cover
Contact Name
Uman Sumantri
Contact Email
jurnal.jalanjembatan@pu.go.id
Phone
+6287726088848
Journal Mail Official
jurnal.jalanjembatan@pu.go.id
Editorial Address
Direktorat Bina Teknik Jalan dan JembatanDirektorat Jenderal Bina MargaKementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan RakyatJl. A.H Nasution No.264 Bandung 40294 Telp. (022) 7802251
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Jalan Jembatan
ISSN : 19070284     EISSN : 25278681     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Jalan-Jembatan adalah wadah informasi bidang Jalan dan Jembatan berupa hasil penelitian, studi kepustakaan maupun tulisan ilmiah terkait yang meliputi Bidang Bahan dan Perkerasan Jalan, Geoteknik Jalan, Transportasi Dan Teknik Lalu-Lintas serta Lingkungan Jalan, Jembatan dan Bangunan Pelengkap Jalan.
Articles 602 Documents
PENGARUH PENAMBAHAN POLIMER ELASTOOMER PADA TANAH -SEMEN Wayan Yamin
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 18 No 2 (2001)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semen telah digunakan sebagai bahan penstabilisasi tanah sejal beberapa dekade yang lalu. Stabilisasi ttanah dengan semen tidak saja merubah sifat-sifat fisik dan batas Atterberg tanah asli tetapi juga daya dukung dann modulus kekakuannya. Penggunaan lapis pondasi yang memiliki modulus kekakuan yang tinggi seperti tanah-semen pada struktur perkerasan beraspal dapat menyebabkan terjadinya retak permukaan pada laps beraspal. Penelitian ini adalah penelitian awal untuk mengetahui pengaruh penambahan polimer elastoner pada sifat fisik, batas Atterberg, daya dukung dan modulus kekuatan tanah-semen. Untuk itu, suatu percobaan terbatas stabilitasai tanah dengan 8% semen tanpa dan dengan penambahan 0,4%polimer elastoner (PE) dlakukan. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa penambahan 0,4% PE terhadap berat kering tanah-semen relatif tidak meruba batas-batas Atterberg tanah-semen tetapi dapat menurunkan persentase butiran tananh-semen yang lolos saringan nomor 40 dan nomor 200 an dpat menaikkan nilai CBR tanah-semen dengan nilai yang relatif kecil, yaitu sekitar 2%. Hasil penting dari penelitian ini adalah bahwa penambahan 0,4% PE terhadap berat kering tanah-semen dapat menurunkan modukus kekakuan atau menningkatkan elastisitas tanah-semen antara 33%-40%.
SIAR MUAI JEMBATAN ASPHALTIC PLUG JOINT Ahmad Abdulrrohim
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 18 No 2 (2001)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bagian lantai jembatan yang berada di atas pilar atau di atas kepala jembatan selalu dihubungkan dengan suatu struktur siar muai jembatan. Struktur ini berfungsi mengeleminair beban kendaraan saat memasuki jembatan, juga gaya horizontal akibat pemuaian, penyusutan, rangkak dan beban muatan. Tergantung dari besarnya gaya-gaya horizontal ini yang bekerja pada jembatan, maka terdapat sepuluh tipe siar muai diantaranya Asphaltic Plug Joint. Tipe ini pertama kali dikembangkan di Inggris pada tahun 1970, yang menghasilkan kinerja yang sangat memuaskan, selanjutnya diterapkan pula di Singapura pada tahun 1985 yang juga memuaskan. Pada tahun 1996 mulai dikembangkan di Indonesia, namun sampai umur +- 2 tahun memberikan kinerja yang baik. Macam kerusakan yang dijumpai diantaranya terjadi sergregasi yaitu aspal mengalir sehingga aspal dan agregat berpisah, terjadi pengelupasan dan retak-retak, pada celah siar muai lubang karena aspalnnya jatuh. Berangkat dari kenyataan banyak terjadi kerusakan di lapangan, maka dilakukan penelitian mengenai bahan asphaltic dan informasi sistem pelaksanaan yang semestinya di lapangan. Bahan binder asphaltic adalah campuran aspal dan karet dengan bahan tambah kimia lainnya. Bahanini sudah dipatenkan di pemerintah Inggris dan bahan impor, karena itu harganya mahal. Sampai dengan penelitian skala laboraturium dan dengan bahan baku aspal minyak serta karet + bahan tambah kimia; dari sejumlah variasi campuran telah diperoleh suatu dengan formula campuran yang memenuhi ketentuan teknis. Informai pelaksanaan telah dikumpulkan dari ketentuan pelaksanaan di Inggris dan di Singapura. Pada anggaran penelitian tahun 2000, hasil penelitian ini telah diterapkan pada sebuah jembatan cisilio di Jalan Soekarno Hatta km. 4.900 Bandung. Sampai tulisan inii dibuat, telahberumur 6 bulan; dan pada pengamatan terakhir beban memperliatkan tandat-tanda kerusakan.
