cover
Contact Name
Katon Abdul Fatah
Contact Email
admin@jurnalistiqomah.org
Phone
+628975841020
Journal Mail Official
admin@jurnalistiqomah.org
Editorial Address
Desa, Metuk No.008 RT.002 RW. 001, Kec, Mojosongo Kab, Boyolali, 57322
Location
Kab. boyolali,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (JKMI)
ISSN : 30264723     EISSN : 30264715     DOI : https://doi.org/10.62017/jkmi.v1i2
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (JKMI) merupakan Jurnal yang diterbitkan 4 (empat) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Januari, April, Juli dan Oktober oleh Publikasi Inspirasi Indonesia. Jurnal ini merupakan jurnal yang dapat akses secara terbuka bagi para Peneliti, Mahasiswa dan Dosen yang ingin mempublikasikan hasil penelitiannya pada bidang kesehatan. Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat mempublikasikan artikel-artikel kajian empiris dan teoritis dalam bidang Gizi, Rekam medis dan Informasi Kesehatan, Keperawatan, Kebidanan, Obat-obatan, Psikologi Kesehatan dan bidang penelitian lain yang berkaitan dalam kesehatan masyarakat. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (JKMI) menerima makalah dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2026): Januari" : 13 Documents clear
A Rare Case Report: Stroke Infark In A 5 Years Old Children with Suspected Moya-Moya Disease Zakki K, Ahmad; Ganda Septianda H
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (JKMI) Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jkmi.v3i2.6323

Abstract

Ischemic stroke in children is extremely rare, with an incidence rate of approximately 1.0-2.0 per 100,000 children annually in Western countries. The highest incidence occurs in infants and children under 5 years, with a higher prevalence among males than females and among Black and Asian children than White children. Ischemic stroke is commonly associated with arteriopathy, particularly moyamoya disease. A 5-year-old male presented to the Emergency Department with weakness of the right limbs for 1 day, starting in the morning upon waking, accompanied by left-sided facial drooping and slurred speech. Vital signs were normal, general physical examination was unremarkable, with motor strength 3/5 in the right arm and 2/5 in the right leg. Laboratory results were normal, and CT scan revealed focal ischemia in the left lentiform nucleus. Acute stroke symptoms in children are similar to those in adults, commonly presenting with hemiparesis, hemifacial weakness, and speech or language disturbances. Pediatric ischemic stroke often has uncertain risk factors, including moyamoya disease, characterized by chronic, progressive stenosis of the distal internal carotid artery and proximal middle cerebral artery. Neuroimaging is crucial for diagnosis, with CT scans of the head being essential but limited in detecting acute ischemia, necessitating MRI. Conventional angiography remains the gold standard for cerebrovascular imaging, defining specific arteriopathy. This patient underwent a head CT scan revealing left lentiform nucleus ischemia and was referred to PON Hospital for MRI and further management. The diagnosis of stroke in children is primarily based on clinical presentation and radiological findings, allowing for targeted management given the heterogeneous etiology.
PERBANDINGAN KOMPLIKASI HIPERTENSI  DALAM KEHAMILAN PADA USIA REMAJA DAN USIA REPRODUKTIF TERHADAP MORTALITAS MATERNAL Indra Dharmadi, Buntoro; Hadi Susiarno; Siti Salima
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (JKMI) Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jkmi.v3i2.6356

