cover
Contact Name
Daud Aris Tanudirjo
Contact Email
jurnal.fib@ugm.ac.id
Phone
+62274513096
Journal Mail Official
janus.jurnalarkeologinusantara@gmail.com
Editorial Address
Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada Sosiohumaniora t., Nr. 3, Bulaksumur, Sleman, Special District of Yogyakarta, Indoneisa, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Janus
ISSN : -     EISSN : 29879612     DOI : https://doi.org/10.22146/janus
JANUS focuses on publishing archaeological articles to attract readers from various backgrounds. The focus of the journal is to advance the study of archaeology in Indonesia or those related to Indonesian archaeology. The articles in the journal specifically discuss the values, views, and meanings of archaeological remains that strengthen theories, improve the quality of criticism, or methodological innovations in Indonesian archaeological investigations. Articles submitted cover archaeology and related fields of archaeology in Indonesia, presented in the context of Indonesian culture focusing on the development of critical scientific works. The editorial board of JANUS only accepts and publishes research articles and book reviews according to the focus and scope of the journal.
Articles 25 Documents
Perubahan Benteng Oranje di Ternate – Maluku Utara (Abad XVII-XX) Suwindiatrini, Komang Ayu; Nayati, Widya
JANUS Vol 2 No 1 (2024): Edition 1
Publisher : Department of Archaeology, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/janus.11866

Abstract

The Indonesian archipelago has been known for centuries as a source of spices that are favored in many countries. The desire to obtain these spices from the first source has brought Europeans to the islands since 15th century. They sent their maritime fleets to establish trading posts in the archipelago, especially in Maluku which was rich in nutmeg and cloves. One of the archaeological remains that serves as evidence of the presence and control of Europeans, especially the Dutch, in this area is the existence of Fort Oranje in Ternate. However, there is not much of the historical background on the development of Fort Oranje has been revealed so far. This paper attempts to fill the dearth of information about the fort. The study was conducted by identifying the attributes shown in at least five drawings and plans of the Fort, which were then combined with existing historical data. The results showed that there were several changes in the form, function and role of Fort Oranje from the beginning of its establishment to the present. The reasons for these changes are mainly due to the needs of the Dutch communities who lived in the fort as well as the changing political and security condition throughout its history. Another contributing factor is government policy both during the colonial period and after Indonesia's independence. Due to the limited amount of visual data to reconstruct the long development, only a few stages of Fort Oranje transformation can be revealed. === Selama berabad-abad, kepulauan Indonesia telah dikenal sebagai sumber rempah yang digemari di banyak negara. Keinginan untuk mendapatkan rempah-rempah ini dari sumber pertama telah membawa bangsa Eropa ke kepulauan ini sejak akhir abad ke-15. Mereka mengirimkan armada lautnya untuk mendirikan pos-pos perdagangan di Nusantara, terutama di Maluku yang kaya akan pala dan cengkeh. Salah satu peninggalan arkeologi yang menjadi bukti kehadiran dan penguasaan bangsa Eropa, khususnya Belanda, di kepulauan rempah-rempah ini adalah keberadaan Benteng Oranje di Ternate. Namun, sejauh ini belum banyak latar belakang sejarah perkembangan Benteng Oranje yang terungkap. Tulisan ini mencoba mengisi kelangkaan informasi mengenai benteng tersebut dengan menyajikan hasil kajian terhadap data visual Benteng Oranje berupa gambar dan denah lama yang masih dapat diakses. Kajian dilakukan dengan mengidentifikasi atribut-atribut yang ditunjukkan pada setidaknya lima gambar dan denah benteng, yang kemudian dipadukan dengan data sejarah historis yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa perubahan bentuk, fungsi dan peran Benteng Oranje dari awal berdirinya hingga saat ini. Penyebab perubahan tersebut terutama disebabkan oleh perubahan kebutuhan masyarakat Belanda yang tinggal di dalam benteng serta situasi politik dan keamanan yang terus berubah sepanjang sejarahnya. Faktor lain yang turut berperan adalah kebijakan pemerintah baik selama masa kolonial maupun setelah kemerdekaan Indonesia.
Pengaruh Variabel Bentanglahan terhadap Persebaran Candi Hindu di Wilayah Selatan Gunung Kelud, Blitar, Jawa Timur Wicaksono, Antonius Satrio; Yuwono, J. Susetyo Edy
JANUS Vol 2 No 1 (2024): Edition 1
Publisher : Department of Archaeology, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/janus.12247