PENGKAJIAN PENTUAN KADAR ASPAL CAMPURAN BERASPAL SECARA CEPAT Kurniadji di
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 18 No 2 (2001)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama ini pengujian kadar aspal campuran beraspal dilakukan berdasarkan metode pengujian AASHTO T-164- 90 atau ASTM D2171-88 yang memerlukan waktu pengujian sekitar 4 jam, sehiingga penyimpangan kadar aspal (terutama di proyek) agak terlambat untuk diketahui. Metode pengujian berat jenis maksimum AASHTO T-209-90 atau ASTM D 2041-78 yang dimodifikasi dapat dimanfaatkan untuk mengkur kadar aspal secara cepat. Waktu yang diperlukan untuk pengujian adalah kurang dari satu jam. Metode ini pertamakali diperkenalkan oleh Kendhal et.al (1973, dengan contoh uji berupa campuran beton aspal dengan agregat batu kapur, pasir dan slag. Menguungat di Indonesia kebanyakan menggunakan agregat ardent, maka tulisan ini menguraikan bagaimana penerapan metode tersebut dengan menggunakan bedan uji jenis agregat ardent. Hasil yang diperoleh menunjukkan, akurasi pengukuran yang cukup tinggi.
PERBANDINGAN KINERJA UNIT PENCAMPURAN ASPAL PANAS MODIFIKASI (AMP MODIFIKASI) DENGAN KINERJA PAN MIXER DALAM MEMPRODUKSI CAMPURAN DINGIN ASPAL EMULSI Leksminingsih sih
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 18 No 2 (2001)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan aspa emulsi di Indonesia untuk perkerasan jalan selama ini sangat terbatas, yaitu hanya untuk lapis ikat ( tack coat) saja, meskipun demikian pemanfaatan campuran dingin aspal emulsi dalam skala kecil, meliputi pekerjaa pemeliharaan berupa tambalan dari Slurry Seal,. Kendala pelaksanaa campuran dingin aspal emulsi adalah pada perencanaan campuran, dmana untuk mendapatkan komposisi agregat dan kadar aspal emulsi optimum harus melalui uji campuran beraspal di laboraturium. Kendala lainnya adalah pada banyaknya campuran aspal emulsi yang dibutuhkan untuk pekerjaan pemeliharaan dengan jumlah campuran yang banyak, penggunaan alat Pan Mixer kurang memadai, sehingga diperlukan alat pencampur yang mempunyai kapasitas besar, yaitu Asphalt Mixing Plant (AMP) yang biasa digunakan untuk campuran aspal panas. Penggunaan AMP yang baku perlu dilakukan modifikasi, sehingga sesuai untuk campuran dingin. Hasil penelitian campuran dingin aspal emulsi dengan menggunakan alat AMP dan Pan Mixer, yang dilakukan di DPU Kabupaten Bandung, didapatkan hasil komposisi campuran agregat kasar: sedang dan halu, 33: 27: 40 dengan kadar aspal emulsi 10,5%, kadar air penyelimutan 14% dan kadar air pemadatan 6%. Dengan menggunakan AMP yang telah dimodifikasi didapat kadar aspal emulsi 10,7% dengan alat Pan Mixer kadar aspal emulsi 7,4% gradasi agregat untuk keduanya memenuhhi persyaratan spesifikasi Puslitbang Jalan .
KEKUATAN DAN KEAWETAN BAHAN KOMPON/ VULKANISAT PERLETAKAN KARET JEMBATAN Ahmad Abdurrochim
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 18 No 2 (2001)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai kelanjutan dari tulisan kami tentang karet dan siar muai jembatan litbang jalan terbitan bulan juli 2000, yang berjudul "pengamatan kerusakan perletakan karet pada beberapa jembatan rangka baja". Salah satu jenis kerusakan adalah terjadi pada bahan. Yang menentukan mutu bahan adalah bahan baku karet, bahan tambahan kimia beserta komposisi dan dosisnya, system percampuran dan pematangan. Campuran karet mentah yang terdiri dari bahan baku karet + bahan tambah kimia yang keseluruhan bahan ini telah dicampur sempurna disebut kompon karet. Kompon karet yang telah memenuhi, syarat kekuatan dari keawetaan selanjutan dimatangkan dalam cetakan perletakan karet jembatan disebut vulkanisal.