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kejadian komplikasi hipertensi dalam kehamilan antara kelompok usia remaja dan usia reproduktif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode 2021–2024. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, menggunakan total sampling dari rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05 untuk menilai perbedaan kejadian hipertensi, komplikasi, dan mortalitas pada kedua kelompok usia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diagnosis terbanyak adalah superimposed preeklamsia dan preeklamsia berat, dengan mayoritas kasus terjadi pada kelompok usia reproduktif. Angka komplikasi tertinggi adalah HELLP syndrome (5,4%), diikuti perdarahan antepartum, sedangkan kejadian eklampsia sangat rendah. Mayoritas pasien mengalami persalinan prematur, mencerminkan beratnya kondisi hipertensi pada populasi rujukan tersier. Analisis bivariat menunjukkan adanya perbedaan signifikan kejadian hipertensi berdasarkan usia, di mana usia ekstrem baik remaja maupun lanjut memiliki kerentanan lebih tinggi melalui mekanisme berbeda. Mortalitas maternal tercatat sangat rendah dan hanya terjadi pada kelompok usia reproduktif, menandakan efektivitas tata laksana dan sistem rujukan. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa hipertensi dalam kehamilan tetap menjadi penyebab utama komplikasi obstetri, sehingga diperlukan skrining risiko yang komprehensif, optimalisasi antenatal care, serta manajemen aktif terutama pada kelompok usia berisiko.
Optimalisasi Gizi Anak Melalui Program Makanan Tambahan Dan Edukasi Gizi Berbasis Leaflet Dalam Pencegahan Stunting : Studi Kasus di Desa Massaile Henni Permata Sulis; Sulaeha Sulaeha
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (JKMI) Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jkmi.v3i2.6645

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Upaya pencegahan memerlukan intervensi yang terarah, salah satunya melalui pemberian Program Makanan Tambahan (PMT) dan edukasi gizi. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Massaile dengan sasaran anak sekolah dasar dan ibu anak usia dini. PMT diberikan satu kali dengan menu bergizi seimbang untuk mendukung asupan energi dan zat gizi penting, sementara edukasi gizi disampaikan kepada ibu melalui media leaflet yang memuat informasi tentang gizi seimbang, pola makan sehat, dan pencegahan stunting.
Pengetahuan dan Sikap Putri Usia Dewasa Awal Terhadap Pencegahan Anemia Siti Nazwa Ramadhani; Ade Asiilah Asri; Aisyah Fani Rahimah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (JKMI) Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jkmi.v3i2.6749

Abstract

Anemia tetap menjadi masalah kesehatan yang sering dialami oleh perempuan usia muda, terutama di rentang usia 17 sampai 25 tahun. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan zat besi akibat siklus menstruasi dan pola makan yang belum seimbang. Pengetahuan dan sikap seseorang memainkan peran penting dalam membentuk perilaku untuk mencegah anemia sejak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap perempuan usia muda terhadap upaya pencegahan anemia. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif deskriptif dengan desain potong lintang. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Desember 2025 secara daring menggunakan kuesioner yang sudah disusun. Jumlah responden sebanyak 33 orang yang merupakan perempuan usia 17 sampai 25 tahun, dengan metode pengambilan sampel total. Pengolahan data dilakukan secara univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang anemia (78,8%) dan sikap yang positif terhadap pencegahannya (81,8%). Meski demikian, masih ada beberapa hal yang belum dipahami dengan baik, seperti peran vitamin C dalam menyerap zat besi dan dampak jangka panjang dari anemia. Oleh karena itu, diperlukan edukasi kesehatan yang terus menerus.  
Pengaruh Budaya Keselamatan terhadap Perilaku Tidak Aman (Unsafe Action) Pekerja di Rumah Sakit Nurani Promisetyaningrum Fitria; Rahayu Dinda Sinta; Yudhanto Satrio Bhagas
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (JKMI) Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jkmi.v3i2.6768