Abstract

There are a large number of Hindu temples from the Kadiri, Singhasari and Majapahit periods in the southern region of Kelud Volcano. However, archaeological research in this region, especially in Blitar, has never addressed the overall configuration of the temples' locations and their relationship to the physical landscape. This research attempts to fill this gap by applying an archaeological landscape approach to investigate how elements of the southern Kelud landscape, such as landform, land cover, and hydrology, have affected the distribution of temple sites in the region. Data were collected through field surveys as well as literature and map studies. This research shows that in the 10th to 16th century the majority of the Hindu temples were built in the high potential area for human life with fertile lands and not far from water resources. Fewer temples were built in areas with mediocre potential, while the least potential areas were not prioritized for temple sites. The area occupied by most temples would have the prospect of supporting human living needs and also meet the general requirements for selecting temple sites. === Wilayah selatan Gunung Kelud mempunyai banyak candi Hindu dari zaman Kadiri, Singhasari, dan Majapahit. Namun demikian, selama ini penelitian arkeologi wilayah ini, terutama Blitar, masih belum membahas candi-candi secara menyeluruh sebagai himpunan, begitupun hubungannya dengan kondisi bentanglahan hampir tidak pernah dikaji. Penelitian ini menerapkan pendekatan arkeologi bentanglahan untuk meninjau bagaimana bentanglahan wilayah selatan Gunung Kelud, sebagaimana tercermin dari variabel bentuklahan, tutupan lahan, dan hidrologinya, memengaruhi persebaran candi di sana. Teknik pengumpulan data berupa survei lapangan, studi peta, dan studi pustaka. Pengolahan dan analisis data didukung oleh perangkat lunak sistem informasi geografis. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa masyarakat kuno di wilayah selatan Gunung Kelud pada umumnya menempatkan candi di wilayah berpotensi besar mendukung kehidupan manusia, sebaliknya mendirikan lebih sedikit candi di wilayah yang potensinya lebih kecil. Daerah yang potensinya sangat terbatas kurang diprioritaskan untuk pendirian candi. Potensi wilayah yang ditempati mayoritas candi mendukung kebutuhan hidup masyarakat dan memenuhi syarat umum pemilihan lahan kuil, yaitu lahannya subur dan dekat sumber daya air.
Sistem Pertahanan Berlapis Benteng Willem I Ambarawa Nurmala, Siti; Arafat, Argi
JANUS Vol 2 No 1 (2024): Edition 1
Publisher : Department of Archaeology, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/janus.12396

Abstract

The defense system of a fortress is a crucial aspect of military strategy aimed at protecting territories or strategic assets from external attacks. The Willem I Ambarara Fortress was constructed with the application of complex architectural designs and considerations of geographical location, intending to maximize the utilization of surrounding defense strengths. The method employed was qualitative descriptive analysis with geographic analysis, encompassing literature review, exploration of secondary data, and direct observations at the Willem I Fortress. The research findings indicate that the Willem I Fortress possesses a complex and layered defense strategy, leveraging natural topography and strategic positioning to establish formidable defenses. This defense strategy creates a fortress that is challenging for enemies to breach, with comprehensive facilities to support troop life and operations. === Sistem pertahanan benteng merupakan aspek penting dalam strategi militer yang bertujuan untuk melindungi wilayah atau aset strategis dari serangan luar. Benteng Willem I Ambarara dibangun dengan penerapan desain arsitektur yang kompleks dan pertimbangan letak geografis, serta dibangun guna memanfaatkan kekuatan pertahanan sekitar secara maksimal. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dengan analisis geografis, mencakup studi pustaka, eksplorasi data sekunder, dan observasi langsung di Benteng Willem I. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Benteng Willem I memiliki strategi pertahanan yang kompleks dan berlapis, dengan memanfaatkan topografi alam dan posisi strategis menjadikan Benteng Willem I memiliki pertahanan yang kuat. Strategi Pertahanan ini menciptakan benteng yang sulit ditembus oleh musuh, dengan dukungan fasilitas lengkap untuk mendukung kehidupan dan operasional pasukan.
Kesiapan Masyarakat dalam Pengelolaan Sumbu Filosofi Yogyakarta berbasis Cultural Heritage Management Ashoka, Y.B. Revolvere Kelana; Aminuddin, Nur Adzim; Fibriolawati, Shintia Putri; Bachri, Hana Syahmina; Modjo, Rehuella Sarlotha; Prihantoro, Fahmi
JANUS Vol 2 No 1 (2024): Edition 1
Publisher : Department of Archaeology, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/janus.12699