JEMBATAN INTEGRAL (INTEGRAL BRIDGE) Wawan Witarnawan
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 18 No 2 (2001)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sudahmenjadi suatu hal yang diketahui bersama bahwa hampir semua sambungan muai jembatan mengalami kerusakan dan kebocoran, hal ini merupakan masalah yang cukup berarti dalam pemeliaraan jembatan. Tujuan utama dari jembatan integral adalah untuk mengurrangi atauu menghangkan sambungan pada jembatan sehingga dapat mengurangi biaya pemeliharaannya. Jembatan integral adalah jembatan yang dibangun tanpa sambungan muai diantara bentang jembatan maupun antara bentang jembatan dengan abutmen. Jembatan integral semakin banyak digunakan seirng dengan usaha para akhl jembatan dalam menghindari biaya pemeliharaan yang sangat mahal akibat adanya sambungan muai.
STUDI PENGARUH FASILITAS PEMISAH JAUR PEJALAN KAKI TERHADAP KECEPATAN LALU LINTAS Erwin Kusnandar
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 18 No 1 (2001)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi aliran lalu lintas di perkotaan cenderung terganggu (interrupted flow), karena lalu lintas akan berinteraksi dengan lingkungan (tata guna lahan), prasarana transportasi, dan lalu lintas itu sendiri, makin tinggi intensitas kegiatan tata guna lahan akan makin tinggi pula hambatan samping yang ditimulkan, tentunya apabila tidak ditata dengan baik. Dampak dari hambatan samping berakibat pada menurunnya tingkat kinerja jalan (kemacetan), dan mungkin terjadinya kcelakaan yang melibatkan pejalan kaki dan kendaraan. Kemacetan di ruas jalan yang cenderung diakibatkan oleh faktor hambatan samping yang tinggi, makin menyebar dan merata keseluruhan ruas jalan perkotaan. Pemecahan melalui manajemen lalu lintas yang bersifat lokal memNg diperlukan sebagai upaya dalam menangani faktor hambatan samping, sebagai alternatif pemecaan dengan batasan-batasan tertentu (waktu dan biaya). Sala satu upaya dalam mengurangi faktor hambatan samping adalah dengan memberi fasilitas prasarana jalan berupa pembatas antara jalur pejalan kaki dengan jalur lalu lintas. Dalam studi ini mengidikasikan adanya harapan bawah fasilits prasarana jalan berupa pembatas dapat menngkatkan kinerja jalan (kecepatan aliran lalu lintas).
PENGARUH STOMATA DAUN TANAMAN TERHADAP BESARNNYA REDUKSI POLUSI UDARA Nanny Kusminingrum
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 18 No 1 (2001)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan lalu lintas dan pemilikan kendaraan yangtinggi, terutama di kota-kota besar dan menengah di Indonesia dalam dua puluh tahun terakir ini, disamping meningkatkan gerak ekonomi, juga telah menimbulkan beberapa masalah seperti pollusi udara. Beberapa penelitian telah dilakukan oleh PUSAT LITBANG JALAN untuk mengurangi dampak negatif yang jerjadi akibat polusi udara tersebut. Salah satu penelitian yang telah dilakukan, yaitu meneliti dan mengkasji berbagai jenis tanaman jalan dalam hubunngannya dengan rreduksii polutan dari gas buang kendaraan. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi reduksi polusi udara tersebut, antara lain dengan meneliti korelasi stomata (pori-pori daum) terhadap reduksi polusi udara tersebut. Dalam penelitian iini setiap tanaman yang akan diteliti, dilakukan pengamatan jumlah stomata yang terdapat pada daun, sehiingga dapat diketaui pengaruhnya terhadap reduksi polusi udara yang ada.
PENGARUH TNGKAT NOX, HIDROKARBON DAN FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP TINGKAT OZON DI RUAS JALAN g gunawan
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 18 No 1 (2001)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Polutan NO. NO, CO, hidrokarbon dan partikel diemisikan oleh kendaraan sebagai polutan ke udara. Interaksi antara polutan primer dengan lingkungan akan membentuk polutan sekunder seperti O, dan senyawa hidrokarbon. Untuk mengetahui karakterstik dan keterkaitan antara polutan, perlu dilakukan pengkajiaan penngaruh polutan-polutan primer dan fakor-faktor lingkungan terhadap polutan sekunder. Dari hasil uji analisis statistik dengan metode analisa jalur menunjukkan bahwa pengaruh tingkat konsentrasi NO. NO, hidrokarbon dan fktor lingkungan (temperature, energi matahari, dan volume kendaraan) terhadap tingkat ozon, menjukkan bahwa perubahan tingkat konsentrasi ozon secara signifikan dipengaruhi ole jumlah suumber (volume lalu litas)., energi matahari yang dipancarkan dan konsentrasi C114. Besarnya pengaruh ketiga faktor tersebut adalah 5,93%, 9,11%, dan 41,78%.
