi Edith H. Grotberg. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan dan pendekatan tafsir tematik. Sumber data primer berupa Tafsir Al-Azhar, didukung kitab tafsir lain serta literatur mengenai resiliensi dan psikologi perempuan. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi dan dianalisis secara deskriptif analitis dengan memusatkan kajian pada Surah Maryam [19]: 22–28 dan Surah al-Taḥrīm [66]: 11. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hamka menggambarkan resiliensi Maryam melalui kesabaran, keyakinan terhadap pertolongan Allah, ikhtiar, dan pengendalian emosi ketika menghadapi penderitaan serta tuduhan masyarakat. Sementara itu, resiliensi Āsiyah tercermin dalam keteguhan iman, sikap menolak kezaliman, dan keberanian mengutamakan kedekatan dengan Allah dibandingkan kekuasaan serta kemewahan duniawi. Penafsiran tersebut selaras dengan tiga dimensi resiliensi Grotberg, yaitu I Have yang mencakup sumber dukungan, I Am yang merepresentasikan kekuatan internal dan integritas, serta I Can yang meliputi pengendalian emosi dan pengambilan keputusan berdasarkan prinsip. Hamka memperkaya ketiga dimensi tersebut dengan menempatkan tauhid dan tawakal sebagai landasan spiritualnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kisah kedua tokoh menawarkan kerangka konseptual yang memadukan sumber daya psikologis dan spiritual untuk memahami resiliensi perempuan. Relevansinya mencakup upaya menghadapi stigma sosial, kekerasan, tuntutan peran ganda, dan tantangan identitas dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.
Dari Nafy ke Nahy: Rekonstruksi Kaidah Nahy dalam QS. al-Kāfirūn Perspektif Ma‘nā-cum-Maghzā Muthi'atul Millah; Moh. Muhyan Nafis
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 2 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i2.2376

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang transformasi nafy (penafian) menjadi nahyu (larangan) dalam QS. Al-Kāfirūn melalui pendekatan Ma‘nā-cum-maghzā. Kaidah al-nahy dalam qawā‘id al-tafsīr cenderung dirumuskan secara formalistik melalui prinsip al-aṣl fī al-nahy li al-taḥrīm, yang menekankan bahwa larangan ditandai oleh struktur gramatikal eksplisit seperti lā al-nāhiyah. Namun, QS. Al-Kāfirūn pada lafadz لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ menghadirkan fenomena yang berbeda, di mana larangan tidak dinyatakan secara eksplisit, melainkan melalui struktur penafian (nafy). Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa ayat-ayat dalam surah Al-Kāfirūn tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga performatif, mengandung daya normatif berupa larangan implisit terhadap kemusyrikan. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan, penelitian ini menganalisis makna historis (ma‘nā tārīkhī), signifikansi historis (maghzā tārīkhī), serta makna dinamis (maghzā mutaḥarrik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur nafy dalam QS. Al-Kāfirūn memiliki fungsi sebagai ujaran performatif yang mengandung larangan implisit terhadap kompromi keyakinan serta kemusyrikan, sehingga kaidah al-nahy perlu direkonstruksi agar mencakup dimensi semantik dan retoris, tidak terbatas pada bentuk gramatikal semata. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi nahyu (larangan) dalam Al-Qur’an tidak hanya ditujukan melalui struktur kalimat yang eksplisit tetapi juga dapat dipahami melalui konteks. Dengan demikian, pemahaman terhadap nahyu menjadi lebih kontekstual dalam memahami pesan normatif Al-Qur’an.
Empati sebagai Nilai Pendidikan Karakter Qur’ani: Analisis QS. Al-Qashash ayat 23-28 Perspektif Tafsir Al-Azhar Nur Syamsi Anjani
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 2 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i2.2390