Abstract

The Philosophical Axis of Yogyakarta has been designated as a world heritage by UNESCO. The nomination process has been criticized for neglecting community engagement. There is an assumption that the community will not be ready to play an active role in preserving the significant values of the Philosophical Axis. In fact, the community participation is the key to the conservation success. This paper presents the results of a study on the perception and level of readiness of the community around the Philosophical Axis area to take active participation in managing this world heritage. The study was conducted using the Cultural Heritage Management approach. Data collection was carried out by in-depth interviews, FGDs, and observations involving a number of resource persons living within the Sumbu Filosofi area. The results demonstrate that the community tend to understand the meaning of the Philosophical Axis and efforts to preserve it, although there are still some who do not understand it well. This shows that the dissemination of the significance values of the Philosophical Axis and its management efforts has not been effective. From the level of readiness, the community in the Philosophical Axis Area has only reached the initiation level. The community knows the positive impact of the establishment of the Philosophical Axis that can improve the economy and welfare of the community. However, they are not truly ready to be involved in its preservation and management. The government must optimize the policies and management programs of the Philosophical Axis in order to create synergy between the government and the community. === Sumbu Filosofi Yogyakarta telah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Proses pengajuan ini dinilai kurang memperhatikan keterlibatan masyarakat. Karena itu, ada anggapan bahwa masyarakat belum siap untuk berperan aktif dalam pelestarian nilai penting Sumbu Filosofi. Padahal, masyarakat dianggap memegang peran penting dalam pelestarian yang berkelanjutan. Tulisan ini memaparkan hasil kajian tentang persepsi dan tingkat kesiapan masyarakat di sekitar Sumbu Filosofi dalam pengelolaan warisan dunia ini. Kajian dilakukan dengan pendekatan Cultural Heritage Management. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, FGD, dan observasi terhadap sejumlah narasumber yang tinggal di kawasan Sumbu Filosofi. Hasil kajian menunjukkan pemahaman masyarakat cenderung dapat memahami makna Sumbu Filosofi dan upaya untuk melestarikannya, meskipun masih ada pula yang belum memahaminya dengan baik. Hal ini menunjukkan diseminasi mengenai nilai penting Sumbu Filosofi dan upaya pengelolaannya belum cukup efektif. Dari tingkat kesiapannya, masyarakat di Kawasan Sumbu Filosofi baru sampai pada tingkat awal atau inisiasi. Pada taraf ini masyarakat mengetahui dampak positif dari penetapan Sumbu Filosofi yang dapat meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Namun, mereka belum siap untuk benar-benar terlibat dalam pelestarian dan pengelolaannya. Karena itu, pemerintah harus mengoptimalisasikan kebijakan dan program pengelolaan Sumbu Filosofi agar tercipta sinergi antara pemerintah dan masyarakat.
Strategi Peningkatan Pengelolaan Permukiman Adat Bawomataluo untuk Memenuhi Persyaratan Warisan Dunia Nurdiana, Mayca Sita
JANUS Vol 2 No 1 (2024): Edition 1
Publisher : Department of Archaeology, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/janus.13121