Abstract

Abstrak Kecelakaan kerja di rumah sakit Indonesia meningkat 35,6%, dengan perilaku tidak aman pekerja sebagai faktor utama yang dipengaruhi oleh budaya keselamatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh budaya keselamatan terhadap perilaku tidak aman pekerja di rumah sakit. Metode penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif pada 245 responden yang terdiri dari perawat, dokter, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya. Budaya keselamatan diukur menggunakan Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSOPSC) 2.0 versi Indonesia, sedangkan perilaku tidak aman diukur dengan kuesioner tervalidasi. Analisis data menggunakan statistik deskriptif, korelasi Pearson, dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan skor budaya keselamatan sebesar 3,59±0,58 (kategori baik) dan frekuensi perilaku tidak aman 2,48±0,68 (kategori rendah-sedang). Ditemukan korelasi negatif yang kuat antara kedua variabel (r=-0,683, p<0,001), dengan budaya keselamatan menjelaskan 56,6% variasi perilaku tidak aman. Prediktor terkuat adalah pelaporan insiden keselamatan, respons terhadap kesalahan, dan komunikasi tentang kesalahan. Rumah sakit perlu mengembangkan sistem pelaporan yang efektif, menerapkan just culture, memperbaiki rasio kepegawaian, dan mengimplementasikan pelatihan berbasis risiko.  
EDUKASI PUBERTAS SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA PADA SISWA/I DI PONDOK PESANTREN  SMP SABILUNA Deliza Febriaty; Dissa Nur Olivia; Hana Maulida Aliyah; Annisa Deliana; Shaffiya Azzahra Erwina Sari; Achmad Fitroh; Abul A’la Al Mududi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (JKMI) Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jkmi.v3i2.6904

Abstract

Masa remaja merupakan periode transisi yang ditandai dengan terjadinya pubertas dan berbagai perubahan fisik, psikologis, serta sosial. Kurangnya pengetahuan remaja mengenai pubertas dan kesehatan reproduksi dapat menimbulkan kesalahpahaman, perilaku berisiko, serta masalah kesehatan di kemudian hari. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang pubertas dan kesehatan reproduksi melalui edukasi kesehatan. Kegiatan dilaksanakan di Yayasan Pondok Pesantren SMP Sabiluna dengan sasaran 25 siswa/siswi tingkat Sekolah Menengah Pertama. Metode yang digunakan adalah penyuluhan kesehatan melalui ceramah interaktif, diskusi, serta penggunaan media PowerPoint dan poster. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test dengan instrumen berupa 12 pertanyaan untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah diberikan edukasi, ditandai dengan meningkatnya persentase kategori pengetahuan baik dari 48% pada pre-test menjadi 76% pada post-test, serta menurunnya kategori pengetahuan cukup dan kurang. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi pubertas efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja mengenai perubahan selama masa pubertas dan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi. Edukasi kesehatan reproduksi perlu dilakukan secara berkelanjutan sebagai upaya promotif dan preventif untuk membentuk sikap positif dan perilaku hidup sehat pada remaja.
DETERMINAN PERILAKU SEKS PRANIKAH PADA REMAJA MEURUT SOCIAL COGNITIVE THEORY (SCT): TINJAUAN PUSTAKA Lanina Syahdila; Luqman Effendi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (JKMI) Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jkmi.v3i2.6981

Abstract

Perilaku seks pranikah pada remaja di Indonesia merupakan isu kesehatan masyarakat yang semakin kompleks. Fenomena ini dipengaruhi oleh faktor internal seperti self-efficacy, outcome expectancies, dan self-regulation, serta faktor eksternal seperti pengaruh teman sebaya, paparan media, religiositas, dan pengawasan orang tua. Social Cognitive Theory (SCT) memberikan kerangka teoritis yang komprehensif untuk memahami interaksi antara faktor personal, perilaku, dan lingkungan. Manuskrip ini menyajikan tinjauan pustaka dari berbagai penelitian di Indonesia, menganalisis determinan perilaku seks pranikah remaja, serta memberikan implikasi praktis untuk intervensi berbasis SCT. 
STUDI LITERATUR DETERMINAN NIAT BUNUH DIRI PADA REMAJA BERDASARKAN THEORY of PLANNED BEHAVIOR TAHUN 2020-2025 Chaerunnisa, Syaharani Laila; Luqman Effendi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (JKMI) Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jkmi.v3i2.6983