KINERJA KONSTRUKSI KISI BETON PADA LERENG BATU LUNAK Rudy Febrijanto; Riyadi Salim
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 36 No 1 (2019)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Infrastructure development especially roads in mountainous and hilly areas is inseparable from cut and fill. The common slope excavation is composed of three types of slope forming materials, namely soil, soft rock and rock. Slopes with soft rock material can be formed with a fairly upright slope but are easily degraded when exposed to air and due to surface water erosion. Soft rock slopes whose surfaces are easily degraded often cause problems around the road body, whether surface erosion, shallow landslides or collapsing ruble in some places. Concrete-crib technology is an alternative technology that can be applied to slopes formed from soft rock material. This technology, as a protection measure for erosive soft rock slopes, is built by making concrete cribs that are cast on the spot. Cast-in-place concrete crib wall has a high bending strength, because the beam structure uses reinforced iron. The dimensions of the concrete-crib are 30 cm high and 20 cm wide with a space 150 cm between crib, and iron anchor rods with a depth of 100-150 cm to prevent the collapse of the concrete crib construction due to the load itself. Concrete-crib technology has been applied at Gunung Botak, Manokwari, West Papua Province in 2017 and performance monitoring was carried out in 2018. Based on the results of the monitoring performance of concrete-crib technology during 2018 showing the slope of the fixed concrete-crib construction and the surface of the slope below not degraded, in other words geometric slope is fixed, this shows that concrete-crib technology can withstand the rate of degradation of soft rock slope surface when exposed to air or due to erosion of surface water flow. Key words: road slope, soft rock, slope failure, concrete-crib, performance monitoring

Filter by Year

1984 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 2 (2025) Vol 42 No 1 (2025) Vol 41 No 2 (2024) Vol 41 No 1 (2024) Vol 40 No 2 (2023) Vol 40 No 1 (2023) Vol 39 No 2 (2022) Vol 39 No 1 (2022) Vol 38 No 2 (2021) Vol 38 No 1 (2021) Vol 37 No 2 (2020) Vol 37 No 1 (2020) Vol 36 No 2 (2019) Vol 36 No 1 (2019) Vol 35 No 2 (2018) Vol 35 No 1 (2018) Vol 34 No 2 (2017) Vol 34 No 1 (2017) Vol 33 No 2 (2016) Vol 33 No 1 (2016) Vol 32 No 3 (2015) Vol 32 No 2 (2015) Vol 32 No 1 (2015) Vol 31 No 3 (2014) Vol 31 No 2 (2014) Vol 31 No 1 (2014) Vol 30 No 3 (2013) Vol 30 No 2 (2013) Vol 30 No 1 (2013) Vol 29 No 3 (2012) Vol 29 No 2 (2012) Vol 29 No 1 (2012) Vol 28 No 3 (2011) Vol 28 No 2 (2011) Vol 28 No 1 (2011) Vol 27 No 3 (2010) Vol 27 No 2 (2010) Vol 27 No 1 (2010) Vol 26 No 3 (2009) Vol 26 No 2 (2009) Vol 26 No 1 (2009) Vol 25 No 3 (2008) Vol 25 No 2 (2008) Vol 25 No 1 (2008) Vol 24 No 3 (2007) Vol 24 No 2 (2007) Vol 24 No 1 (2007) Vol 23 No 3 (2006) Vol 23 No 2 (2006) Vol 23 No 1 (2006) Vol 22 No 4 (2005) Vol 22 No 3 (2005) Vol 22 No 2 (2005) Vol 22 No 1 (2005) Vol 21 No 4 (2004) Vol 21 No 3 (2004) Vol 21 No 2 (2004) Vol 21 No 1 (2004) Vol 20 No 4 (2003) Vol 19 No 3 (2002) Vol 19 No 2 (2002) Vol 19 No 1 (2002) Vol 18 No 2 (2001) Vol 18 No 1 (2001) Vol 17 No 2 (2000) Vol 17 No 1 (2000) Vol 16 No 3 (2000) Vol 16 No 2 (1999) Vol 15 No 4 (1999) Vol 15 No 1 (1998) Vol 15 No 3 (1997) Vol 15 No 1 (1997) No 4 (1997) No 2 (1997) Vol 13 No 2 (1996) Vol 13 No 1 (1996) No 4 (1996) No 3 (1996) Vol 12 No 3 (1995) Vol 12 No 2 (1995) Vol 12 No 1 (1995) Vol 11 No 1 (1994) Vol 10 No 3 (1993) Vol 10 No 2 (1993) Vol 10 No 1 (1993) Vol 9 No 4 (1993) Vol 9 No 3 (1992) Vol 9 No 2 (1992) Vol 9 No 1 (1992) Vol 8 No 3 (1992) Vol 7 No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1991) No 1 (1990) No 2 (1989) No 1 (1989) No 4 (1987) No 2 (1987) No 1 (1987) No 1 (1986) No 3 (1985) No 3 (1984) No 2 (1984) No 1 (1984) More Issue