Abstract

Bawomataluo is one of the sites in Indonesia with the potential to become a world heritage. The site is a traditional settlement located in Bawomataluo Village, Fanayama District, South Nias Regency. Bawomataluo Traditional Settlement has been included in the UNESCO tentative list of world heritage since October 6, 2009. However, until now its position is still on the tentative list. This is due to the absence of nomination documents and adequate management. This paper aims to identify efforts that can be made to improve the site’s management. The method used is a literature study and qualitative analysis of various sources including online news articles, scientific articles, government regulations, and normative directives from UNESCO related to world heritage nominations. Management improvement efforts that can be made to support the nomination of Bawomataluo to become a world heritage include stakeholder mapping, community involvement in management efforts, conservation implementation, preservation of traditions or intangible cultural heritage, sustainable tourism development, and preparation of management plan documents. === Bawomataluo merupakan salah satu situs di Indonesia yang berpotensi untuk menjadi warisan dunia. Situs ini merupakan permukiman tradisional yang terletak di Desa Bawomataluo, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan. Permukiman Adat Bawomataluo telah masuk ke dalam daftar sementara warisan dunia UNESCO sejak 6 Oktober 2009. Namun hingga saat ini posisinya masih tetap dalam daftar sementara. Hal tersebut dikarenakan belum adanya dokumen nominasi dan pengelolaan yang memadai. Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengelolaan situs tersebut. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dan analisis kualitatif dari berbagai sumber meliputi artikel berita online, artikel ilmiah, peraturan pemerintah, dan arahan normatif dari UNESCO terkait pengusulan warisan dunia. Upaya peningkatan pengelolaan yang dapat dilakukan untuk mendukung pengusulan Bawomataluo menjadi warisan dunia meliputi pemetaan stakehoder, pelibatan masyarakat dalam upaya pengelolaan, pelaksanaan konservasi, pelestarian tradisi atau warisan budaya intangible, pengembangan pariwisata berkelanjutan, serta penyusunan dokumen rencana pengelolaan.
Representasi Dewa Surya dalam Bentuk Arca di Jawa Surya, Pratama Dharma
JANUS Vol 2 No 2 (2024): Edition 2
Publisher : Department of Archaeology, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/janus.13222

Abstract

The depiction of the deities in sculptural form was an important aspect of Hindu-Buddha cultural development in the Nusantara from the fifth to the sixteenth centuries. Sculptures of the Surya deity are among the archaeological finds reflecting this cultural influence, especially in Java. This study explores the representation of the Surya deity through a literature review, observations, and descriptive-comparative analysis of seven sculptures found in the administrative regions of East Java, Central Java, and the Special Region of Yogyakarta. This study uses iconographic approach, and the results show that sculptures of Surya deity are characterized by distinctive iconographic features, such as hands in varadahastamudra and/or holding lotus flowers, sitting cross-legged on a lotus pedestal, or standing/sitting on a chariot drawn by seven horses. These representations reflect symbolic concepts associated with fertility, health, and balance in the lives of past societies. This study highlights the iconographic features and symbolic role of Surya deity sculptures as an integral part of Java’s archaeological landscape. === Penggambaran tokoh dewata dalam bentuk arca merupakan bagian penting dari perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Nusantara pada abad ke-5 hingga ke-16 Masehi. Arca Dewa Surya merupakan salah satu temuan arkeologis yang mencerminkan pengaruh kebudayaan tersebut, terutama di Jawa. Penelitian ini membahas representasi Dewa Surya berdasarkan studi pustaka, observasi, dan analisis deskriptif-komparatif terhadap tujuh arca yang ditemukan di wilayah administratif Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan ikonografis dan hasilnya menunjukkan bahwa arca Dewa Surya digambarkan dengan ciri ikonografis khas, seperti tangan bersikap varadahastamudra dan/atau memegang bunga teratai, sikap duduk bersila di atas teratai, atau sikap berdiri/duduk di atas kereta yang ditarik oleh tujuh ekor kuda. Representasi ini mencerminkan konsep simbolis yang terkait dengan kesuburan, kesehatan, dan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat masa lalu. Penelitian ini memberikan gambaran tentang ciri ikonografis arca Dewa Surya dan peran simbolisnya di Jawa.
Fasilitasi Penyandang Disabilitas di Halaman Candi Borobudur Kurniawan, Jati
JANUS Vol 2 No 2 (2024): Edition 2
Publisher : Department of Archaeology, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/janus.13236