Abstract

Bunuh diri pada remaja merupakan maslaah kesehatan masayarat yang serius dengan anka ide bunuh diri yang terus meningkat, dipengaruhi oleh kerentanan psikososial serta lemahnya mekanisme koping. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi detterminan niat bunuh diri pada remaja berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB) memalui studi literatur terhadap artikel yang di publikasi pada periode 2020-2025. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis dengan pendarian artikel di database Google Scholar, Garuda, dan PubMed menggunakan kata kunci terkait niat bunuh diri, remaja dan TPB, sehingga diperoleh tiga artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil kajian menunjukkan bahwa niat bunuh diri pada remaja terutama ditentukan oleh psikologis, sikap negatif terhadap kehidupan, lemahnya dukungan sosial, serta kontrol perilaku yang dirasakan, sementara norma subjektif tidal selalu memberikan pengaruh yang signifikan. Depresi konsisten muncul sebagai prediktor kuat ide bunuh diri, sedangkan kontrol perilaku yang dirasakan berperan penting dalam memperkuat keyakinan bahwa tindakan bunh diri berada dalam kendali individu, sehingga meningkatkan intensi. Kesimpulannya, integrasi konstruk TPB dan faktor psikologis memberikan landasan teoritis yang kuat untuk merancang intervensi pencegahan bunuh diri berbasis peningkatann sikap posistif, dukungan sosial, efikasi diri, dankemampuan koping adaptif pada remaja.
Determinasi Faktor Risiko Penyakit ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Noyontaan Kota Pekalongan Dhiya Ayu Paramitha; Dea Amalia Alfa Syahro; Safira Imelda Sari; Jaya Maulana; Dewi Nugraheni Restu Mastuti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (JKMI) Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jkmi.v3i2.6867

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah penyebab utama kesakitan pada balita, terutama di wilayah dengan kepadatan penduduk dan kualitas lingkungan rumah yang kurang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Noyontaan Kota Pekalongan. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan case–control yang dipadukan dengan metode mixed methods. Subjek penelitian terdiri dari 36 balita usia 0–59 bulan yang terbagi menjadi 12 kasus ISPA dan 24 kontrol, dengan pengumpulan data kuantitatif melalui wawancara terstruktur dan observasi rumah, serta data kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pemangku kebijakan setempat.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan hunian memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian ISPA (p = 0,020; OR = 7,00), sementara faktor lingkungan dan perilaku lainnya belum menunjukkan hubungan signifikan. Temuan kualitatif menguatkan bahwa kepadatan permukiman, perilaku merokok di dalam rumah, dan rendahnya penerapan PHBS masih menjadi permasalahan utama. Disimpulkan bahwa kepadatan hunian merupakan faktor risiko dominan ISPA pada balita, sehingga diperlukan penguatan upaya promotif dan preventif berbasis perbaikan lingkungan dan perubahan perilaku masyarakat.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Fisik pada Remaja berdasarkan Social Cognitive Theory: Tinjauan Pustaka Riza Elhanina Ramadhani
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (JKMI) Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jkmi.v3i2.6910

Abstract

Aktivitas fisik pada remaja adalah aspek kesehatan penting untuk mendukung pertumbuhan fisik dan mental, tetapi tingkatnya masih rendah di banyak wilayah. Berbagai faktor berinteraksi dalam mempengaruhi perilaku aktivitas fisik remaja, sehingga diperlukan pendekatan teoritis yang komprehensif. Social Cognitive Theory (SCT) adalah kerangka yang sering digunakan untuk memahami faktor-faktor ini. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas fisik remaja berdasarkan SCT melalui tinjauan pustaka. Dari pencarian literatur, ditemukan lima artikel yang sesuai, yaitu yang menggunakan SCT, melibatkan remaja, dan membahas aktivitas fisik. Hasil analisis menunjukkan bahwa self-efficacy adalah faktor yang paling dominan, diikuti oleh outcome expectations, self-regulation, dan dukungan sosial. Self-efficacy berperan penting dalam motivasi, sementara dukungan sosial membantu menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas fisik. Sebagai kesimpulan, SCT adalah kerangka yang relevan dalam memahami faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas fisik pada remaja, dan pendekatan berbasis SCT dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan aktivitas fisik di kelompok usia ini.

Page 1 of 2 | Total Record : 13