Abstract

Artikel ini bertujuan membahas empati sebagai nilia pendidikan karakter berdasarkan QS. Al-Qashash ayat 23-28. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh degradasi empati sosial di masyarakat modern akibat teknologi, dan krisis moral seperti ketidakpedulian terhadap kemiskinan, bencana alam, serta penggusuran warga miskin, yang menuntut rujukan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai solusi pembentukan karakter empati. Dengan analisis terhadap Tafsir Al-Azhar karya Hamka, penelitian ini mengadopsi metode kepustakaan (library research) kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis teks tahlili. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, menurut penafsiran Hamka, QS. al-Qashash ayat 23-28 mengandung nilai-nilai empati seperti kepedulian sosial, keikhlasan, tanggung jawab, kesabaran, ketawadhu'an, dan adab kesopanan yang tercermin dalam kisah Nabi Musa membantu dua perempuan di Madyan tanpa pamrih. Kedua, relevansi nilai-nilai empati tersebut tidak hanya menjadi teladan profetik, tetapi juga solusi aplikatif untuk mengatasi krisis moral seperti ketidakpedulian terhadap kemiskinan, bencana, dan penindasan, dengan manfaat teoretis sebagai pengayaan khazanah tafsir sebagai rujukan pendidikan karakter berbasis Al-Qur’an sebagaimana yang ditegaskan Hamka bahwa kepedulian adalah fondasi masyarakat adil dan berakhlak luhur. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan pendidikan karakter Qur’ani dengan merumuskan empati sebagai karakter multidimensional yang mencakup kepekaan sosial, kesadaran moral, dan tindakan prososial. Secara praktis, nilai-nilai tersebut dapat menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan karakter yang mendorong kepedulian, tanggung jawab, dan tindakan nyata terhadap persoalan sosial.
Pengembangan Spiritual Santri Melalui Tradisi Pembacaan Dalā’il Al-Khairāt oleh Santri: Studi Living Qur’an di Pondok Pesantren Tri Bhakti At-Taqwa Lampung Kholiq Amrulloh Adnan; Suhandi Suhandi; Siti Badiah
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 2 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i2.2393

Abstract

Al-Qur’an tidak hanya hadir dalam kehidupan umat Islam sebagai teks yang dibaca, dipahami, dan ditafsirkan, tetapi juga diwujudkan melalui berbagai praktik keagamaan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Salah satu bentuknya adalah tradisi pembacaan Dalā’il Al-Khairāt yang berkembang di lingkungan pesantren. Di Pondok Pesantren Tri Bhakti At-Taqwa Lampung, tradisi ini dilaksanakan secara rutin setiap malam Jumat melalui rangkaian pembacaan Salawat, doa, ḥizb, tawasul, dan amalan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman santri dalam mengikuti tradisi pembacaan Dalā’il Al-Khairāt, mengungkap makna yang diberikan santri terhadap tradisi tersebut, serta menganalisis fungsi tradisi dalam kehidupan keagamaan dan sosial mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research), pendekatan fenomenologi Edmund Husserl, dan perspektif Living Qur’an. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan santri, kepala pondok, dan ustaz, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan epoche, reduksi fenomenologis, dan reduksi eidetik untuk menemukan makna dan esensi pengalaman santri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi pembacaan Dalā’il Al-Khairāt dimaknai sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt., bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad saw., sarana memperoleh ketenangan dan keberkahan, serta media pembentukan kehidupan religius. Tradisi ini juga berfungsi dalam aspek keagamaan, pendidikan, dan sosial, terutama dalam membentuk kebiasaan ibadah, kedisiplinan, tanggung jawab, kebersamaan, dan solidaritas santri. Penelitian ini menegaskan bahwa tradisi pembacaan Dalā’il Al-Khairāt merupakan bentuk penghayatan nilai-nilai Al-Qur’an melalui praktik keagamaan, pengalaman spiritual, dan pembentukan karakter santri. Kontribusi penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi tersebut menjadi media internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam membentuk karakter religius santri.