Abstract

Borobudur Temple Compound is one of the Super Priority Tourism Destinations with a target of 2,000,000 foreign tourist and 5,000,000 domestic tourists per year. One group of targeted tourist are people with physical disabilities who need attention when visiting temples. Facilities in zone 1 of Borobudur Temple for Persons with Physical Disabilities are available but are still limited. This article discusses the gap in facilities for tourists with physical disabilities as a basis for improving facilities at Borobudur Temple. Increasing facilities for Persons with Physical Disabilities, apart from making Borobudur Temple tourism inclusive, is also a fulfillment of visitors' rights which will also have a positive impact on Borobudur Temple, both as a World Cultural Heritage and as a Super Priority Tourism Destination. === Kompleks Candi Borobudur menjadi salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas dengan target kunjungan wisata mancanegara sebanyak 2.000.000 orang dan wisatawan domestik 5.000.000 orang pertahun. Salah satu kelompok target pengunjung wisata adalah Penyandang Disabilitas Fisik yang memerlukan perhatian saat berkunjung ke candi. Fasilitas di halaman zona 1 Candi Borobudur bagi Penyandang Disabilitas Fisik sudah tersedia namun masih terbatas. Tulisan ini membahas kesenjangan fasilitas bagi wisatawan Penyandang Disabilitas Fisik sebagai dasar peningkatan fasilitas di Candi Borobudur. Peningkatan fasilitas bagi Penyandang Disabilitas Fisik selain untuk menjadikan wisata Candi Borobudur bersifat inklusif, juga merupakan pemenuhan hak-hak pengunjung yang juga akan memberikan dampak positif bagi Candi Borobudur, baik sebagai Warisan Budaya Dunia maupun sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas.
Wisata Bersepeda sebagai Wisata Warisan Budaya yang Berkelanjutan di Yogyakarta Wachidah, Inas Amatullah El; Prasodjo, Tjahjono
JANUS Vol 2 No 2 (2024): Edition 2
Publisher : Department of Archaeology, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/janus.13408

Abstract

Over the past five years, cycling tourism has seen significant development as part of sustainable tourism, including in Yogyakarta. Its popularity has also expanded into the heritage-based tourism sector, with the utilization of Cultural Heritage Areas as one of the attractions for cycling tourism. This paper aims to address how how cycling tourism in heritage areas can be carried out sustainably. Data collection methods included observation, literature review, and interviews. Observations of cycling tourism practices were conducted through a case study approach. The frameworks of Heritage Tourism Sustainability and Transformative Experience Tourism were used to analyze and interpret the data collected and the presented case study. The conclusions indicate that cycling tourism in heritage areas, which is gaining popularity in Yogyakarta, can be optimized as a heritage tourism product capable of maintaining sustainability, both for cultural heritage sites and for the communities living around them, by adhering to key principles derived from this study as well as considering challenges that may arise in its development. === Dalam lima tahun terakhir, wisata bersepeda telah mengalami perkembangan yang signifikan sebagai bagian dari pariwisata berkelanjutan, termasuk di Yogyakarta. Popularitas wisata bersepeda juga meluas ke sektor pariwisata berbasis warisan budaya, dengan pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya sebagai salah satu daya tarik wisata bersepeda. Tulisan ini berupaya menjawab bagaimana wisata sepada di kawasan cagar budaya dapat dilakukan secara berkelanjutan (sustainable). Metode pengumpulan data dilaksankan melalui observasi, studi pustaka dan wawancara. Pengamatan praktik wisata bersepeda diperoleh melalui studi kasus. Pendekatan Heritage Tourism Sustainability dan Transformative Experience Tourism digunakan untuk menganalisis dan menginterpretasikan data yang diperoleh dan terhadap studi kasus yang disajikan. Kesimpulan yang didapatkan menyatakan bahwa wisata bersepeda di kawasan cagar budaya yang semakin populer di Yogyakarta dapat dioptimalkan menjadi produk wisata warisan budaya yang mampu menjaga keberlanjutan, baik dari sisi objek cagar budaya maupun masyarakat yang tinggal di sekitarnya, dengan mempertimbangkan beberapa prinsip kunci hasil dari kajian ini serta tantangan yang mungkin dihadapi dalam proses pengembangannya.
Kain Sebagai Pasĕk-Pasĕk dalam Upacara Penetapan Sῑma Masa Mpu Siṇḍok: Korelasi Jenis Kain dan Kedudukan Penerimanya Anisa, Siti Nur
JANUS Vol 2 No 2 (2024): Edition 2
Publisher : Department of Archaeology, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/janus.16559

Abstract

The type and quantity item as pasĕk-pasĕk received in the sīma establishing ceremony is different each receiver. This diversity is determined by the recipient’s position. Cloth and money are commonly used as pasĕk-pasĕk. A person’s social status can be known based on the type of cloth they wear. This research aims to mapping the distribution of cloth as pasĕk-pasĕk, reconstructing the correlation between individual position and the types of cloth received in the sīma ceremony, and reconstructing the ranking of cloth based the exclusivity of its ownership. The study uses inductive reasoning. The observation is focused on the type of wḍihan cloth mentioned in Mpu Siṇḍok’s inscription and position of the individual recipients. This study shows that each type of cloth has its own distribution scope related to the hierarchy of government official: central level, watak and wanua. Wḍihan gañjar haji and wḍihan bwat kliṅ are the type of cloth with the highest social value because they are only intended for Śrῑ Mahārāja. === Jenis serta jumlah barang sebagai pasĕk-pasĕk yang diterima dalam upacara sīma berbeda tiap penerimanya. Keberagaman tersebut ditentukan berdasarkan kedudukan penerima. Kain dan uang umum dijadikan sebagai pasĕk-pasĕk. Status sosial seseorang dapat diketahui berdasarkan jenis kain yang dipakainya. Penelitian ini bertujuan memetakan distribusi kain sebagai pasĕk-pasĕk, rekonstruksi korelasi jabatan individu dan jenis kain yang diterimanya dalam upacara sīma, serta membuat rekonstruksi pemeringkatan kain berdasarkan eksklusifitas kepemilikannya. Penelitian menggunakan penalaran induktif. Pengamatan difokuskan pada penyebutan jenis kain wḍihan dan jabatan dari individu penerimanya yang disebutkan dalam prasasti masa pemerintahan Mpu Siṇḍok. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa tiap-tiap jenis kain memiliki ruang lingkup distribusi tersendiri terkait dengan penjenjangan pejabat pemerintahan: tingkat pusat, watak, dan wanua. Kain jenis wḍihan gañjar haji dan wḍihan bwat kliṅ merupakan kain dengan nilai sosial tertinggi sebab hanya diperuntukan bagi Śrῑ Mahārāja.
Melengkapi Pembacaan Lapik Arca Ganesa Berprasasti di Museum Penataran Blitar dengan Metode Fotogrametri Sambodo, Goenawan A
JANUS Vol 2 No 2 (2024): Edition 2
Publisher : Department of Archaeology, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/janus.17771

Abstract

The square shaped-base of the Ganesa statue has an inscription that is thought to be a continuation of the Kinewu inscription found on the back stelae of the Ganesa statue. Both objects, the base and the Ganesa statue, are collections of the Museum Penataran Blitar. The Kinewu inscription has been read and translated, but part of the inscription on the square shaped-base of the statue has not been able to be read completely. Re-reading the Kinewu inscription including the inscription on the square-shaped base of the Ganesa statue was carried out using the photogrammetry method. The results of the photogrammetry are in the form of 3D modeling that allows better reading of inscriptions whose surfaces are relatively worn-out. This method shows that the square-shaped base of the statue has conformity with the Ganesa statue, thus they are considers as one object and need to be displayed altogether. === Lapik arca Ganesa memiliki prasasti yang diduga meripakan keberlanjutan dari prasasti Kinewu yang terdapat di bagian belakang sandaran (stelae) arca Ganesa. Kedua objek tersebut baik lapik arca maupun arca Ganesa merupakan koleksi Museum Penataran Blitar. Prasasti Kinewu telah dibaca dan diterjemahkan isinya, namun bagian dari prasasti pada lapik arca belum dapat dibaca secara lengkap. Pembacaan ulang prasasti Kinewu termasuk juga prasasti pada lapik arca Ganesa dilakukan dengan menggunakan metode fotogrametri. Hasil dari metode fotogrametri berupa pemodelan 3D yang memungkinkan pembacaan lebih baik terhadap prasasti yang permukaannya relatif aus. Metode ini menunjukkan bahwa lapik arca tersebut merupakan satu kesatuan dengan arca Ganesa, sehingga perlu ditampilkan dalam satu displai yang utuh.

Page 2 of 3 | Total Record : 25